-10 Tahun Kemudian-

Seorang lelaki muda berambut pirang melangkah turun dari sebuah Porsche Turbo berwarna abu-abu miliknya. Ia melangkah memasuki gedung pusat perbelanjaan dan berdiri di depan sebuah elevator.

Lelaki muda itu tak menghiraukan tatapan penuh kekaguman yang didapatinya dari orang-orang disekelilingnya. Ia segera masuk ke dalam elevator dan memencet tombol delapan bersama orang-orang lainnya.

Aroma parfum mahal yang disemprotkan lelaki muda itu menyeruak memenuhi seluruh elevator yang dipenuhi orang-orang. Tak hanya wanita, beberapa pria bahkan ikut menatap lelaki muda berambut pirang itu dengan tatapan cemburu.

Bagaimana tidak? Seorang lelaki muda dengan tinggi tubuh seratus delapan puluh sentimeter serta kulit tan yang eksotis dan mata biru serta tubuh yang sepertinya cukup bagus.

Tak hanya itu, lelaki itu bahkan mengenakan kemeja putih Giorgio Armani dan cardigan hitam yang terkancing seluruhnya dan tampaknya juga dari brand terkenal yang dipadukan dengan celanan berwarna hitam ketat yang membungkus kaki ramping dan jenjangnya. Di tangan lelaki itu melingkat sebuah jam Bvlgari dengan harga belasan ribu dollar.

Elevator itu berhenti di lantai delapan dan sang lelaki muda segera melangkah menuju sebuah coffee shop yang lumayan ramai dengan beberapa eksekutif muda yang duduk sendirian dengan segelas kopi seraya mengetik diatas laptop.

Iris sapphire lelaki itu tertuju pada seorang lelaki berusia tiga puluhan awal yang sedang duduk sendirian. Lelaki itu mengangkat tangan dan lelaki muda itu segera menghampiri.

"Sasuke-nii, maaf sudah menunggu lama. Dosenku terlambat datang dan mengakhiri kelas tiga puluh menit lebih lama," ujar lelaki muda itu seraya duduk di kursi yang berhadapan dengan Sasuke.

Sasuke memicingkan mata dan menatap sang 'putra asuh' lekat-lekat. Ia bertanya-tanya jika kepala lelaki itu baru saja terbentur sesuatu hingga berbicara seformal ini padanya.

"Hn? Sejak kapan kau sesopan ini padaku, dobe."

"Tentu saja karena kita sedang di tempat umum, Sasuke-nii," Naruto tersenyum lebar dan meneguk ludah karena gugup dengan tatapan tajam Sasuke padanya.

"Aku malah merasa aneh jika kau seperti ini, dobe."

"Whoa… sejak kapan kau tidak bersikap formal, teme?"

Sasuke tersenyum tipis mendengar panggilan sang putra asuh padanya. Siapapun yang melihat mereka pasti mengira jika mereka adalah teman. Namun sebetulnya tidak. Secara legal, hubungan Naruto dan Sasuke di dalam dokumen adalah ayah dan anak. Namun ketika menghadiri acara-acara resmi atau dihadapan keluarga Sasuke, maka Sasuke akan meminta Naruto untuk memanggilnya 'Sasuke-nii'. Namun ketika mereka sedang berdua, Naruto akan memanggilnya 'teme'.

Sebetulnya bukan tanpa alasan Naruto memanggil Sasuke dengan sebutan 'teme'. Awalnya Naruto bersikap ekstra formal pada Sasuke dan bersikap tertutup. Namun Sasuke memutuskan mengajak Naruto menemui psikolog untuk menghilangkan trauma dan bersikap layaknya seorang ayah terhadap putra kandungnya sendiri berkat usul Itachi.

Kini kepribadian semula Naruto telah kembali dan Sasuke menyadari jika pemuda itu sebetulnya adalah orang yang sangat ceria dan jahil hingga membuatnya ikut menjadi jahil dengan memanggilnya 'dobe' dan terkadang sengaja menjahilinya agar Naruto jengkel.

"Kau lebih suka aku bersikap formal, dobe?"

Naruto cepat-cepat menggelengkan kepala, "Tidak, tidak. Kau menyeramkan jika sedang bersikap formal. Tatapanmu bahkan begitu tajam hingga rasanya aku akan mati jika kau menatapku seperti itu sepanjang hari."

"Hn? Sejak kapan tatapan bisa membunuh, dobe?" ucap Sasuke seraya menatap wajah Naruto lekat-lekat.

Naruto tak menjawab dan ia segera memalingkan wajah untuk menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah. Jantungnya berdebar cepat dan udara sekitar terasa memanas. Dadanya terasa sesak seolah ditekan dengan keras.

"Kau baik-baik saja?"

Naruto tersenyum, "Tentu saja, teme."

Naruto menyentuh kedua wajahnya dengan tangan sejenak, berharap rona wajahnya kembali seperti semula. Ia mulai bereaksi aneh seperti ini sejak setahun yang lalu dan memutuskan untuk mengendalikan diri.

Naruto tak pernah memberitahukannya pada siapapun, namun sebetulnya ia jatuh cinta pada Sasuke sejak setahun yang lalu. Hubungan sesama jenis tak lagi illegal meskipun masih banya orang yang menentangnya, namun akan menjadi merepotkan jika orang yang dicintainya adalah ayahnya sendiri meskipun hanya ayah angkat.

"Omong-omong, usiamu sekarang tiga puluh lima, bukan? Kau benar-benar tak ingin menikah? Tahun depan aku akan merayakan hari kedewasaan, lho," ujar Naruto pada Sasuke.

Sasuke menggelengkan kepala. Bagaimana mungkin ia menikahi wanita setelah melihat kekasih-kekasih ayahnya , baik resmi maupun gelap, yang bersikap ekstra baik hanya karena menginginkan uang. Ia sendiri juga pernah memacari beberapa wanita yang dikenalkan ayahnya dan mereka semua juga menginginkan uangnya, bukan dirinya. Ia sudah memiliki trauma pada wanita dan tak akan menikahi wanita.

Sementara untuk berhubungan dengan pria pun tak begitu menarik meski Sasuke beberapa kali mencobanya. Ia terlalu sibuk untuk menghabiskan waktu bersama kekasih-kekasihnya. Ia mendefinisikan dirinya sebagai aseksual.

"Tidak."

Naruto menatap Sasuke dengan khawatir. Bagaimanapun juga lelaki itu sudah sangat siap untuk menikah, baik secara finansial maupun moral jika dilihat dari cara lelaki itu memperlakukannya.

"Kau benar-benar ingin sendirian saja? Tidak merasa kesepian, teme?"

"Tidak. Kau berencana meninggalkanku, hn?"

Naruto menggelengkan kepala. Tentu saja ia tak akan meninggalkan Sasuke. Lelaki itu sudah menjadi orang tuanya selama sepuluh tahun dan selamanya ia tak akan melupakan jasa lelaki itu.

"Tidak. Selamanya aku tidak akan meninggalkanmu, teme. Bagaimanapun, kau ini sudah seperti ayah sekaligus kakak untukku."

Sasuke tersenyum dengan jawaban Naruto. Namun ia bertanya-tanya dengan sikapnya yang mendadak emosional seperti ini. Ia memang sudah bersikap emosional dan membuang logikanya sejak bertemu Naruto, namun ia semakin bersikap emosional saat ini.

"Baka. Hidupmu adalah pilihanmu sendiri, dobe. Apa yang kulakukan padamu hanyalah rasa kasihan."

Naruto tergugu sejenak. Hatinya terasa sedikit nyeri mendengar ucapan Sasuke. Ia tersadar jika Sasuke tak akan memiliki perasaan yang sama padanya dan ia tak seharusnya memendam perasaan yang tak wajar seperti ini.

Ia hanyalah beban untuk Sasuke. Selama ini Sasuke sudah sangat berbaik hati dengan memilih membesarkannya ketika sebetulnya lelaki itu bisa memilih memberikannya pada orang lain atau mengirimkannya ke panti asuhan yang mau menerimanya. Bagaimana mungkin ia mengharapkan sesuatu dari lelaki itu?

Sasuke menyadari ekspresi Naruto yang tampak sedikit murung dan cepat-cepat tersenyum tipis, "Bukan begitu maksudku. Aku…"

Ucapan Sasuke terputus. Ia terdiam, memikirkan kata-kata yang seharusnya ia ucapkan namun tak ada satupun kata yang terucap dari bibirnya.

"Aku mengerti maksudmu, teme. Untuk itu aku berterima kasih padamu dan ingin melakukan apapun untuk membalas kebaikanmu," jawab Naruto sambil tersenyum seperti biasanya, menampilkan gigi-giginya.

"Hn. Rupanya putraku sudah tumbuh dewasa sekarang," ucap Sasuke dengan nada yang terkesan seperti bapak-bapak. Ia melakukannya dengan sengaja untuk mencairkan suasana.

"Menjijikan. Kau seperti bapak-bapak saja."

"Aku memang bapak-bapak, dobe."

Naruto menghela nafas jengkel, "Kalau begitu kenapa aku harus memanggilmu Sasuke-nii? Seharusnya otou-san saja, kan?"

"Aku memang ayahmu di dalam dokumen, dobe," balas Sasuke. Ia bahkan tak mempedulikan sekeliling. Ia bangkit berdiri dan dengan sengaja berpindah untuk duduk di sofa yang sama dengan Naruto serta mengacak-acak rambut kuning Naruto. Ia bahkan tak peduli dengan orang-orang di sekelilingnya yang menatapnya. Untuk saat ini, ia merasa senang hanya dengan menghabiskan waktu bersama Naruto. Rasa penat dan lelah di tubuhnya seolah menguap begitu saja.

.

.

Sasuke bersandar di sofa seraya menatap Itachi yang duduk di sebelahnya. Sebotol wine dan dua gelas yang masih terisi seperempat diletakkan begitu saja diatas meja.

Kedua lelaki yang kini menjadi ayah itu duduk bersama dan menikmati pemandangan langit malam di sofa ruang keluarga condominium Sasuke, hal yang sudah lama tak mereka lakukan bersama.

Malam ini Itachi datang berkunjung dan membawakan oleh-oleh dari Prancis setelah berlibur bersama keluarganya. Entah apa alasannya, Itachi datang dengan membawa sebuah koper kecil berisi pakaian dan mengatakan ingin menginap.

"Sebetulnya apa alasanmu untuk menginap, aniki?"

"Tentu saja karena aku merindukan otouto tercintaku. Sudah lama aku tak tidur bersamamu," jawab Itachi seraya meletakkan tangan di bahu Sasuke dan merangkulnya.

Sasuke segera menarik tangan Itachi dan berusaha melepaskan tangan lelaki itu, namun lelaki itu malah merangkulnya semakin erat.

"Lepaskan aku. Kau seharusnya bertindak seperti orang seusiamu, aniki."

"Usiaku? Memangnya berapa usiaku?" goda Itachi seraya menyeringai.

Sasuke menghela nafas panjang dengan kelakuan sang kakak laki-laki yang masih saja tak berubah. Ia menatap lelaki itu lekat-lekat dan mendapati beberapa helai rambut putih diantara rambut hitam di kepala lelaki itu. Bahkan rambut Itachi juga sudah menipis sehingga ia tak lagi memanjangkan rambutnya serta memilih untuk memotongnya tepat seleher, mengikuti model rambut Sasuke.

"Empat puluh tahun."

"Wajahku tidak terlihat seperti orang berusia empat puluh, kan?"

"Tidak," jawab Sasuke seraya menyeringai. "Wajahmu terlihat seperti orang berusia lima puluhan."

"Dasar," keluh Itachi seraya mendorong kepala sang adik dengan kedua jari seperti yang sering dilakukannya. Beberapa tahun belakangan ini ia sudah mulai terbiasa dengan perubahan kepribadian Sasuke yang semula sangat serius menjadi jahil bagaikan terlahir kembali. Namun tetap saja terkadang ia masih merasa aneh dengan reaksi Sasuke.

"Bagaimana mungkin? Aku sudah memakai rangkaian lengkap produk anti penuaan dari produk perawatan kulit pria terbaik. Wajahku pasti terlihat lebih muda, kan?"

Sasuke menggelengkan kepala, "Tidak. Produk itu sama sekali tidak berfungsi untukmu."

Itachi mengerutkan bibir dan menyentuh wajahnya sendiri.. Ia mewarisi gen ayahnya yang tidak berwajah awet muda. Bahkan ia jauh lebih parah. Di usia belasan tahun ia sudah memiliki masalah dengan keriput di wajah dan sibuk memakai krim-krim anti penuaan.

Di usia empat puluh, Itachi semakin khawatir dengan wajahnya. Ia bahkan menemukan keriput di matanya dan merasa panik seketika hingga langsung membeli serangkaian produk anti penuaan terbaik untuk pria.

"Benarkah? Kurasa aku harus membuat janji dengan dokter untuk suntik botox."

Sasuke menutup mulut nya dengan tangan dan tertawa keras. Ucapan Itachi benar-benar membuatnya geli hingga ia tak bisa menahan diri untuk tidak berisik pukul dua belas malam ketika Naruto sudah tidur.

"Entah kenapa aku malah kasihan dengan Izumi-nee. Izumi-nee tak merawat kulit sedikitpun ketika kau malah sibuk merawat kulit."

Itachi kembali mengerucutkan bibir, merasa jengkel dengan ucapan Sasuke. Ia menepuk bahu Sasuke dan berkata, "Kau juga akan berpikir melakukan hal yang sama sebentar lagi, otouto."

"Tidak akan."

Itachi tersenyum dan merasa gemas dengan reaksi sinis sang adik. Ia menatap kearah pintu kamar Naruto yang terlihat di kejauhan dan seketika teringat sesuatu.

"Otouto, bukankah sebentar lagi Naruto berusia dua puluh? Tidakkah kau berniat mempertemukannya dengan Karin?"

Ekspresi wajah Sasuke menegang seketika saat mendengar nama Karin. Tatapannya bahkan menajam dan ia seketika teringat dengan wanita berambut merah itu.

Sasuke tak pernah membayangkan jika orang setamak dan sejahat Karin benar-benar ada hingga ia bertemu dan berurusan secara langsung dengan wanita itu. Saat itu Karin setuju untuk menyerahkan Naruto agar dapat ia adopsi. Namun setelah wanita itu mengetahui jumlah uang yang lumayan besar di tabungan paman dan bibinya dan uang asuransi lima puluh juta yen yang didapat dari kematian orang tua Naruto serta hak waris atas rumah sederhana milik orang tua Naruto, wanita itu langsung berubah pikiran.

Sasuke bahkan harus menghabiskan banyak waktu dan menyewa jasa pengacara terbaik untuk mendapat hak mengadopsi Naruto dari Karin. Pada akhirnya Sasuke berhasil mendapatkan hak adopsi, namun ia tak membiarkan Naruto bertemu dengan Karin sejak saat itu.

"Jika kau berada di posisiku, kurasa kau juga tak akan membiarkan Naruto bertemu dengan wanita sialan itu."

"Kau masih mengingat kejadian sepuluh tahun yang lalu, otouto? Menyimpan dendam itu tidak baik, lho."

Sasuke tak menjawab. Tentu saja ia tak dendam pada Karin. Toh bukan ia yang diperlakukan buruk oleh wanita itu. Namun tetap saja ia merasa kesal dengan tingkah wanita itu. Naruto sudah ia anggap sebagai putranya sendiri sejak ia mengatakan akan mengadopsi anak itu di rumah duka. Dan tentu saja ia berkewajiban melindungi putranya sendiri.

"Aku tak ingin membiarkan wanita sialan itu memanfaatkan Naruto. Terutama setelah ia mengetahui seperti apa kehidupan Naruto saat ini."

Itachi menganggukan kepala sebagai respon atas ucapan Sasuke. Ia mengerti maksud dari tindakan sang adik, namun tetap saja ia tak bisa sepenuhnya membenarkan tindakan Sasuke.

"Aku mengerti maksudmu. Namun tetap saja, bagaimanapun juga Naruto perlu bertemu dengan keluarganya. Mungkin saja di dalam hatinya ia masih merindukan keluarganya, meskipun perlakuan wanita itu sangat buruk."

Sasuke menggelengkan kepala dan mengangkat gelas wine nya serta menghabiskan isinya. Ia kembali mengisi gelas wine hingga terisi setengah dan meletakkan gelas itu diatas meja.

"Jika keluarga yang kau maksud adalah Karin, aku tak akan membiarkannya. Wanita itu benar-benar rendah, tak tahu malu."

"Tak tahu malu? Jaga ucapanmu, otouto," sergah Itachi seraya menepuk-nepuk bahu Sasuke. "Jangan bicara apapun ketika kau sedang emosi. Kendalikan emosimu."

Sasuke menarik nafas dan menghembuskan perlahan. Kepala dan hatinya terasa memanas, entah karena ia sedang kesal atau akibat cairan merah memabukkan itu. Ia merasa kesal karena harus membuang-buang waktu karena Karin. Pekerjaannya terlantar dan ia hampir kehilangan proyek besar karena harus menghadiri persidangan beberapa kali.

"Hn. Wanita itu bahkan masih berusaha mencari Naruto di sekolahnya. Untung saja aku menggunakan beberapa body guard dan segera memindahkan Naruto ke sekolah lain ketika kondisi psikologis anak itu telah pulih."

Sasuke kembali meminum seteguk wine sebelum melanjutkan ucapannya, Wajahnya mulai memerah dan seluruh tubuhnya menghangat akibat beberapa gelas wine yang telah dihabiskannya. Pandangannya mulai berkunang-kunang, pertanda alkohol mulai bereaksi di dalam tubuhnya.

"Beberapa tahun kemudian wanita itu bahkan melamar di perusahaanku. Sangat gila, bukan? Kurasa ia tak tahu kalau aku meluangkan waktu menginterview setiap karyawan. Wajah wanita itu langsung pucat ketika aku menatapnya, lho," Sasuke terkekeh diakhir kalimat.

Itachi menyadari Sasuke yang mulai mabuk. Jika Sasuke sudah mabuk maka lelaki itu akan berbicara selama berjam-jam, menceritakan berbagai hal hingga siapapun yang menemaninya merasa lelah menghadapi orang yang sangat banyak bicara. Selain itu Sasuke juga akan memperlihatkan sikap yang sangat jarang atau bahkan tidak pernah ia lakukan ketika ia tidak mabuk. Misalnya, ia akan sering tertawa dan tersenyum, atau bersikap sangat manja layaknya seorang anak-anak.

"Sudahlah. Jangan minum lagi. Kau tidur saja, Sasuke."

"Tidak mau," tolak Sasuke seraya mengulurkan tangan dan memeluk tubuh Itachi dari samping. "Dengarkan aku duluuuuuu."

"Tidak. Kau sudah mabuk. Sebaiknya cepat tidur, baka otouto."

"Itachiiiiiiiiii, ayolahhhh."

Itachi terkekeh dengan sikap Sasuke yang tiba-tiba saja sangat manja. Ia teringat menghadapi anak-anaknya yang merajuk beberapa tahun lalu dan ia seketika berharap memiliki anak yang masih akan merajuk padanya. Semua anak-anaknya kini sudah terlalu besar untuk bersikap manja dan merajuk padanya.

"Bagaimana jika Naruto melihat ayahnya seperti ini, hn?"

"Lihat saja sepuasnya. Aku tak peduli," jawab Sasuke seraya kembali meminum gelasnya yang berisi alkohol. Itachi meraih botol wine yang masih terisi setengah, namun Sasuke telah merebutnya lebih dulu dan meminumnya ketika wine di gelas sudah habis.

"Itachi, gendong aku."

Itachi menepuk wajahnya sendiri dengan satu tangan. Ia tak mengira jika ia harus mengurusi orang mabuk malam ini dan menghabiskan malam yang melelahkan dengan mendengarkan ocehan Sasuke.

"Tidak bisa. Kau berat, Sasuke."

Itachi segera bangkit berdiri dan berniat mengantar Sasuke menuju kamarnya, namun Sasuke segera melompat dan bergelayut di punggung Itachi hingga ia terkejut dan hampir terjatuh.

"Kau berat, otouto."

Sasuke tampak tak peduli dengan ucapan Itachi. Itachi menghela nafas dan ia cepat-cepat berjalan menuju pintu kamar Sasuke. Ia menggunakan jari telunjuk kanan nya untuk membuka pintu kamar Sasuke yang hanya dapat dibuka menggunakan sidik jari.

Pintu terbuka dan Itachi berjalan dengan cepat untuk menurunkan tubuh Sasuke diatas kasur. Tubuh Itachi terasa nyeri setelah menggendong Sasuke. Bagi lelaki berstamina rendah seusianya, mengendong Sasuke yang beratnya tak lebih dari tujuh puluh kilogram terasa begitu melelahkan untuknya.

"Aniki, malam ini tidurlah bersamaku."

"Ya. Tunggu sebentar, aku harus mandi dan mengganti pakaianku."

"Aku ikut."

Wajah Itachi sedikit memerah dengan reaksi Sasuke. Ia cepat-cepat membuka kopernya dan mengambil pakaian tidur serta pakaian dalam tanpa menutupnya. Ia merasa risih membayangkan orang selain istrinya melihat dirinya tanpa sehelai benangpun.

"Jangan! Kau disini saja."

Detik berikutnya Itachi segera berlari menuju kamar mandi dan cepat-cepat menutup pintu ketika menyadari Sasuke benar-benar ingin menyusulnya. Ia tak akan membiarkan Sasuke ikut masuk ke dalam.

.

.

Naruto terbangun dan ia segera mengucek matanya. Ia masih benar-benar mengantuk dan merasa sangat haus setelah memakan bento yang banyak mengandung MSG untuk makan malam.

Naruto segera berjalan menuju pintu dan membukanya. Ia mendapati sebuah dua buah gelas dan beberapa botol wine yang digeletakkan begitu saja diatas meja serta mengernyitkan dahi.

Seseorang pasti datang ke rumah ketika ia sudah tidur. Batin Naruto seraya berjalan menuju dapur untuk mengambil gelas.

Langkah Naruto terhenti di depan kamar Sasuke dan ia memutuskan untuk berdiri di depan kamar Sasuke. Ia mendengar suara Sasuke di dalam kamar itu yang sedang tertawa keras sehingga ia memutuskan untuk mendengarkan ucapan lelaki itu.

"Omong-omong, kau penasaran dengan kehidupan Karin si wanita jahat itu sekarang, Itachi?"

Suara Sasuke terdengar cukup jelas di pintu meskipun pintu kamar Sasuke sebetulnya terbuat dari kayu tebal berkualitas baik dan kamar Sasuke juga luas.

Naruto merasa penasaran mendengarkan nama sang kakak sepupu disebutkan. Sudah sepuluh tahun berlalu sejak ia kali terakhir ia bertemu dengan wanita itu dan ia penasaran dengan kehidupan Karin. Ia berharap Karin baik-baik saja dan ia ingin bertemu dengan wanita itu.

Dahulu Naruto sempat mendengar sendiri jika Karin menawarkannya pada orang-orang untuk diadopsi. Saat itu ia sempat memberontak dan mengatakan jika ia tak mau tinggal bersama orang tak dikenal. Namun Karin mengatakan jika ia tidak memiliki uang untuk membesarkannya dan berjanji akan menemuinya asalkan Naruto mau diadopsi dan bersikap baik. Karena itulah Naruto bersikap sopan pada Sasuke dan bersedia tinggal di rumah lelaki itu.

Namun hingga saat ini Karin tak pernah sekalipun menemuinya dan ia bertanya-tanya jika wanita itu masih mengingat janjinya atau tidak.

"Kini wanita itu hidup miskin setelah menikah dengan tunangannya. Menurut mata-mataku, mereka bahkan tinggal di apartemen sewaan tua seukuran dua belas meter persegi untuk tiga orang. Suaminya meninggal dan ia bekerja paruh waktu di dua tempat sambil membesarkan kedua anaknya. Bukankah itu karma yang bagus?"

Naruto mengepalkan tangannya mendengarkan ucapan Sasuke yang terdengar begitu riang. Hatinya terasa sakit membayangkan kehidupan Karin dan keponakannya yang begitu menyedihkan sementara Sasuke tampak bergembira diatas penderitaan mereka. Kini ia mengerti mengapa Sasuke selama ini seolah berusaha menghindarinya untuk mencari Karin dan selalu mengelak jika ia menanyakan wanita itu.

Naruto benar-benar kecewa. Ia tak mengira Sasuke yang selama ini ia anggap sebagai orang yang begitu baik hingga membuatnya jatuh cinta adalah orang yang sama sekali tidak baik.

Rasa kecewa membuat hati Naruto terasa sakit. Ia segera menjauh dari pintu kamar Sasuke dan berjalan dengan cepat menuju dapur. Ia memutuskan untuk berpura-pura tak mendengar ucapan Sasuke malam ini.

-TBC-


Author's Note:


Nggak nyangka ternyata bakal dapet cukup banyak review untuk fanfict ini. Makasih buat review-review kalian.

Mengenai umur Naruto & Sasuke udah dijelaskan di chapter ini. Untuk beberapa chapter kedepan kemungkinan masih fokus ke konflik keluarga & perasaan, jadi nggak akan ada lemon di 3 chapter awal.

Just info, untuk update fanfict ini nggak rutin. Update tergantung kesibukan & kondisi author.