.

.

.


HEART OF EMPEROR


Heart of Emperor

Heart of Emperor©Hachi Breeze

Character adapted©Naruto©Masashi Kishimoto


©SasuHina

©2013


.

.

.

Sasuke masih berjalan di belakang Itachi dan Hinata. Ia bisa melihat keduanya berjalan berdampingan walau jaraknya tak sedekat dirinya ketika berjalan dengan Hinata dulu. Kimono yang dipakainya sedikit membuat Sasuke susah bergerak. Ia mengeratkan pegangannya ke pedang yang sudah dibawanya. Sasuke sedikit berlari kecil ketika hampir kehilangan jejak dua orang yang ingin di ikutinya. Di depan, sudah ramai dengan orang-orang yang akan berdo'a menuju kuil. Rupanya Hinata ingin pergi ke kuil. Sasuke kira ia akan datang ke festival yang ramai disamping kuil. Ia hanya menggaruk belakang kepalanya merasa malu.

Dari belakang, Sasuke masih bisa melihat Itachi memegang tangan Hinata. Kakaknya itu membantu Hinata menaiki tanjakan menuju kuil. Sasuke tahu maksud baik kakaknya. Tapi jujur ia tak suka cara melihat kakaknya. Sasuke masih diam berdiri mengawasi dari tempatnya bersembunyi. Kimono putihnya bergesekan dengan daun semak-semak. Ketika Hinata hampir saja terpeleset karena getanya yang licin dan juga kimono biru terangnya sangat sempit, Sasuke terkejut dan hampir saja keluar dari persembunyiannya untuk menolong gadis itu. Tapi Sasuke tahu, gerakannya terhenti saat ia bisa melihat Itachi tersenyum lembut disana. Sasuke tidak tahu, tangannya mengepal menggenggam erat ujung katana yang bersembunyi dibalik kimononya.

Sasuke memutar tubuhnya. Tidak ingin melihat lebih jauh pemandangan yang entah kenapa membuat dirinya merasa terbakar. Sasuke membuka kedua matanya ketika mendengar suara dari semak-semak. Dengan cepat ia mengeluarkan katana dari sarung pedangnya.

Bunyi tabrakan dari dua katana yang saling bertemu itu membuat keduanya terkejut. Sasuke menurunkan katananya ketika ia bisa melihat Hanabi dari dekat. Neji juga menurunkan katananya ketika Sasuke membungkuk hormat. Keduanya lalu memasukan kembali katananya ke sarung pedang.

"Apa yang kau lakukan disini, Uchiha?"

Sasuke melirik Neji yang menatapnya tak senang. Ia bingung harus berkata apa. Mengatakan kebenaran jika dirinya datang kesini karena membuntuti Itachi dan Hinata secara diam-diam berarti sama saja mempermalukan dirinya dihadapan Hanabi. Ia berganti memandang gadis yang masih senang menggerai rambut coklat panjangnya itu dengan tatapan angkuh. Sasuke masih tidak bisa menyapanya.

"Aku hanya berjalan-jalan disini. Kau hampir saja membunuhku, Hyuuga."

"Apakah artinya Hinata ada disini?"

Sasuke memandang Hanabi. Gadis itu bersuara masih dengan wajahnya yang angkuh menatap dirinya. Sasuke tidak bisa berkata iya jika hasilnya akan membuat Hanabi pergi seperti 4 tahun yang lalu. Hanabi mendekat ke arah Sasuke. Hendak menyentuh wajah pemuda itu dengan tangannya yang panas.

Ketiga orang yang berdiri disana terkejut ketika Itachi menghentikan tangan Hanabi. Ia tersenyum lembut dan mencium tangan Hanabi sebagai salam seorang gentleman. Neji dan Sasuke yang melihatnya sudah saling menggertakan giginya.

"Maaf Hanabi-sama, saya membutuhkan dia untuk menemani Hinata-sama."

"Hei-"

"Dan tolong, kalian bisa menunggu karena Hinata-sama akan berdo'a dulu. Kami berjanji akan segera selesai."

Itachi menarik paksa Sasuke yang tak ingin dipermalukan di depan Hanabi. Tapi justru karena permintaan Hinata yang ingin menjemput Sasuke dari Hanabi lah yang membuat dirinya menarik kuat lengan adiknya. Neji menghembuskan nafasnya pelan. Baginya, Uchiha sangat merepotkan. Hanabi masih menerawang menembus semak-semak. Disana ia bisa melihat Hinata tengah menatap ke arahnya tajam. Hanabi membalikan badannya ketika ia merasa pandangan Hinata masih sama seperti dulu. Lembut, dingin, dan tajam menembus ke hati.

"Hanabi-sama, apakah tidak apa-apa?"

"Ya. Kita bisa ke festival dulu."

"Hai."

"Mengenai pemuda tadi … ?"

"Uchiha?"

"Sepertinya dia berharga untuk Hinata."

Neji masih tidak mengerti ucapan Hanabi ketika gadis itu melontarkan kalimat dengan tersenyum aneh.

.

.

.

"Apa yang kau lakukan disini, bodoh?"

"Bukan urusanmu!"

Itachi menarik Sasuke hingga ke pijakan pertama menuju kuil. Itachi masih menderu dengan wajah yang merona menahan marah. Sasuke menghentakan lengannya untuk menyingkirkan tangan Itachi yang memegang erat tangannya.

"Jika bukan karena Hinata, aku tidak akan menarikmu."

Sasuke mendorong pelan dada Itachi yang menekan tubuhnya kebelakang. "Kau tidak mengerti apa-apa tentang Hyuuga, Sasuke. Dan orang yang baru kau temui itu, bisa saja dia membunuhmu jika Hinata tidak menyuruhku untuk menarikmu."

"Uchiha-san … ?"

Itachi dan Sasuke menoleh ketika keduanya bisa melihat Hinata sudah berdiri khawatir di atas pijakan. Kimono biru terangnya bergerak sempit ketika gadis itu mencoba menuruni pijakan yang tinggi. Kain penutup wajahnya bergerak lembut ketika tubuh itu menuruni tangga. Itachi berganti menatap wajah Sasuke yang terpesona. Ia memalingkan kembali pandangannya menatap kaki Hinata. Ketika geta dan pijakan yang di pijak Hinata licin, Itachi dan Sasuke berlomba menangkap tubuh kecil Hinata yang jatuh. Itachi berhenti ketika Hinata lebih memilih memeluk tubuh tegap adiknya. Memeluknya erat dengan mata yang sembab.

Sasuke memeluk tubuh kecil Hinata tak percaya. Ia sempat berpikir akan kalah cepat meraih tubuh ini dengan kakaknya. Ia mengelus pelan rambut panjang gadis itu sambil mengirup aroma segar seperti air dari tubuh Hinata. Ia tersenyum tipis sambil memeluk Hinata. Itachi masih menghembuskan nafasnya. Langkah kakinya berbalik menuruni pijakan tangga.

"Kalian pergilah. Aku ingin berjalan-jalan sebentar."

Itachi menuruni tangga pijakan tanpa menoleh ke belakang lagi. Sasuke memegang jemari Hinata untuk membantu gadis itu melangkah naik kembali.

.

.

.

Sasuke memandang wajah Hinata yang masih tertutup. Gadis itu berdo'a dengan memejamkan matanya. Bunyi lonceng berbunyi pelan ketika angin berhembus. Sasuke memalingkan wajahnya ketika Hinata mulai membuka matanya. Wajahnya bersemu merah. Gadis itu berbalik memunggungi Sasuke. Menunggu pemuda itu menyelesaikan do'anya. Sasuke melirik punggung dengan rambut indah itu di sampingnya. Sasuke menyelesaikan do'a nya sambil membunyikan lonceng kecil di kuil. Ketika ia hendak menepuk pundak Hinata, gadis itu sudah menatapnya.

"Sasuke-san sudah selesai?"

Hinata masih memandangnya dalam diam. Gadis itu masih menatap Sasuke dengan bingung.

"Kemarikan tanganmu. Akan aku tuntun menuruni pijakan agar tidak jatuh."

Hinata masih memandang Sasuke. Sasuke memandang lurus ke mata Hinata yang bisa ia pandang jelas. Perlahan jemari Hinata bergerak mencoba meraih wajah Sasuke. Ketika jemari kecilnya hampir menyentuh wajah Sasuke, ia berhenti. Sasuke memandang jemari kecil Hinata yang hendak menyentuh wajahnya dan berganti menatap mata Hinata.

"Maafkan aku."

Ketika Sasuke hendak bersuara menyahut, jemari Hinata sudah menyambut hangat tangannya. Merasa tenang dan familiar seperti waktu pertama kali ia bertemu Hinata. Ia melangkah menuruni pijakan menuntun Hinata. Katananya bersinggungan dengan pijakan yang menaik hingga sebelah tangannya harus mendekap katana.

.

.

.

Sasuke dan Hinata duduk di gubuk kecil dekat pintu masuk festival. Sasuke mencari-cari sosok Itachi yang tak bisa ia temukan. Hinata masih duduk menjaga jarak sambil menunduk mengaitkan jemarinya. Sasuke tidak suka keheningan yang terjadi di antaranya dan juga Hinata. Diliriknya gadis itu masih nyaman duduk sambil mengaitkan jemari kecil dan mengayun-ayunkan kakinya.

"Ayo kita masuk ke festival mencari Itachi."

"T-Tidak."

Sasuke mengernyit. Hinata masih memalingkan wajahnya bertolak pandang dengan Sasuke.

"Sasuke-san bilang aku membosankan ketika kau berjalan bersamaku."

Sasuke terkejut. Itukan jauh dari tempat Hinata ketika dirinya mendeklarasikan kalimatnya itu. "Bagaimana kau bisa … ?"

"Sasuke-san menyukai Hanabi, bukan?"

"Hinata, tunggu … "

"Ada yang tidak bisa Sasuke-san mengerti tentang Hyuu-"

"Hinata,"

"Tolong jangan buat jarak denganku. Persetan dengan itu semua! Ceritakan padaku jika kau tak bisa menahannya sendirian. Aku juga perlu mengenalmu."

Hinata terkejut ketika wajah Sasuke begitu dekat dengannya. Wajahnya merona dibalik kain penutup wajahnya. Perlahan, ia memundurkan dirinya sedikit untuk menjauhkan jarak antara dirinya dengan Sasuke.

.

.

.

Itachi masih berjalan tanpa arah di kerumunan orang-orang yang datang di festival. Mengingat wajah Hinata ketika memeluk Sasuke sungguh tak pernah ia melihatnya. Itu pertama kalinya hatinya terasa aneh. Itachi meremas ujung tangan kimononya. Festival yang di adakan untuk menghormati dewa di bulan ini agar pertanian tahun ini baik-baik saja membuat Itachi merasa bosan dan pusing. Bahunya menabrak bahu orang lain ketika ia berjalan tak memandang ke depan. Ia tahu itu adalah Hyuuga Neji. Itachi hanya memandang sekilas dan menemukan Hanabi menahan sebelah tangannya. Gadis itu memang sangat mirip dengan Hinata. Hampir saja ia memanggilnya Hinata jika tidak mengingat perbedaan Hinata dan Hanabi terletak pada poni mereka. Hanabi tersenyum kecil.

"Bukankah kau harus menemani Hinata, Uchiha-san?"

"Saya hanya harus memanggil adik saya untuk Hinata. Dan Hanabi-sama, tolong jangan dekati Sasuke lagi."

"Jadi, sebegitu berharganya kah? Dasar Hinata … kau selalu saja memiliki apa yang tak kupunya."

Hanabi melepaskan pegangannya dari lengan Itachi sambil menggerutu pelan. Neji meraih tubuh Hanabi untuk mendekat kesisinya. Meraihnya ke dalam pelukannya. Ketika Itachi melihat punggung Hanabi yang sudah menjauh, ia memutuskan untuk mengikutinya. Ia merasa tak enak.

.

.

.

"Jadi kau bisa menggunakan sihir?"

"Bukan sihir, lebih tepatnya kekuatan roh. Begitu pula dengan Hanabi. Itu karena sewaktu kecil, kami pernah mengalami perebutan roh."

"Jadi maksudmu, kalian berdua kembar yang bisa menggunakan roh?"

Hinata hanya mengangguk menanggapi ucapan Sasuke. "Dan jika kami berdekatan,"

"Hinata … "

Sasuke dan Hinata menatap Hanabi yang sudah berdiri beberapa langkah di hadapan mereka. Sasuke dan Hinata sontak berdiri. Bukan untuk menghormati kali ini, melainkan karena terkejut. Tak biasanya Neji tak bersama Hanabi saat ini. Hinata mencari sosok pemuda itu di belakang Neji. Ketika ia tak menemukannya, ia memutuskan untuk bersembunyi di balik punggung Sasuke. Entah mengapa Sasuke jadi tidak bisa merasakan debaran yang menggoda ketika menatap Hanabi seperti sebelumnya. Getaran itu berubaha alarm bahaya ketika ia merasakan tubuh Hinata yang bergetar di belakangnya. Sasuke hendak mengeluarkan katananya ketika Hanabi berjalan mendekat. Tangan kecil Hanabi meraih pundak Sasuke dan melempar tubuh Sasuke.

"Minggir bodoh!"

Hinata mundur beberapa langkah ketika Hanabi mendekat. "Hanabi berhenti disitu! Kau bisa merusak-"

"Aku hanya ingin melihat wajah kakakku."

Hanabi masih tersenyum dan mencoba mendekati Hinata. Sasuke masih tidak mengerti dan mencoba mendekati keduanya. Dari jauh ia bisa melihat Neji berlari ke arahnya. Berteriak hingga membuat Sasuke terkejut. Ketika pertahanan Sasuke melemah, Hanabi meraih wajah Sasuke. Ingin menghisap jiwa Sasuke dengan tersenyum simpul. Hinata yang berada di belakang Sasuke tak bisa membiarkan hal itu, ia mendorong tubuh pemuda itu mundur. Hanabi tersenyum ketika Hinata berdiri di hadapannya. Tangan kiri Hinata terbakar ketika menyentuh kulit Hanabi. Beberapa detik kemudian, keduanya jatuh. Sasuke dengan cepat menangkap tubuh Hinata yang jatuh ke dalam pelukannya. Begitu pula Neji yang menangkap Hanabi hingga hampir jatuh.

Kontak fisik keduanya terlalu jauh. Hinata dan Hanabi tak sadarkan diri karena saling mencuri jiwa.

"Bodoh! Cepat pergi dari sini!"

Sasuke tidak mengerti. Tapi ketika ia bisa melihat Itachi berlari ke arahnya, Sasuke menggendong Hinata menjauhi Neji dan Hanabi. Sasuke menghampiri Itachi yang sudah nampak pucat melihat tangan kiri Hinata. Belum lagi melihat gadis itu tak sadar, pikirannya sungguh tak karuan.

.

.

.

Mikoto duduk mengompres tangan kiri Hinata yang terluka bakar menggunakan air. Fugaku menghela nafas berat di samping Mikoto. Hinata terbaring di ruangan keluarga kerajaan Uchiha. Itachi dan Sasuke masih diam tidak mengeluarkan suara apapun. Sasuke memang masih belum mengerti sejak kecil. Ini bisa dikatakan murni kecelakaan. Itachi melirik Hinata yang masih belum sadarkan diri. Sasuke memegang jemari Hinata yang terluka. Jemari yang beberapa jam lalu ia pegang ketika menuruni pijakan kuil kini terluka.

"Berapa lama kontak fisik yang terjadi?"

"Mereka terlalu dekat."

"Sasuke kau-"

"Maafkan aku, tou-san! Aku tidak bisa menjaga-"

"Uchiha-san … "

Hinata membuka matanya perlahan ketika Mikoto tersenyum. Itachi dan Sasuke beranjak mendekati Hinata yang mulai sadarkan diri. Gadis itu masih memeriksa kain penghalang yang menutupi wajahnya. Fugaku membantu putri sahabatnya ini untuk duduk ketika Hinata mencoba bangun. Ia mengambilkan segelas teh untuk Hinata. Hinata hanya tersenyum kecil dan menerima gelas dari tangan Fugaku.

"Ini bukan salah Sasuke-san, aku memang berusaha melindunginya tadi. Maafkan aku membuat kalian cemas,"

.

.

.

Hinata dan Sasuke duduk di pinggiran roka kerajaan. Sasuke masih menatap tanah yang ada di bawah kakinya. Begitu pula dengan Hinata, ia masih menunduk memegang jemari kirinya yang terbakar karena kontak fisik dengan Hanabi.

"Sewaktu kecil, aku bisa mendengarmu mendesah kecewa karena kau harus menjagaku … bukan Hanabi."

Sasuke menoleh. Ia ingin berbicara tapi sorot mata perempuan di sampingnya ini membuatnya tak bisa bersuara.

"Malam itu ketika Mikoto menyuruhku tidur nyenyak, aku tidak bisa tidur ketika mengingat kau merasa kecewa."

"Soal itu maaf."

Hinata hanya tersenyum simpul dan mengangguk sambil membenahi rambutnya. "Sasuke-san ingin melihat kekuatan roh yang memilihku?"

Sasuke menoleh cepat dan mendekatkan dirinya ke Hinata. Gadis itu masih menunjukan tangan kirinya yang terluka. Ia tersenyum ketika Sasuke memerhatikan dengan penasaran. Perlahan tangan kanannya terulur untuk mengusap lukanya. Cahaya biru terang keluar dari luka Hinata. Gadis itu masih melakukannya berulang-ulang hingga luka itu hilang bersama cahaya yang memudar menjadi putih. Sasuke kagum dan masih tak bisa percaya jika hal seperti ini terjadi tepat di depan matanya.

"Aku dan Hanabi, kami terpilih oleh roh yang berlawanan. Roh api yang ada dulu hampir membuat kami mati, masih melekat di Hanabi. Karena itu ia butuh menghisap jiwa, terlebih lagi jiwaku. Itulah mengapa sebabnya kami tidak boleh berdekatan."

Hinata tersenyum getir di balik kain penghalangnya. Sasuke masih menyimak. Tidak berani menatap wajah putri yang anggun di sampingnya. Terlalu menyakitkan ketika melihat sorot matanya yang sayu dan sedih.

"Okaa-san kami mengorbankan diri hanya untuk membuat kami tetap hidup. Roh bulan yang melambangkan air memilihku. Itulah mengapa hanya aku satu-satunya yang bisa menahan Hanabi."

Hinata masih melihat jemarinya. Tangannya berganti meraih kain penghalang wajahnya sambil menatap tanah di bawah kakinya.

"Kata Hizashi-jiisan, tou-san menyuruhku menutup wajah karena aku begitu mirip dengan okaa-san. Aku selalu memotong rambut bagian depanku agar semua orang tahu jika aku adalah Hinata. Bukan Hanabi, ataupun okaa-san. Tapi-"

Kalimat Hinata terpotong ketika Sasuke memeluknya dalam. Pemuda itu mengelus pelan rambut panjang Hinata. Memberi ketenangan untuk Hinata. "Tidak apa-apa. Ada aku. Kau bisa bertumpu padaku, Hinata."

"Jika Hyuuga Neji bertanggung jawab menjaga Hanabi, kau tak perlu khawatir. Aku sudah bertanggung jawab untuk menjagamu sejak kau masuk kesini. Bukankah sudah begitu?"

Sasuke masih tersenyum dibalik pelukannya, "Maaf telah membuatmu kecewa."

Hinata masih terdiam. Pemuda ini membuat hatinya tenang. Hinata meraih punggung Sasuke lebih dalam. Membuat air matanya meleleh menuruni wajahnya hingga jatuh ke pundak Sasuke. Sasuke memberi ketenangan sebisa mungkin membalas perasaan Hinata selama ini yang merasa kesepian. Menjadi satu-satunya Hyuuga di klan samurai terhebat Uchiha membuatnya sepi. Belum lagi ia merasa banyak bersalah atas rasa kecewanya dan luka di tangan Hinata. Itachi masih bersandar di balik shoji. Mendengarkan semuanya dengan memegang dadanya. Deru nafasnya memburu. Ia sering berpikir, jika saja orang itu bukan Sasuke … jika saja orang yang menjaga Hinata bukan Sasuke melainkan dirinya, apakah Hinata akan tetap seperti ini?

.

.

.

Hanabi terbangun ketika Neji masih duduk sambil memejamkan mata disampingnya. Kain basah yang ada di dahinya membuat Hanabi merasa lengket. Ia mendudukan dirinya dan membiarkan rambut panjangnya berantakan. Ketika Hanabi termenung menatap futon dan kimononya, Neji baru terbangun. Pemuda itu masih bingung dan menanyakan keadaan Hanabi. Gadis itu masih diam. Tak menjawab dan hanya memandang pundak dan lengan kanannya.

"Hanabi-sama, yang anda lakukan itu sungguh berbahaya … "

"Aku hanya ingin melihat wajahnya,"

"Tou-san bilang, Hinata mirip dengan okaa-san. Aku ingin melihat okaa-san."

Neji hanya menghela napas. Hizashi membuka shoji dan membawa senampan yang berisi teh hangat. Neji masih menatap Hanabi yang memandang kosong gelasnya. Neji tahu, Hanabi bukan hanya sekedar ingin melihat wajah Hinata yang mirip dengan mendiang Hitomi, tapi ia juga menginginkan jiwa Hinata untuk membuat dirinya penuh.

.

.

.

Sasuke melihat bulan yang bersinar. Matanya sudah terasa berat. Ia ingin merebahkan tubuhnya di atas futon detik ini juga. Lampion yang merupakan satu-satunya penerangan di halaman itu mulai meredup. Api lilin yang mengisi cahaya di dalamnya mulai habis. Hinata masih bersandar dibahunya. Ia meminjamkan bahunya untuk disandari gadis itu memejamkan matanya, melelapkan pikirannya untuk hanyut bersama mimpi. Sasuke masih tidak bergerak takut membangunkan Hinata. Perlahan, ia menyandarkan kepalanya di atas kepala Hinata sambil menghitung bintang di langit. Mencoba menutup matanya. Kedua kepala yang saling menempel berbagi kehangatan di malam yang sunyi dengan suara hewan kecil tak membuat keduanya bermasalah.

Mereka hanya butuh ketenangan.

.

.

.


T.B.C


[Kolom Review Balasan]:

Bluerose : Hachi sudah melanjutkan ini! :D Hachi sempet-sempetin ngegarap ini sama bawa laptop ke sekolah loh, sampe guru-guru (Fisika, Kimia, Bahasa Indonesia) nyariin saya yang ternyata bersembunyi di perpustakaan demi SasuHina ini xD #curcol. Gaya dan tata bahasa saya keren? Aduh, anda terlalu memuji … ini jauh dari kata sempurna loh. Pendeskripsian? Ini juga masih susah buat saya -_- saya usahakan untuk melanjutkan ini secepat yang saya bisa.

Lavender bhity-chan : Ini sudah Hachi lanjutkan loh :D sama seperti cerita saya ke bluerose-san, sebisa mungkin akan saya bela-belain ngegarap fanfiksi ini. Kecuali kalo saya mau ulangan ya? Saya mohon ijin absen dulu -_-v terima kasih atas semangatnya :3

Kensuchan : Haloo Kensu-chan! :D #teriak. Kensu penasaran? Demi apa~ ? #goyang-goyang xD #ditabok Kensu-chan. Iya endingnya sudah jelas SasuHina dong! xD kalo misalnya ada Sasuke dan Hanabi scent yang melebihi Sasuke dan Hinata scent, mohon di maklumi ya? Itu untuk berlangsungnya fanfiksi ini. -_- sebenernya Hachi juga gak rela, tapi kalo gak gitu mau gimana lagi problema di fanfiksi ini? Maaf jika membuatmu kecewa :( ini sudah saya banyakin SasuHina-nya. Apakah ini bisa membayar kesalahan saya?

Suzunida : Iya akan saya lanjutkan saying :* #ditabok. Ngomong-ngomong makasih ya sudah mau mampir~ dan terima kasih atas pujian yang sudah dikau berikan kepadaku walaupun ini jauh dari kata sempurna :*

Istrinya cho kyuhyun : Sebelumnya aku mohon ijin ketawa dulu yak? xD tiap lihat nama dan isi review kamu aku jadi terhibur, jadi bisa menambah semangat aku buat ngelanjutin fiksi ini. Gak tau kenapa dari review kamu bisa buat aku ketawa kayak gini xD #ditabok. Mungkin karena kamu manggil aku 'thor' dan cara nulis kamu kali yak aku jadi seneng gini. Lumayan kamu dapet pahala loh udah buat aku ketawa :D sebelumnya makasih ya, ini udah aku usahain update cepet :) cinta segitiga ya? Sepertinya menarik~ xD #nah loh?!. Wkwk, sebenernya sempat terlintas di pikiran saya cinta segi banyak #HUH?! O.o tapi kita lihat nanti saja ya ;) sudah pasti Sasuke saya buat jatuh cinta sama Hinata, kalo enggak … mana mungkin ini SasuHina xD masalah cara jatuh cinta-nya ya? Bukan dari wajah kok tenang aja, dia hanya terpesona. Nanti kita bahas gimana cara Sasuke jatuh cinta sama Hinata ;) jangan hiraukan summary nya, itu hanya untuk menarik reader xD #eh dasar author gila!

Chibi beary : Makasih atas pujiannya, ini masih belum sempurna tapi akan saya usahakan untuk layak di baca dan menghibur semuanya :) Sasuke dan Itachi sebenernya bukan sebagai budak sih, mereka ini kan ronin … nah ronin itu samurai yang tak bertuan jadi mereka gak bisa dikatakan budak, nanti di marahin Sasuke dan Itachi loh xD . mereka hanya di percaya Hiashi untuk menjaga Hinata yang notabane-nya wadah dari roh bulan, selain itu ia pengen mereka ngejaga Hinata soalnya wajahnya mirip Hitomi. Kalo Hinata tetep tinggal di kerajaan Hyuuga, Hiashi bakalan keinget sama Hitomi mulu makanya dititipin ke Uchiha. Begitu~ xD . haduh, bongkar gak ya rahasianya? xD

: Sepertinya konflik yang bakalan muncul banyak Aizy-san, saya pun juga gak tahu ini enaknya bakalan di apain #nah loh?!. Begini penjelasannya, ketika Hinata dan Hanabi lahir … mereka itu lahir bareng tanggal 27 Desember, tapi di tanggal itu cuma Hinata yang menangis sementara Hanabi tidak. Dan tanggal 27 Maret, Hanabi yang menangis sementara Hinata koma (coba cek tanggal lahir mereka, tanggalnya sama dan bulannya berbeda. Itulah alasan mengapa saya memakai konsep ini). Hinata hidup kembali bukan karena nyawa Hitomi, ia hidup karena roh bulan yang memilihnya sebagai wadah. Soalnya Hinata sama Hanabi itu lahir dua badan satu jiwa makanya mereka saling mencuri jiwa/roh untuk hidup. Nyawa Hitomi, dia kan pengorbanan untuk memanggil roh. Dan roh bulan itu yang terkuat buat milih Hinata sehingga kenangan Hitomi masuk ke Hinata, membuat Hinata nampak sedikit memiliki kesamaan sama Hitomi walaupun di fanfiksi Hinata adalah kembaran Hanabi :v . bingung gak sama penjelasanku?

Guest : Iya saying ini sudah Hachi lanjut xD :* apakah ini masih belum menjawab rasa penasaranmu? :3 makasih ya pujiannya. Sama seperti sebelumnya, maaf ini jauh dari kata sempurna yang mungkin bisa membuat dirimu kecewa akan diriku :( . makasih atas semangatnya ya saying :* mampir lagi ya.


[Author Note]

Hohohoho update~

Sankyuu banget buat para reader dan reviewer.. :3 saya sampe nangis bahagia loh :'D

Dilanjut gak ya~ ? xD #ditabok

Hayo mau dilanjut apa enggak? Hayo mau di apain ini cerita? Hayo mau dibawa kemana~ #plak

Maaf jika chapter 2 membuat kalian merasa kecewa :( jelek dan mengecewakan ya?