.
.
.
Legend Of Erathia
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Final Fantasy Series © Square Enix
.
.
.
Chapter 1: Fools
Dua belas tahun berlalu semenjak kaisar ke-sebelas Norad menyerukan sumpahnya untuk menyatukan seluruh Erathia di bawah pemerintahan kekaisaran Norad. Merebut paksa sebagian besar wilayah Arion mulai dari perbatasan Mako hingga sebagian Doria, mengusir mereka untuk mengungsi jauh hingga ke Klos. Mereka yang memilih untuk tetap tinggal hidup di bawa pemerintahan imperialis sebagai tawanan atau dipaksa untuk berpindah aliran, menjadi pendukung kekaisaran Norad. Bagi mereka yang menolak dan tetap menyerukan sumpah kesetiaannya pada negri Arion, atau mereka yang mencoba melawan untuk merebut kembali kebebasannya, akan menemui akhir oleh peluru panas prajurit Norad.
Kerajaan Vyn memiliki nasib yang tak kalah buruk dengan Arion—kalau tak lebih buruk. Tahun 1235, bulan Es (10th), tanggal 28, prajurit-prajurit Norad di bawah pimpinan Marsekal Obito menerbangkan kapal terbang serta pasukan pilot pengendali magitek* mereka jauh ke laut utara Vyn. Membombardir seluruh pulau-pulau berbatu di laut utara yang dilindungi kabut tebal, tempat yang dipercayai sebagai persembunyian klan kuno, klan yang memiliki keahlian luar biasa dari seluruh anak-anak Erathia—klan Summoner.
Para Summoner yang berada di bawah naungan dewi Eren serta kristal kuning dianugerahi bakat untuk memanggil dan mengendalikan makhluk misterius yang memiliki kekuatan luar biasa—Eidolon, membuat mereka mematuhi segala perintah yang mereka berikan tanpa ragu. Berbeda dengan metode memanggil makhluk suci—summon beasts yang dilakukan oleh orang-orang di Arion atau bahkan di Vyn sendiri, yang membutuhkan pengorbanan darah, bahkan tak jarang nyawa untuk memanggil satu summon beast menggunakan batu esper**, para summoner keturunan klan itu tak perlu memberikan pengorbanan darah kepada mereka. Mereka juga tak memerlukan bantuan batu esper yang hanya bisa digunakan satu kali sebelum hancur berkeping-keping. Jenis hingga kekuatan monster yang dapat mereka panggil dan kendalikan juga jauh dalam kelas yang berbeda dari pada mereka yang menggunakan bantuan esper.
Memandang dari sifat alami mereka yang menolak untuk ikut campur dengan urusan dunia luar dari klan, mereka bukanlah masalah bagi kekaisaran. Namun jika sesuatu terjadi pada kristal mereka, para tetua klan tak akan tinggal diam dan tak akan ragu bertindak. Jumlah mereka yang sedikit memang mudah untuk diremehkan, namun keahlian mereka yang luar biasa dipandang sebagai ancaman yang berbahaya bagi kekaisaran Norad. Jika satu ifrit*** yang di-summon menggunakan esper dapat menghancurkan sekitar lima hingga sepuluh magitek armor, tak bisa dibayangkan seberapa banyak kerugian yang akan diderita oleh Norad jika para Summoner menjadi musuh mereka. Kaisar dari Norad tak mau mengambil resiko negosiasi untuk menarik mereka ke pihaknya, dan langsung memerintahkan untuk meluluh lantahkan pulau-pulau di laut utara sebelum menakhlukan wilayah kerajaan Vyn. Dan membuat mereka tunduk di bawah cakar macan perak Norad. Memaksa sebagian besar penduduknya untuk mengungsi ke balik dinding kerajaan—pertahanan terakhir mereka.
Satu-satunya negara yang belum kehilangan satupun bagian dari wilayah mereka adalah kerajaan Seiryu, rumah bagi para naga. Hal itu dikarenakan oleh wilayah mereka berada di lembah-lembah yang dikelilingi oleh gunung serta bukit-bukit berbatu terjal dan curam yang berada dibagian timur. Hanya ada satu jalan untuk masuk ke wilayah Seiryu lewat darat, yaitu dengan melintasi gerbang batu besar yang diapit oleh dua tebing tinggi menjulang. Satu-satunya cara lain yang tersisa untuk masuk adalah dengan menggunakan kapal terbang. Namun hal itu nyaris tidak mungkin dilakukan. Seiryu tak dipanggil sebagai rumah para naga sebagai candaan. Dewi Train menganugerahi mereka dengan bakat untuk menakhlukan para naga dan mengendalikan mereka. Tetapi bukan berarti Norad tak cukup bodoh untuk tidak mencoba.
Setiap kapal terbang yang melintasi wilayah mereka tanpa izin, juga pesawat-pesawat magitek yang dikerahkan Norad untuk menembus pertahanan mereka bertekuk lutut di bawah kaki para prajurit Dragoon—pengendali naga. Jauh di dalam lembah gunung batu terjal di tanah suci leluhur mereka yang disebut sacred land of Mara berdiri kerajaan Seiryu di bawah pimpinan klan Hyuuga—klan para pengendali naga, yang dilindungi oleh para kesatria Train dengan pengorbanan darah mereka.
Walau mereka belum kehilangan satupun wilayah mereka, tidak berarti mereka aman dari cakar serta auman buas kekaisaran. Mereka bisa bersembunyi di balik gunung serta bukit batu mereka, bermain-main dengan naga, dan menjaga gerbang masuk mereka hingga ke perbatasan Ishtar sebagaimana mereka suka...sebelum Norad menemukan cara untuk menembus pertahanan kuat mereka.
.
.
.
Year 1247, Wind month (3th), Day 14. 04:45
Para anggota parlemen Arion memutuskan untuk mengirimkan prajuritnya dengan tujuan mengawal seorang ambassador—duta sebagai perwakilan Arion untuk berdiplomasi ke Seiryu. Para petinggi Arion bermaksud untuk meminta bantuan para pengendali naga untuk saling meminjamkan tenaga, bahu membahu dalam melawan Norad dan membentuk aliansi kerja sama.
Hanya satu squad kavaleri—pasukan penunggang kuda, juga beberapa siswa akademi militer Arion yang ditugaskan dalam misi tersebut. Bukan memandang dari tingkat kesulitan yang dikategorikan mudah pada misi itu, namun karena sedikitnya jumlah pasukan yang ada, karena sebagian besar dari mereka ditugaskan untuk merebut kembali wilayah-wilayah di perbatasan. Mereka diperintahkan untuk berjalan memutar melintasi wilayah Doria dan menghindari wilayah-wilayah kekuasaan imperial seperti Ingram dan Karnak untuk menghindari pertempuran-pertempuran yang tak diperlukan.
Menerima misi tingkat rendah memanglah suatu kewajiban bagi siswa yang ingin melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi, menjadi seorang trainee—rekruit baru untuk dibimbing menjadi kadet. Mereka yang terbaik atau yang menjalankan misinya dengan sangat baik bahkan tak perlu direkrut menjadi trainee dan langsung dijadikan kadet untuk diberi bimbingan lebih lanjut, untuk bergabung ke dalam tentara khusus serta pasukan elit atau lebih baik lagi—bergabung dengan kesatria pelindung Arion, kesatria Rito. Tetapi hal yang seperti itu sangat jarang terjadi, dengan beberapa pengecualian tentunya.
Namun semenjak perang menyebar ke seluruh Erathia, menerima misi tingkat rendah hingga menengah bukan lagi sebuah ujian untuk menilai para siswa tingkat akhir yang ingin melanjutkan sebagai trainee, melainkan bagian dari ujian bulanan bagi semua siswa akademi, bahkan bagi siswa tingkat satu yang baru bergabung. Anggota parlemen beralasan bahwa misi-misi yang dilakukan oleh siswa adalah cara yang terbaik untuk memperoleh pengalaman berharga yang akan sangat berguna ketika mereka menjadi prajurit kelak. Namun kepala akademi dengan keras membantah mereka, anggota parlemen hanya ingin mengirim bocah-bocah yang tak berpengalaman itu meluncur dengan kepala terlebih dahulu ke medang perang untuk bertemu dengan akhir mereka. Dengan kata lain, Arion kekurangan banyak prajurit dan membutuhkan anak-anak itu sebagai perisai manusia.
Misi kali ini memang digolongkan sebagai misi tingkat menengah, namun tak seorangpun dari siswa-siswa yang terlibat mempercayai bualan itu. Misi mengantar duta dengan maksud membuat persekutuan dengan Seiryu dari ibu kota Arion, memutari Doria, melewati wilayah Thebel, terus hingga perbatasan Ishtar hingga akhirnya sampai ke gerbang Seiryu. Dengan jarak seperti itu, dengan menggunakan tunggangan jika tanpa hambatan setidaknya membutuhkan waktu sekitar dua minggu. Belum lagi di tengah-tengah perang yang berkecamuk, mereka tak cukup bodoh untuk percaya akan pulang dengan nyawa yang masih menyatu dengan tubuh mereka.
Mereka melaksanakan misi yang diberikan sebelum fajar datang. Dengan menunggangi kuda serta beberapa chocobo**** tempur yang telah dilatih, memulai perjalanan dari Kardia, ibu kota Arion, melewati padang rumput Doria. Menghindari desa-desa yang telah dikuasai kekaisaran dengan memutar rute melewati pinggiran hutan—Doria outskirt. Hari pertama misi mereka berjalan lancar tanpa kendala, memberi sedikit ketenangan kepada siswa-siswa akademi yang kebetulan sial menerima misi itu.
Namun tidak bagi squad leader yang memimpin pasukan tersebut. Keadaan begitu sunyi di daerah yang seharusnya tengah terjadi pertempuran perebutan daerah. Tak satupun pesawat magitek pasukan Norad terlihat, juga tak seorangpun prajurit berlambangkan macan perak menampakkan diri. Perjalanan mereka memutari separuh Doria begitu lancar—terlalu lancar. Instingnya mengatakan hanya ada dua kemungkinan yang terjadi kala itu, prajurit Arion yang ditugaskan untuk mengambil alih kota menang—atau musuh sedang merencanakan sesuatu di balik punggung mereka.
Sang kapten memutuskan untuk berkemah ketika langit gelap menghampiri, tak ingin mengambil resiko melanjutkan perjalanan di malam hari. Mereka membangun kamp di dalam lindungan batang-batang pohon jarang Doria outskirt, untuk memperkecil kemungkinan berpapasan dengan prajurit Norad. Membagi tugas jaga malam secara bergantian.
Malam itu berlalu dengan tenang, tak sedikitpun terlihat aktifitas mencurigakan terjadi di sekeliling mereka. Membuat pasukan serta para siswa tersebut lengah. Namun ketika fajar mulai datang, keadaan berubah menjadi buruk. Prajurit militer berseragam perak mengepung dengan senjata yang diacungkan ke kepala mereka. Entah bagaimana bisa tiba-tiba saja prajurit Norad berada di sana, membuat pasukan Arion tak punya pilihan selain melawan mereka. Hutan yang semulanya sunyi senyap berubah menjadi ladang pertempuran yang ricuh dalam seketika.
Api berkobar di dalam hutan tersebut, menjilati batang-batang pohon serta melahap habis daun-daun di ranting, merubah hutan itu menjadi lautan api. Pasukan Arion menggunakan bakat yang diberikan oleh kristal kepada mereka untuk membakar habis prajurit-prajurit Norad dan melumpuhkan mereka, bekerja sama melindungi satu sama lain dengan magic barrier—dinding sihir yang menghalau atau setidaknya memperlambat peluru panas musuh mereka. Para siswa yang mendampingi mereka melawan seadanya menggunakan senjata mereka masing-masing, berusaha menghindari tembakan yang dihujani oleh musuh sebisa mereka, dan menjatuhkan prajurit Norad sebanyak yang mereka bisa.
Namun sebanyak apa pun prajurit yang mereka tundukkan, prajurit lain terus berdatangan untuk menghabisi mereka. Membuat siswa-siswa itu gemetar panik dengan rasa takut yang terpancar jelas di mata mereka. Darah yang berceceran di tanah, jeritan-jeritan, juga bau gosong tubuh yang terbakar api. Menyadarkan mereka sekeras apapun latihan serta simulasi tempur yang diajarkan di akademi, sama sekali bukan tandingan pertempuran yang terjadi di medan perang. Bagi anak-anak itu yang hanya membaca keganasan pertempuran dari buku pelajaran mereka, atau mendengarnya dari guru serta prajurit di sekitar mereka, hari itu akhirnya mereka merasakannya secara langsung. Karena kali ini tak ada instruktur yang akan menghentikan serangannya ketika nyaris mengenai titik vital mereka, tidak ada peluru karet yang hanya akan menyebabkan memar ketika mengenai kulit mereka, juga guru yang hanya akan memarahi mereka ketika serangan yang mereka lakukan tidak tepat sasaran. Karena saat itu mereka tidak bertarung untuk meraih nilai tertinggi di kelas, namun bertarung demi menyelamatkan nyawa mereka. Dan saat itu mereka belajar, rasa takut ketika berhadapan dengan musuh yang sebenarnya.
"Hha..!" Ucap seorang murid perempuan dengan iris penuh air mata serta tubuh yang membeku. Mata hijaunya memandang lurus ke rapier-nya yang menembus seragam perak prajurit berhelm yang berdiri di hadapannya. Lelaki itu terpaku sesaat, sebelum menarik tubuhnya dari pedang gadis itu sebelum terjatuh ke tanah, mengerang kesakitan. Darah segar yang menyembur dari perutnya terpercik ke wajah pucat gadis itu juga rambut merah muda panjangnya. Gadis itu tetap berdiri di sana dengan air mata yang mengalir di pipinya, mematung dengan tubuh yang gemetar, sambil menggenggam erat rapier-nya yang masih mengacung lurus. Matanya tak lepas dari ujung mengkilap benda itu yang berlumuran darah.
"Mereka terus berdatangan..." Ujar siswa lainnya, yang terhempas ke lantai hutan dengan kedua lutut yang menopang tubuhnya. Kedua kunai yang dipegang masing-masing tangannya jatuh ke tanah begitu saja. Matanya menatap pasukan Arion serta siswa lainnya yang tengah bertarung dengan prajurit musuh. "Begini kah akhirnya?"
Siswa lainnya menancapkan pedang panjangnya ke tanah, menjadikannya penopang untuk tetap berdiri. Napasnya terengah-engah, ia melihat rekan-rekannya satu per satu mulai tunduk dalam rasa lelah dan putus asa. Ada yang terduduk di tanah dengan rasa takut di mata mereka, ada yang bersembunyi di balik pepohonan mencoba menghindari prajurit Norad dan peluru panas mereka, ada juga yang berdiri mematung dengan darah di tangan mereka. Namun masih ada yang bertarung sebisa mereka membantu pasukan Arion memerangi prajurit-prajurit terkutuk itu. Usaha mereka nyaris sia-sia, tak satupun senjata mereka dapat menembus pakaian militer yang dikenakan prajurit-prajurit tersebut. Senjata yang mereka gunakan bukanlah tandingan bagi teknologi canggih yang dimiliki oleh Norad. Yang bisa mereka lakukan adalah melumpuhkan mereka untuk sementara dengan memukulnya atau menusuknya sekuat tenaga, atau menghabisi prajurit itu setelah prajurit Arion membakar baju militer mereka dengan api.
"Sakura!" teriak Naruto yang tengah bertarung dengan dua prajurit Norad dari kejauhan. Matanya menangkap wajah Naruto yang memberinya peringatan sejenak sebelum berganti menjadi sosok prajurit Norad yang berlari ke arahnya sambil mengacungkan senjata padanya. Ia kehilangan napasnya untuk sejenak, otaknya meneriakinya untuk menggerakan tubuhnya dan menghindar, namun ia begitu syok dan ketakutan—begitu ketakutan hingga membuat tubuhnya membeku dan tak bisa bergerak.
Ia nyaris bisa melihat peluru itu datang ke arahnya seakan-akan waktu berdetik lebih lambat dari biasanya, membuat jantungnya berhenti berdetak beberapa detik. Ia sudah siap akan kemungkinan terburuk sebelum seseorang melompat ke hadapannya tiba-tiba, dengan perisai energi transparan di hadapannya. Ia melihat lelaki itu berusaha keras mendorong peluru-peluru yang ditembakkan prajurit tersebut dengan dinding sihirnya yang tak sempurna. Sebelum siswa lain datang menyelamatkan mereka dengan menyerang prajurit tadi.
Gadis itu jatuh terduduk ke tanah, melepaskan rapier-nya dan membiarkan benda itu jatuh berguling begitu saja sambil berteriak histeris. Ia baru saja menangkap napasnya ketika tiba-tiba saja tubuhnya terhempas ke batang pohon oleh tangan yang mencekik lehernya dengan sungguh-sungguh.
"Jika kau menyebut dirimu siswa akademi militer Arion, maka buatlah dirimu berguna." Desis lelaki berambut hitam itu dengan dingin. Ia memperkuat cengkraman tangannya, membuat gadis itu meringis kesakitan. "Tapi jika kau hanya akan berdiri di sana dan melihat, lebih baik pulang saja!"
Gadis itu gemetar ketakutan di bawah sorot dingin iris gelap milik lelaki itu. Ia melepaskan cengkraman eratnya dari leher gadis itu sebelum menghilang secepat kehadirannya untuk bertarung bersama yang lainnya. Gadis itu membawa tangan gemetarannya ke matanya, berusaha keras menghapus air mata yang tak mau berhenti mengalir. Bukan karena rasa sakit yang masih terasa pada lehernya, atau karena nyeri memar serta goresan pada kaki dan tangannya. Tetapi karena kata-kata lelaki itu, yang meneriakinya secara lantang betapa pengecut dan tak bergunanya ia.
"Robot magitek dari arah barat! Robot magitek dari arah barat!" teriak seorang prajurit yang berlari untuk memperingati pasukan lainnya.
Naruto tengah menendang seorang prajurit Norad ketika mendengar kabar buruk itu, ia mengatupkan giginya rapat-rapat dan melihat ke pepohonan di arah barat. Sudah tidak ada lagi prajurit musuh yang berdatangan, tampaknya mereka akan benar-benar mengeluarkan kartu triumph mereka dengan membantai semuanya menggunakan magitek. Ia mengepalkan tinjunya dan melayangkannya pada prajurit musuh, hanya untuk ditangkis dan diserang balik dengan menendangnya hingga terpental. Ia bisa merasakan tubuhnya menabrak orang lain sebelum terhempas ke pohon secara bersamaan.
"Dobe..." ucap suara dari belakangnya di sela-sela ringisan kesakitan.
"Ahaha, maaf Teme." Balasnya seraya menggaruk kepala belakangnya, ia bisa mendengar lelaki berambut hitam itu mengumpat rendah sebelum mendorong tubuhnya dengan kasar dan berlari ke arah musuh untuk melanjutkan pertarungan.
Naruto bangkit dan melihat sekelilingnya. Pasukan musuh yang masih berdiri dan melawan mereka mulai berkurang—sedangkan sisanya menggelepar di tanah dan sebagian lainnya entah pingsan atau bahkan telah kehilangan nyawa. Prajurit Arion masih berdiri dengan perisai sihir mereka, melindungi sebagian rekan mereka yang menggunakan kekuatan api untuk melawan, dibantu oleh beberapa siswa yang masih sanggup untuk bertarung dengan pisau dan pedang mereka. Ia melihat kobaran api dari tangan-tangan terlatih prajurit itu, mengagumi kekuatannya yang mampu melahap baju militer khusus prajurit Norad. Juga dinding transparan sempurna yang menghentikan laju peluru panas yang ditembakkan musuh. Dinding energi transaparan berwarna merah itu mungkin saja mampu menghalau peluru dari senapan biasa milik prajurit-prajurit terkutuk itu. Tapi untuk menghalau tembakan misil atau laser dari robot-robot magitek...bahkan dirinya yang selalu mendapat nilai terburuk di akademi tau jawabannya.
Ia melihat rekan-rekan satu akademinya yang mulai kelelahan melawan, juga sebagian yang hanya membeku ketakutan, dibandingkan dengan para pasukan, mereka tak terlalu banyak membantu. Senjata yang mereka gunakan tak banyak menyebabkan kerusakan pada baju tempur unggulan yang dikenakan prajurit musuh, dan teknik bertarung yang mereka miliki bukanlah tandingan cara bertarung prajurit terlatih Norad, dengan beberapa siswa sebagai pengecualian—seperti Sasuke...dan juga dirinya tentu saja! Ditambah dengan kondisi mental mereka yang kalah jauh dari prajurit-prajurit tersebut, kebanyakan dari mereka hanya menjadi beban bagi pasukan Arion. Tapi setidaknya mereka telah mencoba membantu sekeras yang mereka bisa.
"Apa tipe magitek tersebut?" Tanya sang kapten di sela-sela pertarungannya.
"Robot armor tipe darat kapten!" Jawab prajurit yang memperingatkan mereka, seraya membantu sang kapten dengan menciptakan perisai energi di hadapan sang kapten.
"Posisi mereka?" Tanya sang kapten lebih lanjut. Bola api besar keluar dari tangannya, melahap pakaian militer prajurit Norad, memperbolehkan senjata para siswa akademi yang ikut bertarung menembus kulit mereka.
"Cukup dekat, kira-kira beberapa ratus meter dari jembatan!" Balas prajurit tadi dengan jelas.
Sang kapten berpikir sejenak, matanya masih fokus pada musuh dan tangannya masih mengeluarkan energi api untuk membakar pakaian khusus prajurit Norad. Arion sudah mulai kelelahan, mereka sudah mulai kehabisan energi, dinding sihir yang semakin pudar juga api yang semakin kehilangan keampuhannya membakar pakaian tempur prajurit terkutuk itu menjadi buktinya. Satu tembakan laser dari robot magitek tersebut akan menjadi akhir bagi mereka semua. Namun jika mereka melakukan sesuatu sebelum mesin terkutuk tersebut mencapai jembatan...
"Prajurit! Ledakan jembatan tersebut dengan semua granat yang kita punya—"
Kapten Iruka belum sempat menyelesaikan kata-katanya ketika kilatan kuning berlari melewatinya dengan membawa semua granat yang mereka punya menuju arah barat. Ia dengan reflek berbalik ke arah siswa berambut pirang tersebut, memberi celah pada lawan untuk menyerangnya, namun sebelum itu terjadi seorang siswa berseragam lainnya menendang senjata laras panjang musuh, sebelum pasukan Arion lain menjatuhkan tubuh prajurit itu dan membuatnya terpental ke belakang.
"Naruto—"
"Serahkan padaku, Iruka-sensei!" Ujar siswa berambut gelap itu dengan percaya diri. Uchiha...pikirnya menimbang-nimbang, sebelum menghela napas dan mengangguk. Sasuke memberinya hormat sejenak sebelum meluncur mengikuti rekan berambut kuningnya menuju arah barat.
'Naruto...si bodoh itu, apa yang dipikirkanya?' ucap sang kapten dalam hati, iris gelapnya menatap lurus punggung siswa berambut hitam yang semakin menjauh menyusul Naruto. 'Setidaknya Uchiha bisa diandalkan, tapi si bodoh itu...' ia menghela napas lagi sebelum kembali bertarung.
Naruto, kembalilah dengan selamat!
Siswa berambut pirang cerah itu memaksa kakinya sekeras mungkin untuk berlari di antara pepohonan jarang Doria outskirt. Tangannya menggenggam erat kantung berisi granat yang dibawanya. Mata birunya menatap lurus ke cahaya yang semakin mendekat, yang akan menuntunnya keluar dari hutan.
Tak akan kubiarkan, pikirnya membulatkan tekad. Tangannya mengencangkan cengkramannya pada kantung yang dibawanya. Jika mesin-mesin terkutuk tersebut sampai melewati jembatan, mereka akan meluluh lantahkan hutan beserta isinya, membantai semua orang yang ada di sana, tak peduli pasukan Arion atau bahkan rekan prajurit Norad mereka sekalipun. Sungguh tak berperasaan, tak peduli teman atau lawan, yang mereka pikirkan hanya kemenangan. Orang-orang seperti itu, orang-orang yang dengan berdarah dingin melukai warga desa yang lemah, orang-orang yang merampas hak serta kebebasan orang lain dengan keji, orang-orang yang bersembunyi di balik mesin dan rela mengorbankan rekan mereka demi kemenangan, baginya, orang-orang seperti itulah yang pantas dibantai.
Naruto memacu kakinya untuk berlari lebih kencang, jarak tubuhnya dengan celah cahaya yang akan membawanya keluar dari hutan semakin menipis. Ia bisa melihat tebing serta jembatan yang membentang di atasnya dari kejauhan. Jembatan berwarna abu-abu kehitaman yang tak terlalu besar, terbuat dari batu-batu besar yang terlihat kokoh dengan penyangga berbentuk setengah lingkaran di kedua sisinya. Keringat mengalir di pelipisnya, mata birunya melirik granat-granat yang dibawanya dengan was-was, berharap benda itu mampu untuk meruntuhkan jembatan tersebut. Sedikit lagi, pikirnya seraya mengatupkan giginya rapat-rapat.
Ia melangkahkan kakinya keluar dari hutan, kedua iris birunya menatap lurus robot-robot magitek yang mulai keluar dari hutan di seberang tebing, bergerak mendekati jembatan dengan kecepatan yang berbahaya. Sial...Ia kembali berlari sekencang yang ia bisa, menuju jembatan besi yang menghubungkan kedua tepi tebing. Ia nyaris saja sampai ke jembatan batu tersebut sebelum seseorang menyergapnya dari belakang, membuatnya terjungkal dan jatuh terguling ke tanah. Melepaskan cengkraman eratnya pada kantung berisi granat yang sekarang berserakan di jembatan, beberapa meter dari tempatnya tergeletak.
"Hha..." ia meringis seraya membuka kedua kelopak matanya, dan iris birunya langsung bertemu dengan iris hitam kelam yang memandangnya dengan sorot meremehkan. "Teme...kau pikir apa yang kau lakukan—ugh!"
"Seharusnya kau tanyakan pada dirimu sendiri, kau pikir apa yang kau lakukan?" Ujarnya dingin, kaki kanannya menginjak dada lelaki berambut pirang itu, memaksanya untuk kembali terbaring ke tanah. "Pergi seenaknya tanpa perintah dari kapten, kau pikir dirimu siapa?"
Ia memperkeras injakannya di dada lelaki itu, membuatnya meringis sekali lagi. "Kebodohanmu hanya akan membuat dirimu terbunuh."
Ia membalas sorot mata angkuh iris gelap lelaki berambut hitam itu dengan tatapan marah. Ia menggeram dan memperlihatkan deretan giginya pada Sasuke, hanya untuk membuat lelaki itu memperkuat injakannya. Wajah angkuh itu, sungguh membuatnya jengkel. Memangnya apa yang salah dari yang dilakukannya? Ia hanya ingin membantu dengan melakukan sesuatu yang berguna. Ia tak akan tinggal diam dan membiarkan magitek-magitek tersebut memusnahkan mereka semua hingga ke tulang.
Iruka-sensei, Sakura, rekan-rekan satu akademi mereka, serta para pasukan Arion yang melakukan misi bersama. Mereka semua sedang bertarung keras di dalam sana. Jika mesin-mesin itu sempat melewati jembatan, perjuangan mereka semua akan sia-sia! Mesin-mesin itu akan membakar habis hutan dan membinasakan semua yang ada di dalamnya. Bagaimana bisa ia hanya diam dan melihat semua itu terjadi?
Desisan-desisan mesin yang bergerak terdengar semakin mendekat, membuat Sasuke mengalihkan perhatiannya, memberi Naruto celah untuk memutar kaki lelaki itu dan membuat lelaki itu kehilangan keseimbangan. Sasuke melompat ke udara sebelum kembali berdiri di tanah untuk mendapatkan kembali keseimbangannya, Naruto bangkit dan melayangkan tinjunya pada lelaki itu hanya untuk ditangkis oleh Sasuke, lelaki itu memutar tangan Naruto, menariknya dan menendangnya dengan lutut kanannya, membuat Naruto mengerang kesakitan sebelum menjatuhkannya ke tanah.
"Teme..." ucapnya dengan nada rendah.
Naruto bangkit seraya menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Membalas wajah angkuh Sasuke dengan tatapan marah, ia kembali berlari ke arah rekannya yang berambut hitam itu dengan tinjunya, mencobanya untuk menyerangnya sekali lagi. Sasuke berdiri tenang di tempatnya berdiri, menunggu serangan dari lelaki pirang itu. Sasuke menangkap tangan kiri Naruto seperti yang dilakukannya sebelumnya, namun sebelum ia memutarnya seperti sebelumnya, Naruto melayangkan tangan kanannya ke kepala lelaki itu. Sasuke menghindar ketika kepalan tangan Naruto nyaris mengenainya beberapa senti. Ia mendengus angkuh, memutar tangan kiri rekannya itu dan menariknya. Ia mengangkat kakinya untuk menendang perut lelaki pirang itu, matanya menatap sepasang iris biru Naruto dengan sorot meremehkan, juga seringai angkuh yang menggantung di bibirnya. Lutunya nyaris mengenai perut Naruto ketika mata gelapnya bertemu dengan senyum lebar bodoh yang terpaku pada si pirang itu, yang dilakukan Naruto setelah itulah yang sama sekali tak diantisipasinya.
Naruto mengantukkan kepalanya ke kening Sasuke sekuat yang ia bisa.
Sasuke dengan refleks melepaskan Naruto dan mundur beberapa langkah kikuk sambil memegangi kepalanya dengan tangan kirinya. Naruto meluangkan beberapa detik untuk mengejeknya dengan menjulurkan lidahnya pada Sasuke sebelum berlari untuk mengumpulkan granat yang berserakan di jembatan. Teme brengsek, pikirnya kesal. Ia tak menghiraukan rasa nyeri yang berdenyut-denyut pada kepalanya dan terus mengumpulkan granat. Sementara itu, magitek-magitek di seberang tebing telah mulai melintasi jembatan.
Sasuke melihat Naruto berlari mendekati mesin-mesin pembunuh itu dengan membawa granat, bermaksud untuk menarik detonatornya di dekat mereka, ia langsung melesat untuk mengejar si bodoh itu. Inilah kenapa Iruka-sensei begitu panik melihatnya membawa semua bomb itu, Naruto tak terlalu berpikir panjang, terkadang ia bahkan lupa seakan-akan tak pernah mengenal kata 'strategi', apa lagi untuk menggunakannya. Jika ia memang bermaksud untuk meledakan jembatan itu, ia tak perlu jauh-jauh berlari ke tangah jembatan untuk meledakannya. Ia bahkan bisa melihat jembatan itu runtuh tanpa perlu mengeluarkan banyak tenaga. Ia cukup berdiri di ujung jembatan, menarik detonatornya serta melemparkan semua benda itu ke tengah jembatan. Sasuke mendengus, ia membawa tangan kirinya ke kepalanya yang terasa berputar-putar. Naruto...ucapnya dengan geram. Jika ia benar-benar bermaksud untuk menarik detonator granat-granat itu di tengah jembatan, mereka berdua akan hangus bersama ledakan mesin-mesin terkutuk itu juga reruntuhan jembatan. Tch! Ia berdecih sebelum mempercepat larinya.
"Naruto hentikan!" teriaknya sambil menyusul rekan pirang bodohnya itu.
Naruto tak menghiraukannya, matanya fokus pada mesin-mesin yang mulai menghujani mereka dengan peluru dari kejauhan. Ia memacu kakinya untuk berlari lebih cepat, memperlebar jaraknya dengan Sasuke. Lelaki itu menggeram kesal karena diabaikan. Ia mengelak ke kiri untuk menghindari peluru misil yang nyaris saja mengenainya dan langsung berguling ke kanan untuk mengelak dari tembakkan lainnya. Batu-batu dari jembatan yang rusak akibat peluru mesin itu berterbangan mengenai tubuhnya, ia segera bangkit untuk mengejar rekannya. Ia mengurungkan niatnya ketika Naruto tiba-tiba saja berhenti dan berdiri beberapa meter dari tempatnya berada, tepat di hadapan magitek-magitek tersebut—dengan jari-jari tangan terkait pada empat detonator sekaligus. Keringat dingin mengucur di tubuhnya, ia berlari ke arah Naruto secepat yang ia bisa.
"Naruto, jangan tarik detonatornya—"
—terlambat. Naruto telah menarik detonator benda tersebut dan melemparkannya pada magitek Norad. Sasuke melihat benda-benda itu berguling tergeletak berserakan beberapa saat, sebelum meledak nyaris bersamaan. Menumbangkan mesin-mesin berbentuk robot besar tersebut dan meledakkan tangki bahan bakarnya, memicu granat lainnya untuk ikut aktif dan menimbulkan ledakan yang lebih besar, meruntuhkan jembatan batu kokoh itu—dan melingkupi semua yang ada di atasnya dalam kobaran api.
Year 1247, Wind month (3th), Day 14. 16:54
Prajurit Arion pulang dari perbatasan Doria dengan membawa kabar gembira. Jora, kota utama di wilayah perbatasan antara Doria dan Mako telah berhasil diambil alih oleh perjuangan keras tentara pasukan Arion. Pasukan demi pasukan berbaris rapi berlatar belakangkan langit senja menuju ibu kota Arion—Kardia dengan membawa bendera merah berlambangkan burung api. Menyerukan kemenangan besar mereka keseluruh wilayah Klos.
Gerbang Kardia dibuka lebar-lebar oleh penjaga, dan para penduduk Arion menyambut mereka dengan suka cita. Ikut berteriak dan bersorak menyanyikan himne mereka bersama para prajurit. Melempari mereka dengan berbagai pujian serta rasa terima kasih akan perjuangan mereka demi Arion.
Seluruh penjuru Kardia menyambut kabar baik akan kedatangan mereka dengan gembira. Para anggota parlemen berencana untuk mengadakan pesta merayakan kemenangan besar Arion, sebagai rasa terima kasih atas keberanian serta kegagahan para prajurit yang telah berjuang di medan perang.
Malam itu mereka berpesta besar-besaran di alun-alun kota. Penduduk yang merasa berterima kasih, dengan suka rela menyiapkan semua kebutuhan pesta. Mengangkat meja-meja serta kursi-kursi dari akademi ke luar alun-alun kota dan menatanya. Memberi hasil panen yang mereka punya kepada pihak yang bertanggung jawab di bidang konsumsi untuk dijadikan makanan-makanan lezat bagi suami-suami, istri, teman serta keluarga mereka yang ikut berperang. Lentera-lentera kertas menghiasi gelapnya malam itu, memberinya sinar temaram yang menandingi bintang-bintang. Iringan musik bercampur dengan gelak tawa juga kelegaan mereka malam itu. Anak-anak berlarian seraya bermain-main di tengah-tengah alun-alun kota, berdansa bersama penduduk serta prajurit. Melepas semua kerinduan yang mereka pendam di medan perang, menikmati tawa dan kegembiraan di atmosfer yang bahagia malam itu. Meyakinkan hati para prajurit tersebut, untuk inilah mereka bertarung. Menyadarkan mereka bahwa pengorbanan mereka tidaklah sia-sia.
Semua prajurit yang pulang menikmati pesta tersebut dengan suka cita, semua dari mereka, dari hanya prajurit biasa bahkan hingga ke prajurit elit sekalipun. Karena malam itu mereka satu—Arion.
Namun tidak dengan prajurit itu. Ia bersembunyi dibalik bayang-bayang pilar tinggi aula kota, mata hitamnya yang lebih gelap dari langit malam mengawasi perayaan itu dengan seksama. Tak seperti prajurit lainnya, ia tak menggunakan pakaian normal yang biasa dipakai oleh penduduk untuk membaur. Ia justru menggunakan seragam bertugasnya seolah-olah akan menjalankan misi dan melewatkan kesenangan malam itu. Breastplate perak melindungi dadaya, sepatu boots merah yang dikenakannya, juga mantel merah berlambangkan burung api—lambang Arion. Dan hanya ada satu unit prajurit yang menggunakan lambang negara mereka secara langsung, para kesatria utama Arion—kesatria Rito.
Pedang serta beberapa pasang pisau menggantung di ikat pinggangnya dengan rapi. Ia menggenggam gulungan yang ada di tangannya dengan erat sebelum menyangkutkannya pada ikat pinggangnya. Sepasang iris hitamnya masih mengawasi dari balik bayangan, mulai dari rekan-rekannya yang sedang minum seolah tanpa masalah, hingga ke penduduk yang menari ceria mengikuti alunan musik jalanan. Menatap mereka yang tengah bergembira berpesta di alun-alun kota dari kejauhan.
Ia masih menjatuhkan pandangannya pada kemeriahan pesta malam itu selama beberapa detik, sebelum memandang ke langit malam yang tak berbintang. Ia menarik syal merah yang menggantung di lehernya untuk menutupi wajahnya.
Dan dengan bertiupnya angin menerbangkan rambut hitam panjangnya, prajurit itu telah menghilang dari tempatnya berdiri.
"...ke!"
Telinganya menangkap suara yang terdengar samar. Angin?—pikirnya sejenak sebelum memutuskan untuk mengabaikan suara itu dan kembali tenggelam dalam rasa lelahnya.
"Sasu..."
Suara itu kembali terdengar. Berisik!—pikirnya dengan jengkel. Tubuhnya terasa berat dan kepalanya seakan berputar-putar. Ia merasa lelah, tidak bisakkah mereka memberikannya ketenangan untuk beristirahat sejenak? Ia kembali mengabaikan suara-suara berisik disekitarnya dan mencoba untuk terlelap. Ia merasa lelah, sangat lelah.
"Sasuke!"
Ia merasa seseorang mencengkram erat kerah belakang bajunya dan berusaha menariknya dengan sekuat tenaga seraya meneriakkan sumpah serapah kepadanya. Memberinya perasaan deja vu yang begitu kuat, kedua hal tersebut—kecuali bagian sumpah serapah itu. Ia merasa tubuhnya seolah mengambang di udara dan terasa berat, seakan-akan gravitasi sedang berusaha keras menariknya ke bawah. Di tambah lagi dengan kepalanya yang masih terasa berputar-putar dan rasa lelah yang nyaris tak tertahankan, membuatnya merasa mual.
"Ugh." Ia dapat merasakan makan yang ia makan berdansa di dalam lambungnya. Ia mengerang perlahan, kepalanya yang tadinya terasa berputar-putar sekarang terasa seperti dihantamkan kedinding berulang-ulang kali.
"Jika kita selamat dari ini aku akan membunuhmu!" kata teriakan mengganggu yang bernada tinggi itu, kini terdengar agak jelas namun masih sayup. "Jika kita tidak selamat...aku akan tetap membunuhmu!" lanjut suara itu dengan kesal, sekarang terdengar semakin marah. Suara itu terdengar sangat menjengkelkan dan menyebalkan, suara itu... terdengar familiar. Sangat familiar
Siapa?
"Sasu-"
Fangirl?
"...ke!"
Tch! Menyebalkan...
"Brengsek, bangun!"
!
Teriakan yang terakhir berhasil membuatnya membuka mata. Hal pertama yang ia lihat adalah ujung lain dari tebing terjal serta fondasi beton yang penyok juga bongkahan batu-batu besar yang bertebaran—sisa reruntuhan jembatan. Huh? Jeritan serta sumpah serampah terdengar jelas dari atas, menyadarkannya dari lamunan sejenaknya, menyerangnya bagai peluru dan memekakkan telingannya. Tubuhnya masih terasa berat, seolah-olah melayang di udara—koreksi, ia benar-benar tengah melayang di udara. Ia menarik napas dengan cepat, mengalihkan pandangannya ke bawah dan matanya langsung bertemu dengan dasar jurang berbatu yang dipenuhi lempengan besi, bangkai mesin-mesin yang berserakan serta beberapa batang tumbuhan yang mati, juga sungai kecil yang sempit.
Apa-apaan?!
Ia mengangkat kepalanya dan mellihat ke atas. Matanya bertemu dengan sosok pemilik suara menyebalkan yang sedang menghujaninya dengan teriakan sumpah serapah. Mata biru yang sedang menahan rasa sakit juga rasa jengkel dan rambut pirang berantakan yang lengket akibat darah dan kotoran, serta bekas luka yang menyerupai kumis musang di pipinya yang dialiri darah. "Naruto?!"
"Bangun juga akhirnya, eh? Sleeping beauty." Ujarnya dengan nada mencemooh, "Senang rasanya, karena kita akan mati!"
"Apa?" ujarnya agak bingung, matanya beralih dari wajah lelaki itu ke tangan kanannya yang memegang erat akar pohon yang keluar dari tepi tebing dan merasakan tangan kirinya mencengkram kuat kerah belakang seragamnya. Barulah ia mengerti apa yang dikatakan oleh Naruto. Bagaimana bisa?! Seketika ia merasakan keringat dingin mengalir di tubuhnya. Adrenalin dengan cepat menyebar keseluruh tubuhnya, membuat jantungnya berdentum-dentum dengan cepat dan bernapas terengah-engah.
Yang ia ingat hanyalah ketika ia berlari ke arah Naruto dengan perisai energi di hadapannya, sedetik sebelum jembatan itu runtuh berkeping-keping.
"Sudah berapa lama—"
"Tidak tau!" potong lelaki berambut pirang itu dengan jengkel. Ia menyipitkan matanya dan merapatkan gigi-giginya menahan sakit sebelum mengerang keras dan berbicara lagi. "Tanganku kebas, brengsek! Jika kau punya tenaga untuk mewawancaraiku maka gunakanlah tenaga itu untuk melakukan sesuatu atau kita berdua akan mati!"
"Memangnya apa yang bisa aku lakukan bodoh!" balasnya berteriak geram, merasa cukup akan teriakan serta sumpah serapah yang diutarakan lelaki pirang itu.
"Entahlah! Gunakan kepalamu!" sahutnya tak kalah geram.
"Kau...!" ia siap untuk membalas kembali kata-kata Naruto dengan kalimat yang menyakitkan sebelum menggigit bibirnya untuk menahan diri. Si bodoh itu ada benarnya, berdebat dengan Naruto pada saat-saat seperti ini memang hanya akan buang-buang energi dengan percuma, belum lagi akan membuatnya terlihat sama idiotnya dengan si idiot itu. "Tch!"
Tangan kanannya mencari-cari sesuatu di yang bisa digunakan untuk menyelamatkan mereka. Yang bisa ia temukan hanyalah scabbard—sarung pedang kosong yang pedangnya entah di mana, serta sepasang pisau yang masih terletak di dalam knife sheath—sarung pisau yang tergantung rapi pada ikat pinggangnya. "Sial!" Ucapnya kesal, yang ditemukanya di dalam kantungnya pun hanya beberapa obat serta ramuan. Keringat masih mengalir dari pelipisnya, dan jantungnya masih berpacu di rongga dadanya.
"Berhenti bergerak-gerak dan membuat tanganku kebas!" keluh Naruto dengan nada jengkel, Sasuke hanya mendengus sambil mengutuknya pelan di bawah napasnya. "Temukan sesuatu?"
"...tidak."
"Aaargh!" teriak lelaki pirang itu frustasi. Ia sama sekali tak bercanda ketika mengatakan bahwa tangannya kebas, tangannya benar-benar kesemutan dan kebas. Ia bahkan nyaris tak bisa merasakannya, pikiran buruk mulai menghampirinya. Bagaimana jika setelah mereka selamat dari ini hal buruk terjadi dan ia harus mengamputasi tangannya? Well, hanya jika mereka selamat...
"Sialan, di mana yang lainnya?!" Mata birunya menatap ke atas tebing dengan penuh harap, berdoa agar kristal mendengar jeritan permintaan tolongnya dan mengirim seseorang untuk datang dan menyelamatkan mereka...atau membunuh mereka. Ia menghela napas, walau bagaimanapun ia berharap kemungkinan itu bisa saja terjadi. Prajurit imperial Norad bisa saja masih berceceran di daerah ini. Tapi tetap saja ia berdoa agar mereka semua hancur berkeping-keping bersama semua pesawat magitek sialan yang mencoba membantai mereka. Heh, taktik busuk imperialis, selalu mengandalkan mesin bodoh, pikirnya kesal. Namun tetap saja telinganya siaga mendengar suara di sekeliling mereka, mengantisipasi kalau-kalau mendengar ada langkah kaki yang mendekat. Namun yang ia dengar hanyalah kaok burung serta gemericik aliran sungai kecil di bawah jurang. "Habislah kita."
"Belum," Sangkal Sasuke dengan singkat, "lihat."
Kepalanya mendongak ke atas dan matanya menatap lurus ke langit biru cerah tanpa awan, matanya agak menyipit menahan silau dari sinar terik matahari. Namun tiba-tiba saja sekelebat bayangan besar melewati mereka dengan kecepatan tinggi dan tak berapa lama suara melengking layaknya jeritan kasar terdengar di telinga mereka.
"Double sial, helldiver!" kutuknya dengan mata yang menampilkan rasa tak percaya. Benar-benar sial, bagaimana bisa ia tidak memperkirakan kemungkinan buruk lainnya? Bagaimana bisa ia melupakan monster-monster ganas yang berkeliaran di daerah itu? Tanpa senjata dan perlindungan, mereka hanya dua mangsa lemah di bawah cakar kuat burung jelek ini. "Burung itu akan mematuk kepala kita hingga bocor dan menjadikan kita makan siangnya!"
"Tidak, burung itu akan jadi penyelamat kita." Bantahnya lagi. Jika tidak mendengar nada bersungguh-sungguh pada kata-kata lelaki itu, Naruto pasti sudah tertawa garing dan menyebutnya bercanda. Karena itulah si pirang menutup mulutnya rapat-rapat dan menunggu Sasuke melanjutkan kata-katanya. "Naruto, ganggu dia."
"Apa?!" akhirnya ia membuka mulutnya dan balik bertanya dengan ekspresi tidak percaya. "Kau sudah gila, burung itu akan datang kemari dan-"
"Itulah yang kita butuhkan!" teriak Sasuke, memotong kalimat Naruto sebelum ia sempat mengakhirinya. "Lakukan saja, bukankah mengganggu seseorang adalah sebagian dari bakatmu?!"
"Teme...!" lelaki pirang itu mendesis berbahaya sebelum mengatupkan giginya dengan erat. Ia nyaris benar-benar tak bisa merasakan tangannya, ia nyaris mendekati batasnya. Jika terus memaksa untuk bertahan lebih lama seraya menunggu bantuan yang hanya kristal yang tau entah kapan datangnya, mereka pasti benar-benar akan tamat. Ia benar-benar tak punya pilihan lain, oleh karena itu ia akan mengambil semua pilihan yang ada.
Mata birunya terpaku pada burung abu-abu kecoklatan yang terbang bebas berputar-putar di atas mereka. Mata tajam berwarna kekuningan milik burung itu yang mengawasi mereka terlihat angkuh, seakan mengejek keadaan mereka. Burung sial, ujarnya dalam hati. Naruto menarik napas panjang sebelum berteriak dengan seluruh kekuatan yang ia punya, "Hei, burung jelek! Kemarilah dan mangsa kami."
Burung coklat itu tak menghiraukan teriakan Naruto yang tengah meluncurkan berbagai macam kutukan serta sumpah serapah padanya dan terus terbang berputar-putar di atas mereka. Sasuke mengerang frustasi dan meraih pisaunya, menggenggam ganggangnya erat-erat sebelum menahan diri dan meletakkannya kembali. Ia tak bisa melukai burung itu, jika burung itu terluka harapan terakhir mereka akan tamat bersama burung itu. Ia merogoh kantung peralatan yang digantung pada ikat pinggangnya dan mengeluarkan sebuah botol ramuan. Menggenggamnya erat-erat beberapa saat, menunggu momen yang tepat saat burung itu melintasi mereka untuk melemparkan botol itu dengan semua sisa tenaga yang ia punya.
*bletak*
Kyaaaaaaak!
Burung itu mengeluarkan jerit kesakitan yang memekakkan ketika botol itu mengenai bagian kiri bawah lehernya dengan ketepatan yang menganggumkan. Ia terbang lurus sejenak sebelum melakukan maneuver hebat—berputar arah dengan cepat dan terbang di samping mereka. Angin kencang menerpa mereka, membuat Naruto menggeram keras. Berusaha mempertahankan cengkraman eratnya pada akar pohon dan tak memperdulikan betapa pegal otot-otonya yang meronta kelelahan.
Burung itu mengambang di depan mereka dan mengepak-ngepakkan sayapnya, mengibaskan angin kencang dan membuat tubuh mereka berayun menghantam tepi tebing dengan keras. Sasuke mencengkram erat baju Naruto, ketika merasa tangan Naruto yang menggenggam kerah belakangnya melemah. "Naruto, ikuti aba-abaku. Ketika burung itu mendekat, melompatlah dan raih kakinya!"
"Apa?!" balasnya tak percaya. Naruto melihat burung yang sedang marah itu menjerit dan terus mengepakkan sayapnya dengan was-was, ia mengerang ketika kepalanya terbentur batu-batu yang runtuh akibat angin kencang yang dihasilkan oleh kibasan sayap besar burung itu. Darah segar mengalir dari pelipisnya yang tergores batu, namun iris birunya tak pernah meninggalkan mata kuning buas makhluk itu, juga cakar runcing besar di kaki burung itu. Ia menelan ludah, burung menjengkelkan ini benar-benar menyebalkan, pikirnya. Ia tahu betul apa resikonya jika cakar runcing itu menggores kulitnya, tubuhnya akan membeku—pertified, setelahnya tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali seseorang mengobatinya dengan gold needle—penawar. Ia memang bukanlah yang tercerdas, juga bukanlah yang paling memperhatikan pelajaran yang diajarkan di akademi, tapi hei bahkan seorang knuckle head seperti dia juga tahu hal-hal berbahaya seperti ini!
Ia melihat Sasuke melempar burung marah itu dengan botol lagi. Botol itu mengenai bagian bawah leher burung itu dan pecah seketika, menodai sebagian bulu putih di bawah lehernya dengan cairan hijau tua yang menjijikan. Eugh, pikir Naruto jijik. Ia bisa mencium bau tidak menyenangkan dari cairan itu, juga bisa membayangkan tenaga medis yang akan memaksanya meminum ramuan menjijikan itu nanti. Well, jika mereka selamat. Tidak, pikirnya lagi. Tidak akan ada kata 'jika', karena mereka akan selamat, ucapnya dalam hati dengan kesungguhan. Ia melihat burung itu semakin marah, menjerit dan terbang menjauh sebelum meluncur kearah mereka dengan kecepatan tinggi dengan cakar besar yang siap untuk mencabik-cabik mereka.
"Naruto!"
Ooo00ooO
TBC
Ooo00ooO
Author's Note: Halo lagi semuanya! Terima kasih sudah membaca prolog fic ini sebelumnya, ternyata ada yang suka! Kyaa! Seneng banget deh jadinya, oleh karena itu saya nekad nge-post chapter lanjutannya. Kalau menurut teman-teman fic ini cukup baik, saya berencana untuk update seminggu sekali—kalau tidak sibuk pastinya—dan sejauh ini saya udah siap nulis untuk dua chapter kedepan ^^
Ada yang sudah main Final Fantasy Type-0 yang remake HD? Saya baru selesai namatinnya *lamban bener* dan gila itu keren banget! Sebenarnya itu game remake psp, tapi seri psp-nya bahasa Jepang, nggak ngerti saya XD
Saya berencana untuk ngambil tema empat negara kayak yang di Type 0, ngambil tema empat dewa angin di mitologi Jepang/China/Korea juga ngambil sistem unit per kelas kayak yang di akademi sihir Suzaku, karena menurut saya itu cukup mirip dengan sistem ninja di Naruto (murid akademi, genin/Chuunin/Jonin). Tapi cuma ngambil sistemnya doang, ceritanya bakalan beda kok!
Sekali lagi, terima kasih telah membaca, dan jika sempat bisa beri dukungan dengan memberi komentar atau saran, saya terima kok semuanya ;)
So, see you!
—Alec.
*magitek: kalau di dunia nyata sebanding dengan bionic prostethic. Mesin seperti robot gundam yang bisa dikendalikan oleh orang, tipenya ada yang khusus darat, ada yang bisa bertahan di air dan ada yang dibekali dengan roket sehingga memungkinkannya untuk terbang.
**esper: batu untuk memanggil atau men-summon makhluk-makhluk atau monster mistis berkekuatan hebat—biasanya di sebut sacred beast, summon beast, atau eidolon.
***ifrit: salah satu summon beast yang memiliki elemen api, termasuk summon beast yang paling sering di-summon.
****chocobo: makhluk fantasi dari seri Final Fantasy, salah satu tunggangan yang menggantikan kuda. Jenisnya unggas yang tidak bisa terbang, bentuknya seperti anak ayam yang besarnya nyaris menyamai kuda. *kawaii!*
