Disclaimer: Karakter dari Meitantei Conan dan Magic Kaito adalah kepemilikan Aoyama Gosho. Saya hanyalah seorang fansnya yang dengan seenak jidat meminjam karakternya untuk dinistai sepenuh hati.

Summary: Sebuah kehidupan biasa di sekolah yang lebih dari biasa, lima orang murid biasa yang menggemari manga yang sama harus menghadapi kenyataan bahwa hari-hari mereka akan diubah menjadi sangat tidak biasa. Entah kutukan atau berkah? Jawabannya hanya dapat dibentuk oleh mereka sendiri... Dan kenalan-kenalan baru mereka, tentu saja.

Rating: Untuk sementara? T. Kedepannya tergantung jalannya cerita.

Pairing: Yang resmi bakal jadi baru future KaiShin. Yang lain bisa berubah seiring perkembangan cerita.

Warning: Masih shounen-ai menjurus BL. Bahasa campur-aduk. Penistaan karakter. Apdet suka-suka Author. OCs. Full pipa aer. Spoiler komik Conan sampai chapter terbaru. Beware!

A/N: Penjelasan OCs hanya pada prolog dan chapter 1, untuk mengenalkan mereka seperti apa. Selanjutnya Gosho Boys (minus Kaito sampai beberapa chapter ke depan) akan mengambil porsi besar.


Chapter 1: A New... Beginning?

.

.

.

"Pagi semuaa!"

Tepat 3 menit sebelum bel masuk sekolah dikumandangkan, kelima orang yang sudah terbiasa nyaris telat bareng-bareng itu terlihat berkerumun di depan pintu masuk gedung sekolah. Ritual harian mereka yang tidak sadar mulai dilakukan setelah hampir 3 bulan nongkrong bareng di pojokan ruang BP, dan berlanjut sampai sekarang. Biasanya setelah berkumpul semua, baru mereka jalan ke kelas bareng-bareng. Beruntung ada kursi tempat para penjemput/orangtua menunggu, kalau tidak bisa pegal-pegal seharian mereka.

"... Lo ketiduran lagi ya, El." Pernyataan, bukan pertanyaan, dikeluarkan dari mulut seorang Fura. Yang hanya dibalas dengan 'ehe' singkat dari yang bersangkutan. Ketiga orang lainnya tampak terlihat maklum dan sudah jalan ke kelas duluan, tahu kalau dua orang sisanya akan segera menyusul.

"Maaf, habisnya mimpiku enak banget... Masa aku mimpi kalau karakter-karakter dari Meitantei Conan pada pindahan ke sekolah kita." Cerita Elaine dengan sangat ceria setelah menyusul sisa geng-dadakannya, membuat keempat manusia itu sweatdropped berjamaah.

Elden yang sudah biasa mengambil peran tsukkomi sejati di antara para boke itupun mengambil alih. "Mimpimu aneh banget, dan ngarep sumpah. Sekolah terpencil gini, yakali mereka pindah kesini..."

Frau yang mendengar kakaknya hanya berkomentar mengenai kemustahilan para karakter fiktif itu pindah ke sekolah mereka, bukannya menimpali kemustahilan eksistensi mereka lebih dulu, hanya tersenyum tipis.

Derita mereka fans Detective Conan semua...

Yah, semua kecuali Haruka, yang dengan segenap jiwa baru saja berhasil dicekoki seminggu lalu oleh Fura untuk membaca komik tersebut secara digital mulai dari chapter pertama. Edan aja, chapternya kan udah sampai 850++... Pantes aja Haruka sering nguap, pasti dia begadang buat ngabisin scanlation yang secara semena-mena dan seedan-edannya diberikan oleh gadis fujo satu itu.

"Eh eh Ruk, udah sampe chapter berapa?" Pemudi yang baru saja dinarasikan oleh pemuda biru itu terlihat tampak antusias bertanya pada korbannya. Yang ditanya hanya menguap, sambil menggumamkan "-pas KID jadi Sera-" dengan sangat tidak jelas dan herannya dapat ditangkap oleh sohibnya. "Berjuang, tinggal beberapa puluh chapter lagi~"

Elden yang mendengar, cuma bisa tepok jidat. Beberapa puluh, tinggal?

"Chapter yang baru belum nongol lagi ya? Habis si... Si itu nongol." Frau bertanya pada Fura, memelankan suaranya dan dengan tidak menyebutkan nama langsung, demi keselamatan dirinya dari ngespoiler Haruka. Gadis satu itu sangat seram kalau keburu dispoiler sebelum dia baca sendiri, sih.

Korban terakhir tentu saja Elden, nyaris digantung di atas tiang bendera setelah dikejar-kejar dengan penggaris besi kalau saja yang bersangkutan tidak keburu ngibrit manjat pohon palem yang tumbuh subur di pinggiran jalan menuju sekolah mereka.

Fura mendecak, menggeleng sambil cemberut. "Belum... Mana KID terakhir nongol chapter 864... Aaaah, kapan mereka kerjasama lagi! Terakhir KID bantuin Conan nyamar jadi Shiho, udah beberapa puluh chapter lalu... Awal chapter 800-an, kalau nggak salah." Suaranya pelan sambil melirik anti-spoiler berjalan yang tengah asyik berbincang dengan Elaine.

"Bagian dimana dia seenaknya nyuruh KID nyamar dan menghadapi Bourbon yang nodongin pistol ke dia di gerbong kereta terpisah yang penuh dengan bahan peledak?" Frau memastikan, sambil berbisik tentunya. Dia memang tidak ada preferensi khusus dengan karakter Conan, tapi keputusan seenaknya itu rasanya.. Nggak sebanding sama pertukarannya dengan Conan ngelepas KID.

Elaine mendecak pelan setelah mengakhiri percakapannya dengan Haruka, senyum kecilnya berubah jadi cemberut. "Aku mulai nggak suka sama Conan, pembunuhan kok dijadikan taruhan dan makin lama makin ga ada simpatinya... Ingat kan, pas Sera pertama kali ketemu Heiji?"

Dalam diam, semua mengangguk setuju mau nggak mau. Resiko series kelamaan jalan dan musti nyari ide terus kayaknya... Kasian Gosho.

Seakan untuk menyelamatkan mereka dari diskusi Detektif Conan lebih lanjut yang bisa memakan waktu lima jam lebih, bel masuk pun berbunyi.

"Geh! Jam pelajaran pertama kan Mat... Fur yang cewek! Buruan, ntar pak Albert ngasih 5 soal neraka lagi! Kelas kita kan di lante 2!" Elden langsung menarik Fura dan menggeret siswi malang itu ke kelas. "E, eh, tunggu- Oh iya... Lo dah bikin peer? Gw belom nih, ehehe." "PEER APAAN?! MAMPUS GUEH!"

Dan kepanikan Elden yang masih menggeret Fura pun hilang ditelan belasan siswa lainnya yang juga berlarian ke kelas yang sama.

"Kelas kita kan di lantai 2 semua... Bedanya cuma IPA, IPS, sama Bahasa..." Haruka yang swt dan baru aja mau 'cie'-in mereka, keinget kalau jam pertama kelasnya dan Frau itu... Fisika.

Ngek.

Elaine yang ada di kelas Bahasa sendiri dan jam pertamanya adalah Bahasa Inggris hanya bisa nyengir dan berjalan santai mengikuti arah Haruka dan Frau yang sudah ngibrit duluan. Punya Ma'am yang woles itu asyik, kawan.

Dan ritual harian mereka pun dimulai, seiring dengan bel yang perlahan menjadi senyap setelah menunaikan tugasnya.


.

.

Di kelas IPS...

"Loh? Belom dateng, tumben..." Pemuda berambut merah itu menaikkan alis, sementara Fura sudah keburu lenggang kangkung masuk ke kelas mereka. Sekilas info, berhubung sekolah mereka kecil (baru saja dibuka, mereka angkatan pertama jadi belum ada kelas 3), jadi bagian IPA, IPS, dan Bahasa hanya ada satu kelas...

"Asik dong! Eh Valente, pinjem peer Matmu, gw belum bikin! Ntar gw traktir makan siang!" Dengan semena-mena Fura menerjang meja salah satu teman sekelasnya yang langsung protes tapi bukunya udah keburu dicopet. Dan begitu ingat kalau dia juga belom bikin peer, dengan kecepatan Devil Bat Ghost Elden langsung mengeluarkan buku peernya dan ikutan nebeng nyalin.

"Lo ikutan nyalin, lo yang nraktir dia."

"Enak aja! Duit jajan gw udah nipis nih!"

"Salah ndiri ke warnet terus! Ambil paket kek!"

"Kalo gw harus balik dan masih sisa paketnya sayang dong! Paketan itu nggak enak!"

"Dasar kurang pengalaman, makanya belajar dong dari gue."

"Berisik! Udah cepetan salin gak usah banyak bacot, bentar lagi pak Albert masuk nih!"

Teman sekelas mereka hanya bisa memandang dengan kalem, sudah maklum akan duo debat yang sudah berkenalan selama dua semester itu.

Siapapun yang bilang mereka kayak suami istri yang sudah berumah tangga akan mendapat hadiah bogem mentah dan kursi melayang ke muka secara gratis tanpa perlu uang muka.

5 menit setelah insiden contek-contekan dijalankan, salah satu murid pengikut aliran sesat (baca: laskar pencontek peer) berlari masuk menerjang pintu kelas... yang memang sudah terbuka lebar. "Pak Albert dateng! Pak Albert dateng!" bagaikan burung beo yang bertugas sebagai alarm mereka. Alhasil murid-murid yang lagi baca komik atau lagi nyontek peer atau maen game hasil selundupan kalang kabut balik ke meja mereka masing-masing dan menyembunyikan barang-barang anti-stress itu di tempat penyimpanan masing-masing.

Tidak sampai 10 detik, pak Albert pun datang melenggang masuk sambil membawa buku cetak Mat mereka. Guru Mat yang juga adalah wali kelas 11 IPS itu mengedarkan pandang ke arah kelas yang menjadi tanggung jawabnya, tali rafia di pinggang siap diikatkan untuk mereka yang tidak pakai ikat pinggang.

Sebagai bandar jasa penyewa ikat pinggang, Valente yang tadi dicontek peernya sama Fura dan Elden cuma bisa nyengir kemenangan dalam hati. Lumayan, laris bak kacang goreng dan nambahin uang jajan.

Mendapati tidak adanya korban di minggu kedua hari wajib pakai seragam nasional itu, pak Albert mengangguk puas. Mungkin dikiranya kalau murid-muridnya sudah mulai disiplin, padahal nyatanya... Ketua kelas pun berdiri diikuti anak-anak sekelas, dan serempak mengucapkan selamat pagi pada wali kelas mereka seperti tentara.

"Yak, anak-anak, selamat pagi." Ucap pak Albert setelah semuanya duduk kembali dengan tertib. Fura yang sudah kebiasa multitasking langsung duduk di pojokan (karena memang tempat duduknya poreperalone sendiri deket jendela. Tiap kelas terdiri dari 30 meja dan kursi yang dibagi 5 baris, dan kelas IPS cuma kebagian 26 murid jadi dia mojoque sendiri. Elden duduk pas di depannya.) dan langsung ngebuka laptop (demi mengikuti perkembangan teknologi, sekolah mereka memperbolehkan penggunaan laptop layaknya orang sudah kuliah.) demi melanjutkan bacaan fanfic ES21 yang akhir-akhir ini sedang digilainya (dan resikonya ya... penyalahgunaan kayak gini).

Selama nilai tidak merah, pak Albert cuek sih. Pak Albert FTW!

Tapi sedihnya pak Albert doang.

Dehaman dilancarkan dari sang guru Mat ketika kelas mulai berbisik-bisik heboh mendadak. Elden yang tadinya sudah siap merebahkan kepala di atas meja menaikkan alisnya. Ada apaan nih? Dia menoleh Fura yang langsung meng-'SSSHHH' dia. Yeh dasar ga bisa diganggu nih fujo satu kalau udah baca penpik...

"Anak-anak, hari ini kita kedatangan teman baru. Dia baru datang dari Jepang, dan akan memulai tahun keduanya disini karena alasan keluarga." Bisik-bisiknya makin heboh, bahkan 'waow wiuw' sudah terdengar dimana-mana.

Elden memperhatikan pintu kelas, kesal kenapa pintunya nggak dari kaca dan kenapa kelasnya pake AC. Kan jadi nggak keliatan muridnya ada di luar apa nggak!

Fura masih membaca penpik sambil cekikikan sendiri kayak kuntilanak.

"Untuk yang khawatir apa dia bisa diajak berkomunikasi, jangan cemas. Dia sudah mempelajari bahasa Indonesia terlebih dahulu walau masih kaku. Jadi jangan pakai bahasa gaul, ya." All the more reason to, sir. "Pakai bahasa Inggris juga bisa, dan kalau ada yang bisa bahasa Jepang lebih bagus lagi." Lirikan pada Elden dan Fura. Yang berambut merah naikin alis begitu sadar dilirik, yang berambut hitam masih sibuk sendiri. Suka anime bukan berarti bisa bahasa Jepang, pak.

Pak Albert menengok ke arah pintu kelas, sambil berseru dengan suara agak keras biar bisa menembus pintu kayu. "Yak, kau bisa masuk dan memperkenalkan diri sekarang. Tenang, anak-anak kelas saya nggak ada yang rabies kok."

... Jadi bisa gigit dong.

Pintu kelas pun terbuka dengan suara berderit tanda kurang diminyaki, dan masuklah seseorang yang terlihat sudah memakai seragam nasional khusus sekolah mereka. Dan rapi, pula. Rambutnya hitam kayak model iklan Lifebuoy, dan matanya berwarna biru... Sebiru matanya Chris Pine. Elden naik satu alis. Lagi.

"Fur."

Usaha Elden menarik perhatian Fura dibalas dengan tepisan kesal di tangan.

Murid baru itu berdiri di dekat pak Albert, menganggukkan kepalanya sejenak sebagai salam awal. "Salam kenal semuanya, saya baru pindah dari Jepang, tepatnya dari kota Beika," jelasnya, tampak percaya diri walau dengan bahasa Indonesia yang kaku. Alis Elden naik dua-duanya. Nih makhluk bercanda kan? Satu toelan lagi untuk Fura, yang masih setia dengan fanficnya. Toyoran balasannya kali ini di kepala. Murid-murid lainnya memperhatikan dan menyimak dengan serius, lebih serius daripada menyimak pelajaran Sejarah. Kayak nontonin hewan baru di kebun binatang.

Murid baru itu mengambil spidol, lalu menulis namanya dengan huruf latin di papan tulis. Di setiap gerakan yang dilakukannya, mata pemuda tujuh belasan yang mengamatinya itu semakin membulat.

Elden mengeluarkan suara seperti kucing kejepit pintu begitu nama murid tersebut sudah lengkap tertera, lalu dengan segenap tenaga noyor kepala Fura. Dibalas dengan jitakan sepenuh hati.

Pemuda yang sudah selesai menulis itu melanjutkan dengan kalem, walau matanya tampak memperhatikan aksi toyor-toyoran mereka dengan tertarik. Frustasi, Elden nginjek. "SAKIT DODOL! Apaan sih! Lagi asik tau!" Balas mendesis kesal, Fura akhirnya noleh juga. Tentu saja setelah bales menginjek maknyus kaki Elden dengan sepenuh hati.

Dan dia mematung.

"Saya baru pindah dari SMA Teitan, perkenalkan nama saya Shinichi Kudo. Semoga dalam waktu yang singkat ini, kita bisa berinteraksi dengan baik." Senyum formal Pepsodent. "Yoroshiku." Diakhiri dengan kalimat penutup dalam bahasa Jepang.

Sedetik kemudian, suara dua kursi gedubrakan pun terdengar keras di kelas IPS seiring dengan jatuhnya kedua pemilik.


.

.

Sementara itu, di kelas IPA...

Haruka dan Frau tampak berleha-leha di tengah kegempitaan kelas yang hepi karena gurunya telat 15 menit. Walaupun hal tersebut sangat tidak wajar bagi guru mereka yang terkenal sangat tepat waktu sekali dan selalu menutup pintu bagi yang datang telat. Walau bisa disogok dengan sepotong kue, makanya sekarang sedang ada pesta kue dadakan di kelas mereka.

Jika kau menghitung jumlah kuenya, kau bisa mengetahui kalau lebih dari separuh kelas terbiasa mendapat salam pagi hari dari pintu yang digebrak di depan muka.

Haruka yang tengah berbagi kue gratisan dari teman-teman yang tidak suka manis tapi terlanjur bawa kue dengan Frau, mengunyah nikmat kue keju manis yang bisa dibeli dengan harga gocengan di kantin seberang koperasi. Saking kenalnya mereka dengan penghuni kelas IPA, bahkan mereka melakukan promosi sekarang. Beli sepuluh gratis satu.

Khusus untuk kelas IPA saja. Kurang murah hati apa lagi?

"Tumben bu Sri nggak dateng tepat waktu. Sakit kali ya? Atau macet?" Menghabiskan potongan terakhirnya, menoleh ke arah Frau yang masih memakan kue blueberrynya. Yang ditanya hanya tersenyum sambil membalas. "Semoga saja beliau tidak sakit." Haruka yang mendengar respon polos itu cuma bisa bengong. Anak ini baek banget sih...

Suara derap yang diikuti dengan keberisikan di luar sontak membuat anak-anak buru-buru menyembunyikan kue yang tengah mereka makan. Di mulut. Keberisikan anak IPA yang notabene penghuninya hanya 21 orang itu pun langsung terhenti. Digantikan dengan bunyi kunyahan dan batuk-batuk anak yang keselek.

Frau dan Haruka yang memang duduk sebelahan dan sudah dari tadi berada di posisi mereka (kursi paling depan mojok dekat pintu), tenang-tenang saja sambil menenggak Aqua dari botol minum.

Terima kasih kepada skill menelan bulat-bulat yang dimiliki keduanya.

Kasihan lambung mereka.

"KALIAN BERDUA, BERHENTI BERDEBAT ATAU SAYA STAPLES MULUT KALIAN." Suara bu Sri yang khas menggema di pintu masuk kelas, dengan efektif mengagetkan seisi kelas IPA dan menghentikan kericuhan yang ada di luar. Dan Frau yakin banget kalau bu Sri tengah memperlihatkan staples raksasa andalannya yang biasa dipakai buat nyatuin 5 jurnal sains sekaligus, kedengeran bunyi ceklek soalnya. Samar dia bisa mendengar suara menelan ludah saking sunyinya.

Dengan wajah puas bu Sri masuk ke kelas, tidak mempedulikan pandangan horor anak-anak yang baru satu minggu beradaptasi diajar sang guru dan diam-diam berkontemplasi apa yang harus dilakukan seandainya wali kelas mereka di tahun kedua ini diam-diam adalah serial killer. "Kita kedatangan dua murid baru, anak-anak. Mereka baru ditransfer kesini dari Jepang, kelas IPA dan Bahasa juga kebagian." Brugh, efek suara buku Fisika bahan ajar mereka diletakkan di meja membuat beberapa anak melotot.

Itu bahan ajar atau senjata buat bunuh orang yak?

Frau diam-diam mencatat untuk meneliti seberapa berat buku itu nantinya. Lumayan, untuk berjaga-jaga. Haruka mukanya udah horor sendiri. Maklum, dia anak transferan dari SMP lain dan selama tahun ajaran pertama belum pernah diajar guru Fisika nyentrik ini.

Mata bu Sri yang setajam burung elang langsung menghardik ke arah pintu masuk yang masih terbuka. "Kalian tunggu apa lagi? Cepat masuk! Perkenalkan diri kalian dan duduk! Saya tidak suka membuang-buang waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk mengajarkan hal-hal yang berguna bagi anak-anak didik saya."

Tanpa ba-bi-bu murid-murid baru itu langsung masuk, yang langsung membuat murid-murid cewek pada narik napas saking mereka ganteng, dan murid cowok mengerang karena mereka dapat saingan baru. Satu orang pemuda berkulit gelap berambut hitam yang masuk dengan tergesa, disusul dengan pemuda blasteran berambut cokelat muda yang memasuki kelas dengan elegan.

Haruka cuma bisa bengong doang ngeliat kelasnya kedatengan dua bishounen ganteng yang kalau dicrossdress kayaknya bisa lebih cantik dari semua cewek yang ada di sekolah Mekameka. Frau naikin alis.

Salah satu dari mereka yang berambut cokelat berdeham, sebelum tersenyum penuh percaya diri. "Sebelumnya, saya ingin meminta maaf atas perilaku, ah.. Kenalan saya yang tidak begitu beradab," ... Nih orang bahasanya sopan bener euy... Maklum sih, katanya dari Jepang kan yah. Menghiraukan death glare dari cowok kulit sawo kematengan di sampingnya, pemuda itu terlihat merogoh sakunya, dan membuka... Jam saku berantai? "Pada tahun 2014 AD, hari ke 28 pada bulan Mei... Tepatnya pada pukul 7 lebih 17 menit 30 detik 14 milidetik Waktu Indonesia bagian Barat, dua orang murid transfer dari Ekoda High dan Kaihou High School, respectively, tiba di SMA Maju Kena Mundur Kena atau yang juga dapat disebut dengan Mekameka yang terletak di Jawa Barat, Indonesia."

Bola lampu imajiner muncul di atas kepala Frau, sementara Haruka bingung kenapa murid transfer bule di depan detil banget sampe ke milidetiknya. Dan kenapa pake jam saku, memangnya dia kelinci putih dari Alice in Wonderland?

Oh ya, aksen pada satu kata nginggris itu... British?

"Ah." Frau yang tampaknya menyadari sesuatu, langsung mencatat diam-diam di notebooknya. Haruka menatapnya bingung. "Kenapa, Fur?" "Nggak, ini... Kau siapkan diri saja, Haruka. Mungkin cuma cosplayer... Atau fanatik..." Dia menggumam. Haruka tambah bingung.

"Perkenalanmu terlalu lama, tahu!" Pemuda di sebelahnya protes, menyebabkan tanda cetik imajiner nongol di dahi sang bule. "Well, kalau begitu, silahkan kau saja yang melanjutkan." Dia kalem menjawab.

"Okay! Namaku Hattori- maksudku Heiji Hattori, asal dari Osaka, Jepang. Pemuda yang terlalu perfeksionis di sebelahku ini bernama Saguru Hakuba, dia sebelumnya pindah dari Inggris, ke Jepang, lalu ikut ke Indonesia." Heiji nunjuk Saguru pake jempol.

Dan kalau aksen Jepang pakai Kansai-ben itu aneh, coba dengar kalimat baku Indonesia dengan Kansai-ben...

Frau mencoret kata 'cosplayer fanatik' dari bukunya, dan Haruka mangap sampai dagunya jatoh ke tanah. Dan refleks, tentu saja, berteriak. Tentu saja itu merupakan hal normal dan sangat manusiawi untuk dilakukan di kala melihat karakter fiktif yang menggentayangi kepalamu selama seminggu terakhir ini berakhir sungguhan ada di depan mata.

"EEEEEEEEHHH!? KOK MEREKA BISA A-"

Jduk!

"SAKIT, FURA BEGO! KENAPA LOE NENDANG KAKI GUE!"

Kedua murid pindahan pun sweatdropped berjamaah melihat keramaian yang tadi mereka sebabkan berpindah ke dua murid yang dimana salah satunya terlihat siap gontok-gontokan.


.

.

Akhirnya, di kelas Bahasa yang tentram damai sunyi senyap...

Setelah selesai nemplok di tempat bertenggernya di kelas yang hanya berisi 15 orang itu, Elaine mengeluarkan laptopnya lagi dan dengan asyik langsung melanjutkan karaoke pribadinya. Ma'amnya belum datang, jadi dia santai saja. Sisa teman sekelasnya yang berada di dalam ruangan hanya memperhatikan dengan tertarik, habis suaranya lucu. Seperti Alvin the Chipmunks atau Kiki dan Koko. Bahkan beberapa diam-diam merekam untuk dipamerkan pada teman-teman mereka.

Usaha Haruka untuk menyuruh Elaine mulai menagih royalti atas rekaman karaoke solo randomnya tidak begitu berjalan dengan baik, rupanya.

Tidak berapa lama, karaoke Elaine disela oleh suara pintu yang terbuka. Lagi-lagi karena suara berderit. Sepertinya sekolah mereka sedang ada penghematan pemolesan minyak.. "Yak, Elaine, karaokenya dilanjutkan nanti saja ya. Anak-anak, duduk di tempat. Tidak ada yang akan masuk lagi kan?" Seperti dikasih tanda, beberapa orang siswa langsung masuk dengan kegesitan layaknya belut kali dan duduk di tempat mereka masing-masing dengan manis. "... Ya, sepertinya kalian yang terakhir. Alright class, we've got a new student joining us this morning!"

Elaine yang sudah meng-hibernate laptopnya langsung siaga. Apakah mimpinya akan jadi kenyataan?

Seorang Masumi Sera melangkah masuk.

Dan seorang Elaine liar pun loncat dari kursinya, melakukan tackle dadakan ke arah gadis yang baru saja mau memperkenalkan dirinya itu.

Gubrak!

"UWAAH!"

Suara jeritan kaget Sera yang diiringi dengan gedubrakan jatuh langsung mengisi keheningan kelas yang seisinya jawdrop semua melihat Elaine yang tingkahnya memang tidak bisa diprediksi, tapi mentackle seorang murid baru sampai jatoh? Elaine ada apa denganmu Elaine.

Pelaku penabrak hanya sumringah lalu duduk sambil ngebantu Sera duduk juga. Semuanya bengong heran melihat keceriaan di luar kewajaran gadis 16 tahun tersebut.

Yang dilihat hanya menggosokkan pipinya secara over-afeksional dan dengan kegembiraan berlebih. "Akhirnyaaaa~~ Murid tambahan! Kelas kita akan lebih ramai, nggak kayak kuburan disko lagi~~"

Jangan tanya kuburan disko itu apaan.

Kenapa Sera tidak bereaksi dengan Jet Kunee Do-nya atas terjangan Elaine sebagai refleks, hal itu menjadi sebuah misteri. Mungkin karena dia menyangka di sebuah negara yang notabene tidak ada yang mengenalnya, dia akan aman-aman saja. Sepertinya praduganya salah besar.

Sekarang dia hanya bisa memandang takjub akan eksistensi manusia di hadapannya ini.

"Ehem." Ma'am mereka tampak sudah mendapatkan kembali kesadarannya, lalu dengan lembut menarik Elaine lepas dari siswi baru tersebut. "Elaine, antusiasmemu sangat dihargai, tapi biarkan murid baru ini memperkenalkan diri dulu, ya?" Yang ditarik hanya mengangguk sambil tersenyum, lalu duduk kembali di kursinya dengan manis.

Sera berkedip satu-dua kali, sebelum merapikan roknya dan dasinya. Lalu tersenyum cerah. Sepertinya dia sudah mendapatkan kembali kewarasannya. "Terima kasih atas sambutannya, Elaine-chan~" Bahasa Indonesianya supel sekali. "Namaku Sera Masumi, baru saja pindah dari SMA Teitan di Jepang! Salam kenal, semua!" Tanda peace dan kerlingan mata.

Mata Elaine yang tadinya sudah berbinar sekarang sudah mengalahkan sinar matahari. Lalu dengan cengiran yang tidak kalah silaunya, dia mengangguk semangat. Bersama teman-teman lain yang sudah tahu akan keriaan gadis itu, dia menyambut balik.

"Salam kenal, Sera-chan~!"


.

10.00 A.M WIB

Jam istirahat pertama

.

"Oke guys, lapor."

Pada jam istirahat yang biasanya diisi dengan cengkrama fangirling-fanboyingan atau sharing data yang didapat sebagai ritual harian geng belakang ruang BP, kali ini hanya keheningan yang didapat setelah mereka berlima dengan kecepatan Warp 5 langsung cabut dan bercokol seakan-akan tempat nongkrong mereka adalah tempat perlindungan dari bom atom. Dan suara serak Elden memulai pembicaraan setelah mengetahui kalau ternyata di kelas temannya yang lain juga ada murid baru yang mereka tahu semua.

"Sera-chan ada di kelas aku~" Elaine dengan ceria melaporkan lengkap dengan posisi hormat-grak setengah badan, masih bisa terlihat gembira meskipun keempat temannya terlihat seperti baru saja menyaksikan alien turun ke bumi (...mirip. Hampir). "Dia sama cerianya kayak di komik, dan sama maskulinnya. Sekarang dia duduk di depan aku jadi nggak perlu khawatir aku diamati diam-diam secara langsung sama dia. Oh iya, tadi aku keceplosan terus tackle dia di depan kelas pas dia masuk sih..." Elaine pasang watados.

Elden mengerang sambil mengusap muka dengan kedua tangan, lalu nengok ke Frau dan Haruka.

Tersenyum pasrah ke arah kakaknya seakan mencoba menenangkan, Frau menjawab karena Haruka lagi asik ngeliatin Fura yang terlihat sibuk sama laptopnya. "Heiji dan... surprisingly Hakuba. Mereka tampak langsung bertengkar bahkan sebelum sampai ke kelas kami. Sekarang mereka duduk di kursi belakang, yang kosong. Masih di barisan kami sih..." Cetuk jari ke dagu, dia melanjutkan.

"Dan tampaknya Heiji sudah mengadaptasi sedikit bahasa gaul Indonesia."

...

Memutuskan untuk menanyakan mengenai hal itu nanti (makin banyak detilnya rasanya kepalanya makin mau memberontak untuk dikenalkan pada dinding terdekat), Elden melirik ke Fura yang masih asik. Lalu dia memutuskan untuk menjelaskan sendiri kondisi di kelasnya. "... Shinichi, sang protagonis utama. Tidak diketahui apakah dia Kaito KID yang menyamar sampai-sampai Hakuba ikutan di kekacauan fiktif-jadi-nyata ini, atau Conan yang menenggak antidote sementara maupun permanen. Dia duduk di sebelah Fura. Nanti Fura yang bertugas mengecek apakah ada kemungkinan salah satu dari mereka Kaito Kuroba yang menyamar, soalnya di antara kita semua dia yang paling terobsesi sama Magic Kaito dan udah baca semua komiknya jadi dia pasti kenal segala gerak-gerik tipuan Kaito- mungkin." Memberi penekanan, mengingat kecepatan tangan dan distraksi pesulap-slash-pencuri internasional tersebut sungguh sangat tidak bersahabat dengan gerakan mata manusia.

"Haruka dan Elaine akan membantu, sementara gw dan Frau ngumpulin data mengenai transfer mereka lebih lanjut." Elden yang sekarang tingkahnya seakan-akan dia adalah ketua geng self-proclaimed membagikan tugas. Kepalanya beralih ke teman sekelasnya yang... masih sibuk dan nyolokin hardisk sana-sini. "Ngomong-ngomong lo lagi ngapain sih Fur, berisik amat cetak cetek..."

Yang ditanya masih sibuk klak-klik sana-sini. "Ngefolder semua file yang berkaitan sama Meitantei Conan sama Magic Kaito dong. Terus di-rar. Terus di-password. Terus di-file lagi dan di-password lagi sampe 5x, terus di-hidden. Terus di-write protect. Dan tidak lupa backup dibuat sebanyak 5 biji dan disimpan dalam-dalam di system data di tempat yang tidak akan pernah terpikirkan orang waras untuk mencarinya a.k.a di bagian help-nya. Kalian juga, nih kopi ke leptop kalian! Di-cut, ya!" Fura pun menyodorkan 4 biji eksternal hardisk sekaligus.

Haruka mangap, tapi ngambil satu karena tahu kalau dibantah pasti Fura ngopiin sendiri ke laptop mereka. Elden sweatdropped, terus ngambil salah satu hardisk setelah mengeluarkan laptopnya dari dalam tas yang memang selalu dibawanya, diikuti dengan Frau dan Elaine yang memang senantiasa membawa laptop mereka. "Buat apa dah?" Pemuda itu bertanya bingung sambil mencolokkan flashdisk tersebut, dan berjengit seketika melihat size filenya. Ajigile 250GB++ setelah di-compress dan di-rar!? Isinya apaan aja!?

"Tadi gw ngecek internet buat ngeliat apakah ada chapter kelewat dimana mereka terjun ke Indonesia," Fura menjawab dengan nada skeptis. Ya mana ada lah! "... Dan... Gw nemuin kalo semua data yang berkaitan dengan Detective Conan dan Magic Kaito lenyap dari muka dunia internet maupun irl. Ilang blas blas. Nihil. Bahkan ngetik Gosho Aoyama cuma menghasilkan komik Yaiba. Kalian nggak heran, temen sekelas kita gak ada yang nyadar kalau Shinichi Kudo transfer ke sekolah kita? Se-nggak terkenal apapun Conan di sekolah kita, tapi kan rajin tayang tiap minggu di Ind*siar!" Lanjutnya berapi-api.

"Lah, tapi di data leptopmu dan gw masih ada tuh." Ucap Elden polos.

"Meneketehe. Makanya sebelum ilang kita bek-ap dulu gitu loh."

"Ya kalo bakal ilang juga percuma dibek-ap!"

"Namanya juga jaga-jaga!"

"Memori leptop gw dah nipis nih! Mana bisa dikopi!" Ga rela sumpah kalau dia harus kehilangan koleksi Star Trek sama back-up game Assassin Creeds-nya. Gak rela!

"Ya gampang, pindahin semua file lo ke hardisk 500 giga yang baru gw kasih itu terus file Conan-nya dipindahin deh. File-file lo bisa dititip ke external hardisk gw. Gw kan minjemin."

"Tapi kan tetep ga muat—Wait, lo mau minjemin?" Elden terhenyak. Kesambet apaan nih anak sampe mau minjemin keempat hardisk eksternalnya—wait, ngapain dia bawa-bawa hardisk eksternal sampai empat biji sekaligus dengan kurang kerjaannya ke sekolah?

Fura angkat bahu. "Ya iyalah. Sampai semua kegilaan ini selese. Not like I'm using them much after this 3 hard drive bays my Kuro-chan's having..." Seakan ingin menekankan fakta yang baru diberikannya, Fura mengelus laptop kesayangan dengan memori total 1920GB yang baru didapatkannya sebulan lalu itu sambil nyengir nista ke arah Elden. "Lagian, gw awalnya emang mo bagi anime yang gw punya, bukannya dari dulu kalian yang minta tapi gw kelupaan terus? Pas banget gw inget bawa terus karena mengingat betapa miskinnya hardisk internal kalian, gw berbaik hati membawakan dan berniat meminjamkan hardisk eksternal gw sampe kalian kopi ke CD-R atau DVD-R semua."

Gondok karena sebal dan memang ngiri, Elden diem aja terus memulai aksi kopi-kopian yang kayaknya bakal makan waktu lama. Ketiga temannya cuma nyengir terus meniru aksi yang dilakukannya. Fura sendiri sudah nyante dan tampak memikirkan sesuatu.

Haruka naik alis. "Ada apa, Fur?" Yang ditanya cuma diem sebentar terus menjentikkan jarinya. "Oh ya, selain gw masukin semua movie, OVA, special, game ("Ngapain lo masukin gem yang bahkan bahasanya aja lo gak bisa baca sedikitpun?!" Protes Elden pun diabaikan seperti daun musim gugur), dan segala tetek bengek lainnya, gw juga masukin koleksi gambar dan—" Senyum tanpa dosa. "Doujin gw. Simpen aja ya, siapa tau bisa buat blekmel."

Elden, Frau, dan Haruka keselek seketika.

Elaine sumringah.

"LO MASUKIN DOUJIN YAOI KE HARDDISK YANG SEKARANG LAGI GW KOPI!? YAOWOH FUR, KALO SEKARANG SITUASI LAGI GAK GENTING GW CEKOKIN LO PAKE BAYCLIN!"

Sekali lagi, protes Elden terkacangkan bagai batu di pinggir jalan. Adiknya cuma meringis sebagai reaksi lanjutan, tapi pasrah. Haruka terlihat seakan dunia akan berakhir.

"Fur, gw gak tau apakah lo dengerin gw selama ini, tapi gw gak fujo—" "Gw tau." "... Najis lo. Gw harap ada lobang di bawah lo sekarang yang akan menjerumuskanmu ke neraka yaoi." "Terima kasih."

Elaine dengan semangat '45 menclok di samping Fura. "Ada pairing apa aja, Fur?" Mata birunya berbinar-binar layaknya anak anjing, Elden yang masih panas bingung haruskah dia melembek melihat pemandangan unyu tersebut atau merasa terganggu. Fura menepuk kepala Elaine layaknya kakak yang baik. "Utamanya sih KaiShin, tapi ada HeiShin juga, HeiKai, HakuKai, dan HeiHaku. HakuShin juga ada. Yah cuma ada Gosho Boys doang sih buat yaoinya. Beberapa netral, dan ada pairing straightnya juga buat yang doujinnya gw anggap unyu..."

Matanya melirik ke arah kaum pemrotes yang tampak sedikit lega. "... File doujinnya gak gede-gede amat kok, gw belum sempat scan semua soalnya..." Dia tampak sedikit menyesal. Semoga koleksi doujinnya di rumah yang diumpetin di dalam peti besi bawah lantai di bawah kasurnya gak ilang, amin!

"That aside." Frau memulai, pose ala Shinichi sedang berpikir untuk memecahkan kasus tanpa sadar diadaptasinya. Keempat pasang mata menoleh penasaran ke anak biru itu. "Aku masih tidak mengerti, apakah ini mimpi atau bukan. Rasanya terlalu kebetulan kalau kita, kelima orang siswa yang juga secara kebetulan sering berkumpul di tempat yang sama, dan mendadak karakter-karakter fiktif dari satu anime dan manga yang sama-sama kita sukai muncul ke dunia nyata, lalu semua orang tidak mengenal lagi anime dan manga tersebut, dan hanya kita berlima yang masih memiliki memori utuh serta datanya tidak hilang dari kepemilikan."

... Mendengar semua tuturan Frau itu, mau tidak mau keempat siswa lainnya berkontemplasi juga. Dan satu-satunya yang bisa mereka pikirkan secara serempak adalah, "Gile Frau, bakat jadi detektif."- Haruka dan "Sekarang kita tahu kepada siapa kita harus menyerahkan note heist-nya KID kalau-kalau dia nongol mendadak."- Elden serta "Power of fanfiction, bro." - (kesimpulan ngaco yang tentu saja dipikirkan oleh Fura).

Kecuali Elaine. Dia malah langsung mengambil kamus Mandarin-Indonesianya yang ketebalannya menyaingi KBBI yang memang sedang dipangkunya dan menabok Frau dengan ceria tepat di muka.

JBUAK!

Semuanya bengong. Terutama korban dari kesemena-menaan gadis polos tersebut. "ELAINE, KENAPA AKU DIPUKUL?! PAKAI KAMUS, LAGI!?" Ketenangan dan kekaleman seorang Frau hilang sudah, digantikan oleh tatapan ketidakpercayaan dan pipi yang mulai membiru.

Jangan-jangan dia kerasukan jin ifrit nyasar!

Sebelum Elden sempat mengambil gelas air putih dan menyembur Elaine, yang bersangkutan dengan kalem menaruh kamus tersebut dan menjelaskan. "Habisnya kamu tadi tanya kan kamu mimpi atau nggak, nah ini buktinya kamu nggak mimpi!" Dilanjutkan tawa ceria. "Maaf ya, habis kalau Elden yang dipukul bisa-bisa aku nggak dijajanin lagi."

Frau terpuruk di pojokan. Kalau gitu kenapa nggak gebok Fura atau Haruka aja, Elaine...

Sementara Elaine berusaha membujuk Fura dengan menyodorkan Nu Milk Tea dingin yang diterima setengah hati oleh sang korban untuk mengompres pipinya yang nyut-nyutan dan kembali mojok, ketiga orang yang tersisa tampak mendiskusikan langkah apa yang harus mereka ambil selanjutnya.

"Gimana nih, tiga detektif yang spesialisasinya di kasus homicide ngumpul jadi satu. Mana Shinichigami ada di kelas kita lagi. Gw gak mau sekolah kita jadi TKP kasus pembunuhan, udah cukup kehororan dengan cerita 7 keajaiban sekolah!" Permasalahan pertama dari Fura. "Gw mengkhawatirkan ranking gw yang bakal jauh lebih anjlok lagi dari ranking angkatan setelah mereka bertiga masuk." Komentar datar Elden. "... Gw lebih khawatir kalau mereka tahu soal... yah, kalau mereka karakter fiktif sih. Kemampuan riset dan kehati-hatian mereka kan gak main-main. Apalagi mereka bertiga gary stu." Permasalahan paling waras dikemukakan oleh Haruka dengan lemas. Eidetic memory, tiga-tiganya? Sampah kalian bertiga, Gosho Boys, sampaaaah!

Diam sejenak.

"Kita harus nyari Kaito." Fura mengeluarkan titahnya sebagai keputusan final. "Sesuai dengan apa yang ada di komik dan juga banyak doujin yaoi serta fanfic, dia itu anak emasnya Lady Luck, beda sama Shinichi yang dianak-bawangkan. Kita harus menggeret dia masuk sekolah ini demi perdamaian dan keseimbangan Yin Yang dunia!" Kepal tangan semangat, membuat yang lain sweatdropped berbarengan.

"Tapi bagaimana caranya? Kita tidak tahu apakah mereka eksis hanya nama dan tubuhnya saja, atau mereka benar-benar karakter yang keluar dari komik." Suara halus Fura membuat mereka menengok, rupanya dia sudah tidak ngambek lagi. Lihat saja bagaimana dia menggenggam Nu Milk Tea dengan santai di tangan. Elaine yang sudah bergabung dengan mereka terdiam. "Kita tanya saja~" Usulnya. "Kan Shinichi detektif terkenal, jadi tidak aneh kalau dia ditanyakan apakah dia meitantei dari Jepang yang pernah kita dengar di koran. Sama halnya dengan Hakuba dan Heiji, juga Sera~"

...

Ide yang super brilian, Elaine!

"Oke, kalo gitu tugas lo nanyain Sera; tapi tanya aja dia detektif apa bukan, setahu gw dia belum terlalu terkenal soalnya. Bilang aja kau pernah liat dia di website Jepang gitu. Frau, lo tanyain Heiji sama Hakuba, siapin earplug kalo perlu. Gw mendoakan keselamatan gendang telingamu, bro. Gw sama Fura nanyain Shinichi. Jam istirahat masih ada 20 menit, jadi 10 menit lagi kita kumpul lagi disini okeh? Barang kalian dijaga sama Haruka aja, jaga-jaga kalau-kalau salah satu dari mereka berempat datang kesini; atau malah KID yang nyamperin." Elden bagi-bagi tugas. "Nggak ada pertanyaan? Oke si—"

"Kalo gw di-dart watch gimana?" Tanya Haruka.

"... Emang ada ya bagian tubuh lo yang bisa di-dartwatch selain muka?" Elden lempeng ngeliat temennya yang ketutup dari atas sampe bawah. Syal, jaket, fashionista bener sih Haruka. "Ya gampang lah, pinjem aja kamusnya Elaine buat tempeleng Shinichi sebelum dia nge-dart lo." "Kalo gw kena knock out gas-nya KID?" "Tahan nafas. Biasanya dia bakal ngomong atau nyengir dulu sebelum ngelempar bom asap." Kali ini Fura yang ngejawab. "Kalo diserang Watson?" "Gak bakal, lah!" "Gimana kalo Heiji bawa-bawa shinainya?! Atau Sera pake Jeet Kune Do-nya!?" "... Haruka, kamu terlalu parno. Gunakanlah ilmu penggorengan yang kamu pelajari dari menonton sekian videonya Hungary dari Hetalia. Kemana-mana kamu selalu bawa karena terinspirasi darinya, kan?" Ucapan kalem Frau membuat Elden dan Fura melotot. Haruka bawa penggorengan kemana-mana!?

"Ah, iya." Senyum ceria Haruka yang mendadak jadi tidak terlalu inosen terbentuk. "Oke deh, kalian gutlak ya~ Kalau sampai 10 menit nggak ada yang balik, aku akan kejar kalian setelah sembunyiin ini barang-barang di lemari dinding tersembunyi di belakang meja di sudut." Haruka meraba penggorengan mini yang dia tempatkan di holster di punggungnya. Siap, mantap, dan oke untuk mengganyang siapapun yang berani mendekat.

Semuanya mengangguk, beberapa merinding.

Sepertinya mereka harus mulai mengalihkan obsesi Haruka dari anime Hetalia...


xXx

Bersambung ke chapter 2