Chapter 2

Lama sekali ya baru diupdate.

Here we go. Langsung saja.

-Chapter 2-

Ai berdiri paling belakang di antara antrian di depan toko buku. Conan, Shinichi, di depannya. Mereka, bersama tiga anak SD Teitan yang mengaku sebagai Kelompok Detektif Cilik, mengantri untuk membeli komik yang baru terbit hari itu, komik yang Ai tidak tahu sama sekali tentangnya dan lupa apa judul komik itu, ia hanya berpura-pura menyukainya. Ia yakin Conan pun tidak tertarik dengan komik kekanak-kanakan seperti itu. Walaupun demikian, ia harus sebisa mungkin tampak meyakinkan seperti kanak-kanak pada umumnya.

Pagi itu mereka berjanji berkumpul di taman kota. Setelah kedatangan Ai, mereka bergegas menuju toko buku. Antrian sudah sangat panjang. Semakin lama antrian itu semakin panjang.

Ai bosan. Ia merasa hal itu sama sekali tidak berguna. Menghabiskan waktu mengantri untuk membeli sebuah komik yang sesungguhnya sama sekali tidak ia mengerti sama sekali tidak akan membantunya menyelesaikan tugasnya. Ia bahkan tidak tahu dengan cara apa ia dapat menghilangkan nyawa orang di depannya itu. Ia bisa saja melakukannya saat itu juga. Mendorong tubuh anak itu ke jalan di depannya, melempar batu tepat ke kepala anak itu, setelah itu ia akan melarikan diri dan kembali ke tubuh aslinya. Namun tentu saja ia tidak akan melakukan cara sarkatis semacam itu. Itu bukan caranya, bukan cara organisasi.

Gadis itu tidak mengerti. Sama sekali tidak mengerti mengapa ia yang ditugaskan melakukan perbuatan itu. Ia hanya seorang ilmuwan, bukan pembunuh. Ia belum pernah membunuh, setidaknya secara langsung. Ia hanya membuat obat untuk membunuh tetapi bukan membunuh keji seperti yang dilakukan para petinggi organisasi itu. Organisasi itu dipenuhi orang keji, kejam, mengapa bukan mereka yang mendapat tugas itu?

Ia tahu, setelah nyawa kakaknya dihabisi dalam organisasi itu, sikapnya lebih dingin. Ia bahkan sempat berpikir untuk melarikan diri dari organisasi itu. Tetapi, sebelum ia sempat melakukannya, ia pun tahu, Gin akan mencari ke mana pun ia pergi. Ia tidak akan pernah aman. Organisasi itu tidak akan puas tanpa melakukan hal yang sama kepadanya, seperti mereka melakukan hal itu terhadap kakaknya.

Namun, berada dalam organisasi itu pun bukan berarti dirinya aman. Nyawanya tidak akan pernah aman sebelum ia menghabisi bocah itu. Pilihannya hanya dua: nyawanya sendiri atau nyawa bocah yang tak dikenalnya.

Maka, malam itu, setelah ditugaskan untuk melacak sang bocah detektif, ia meminum obat itu, obat yang ia tahu telah gagal dibuatnya, obat yang tidak sempurna untuk membunuh: APTX 4869. Tidak ada satu orang pun dalam organisasi itu yang tahu ia menyimpan, dan meminum, obat yang belum sempurna itu, setidaknya itulah yang ada di pikirannya. APTX 4869 sudah sempurna dan obat yang gagal telah dihancurkan. Tidak akan ada yang mengira ia menyimpan obat yang gagal.

Dengan segala skenario yang telah dibuatnya, ia meminum obat itu. Ia tahu tubuhnya tidak akan kuat menahan obat itu untuk pertama kalinya. Ia menjatuhkan diri. Bahkan, ia tidak menyangka skenarionya akan sangat mudah. Professor tua kenalan bocah itulah yang pertama kali menemukannya, renta di jalanan diguyur hujan. Dengan kemampuannya berpikir cepat, ia sedikit mengubah skenario yang diciptakannya itu.

"Selamat datang!" Suara riang seorang gadis menyadarkannya. Ia sudah berada di antrian paling depan. Ketiga bocah SD itu sudah berdiri di luar toko buku, dengan riang membuka komik mereka. Conan masih membayar komiknya.

Ai mengambil komiknya asal saja dan membayarnya dengan tidak peduli. Ia bergabung dengan empat anak lainnya.

Tiga kanak-kanak itu sibuk membicarakan komik yang baru saja mereka beli dan cerita seri-seri sebelumnya. Ai berjalan paling belakang bersama Conan, malas mendengarkan.

"Hei, cobalah sedikit lebih seperti anak kecil," tegur Conan. Tentu saja ia tahu Ai bukanlah anak kecil, dari cerita yang dikarangnya.

Ia mendengus tak peduli.

"Setidaknya itu akan membuat orang lain yakin kau memang anak kelas satu SD dan mungkin membuat organisasi kehilangan jejakmu."

Tentu saja, organisasi kehilangan jejaknya saat melacak Kudo. Organisasi tidak tahu bagaimana caranya melacak Kudo. Namun bukan berarti ia menghilang begitu saja. Ia tetap harus melakukan tugasnya. Organisasi pasti akan melacaknya jika tidak melakukannya. Walaupun dalam tubuh gadis kecil, ia tetap tak akan aman.

Lupakan. Ia harus segera menyelesaikan tugasnya. Setelah itu, ia kembali ke dalam organisasi, yang ia tidak tahu apa yang sedang menunggunya di sana.

Ia tahu, apa pun yang akan dihadapinya ketika kembali ke organisasi sama sekali tidak dapat diprediksi menjadi hal baik. Ia sesungguhnya tidak sepenuhnya yakin ia akan selamat setelah melaksanakan tugasnya, setelah perlakuan organisasi terhadap kakaknya. Ia pun yakin, kakaknya tidak menginginkan dirinya tetap berada dalam organisasi mengerikan itu. Namun, ia terlalu takut untuk melarikan diri. Ia takut hidup dalam kegelisahan. Ia takut hidup dalam keputusasaan. Padahal, tanpa mau diakuinya, ia telah putus asa.

Ia merasa bodoh. Pilihan apa pun dalam hidupnya tidak ada yang tampak menjanjikan. Satu-satunya janji yang ia ketahui dalam hidupnya adalah janji hidup dalam ketidaktenangan. Tetap di organisasi atau melarikan diri, semuanya hanya mewujudkan ketidaktenangan, ketidaktenangan dalam baying-bayang organisasi yang akan selalu membuntutinya bahkan ke dalam mimpinya. Ia mendengus.

Dengusannya membuat Conan menoleh, sementara anak-anak itu masih terus berbicara riang di depannya.

Ai ikut menoleh.

"Terkadang pilihan tidak selalu ada yang benar, bukan? Terkadang jawaban tidak selalu ada yang benar," katanya.

Conan tampak sedikit bingung. Detektif itu pasti menganalisis perkataannya.

Namun kemudian Ai tersenyum. Ia tersenyum melihat tiga kanak-kanak di depannya. Berbicara riang, ekspresif terhadap sesuatu, tidak memikirkan beban apa pun. Ai tersenyum. Ia lupa kapan terakhir kali ia dapat seriang itu.

-bersambung . . . –


Ummm.. alurnya lambat ya?

Mungkin selanjutnya akan dipercepat.