Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: OOC, typo(s), AU, Fem!Dei
~Eternal Love~
Sepasang iris mata biru Aquamarine menatap tenang ke hitamnya langit malam dari balik jendela kamarnya. Mata yang indah –yang wajar saja membuat orang lain terpesona- itu tak letih menatap kegelapan langit malam. Tidak, ia tidak menghitung bintang. Ia hanya menikmati lukisan alam yang begitu indah. Entah secara sadar atau tidak, pikirannya melangkah mundur ke belakang. Mengingat kejadian-kejadian di masa lalu tanpa ia inginkan.
Begitu sadar dirinya tenggelam dalam kenangan masa lalu, ia menggelengkan kepalanya, menyadarkan dirinya sendiri untuk tidak terlalu terhanyut kepada sesuatu yang tak sepantasnya ia ingat lagi. Deidara membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya yang sederhana, lalu menarik selimut yang tipis untuk menyelimuti tubuhnya yang kedinginan.
Gadis muda itu mencoba memejamkan matanya, namun tiba-tiba saja ia melihat wajah seseorang. Seseorang yang tersenyum padanya, seseorang yang mengulurkan tangannya.
"Danna," gumamnya. Sesuatu terasa meremas jantungnya saat ia menyebut nama itu.
'Suatu saat kita akan hidup bersama dan aku akan membahagiakanmu. Kalau itu tak bisa terjadi, maka aku memilih untuk mati.'
Seketika Deidara membuka matanya lebar-lebar saat kata-kata itu terdengar kembali di dalam pikirannya. Kata-kata yang pernah Sasori ucapkan saat mereka bersama, kata-kata yang terdengar serius tanpa gurauan.
Jantung Deidara berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya, bahkan ia dapat mendengar detak jantungnya sendiri. Tubuhnya mengigil, entah karena kedinginan atau karena takut dengan kata-kata itu. Dulu kata-kata itu memang terdengar manis dan membuatnya bahagia. Namun sekarang, kata-kata itu menjadi begitu pahit untuk diingat, juga menakutkan.
'krieet'
Cahaya dari luar menyelinap masuk ke kamar Deidara yang gelap saat pintu itu dibuka dari luar.
"Dei," suara lemah lembut seorang perempuan memanggil nama gadis yang berbaring di tempat tidurnya.
"Kaasan un?" Deidara mengganti posisinya menjadi duduk.
"Kau belum tidur, sayang?"
"Um." Deidara berusaha keras untuk tersenyum, walaupun ia tahu ibunya tak akan melihat senyumnya dengan jelas karena keadaan yang gelap, "Sebentar lagi aku tidur."
Wanita itu tersenyum, "Baiklah sayang. Oyasuminasai."
"Oyasuminasai kaasan un," sahut Deidara. Begitu pintu terututup dan suasana kamar kembali sunyi, senyum di bibir manis Deidara luntur perlahan. Ia selalu bisa terlihat dalam keadaan baik di hadapan orang lain. Hanya beberapa orang yang tahu apa yang sebenarnya Deidara rasakan. Apa yang terjadi di balik senyum yang selalu ia tunjukan.
Ia kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur, sudah larut malam dan ia sama sekali belum mengantuk. Sedangkan besok ia harus bangun pagi untuk membuka dan menjaga toko kue milik ibunya.
Selama tiga bulan terakhir ini Sasori hanya hadir di pikirannya saja, ia tak menyangka sama sekali hari ini ia bisa bertemu lagi dengan Sasori. Melihat matanya secara langsung, mendengar suaranya secara langsung. Ia bahagia namun juga gelisah. Apakah semuanya akan baik-baik saja?
.
.
Udara dingin di pagi hari terasa cukup membuat gadis manis berambut pirang panjang itu mengigil walaupun ia sudah mengenakan jaket dan syal di lehernya. Walaupun musim semi tak sedingin musim dingin, namun setiap pagi udara masih terasa cukup menusuk kulit. Ia mempercepat langkahnya menuju toko kue agar segera terbebas dari udara luar.
Mata Aquamarine-nya melebar saat melihat seorang laki-laki berdiri tepat di depan toko kue yang masih tutup. Dengan cepat Deidara menghampiri laki-laki tersebut.
"Ohayou Itachi-san un," sapa Deidara diiringi dengan sebuah senyuman manis.
Itachi menoleh, sepertinya ia tak terkejut dengan kehadiran Deidara. "Ohayou Dei-chan."
Deidara merogoh kunci dari tas tangannya lalu membuka pintu toko kue tersebut dengan kunci di tangannya. "Pagi-pagi sekali," gumam Deidara seraya mendorong pintu yang sudah tak terkunci lagi dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya membawa termos kecil berisi air panas.
"Ya terlalu pagi untuk berangkat ke kantor, karena itu aku mampir kesini untuk menikmati kopi panas," sahut Itachi seraya melangkahkan kakinya masuk ke dalam toko, mengikuti langkah Deidara.
"Hey ini toko kue bukan cafe un," ujar Deidara seraya tertawa kecil. Ia meletakkan termosnya di atas rak kaca, lalu melangkah ke dalam sebuah ruangan meninggalkan Itachi yang segera duduk di salah satu kursi.
Itachi tersenyum. "Tapi setidaknya di sini aku bisa menikmati secangkir kopi saat cafe-cafe belum buka," ucapnya saat Deidara keluar dari ruangan tadi dengan membawa cangkir juga sendok kecil.
"Untung saja aku membawa air panas dari rumah. Kalau tidak, Itachi-san perlu menunggu lama," ujar Deidara seraya membuatkan secangkir kopi untuk Itachi. Setelah selesai membuatnya, ia memberikan kepada Itachi.
"Arigatou."
Deidara hanya mengangguk kemudian mengambil kain basah untuk membersihkan kaca tokonya.
"Jadi..." Itachi menyeruput kopi di dalam cangkir, "...nanti siang kau datang?"
Gerakan tangan Deidara yang tengah membersihkan kaca terhenti seketika. "Sepertinya tidak un. Tidak ada yang menjaga toko," ujarnya seraya melanjutkan gerakan tangannya namun kali ini lebih lambat dari sebelumnya.
"Aku bisa menjaganya untukmu," ujar Itachi.
Deidara tertawa kecil. "Itachi-san tahu saja kalau bukan itu alasanku yang sebenarnya un."
Itachi meletakkan cangkir di genggamannya ke atas meja, "Tentu aku tahu. Orang-orang yang dekat denganmu pasti tahu hal itu. Dan sekeras apapun kau mencoba menutupi, kami semua tahu kau masih sangat mencintai Sasori."
Deidara kembali menghentikan gerakan tangannya. Ia menoleh ke belakang, tersenyum kepada Itachi dan berkata, "Ini masih pagi, Itachi-san. Kita bicarakan yang lain saja dulu."
Itachi menghela napas. "Kau menghindar, Dei."
Deidara tak menyahuti ucapan Itachi. Ia mengambil kain yang kering lalu mengeringkan kaca yang tadinya basah.
"Dei," panggil Itachi seraya menatap punggung Deidara.
"Ya?" tanya Deidara.
"Sasori selalu mengatakan dia hanya mencintaimu dan tak akan mencintai gadis lain. Apa kau juga begitu? Apa kau juga tidak akan mencintai laki-laki lain selain Sasori?"
"Aku tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini un," ucap Deidara tanpa menoleh, nada suaranya pun terdengar berbeda. Sepertinya ia tidak menyukai apa yang Itachi tanyakan.
Itachi menunduk. "Maafkan aku."
"Tidak apa-apa," sahut Deidara. Ia membawa kedua kain tadi menuju ruangan yang pintunya terletak tepat di belakang rak kaca. Kemudian saat gadis itu keluar, ia membawa beberapa kotak putih besar. Satu-persatu isi kotak tersebut –yang berupa kue-, ia letakkan di dalam rak kaca.
"Baiklah." Itachi berdiri dan meletakkan selembar uang di atas meja, tepat di sebelah cangkir kopi, "Aku pergi dulu, Dei. Jaga dirimu baik-baik."
Deidara mengangkat kepalanya, dengan senyum yang sedikit dipaksakan ia berkata "Semoga harimu menyenangkan Itachi-san."
Itachi berhenti melangkah, ia menoleh ke belakang. "Aku harap kau tahu kenapa aku melakukan semua ini." Setelah mengucapkan kalimat itu, ia mendorong pintu kaca untuk bisa keluar dari toko tersebut.
"Tentu," bisik Deidara pelan.
Bagaimana mungkin Deidara tak tahu apa alasan Itachi begitu memperhatikannya. Ia masih ingat betul saat dirinya menangis, Itachi memeluknya, menenangkannya dan mengatakan bahwa Sasori meninggalkannya karena terpaksa. Juga saat itu, ia mengatakan sesuatu yang seketika membuat tangisan Deidara terhenti. Hingga kini pun, Deidara masih tak habis pikir kenapa Itachi bisa mengatakan hal itu.
.
.
Deidara menghela napas panjang. Ia duduk di balik rak kaca setelah salah satu pelanggan meninggalkan toko kue tersebut dan meninggalkannya sendirian di sana. Tadi cukup banyak pembeli yang datang, namun mereka pergi di saat yang hampir bersamaan. Sekarang Deidara hanya menatap suasana luar dari balik kaca toko tersebut.
"Mendung. Sebentar lagi akan turun hujan," bisiknya pada diri sendiri. Tanpa sadar ia melirik jam dinding yang terpasang di sisi kiri toko.
Pukul setengah tiga.
Deidara segera mengaduk isi tasnya untuk mencari ponselnya. Saat sudah menemukan benda itu, ia menggerakkan jemarinya untuk mengetik sebuah pesan. Ia ingin mengirim pesan kepada Sasori, mengatakan bahwa dirinya tak bisa datang. Tapi entah mengapa, jemarinya terasa begitu kaku untuk digerakkan.
Tidak.
Jika ia mengirim pesan seperti itu, kemungkinan besar Sasori akan menghampirinya kesini. Itu sama saja kan?
Deidara menatap kaca besar di tokonya yang bisa membuatnya melihat keadaan di luar. Hujan. Jantung Deidara berdetak cepat. Ia berdoa agar Sasori segera pulang karena hujan. Dan juga, ia ingat bahwa Sasori begitu benci menunggu. Jadi Deidara yakin Sasori pasti sudah pulang. Dengan pemikirannya tersebut, Deidara bisa menghela napas lega.
Empat jam berlalu begitu saja. Dengan mengerutkan dahi, Deidara merapikan isi tokonya. Sejak siang tadi tak ada pelanggan lagi yang datang. Mungkin karena hujan diluar tak kunjung berhenti sehingga orang-orang malas untuk keluar rumah.
'Tidak akan ada yang datang lagi sepertinya. Hari ini pulang cepat saja' batinnya.
Setelah merapikan kue-kue yang tersisa, Deidara mengambil payung dari ruang belakang kemudian keluar dari toko kuenya setelah mengunci pintu.
Ia menatap langit. Sudah hampir gelap, hujan belum juga berhenti. Ia membuka payung bening tersebut kemudian melangkah di pinggir jalan yang sepi.
Besok temui aku di taman biasa jam dua siang
Deidara menghentikan langkahnya saat mengingat kalimat Sasori kemarin. Tak jauh dari tempatnya berdiri terdapat sebuah taman kota yang dulu biasa mereka kunjungi. Dan hari ini Sasori ingin menemuinya di sana. Kebetulan taman tersebut searah dengan rumah Deidara.
Aku akan menunggumu sampai kau datang
Menunggu?
Deidara tersentak. Ia menggenggam payungnya dengan lebih erat. Tersirat keinginan yang dalam untuk melangkah ke taman. Hanya untuk memastikan bahwa Sasori sudah pulang. Deidara mengangguk meyakinkan diri sendiri. Ya, hanya untuk memastikan. Dilangkahkannya kaki jenjang berbalut jeans biru semata kaki itu ke dalam taman.
Kakinya berhenti melangkah saat pandangannya tertuju pada seseorang yang duduk di bangku taman. Ia membeku. Betapa terkejutnya ia melihat Sasori duduk di bangku taman itu dengan kepala tertunduk dan mata terpejam. Tetesan air jatuh dari ujung-ujung rambut merahnya, juga mengalir di wajahnya dan jatuh dari ujung dagunya.
"Sasori-danna?" bisik Deidara. Bahunya kini terasa lebih ringan. Rupanya sedari tadi ia tak sengaja menahan napasnya.
Laki-laki tampan itu membuka matanya perlahan saat mendengar suara yang memanggil namanya. Ia mengangkat kepalanya, menatap Deidara yang berdiri tak jauh darinya.
"Aku tahu kau pasti datang," ujar Sasori pelan seraya tersenyum tulus. Deidara masih membeku, ia masih tak percaya Sasori benar-benar menunggunya.
"K-kau benar-benar menungguku un?" tanya Deidara tak percaya.
Sasori tertawa kecil. "Aku tak pernah ingkar janji. Kau ingat kan?"
Wajahnya, wajahnya yang tampan itu terlihat pucat. Deidara segera melangkah mendekati Sasori dan memayungi laki-laki itu. Walaupun upayanya sia-sia karena tubuh Sasori sudah basah kuyup.
"Kenapa kau melakukan ini un?" bisik Deidara lirih seraya menyentuh pipi Sasori. Dingin. Pipi itu terasa begitu dingin bagai es. "Aku yakin kau masih benci menunggu."
Sasori menggenggam tangan Deidara yang menyentuh pipinya. "Karena aku mencintaimu."
Deidara merasa matanya perih dan basah. Ia menahan diri sekuat tenaga agar tidak menangis.
"Tapi nanti kau bisa sakit. Bodoh sekali." Deidara berbisik. Suaranya nyaris tak terdengar, tertahan di tenggorokannya yang terasa seperti tercekik.
"Aku memilih untuk sakit tapi bisa bertemu denganmu daripada sehat tapi tak bisa bertemu denganmu," bisik Sasori pelan. Dari suaranya dan tatapan matanya, Deidara yakin bahwa Sasori dalam keadaan tidak baik.
"Kau pasti kedinginan. Kebetulan rumahku dekat dari sini. Danna harus ganti pakaian. Kalau pulang dalam keadaan basah kuyup begini danna bisa dimarahi," ujar Deidara panjang lebar.
Sasori menjitak pelan kepala Deidara, "Dasar cerewet."
Deidara tersentak kemudian tersenyum. Sudah lama sekali ia tak mendengar dua kata itu dari Sasori. Ia sangat merindukan saat-saat dimana Sasori mengatakan 'dasar cerewet' kepada dirinya. Ia tak banyak berubah. Yang berubah hanyalah... Sasori bukan miliknya lagi.
.
.
Ketukan pelan terdengar dari jemari gadis yang sedari tadi yang berhenti mengetuk-ngetuk pintu kayu di belakangnya. Ia menghela napas panjang, memikirkan tindakannya ini. Apa membawa Sasori ke rumahnya adalah pilihan yang tepat? Tadi ia terlalu panik sampai tidak memikirkan resiko yang mungkin akan mereka hadapi.
'krieet'
Pintu yang sedari tadi ditekuknya dengan jari telunjuk, kini terbuka dari dalam, membuat suara ketukan yang monoton tersebut berhenti begitu saja. Deidara membalikkan tubuhnya, menatap Sasori yang sudah berganti pakaian.
"Ah maaf. Pasti kau kurang nyaman dengan baju itu ya? Tousan tidak punya baju bagus un," ujar Deidara menyesal melihat Sasori yang biasanya mengenakan kemeja mahal dan jeans berkelas, kini hanya mengenakan baju kaos berwarna abu-abu dan celana kain berwarna hitam.
Sasori tertawa pelan. "Menurutku ini bagus."
Deidara tersenyum. "Itu baju kesukaan tousan saat masih hidup. Sekarang tousan pasti senang baju itu bisa dipakai olehmu. Tousan sangat menyukaimu, Sasori."
"Tousan-mu percaya padaku bahwa aku bisa menjaga putri kesayangannya," ujar Sasori.
Gadis itu terdiam. Memang semasa hidupnya, ayahnya begitu menyukai Sasori. Ia merasa Sasori bisa menjaga putrinya dengan sungguh-sungguh. Dan ia hanya mempercayakan hal itu kepada Sasori.
"Makan malam sudah siap," suara lembut seorang wanita memecah keheningan antara Sasori dan Deidara. Mereka berdua menoleh, melihat seorang perempuan berambut panjang -dengan warna senada dengan warna rambut Deidara- tengah membawa nampan berisi semangkuk besar sup panas dan tiga piring nasi putih.
Sasori tersenyum, "Maaf merepotkan."
"Tidak apa-apa sayang. Ayo makan bersama," ujar ibu Deidara seraya tersenyum kepada Sasori. Namun senyum di wajah cantiknya memudar saat memperhatikan wajah Sasori dengan seksama. "Sasori-kun sakit? Wajahmu pucat sekali."
"Eh?" Deidara segera menatap Sasori kemudian menyentuh dahi Sasori dengan punggung tangannya. "Kau demam!" serunya terkejut.
"Cepat bawa Sasori-kun ke kamar, kaasan akan mengambil obat penurun panas," ujar ibu Deidara seraya bergegas ke kamarnya.
Deidara mengangguk. Dituntunnya pelan Sasori menuju kamar Deidara lalu merebahkan tubuh laki-laki itu di atas tempat tidurnya. Deidara merasa bersalah karena membuat Sasori sampai sakit begini. Kehujanan selama empat setengah jam, tentu saja itu bisa membuat siapapun jatuh sakit.
Ibu Deidara masuk dengan membawa nampan aluminium kecil, diatasnya terdapat botol kecil berisi obat penurun panas, segelas air putih, sebaskom kecil air dingin dan kain yang telah dilipat.
"Arigatou kaasan. Kaasan makan saja dulu. Biar aku yang merawat Sasori un," ujar Deidara seraya tersenyum.
Wanita paruh baya itu mengangguk kemudian keluar dari kamar putrinya.
Deidara menatap Sasori. Dilihatnya tubuh laki-laki itu mengigil. "Kau kedinginan?" tanya Deidara seraya menarik selimut tipis miliknya untuk menyelimuti Sasori hingga sebatas lehernya.
Saat tangan Deidara ingin meraih botol obat, tangan Sasori mencegahnya, membuat Deidara menatapnya bingung. "Ada apa un?" bisiknya.
Sasori mengganti posisinya menjadi duduk, segera ia memeluk tubuh Deidara dengan erat. Gadis cantik itu tersentak kaget karena tiba-tiba saja Sasori memeluknya. Seiring dengan keterkejutan yang mulai sirna, jatung Deidara berdetak semakin cepat.
"Dei...Deidara," bisik Sasori. Terdengar begitu lirih di telinga Deidara. Laki-laki itu menenggelamkan kepalanya di leher jenjang Deidara, mencari kehangatan dan kenyamanan di sana.
Tanpa sadar, tangan Deidara bergerak untuk membalas pelukan Sasori. "Danna," balasnya.
"Biarkan tetap seperti ini Dei. Hangat," bisik Sasori.
Deidara mengangguk, ia mengeratkan pelukannya pada Sasori. Pelukan untuk menghangatkan seseorang yang tadi merasa kedinginan tersebut.
"Apa ini cukup untuk menebus kesalahanku yang membuatmu kehujanan selama berjam-jam un?" tanya Deidara lirih.
"Cukup. Lebih dari cukup," sahut Sasori seraya tersenyum.
Deidara terdiam. Tubuh yang tengah memeluknya, tubuh yang berada di dalam pelukannya tak mengigil seperti tadi. Setidaknya ucapan Sasori bukanlah sebuah kebohongan. Ia benar-benar merasa hangat berada di dalam pelukan perempuan yang sangat ia cintai itu.
Lama-kelamaan helaan napas Sasori terasa ringan, pelukannya pun tak seerat tadi.
"Danna?" bisik Deidara.
Tak ada sahutan.
Tidur ya? Deidara membatin seraya tersenyum.
Deidara mengecup puncak kepala Sasori dengan lembut sebagai pengantar tidur. Ya, walaupun ia tahu apa yang ia lakukan ini salah. Sasori bukan miliknya lagi, Sasori sudah menjadi milik orang lain dan sepertinya tak ada celah sedikitpun bagi Deidara untuk kembali memiliki Sasori seperti dulu.
_TBC_
Maaf lama update-nya. Saya tiba-tiba kehilangan ide dan... semoga chapter ini masih nyambung sama chapter satu ._.v
Saya bales review disini aja ya, ewe.
: makasi udah baca. Maaf ini lama update-nya, semoga belum lupa sama ceritanya ya *-*
Moku-chan: Endingnya? Bakalan jadi SasoSaku sama ItaDei gak ya? Penasaran? Lanjut baca ya *kedip-kedip mata* /ditampar
Furikaze Aizawa: ewe, gomen lama update-nya T,T makasi udah baca *nyengir*
AngelOFDeath: cinta sama SasoDei? Aw senangnya~ Iya di FNI SasoDei memang masih dikit, karena itu mari tanam seribu fanfiksi SasoDei di FNI *kibar bendera*
Vary kirioz: ternyata apa? :o ha'i arigatou udah baca. Semoga masih mau baca lagi, hehehe
Yap sekian.
Review?
