Chapter 2
Mikan POV
Anak laki-laki tadi benar-benar duduk dihadapanku, sulit kupercaya. Setiap kelompok yang terdiri dari 12 orang peserta ujian memiliki kursi membentuk lingkaran mengelilingi sebuah meja dan dia memilih bangku yang berhadapan denganku. Entah kenapa rasanya saat ini aku sangat senang. Tanpa sadar aku mulai tersenyum sedangkan di sekelilingku sedang berwajah gugup dan bingung, aku malah tersenyum terus melihat dia ada didepanku.
Mungkin nanti aku tidak bisa konsentrasi menggambar kalau anak laki-laki ini ada di depanku, pikirku sambil masih tersenyum. Sesekali disaat dia melihat kearah lain aku melihat raut wajahnya. Rasanya sulit untukku jelaskan, sungguh dia terlihat lebih tampan dilihat dari dekat.
Matanya cantik berwarna merah, alisnya tajam, hidungnya mancung, rambutnya berwarna raven dan tulang pipi di wajahnya menambah kesempurnaan ketampanannya. Ya tuhan kalau sekarang ini bukan ujian mungkin aku akan menggambar wajahnya saja, pikirku lagi sambil menahan tawa.
Sepertinya aku terlalu lama memandanginya dan dia mulai menangkap pandanganku balik. Matanya melihat kearahku sekarang, aku merasa bingung dan pura-pura saja kualihkan pandanganku ke objek benda yang di atas meja. Kemudian aku melihatnya lagi, ternyata dia juga mengikutiku melihat objek benda yang diatas meja. Rasanya aku benar-benar ingin tahu banyak tentangnya.
Aku memerhatikan penampilannya lagi disaat dia lengah. Dia memakai jaket coklat dan kemeja putih didalamnya, kancing atas kemeja itu terbuka. Dia memakai jelana jeans biru tua yang ada bolongan kecil di lutut sebelah kanannya. Dia benar-benar telihat sangat keren dan jantan bagiku.
Apa dia jago menggambar makanya ikut ujian keterampilan ini atau dia sama sepertiku yang disuruh oleh orang tua? Banyak pertanyaan yang muncul dipikiranku sekarang tentangnya, bukannya memikirkan bagaimana ujian keterampilan menggambar ini yang sebentar lagi akan dimulai. Rasanya dalam sekejap anak laki-laki didepanku ini mengalihkan pikiranku.
Lalu ujian pun dimulai, semua peserta ujian diberi kertas gambar yang lumayan besar dan papan sebagai alas. Seperti dugaanku dari awal, soalnya adalah menggambar 3 objek yaitu botol, bola, dan pepaya yang sudah diletakkan di atas meja. Aku masih belum yakin apa aku bisa menggambarnya.
Lalu kulihat anak laki-laki didepanku. Dia cukup membuatku takjub karena dia langsung mengerjakan gambarnya dengan cepat, arsiran pensilnya terlihat sangat bersemangat. Sungguh dia terlihat berbeda dengan yang lainnya. Aku pun jadi ikut bersemangat karenanya, aku juga mulai berusaha menggambar.
Tanpa terasa waktu ujian berakhir selama satu setengah jam. Selama mengerjakan gambar aku sesekali mencuri pandang ke anak laki-laki didepanku, dia masih terlihat terus bersemangat. Tanpa sadar dan tiba-tiba saja jantungku mulai berdebar dan aku sedikit malu memandanginya terlalu lama.
Disaat kertas gambar dikumpulkan aku melihat kertasnya, itu adalah gambar yang menakjubkan. Dia bukan hanya menggambar 3 benda itu tapi mejanya juga hingga kertas gambarnya terlihat penuh, berbeda sekali dengan punyaku.
Ada sedikit rasa takut tiba-tiba didalam benakku. Yang tadinya aku merasa ujian menggambar ini tidak penting bagiku tapi sekarang aku mulai merasa takut. Aku takut seandainya dia lulus ujian ini dan diterima di kampus ini sedangkan aku tidak maka aku akan semakin sulit mengenalnya, pikirku sedih.
Ujian ini pun berakhir, aku mulai merapikan peralatan gambar dan pakaianku. Aku merasa agak sedih dan tidak memasang senyumku lagi. Ini adalah detik-detik kesempatan terakhirku untuk berkenalan dengannya. Dia juga sepertinya masih sibuk merapikan dirinya. Disaat semua anak di kelompokku sudah menuju pintu keluar, aku dan dia masih duduk dibangku merapikan diri.
Entah kenapa aku ingin waktu berhenti sekarang. Rasanya mulutku kaku untuk mulai berbicara padanya. Jantungku mulai berdebar tidak karuan lagi. Tapi saat-saat ini memang harus berakhir. Aku menaruh papan alas menggambar di atas meja dan dia juga menaruh papannya di atas papanku. Melihat hal ini membuatku sedikit tersenyum.
Anak laki-laki yang belum kuketahui namanya ini langsung menuju pintu keluar. Aku ingin sekali menariknya namun rasanya itu hal yang tidak mungkin kulakukan. Diam-diam aku mengambil handphone di kantong celanaku, aku memotretnya dari belakang. Lalu ruangan mulai dipenuhi peserta ujian yang ingin keluar ruangan. Aku mulai kehilangan jejaknya, dia sudah tidak terlihat lagi di depanku. Pipiku mulai terasa hangat, tanpa sadar air mataku jatuh dan aku menangis di tengah-tengah kerumunan orang.
~Selesai~
Hai aku kembali lagi menyelesaikan cerita bagian kedua ini (/^_^)/
Kali ini ceritanya sudah lebih agak panjang dari pada yang bagian pertama :D
Semoga kalian suka ya ^^
Tidak lupa aku minta kripik dan singkongnya,
dengan meng-klik tulisan Review dibawah ini
Sampai ketemu dibagian ketiga ya (^_^)/
Terima Kasih 3
