LOVING YOU

.

.

Author : Xi Alexandrite

Cast : Luhan, Sehun and Baekyeol

Length : Multichaptered / Chapter 2

Genre : Romance, SMUT

Disclaimer : I don't own anything but Luhan. :P

.

NO PLAGIAAT!

.

.

.

Hi everyone... I'm back.. are you waiting for me?

No? oKai.

.

.

.

I always re-read your reviews, gays. How cute~

.

.

.

Loving You

Chapter 2

.

.

.

"Lagi – lagi cara berjalanmu aneh, Baekhyun," ujar Luhan sambil meletakkan tasnya diatas meja. Ia memang selalu cepat datang, begitu juga dengan Baekhyun.

Baekhyun tersenyum kecut. "Mau bagaimana lagi? Beginilah kalau punya namjachingu yang horny setiap hari."

Luhan terkekeh pelan mendengar penuturan jujur Baekhyun. Ia sudah tahu kalau Baekhyun pacaran dengan senior bertubuh besar dan bersuara berat bernama Chanyeol. Baekhyun berkata kalau bukan tubuhnya saja yang besar, anunya juga besar dan sudah cukup untuk membuat Baekhyun menjerit setiap kali benda panjang itu memasukinya. Dan setiap kali ia bercerita, Luhan akan menjadi pendengar yang baik. Toh ia sudah melihat dan sering merasakan hal yang seperti itu.

"Andai kau tahu rasanya, kau tidak akan tertawa, Luhan."

"Aku tahu, kok."

Baekhyun terkejut. "K-kau tahu? Berarti kau juga sudah mengalaminya?" Kali ini Baekhyun tertarik untuk mendengar penuturan Luhan tentang pengalamannya bercinta. Selama ini ia terus yang bicara dan menceritakan semuanya tanpa ada rasa malu karena ia menganggap Luhan itu teman baiknya meski mereka baru kenal sebulan. Lagipula menurutnya Luhan itu tipe anak yang penampilannya terlihat lugu dan polos.

Luhan menggaruk tengkuknya. Ia kelepasan bicara. "Yah.. begitulah..."

"Dengan siapa? Namjachingumu? Dimana kalian melakukannya? Di Hongkong? Kapan? Wah.. kau ternyata suka bermain rahasia."

Baekhyun ini memang benar – benar cerewet. Pantas saja Sehun sering mengacuhkannya dan tidak memperdulikan sekalipun Baekhyun meneriakinya.

Sehun... Luhan tidak tahu kenapa semuanya jadi begini. Hari pertama masuk kuliah saat istirahat, Baekhyun mengenalkannya pada teman baiknya. Luhan tidak terlalu terkejut mendapati kalau teman yang dimaksud Baekhyun adalah Sehun. Toh ia sudah menebaknya dari awal. Tapi Sehun terkejut seperti melihat hantu muncul dihadapannya. Untung saja Luhan bisa mengatasinya dan berkata kalau mereka sudah bertemu saat upacara penerimaan mahasiswa baru.

Sejak saat itu, mereka berteman baik dan selalu makan siang bersama hampir setiap hari. Tidak ada yang aneh, kecuali perasaan Luhan saat ia berdekatan dengan Sehun. Hanya bersentuhan dengan Sehun tanpa unsur kesengajaan sudah membuat tubuhnya panas seperti terbakar. Ada gelombang aneh dalam tubuhnya yang bergejolak hebat. Hampir – hampir tidak terkendali. Kenangan malam itu saat ia mencapai puncaknya dengan meneriakkan nama Sehun sampai suaranya serak dan tubuhnya bersatu dengan Sehun selalu menghantuinya setiap saat. Luhan tidak tahu dia pervert atau tidak. Tapi karena ia memang sudah lama tidak merasakan yang seperti ini, ia ingin disentuh oleh jari Sehun yang menurutnya sangat terlatih.

Baekhyun yang menyadari Luhan melamun berdehem pelan. "Ahem,, ma'af kalau pertanyaanku membuatmu sedih. Aku tidak bermaksud membuatmu mengingat hal yang ingin kau lupakan."

Oh.. pasti si Baekhyun berpikir kalau Luhan patah hati. Luhan hanya menganggukkan kepalanya dan mereka membicarakan topik lain karena temannya yang lain sudah bermunculan.

.

Seperti biasa saat makan siang di cafetaria, Luhan selalu bersama dengan Baekhyun, Chanyeol dan Sehun. Ia duduk disamping Sehun dan ChanBaek couple duduk diseberangnya. Mereka berempat duduk di meja paling sudut atas permintaan Chanyeol. Alasannya karena ia suka ketenangan. Sebuah kebohongan besar. Alasan utamanya agar ia bisa menyentuh atau sekedar berciuman dengan Baekhyun dan menggunakan tubuh Sehun dan Luhan sebagai penghalang. Sehun memutar matanya, bosan. Ia sudah muak melihat kemesraan pasangan yang tidak tahu malu ini. Lihat saja sekarang tangan Chanyeol yang sudah berada di selangkangan Baekhyun dan mengelus pahanya berkali – kali. Baekhyun setengah mati menahan desahannya karena Chanyeol menggigit telinganya setelah mengoleskan ice cream disana. Dan juniornya entah sejak kapan sudah berada dalam genggaman jari Chanyeol.

"Nggh.. hh.."

Desahan Baekhyun tetap terdengar saat Chanyeol mencium bibirnya. An open-mouthed kiss. Untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah, Luhan selalu memilih untuk menunduk dan menghabiskan makanannya dengan diam seperti orang yang sedang berdo'a. Begitu fokus dan tidak berkata apa – apa.

Saat atmosfirnya jadi aneh, Chanyeol pun melepas Baekhyun. Mereka mengikuti kedua temannya untuk menghabiskan makanan sebelum jam istirahat habis.

Chanyeol melirik Luhan diam – diam. Stripper itu, penari super duper sexy yang pernah ia lihat di Hongkong dan membuat setiap penonton yang menyaksikan penampilannya menjadi horny sekarang duduk didepannya dan terlihat seperti seorang siswa baik – baik yang tidak pernah tahu apa itu sex. Begitu manis dan polos. Seolah – olah bukan ia yang mem-fingering dirinya sendriri dihadapan orang banyak. Tampilan luar memang tidak selalu menjadi jaminan kalau isinya sama.

Ketika pertama kali bertemu Luhan, bola matanya seperti mau meloncat keluar. Ia terbata – bata. Luhan yang saat itu duduk disamping Baekhyun dan bercanda dengan namjachingunya membuatnya sedikit tidak yakin dengan penglihatannya. Tapi ingatannya yang tidak pernah pudar membuatnya merasa kalau ini memang nyata. Apalagi Sehun langsung menyeretnya ke kamar mandi.

"Dengar, Chanyeol. Luhan yang kau lihat bersama Baekhyun memang Luhan yang ada di bar itu."

Chanyeol mengusap wajahnya. "K-kenapa bisa? Apa kau sudah menemukannya dan membawanya kemari?" Chanyeol memang tahu semuanya tentang Sehun. Ia ikut membantu temannya mencari Luhan dan membayar bosnya dengan uang yang tidak sedikit agar mau menunjukkan tempat tinggal Luhan. Pencarian mereka tidak menghasilkan apa – apa. Lalu kenapa sekarang Luhan yang membuat Sehun mau gila sudah ada disini?

"Aku juga tidak tahu kenapa dia bisa ada disini," jawab Sehun.

Chanyeol memegang dadanya. "Tadi itu sangat mengejutkan. Seperti melihat hantu di siang bolong."

Sehun mengangguk.

"Lalu? Apa kau sudah mendekatinya? Jangan lama – lama kalau tidak ingin terlambat. Dia itu seperti punya daya tarik yang hebat. Dan aku sangat tahu kalau kau menggilainya."

Untuk kali ini Sehun menyesal karena sudah mengatakan semuanya pada Chanyeol.

"Jangan terlalu banyak berpikir, teman." Chanyeol menepuk pundak Sehun pelan. "Kalau dia berada di dekatmu, berarti kau memang beruntung. Tunggu apa lagi? Cepat seret dia ke atas ranjangmu dan jadikan dia milikmu."

"Tidak segampang itu. Aku sudah memberinya nomor teleponku dan dia sama sekali tidak menghubungiku."

Chanyeol tergelak hingga suaranya yang berat terdengar sampai ke lorong. "Tentu saja dia tidak mau. Dengar, tipe uke itu banyak yang tidak mau bertindak duluan. Kau yang harus mengambil langkah. Mereka terkadang tidak seberani para yeoja yang begitu berani mendekatimu duluan atau bahkan dia sendiri yang menjatuhkan dirinya diranjangmu dan memintamu menidurinya. Jangan khawatir, aku sudah berpengalaman. Jadi aku bisa mengajarimu. Ayo kita kembali. Aku tidak ingin Baekhyun merajuk dan malam ini aku tidak dapat jatah."

Sehun merasa perkataan Chanyeol benar. Ia memang masih baru dalam hubungan sesama jenis ini dan minta bantuan Chanyeol tidaklah memalukan.

.

.

.

Seminggu kemudian, Sehun meletakkan undangan berhias pita diatas meja. "Kuharap kalian datang," ujarnya.

Luhan mengamati kertas itu. "Apa ini?"

"Undangan pesta. Kau juga diundang Luhan. Aku akan merasa tidak senang kalau salah satu dari kalian tidak datang."

Luhan merasa jantungnya berdebar lebih kencang. Sehun mengundangnya? Sebenarnya ini hal yang wajar karena mereka sudah berteman. Tapi tetap saja ia merasa luar biasa senang karena mungkin saja ada harapan Sehun akan menyukainya.

Setelah temannya mengangguk, Sehun pun berdiri. Namun ia masih bisa melihat sebuah senyuman menakutkan tersungging di wajah Chanyeol.

.

.

Tidak ada yang menarik dalam sebuah pesta seperti ini, kecuali sudah lewat tengah malam dan orang tua sudah pergi. Saatnya berpesta bagi mereka yang benar – benar ingin menikmati malam yang panjang. Luhan yang mulai bosan hanya berdiri disudut sambil memainkan ponselnya. Ia ingin pulang, tapi Baekhyun sudah menghilang. Sudah pasti sekarang ia tengah bergelut dengan namja yang punya gigi rata itu.

"Mau minum?"

Sehun muncul didekatnya sambil membawa gelas berisi minuman bening. Entah apa itu Luhan tidak terlalu tertarik. Hanya saja karena ia memang haus, ia menerimanya. "Terima kasih," Luhan meminumnya tanpa punya prasangka apa – apa.

Setelah habis, mereka berbincang – bincang tentang berbagai hal. Luhan baru menyadari kalau Sehun ternyata orang yang asyik untuk diajak berbicara. Ini pertama kalinya mereka berduaan karena biasanya selalu ada Baekhyun.

Untuk beberapa saat, semuanya masih normal. Tapi lama kelamaan Luhan mulai merasa aneh. Pandangannya jadi tidak fokus dan kepalanya terasa pusing. Tubuhnya terasa panas. Matanya bergerak – gerak dan pandangannya tidak fokus. Bibir bawahnya ia gigit dengan kuat.

"Kau baik – baik saja?" Sehun menempelkan punggung tangannya di kening Luhan. "Wajahmu pucat."

"Haah..." Luhan menutup matanya dan mendesah pelan saat merasakan kulit Sehun bersentuhan dengan kulitnya. Ia tahu apa yang sedang ia alami. Ia begitu horny dan ingin agar seseorang menyentuh seluruh tubuhnya.

Sehun tersenyum simpul melihat reaksi Luhan. Obat pemberian Chanyeol benar – benar manjur.

"Se..hun.." Luhan berkata diantara nafasnya yang tersengal. Tubuhnya sudah bersender didinding dan terperangkap diantara lengan Sehun. Dadanya naik turun pertanda nafasnya sedang tidak stabil. "Apa.. yang kau masukkan kedalam.. minuman itu hh?"

"Kau pasti tahu."

"DAMN!" Luhan mengumpat dan Sehun hanya terkekeh.

"Butuh bantuan?" Sehun berbisik seduktif dan meniup telinga Luhan.

"Tidak, terima kasih."

Luhan sudah ingin beranjak tapi tubuhnya berkata lain. Tangan Sehun yang sedang mengelus lengannya membuatnya tetap membatu disana.

"Apa.. yang.. kau inginkan?"

"Jangan menanyakan apa yang sudah kau tahu jawabannya. Pertanyaan retoris itu tidak berguna."

Luhan kembali menutup matanya. Hasratnya untuk disentuh kini sudah hampir mencapai batasnya. Ia tidak sanggup lagi mengendalikan ini. Apalagi suara Sehun yang serak dan berat, ditambah dengan hangat nafasnya yang begitu dekat.

"Hmm.. " Luhan bergumam saat Sehun mulai menjilati lehernya. Kepalanya reflek bergerak kearah berlawanan hingga Sehun mendapat akses yang mudah. Ia tidak menyia – nyiakan kesempatan dan langsung menggigit kulit putih Luhan.

"Ahh.. hh"

Sehun tersenyum. Karena sudah terangsang, memang mustahil bagi Luhan untuk menolak. Namja berambut coklat itu malah menyambut lidahnya dengan senang hati saat mereka berciuman panas. Ia menjelajahi semua isi goa hangat Luhan. Menikmati manisnya liur Luhan yang selalu ia rindukan. Nafas mereka tersengal. Sehun yakin ia tidak akan melepasnya kalau bukan karena kebutuhan oksigen yang menyebalkan.

Benang saliva terbentuk saat bibir mereka terpisah. Wajah Luhan memerah, pandangannya sayu dan bibirnya begitu menggoda. Selama ini Sehun hanya melihat yang pemandangan indah seperti ini di dalam mimpinya. Karena sudah nyata dihadapannya, Sehun tidak ingin menghabiskan waktu. Ia kembali menyerang bibir Luhan dengan ciuman yang sangat bergairah.

"Ngghh hh.." Luhan benci kenapa suara nista ini lolos dari bibirnya. Tapi tubuhnya tidak bisa diajak bekerja sama. Bukannya mendorong Sehun menjauh, ia malah menekan tengkuk Sehun agar memperdalam ciumannya. Lidah Sehun menari – nari dimulutnya. Menyesapi semuanya dan tidak ada yang terlewat. Luhan berusaha mengimbanginya dan lidah mereka saling bertautan. Sudut bibir dan dagunya sudah basah oleh liur mereka yang tercampur.

Tubuh mereka terus merapat. Luhan tersentak saat paha Sehun dengan sengaja menggesek juniornya yang memang sudah minta perhatian. Mengikuti naluri, Luhan menaikkan sebelah kakinya dan melingkarkannya dipinggang Sehun. Ia begitu horny dan rasa malunya sudah hilang entah kemana. Ia tidak ingin semuanya berakhir hanya dengan ciuman saja.

"Tidak disini," Sehun berkata tepat di depan bibir Luhan. Luhan melihat sekeliling dan ia mengangguk paham. Karena itu ia pasrah saja kemana Sehun akan membawanya.

Setelah perjalanan panjang menuju kamarnya, Sehun menghempaskan tubuh kecil Luhan di daun pintu dan kembali menyerang bibir pink yang memabukkan itu.

"Ahh.. ha..."

Luhan hanya bisa mendesah. Bibir Sehun kembali menjelajah. Sehun mencium sudut bibirnya, dagu, rahang dan lehernya. Ia tidak lupa untuk meninggalkan jejak dan menggigit kulit Luhan hingga meninggalkan bercak merah keunguan yang begitu pekat.

Tidak butuh waktu lama bagi Sehun melepas kemeja Luhan. Sekarang namja itu sudah topless. Nipple nya sudah mencuat dan menegang. Sehun pun memasukkannya kedalam mulutnya. Ia menghisapnya, menjilat, dan menggigitnya. Sedangkan nipple yang satunya ia mainkan dengan jari dengan mencubitinya dan menariknya kuat.

"AAH... SE.. SE..HUN.."

Desahan Luhan makin kuat. Ia merasa melayang dibawah sentuhan Sehun walau namja itu tak berlaku lembut sepenuhnya.

"Ahh..hh.."

"Hmm.. " Sehun bergumam pelan. Ia sudah memindahkan sasarannya menuju perut Luhan dan terus memberinya kissmark yang pastinya tidak akan hilang sampai berhari – hari. Saat jarinya mencapai pinggang Luhan, Luhan merasa tubuhnya semakin panas. Bagian tubuhnya yang begitu sensitif berada tepat di depan wajah Sehun.

"Sudah horny, eoh?" Sehun mencium tonjolan yang masih terbalut celana sambil terus mengelus paha Luhan.

Luhan yang sudah tidak sabar berusaha untuk membuka ikat pinggangnya. Ia ingin agar batang penisnya segera berada di dalam mulut Sehun. Namun ia terkejut saat mendapati Sehun menampar tangannya.

"Kau diam saja. Biar aku yang melakukannya."

Luhan mendapati dirinya kembali memiliki rasa malu.

.

.

Luhan begitu terbuai dengan sentuhan yang sudah lama ia dambakan hingga tanpa sadar ia sudah berada diatas ranjang dengan Sehun yang berada diatasnya. Mereka kembali berciuman. Kedua tangannya berada diatas kepala. Saat mendengar bunyi 'klik', ia tersentak.

"S-Sehun.. a.. apa ini?"

Sehun menampilkan smirknya. "Jangan sok polos. Kau tahu itu apa."

Luhan menatapnya horror. Kalau tangannya sudah diborgol pada dashboard ranjang, ia sudah bisa menduga kemana arahnya, rough sex. Dan Luhan benar – benar membenci yang seperti ini. Apalagi jika yang melakukannya adalah Sehun.

Dulunya ia memang seorang stripper sekaligus jadi namja panggilan. Tidak terhitung berapa kali ia merasakan perlakuan seperti ini. Tapi ia tidak mempermasalahkannya karena yang melakukannya adalah orang – orang bejat yang haus kepuasan. Tapi jika Sehun juga memperlakukannya seperti fuck toy, berarti ia menyukai orang yang salah. Orang yang hanya menginginkan tubuhnya tersiksa untuk membuat mereka memperoleh kenikmatan tiada tara. Benteng pertahanan yang selama ini sudah ia bangun agar tidak jatuh cinta pada orang yang hanya menginginkan tubuhnya sudah hancur.

"Tolong.. lepas.. Sehun.." Luhan berkata dengan mata yang berlinang.

"Tidak," jawab Sehun pendek. Ia kembali mengeluarkan benda berbentuk cincin.

"Kumohon jangan Sehun.. jangan.."

Sehun tidak mempedulikan permohonan Luhan. Ia langsung memasukkannya ke batang penis Luhan yang sudah menegang.

Luhan menjerit. "AAAAHHHH... "

Bukannya kasihan, Sehun malah semakin bersemangat. Ia sudah menonton banyak video porno gay yang melakukan hal semacam ini. Meski berteriak, toh para namja yang jadi bottom tetap akan menikmatinya. Ia merendahkan kepalanya dan menjilat ujung penis Luhan yang sudah mengeluarkan cairan pre-cum dengan gerakan sensual. Ia menjilatinya seperti menikmati sebatang lollipop rasa buah segar.

"Ahh.. haaa.."

Luhan terus mendesah. Kehangatan menjalar dari penisnya ke seluruh tubuhnya. Sehun sudah memasukkan batang kemaluannya kedalam mulutnya. Akhirnya ia bisa merasakannya kembali. Bagaimana lidah Sehun menjilat penisnya dari ujung hingga pangkal, atau sebaliknya. Twinsball nya yang berada dalam genggaman Sehun dan meremasnya dengan kuat. Atau pahanya yang dielus tangan Sehun yang lain. Luhan merasa hasratnya hampir meledak. Perutnya seperti dikocok dan ia begitu ingin mencapai puncaknya hanya dengan lidah Sehun. Namun cock ring sialan itu malah menghalangi.

"Lepaskan Sehun.. jebal... jebal..." Luhan memohon. Namun Sehun menggelengkan kepalanya.

"Belum, Luhan. Masih ada pertunjukan lain."

Sehun menjauhkan tubuhnya dan membuka kemejanya yang sudah kusut. Lalu membuka ikat pinggang dan celananya hingga yang tersisa ditubuhnya hanya boxer. Luhan bisa melihat milik Sehun yang sudah menegang dibalik kain yang membalutnya.

"Kau menginginkan ini?" tanya Sehun saat mendapati Luhan memandangi benda kesayangannya. Bukannya menjawab, Luhan malah memalingkan kepalanya. Sehun tertawa pelan.

Ia kembali naik keatas ranjang. Paha Luhan ia renggangkan hingga hole pinknya yang menggoda terpampang dengan jelas. Penisnya berkedut seolah ingin cepat masuk kedalam lubang itu. Tidak, jangan sekarang. Sehun berusaha meredam nafsunya.

"Mmmh.. mmmhh..."

Luhan bisa mendengar Sehun yang menggeram dibawah sana. Lubangnya terasa basah oleh saliva Sehun dan ia semakin ingin mencapai puncaknya. Atau setidaknya lubangnya dimasuki oleh kejantanan Sehun.

Tapi Sehun seperti sengaja menggodanya dengan berlama – lama. Namja itu meremas pantatnya dan menamparnya sesekali. Luhan meringis.

Puas menjilati lubang Luhan, Sehun menjauhkan kepalanya dan mengambil dildo dari dalam laci. Ia sudah mempersiapkan segala sesuatu yang ia butuhkan dan semuanya ia beli bersama Chanyeol. Mata Luhan hampir meloncat keluar saat ia melihat benda yang dipegang Sehun. Ia menggerak – gerakkan kakinya dan tubuhnya. Berusaha untuk lepas dari borgol sialan yang menahan pergerakan tangannya. Belum lagi juniornya yang tersiksa karena cock ring yang juga tidak dilepas.

"Diam! Atau aku juga akan mengikat kakimu," suara Sehun terdengar sangat tegas. Luhan yang ketakutan kembali tenang. Setidaknya ia masih bisa bicara karena Sehun tidak menyumpal mulutnya.

"Jebal Sehun.. jangan gunakan itu... jebal..."

"Sayangnya aku sangat ingin mencobanya."

Sebenarnya Sehun tidak tega melihat Luhan menangis. Tapi apa boleh buat, nafsu sudah mengambil alih tubuhnya. Rasa kasihannya sudah tergantikan oleh rasa penasaran bagaimana nantinya suara teriakan Luhan saat lubangnya dimasuki benda yang tengah ia pegang.

Sehun sedikit kesulitan karena Luhan terus berusaha merapatkan kakinya. Ia pun menggigit puting Luhan dengan sangat keras hingga Luhan merasa mungkin saja benda kecil itu akan lepas dari dadanya.

"AAKHHH..! SAKIIIT... AAAKKHH!"

Sehun pun berhasil membuka kaki Luhan. Ia menelan ludahnya paksa. Bagaimana indahnya hole Luhan yang begitu menggoda. Pandangan Sehun seolah gelap. Tanpa pelumas apapun ia memasukkan dildo berukuran jumbo itu kedalam lubang Luhan dengan sekali hentakan.

"AAAKKHH... ANDWEEEEEE! SAKIITTTTT...LEPAASHH.. AAAKKH... SE..SEHUN..." Luhan berteriak sekencang – kencangnya sampai tenggorokannya terasa sakit. Benda laknat itu seperti membelah bagian bawah tubuhnya. Ia bisa merasakan cairan kental mengalir di pantatnya, darah. Wajahnya berubah pucat menahan rasa sakit yang luar biasa. Air matanya mengalir dengan deras.

"Kumohon... lepashh.. S-sehun... " suaranya sudah berubah serak.

Sehun seperti tuli. Ia tidak mendengar semua permohonan Luhan. Ia malah memaju-mundurkan dildo itu dengan gerakan cepat. Luhan melengkungkan punggungnya. Ujung benda itu menyentuh titik terlemahnya dan teriakan berubah jadi desahan.

"Nyaa.. ahh... aaaahhh..."

Suara itu.. Sehun tersenyum. Akhirnya ia bisa mendengarnya lagi. Ia kembali menciumi leher Luhan dan menjilatinya.

"Kau.. ingin benda dilepas.. hh?"

Suaranya yang berat berbisik tepat ditelinga Luhan. Ia pun mengangguk cepat. Luhan mendesah lega karena akhirnya benda itu keluar. Namun hanya sebentar. Ia tidak tahu kapan Sehun membuka pakaian terakhir yang melekat ditubuhnya. Tapi Luhan bisa merasakan junior Sehun yang sudah memasuki lubangnya.

"Nyaa.. ahhh... haaa..."

Luhan merasa kalau Sehun itu hebat. Bagaimana mungkin sekali masuk namja itu bisa menemukan sweet spot nya dengan sangat mudah. Menumbuknya dengan keras dan berulang - ulang. Tubuh mereka bergerak seirama. Luhan berusaha mengimbangi tarian Sehun dengan menggerakkan pinggangnya kearah yang berlawanan dan ia pun merasakan kenikmatan.

"Fuck..." Sehun menggeram. Ia merasa lubang Luhan yang ketat itu sangat pas dengan ukuran penisnya seolah lubang itu memang tercipta untuk dimasuki hanya olehnya. Batang kemaluannya seolah dipijat karena kontraksi otot Luhan. Ia mendongakkan kepalanya dan mulutnya terus menggumamkan kata – kata kotor. "Fuck fuck fuck..."

Sehun merasa sangat beruntung. Ia tidak perlu lagi susah – susah mencari Luhan karena namja ini malah muncul sendiri. Ia sudah sepenuhnya gay. Sudah tidak tertarik lagi memasukkan juniornya kedalam lubang wanita. Ia lebih tertarik dengan cincin berkerut dibagian belakang Luhan yang seolah menghisap juniornya. Memintanya untuk terus menusuk hingga bagian terdalam.

"AHHH.. HAA AHHH..." Luhan semakin tak bisa mengendalikan desahannya. Sehun sudah kembali mengocok juniornya dengan gerakan yang tak kalah cepat dengan gerakan pinggangnya. Luhan menenggelamkan kepalanya kedalam bantal.

"Sehun.. aku.. mau keluar.. jebal.." Luhan kembali memohon, namun Sehun tetap tak mengindahkan permintaannya.

Sehun kembali menciumi wajah Luhan, menjilati keringatnya yang membasahi wajah namja itu. Menggigit dagunya dan Luhan benar – benar terlihat seperti whore dibawahnya. Tangannya tetap sibuk membelai puting kecil Luhan yang manis. Ia menarik – nariknya. Luhan yang sedang membuka mulutnya terlihat begitu sexy dengan saliva yang mengalir. Nafasnya tersengal. Desahan dan erangan kekanakan tidak pernah berhenti keluar dari sana.

Tusukan Sehun makin lama makin brutal. Suara balls nya yang beradu dengan pantat Luhan meningkatkan nafsunya. Akhirnya.. akhirnya ia kembali merasakan surga didalam lubang Luhan yang selama ini selalu ia impikan.

Tidak berapa lama kemudian, Sehun merasa kalau ia sudah dekat. Urat – urat penisnya yang menegang bisa Luhan rasakan menggesek dinding rektumnya. Dengan beberapa kali hentakan kuat, ia mengeluarkan cairannya di dalam lubang Luhan.

"Aghh.. Luhan.."

Nafasnya ngos – ngosan dan ia menarik keluar juniornya hingga cairannya keluar mengalir dipantat dan paha Luhan. Melihatnya saja ia kembali horny.

"Sehun.. tolong lepas...hhh" suara Luhan serak karena kebanyakan berteriak. Tubuhnya jiga lemas karena ia tidak pernah mencapai puncaknya.

Sehun menurut. Ia pun menarik dan melepaskan cincin yang menahan keluarnya sperma Luhan. Cairan yang sudah tertahan dari tadi seolah berlarian keluar membasahi perut Sehun dan Luhan.

"Cairanmu.. nikmat.. Luhan..."

Luhan merasa Sehun terlihat sangat sexy saat namja itu menjilati jarinya. Mengelus sisa – sisa spermanya dan menghabiskannya seperti orang yang kelaparan. Sehun juga melepas borgolnya hingga ia kembali bebas.

"Jangan senang dulu. Kita belum selesai."

Lagi – lagi Luhan tersentak. Tapi ia sama sekali tidak bisa menolak saat Sehun kembali menjelajahi goa hangat miliknya. Menjilati wajahnya dengan sensual. Mengulum telinganya dan mengehembuskan nafas hangatnya disana hingga Luhan kembali terangsang.

Sehun menarik tubuh Luhan hingga kini ia terduduk dipangkuan Sehun dan kakinya melingkar manis di pinggang namja itu.

"Kau yang bergerak..." ujar Sehun sambil memasukkan kembali batang penisnya.

Luhan ingin protes karena tubuhnya benar – benar lemas. Apalagi lubangnya masih terasa sakit. Namun ia tidak bisa melawan keinginan namja ini. Luhan merasa kalau ia kembali menjadi slut murahan. Sehun benar – benar menganggapnya seperti itu dengan menidurinya dan mempraktekkan berbagai posisi ekstrim. Bahkan saat Sehun akhirnya mengeluarkan miliknya setelah ia klimaks untuk yang kesekian kalinya, namja itu masih sempat – sempatnya memasukkan vibrator dan menontonnya yang menggeliat tidak karuan diatas ranjang yang sudah kusut hingga ia hampir pingsan.

"Ahh..." untuk terakhir kalinya Luhan mendesah dimalam itu. Suaranya pelan. Hati dan tubuhnya sakit. Sehun benar – benar bagian dari orang – orang itu. Orang – orang yang menikmati tubuhnya tanpa memiliki sedikit perasaan kasihan.

Namun anehnya, Sehun selalu mengecup keningnya sebelum ia tertidur. Dan saat itu, entah bermimpi atau tidak, ia mendengar Sehun mengucapkan kata saranghae.

.

.

.

.

.

.

"Kau ada masalah dengan Sehun?" Baekhyun bertanya dengan kening yang berkerut karena Luhan terus menolak untuk bertemu dengan Sehun. Mereka tidak lagi makan siang bersama karena Luhan akan menghilang dengan cepat. Sikap temannya itu jadi aneh dan terus tutup mulut walau ia menanyakannya hampir tiap menit.

Tidak jauh berbeda dengan Sehun, namja itu juga jadi aneh. Tubuhnya makin kurus dan terlihat sering melamun. Ia pernah melihat Sehun dan Luhan berpapasan. Luhan segera berbalik dan Sehun terlihat mau memanggil Luhan namun tidak jadi. Pasti ada sesuatu, Baekhyun sangat yakin.

"Ayolah... kau harus menjawab. Jebal.. Aku ini temanmu, kan?"

Luhan membuang nafas berat. "Tanyakan saja padanya."

"Aku sudah menanyakannya. Tapi dia selalu bungkam. Ayolah.. kalian tidak ingin membuatku mati penasaran, kan?"

Berlebihan, batin Luhan. Tapi ia menghargai sikap Baekhyun yang peduli padanya. "Aku hanya baru mengetahui sesuatu tentangnya dan aku tidak suka. Karena itu aku bersikap seperti ini. Sudah ya, aku pergi."

Selalu seperti ini. Luhan akan pulang duluan dengan alasan mau bekerja sampingan untuk memenuhi biaya hidupnya. Baekhyun merasa ada sesuatu tentang Luhan yang tidak ia ketahui. Temannya itu sedikit misterius. Bukankah ia memperoleh beasiswa hingga tidak perlu membayar uang kuliah sepersen pun? Lalu kalau ia membiayai hidupnya, bagaimana dengan orang tuanya. Baekhyun ingin menguntit. Tapi ia merasa tidak sopan. Karena itu ia pun memilih untuk menunggu Luhan sendiri yang akan memberitahunya.

.

.

.

.

Setelah beberapa lama tidak bisa tidur dengan nyenyak karena terus memikirkan Sehun, akhirnya malam ini ia terlelap. Hati dan tubuhnya begitu lelah. Kalau memang Sehun merasa bersalah, setidaknya namja itu bisa mengajaknya untuk bicara. Tapi ini? Saat ia menjauh, Sehun tidak berusaha mendekat. Air mata Luhan yang sudah lama tidak keluar kembali membasahi pipinya. Ia merasa seperti orang bodoh. Idiot. Mencintai orang yang ia anggap sebagai penyelamatnya tapi ternyata tidak berbeda dengan semua pengunjungnya. Ia berusaha keras untuk terus memfokuskan diri belajar dan melupakan hal – hal yang tidak seharusnya ia pikirkan. Cinta bisa ia dapatkan nanti jika sudah berhasil, sekarang Luhan merasa kalau kuliahnya harus diutamakan. Meski demikian, entah kenapa dadanya selalu sesak.

"Ngh.." Luhan berbalik dan mencoba untuk membuka kelopak matanya yang terasa berat. Ia meraih ponselnya dan melihat jam. Masih tengah malam! Siapa kira – kira yang membunyikan bel dan bertamu saat orang sedang terlelap? Luhan mencoba mengabaikannya, tapi sepertinya orang itu sangat keras kepala.

Dengan langkah terseok, Luhan keluar dari kamarnya dan ia mengintip dari pintu depan. Rasa kantuknya hilang dalam sekejap. Chanyeol? Untuk apa namja itu menemuinya tengah malam begini?

"Ada apa, Chanyeol?" Tanya Luhan setelah ia membukakan pintu dan namjachingunya Baekhyun masuk kedalam.

"Ada apa? Aku kemari karena ada urusan."

Luhan mengerutkan keningnya. Seingatnya ia tidak punya urusan dengan namja ini.

"Sehun.."

Sebuah kata itu mampu membuat perubahan pada mimik wajahnya.

"Apa yang terjadi? Kenapa kalian terlihat aneh dan Sehun jadi seperti orang yang stress."

"Tanyakan saja padanya!" jawaban Luhan begitu ketus. Kenapa orang – orang ini terus menanyakan hal yang membuat perasaannya jadi tidak karuan?

"Well," Chanyeol bersender didinding dan melipat tangan didada. "Sebenarnya aku tahu apa yang terjadi."

Luhan terkejut. "Kalau begitu, kenapa masih bertanya? Sudah tahu kan, kalau semua itu salah temanmu? Dia yang berlaku tidak sopan dan aku pantas membencinya!"

"HAHAHA..!" Chanyeol terbahak. "Tidak sopan katamu? Jangan sok suci, Luhan. Seorang stripper juga whore berwujud anak manis tidak seharusnya merajuk karena hal seperti itu."

Lutut Luhan bergetar hebat. Langit serasa runtuh menimpa kepalanya saat ia mendengar perkataan Chanyeol. Untuk beberapa saat ia tidak mampu mengendalikan debaran jantungnya yang berpacu. "A,,, aku t—tidak mengerti apa maksudmu..."

"Baik, biar kuperjelas. Namamu Luhan dan kau seorang stripper di sebuah bar di Hongkong. Aku pernah melihat penampilanmu yang menari mem-fingering dirimu sendiri dihadapan orang banyak dan kau terlihat berbeda dengan yang sekarang. Bahkan aku juga yang menyarankan Sehun untuk mengunjungi bar itu dan memesanmu hingga ia jatuh cinta pada seorang penari bar!" Sebenarnya Chanyeol tidak ingin mengatakan ini. Tapi melihat Sehun yang belakangan sering mabuk – mabukan membuatnya harus mengambil tindakan. Ia yakin kalau Luhan juga mencintai Sehun. Mungkin namja dihadapannya ini hanya berusaha untuk memperbaiki harga dirinya di tempat asing. Dan ia lari kemari setelah melihat Sehun mencium seorang namja dan terus memanggil nama Luhan. huh.. temannya itu benar – benar dimabuk asmara tapi tidak merani mengucapkannya!

Oh... Luhan menggigit bibir. Ia merasa mendapat serangan kejutan beruntun malam ini. Setelah sempat shock saat mengetahui kalau Chanyeol mengenalnya sebagai seorang stripper, sekarang ia mendengar kalau Sehun mencintainya. What?! Mencintainyaaa?!"

.

.

.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

Sorry for typo(s)

.

.

.

.

.

Here's an update!

SMUT again! But I think~Am I failed? .

.

.

.

.

Btw... LET'S SAY...

HAPPY BIRTHDAY LUHAAN...! I'm really really sad that we can't make his birthday as #1 TTDW on twitter. But overall, I STILL LOVE HIM.

.

.

.

So, review?