A/N: huuff... terlalu sibuk sama kegiatan yang lain, sampai hampir lupa sama fic ini. yosh! selamat membaca! dan, terimakasih buat yang sudah me-review! ^^


Disclaimer: i don't own Hunter X Hunter

Genre: Tragedy/friendship

Theme: sacrifice and jewel

Warning: AU

Sekuel dari SAPPHIRE

Tidak menerima silent reader. You READ it, you REVIEW it. Tak peduli walau kau anonim sekalipun.


Janji

Bagi orang dewasa, janji bisa mereka ingkari dengan mudah

bila dilakukan dengan anak-anak

Bagi orang dewasa, janji bukanlah hal yang penting

bila dilakukan dengan anak-anak

Tapi bagi kami anak-anak

Janji bukanlah hal yang bisa dengan mudah di ingkari

Baik dilakukan dengan sesama anak-anak

Ataupun dilakukan dengan orang dewasa

Janji adalah hal yang mutlak

Tak ada ampun bagi mereka yang mengingkarinya

.

.

.

BLUE SAPPHIRE

.

.

.

II

Dimana ini?

Tanya Killua dalam hati, saat dia mendapati dirinya sedang berada di tengah-tengah pepohonan yang rimbun nan teduh. Bau hutan yang menyenangkan terbawa angina dan tercium begitu manis.

"tunggu Gon, jangan menarikku begitu! Kita mau kemana sebenarnya?" sebuah suara yang mirip, bahkan persis dengan suara Killua terdengar dari kejauhan.

Killua menoleh, mencoba melihat siapa yang berbicara. Tak lama setelah itu, seorang bocah berambut jabrik dengan kulit terbakar matahari, nampak berlari-lari seraya menarik seseorang yang ada dibelakanganya. Bocah jabrik itu mengenakan seragam musim panas akademi. Killua menatap bocah itu lama-lama, dia teringat seseorang yang mirip dengan bocah itu. Ah… dia bocah lemah yang menangis di rumah sakit kemarin.

"Ayo Killua! Jangan lambat begitu, aku ingin menunjukkan tempat yang saaaangaaaaaat hebat padamu!" kata bocah jabrik itu dengan semangat.

Dibelakangnya, seorang bocah berambut putih keperakan yang acak-acakan terlihat mengikuti bocah jabrik dengan susah payah.

Itu… aku?

Tiba-tiba kegelapan menutupi semua pemandangan yang ada didepannya. Walau terkejut, ekspresi Killua tiada bergeming. Tetap dingin dan tanpa ekspresi. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi sejauh ia memandang, hanya kegelapan yang nampak. Kemudian, sebuah cahaya biru menyilaukan ekor matanya. Killua menoleh ke arah cahaya itu, dan melihat dirinya sendiri di sana. Pantulan dirinyakah? Bukan. 'Killua' yang dia lihat sedang menatapnya dengan panik bercampur sedih. Mulut 'Killua' terbuka dan tertutup seperti sedang mengatakan sesuatu, namun suaranya tiada terdengar.

Apa? Apa yang hendak dikatakannya? Killua maju perlahan menuju 'Killua' yang terus meneriakkan sesuatu. 'Killua' meninju sesuatu yang tak kasat mata dengan frustasi. Ah… jadi di sana ada pemisah? Killua mendekat, dan menjulurkan tangannya, hendak menjamah pemisah yang tak kasat mata itu.

Tapi tiba-tiba sebuah tangan seputih salju terentang dihadapannya. 'Killua' terkejut dan semakin meninju pemisah, meneriakkan sesuatu yang tak terdengar dan menggeleng dengan panik.

Killua memandang si pemilik tangan yang ternyata adalah seorang anak perempua berumur sekitar sepuluh tahun, berambut ikal hitam, bermata bulat hitam, bergaun hitam, dan sedang tersenyum dingin bercampur kesenangan padanya.

-tidak boleh…- kata anak perempuan itu. Suaranya bergema di hati Killua, suatu gema yang mengingatkannya akan sesuatu. Déjà vu? Pikir Killua.

-kau tidak boleh melihat ini. Ini adalah bagian dari perjanjian kita. Kau, aku, ataupun dia…— anak perempuan itu menunjuk 'Killua' yang terbalut cahaya biru, dan yang sedang berkeringat panik. –tak ada seorangpun dari kita yang boleh melanggar perjanjian itu.—

Tiba-tiba tubuh Killua tak bisa digerakkan. Killua menggerakkan bola matanya ke arah 'Killua' dan membaca gerak mulutnya. JANJI.

-sampai jumpa lagi, Killua-kun—

Lalu pemandangan menjadi putih dan berganti dengan pemandangan langit-langit kamar asramanya. Bocah berambut putih itu mengerjap-ngerjapkan matanya.

Mimpi? Tanyanya dalam hati kelabu.

Killua mendudukkan tubuhnya, termenung dalam kehampaan. Secercah cahaya menerobos sela-sela gorden yang tak tertutup dengan benar. Menghangatkan tangan Killua yang putih dan nampak dingin. Hangat. Killua menarik tangannya menjauhi secercah cahaya itu, seolah cahaya itu menyakitinya. Dan mungkin memang begitu.

Perlahan dia menatap jendela, diluar sana, cahaya matahari bersinar gemilang, memberkati seluruh dunia. Memberkati seluruh dunia…

Diluar sana begitu terang… namun mengapa hanya tempatku yang tetap kelam?


"Gon, suster mengantarkan makan siang untukmu." Kata Biscuit pada bocah jabrik yang tengah memandangi langit dari jendela kamarnya tanpa ekspresi. "Dimakan ya, Gon?" Biscuit menyendokkan sesendok bubur ke depan mulut Gon, yang kini menatapnya. Hati Biscuit terasa perih tatkala melihat bola mata cokelat milik Gon yang kini tak memiliki cahaya kehidupan. "Gon? Ayo dimakan…" Biscuit masih berusaha menyuap bocah yang merupakan sahabatnya itu. "Gon… ayolah…" Biscuit akhirnya menyerah dan meletakkan kembali sendok tersebut ke mangkuk berisi bubur.

Biscuit mendesah lelah, lalu meletakkan kembali sup itu ke meja yang ada diatas kaki Gon. Sudah tiga hari, Gon tak mau makan. Bahkan minum setetes airpun tiada keinginannya. Perilakunya yang seakan memasrahkan diri pada kematian menambah masalah kesehatannya, sehingga dokter harus memasang infus pada Gon sebagai pengganti makanan.

"Tapi dia tetap harus makan bagaimanapun juga." Kata Dokter waktu memasang infus itu.

"karena makan adalah tanda bahwa dia ingin hidup" Biscuit menutup mata dan mendesah kala mendengar kata-kata Dokter saat itu—sehari setelah Killua menghilang— Kalimat itu terngiang ditelinganya berkali-kali, seperti mantra.

Biscuit membuka matanya, dan memandang ke tangan Gon yang semakin hari semakin kurus. Biscuit ingin menangis kala melihat bibir kering karena kekurangan air itu. Gadis itu gemetar dalam ketakutan yang dahsyat saat membayangkan Gon akan meninggalkannya dari dunia menyedokkan bubur itu sekali lagi, "Gon, makanlah…" Gon tiada bergeming, Biscuit bisa merasakan air mata mulai membasahi pipinya, "Kumohon…" pintanya dengan sedih, "Makanlah…" tapi Gon hanya menatapnya dengan tatapan kosong.

Kemarahan Biscuit bangkit. Dengan jengkel dia menampar Gon yang tiada memberikan balasan, "Dasar BODOH!" pekiknya, gadis itu menggebrak meja, "MAKAN! Makanlah Gon! Kau harus makan! Kalau begini terus kau akan mati," Biscuit terisak sendu, "Kau akan mati tanpa mengetahui alasan dibalik perginya Killua dari hidupmu!"

Jeritan dan isakan Biscuit mengena di lubuk hatinya yang terdalam. Suara Killua kembali terngiang di telinganya. Kata-kata sahabatnya kembali terdengar. Percakapan mereka kembali muncul di kepala Gon, percakapan saat Gon berada di antara garis hidup dan mati…

"JANGAN!"

Nggiiiiiing~

Sebuah suara berdenging ditelinganya. Suara yang membangkitkan kenangan lama. Suara bernada percaya diri yang menyebalkan bercampur nada nakal yang menyenangkan. Perlahan, Gon membuka matanya. Ditengah-tengah dunia keputusasaan yang dingin itu, berdirilah seorang bocah berambut putih sembari berkacak pinggang dengan mimik siap-siap mengomel.

'Killua?'

Killua maju dengan kecepatan penuh, dan mencubit pipi Gon sekuat tenaga, membuat bocah jabrik itu kesakitan dan kebingungan.

"Dasar bodoh! Jangan pasrahkan dirimu begitu saja dong, pikirkan juga orang yang mengkhawatirkanmu!" pekik Killua, " Sudah kubilang berkali-kali kan? Itu bukan salahmu. Kecelakaan itu bukan salahmu, dan kematiannya juga bukan salahmu. Tak ada yang perlu kau sesali, kau tak perlu merasa bersalah dan HIDUPLAH! Kenanglah dia dengan indah, karena hanya itu yang kau dan aku bisa lakukan."

Gon mengambil sendok yang dibuang Biscuit kembali ke mangkok dan menyendok buburnya, memasukkan sesendok penuh bubur, menelannya dengan penuh rasa syukur. Menyendok sesuap lagi, lagi dan lagi. Sampai bubur tawar itu terasa asin karena air matanya sendiri.

"HIDUPLAH!" kata-kata Killua kembali mengusik batinnya, dia merasa bodoh telah melupakan perkataan Killua.

"Bisuke, maafkan aku… aku akan makan… aku akan hidup… maafkan aku Bisuke…" kata Gon, seraya terus menelan bubur yang asin karena air mata. "Maafkan aku, padahal kau sudah terluka karena membukakan jalan untuk kami bertiga."

Biscuit tersentak samar, punggungnya mulai terasa nyeri dan sedikit panas. Luka dipunggungnya mulai berdenyut lagi.


"Kalian benar-benar mau melakukannya?" tanya Biscuit dengan terkejut.

"sstt… kecilkan suaramu Bisuke!" Gon meletakkan telunjuknya di depan bibirnya dengan panik seraya menengok ke kanan dan ke kiri, seolah takut ada yang menguping percakapan mereka. Biscuit spontan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan secara imut.

"tenanglah… semua sudah kembali ke asrama, tak ada yang akan mendengar kita." Kata Killua yang sedang duduk di atas meja.

"ka-kalian serius?" tanya Biscuit khawatir.

Gon dan Killua saling bertatapan, mengangguk, lalu tersenyum pada Biscuit.

"ya," kata Gon.

"Kami serius." Lanjut Killua.

Biscuit membuka mulutnya seakan akan mengatakan sesuatu, tapi dia mengatupkan mulutnya kembali dan menatap lantai dengan sedih. Biscuit meremas rok musim panasnya yang mengembang lalu berkata, "Jadi, kalian bertiga akan pergi? Apa dia sudah tahu rencana kalian?"

Gon terbelalak, dia menoleh sedih ke arah Killua yang sekarang termenung.

"Belum." Jawab Killua, "Aku belum mengatakan apapun padanya. Tapi, hari ini aku akan mengatakannya."

"Kalian gila?" tanya Biscuit frustrasi, "Kalian pikir, hal yang ingin kalian lakukan itu mudah?"

"TIDAK!" Sergah Gon, "aku tahu, kalau itu sulit. Tapi aku, kami, harus melakukannya… harus…"

Biscuit menundukkan kembali kepalanya, kemudian mendongak dan berkata pada mereka, "Aku yang akan membukakan jalan untuk kalian!"

Sehari setelah berkata demikian, Biscuit dicambuk, dan bekas cambukan itu akan terus ada selamanya. Tapi, Biscuit tak pernah menyerah. Dia terus mengulangi aksinya walau berkali-kali tertangkap. Sampai akhirnya, suatu hari, Gon dan Killua menerima pesan singkat melalu ponsel—yang Killua sembunyikan di bawah kasurnya— yang berbunyi:

Aku berhasil! Aku sudah bukakan jalan untuk kalian! Segeralah menyusulku!


"hei…" 'Killua' memanggil seseorang.

-ada apa? 'Killua'?— Tanya sang gadis kegelapan yang tengah duduk mengambang di udara, di dunia yang segalanya terlihat biru dan hitam.

"kenapa aku bisa melihat diriku tadi." Kata 'Killua', "diriku yang… dulu."

Gadis kegelapan itu hanya tersenyum saja, mengabaikan 'Killua' sama sekali.

"Aku tak mengerti… aku seharusnya sudah kembali menjadi diriku yang dulu, tapi mengapa aku malah ada disini, di tempat yang tak kuketahui ini? Mengapa, aku bisa melihat diriku yang dulu? Apa, yang sebenarnya kau lakukan padaku?"

-kau bukan Killua— kata si gadis kegelapan, -kau hanya 'Killua'—

"aku… tak mengerti."

-kau adalah 'Killua'. Kau, hanyalah ingatan Killua, dengan kata lain, kau adalah Killua sesudah mengenal Gon. Mengerti maksudku?—

Gadis kegelapan itu menatap 'Killua' yang matanya masih menuntut penjelasan.

"Jadi… sebenarnya ini ada dimana?"

Gadis itu hanya tersenyum saja, membiarkan 'Killua' dalam perasaan penasaran yang menyiksanya.


Killua menatap dirinya di cermin. Mengamati bentuk rambutnya yang putih keperakan dan berantakan, matanya yang tajam dan dingin, bibirnya, kulitnya yang bening, seragam musim panas yang dikenakannya—kemeja putih tanpa lengan, ditumpuk rompi hitam berbuntut, celana pendek hitam selutut, dan sepatu bot— semuanya nampak sama seperti biasanya. Killua menyentuh cermin. Ya, semuanya sama saja, tapi entah mengapa ada sesuatu yang sepertinya hilang dari dirinya. Ada sesuatu yang kurang. Dasi? Killua menggeleng, bocah itu tak pernah mengenakan dasinya sama sekali.

Sesuatu menarik perhatian Killua. Dia menatap lekat-lekat benda yang ada di telinganya. Sebuah anting berbentuk wajik tiga dimensi yang terbuat dari batu safir biru berayun perlahan di telinga kanannya. Killua menatap anting ditelinganya dengan sedikit bingung. Sejak kapan dia memakai anting? Apakah memang dia memakai anting sedari dulu?

Killua menyentuh anting itu perlahan, sangat perlahan, seolah takut menghancurkannya. Suatu perasaan hangat yang menenangkan jiwanya menjalari seluruh tubuhnya, membungkusnya dalam perasaan hangat yang rasanya pernah dia rasakan dulu sekali. Killua menutup matanya, membiarkan dirinya dimabukkan oleh perasaan nyaman itu.

Suatu imaji berkelebat angannya, imaji akan mimpinya. Imaji saat 'Killua' membuka dan mengatupkan mulutnya, membentuk sebuah kata; JANJI. Killua tak mengerti maksudnya. Janji? Killua tak ingat pernah berjanji pada seseorang. Killua melepas genggamannya dari antingnya, menyentuhnya lagi dengan ujung jemari, dan akhirnya melerakannya. Bocah itu berbalik, dan melangkah keluar dari kamar asramanya.


Biscuit merapikan piring yang digunakan Gon untuk makan dengan bahagia. Perasaannya sedikit agak tenang setelah melihat Gon mau makan. Biscuit melirik pada bocah yang ada di sampingnya, Gon kembali menatap keluar jendela dengan tatapan sendu. Biscuit merendahkan pandangannya dan mendesah.

"Bisuke…" panggil Gon.

"y-ya?"

"apakah dia sudah dikuburkan?" tanya Gon. Bocah itu masih memandang ke kejauhan, membelakangi Biscuit. Tapi Biscuit tahu, bibir bocah itu gemetar.

"belum… dia masih di ruang mayat." Jawab Biscuit. "kau mau melihatnya, Gon?"

Gon terdiam sejenak lalu menjawab, "ya… aku mau melihat Alluka untuk terakhir kalinya."


A/N: yaaayy~ aku dah buka kartu truf-ku! XD R&R Pleaseee!