Kuroko No Basuke © Fujimaki Tadatoshi

AkaKuro as always

Warning! Shounen-ai, OOC, absurd, typo(s), quick plot, and many more.

Hallo, sebelumnya mohon maaf lahir batin semua. Sebagai permintaan maaf karena update lama, aku publish dua huruf sekaligus! HOREEE!

Semoga suka~


Kencan Pertama

.

"Kau berbaring saja, Tetsuya. Aku akan membuatkan bubur untukmu."

Selimut tebal dinaikkan sampai ke leher. Dahi kembali ditutup dengan kain kompres. Setelah merasa semuanya beres, Akashi keluar dari kamar, meninggalkan pemuda itu sendiri.

Kuroko mengehela napas. Matanya menatap pintu kamar yang baru saja tertutup lalu beralih pada langit-langit kamar. Seharusnya ini menjadi hari yang menyenangkan. Tapi kenapa berakhir seperti ini?

.

Flashback

Kuroko terlampau senang saat mendengar ajakan Akashi untuk pergi berdua besok. Meski pemuda itu hanya mengajaknya untuk membeli sebuah buku, tapi Kuroko luar biasa girang. Pasalnya selama ini meski sudah resmi berpacaran, tapi mereka tidak pernah jalan berdua. Pasti selalu beramai-ramai dengan yang lain. Jadi, kalau Kuroko menganggap kalau besok adalah kencan, tidak salah bukan?

Dari malam Kuroko sudah mempersiapkan baju apa yang akan dipakainya besok. Kuroko tidak ingin terlihat biasa saja dimata Akashi. Ayolah, besok itu kencan pertama mereka. Jadi, semunya harus terlihat sempurna―duh, nak, tingkahmu macam perawan yang tengah kasmaran saja.

Selesai mempersiapkan semua yang dibutuhkan untuk besok, Kuroko keluar dari kamar―mencari Nigou. Kuroko baru ingat kalau dari siang dia belum memberi makan anjing kesayangannya itu.

Biasanya Nigou berada di sofa ruang tamu, tapi nihil. Di dapur, tidak ada. Di kamar mandi juga tidak ada. Kuroko langsung gelagapan. Jangan-jangan anjing itu pergi keluar rumah? Dengan tergesa-gesa, Kuroko melesat keluar rumah. Melupakan fakta jika diluar tengah hujan deras.

Berlari kesana-kemari. Dengan tubuh yang sudah sangat basah kuyup. Kuroko sampai di pinggir sungai―jalan yang biasa dia lewati kalau mau pergi sekolah. Tempat dimana dirinya dan Nigou suka bermain bersama. Dalam hati Kuroko berdoa, semoga saja anjingnya ada disana.

Dan memang. Nigou berada disana, meringkuk kedinginan di bawah jembatan. Kuroko lantas berlari ke arah Nigou, meraih anjing itu dan memeluknya erat. Ah, betapa dia merasa bersalah karena sudah membuat Nigou seperti ini.

Lain kali dia tidak akan mengulanginya lagi. Apapun yang terjadi.

.

Seingat Kuroko semalam setelah dirinya mandi dan memastikan keadaan Nigou baik-baik saja, dirinya langsung terlelap. Seharusnya semua baik-baik saja, bukan? Tapi kenapa kepalanya terasa berat dan tubuhnya lemas sekali. Tangannya terulur ke arah meja yang berada di samping kasur, meraba-raba―mencari ponselnya. Dapat. Tombol kunci langsung di tekan, dan matanya terbelalak melihat angka yang tertera disana. Gawat. Sudah lewat dari waktu yang dijanjikan dengan Akashi.

Tanpa mempedulikan keadaan tubuhnya, Kuroko turun dari kasur. Tapi mengingat kondisinya yang buruk, tentu saja pemuda itu langsung jatuh ke lantai dengan cukup keras.

"Ittai ..."

Terdengar langkah kaki yang terburu-buru dari luar kamar. Kuroko mengerutkan dahi. Siapa gerangan yang berada di apartemennya? Kuroko was-was. Jangan-jangan rumahnya kerampokan, berarti bisa saja langkah kaki itu milik pelakunya

"Tetsuya, kau baik-baik saja?"

atau mungkin bukan.

Akashi-kun?

Kuroko diam saja saat Akashi membantunya kembali berbaring di kasur. Matanya menatap Akashi penuh tanya. Seakan mengerti arti dari tatapan sang kekasih, Akashi lantas berucap, "Tadinya aku ingin menjemputmu. Aku menekan bel berkali-kali, tapi tidak ada yang membuka pintu. Kupikir pasti terjadi sesuatu padamu. Ternyata benar. Untung saja aku punya duplikat kunci apartemen Tetsuya, jadi aku bisa masuk."

Ah, begitu rupanya. Saking lemasnya, dia sampai tidak bisa mendengar dengan jelas. Payah sekali.

.

"Satu suap lagi, Tetsuya."

Kuroko menggeleng pelan. Menatap Akashi dengan pandangan memohon. Perutnya sudah tidak bisa menampung lagi, jika dipaksakan malah terasa mual―nanti termuntahkan lagi.

Akashi menghela napas pendek. Mau bagaimana lagi? Kekasihnya ini sehat saja porsi makannya sedikit, apalagi jika sakit―tambah sedikit saja.

"Baiklah. Kalau begitu sekarang minum obat," mengambil beberapa butir obat dan disodorkan pada Kuroko. Sebelum kekasihnya sempat menyela, Akashi menambahkan, "suka tidak suka, kau harus tetap minum, agar cepat sembuh."

"Ta―"

"Tidak ada bantahan, Tetsuya."

Kuroko mengerucutkan bibirnya dan dengan enggan menerima obat yang disodorkan Akashi padanya. Obat dimasukkan ke dalam mulut dan langsung didorong oleh air mineral yang Kuroko teguk cepat-cepat.

Akashi menepuk kepala Kuroko―sayang. "Anak pintar."

Iris biru muda itu mendelik kesal pada sang kekasih, sebelum akhirnya kembali datar―meski jika dilihat lagi terlihat sebuah penyesalan disana.

"Akashi-kun, gomen."

"Hm?" Akashi menatap Kuroko yang tengah menunduk. Kenapa meminta maaf? Seingatnya Kuroko tidak melakukan kesalahan apapun.

"A-aku jadi mengacaukan jadwalmu untuk membeli buku."

Ah, rupanya itu.

"Tidak apa, Tetsuya."

Kepala biru itu terangkat, mendongak menatap Akashi tepat dimata. Pandangannya mulai berkaca-kaca.

"Ta-tapi... Seharusnya ini menjadi hari yang menyenangkan untukmu, tapi kau malah mengurusiku. La-lagipula, ki-kita belum pernah jalan berdua..."

Kalimat terakhir diucapkan Kuroko dengan sangat pelan, tapi masih bisa terdengar oleh telinga Akashi.

Pemuda heterochrome itu tersenyum tipis mendengarnya, apalagi saat melihat wajah Kuroko yang sudah memerah karena demam tambah merah saat mengucapkannya. Manis sekali.

Diraihnya tangan Kuroko dan dikecup sayang. "Selama itu denganmu, hariku akan terasa selalu menyenangkan, Tetsuya. Lagipula kalau masalah kencan, kita bisa melakukannya lain kali," senyum manis pun diberikan hanya untuk Kuroko.

Kuroko menenggelamkan wajahnya di bawah selimut. Wajahnya sudah menyaingi surai Akashi. Jantungnya berdetak dengan sangat cepar. Dan senyum pemuda itu berhasil membuatnya sulit bernapas. Akashi-kun, kau memang kejam!

Akashi hanya bisa terkekeh melihat tingkah kekasihnya yang menggemaskan. Dia selalu menyukai setiap ekspresi yang dikeluarkan Kuroko saat sedang berdua dengannya. Ah, rasanya ingin sekali dia membawa Kuroko pulang ke rumahnya saat ini juga.

"Sekarang waktunya kekasihku yang manis ini untuk tidur."

Kuroko mendelik tajam, "Akashi-kun, aku ini laki-laki, dan aku tidak manis."

"Tapi bagiku kau terlihat sangat manis, Tetsuya. Lebih manis dari gula manapun di dunia ini."

"Dasar gombal."

"Tapi kau suka, kan, pada orang gombal ini?"

Akashi menyeringai senang saat melihat Kuroko yang kembali merona.

"Akashi-kun no baka."

Terdengat kembali kekehan Akashi. Kuroko sebenarnya masih kesal sekligus malu, tapi tidak berniat meneruskannya. Matanya mulai terasa berat, mungkin efek dari obat yang diminumnya mulai bereaksi.

Setelah memastikan jika Kuroko benar-benar terlelap, Akashi memutuskan untuk menunggu di luar kamar, karena takut mengganggu sang kekasih. Tapi baru saja dirinya berniat pergi, tangan mungil dari pemuda yang tengah berbaring di kasur menarik kausnya.

"Akashi-kun, jangan pergi... Tetaplah disisiku."

Akashi mengerjap, menatap wajah kekasihnya yang tengah memejamkan mata. Dia mengigau?

Senyum manis terukir di wajah tampannya. Ah, sepertinya hari ini Akashi banyak tersenyum. Berbalik kembali menghadap Kuroko, badan setengah dibungkukkan untuk mengecup kening Kuroko. Cukup lama―menunjukkan betapa Akashi sangat menya―mencintai pemuda itu. Surai biru muda itu di usap dengan penuh kasih sayang.

"Tentu, Tetsuya. Aku akan selalu ada disisimu, selama yang kau inginkan."

Sekali lagi, kening itu dia kecup. "Selamat tidur, malaikatku. Aku mencintaimu, sangat."

Dan Akashi ikut terlelap dengan menelungkupkan kepalanya tepat disebelah Kuroko. Tangannya menggenggam erat tangan mungil itu, seakan takut jika dilepas pemuda itu akan pergi dari sisinya.

Owari


Mind to review?

.

Kiku