Summary : Jaejoong yang menyukai Siwon menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Siwon. Tapi sebuah kesalahan membuat mantra yang ditujukan bukan untuk Siwon melainkan pada Yunho, namja yang paling ditakutinya. Apa yang akan terjadi?
Cast : YunJae, 2Min, slight YooSu, MinKyu.
Desclaimer : YunJae saling memiliki, begitu juga dengan 2Min. ^_^
Warning : YAOI, typo berkeliaran, cerita yang gejenya selangit, dan humor gak jadi (?).
,
,
Jaejoong melotot tidak pecaya dengan apa yang dia dengar. Seorang Jung Yunho, salah satu namja mengerikan dimuka bumi menurutnya sedang memeluknya dan menyatakan cinta.
Siwon dan Minho hanya mengerjapkan matanya melihat kejadian langkah ini. Mungkin jika Yunho artis papan atas, sudah pasti ini akan menjadi berita utama selama bertahun-tahun.
"Jaejoongie..Saranghae.." ucap Yunho yang membuat Jaejoong tersadar dari keterkejutannya.
"Su..sunbae.." ucap Jaejoong sambil berusaha melepas pelukan Yunho yang semakin erat ditubuhnya.
Yunho melepas pelukannya tapi tangannya masih tetap bertengger dipinggang Jaejoong.
Cupp..
Yunho mencium pipi kanan Jaejoong dengan sayang yang membuat semua yang ada disana kembali terkejut, terutama Jaejoong.
Setelah melepas ciumannya, Yunho menatap Jaejoong sambil tersenyum manis. Jaejoong menatap Yunho tidak percaya, lalu mengusap bekas ciuman Yunho dipipinya. Jaejoong yang masih polos dan belum tersentuh oleh namja manapun merasa tersinggung atas perbuatan Yunho. Dengan nafas yang terengah-engah dan menatap Yunho tajam, Jaejoong mengangkat tangannya dan bersiap-siap.
Plakk..
Jaejoong menampar Yunho cukup keras terbukti dari Yunho yang langsung jatuh terduduk.
"KYAAA!" Jaejoong mengacak rambutnya frustasi lalu berlari meninggalkan Yunho.
"Yunho-ah, gwaenchana?" tanya Yoochun setelah mendekati Yunho.
"Dasar namja gila, akan kuhabisi dia, hyung." Changmin sudah akan berdiri mengejar Jaejoong tapi lengannya ditahan oleh Yunho.
"Jangan. Biarkan saja, Changmin-ah. Aku justru merasa senang."
"Mwo?" tanya Yoochun dan Changmin bersamaan.
"Kulitnya sangat halus seperti bayi." Gumam Yunho lalu tersenyum mesum.
Yoochun menghela nafas sedangkan Changmin menggeleng-gelengkan kepalanya. Minho menggaruk belakang kepalanya, bingung dengan apa yang barusan menatap Siwon yang ternyata juga menatapnya.
"Minho-ssi, boleh aku ikut kekelasmu?" tanya Siwon setelah menghampiri Minho.
"Ne? untuk apa sunbae?" tanya Minho heran.
"Yang menyatakan cinta pada Jaejoong kan Yunho sunbae. Lalu kenapa Siwon sunbae mau menemui Jaejoong? Aigoo..apa sejak awal memang mantranya tidak mengenai Siwon sunbae? Berarti Siwon sunbae hanya ingin bicara biasa pada Jaejoong." Gumam Minho dalam hati.
"Ne sunbae. Kajja." Ajak Minho yang dibalas anggukkan dari Siwon.
"Ya! Mau kemana kau, Choi Siwon?" tanya Yunho setengah berteriak yang membuat duo Choi itu berhenti.
"Aku mau kekelas Kim Jaejoong, Yunho-ssi." Jawab Siwon setelah berbalik menghadap Yunho.
"Enak saja. Apa kau sudah ijin padaku?"
"Mwo?" tanya Siwon heran. Yunho maju beberapa langkah mendekati Siwon yang membuat siswa-siswa yang masih ada disana menahan nafas, takut jika Yunho melakukan tindakan kekerasan pada Siwon.
"Mulai sekarang, apapun yang berkaitan dengan Kim Jaejoong harus terlebih dahulu melapor kepadaku." Jawab Yunho dengan wajah dingin yang membuat bulu kuduk Minho merinding.
"Memang kau siapanya?" tanya Siwon sedikit terdengar polos tapi terdengar seperti tantangan bagi Yunho.
"Dia namjachinguku."
"Jinjja? Aku tidak pernah mendengar kau berpacaran dengan Kim Jaejoong."
Greepp..
Kyaa..kyaa..
Jerit yeoja dan para uke saat Yunho mencengkram kerah seragam Siwon yang membuat Siwon menelan ludahnya gugup. Ya, sebenarnya Choi Siwon juga tidak memiliki nyali untuk berhadapan dengan Jung Yunho.
"Jangan banyak bicara tuan muda Choi. Mulai hari ini dan seterusnya, Kim Jaejoong mutlak milikku. Jika macam-macam dengannya, aku tidak segan-segan untuk mematahkan lehermu." Ucap Yunho dingin lalu melepaskan kerah Siwon dengan kasar sehingga membuat Siwon hampir terjungkal kebelakang. Siwon memandang Yunho kesal lalu meninggalkan Yunho and the gank dan Minho.
Changmin tersenyum licik lalu melipat tangannya didada, merasa senang dengan apa yang dilakukan hyungnya ini. Memang sejak dulu Changmin tidak menyukai Siwon karena dia telah membuat namjachingunya sekarang hilang entah kemana.
"Kau. Tetap disini." Tunjuk Yunho pada Minho yang membuat Minho reflek mengangguk.
"Dan kalian semua, bubar sekarang juga. Kalian pikir ini pertunjukan sirkus eoh. Bubar. BUBAR!" teriak Yunho sampai menggema sampai lorong sekolah. Semua kerumunan telah bubar, ada yang memaki Yunho karena berbuat kasar pada Siwon dan masih banyak lagi caci makian untuk Yunho. Yunho mendengus mendengar caci makian itu, tapi saat ini Yunho sedang tidak mood untuk berkelahi.
"Namamu Choi Minho kan?"
"N..Ne sunbae." Jawab Minho gugup.
"Ikut aku." Yunho menyeret Minho paksa, Yoochun serta Changmin mengikuti bos mereka itu dari belakang.
,
"Hiks..Hiks.." isak Jaejoong sambil menelungkupkan wajahnya ditangannya, tidak dihiraukannya ucapan-ucapan teman sekelasnya tentang ungkapan cinta dari Yunho untuknya.
Junsu yang tadi tidak berangkat bersama namjachingunya karena harus mencontek tugas rumah matematika diberitahu oleh teman-teman sekelas tentang apa yang terjadi antara Yunho dan Jaejoong dilorong sekolah tadi.
"Jaejoong-ah." Panggil Junsu akrab pada Jaejoong karena memang selama ini Junsu tidak dekat dengan Jaejoong.
"Hiks..Hiks.."
"Uljima, jangan menangis lagi ne."
"Bagaimana aku tidak menangis, namja paling mengerikan dalam hidupku mengatakan cinta padaku dan lebih parahnya dia menciumku." Gumam Jaejoong dalam hati. Jaejoong tidak berani mengatakannya langsung pada Junsu, karena Junsu termasuk dalam gank Yunho.
"Jaejoongie.." panggil Yunho lembut saat sudah masuk kekelas Jaejoong. Dan semua siswa yang ada dikelas Jaejoong langsung diam tidak ada yang berani bersuara sehingga kelas itu seperti tak berpenghuni.
"Yunho hyung.."panggil Junsu memecah keheningan.
Yunho mengangguk pada Junsu lalu mendekat kebangku Jaejoong yang berada dideretan nomor dua dari belakang. Minho mendengus sebal karena Yunho dari tadi menariknya seperti menarik peliharaannya sendiri.
"Jaejoongie.." panggil Yunho lembut yang membuat Jaejoong bergidik.
"Kenapa menangis eoh?" tanya Yunho lalu menarik lengan Junsu paksa agar menyingkir dari kursi Minho setelah melepas tarikannya dari tangan Minho.
"Ya! Hyung.." protes Junsu tidak terima dan langsung menghambur kepelukan namjachingunya, Yoochun.
"Apa ada yang menyakitimu?" tanya Yunho lalu menghapus air mata yang masih menghiasi wajah cantik Jaejoong.
"A..Aniya.." jawab Jaejoong pelan tapi masih bisa didengar oleh Yunho.
"Lalu kenapa kau menangis?"
"A..aku kelilipan sunbae." Jawab Jaejoong asal tanpa menatap Yunho.
Teng..teng..
"Syukurlah, terima kasih lonceng. Kau menyelamatkan hidupku." Syukur Jaejoong dalam hati.
"Sudah masuk hyung. Ayo kita pergi dari sini." Ajak Changmin.
"Kajja, Yunho-ah." Tambah Yoochun sambil mengusap rambut Junsu.
"Siapa yang duduk disamping Jaejoongie?" tanya Yunho lembut tapi tetap terdengar tajam dan menusuk.
"Aku sunbae." Jawab Minho sambil mengangkat tangannya.
"Kau pindah tempat duduk." Ucap Yunho lalu bangkit berdiri.
"Mwo?"
"Junsu-ah, dimana tasmu?"
"Ada dibarisan nomor dua dari depan, hyung. Wae?" tanya Junsu tak kalah heran.
Yunho mengambil tas Junsu lalu meletakkan tas Junsu dibangku sebelah Jaejoong.
"Mulai sekarang kau duduk dengan Jaejoong, Junsu-ah. Dan kau, duduk ditempat Junsu sebelumnya." Yunho menunjuk Minho yang membuat Minho menggaruk belakang kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.
"Mwo?"Jaejoong mengusap bekas air mata dipipinya lalu menatap Yunho heran. Yunho tersenyum pada Jaejoong lalu kembali duduk dikursi Minho.
"Mulai sekarang kau dalam pengawasanku." Jawab Yunho dengan mengusap kepala Jaejoong yang membuat Jaejoong melotot dan sedikit menggeserkan kepalanya untuk menghindari usapan Yunho tapi sayangnya Yunho tidak menyadari itu.
"Junsu-ah, jaga Jaejoongie dengan baik. Jika terjadi sesuatu padanya segera beritahu Minho atau langsung padaku."
"Ne hyung." Jawab Junsu.
"Dan kau Minho, jika Junsu memberitahumu atau kau melihat sendiri Jaejoongie diganggu atau didekati namja atau yeoja lain segera hajar mereka atau jika kau merasa tidak sanggup kau bisa langsung memberitahuku. Kau sekelas dengan Jaejoongie sehingga kau bisa lebih memantau Jaejoongie daripada aku. Arra?" perintah Yunho tegas yang membuat Minho melongo tak percaya. Ditatapnya Jaejoong yang hanya menundukkan kepalanya.
"Ke..kenapa harus aku, sunbae?"
"Karena aku tahu kau bisa berkelahi dengan baik. Wae? Kau tidak mau?" Yunho menatap Minho tajam yang membuat nyali Minho menciut.
"Aniya, saya tidak keberatan, sunbae. Tapi, kenapa saya harus pindah tempat duduk? Saya kan masih bisa memantau Jaejoong tanpa harus pindah tempat duduk." Tanya Minho yang membuat Jaejoong mendongak mendapat Minho dengan tersenyum.
"Pertanyaan yang bagus, Minho-ah." Gumam Jaejoong dalam hati. Jaejoong tersenyum dibelakang Yunho.
"Aku tahu kalau kau seme. Aku tidak akan membiarkan Jaejoong terlalu dekat dengan seme sepertimu."
"Mwo?"
"Bagiku kau namja playboy dan mesum kedua setelah Yoochun."
"Ya!" protes Yoochun.
"Jaejoongie lebih aman kalau dengan Junsu yang sesama uke." Tambah Yunho lalu berbalik menatap Jaejoong yang mempoutkan bibirnya imut.
Yunho terdiam menatap Jaejoong dengan pandangan yang sulit diartikan. Tapi bagi Jaejoong itu adalah tatapan yang paling mengerikan yang pernah dia lihat.
Yunho mendekatkan wajahnya ke Jaejoong yang membuat semua penghuni dikelas Jaejoong menahan nafas. Jaejoong membeku, dia heran kenapa dia tidak berusaha menghindar. Padahal bisa saja dia mendorong Yunho untuk menghentikan kegiatannya.
"Selamat pagi anak-anak." Sapa Kangta sonsaengnim.
Semua siswa yang ada disana menoleh pada Kangta, sedangkan Kangta melotot tak percaya melihat Yunho yang mendekatkan wajahnya ke Jaejoong dan jarak wajah mereka sekarang tak lebih dari satu cm.
"Jung Yunho." Yunho menjauhkan wajahnya lalu berdecak kesal.
Yunho menoleh dan menatap Kangta tajam, Kangta menelan ludahnya gugup. Sedangkan Jaejoong mengusap dadanya, benar-benar bersyukur dengan kedatangan Kangta.
"Mi..Mian jika aku mengganggu kegiatanmu, tapi sekarang waktunya jam pelajaran berlangsung." Jawab Kangta berusaha setenang mungkin.
"Kajja hyung. Kita kembali kekelas." Ajak Changmin lalu mendahului kedua hyungnya keluar kelas Jaejoong.
"Aku kembali kekelas dulu ne. Saranghae." Ucap Yunho lalu mencium kening Jaejoong yang membuat yang punya kening mendengus pasrah.
Kangta melongo tak percaya melihat pemandangan yang disuguhkan Yunho. Seorang Park Jaejoong yang pendiam dan berprestasi berpacaran dengan Jung Yunho. WTH?
"Apa Jaejoong tidak salah memilih namja? Aigoo..anak muda jaman sekarang." Gumam Kangta dalam hati.
"Kajja Chun." Yoochun mengangguk lalu tersenyum manis pada Junsu, mengikuti Yunho keluar dari kelas Jaejoong.
Kangta dan siswa lain menatap kedua namja sangar itu sampai keluar dari kelas.
Blamm..
Setelah pintu tertutup, Kangta dan siwa lainnya ganti menatap Jaejoong yang membuat Jaejoong risih. Setelah Minho dan Junsu duduk ditempat duduk yang diatur oleh Yunho, Kangta melanjutkan pelajarannya.
"Apa perlu aku menanyakan Jaejoong tentang dia yang berpacaran dengan Yunho? Aishh..kalau aku bertanya yang tidak-tidak dan ketahuan Yunho bisa mati dicekik aku. Aku belum menikah dan masih sayang nyawa." Gumam Kangta dalam hati sambil mengusap lehernya karena membayangkan dia yang dicekik Yunho.
"Arra, buka buku kalian dan setelah aku menjelaskan bab ini, kalian langsung kerjakan soal latihannya ne."
Semua siswa mengeluarkan buku dan buku catatan mereka dan mendengarkan setiap materi yang diajarkan Kangta.
,
Teng..teng..
"Akhirnya jam istirahat tiba juga." Junsu mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi lalu memutar tubuhnya kekiri dan kekanan. Jaejoong tersenyum melihat tingkah kekanakan Junsu.
"Sayang sekali namja seimut Junsu menjadi namjachingu Park Yoochun. Jadi penasaran kenapa Junsu mau jadi namjachingunya." Gumam Jaejoong dalam hati.
"Joongie, kajja kita kekantin." Ajak Junsu yang membuat Jaejoong terkejut.
"Joongie? Kau memanggilku Joongie?" tanya Jaejoong sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Ne, kau akan menjadi istri Yunho hyung, jadi kau akan jadi kakak iparku juga. Hehe." Jaejoong mempoutkan bibirnya yang membuat Junsu tertawa.
"Apa yang kalian tertawakan?" tanya Minho tiba-tiba.
"Aniya, kajja Joongie kita kekantin." Junsu langsung menarik Jaejoong saat Jaejoong mengeluarkan kantong bekalnya.
"Ju..Junsuie.." Jaejoong hampir menjatuhkan bekalnya karena cepatnya Junsu menarik tangannya.
"Ya! Tunggu aku eoh." Minho mengejar Junsu dan Jaejoong keluar kelas.
Setelah mereka bertiga sampai dikantin, Junsu mengedarkan pandangannya untuk mencari namjachingunya.
"Chunnie." Panggil Junsu setengah berteriak yang membuat Yoochun mendongak dan tersenyum sambil melambaikan tangannya pada Junsu.
Junsu tersenyum lalu menarik Jaejoong menuju bangku Yoochun dan Changmin duduk. Minho mengikuti dua uke itu bersamaan dengan Yunho yang selesai memesan makanan.
"Jaejoongie.." panggil Yunho saat melihat Jaejoong sudah duduk disamping Changmin.
"Annyeong sunbae." Jawab Jaejoong dengan menunduk.
"Hyung!." Protes Changmin saat Yunho menarik tangan Changmin paksa.
"Kau duduk dengan Minho." Perintah Yunho yang dibalas gerutuan tak jelas dari Changmin.
Minho menepuk punggung Changmin. Meski tidak terlalu dekat, Minho dan Changmin pernah sekelas saat masih kelas satu. Karena Changmin jenius dia jadi naik satu tingkat diatas Minho.
Yunho tersenyum pada Jaejoong yang dibalas Jaejoong dengan senyuman gugup dan sedikit menggeser tubuhnya untuk menjauhi Yunho.
"Kau bawa bekal sendiri?"
"Ne." jawab Jaejoong tanpa menoleh ke Yunho. Jaejoong membuka tutup kotak bekalnya dan nampak sup kimchi yang terlihat enak dan menggiurkan bagi Yunho.
"Minho-ah, kau mau minta?" tawar Jaejoong yang membuat Yunho mempoutkan bibirnya.
"Kenapa kau menawari Minho?" tanya Yunho dengan nada cemburu.
"Ne?" tanya Jaejoong dengan menoleh ke Yunho.
Yunho mendengus, lalu menyerahkan makanannya pada Minho.
"Makan punyaku saja."
Mereka berempat saling berpandangan, lalu Minho mengangguk. Kemudian Junsu dan Yoochun memulai makan mereka dengan saling menyuapi, sedangkan Minho dan Changmin mulai sibuk dengan makanannya sendiri.
Jaejoong masih memandang Yunho bingung. Lalu dia terkejut saat Yunho menarik kotak bekalnya.
"Sepertinya enak. Boleh aku minta?" Jaejoong mengangguk. Entah kenapa dia dengan mudahnya mengangguk.
"Sumpitnya hanya satu ya. Kalau begitu kau suapi aku ne." Yunho memberikan kotak bekal Jaejoong kembali.
"Aa…" Yunho membuka mulutnya sampai tindiknya yang ada dilidahnya terlihat jelas.
Changmin menahan tawanya melihat kelakuan Yunho yang persis seperti anak kecil, sedangkan pasangan YooSu tersenyum aneh melihat Yunho.
"Mantra Kyuhyun-ssi benar-benar hebat. Jung Yunho yang seperti singa sekarang seperti kucing yang minta makan pada majikannya." Gumam Minho sambil tersenyum geli.
"Ta..tapi sunbae.."
"Wae? Kau tidak mau?" tanya Yunho kecewa.
Yunho mengeluarkan jurus puppy eyesnya, membuat Jaejoong bergidik lagi dan ingin berlari meninggalkan kantin saat itu juga. Sumpah demi gajah diseluruh kebun binatang, Yunho makin menyeramkan dimata Jaejoong jika seperti itu.
Dengan sedikit menjaga jarak kurang lebih sepuluh cm, Jaejoong menyuapkan makanan ke Yunho tanpa menatapnya. Yunho tersenyum disela-sela kunyahannya. Makanannya jadi terasa lebih enak jika Jaejoong yang menyuapi.
"Mashita." Jaejoong menoleh dan melihat senyuman tulus Yunho.
"Gomawo." Jawab Jaejoong pelan. Entah kenapa dia merasa senang Yunho memuji masakannya.
"Jaejoong-ssi." Panggil Siwon yang membuat Jaejoong menoleh.
"Siwon sunbae." Jaejoong sedikit merona saat Siwon menghampirinya tapi tidak dengan Yunho. Namja itu menatap Siwon tajam dan menusuk.
"Mian kalau aku mengganggumu." Siwon melirik Yunho dan sedikit takut melihat tatapan tajam Yunho.
"Aniya sunbae, ada apa?" Jaejoong meremas sumpit yang digenggamnya karena gugup.
"Apa Siwon sunbae akan menyatakan cinta ya? Tapi kan Yunho sunbae yang lebih dulu menyatakan cinta pada Jaejoong?" gumam Minho dalam hati.
Semua yang ada dikantin menatap Siwon dan Jaejoong. Terdengar cibiran dan makian untuk Jaejoong yang sedikit membuat Yunho emosi.
"Apa kemarin kau melihatku bersama Kevin didalam kelasku?" tanya Siwon sedikit canggung.
"Mwo?"
"Apa kau orangnya?" tanya Siwon lagi.
Jaejoong menundukkan kepalanya, ternyata Siwon tidak menyatakan cinta melainkan menanyakan hal yang membuat Jaejoong sakit hati.
"Jaejoong-ssi."
"Ne sunbae. Mianhae." Jawab Jaejoong dengan masih menunduk.
"Aku yang harusnya minta maaf. Kau jadinya harus melihat itu." Siwon menggaruk belakang kepalanya.
"Apa sudah selesai?" tanya Yunho tiba-tiba.
"Ne?"
"Jika sudah selesai, silahkan pergi dari sini." Ucap Yunho dingin.
"Ne Yunho-ssi. Mianhae. Jaejoong-ssi mianhae ne." setelah Jaejoong mengangguk, Siwon meninggalkan bangku Yunho and the gank dan Jaejoong.
Jaejoong menggigit bibir bawahnya lalu menatap Minho. Minho tersenyum seolah-olah memberi semangat pada Jaejoong.
"Jaejoongie, a lagi." Yunho menunjuk mulutnya yang terbuka, tanpa banyak berfikir Jaejoong menyuapi Yunho lagi. Hatinya benar-benar sakit saat ini.
,
Jaejoong mencatat apa yang diterangkan oleh Han sonsae. Dia berusaha berkonsentrasi tapi entah kenapa bayangan ucapan Siwon tadi terngiang ditelinganya.
"Apa Siwon sunbae memang berpacaran dengan Kevin?" gumam Jaejoong dalam hati.
Siwon memang banyak digosipkan dengan banyak yeoja atau namja cantik, tapi dia selalu membantah apabila memang dia tidak memiliki hubungan khusus itu. Tapi saat digosipkan dengan Kevin atau Tiffany, Siwon tidak membantah sama sekali.
"Park Jaejoong." Panggil Han sonsae.
"….."
"Park Jaejoong." Panggil Han sonsae dengan sedikit meninggikan suaranya.
Jaejoong tidak menyahuti panggilan Han sonsae dan tetap mencoret-coret bukunya. Junsu menyenggol tangan Jaejoong tapi Jaejoong tidak sadar juga.
"PARK JAEJOONG!." Jaejoong terkejut mendengar suara Han sonsae.
"Apa yang kau lakukan? Aku memanggilmu tapi tidak kau jawab. Kau sakit?"
"A..Aniya. Maafkan saya." Jaejoong menundukkan kepalanya.
"Arra, aku butuh bantuanmu. Bawa buku-buku ini keperpustakaan ne. Bukunya tidak terlalu banyak kok." Jaejoong mengangguk lalu bangkit dari duduknya.
Setelah Jaejoong sampai didepan Han sonsae, Han sonsae memberikan buku yang memang tidak terlalu banyak tapi tebalnya mencapai 5-10 cm. Jaejoong merasa kewalahan karena memang tubuhnya bisa dikatakan kurus dan kecil.
"Hati-hati ne." pesan Han sonsae.
Jaejoong mengangguk, lalu berusaha berjalan meskipun buku yang dia bawa menghalangi jalannya. Minho dan Junsu menatap Jaejoong khawatir, mereka ingin sekali membantu tapi Han sonsae sudah melanjutkan pelajarannya lagi.
Jaejoong menaiki tangga dengan perlahan-lahan. Sedikit ngos-ngosan karena menaiki tangga dan membawa buku yang tebalnya minta ampun. Setelah menaiki tangga, Jaejoong bernafas lega tapi sialnya dia menabrak seseorang yang baru keluar dari sebuah kelas dan membuat Jaejoong terjatuh kebelakang dan membuat sikunya lecet dan mengeluarkan darah.
"Ya! Apa kau tidak punya mata eoh?" tegur Tiffany, seorang siswi cantik yang populer disekolah ini.
"Mi..Mianhae.." jawab Jaejoong lemas. Kepala dan perutnya sedikit sakit karena tertimpa buku yang tadi dibawanya.
Tiffany yang merasa tidak terima karena jatuh dengan tidak elit langsung menjambak rambut hitam Jaejoong.
"Appo.." Jaejoong memegang tangan Tiffany agar yeoja cantik itu melepas jambakannya (?).
"Sakit kan? Aku juga sakit karena kau tabrak pabbo." Bentak Tiffany yang membuat siswa dikelas Tiffany yang kebetulan kosong,keluar untuk melihat kegaduhan yang terdengar.
"Mianhae.."
"Apa begitu caramu meminta maaf pada seniormu. Apa makanan serangga yang sering dimakan orang miskin membuatmu jadi bodoh eoh? Aku meragukanmu yang bisa masuk sekolah ini karena beasiswa. Atau jangan-jangan kau mendapat beasiswa karena mengajak tidur kepala sekolah."
"Hhuuuu…" terdengar ejekan dari teman-teman Tiffany.
Jaejoong memang sering dibully oleh seniornya semenjak kelas satu karena mengetahui Jaejoong menjadi siswa satu-satunya yang bersekolah disini dengan beasiswa dan mengetahui juga kalau Jaejoong berasal dari keluarga sederhana.
"Dasar pelacur." Bentak Tiffany lagi yang membuat Jaejoong meneteskan air matanya.
"Kenapa kau menangis? Kau takut aibmu terbongkar ya. Dasar pelacur." Tiffany menghempaskan Jaejoong dengan cukup keras yang membuat sikunya yang tadi lecet mengeluarkan banyak darah.
"Appo.." Jaejoong menangis, karena perih disikunya dan juga hatinya.
"Ada apa ini?" tanya Yunho tiba-tiba yang membuat Tiffany dan teman-temannya terdiam karena memang sangat menghafal suara Yunho yang terdengar tegas dan berat.
"Yunho-ah."
Yunho menatap Tiffany tajam lalu sedikit terkejut saat melihat Jaejoong menunduk sambil memunguti buku-buku yang ada dilantai dengan siku yang mengeluarkan banyak darah.
"Jaejoongie.." panggil Yunho lembut membuat Tiffany shock.
"Jaejoongie?" gumam Tiffany bingung karena dia tidak menyaksikan ungkapan cinta Yunho pada Jaejoong karena dia bangun kesiangan.
"Gwaenchana?" tanya Yunho lembut.
"Hiks..hiks.."
Yunho terkejut mendengar isakan Jaejoong, dengan cepat dia menangkup wajah Jaejoong dan sedikit mengangkatnya. Yunho menggertakkan giginya saat melihat Jaejoongnya sudah bersimbah air mata.
"Siapa yang membuat Jaejoong menangis?" tanya Yunho tajam lalu memandang semua makhluk yang ada didepannya.
"….."
"JAWAB AKU!" Teriak Yunho lantang yang membuat Yoochun maupun Tiffany terlonjak kaget.
"Aku. Wae?" jawab Tiffany cuek.
Grepp..
"Kyaa.."
"Yunho-ah.." panggil Yoochun karena shock.
Yunho mencengkram kerah seragam Tiffany lalu mengangkat yeoja itu keatas dengan sekali sentak. Jaejoong menatap Yunho kaget.
"Dasar yeoja jelek, pendek, wajah plastik. Kau berani menyakiti Jaejoong eoh."
Tiffany memukul tangan Yunho yang mencengkram kerahnya.
"Lepas Yunho-ah. Uhuk." Tiffany merasa tercekik sekarang.
"Lepas? Aku tidak akan melepaskanmu sebelum menghajarmu." Tiffany melotot mendengar jawaban Yunho.
"Yunho-ah, dia yeoja."
"Biarkan saja, Chun. Tidak peduli dia namja atau yeoja, jika sudah menyakiti Jaejoongie dan sampai membuatnya menangis maka sama saja dia menggali kuburannya sendiri."
Jaejoong menelan ludahnya gugup. Jaejoong merasa kalau Yunho tidak main-main dengan ucapannya, itu terlihat dari mata Yunho yang sirat akan kebencian.
Yunho menghempaskan tubuh kecil Tiffany kedinding dengan cukup keras yang membuat Tiffany meringis kesakitan. Yunho akan melayang tinjunya tapi tertahan oleh tangan mulus Jaejoong.
"Ja..jangan sunbae.." Yunho menoleh menatap Jaejoong.
"Jebal." Pinta Jaejoong lagi."
Yunho menoleh menatap Tiffany, lalu melepas cengkramannya.
"Minta maaflah pada Jaejoong."
"Mwo?"
"Kau tidak mau?"
"Aniya, untuk apa aku minta maaf pada si miskin menjijikkan ini." Ejek Tiffany.
"Arra, kalau begitu bersiaplah kau ku gantung ditiang bendera sama seperti Taecyeon dulu. Kau mau jadi penerusnya? Dengan senang hati aku akan melakukannya untuk mu." Yoochun terkekeh mendengar ucapan Yunho.
"A..Ani.."
"Kalau begitu minta maaf." Yunho menarik tangan Jaejoong sehingga dia berhadapan dengan Tiffany sekarang.
"Ppali." Suruh Yunho lagi.
"Jaejoong-ah. Mianhae." Ucap Tiffany dengan wajah yang tidak ikhlas sama sekali.
"Ne, tidak apa-apa." Jaejoong menunduk dan Tiffany menatapnya dengan pandangan tidak suka.
"Sekarang bubar." Tanpa menunggu lebih lama, kerumunan siswa tadi langsung membubarkan diri termasuk Tiffany.
"Gwaenchana?" Jaejoong mengangguk tanpa menatap Yunho.
"Sikumu terluka. Kita ke UKS sekarang." Ajak Yunho tapi dijawab gelengan kepala dari Jaejoong.
"A..aku harus keperpustakaan untuk mengembalikan buku-buku ini."
"Chun, kau kembalikan buku ini. Aku akan membawa Jaejoong ke UKS."
"Mwo?"
"Sekarang." Yunho menatap Yoochun dengan pandangan menusuk dan mengeluarkan aura hitam yang mematikan menurut Yoochun.
"Ne." Yoochun memunguti buku-buku yang ada dilantai. Lalu Yunho menarik pelan Jaejoong menuju ke UKS yang berada dilantai dasar.
Cklekk..
Yunho membuka pintu UKS dan mengernyit heran saat di UKS tidak ada siswa yang berjaga.
"Mereka semua kemana?" gumam Yunho sambil melihat keseisi sudut ruangan di UKS.
"Kau duduk saja Jae. Aku akan mengobatimu sendiri." Yunho menuntun Jaejoong kekasur UKS.
Setelah Jaejoong duduk, Yunho membuka kotak P3K dan mengeluarkan obat merah, kapas, dan perban. Dengan telaten Yunho membasahi kapas dengan alkohol dan mengusapkannya pelan keluka Jaejoong.
"Ssshh.." desis Jaejoong saat dinginnya alkohol menyentuh lukanya.
"Tahan sedikit ne."
Setelah selesai, Yunho mengolesi kapas dengan obat merah. Jaejoong memberanikan dirinya untuk menatap Yunho dengan jarak yang sangat dekat. Jaejoong terkejut karena mata musang itu kini tampak melembut dan tak ada sirat kemarahan dan kebencian yang biasa dia tunjukkan.
Yunho menggunting sisa perban yang tidak terpakai lalu menatap Jaejoong. Diusapnya rambut Jaejoong dengan lembut. Jaejoong menundukkan kepalanya karena masih takut dengan Yunho. Penampilannya masih sangar seperti dulu, ingat itu.
"Apa masih sakit?" tanya Yunho perhatian yang dibalas Jaejoong dengan gelengan kepala.
"A..Aku kekelas dulu, sunbae." Dengan cepat Jaejoong bangkit berdiri tapi ditahan Yunho sampai Jaejoong terjatuh ditempat tidur dengan Yunho berada diatasnya.
"Su..sunbae.." panggil Jaejoong takut dan reflek dia menutup matanya kuat-kuat.
Yunho tersenyum maklum, lalu menjauhkan tubuhnya dari Jaejoong.
"Kau istirahat saja. Aku tidak mau lukamu semakin parah. Aku akan meminta Yoochun untuk mengijinkanmu."
"Tapi.."
"Cepat tidur." Suruh Yunho kali ini terdengar seperti perintah yang tidak boleh dilanggar.
Jaejoong langsung menutup matanya yang membuat Yunho terkekeh geli. Yunho meletakkan kepalanya ditepi tempat tidur menghadap Jaejoong.
"Saranghae Jaejoongie.." gumam Yunho terdengar seperti bisikan lalu memejamkan matanya dengan tersenyum.
,
Pelajaran sudah usai, tapi Jaejoong belum kembali dari mengembalikan buku. Minho sudah menyusul keperpustakaan tapi penjaga perpustakaan mengatakan kalau bukan Jaejoong yang mengembalikan buku Han sonsae melainkan Park Yoochun.
"Kemana anak itu? Kenapa juga dia meninggalkan ponselnya didalam tas. Payah." Gerutu Minho yang sekarang berada digerbang depan sekolah.
"Aigoo..apa Yunho hyung masih lama?" celoteh Changmin mengeluh disamping Minho yang sekarang juga sedang menunggu Yunho.
Yoochun dan Junsu tidak bersama mereka, Junsu yang ingin buang air kecil meminta Yoochun untuk menemaninya tapi sampai sekarang dua sejoli itu belum kembali juga.
,
Jaejoong menggeliatkan tubuhnya dan mengerjapkan matanya berkali-kali. Sedikit bingung kenapa dia berada ditempat yang sedikit bau obat-obatan.
"Aku lupa kalau aku tadi dibawa Yunho sunbae ke UKS." Gumam Jaejoong lalu memejamkan matanya lagi.
"Mwo?" Jaejoong tersadar dan menoleh kesamping dan didapatinya Yunho sedang tidur.
"Aigoo..kalau tidur seperti ini dia jadi terlihat seperti malaikat." Gumam Jaejoong dalam hati. Jaejoong tersentak lalu memukul pipinya berkali-kali.
"Bersama Yunho sunbae seharian ini sudah membuatku gila."
Yunho menggeliatkan badannya saat merasa ada gerakan disampingnya. Yunho bangun lalu mengucek matanya.
"Jaejoongie sudah bangun?"
"Kenapa sunbae tidak membangunkanku? Ini sudah jam waktu pulang." Gerutu Jaejoong sambil mempoutkan bibirnya.
"Mian. Aku tidak tega membangunkanmu."
Jaejoong menundukkan kepalanya, sedikit terharu dengan perhatian Yunho padanya.
"Sadar Jaejoong-ah. Dia seperti ini karena pengaruh mantra Kyuhyun-ssi." Gumam Jaejoong dalam hati.
"Jaejoongie, gwaenchana?" tanya Yunho heran karena melihat Jaejoong yang memukul pelan kepalanya. Imut.
"Aniya sunbae. Gwaenchana." Jaejoong reflek tersenyum manis pada Yunho yang membuat Yunho berblushing ria.
"Kajja kita pulang." Ajak Yunho cepat untuk menyembunyikan kegugupannya.
Jaejoong turun dari kasur UKS setelah Yunho terlebih dulu keluar dari UKS.
,
"Changmin-ah." Panggil Yunho sambil menghampiri Changmin yang sedang bersama Minho.
"Astaga hyung. Kau kemana saja eoh?" tanya Changmin kesal.
"Mian, aku menjaga Jaejoong di UKS tadi."
"Kau kenapa Jae? Kau sakit?" Minho menghampiri Jaejoong lalu menempelkan punggung tangannya dikening dan leher Jaejoong dan membuat Yunho terbakar (?) cemburu.
"Tidak perlu berlebihan begitu. Dia tidak sakit. Hanya sikunya lecet sedikit." Yunho menghempaskan tangan Minho yang menempel dileher Jaejoong dengan kasar.
"Mi..mian sunbae." Minho nyengir ke Yunho.
"Kajja kita pulang." Ucap Yoochun tiba-tiba sambil menggandeng tangan Junsu.
"Arra, ini tasmu, Jae." Minho memberikan tas Jaejoong.
"Gomawo." Jaejoong menerima tasnya dari Minho.
"Jaejoongie, aku antar kau pulang ne." Yunho menggandeng tangan Jaejoong tapi ditahan oleh Jaejoong.
"Wae?"
"A..aku pulang sendiri saja, sunbae. Aku naik bis saja." Jawab Jaejoong yang lagi-lagi gugup.
"Wae? Bukannya lebih enak naik mobil? Bisa cepat sampai dan tak perlu berdesakan." Rayu Yunho.
"Aniya, aku lebih suka naik bis. Aku duluan sunbae. Annyeong." Jaejoong membungkukkan badannya tapi lengannya ditahan oleh Yunho.
"Chun, bawa mobilku. Aku pulang naik bis dengan Jaejoongie."
"Mwo?" tanya Jaejoong heran.
"Kau yakin?"
"Ne Chun. Sudah sana pulang." Suruh Yunho lalu menarik paksa Jaejoong yang bergidik, tidak bisa ia bayangkan akan pulang bersama Yunho.
"Min, kau pulang dengan Minho saja ya. Aku mau kencan dengan Junsu. Kesempatan bisa bawa mobil bagus."
"Mwo? Enak saja. Shireo." Tolak Changmin sambil menatap Yoochun tajam.
"Kau mau atau tidak terserah kau. Kajja Su-ie." Yoochun menggandeng tangan Junsu mesra.
"Ya! Hyung!" Yoochun tidak menggubris panggilan Changmin dan tetap berjalan kepemarkiran untuk mengambil mobil Yunho.
"Pakai helm ini." Tawar Minho sambil menyodorkan sebuah helm pada Changmin.
"Payah." Celoteh Changmin membuat Minho terkekeh.
Yunho masih tetap menggandeng Jaejoong sampai kehalte bis. Selama perjalanan tangan Jaejoong panas dingin karena masih takut dengan Yunho.
"Duduklah." Jaejoong langsung duduk ditempat yang ditunjuk Yunho.
Yunho menoleh dan sedikit tersenyum geli melihat Jaejoong menundukkan kepala dan berkali-kali menggeser tubuhnya menjauhi Yunho. Yunho tersenyum lalu menggeser tubuhnya mendekat ke Jaejoong.
"Aigoo..kenapa makhluk menyeramkan ini mendekat terus." Gumam Jaejoong dalam hati. Keringat dingin sudah memenuhi pelipisnya.
Yunho tersenyum lebar sampai matanya yang sipit itu makin menyipit.
Bruukk..
Jaejoong terjatuh karena terus menggeser tubuhnya tanpa melihat ujung kursi memanjang dihalte itu.
"Haha.." Jaejoong menunduk lalu menutup wajahnya dengan tangan karena malu.
"Makanya jangan menjauh terus. Begini akibatnya kalau kau menjauh dari namjachingumu sendiri."
Yunho menghampiri Jaejoong lalu membantunya berdiri. Sampai dudukpun Jaejoong masih tetap menutup wajahnya dan menggeser sedikit tubuhnya. Membuat Yunho terkekeh geli.
"Kau setiap hari naik bis?" Jaejoong mengangguk masih dengan menutup wajahnya.
"Mulai sekarang aku akan menemanimu naik bis." Jaejoong mengangguk lagi.
"Ya! Sudah, jangan malu seperti itu terus." Yunho berusaha menarik tangan Jaejoong tapi Jaejoong menahannya dan menggelengkan kepala.
"Arra, terserah kau saja, boo." Jaejoong terkejut dengan panggilan Yunho untuknya.
"Boo?" tanya Jaejoong setelah membuka tangannya.
"Ne, BooJaejoongie." Jawab Yunho sambil tersenyum dan memainkan tindik yang ada dilidahnya.
"Su..Sunbae.." gumam Jaejoong lalu mengalihkan wajahnya dari Yunho.
"Aigoo..kenapa namja mengerikan seperti Yunho sunbae bisa semanis ini. Kenapa bukan Siwon sunbae? Aku harus meminta Minho menemui Kyuhyun-ssi lagi." Gumam Jaejoong dalam hati.
Tiba-tiba bis yang menuju kerumah Jaejoong datang, tapi karena asyik melamun membuat Jaejoong tidak sadar.
"Ya! Bis, tunggu." Jaejoong berdiri dan mendengus kecewa saat bisnya berjalan meninggalkannya sendirian dengan Yunho. Membuat Jaejoong ingin menangis.
"Jadi tadi bisnya?"
"Ne." jawab Jaejoong lemas.
"Apa bis berikutnya lama?"
"Biasanya setengah sampai satu jam. Paling lama dua jam." Jaejoong mengacak rambutnya frustasi. Bukan karena lamanya menunggu bis, tapi karena dia harus berduaan saja dengan Yunho.
"Aku akan menemanimu, Boo. Tenang saja."
Jaejoong etrsenyum kecut tanpa melihat Yunho. Jaejoong benar-benar ingin menangis saat ini juga.
Mereka terdiam, sampai tak terasa sudah satu jam mereka menunggu bis berikutnya.
"Mendung." Gumam Jaejoong sambil menatap kelangit yang tampak gelap.
"Aigoo..aku lupa membawa payung." Jaejoong menggaruk belakang kepalanya.
"Sepertinya ini hari sialku. Seharian bersama Yunho sunbae, sekarang mendung dan aku lupa membawa payung." Gumam Jaejoong pelan.
"Kau mengatakan sesuatu?"
"Aniya sunbae." Jawab Jaejoong lemas.
Srraash…
Hujan tiba-tiba turun dengan derasnya dan membuat cipratan kecil yang mengenai celana Yunho dan Jaejoong.
"Kenapa hujan?" rengek Jaejoong.
Yunho mengeluarkan jaketnya dan memakaikannya pada Jaejoong.
"Eh?" kaget Jaejoong lalu dengan cepat menoleh ke Yunho.
"Pakai saja. Nanti kau kedinginan."
"Tapi, sunbae pakai apa? Aniya, ini untuk sunbae saja. Aku tidak apa-apa kok." Jaejoong menyerahkan jaket Yunho padanya.
Yunho menatap Jaejoong tajam dan seolah mengatakan –pakai saja, kalau tidak aku akan memakanmu-. Jaejoong menelan ludahnya gugup, dengan cepat dia memakai jaket Yunho lagi dan menatap kedepan.
"Aku masih ingin hidup. Selain menyeramkan, Yunho sunbae ternyata kanibal." Gumam Jaejoong dalam hati yang salah mengartikan makna dari 'memakanmu'.
"Hatsi.." Jaejoong bersin lalu mengusap hidungnya yang sedikit mengeluarkan ingus.
"Kau flu, boo." Panik Yunho.
"Aniya, aku tidak apa-ap..hatsi.."
"Tidak flu apanya? Kau pikir aku bodoh tidak bisa membedakan flu. Tunggu disini, akan kubelikan kopi hangat dijalan seberang sana." Jawab Yunho.
Yunho berlari menyebrang dan memasuki sebuah minimarket. Jaejoong mengeratkan jaket Yunho ditubuhnya dan sedikit menggigil.
Tak lama kemudian, Yunho kembali dengan dua kaleng kopi hangat lalu memberikan satu kaleng kopi hangat ke Jaejoong.
"Gomawoyo." Jaejoong membuka kaleng kopi itu lalu meminumnya. Hangat.
"Hatsi.." Yunho yang meminum kopinya langsung menoleh ke Jaejoong dan menatap Jaejoong khawatir.
"Hatsi..hatsi.." Jaejoong menggigil lalu mengeratkan jaket Yunho ditubuhnya.
"Kita pulang sekarang." Ajak Yunho cepat.
"Mwo?" Jaejoong mengusap hidungnya lalu menatap Yunho yang sekarang mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.
"Shin ahjussi."
"….."
"Ne, jemput aku dihalte dekat sekolahku. Aku tunggu lima menit. Jika kau tidak sampai dalam waktu lima menit, bersiap-siaplah keluar dari rumahku hari ini juga."
Pipp..
Yunho langsung memutus sambungan telponnya dan Jaejoong melongo tak percaya.
"Dia benar-benar seenaknya sendiri." Gumam Jaejoong.
"Kau mengatakan sesuatu?"
"Aniya sunbae." Jawab Jaejoong dan reflek menggeleng-gelengkan kepalanya cepat.
"Aigoo..kau ini imut sekali." Yunho mencubit pipi Jaejoong dengan gemas.
"Sa..sakit sunbae."
Empat menit kemudian, sebuah mobil mewah berhenti didepan halte dan Yunho langsung menggandeng tangan Jaejoong dan membawanya masuk kemobil mewah itu.
"Jalan ahjussi." Perintah Yunho yang membuat Jaejoong melongo.
"Bagus sekali mobilnya. Baru kali ini aku naik mobil sebagus ini." Jaejoong mengeusap kaca mobil Yunho dengan tatapan kagum.
"Ahjussi, nyalakan penghangatnya." Shin ahjussi mengangguk lalu menyalakan AC dan menaikkan suhunya.
"Ini mobil sunbae?" tanya Jaejoong tanpa menatap Yunho.
"Bukan. Milik tetanggaku." Jawab Yunho asal.
"Tetangganya sunbae baik sekali. Tidak seperti tetanggaku yang cerewet dan suka menggosip." Gumam Jaejoong tanpa sadar.
"Jinjja?" Yunho terkekeh mendengar ucapan Jaejoong.
"Tuan mu..maksud saya, Yunho-ssi kita mau kemana?"
"Alamat rumahmu dimana, boo?"
"Rumah saya di gang XXX."
"Arra, saya mengerti."
Jaejoong mengangguk lalu melepas jaket Yunho karena suhu didalam mobil Yunho sudah menghangat. Jaejoong menyandarkan kepalanya lalu memejamkan mata dan tak lama kemudian diapun terlelap.
Yunho menepuk pipi putih Jaejoong, sedikit menahan nafas karena kulit pipi Jaejoong lebih halus dari yang dia kira.
"Boo, kita sudah sampai dirumahmu. Ireona."
"Eumm.." Jaejoong menggeliatkan tubuhnya seperti cacing lalu mengerjapkan matanya.
"Sudah sampai?"
"Ne." Yunho turun lebih dulu lalu membukakan pintu mobil untuk Jaejoong.
"Ini jaket sunbae. Gomawoyo untuk jaket dan tumpangannya." Ucap Jaejoong lalu tersenyum manis membuat Yunho sedikit merona.
"Arra, apa aku boleh masuk kerumahmu?" tanya Yunho membuat Jaejoong membelalakkan matanya.
"Andwae." Jawab Jaejoong cepat.
"Wae?"
"La..lain kali saja." Jawab Jaejoong sambil nyengir.
"Yaksok?"
"Ne, yaksok."
"Tidak janji kapan ya, sunbae. Bisa-bisa umma mati berdiri kalau aku membawa makhluk mengerikan seperti sunbae kerumah. Bahaya." Gumam Jaejoong dalam hati.
"Arra, aku pulang dulu. Annyeong boo." Yunho tersenyum sangat manis membuat Jaejoong termangu.
Jaejoong tersadar setelah suara mobil Yunho terdengar dan membawa Yunho menghilang dari halaman rumah Jaejoong.
"Aigoo apa yang terjadi padamu, Joongie?" gumam Jaejoong lemas karena hari ini dia merasa aneh pada sunbae yang menuruntnya mengerikan itu.
"Aku pulang." Ucap Jaejoong lemas sambil meletakkan sepatunya dirak.
"Kau kenapa? Apa kau kehujanan?" tanya Karam cemas karena tidak biasanya putra sulungnya itu lemas tidak ceria.
"Gwaenchana umma. Aku kekamar dulu."
"Kau tidak makan siang dulu?"
"Nanti saja." Jaejoong membuka pintu kamarnya dengan lesu.
Setelah meletakkan tasnya dimeja belajar, Jaejoong merebahkan tubuhnya dikasur.
"Aku harus menemui Kyuhyun-ssi. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasibku jika satu minggu Yunho sunbae mengikutiku terus. Aku tidak mau." Gumam Jaejoong.
"Siwon sunbae." Jaejoong tersenyum membayangkan wajah Siwon yang tersenyum manis padanya.
Tapi lama-lama wajah Siwon memudar dan berganti menjadi wajah Yunho yang tadi tersenyum manis padanya.
"Mwo?" Jaejoong tersentak.
"Kenapa jadi terbayang wajah Yunho sunbae."
Jaejoong merasa pipinya memanas lalu menutup wajahnya dengan bantal.
"Ada apa denganku?"
,
T.B.C
,
,
Gomawo buat readers yang udah baca chap 1. Aku gak nyangka yang rev banyak n silent readers juga banyak. #terharu.
Gomawo ne buat yang review dan baca. Mian gak bisa balas.
Dan mian juga kalau chap yang ini aneh n mengecewakan. Huhu
#nangis bareng min oppa.
,
Berkenan review..
