judul : If We Love Again
Cast : Kim Jongdae, Wu Minseok (gs) and other
Author : chen21ina
Chapter 2
07 Juni 2010
"Aigoo kau benar-benar manis" Minseok menundukan kepalanya, kedua pipi itu kini merona malu kala wanita di hadapannya tak henti memuji.
"Eomma kau membuat Minseok malu" gerutu seorang namja.
"Calon menantuku tersipu begini sungguh manis"
"Eooommmaaaaa " kini wanita yang di panggil eomma tersebut justru tertawa lepas mendengar rengekan putranya.
"Minseok sayang bagaimana kau bisa jatuh hati pada laki-laki manja seperti Jongdae ?"
"Molla ahjuma, seingat ku dulu dia sempat memberiku jangan-jangan Jongdae telah menaruh sesuatu pada minuman ku ya " jawab Minseok.
"Sepertinya begitu " ujar Yixing - eomma Jongdae.
"Oh ya ampun apa kalian sedang bekerja sama membully ku? " ujar Jongdae tak percaya namun hal itu justru membuat Yixing dan Minseok tertawa.
"Jongdae-ya pergilah ke dapur dan bawakan minuman untuk Minseok. Kau ini bagaimana membawa wanita dalam perjalanan jauh dan setelah sampai kau bahkan tidak menyuguhkan minuman." Cecar Yixing lagi membuat Jongdae memajukan bibirnya, namun kedua kaki tersebut mulai melangkah ke dapur.
Sepeninggalan Jongdae, Yixing menatap intens pada wanita di hadapannya. Jujur saja ia terkejut setelah lulus sekolah menengah Jongdae memang masuk ke perguruan tinggi yang ada di Seoul dan itu membuat Jongdae harus rela tinggal seorang diri di kota besar. Hampir selama 3 tahun sejak tinggal di Seoul Jongdae jarang sekali pulang hanya ketika natal atau ada acara keluarga saja. Dan selama itu pula Jongdae jarang menelpon hanya untuk memberi kabar uang orang tuanya tahu hanyalah Jongdae berkuliah dengan jurusan Seni, di terima sebagai trainee di salah satu agensi ternama selebihnya mereka buta dengan kondisi putra satu-satunya ini.
Namun beberapa bulan terakhir Yixing bagai menemukan kembali putranya, Jongdae jadi sangat sering menelpon untuk memberikan kabar bahkan putranya tersebut tak ragu mengungkapkan isi hatinya pada sang eomma. Dan yang membuat Yixing penasaran adalah Minseok. Wanita yang di klaim Jongdae sebagai kekasihnya ini tak pernah luput sekalipun dari pembicaraan keduanya. Maka dari itu ketika liburan datang Yixing meminta Jongdae untuk membawa Minseok ke rumah.
"Aku sungguh bahagia Jongdae memiliki kekasih sepertimu, kau tahu anak itu terkadang bisa menjadi sangat menyusahkan" ujar Yixing " Ku dengar kau mengambil jurusan desain? " lanjutnya.
"Ne, ahjuma " jawab Minsok pelan.
"Aigoo kau jangan canggung seperti itu. Dan panggil saja aku Eomma, toh cepat atau lambat kau akan menjadi menantuku " ujar Yixing lagi dan pipi Minseok kembali merona.
"Apa sudah selesai? " Jongdae kini tiba-tiba saja muncul.
"Dimana minumannya? " tanya Yixing karena Jongdae kembali ke ruang tamu dengan tangan kosong.
"Di kamarku, ayo Min" Minseok mengerjap ketika Jongdae begitu saja menarik tangannya.
Minseok sudah akan marah pada Jongdae karena kelakuannya tadi namun semua umpatan dirasa tercekat di tenggorokan. Kini Jongdae membawanya ke kamar pria tersebut namun pemandangan dari arah balkon yang membuat Minseok terpana.
"Waahh indah sekali" rumah Jongdae berada di daerah pegunungan. Dan dari sini pemandangan kota sungguh memanjakan mata
Grep
"Kau suka? " tanya Jongdae yang kini memeluk Minseok.
"Ini indah Dae-ah" jawab Minseok, dingin semilir angin yang menerpa tubuhnya seakan tak terasa karena Jongdae memeluknya begitu erat.
"Min, aku ingin berbicara sesuatu padamu" Jongdae membalikan tubuh Minseok hingga keduanya kini berhadapan. Jongdae mengeluarkan kotak kecil dari dalam sakunya, disana sudah terdapat dua buah cincin couple yang bertuliskan JD&MS inisial nama keduanya.
"Aku tahu ini bukanlah barang mahal, tapi aku membelinya dengan keringatku sendiri. Min aku sangat mencintaimu aku ingin hanya kau wanita yang menjadi pendampingku kelak. Namun saat ini aku hanyalah seorang pegawai part time dan trainee yang entah kapan akan debut. Aku berjanji akan bekerja lebih keras lagi agar aku dapat mempersatukan hubungan kita di bawah nama keluarga" Jongdae berucap tenang namun tegas. Minseok meneliti setiap ekspresi dari wajah Jongdae dan ia hanya dapat menemukan ketulusan disana.
...
"Hah hah hah" Minseok terbangun di tengah malam, nafasnya naik turun seperti habis lari maraton. Ia memegang kepalanya linglung kenapa disaat seperti ini Minseok harus memimpikan laki-laki itu. Mungkin ini efek karena ia sekarang berada di Seoul. Minseok kemudian memilih untuk tetap terjaga hingga pagi tak ingin jika ia melanjutkan tidurnya maka bayang wajah Jongdae akan kembali dia ingat.
Kyungsoo bangun pagi sekali ia berencana untuk membuatkan Minseok dan juga Daehan sarapan, Kyungsoo akan tinggal selama dua bulan di Seoul,ia sudah menyewa sebuah flat kecil yang nyaman.
"Eonni kau sudah bangun ?" Minseok menoleh lalu tersenyum.
"Kemarilah, aku sudah membuatkan mu sarapan" ujar Minseok.
"Ada sesuatu yang terjadi bukan? Kemarin kau terlihat begitu berantakan dan pagi ini bahkan tak lebih baik kurasa" tanya Kyungsoo, Minseok diam matanya menatap lurus kedepan.
"Kemarin aku bertemu dengan kakak ku, Luhan. Tak ada yang berubah ia tetap cantik dan tetap membenciku " ucap Minseok sendu, Kyungsoo sekarang mengerti mengapa Minseok sangat kacau.
"Eonni" lirih Kyungsoo tangan kecilnya kini memeluk Minseok mencoba memberikan kekuatan. Sejujurnya Kyungsoo belum pernah bertemu dengan Luhan namun Minseok pernah bercerita mengenai kakaknya tersebut tentang masalah yang membuat keduanya terpisah.
"Dan semalam aku memimpikan laki-laki itu" ujar Minseok lagi, Kyungsoo mengernyit namun ia tahu hanya ada satu nama yang mampu membuat Minseok kacau.
"Kau memimpikan ayahnya Daemin? " tanya Kyungsoo lagi dan satu anggukan dari Minseok sudah menjawab seluruh tanda tanya di kepala Kyungsoo.
.
.
Jongdae menatap album foto di hadapannya sendu,Di setiap lembar halaman album tersebut di penuhi oleh wajah dirinya dan seorang gadis.
"Minseok-ah bogoshipo" lirih Jongdae sambil memegang lembut foto Minseok yang sedang tersenyum. Minseok kekasihnya, Minseok cinta sejatinya, dan masih Minseok wanita yang mengisi hatinya hingga sekarang.
"Bagaimana keadaan mu sekarang? Aku sungguh rindu, Min izinkanlah aku bertemu denganmu walau hanya untuk yang terakhir" ucap Jongdae lagi.
"Jongdae waktunya minum obat" Jongdae menoleh Baekhyun sudah duduk di hadapannya dengan membawa beberapa obat dan juga air putih.
Pandangan Baekhyun kini jatuh pada album foto yang Jongdae pegang, tahu betul apa isi di dalamnya.
"Dae-ah tidak bisakah? " lirih Baekhyun. Jongdae menatap sedih pada wanita di hadapannya kemudian menggeleng.
"Maafkan aku " jawab Jongdae.
"Tidak bisakah kau membuka hati mu sedikit saja untukku? " tanya Baekhyun lagi.
"Kau tahu sendiri jawabannya, aku bukannya tidak bisa membuka hati hanya saja seluruh ruang di hatiku sudah di miliki"
"Tapi bahkan ini sudah enam tahun dan selama itu jangankan bertatap muka, mengirim pesan pun tidak" lanjut Baekhyun " Kau terus mempertahankan cintamu padanya, lalu bagaimana dengan wanita bernama Minseok itu apakah ia juga masih mencintaimu atau bahkan kini ia sudah bahagia dengan laki-laki lain " Jongdae menatap Baekhyun lama, kemudian ia mengalihkan pandangannya.
"Cinta ku tak akan pernah berubah meski Minseok telah berubah. Lagi pula seandainya pun tak ada Minseok aku tetap tak akan bisa menerimamu Baek "
"Wae? "
"Kau wanita cantik, baik dan juga pintar. Sudah sepantasnya kau mendapatkan laki-laki yang sepadan bukan laki-laki dengan harapan hidup rendah sepertiku. Saat ini aku hanya tinggal menunggu waktu hingga tuhan datang menjemput"
"Jangan bicara seperti itu! Kau pasti akan sembuh "
"Iya aku memang memiliki kesempatan sembuh sebanyak 5% dan yang 95%nya lagi adalah kematian"
"Walaupun 5% tapi kesempatan itu ada" ujar Baekhyun.
Cup
Jongdae mencium kening Baekhyun layaknya seorang kakak pada adik perempuannya.
"Jangan terus terpusat padaku karena pangeran mu pasti sudah lelah menunggu" setelah mengucapkan kata itu Jongdae pun pergi meninggalkan Baekhyun yang hanya bisa termenung.
.
.
Minseok sudah kembali ke desa udara Seoul terasa buruk untuk dirinya.
"Minseookk! " wanita tersebut menoleh ketika namanya di panggil
"Aku mencari mu sejak kemarin, aku sungguh memerlukan bantuan " ujar Seulgi.
"Ada apa? "
"Bantu aku merancang pakaian, kumohon " ucap Seulgi. "Aku tidak bisa melakukannya sendirian, kustomer ku kali menyukai desaign yang dulu pernah kau buat. Aku tidak bisa mengerjakan pakaian itu lagi pula itu adalah design milikmu. aku mohon Min bantu aku" Minseok terdiam lama, dulu ia memang pernah membantu Seulgi membuatkan beberapa potong pakaian. Tak pernah ia sangka bahwa akan ada orang luar yang menyukai designnya tersebut, seketika impian Minseok untuk menjadi disigner kembali muncul namun bayangan sang putra dengan cepat menyadarkannya.
"Aku ingin, tapi saat ini Kyungsoo sedang berada di Seoul aku tak mungkin membiarkan Daemin sendirian sementara aku bekerja"
"Kalau begitu bawa saja Daemin ke butik " jawab Seulgi lagi.
"Memangnya kau akan mengikhlaskan kain kain disana di gunting oleh putraku? Daemin sedang aktif dan selalu meniru apa yang di lakukan orang dewasa di sekitarnya. Aku tak ingin ambil resiko"
"Songsaeniiimmmmm" Obrolan Minseok dan Seulgi teralihkan kala Daemin berteriak semangat, di sebrang jalan Park Bogum melambaikan tangan ceria.
Hup
Dengan seketika Daemin telah berada di gendongan Bogum, mungkin yang tidak tahu akan menganggap keduanya adalah pasangan kakek dan cucu. Salahkan saja Bogum yang selalu ramah pada semua orang terutama anak kecil.
"Ahjusi anyeong " sapa Seulgi dan Minseok yang di hadiahi senyum khas seorang Park Bogum. Melihat Bogum yang begitu dekat dengan Daemin membuat otak Seulgi berpikir cepat.
"Hmmm ahjusi, bisakah aku minta tolong padamu? " tanya Seulgi.
"Tentu ada apa Seulgi-ah"
"Apakah ahjusi bisa menjaga Daemin untuk tiga hari kedepan? Aku membutuhkan bantuan Minseok di butik dan Daemin pun masih terlalu kecil untuk diajak kesana -"
"Aigoo aku pikir ada apa, tentu saja bisa jangankan 3 hari bahkan 3 tahun pun akan aku lakukan" potong Bogum.
"Hmm tapi ahjusi " ujar Minseok jujur saja ia merasa tak enak.
"Sudah tak apa-apa Min, lagipula Daemin sudah seperti cucuku sendiri. Kau bekerjalah dengan tenang tapi ingat kau boleh pergi ke butik setelah selesai mengajar" Minseok tersenyum mendengar jawaban dari laki-laki di hadapannya. Tuan Park bahkan menganggap Daemin seperti cucunya sendiri. Dan disaat yang sama bahkan Daemin belum pernah merasakan hangatnya kasih sayang dari seorang kakek.
.
.
Hari berikutnya Minseok mengajar seperti biasa hanya bedanya setelah pulang ia langsung melangkahkan kakinya menuju butik milik Seulgi.
Daemin sendiri terlihat tak keberatan harus di tinggal bersama dengan Bogum.
Bogum mengernyitkan keningnya ketika melihat mobil terparkir di halaman rumah tetangganya, setahu Bogum rumah ini sudah lama tak di tempati hanya sesekali saja sang pemilik rumah datang. Mungkin untuk berlibur.
"Ssaeeemm Daemin mau main bola " ujar Daemin penuh harap untung saja Bogum memiliki sebuah bola di rumahnya.
"Baiklah ayo kita bermain"
Keduanya larut dalam permainan, Daemin dapat di bilang mahir di usianya yang masih 5 terus menendang bola kesana kemari tanpa terlihat lelah sedikitpun.
Shoot
Prang
Gerakan Daemin berhenti seketika, baru saja ia memecahkan kaca dari rumah tetangga sebelah gurunya.
"Ssaem " Panggil Daemin, matanya sudah memerah menahan tangis. Ia sungguh takut sang pemilik rumah akan memarahinya .
Bogum menarik nafas, kemudian ia menundukan tubuhnya untuk melihat kearah Daemin.
"Jangan menangis, sekarang kita temui pemilik rumah dan minta maaf" Ujar Bogum menenangkan.
Daemin memegang kuat ujung celana Bogum, mengisyaratkan bahwa ia benar-benar takut. Seorang pria muda terlihat berdiri di depan teras sambil menatap kearah serpihan kaca semakin membuat Daemin ciut.
"Permisi, saya sungguh minta maaf karena kami telah memecahkan kaca jendela rumah anda" ujar Bogum, Daemin merasa takut namun ketika melihat sosok laki-laki di hadapannya entah mengapa ia justru melangkah maju.
"Ahjusi yang minggu lalu Daemin lihat di televisi kan? "tanya Daemin polos membuat orang di hadapannya mengerjap kemudian tersenyum.
"Benarkah kau pernah melihatku di televisi? "tanyanya.
"Hmmmmm Daemin tidak begitu ingat tapi wajah kalian sama hehe" ujar Daemin lagi dan setelah mendengar ucapan Daemin, Bogum jadi mulai memperhatikan laki-laki di hadapannya.
"Ahh bukankah anda Chen? " tanya Bogum tak percaya.
"Panggil saja saya Jongdae, Kim Jongdae itu nama asli saya "
Tbc
How?
Yaampun saya mentok mode on.. Slahkan para monster yang berkeliaran di bulan puasa. Bikin selalu gagal fokus duhhh..
Terima kasih untuk yang sudah baca, follow, favorit dan komen..
Love u mentookkkk hihihi
See you in next chap
