Chapter 2: Giniro Hikousen

Tidak pernah sekalipun seorang Park Jimin merasakan sesuatu yang bernama kesengsaraan. Dibesarkan oleh keluarga yang menyayanginya, Teman teman yang selalu ada untuknya, dan bersikap apa adanya seorang dia membuat Jimin melihat dunia ini sebagai tempat yang warna warni. Minus dengan warna hitam dan abu abu yang penuh dengan kesan yang kelam. Jimin tidak pernah terlintas di kepala Jimin kalau orang orang ada yang tidak mendapatkan jatah kebahagiaan. Sebisa mungkin seorang Park Jimin memandang dunia ini dengan menghilangkan warna abu abu dan hitam.

Tetapi suatu hari. Ia melihat sosok yang bersinar redup di tengah kegelapan. Bercahaya dengan indah namun Nampak tidak secerah cahaya kebahagiaan pada umumnya. Cahaya yang redup itu menampakkan kalau sosok tersebut terus mengorbankan kebahagiaan nya untuk orang lain. Mengesampingkan mimpi mimpi nya di masa lalu dan memilih mengabdikan hidupnya untuk melihat kehidupan orang lain. Min Yoongi yang selalu berpegang teguh pada kata kata nya untuk melihat segala sesuatu tidak dari luar tetapi dari dalam.

Cara pandang mereka pada kehidupan jelas berbeda. Dan mereka sama sama memiliki kecacatan yang terus berusaha mereka sembuhkan. Mereka yang terlihat sempurna dari luar tetapi rapuh dari dalam. Mereka yang sangat kontras dan tidak luput dari kesalahan.

Jimin yang tumbuh dengan penuh dengan keegoisan dan menjadi si nomor satu

Dan Yoongi yang memilih untuk membuat orang lain tersenyum dan tertawa karena sudah merasa tidak mungkin lagi merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.


Ghost of a smile : Giniro Hikousen

A MinYoon Fanfiction/Park Jiminx Min Yoongi

Slight Namjin & KookV

BL/BoysLove/BoyxBoy/Yaoi

-Bagi yang homophobic dan sejenisnya bisa tekan panel kembali-

T – M

Romance/Hurt-Comfrot/Family

By

Miah Navillera Razarphael


Alis Jimin berkedut tidak senang.

"kalian pasti bercanda"

Teman teman seperjuangan nya itu nyengir. Minus Namjoon yang tersenyum mengejek pada Jimin. Jimin menatap teman teman yang dimatanya absurd itu dengan alis naik ke atas sebelah. Sumpah demi apa?! Kunjungan ke rumah sakit jiwa?! Sorot mata Jimin berubah Horror. Dia menatap Namjoon sekilas kemudian menatap Taehyung di sebelah Namjoon. Lalu kembali kepada Namjoon "Namjoon Hyung kau apakan Manajer-nim?" Tanya Jimin penuh selidik

Namjoon memutar kedua matanya "oh ayolah Jimin, hanya karena aku memiliki obsesi pada hal hal berbau psikologi yang ekstrim bukan berarti aku sudah meracuni manajer nim dengan semua obsesi ku itu"

"dengan IQ di atas rata rata itu tidak ada yang tidak bisa kau lakukan Rap Monster-ssi"

"terserah apa katamu lah"

Taehyung yang sedang mencomot kentang goreng di sebelah Namjoon itu menatap Jimin dengan tampang sok polos. Sementara Hoseok tertawa mendengar perdebatan kecil Namjoon dan Jimin

"rumah sakit itu di Daegu kan? Kurasa kita bisa refreshing sekalian. Manajer hyung bilang kunjungan kita kesana akan dirahasiakan" namja dengan aura bahagia yang selalu mengelilingi nya itu berujar

Namjoon mengangguk "rumah sakit itu menyediakan kamar bagi tamu yang ingin menginap dan perawat serta dokter yang harus standby merawat pasien tertentu"

Mendengar itu mata Hoseok berbinar "wahh sepertinya menyenangkan menjadi perawat dadakan selama seminggu"

Namjoon nyengir "petualangan masa muda yang menyenangkan tuan"

Jimin menghela nafas. Hoseok tidak membantu mengingat dia memiliki hati nurani sebaik malaikat dan selalu menebar senyum dimana mana. Pemuda berotot bagian dari vocal line itu mengusak wajahnya kasar. Mereka akan pergi minggu depan padahal seharusnya minggu depan mereka libur. Namja ber eyesmile itu bahkan sudah menyusun jadwal apa yang akan dilakukannya selama liburan. Mulai dari bangun di siang hari, makan , bermain dengan Taehyung kemudian makan dan tidur lagi. Terus begitu selama seminggu. Ayolah… kapan lagi seorang idol sibuk sepertinya punya waktu untuk bermalas malasan? Setelah setiap hari dengan jadwal penuh mulai dari latihan sampai perform, fansmeeting dan lain sebagainya. Waktu tidur yang mereka dapat hanya dua atau tiga jam dalam sehari. Eomma… Chim sudah tidak kuat…

"kenapa tidak dibatalkan saja?aku lelah…" rengek Jimin yang kemudian merasakan nyeri di kepalanya yang dijitak seseorang

"kau pikir kita tidak lelah apa?"ucap Namjoon – selaku orang yang menjitak Jimin- dengan nada yang mengintimidasi tapi tidak mempan bagi Jimin

"tapi kan harusnya minggu depan itu kita kan libur Hyung…"

"libur bisa menunggu" Hoseok nimbrung

Taehyung menghela nafas jengah kemudian berbaring di pangkuan Namjoon sambil membuka bungkus makanan ringan nya yang ketiga"lagipula kita bisa memberikan warna dan kesan baru bagi netizen. ARMY juga akan senang kalau mereka melihat kita ada syuting Bangtan Bomb di rumah sakit jiwa. Kita memberi perhatian pada orang orang yang malah harus diisolasi dari lingkungannya. Lagipula kita berkunjung kesana bukan hanya untuk menarik perhatian orang orang. Apa salahnya menjenguk mereka yang bahkan dijauhi oleh sebagian orang yang tidak mengerti keadaan mereka?"

Namjoon mangut mangut

Hoseok poker face

Jimin speechless "Tae, ingatkan aku kalau kadar kewarasan mu itu cuma lima belas persen"


Minggu , 12 Juni 2016

Mata hitam Jimin mengerling menatap jam dinding di kamar Asrama nya. Baru pukul setengah delapan.

Leader Bangtan dengan helai rambut blonde itu bilang kalau mereka akan berangkat pukul Sembilan tepat dan sekarang Rapper dengan nickname monster itu sedang di beri petuah mengenai apa yang harus mereka lakukan saat di Daegu. Jimin kalah debat malam itu dan berakhir dengan dirinya yang sudah siap dengan dua tas ransel untuk ke Daegu. Jimin mungkin manja tapi untuk beberapa situasi pemua bermarga Park kelahiran tahun 95 itu bisa menjadi pria dewasa hanya dengan sekejap mata. Jadi sekarang dia sudah siap dengan dua ransel yang akan dibawa ke Daegu. Kesampingkan dulu fakta kalau dia adalah seorang playboy yang sering bergonta ganti pasangan. Sebelas dua belas dengan Kim Taehyung. Hanya saja Taehyung tidak tampan. Bahkan wajahnya melebihi kata cantik. Pinggang yang ramping dan memiliki postur tubuh seperti wanita. Abaikan fakta mengenai perilaku absurd diluar nalar yang setiap hari menjadi pemberi warna di dorm idol group itu. Wajah tampan , karir cemerlang,dan lidah penuh dengan kata kata yang bisa membuat jiwa serasa ditarik ke atas awan itu membuat seorang Park Jimin masuk ke dalam kriteria laki laki idaman para wanita jaman sekarang. Meskipun terkadang pemuda ber eyesmile itu menggelikan dan kekanak-kanakan , Jimin tetap tidak lupa diri untuk tetap bersikap seperti selayaknya anak kuliahan yang sudah berusia duapuluh satu tahun. Idol pula.

Kedua orang tua Jimin adalah orang yang cukup berada. Jadi bisa dibilang Jimin hidup dengan cukup bahagia. Keinginan selalu dipenuhi dan penuh dengan kebebasan. Kebebasan dalam arti orang tua Jimin tidak ingin anaknya hidup penuh dengan kekangan. Kalau Jimin ingin melakukan sesuatu, asalkan itu tidak salah , tidak merepotkan orang lain dan tidak berakibat buruk. Suami Istri Park itu tidak pernah mempermasalahkannya. Hingga Jimin mengutarakan keinginan nya untuk menjadi penyanyi, kedua orang tuanya pun setia mendukung keinginannya.

"nah ,ini jadwal kita selama seminggu disana. Tidak ada konser fansmeeting atau apalah yang sebangsa dengan itu semua. Kita cukup bantu bantu dan jangan mengganggu kegiatan disana" itu Namjoon. Pemuda blonde itu baru saja kembali dari acara 'mari dengarkan ceramah manajer hyung'.

Tiga lembar kertas yang sudah di straples itu dibagikan kepada ketiga temannya yang lain. Hoseok dan Jimin membaca nya sekilas kemudian memasukkannya ke dalam tas. Sedangkan Taehyung yang sama sekali tidak membacanya hanya bergumam saat menerima kertas tersebut kemudian meletakkan nya diatas meja. Lalu saat mereka sudah berada dua kilo jauhnya dari dorm , alien 4D itu mengatakan kalau kertas schedule nya hilang. Yang hanya ditanggapi decakan lidah malas dari teman teman seperjuangannya.


Mereka ke Daegu dengan mobil. sepanjang perjalanan Taehyung dan Jimin tidak berhenti mengoceh, membuat lelucon dan menyanyi berisik tidak peduli supir mereka hampir tuli. Hoseok mengambil Selca saat Taehyung tidak berhenti bercerita tentang anjing tetangganya yang sering keluar masuk halaman belakang rumahnya dan Jimin sibuk melecehkan semua cerita Taehyung. Namjoon hanya menimpali sekali dua kali ( mendukung Jimin yang melecehkan Taehyung ) sambil tertawa dan menggeleng gelengkan kepala nya. Mengingat Jimin dan Taehyung adalah sepasang sahabat yang lengket seperti lem kayu tapi sekarang mereka saling menjatuhkan –lebih tepatnya Jimin yang sedang menjatuhkan Taehyung-. Hingga tidak terasa mereka sudah sampai di Daegu, pertengkaran sahabat 'sehidup semati' itu tidak berakhir bahkan saat Rumah sakit Jiwa tujuan mereka sudah terlihat dari kejauhan.

Rumah sakit jiwa yang dimaksud Namjoon adalah Rumah Sakit Jiwa Sangeul.

Hoseok menatap gerbang rumah sakit jiwa itu dengan mata yang berbinar binar sementara Taehyung memiringkan kepalanya dengan tampang bodoh dan Jimin yang hanya bergumam wow. Namjoon acuh saja dan berjalan kedalam memimpin rombongan kecil mereka.

Mereka disambut oleh seorang perawat yang manis dan ramah. Matanya bulat dan tubuhnya mungil. Jimin membaca name tag nya yang bertuliskan 'Do Kyungsoo'. Ya tuhan… entah kenapa Jimin sedikit merinding dan merasa kalau perawat manis itu tidak menyukainya. Ayolah Man… perawat itu baru saja mendelik padanya saat sedang menjelaskan perihal apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama berada di rumah sakit.

Kyungsoo membawa mereka masuk untuk bertemu dengan kepala rumah sakit.

Lorong rumah sakit itu dipenuhi oleh para pasien yang menderita guncangan atau kelainan mental. Jimin menatap sekelilingnya. Ada seorang pemuda kurus yang meracau di kursi roda yang didorong oleh seorang perawat. Seorang wanita yang duduk di bangku dan tertawa tawa sambil menunjuk nunjuk mereka –Jimin mengernyit risih-, sambil mengatakan entah apa pada perawat yang tengah membujuknya untuk kembali ke kamar tempatnya di rawat. Dan masih banyak lagi pasien absurd yang keadaannya sulit dijelaskan.

Rumah sakit itu cukup besar. Ada empat gedung besar bertingkat yang menjulang tinggi. Tiap gedung adalah tempat untuk kegiatan dan pasien yang berbeda.

Gedung pertama adalah gedung utama dan terdiri dari lima lantai. Gedung tersebut adalah pusat segala aktifitas di rumah sakit sangeul. Ruang kepala rumah sakit ada disana, beserta dengan beberapa bawahan penting kepala rumah sakit. Gedung pertama adalah gedung pemeriksaan bagi para pasien baru yang akan dirawat dan gedung perawatan bagi pasien pasien yang dalam proses penyembuhan nya harus mendapat pengawasan dari kepala rumah sakit. Meskipun Kyungsoo bilang , kepala rumah sakit akan berkeliling dan memantau kegiatan rumah sakit sangeul dari pukul satu siang sampai pukul tiga sore.

Gedung kedua adalah gedung untuk penderita gangguan mental menengah keatas yang harus dirawat hingga mereka benar benar sembuh. Gedung itu terdiri dari empat lantai. Dilengkapi dengan ruang ruang terapi ringan yang diharapkan dapat ikut berperan dalam proses penyembuhan mereka. Dokter dokter spesialis dan perawat perawat yang ditugaskan di gedung tersebut pun memiliki ruangan khusus disana sehingga mereka tidak perlu bolak balik dari gedung utama hanya untuk menangani pasien. Fungsi gedung ketiga pun tidak jauh berbeda dengan gedung kedua. Hanya saja tingkat kejiwaan pasiennya lebih memprihatinkan jadi sistem pembagian shift kerja pun agak sedikit bebeda karen perawat yang dibutuhkan jelas lebih banyak.

"kudengar rumah sakit ini berani mengambil resiko" Namjoon berucap seraya mengambil beberapa foto "kalian merawat pasien pasien yang berbahaya"

Kyungsoo berhenti melangkah. Mata bulatnya menatap Namjoon yang langsung salah tingkah " M maksudku , kalian merawat banyak pasien yang sewaktu waktu bisa membuat kalian terbunuh" pemuda berlesung pipi itu menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal sementara Jimin dan Taehyung saling bertukar pandang. Minus Hoseok yang menatap keduanya dengan penuh keingintahuan.

Kyungsoo ber-oh ria dan melanjutkan langkahnya. Perawat manis itu mensejajarkan langkah nya dengan Namjoon , sedangkan Taehyung, Jimin dan Hoseok berjalan di belakang mereka. Para kru yang lain tidak ikut bersama mereka karena masih banyak yang harus mereka urus – katanya – dan lagi, mereka tidak menginap di rumah sakit dengan alasan "agensi hanya meminta mereka untuk menjaga BTS dan melaksanakan Schedule mereka dengan sebaik mungkin". Itu alasan yang tidak masuk akal dan Jimin akan memastikan gaji mereka dipotong saat pulang ke seoul nanti. Astaga , kenapa ruang kepala rumah sakit rasanya jauh sekali?batin Jimin dalam hati. Matanya tak lepas dari Namjoon yang masih terlihat canggung karena pertanyaan nya sendiri tadi dan Kyungsoo yang berjalan sejajar dengan Namjoon dihadapannya.

"kami tidak ambil pusing" Kyungsoo berkata tanpa menatapNamjoon. Kemudian tiba tiba perawat mungil itu menghentikan langkahnya.

"kalian lihat gedung yang itu?" tangan mungil Kyungsoo menunjuk ke Gedung keempat yang terdiri dari enam lantai. Gedung keempat berhadapan tepat dengan gedung utama jadi mereka bisa melihat betapa suramnya suasana gedung tersebut. Jika di gedung gedung lain terlihat banyak perawat , suster , dan Dokter yang terlihat mondar mandir kesana kemari. Gedung keempat tampak sepi tanpa penghuni. Paling ada beberapa Dokter atau perawat yang keluar masuk ruangan. Jimin bisa melihat betapa seriusnya raut wajah mereka. Tidak ada pasien. Hanya ada Dokter dan Perawat.

"sebenarnya gedung ke empat adalah gedung yang paling banyak perawat dan dokter yang bertugas padahal pasiennya jauh lebih sedikit dari pasien gedung ketiga. Pintu pintu dan jendela kamar pasien di lengkapi dengan teralis" Kyungsoo terlihat sedang sedikit menerawang "gedung ke empat adalah gedung perawatan bagi penderita Skizofrenia dan kelainan mental parah yang selalu berhasrat untuk mencari kepuasan dengan melihat penderitaan orang lain"

Kedua alis Jimin bertaut "kalian merawat psikopat?"

"Ah, itu terlalu kasar kami terlalu kasihan pada mereka untuk menggunakan ungkapan itu. Kepala rumah sakit selalu mengajarkan kepada kami kalau kami harus tetap memandang mereka sebagai orang sakit yang harus disembuhkan" Kyungsoo tersenyum manis pada Jimin

Namjoon terdiam , Jimin melongo.

"menyeramkan" Taehyung bergidik ngeri

Hoseok menggeleng gelengkan kepalanya sambil bergumam "luar biasa…"

Koridor dan lorong nya –harus Jimin akui- bersih. Ada sebuah taman yang berada di tengah ke empat gedung tersebut. Taman yang asri dan dipenuhi oleh bunga bunga yang indah dan member kesan manis pada rumah sakit sangeul ini. Pihak rumah sakit berusaha membuat pasien nya betah berada di lingkungan rumah sakit, begitulah penjelasan Kyungsoo mengenai suasana rumah sakit yang sengaja dibuat senyaman mungkin.

"kepala rumah sakit tidak ingin orang orang memandang rumah sakit sangeul dengan pandangan buruk sama seperti rumah sakit yang lain. Beliau ingin memberikan kesan kalau rumah sakit jiwa itu bukan tempat buangan untuk orang orang yang menderita cacat mental ataupun guncagan jiwa, tapi tempat untuk membuat mereka sembuh , nyaman , dan diperlakukan layak" Kyungsoo menatap seorang pria yang tengah berteriak keras dan terus berontak dari para perawat dan seorang dokter yang berusaha menahannya.

"tapi itu bukan sepenuhnya gagasan kepala rumah sakit" Kyungsoo berujar

Namjoon mengernyit "maksud anda?"

"kepala rumah sakit memiliki seorang putra. Putranya lah yang sepenuh nya mengubah keadaan rumah sakit ini dan mengubah cara pandang kepala rumah sakit" Kyungsoo berkata seraya membuka pintu yang berada di hadapannya.

Jimin , Hoseok, Namjoon dan Taehyung terperangah melihat ruangan sederhana yang Kyungsoo bilang sebagai ruang kepala rumah sakit. Seorang pemuda dengan helai rambut coklat yang bisa dibilang cantik berdiri di depan jendela dan menatap ke arah pintu begitu mendengar suara pintu terbuka. Pemuda cantik itu tersenyum "Oh hai Kyungsoo" sapanya pada Kyungsoo "tamu?"

Jimin mengernyit kemudian berbisik pada Taehyung "dia kepala rumah sakitnya?"

"masih muda" Namjoon ikut berbisik

Sementara Kyungsoo membulat sesaat sebelum kemudian membungkuk sopan pada sosok yang terpisah oleh meja dihadapan mereka "Seokjin-ssi maaf mengganggu. Apa anda melihat kepala rumah sakit?"

"Ayah? Dia baru saja keluar saat kau mengurus pasien di gedung ketiga" pemuda yang di panggil Seokjin itu berjalan mendekati Kyungsoo yang menggerutu pelan 'kenapa tidak ada yang memberitahuku' sebelum kemudian menghela nafas "mereka tamu dari Seoul yang dibicarakan kepala Rumah Sakit waktu itu. Manajer mereka sedang berhalangan untuk mendampingi mereka disini, jadi leader mereka yang memegang tanggung jawab" jelas Kyungsoo pada Seokjin dengan masih mempertahankan etika penuh kesopanannya. Namjoon tertawa pelan mendengar penuturan Kyungsoo yang terkesan Kaku.

"ayolah Kyung, aku sudah bilang jangan terlalu kaku padaku. Kita seumuran kau tahu" ujarnya pelan dan menatap BTS dengan senyum yang menawan "Mereka orang baik aku berani bertaruh" Seokjin mengusap bahu Kyungsoo lembut

untuk pertama kalinya seorang Kim Namjoon memasang tampang idiotnya di hadapan orang asing, dan tolong garis bawahi kalimat yang sedang berputar putar di kepala Namjoon sekarang 'Man… I found a angel'. Namjoon harus berterimakasih pada Jimin dan sikutan di perutnya yang berhasil membuat leader Bangtan Songyeondan itu tersadar dari ketidak sadaran nya yang membuat Kyungsoo menatapnya risih.

Kyungsoo menghela nafas sebelum kemudian menatap Namjoon dan rekan rekannya yang Nampak melongo untuk seperseian detik "semuanya perkenalkan , ini Kim Seokjin. Dia adalah putra tunggal kepala rumah sakit, dokter Kim Chanyeol"

Seokjin membungkukkan tubuhnya sopan kemudian tersenyum anggun "Namaku KimSeokjin, salam kenal" –Namjoon buru buru berbalik badan dan menyeka hidung nya yang mulai mimisan dengan tisu

Hoseok ikut membungkuk "aku Jung Hoseok, maaf akan merepotkan seharian ini"

"namaku Kim Taehyung, salam kenal" Taehyung berkata riang

"Park Jimin, maaf sudah mengganggu" Jimin membungkuk lucu

Suasana hening dan Jimin merasa ada yang belum memperkenalkan diri. Namja bersurai hitam itu melihat sekeliling dan menemukan Namjoon yang sedang berbalik dan sibuk dengan tisu. Langsung saja Jimin menendang tulang kering leader 'TERHORMAT' mereka itu agar segera tersadar. Namjoon yang menerima tendangan dari Jimin pun langsung membalikkan tubuhnya dan tersenyum kikuk. Masih dengan sebelah tangan yang menyumbat darah yang mengalir dari hidung bangir nya.

"a aku Kim Namjoon salam kenal" kemudian membungkuk salah tingkah.

Reaksi Namjoon itu sangat tidak Namjoon sekali. Jimin menyadari itu tapi dia hanya menaikkan sebelah alisnya sementara Hoseok berbisik pada Taehyung yang tidak menyadari situasi

"kurasa ada yang jatuh cinta"

Taehyung mengerjap mata dan memasang wajah blank. Gagal paham.


Sekarang mereka tengah berada di koridor lantai dua gedung ketiga, setelah Seokjin meminta Kyungsoo untuk kembali pada pasien yang tadi sempat diambi alih oleh salah satu rekan Kyungsoo karena Kyungsoo diminta untuk memandu tamu. Sebagai gantinya Seokjin yang akan memandu Namjoon dan kawan kawan. Hei kalian harus lihat wajah menggelikan Namjoon saat Seokjin merangkulnya untuk segera berjalan

Taehyung dan Hoseok terus bertanya ini itu dengan antusias dan Seokjin menjawab pertanyaan mereka tanpa menghilangkan senyuman yang membuat pemuda cantik itu makin Nampak seperti malaikat. Trio Kim dan Hoseok menggila. Kenapa Namjoon diikutkan? Karena dia senyum senyum sendiri di belakang Seokjin sementara Jimin memperhatikan dengan malas.

"lantai satu dan dua bisa dibilang kamar 'Asrama' bagi para pasien sedangkan sisanya adalah ruang perawatan dan terapi" Seokjin tersenyum pada perawat yang lewat dan menyapanya.

"anda tahu banyak" kedua mata hazel Namjoon berbinar mendengar penjelasan Seokjin "Seokjin-ssi apakah anda sempat terpikir untuk menjadi kepala rumah sakit selanjutnya? Selain anda yang merupakan anak tunggal kepala rumah sakit , pengetahuan anda juga luas"

Jimin memutar mata jengah melihat aura penuh lope lope di udara yang menguar di sekitar Namjoon. Ingatkan Jimin untuk memeriksakan Namjoon ke salah satu dokter di rumah sakit ini. Siapa tahu leader tampan mereka itu menderita overdosis Seokjin yang membuat nya 'sedikit' gila. Jimin mengalihkan pandangan nya pada Taehyung, bermaksud mengajak Alien terdampar itu untuk pergi mengelilingi rumah sakit berdua karena rasanya menyebalkan menjadi lampu taman di antara Namjoon dan Seokjin –padahal ada Hoseok di sebelah kiri Seokjin ( -_- )-. Dan betapa menyesalnya Jimin menemukan Alien jadi jadian itu tengah menempelkan wajahnya pada kaca kamar salah satu pasien dan Jimin menepuk jidatnya saat Taehyung balas melambai pada Pasien yang di dalam sedang heboh melambaikan tangannya pada Taehyung. Taehyung pun semakin antusias dan balas melambai lebih heboh.

Jimin menggeser tubuhnya menjauhi Taehyung dan mencolek pundak Namjoon yang lebih tinggi di depannya

"Namjoon Hyung , tanyakan pada Seokjin-ssi apa masih ada kamar yang kosong, kurasa kita membawa pasien autis kesini" kata Jimin yang tengah ber- poker face ria menatap Taehyung yang sekarang sepertinya sedang berbicara dengan pasien yang ikut menempelkan wajahnya pada jendela.

Seokjin, Namjoon dan Hoseok beralih menatap apa yang menjadi fokus mata Jimin sekarang.

Taehyung dan pasien itu sama sama memasang muka bodoh kemudian tertawa tawa kemudian memasang muka bodoh lagi. Begitu berulang ulang. Seokjin tertawa cantik dan Namjoon terkekeh seraya menggeleng gelengkan kepalanya. Hoseok tertawa keras dan bermaksud bergabung dengan Taehyung kalau saja Jimin tidak lebih sigap menariknya.

Merasa ada yang tertawa, Taehyung menoleh dan langsung nyengir polos tanpa dosa. Wajahnya mungkin terlihat menggemaskan di mata orang lain tapi Jimin malah ingin membakar visual mereka itu yang perilakunya tidak jauh berbeda dengan pasien rumah sakit jiwa di sini.

"ng… pasiennya ngajak ngobrol hyung" Taehyung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal

Seokjin mengusap air mata nya yang keluar karena tertawa "interaksi mu dengan pasien cukup bagus. Itu bisa membuat pasien merasa normal dan melupakan fakta kalau dia gila"

Mendengarnya Taehyung tertawa salah tingkah dan mengikuti mereka yang sudah mulai berjalan lagi.

"Seokjin-ssi apa anda seorang dokter?" Tanya Jimin

Seokjin menoleh pada Jimin. Pemuda bersurai coklat itu tampak berpikir sejenak sebelum kemudian menjawab "bukan"

"tapi anda kelihatan tahu banyak" tutur Taehyung

"yah… semua orang mengira aku dokter sayangnya bukan" Seokjin tersenyum penuh arti pada Taehyung "aku seorang Psikiater"

Namjoon dan Hoseok berdecak kagum sedangkan Taehyung memandang Seokjin dengan mata berbinar binar. Jimin ? dia sedang menatap aneh ketiga rekannya.

"jadi apa yang anda lakukan disini?" melihat Namjoon, Hoseok dan Taehyung yang masih terkagum kagum. Jimin berinisiatif untuk bertanya pada Seokjin

"kadang aku kesini karena aku bosan di rumah. Tapi akhir akhir ini aku kemari untuk menemani temanku"

"teman anda menjenguk seorang pasien?"

Seokjin menggeleng "tidak bisa dibilang seperti itu karena dia juga turun tangan mengurus salah satu pasien"

"apa dia seorang perawat?" kali ini Taehyung

"bukan dia seorang dokter spesialis tapi… entahlah, apapun yang dia lakukan pada akhirnya orang orang mendapat akhir yang baik" Seokjin tersenyum sambil menerawang sebelum kemudian , ia terpikir sesuatu.

"Ah, kalian mau berkunjung ke Gedung Empat?"


Koridor dan lorong yang sepi. Lalu pintu pintu di lantai tiga yang dipenuhi teralis. Bulu kuduk Jimin langsung berdiri. Selama mereka berjalan menelusuri koridor dengan Seokjin yang memimpin, Jimin terus mengusap tengkuknya yang terasa dingin.

"mengerikan" ringis Jimin

Gedung ke empat sangat hening dan suram. Bahkan ketiga rekan setia Jimin yang biasanya bertanya ini itu pun bungkam. Mereka melalui koridor koridor dan lorong dengan 'Khidmat'. beberapa Dokter atau perawat yang lewat akan menyapa Seokjin.

Gedung keempat benar benar memiliki aura dan kesan yang kurang menyenangkan

"perawat Xi apa anda melihat Yoongi?" Tanya Seokjin pada salah seorang perawat cantik yang baru saja keluar ruangan

"oh, Seokjin-ssi, Yoongi-ssi sedang berada di lantai lima"

"di ruangan Jihoon?"perawat cantik bername tag Xi Luhan itu mengangguk.

"kalau begitu saya permisi Seokjin-ssi" Luhan undur diri

Sepeninggal Luhan, Seokjin pun mengajak mereka ke lantai empat. Jimin yang awalnya tidak tertarik saat berada di tiga gedung yang sebelumnya. Mulai tertarik dan menelisik setiap sudut koridor yang mereka lewati. Mereka menaiki lift menuju lima. Saat di lift , sekali dua kali Taehyung akan menanyakan sesuatu pada Seokjin tapi kemudian diam kembali.

Lantai lima berkali kali lipat lebih menyeramkan dari lantai lantai yang lain. Seokjin menjelaskan kalau kamar para pasien berada di lantai empat dan lima, karena pasien pasien gedung lima lebih memiliki kesadaran untuk sayang nyawa karena mereka lebih menggilai jeritan atau pekikan orang yang mereka siksa. Atau lebih tepatnya, kebanyakan pasien gedung keempat adalah Psikopat atau para penderita Skizofrenia kronis yang terus membahayakan orang lain.

"lantai lima lebih sepi dari lantai empat" Namjoon berujar " Kyungsoo yang mengatakannya padaku"

Seokjin mengangguk, "karena memang pasien di lantai lima bisa dihitung jari"

Dahi Jimin Nampak berkerut mendengar penuturan Seokjin "maksud anda?"

"Kalau tidak salah hanya ada tiga pasien di lantai lima , tapi kudengar kemarin dua pasien yang lain sudah boleh dipindahkan ke lantai empat"

Taehyung dan Jimin bergidik "berarti pasien yang sekarang seorang diri di lantai lima ini adalah pasien yang paling parah di rumah sakit ini?" suara Jimin terdengar penuh dengan getaran saat berujar demikian. Lalu saat Seokjin mengangguk, Taehyung dan Jimin pun semakin merapat.

Melihat dua orang pemuda tampan yang tampak saling dorong untuk mencari tempat perlindungan Seokjin hanya menggeleng gelengkan kepalanya geli. Pandangannya beralih pada Namjoon yang masih setia berjalan disebelahnya – Hoseok pindah di sebelah Taehyung dan Jimin -

"kau tidak ingin bergabung dengan mereka" canda Seokjin dengan nada suaranya yang dibuat jenaka.

Namjoon menoleh kebelakang sesaat kemudian menggeleng dan tersenyum pada Seokjin "tidak, aku penasaran seperti apa pasien yang membuat ciut nyali kedua hoobae ku yang selalu kelebihan semangat itu"

Kedua sudut bibir Seokjin ditarik naik penuh ketertarikan, pemuda Tampan di sebelahnya ini menarik.

Mereka sampai di depan pintu kamar paling ujung yang bertuliskan nomor 197. Tepat sebelum Seokjin menyentuh knop pintu. Pintu itu kayu itu tiba tiba terbuka dan membuat Alien nyasar dan pemuda bersurai hitam dibelakang mereka itu nyaris jantungan. Seorang pemuda bertubuh mungil –tapi tingginya hanya beda satu senti dengan Jimin- dan berkulit putih sepucat salju berdiri di ambang pintu dengan wajah terkejut yang hanya bertahan sesaat sebelum kemudian berganti dengan wajah datar dan dingin. Mata Jimin sedikit membelalak melihatnya. Wajah pemuda itu sangat manis. Tatapan nya sayu dan bibirnya tipis. Kaki nya yang ramping dibalut oleh celana jeans hitam dan tubuhnya dibungkus oleh kaus berwarna dark blue dan jaket kain coklat yang tidak terlalu tebal berhoodie.

Mereka bertukar tatap hanya dalam beberapa detik saja. Tanpa suara. Tanpa menghiraukan eksistensi lain yang juga hadir disana.

Bagi Jimin waktu terasa berhenti. Tanpa sadar manik hitam arangnya menyelami manik hazel milik si pemuda manis. Jimin terperangah. Sekilas main vokal BTS itu dapat menangkap bayangan kupu kupu bersayap transparan yang melintas di sampingnya kemudian hinggap di bahu si pemuda manis. Awalnya transparan sebelum kemudian sayap kupu kupu tersebut bersinar redup. Ini halusinasi. Jimin merasa kalau apa yang ia lihat adalah halusinasi. Tapi.. halusinasi itu menggambarkan sesuatu. Alam bawah sadar Jimin seolah dikendalikan oleh alam bawah sadar si manis.

Dahi Jimin berkerut.

'tidak... dia tidak mengendalikanku' ujarnya dalam hati.

Bahkan ketika Seokjin berbincang dengan pemuda manis itu dan bermaksud memperkenalkan nya pada BTS. Jimin memilih untuk berdiri di belakang punggung Hoseok dan memperhatikan pemuda bersurai karamel tersebut.

Tidak. Dia tidak berusaha atau sedang mengendalikan Jimin. Justru sepertinya dia tidak sadar kalau pengaruh alam bawah sadar nya begitu kuat sehingga Jimin bisa melihat gambaran hatinya. Kupu kupu transparan yang cahayanya bersinar redup. Sesuatu yang membuat kebahagiaannya yang sebenarnya palsu terlihat nyata.


Bagaimana ku akan sampaikan perasaan ini aku tak bisa menguraikan kata-kata padamu?

Ini pertama dan terakhir… suatu hari kita berjalan pulang bersama

akan jadi kenangan berharga.

aku tak akan melupakannya.

Selamat tinggal kenangan

Musim semi tiba, kita kan berpisah jalan.


.

.

.

.

.

to be continued


What this? Ini apa #menataphorror

Ancur. Bahasa amburadul. Jelas sekali saya ini penulis amatir yang bahasanya dipaksain biar ada nilai sastranya dikit. Omaigat. Aku ga bisa melankolis ya. Pas di baca ulang juga feelnya ga kerasa. Author macam apa ini?! Maklum pemula #ditendang

Buat readers, siders dkk yang udah mampir buat baca ff serba ga nyambung ini makacihh #ciumsatusatu

Mwah~~~

Buat yang kemarin sudah menyempatkan untuk review maaf ya author abal ini belum sempet cuap cuap. Mungkin di chapter berikutnya atau di PM. Tapi terimakasih banyakkk aku sayangggg kaliannnn #bighug

BTS udh kombek

Tahu ga

Malem malem aku jerit jerit geje di kamar#abaikan

Oke adios semuanyaa