Disclaimer : Touken Ranbu © DMM & Nitro+

Warning : OOC, OC, headcanon author.

.


Chapter 2 : Keberuntungan All 999 Itu Misteri Ilahi


.

"Apa anda membawaku kesini karena kita memiliki masalah keuangan?"

Siapa yang tidak kaget ketika ditanya seperti itu.

Sang saniwa menoleh ke bawah, Sayo menengadah ke arahnya dengan wajahnya yang biasa. Saat ini mereka berdua tengah berada di keramaian kota terdekat dari citadel. Sang saniwa sering berganti daerah agar tak menarik perhatian orang-orang. Biasanya ia pergi sendiri, tapi kali ini ia hendak membeli banyak barang. Sesudah mengingatkan Yasusada dan Kashuu agar mereka bersikap normal dan tidak membuat keributan, ia dan Sayo pergi ke sisi lain kota itu dan memasuki sebuah toko kain.

Dan hal pertama yang dikatakan sang tantou padanya setelah mereka sampai di toko mau tak mau membuatnya terkejut.

"Apa keadaan citadel kita terlihat seperti itu?"

"...Tidak."

"...Ini soal masakan di dapur yang terlalu sederhana ya?"

Sayo menggelengkan kepala dengan cepat.

Sang saniwa belum membiasakan dirinya untuk berhenti bercanda dengan nada datar seperti itu pada Sayo. Anak itu rasanya lebih serius daripada Yamanbagiri Kunihiro, bedanya, yang belakangan disebut tak ragu untuk menohoknya dengan sarung pedang kapan saja.

Tantou Samonji itu berkata seperti itu bukan tanpa alasan, sang saniwa tahu itu. Mengingat sejarah Sayo yang ia baca, ia mengerti tingkah lakunya yang seperti ini. Mungkin lain ceritanya bila Sayo tak hidup di daerah yang tak tertimpa bencana paceklik.

"Tidak apa-apa, koban kita masih banyak, aku ini hemat lho." Sang saniwa menempelkan ibu jari dan telunjuknya, tak sengaja informasi yang kurang penting juga keluar dari mulutnya. Tentu saja gajinya yang sebenarnya dari proyek ini bukan berupa emas batangan. "Aku tak akan pernah menjualmu."

Sayo terdiam mendengar jawaban sang saniwa dan hanya memandangi gulungan-gulungan kain di toko itu.

Mereka pergi ke toko kain karena sang saniwa berpikir terlalu ke depan, berkata bahwa ia membutuhkan banyak kain untuk pakaian para toudanshi sehari-hari dan untuk hal lainnya.

"Sayo, kamu suka warna apa selain biru?"

Pertanyaan ini membuat Sayo mengernyit kebingungan. "Warna… Kesukaan?"

Sang saniwa membalas dengan anggukan kepala. Kedua tangannya sibuk membuka sebuah gulungan kain merah bermotif kupu-kupu dan meraba permukaannya. "Apa kau tak ingin memakai warna lain…? Entahlah, mungkin Yamanbagiri Kunihiro harus memakai ini kalau aku mencuci kain penutup kepalanya itu."

Akhirnya, setelah terdiam lama hingga sang saniwa memanggil pemilik toko dan meminta tolong untuk bisa melihat contoh kain yang lainnya, Sayo menjawab dengan suara kecil.

"...Terserah anda saja."

"Eh? Yang benar?" Sang saniwa mengambil acak gulungan di kanannya. "Yang ini bagaimana?"

"Lebih cocok untuk Souza-niisama."

Ternyata sang saniwa mengambil yang berwarna merah jambu.

###

Mereka berdua sedang duduk memakan dango sambil menunggu Yasusada dan Kashuu ketika Sayo memulai pembicaraan.

"Orang yang anda benci." Ucap Sayo, memandangi porsi dango miliknya. "Apa anda memiliki orang yang anda benci dan sangat ingin membalas dendam padanya?"

Sang saniwa menggigit dua dango sekaligus karena lapar. Ia tidak tahu kenapa ide topik pembicaraan ini muncul disaat seperti ini.

"Ada." Kata sang saniwa setelah selesai menelan, lalu jari telunjuknya terangkat. "Hmm…Satu, dua, tiga, empat… Banyak lho."

Itu bukan jawaban dan cara menjawab yang sesuai dengan perkiraan Sayo, karena anak itu memandang saniwa dengan mulut terbuka.

"Sayo?"

"Majikanku dulu hanya dendam pada satu orang saja." Sayo memandang sang saniwa. "...Atau anda sedang bercanda lagi?"

"Pertanyaanmu serius seperti itu, mana mungkin aku bercanda saat menjawabnya." Sang saniwa menggelengkan kepala, kemudian mengangkat Sayo ke pangkuannya.

"?!" Sang tantou membeku di tempat karena tindakan tiba-tiba sang saniwa, tak terbiasa dengan keadaan seperti ini.

"Kalau boleh jujur, aku itu mudah tersinggung, tapi sebenarnya kalau sudah lama tidak bertemu, kurasa tidak apa-apa." Sang saniwa mengernyit. "Ah, tunggu, jadi sebenarnya aku tak memiliki dendam lagi?"

Pemiliknya yang satu ini sangat tidak konsisten.

"Bagaimana anda melakukannya?" Tanya Sayo, setelah menyerah menyingkirkan tangan saniwa yang mengalungi lehernya. "Tidak memiliki dendam lagi?"

Orang-orang hilir mudik di hadapan mereka, sibuk dengan kegiatan masing-masing. Mata sang saniwa memandangi kedai soba di seberang jalan.

"Karena aku sudah lupa." Jawab sang saniwa. "Banyak hal lain yang kukerjakan dan lama-lama… Aku lupa apa penyebab dendam itu."

"Itu terdengar mustahil, aruji." Sayo mengernyit. "Aku digunakan untuk membalas dendam, hal yang merupakan motivasi majikan untuk tetap hidup dan..."

Pipi tantou Samonji itu diserang dengan cubitan pelan jari sang saniwa. "Aku punya satu permintaan untukmu. Tolong jangan berpikir kalau keberadaanmu saat ini untuk digunakan seperti itu."

Sayo terdiam.

"Kau ada disini karena aku membutuhkan bantuanmu."

"...Aku tak perlu membalas dendam siapa pun?" Sayo menengadah. "Lalu apa yang harus kulakukan?"

"Membantu melawan musuh saat ini, tentunya...Tapi terkadang cukup dengan keberadaan seseorang saja, perasaanmu bisa menjadi tenang. Aku, contohnya, sangat senang dengan keberadaan kalian semua." Tangan sang saniwa mengacak rambut Sayo. "Kuharap kau merasa seperti itu jika tinggal di citadel."

Sayo memandangnya dengan ekspreksi tak terbaca, antara terkejut dan senang, membuat sang saniwa gemas.

Ketika akhirnya Yasusada dan Kashuu datang, keduanya menuntut hak untuk dibelikan dango pula.

###

"Tempat ini, kenapa harus luas sekali sih…"

Ia selalu mengeluh seperti itu setiap harus menempuh jarak dari kebun menuju ruangannya. Sang saniwa sedang melewati lorong beranda taman tengah sesudah selesai membantu dengan masalah para harimau kecil Gokotai yang tampaknya mulai terobsesi dengan tomat, ketika dilihatnya sebuah pemandangan baru yang membuatnya tersenyum.

Meski berusaha memelankan langkah kakinya, Souza Samonji segera menoleh ke arah datangnya sang saniwa. Sayo tengah tidur siang di pangkuannya, bergelung dengan posisi yang mengingatkan sang saniwa akan salah satu harimau Gokotai.

"Siang ini cuacanya bagus." Sang saniwa memulai basa-basi, ikut duduk di samping sang uchigatana dengan nampan teh dan sisa kulit jeruk di antara mereka.

Souza hanya tersenyum, mengelus pelan kepala Sayo.

"Kalian berdua mulai dekat, ya?" Tanya sang saniwa.

"Sebagai satu saudara penyandang nama Samonji, tentu saja." Souza mengangguk. "Meski baru kali ini kami bertemu langsung."

Nada melankolis Souza memang sudah biasa baginya, tapi kali ini sang saniwa mendengar hal yang berbeda dalam nada suara itu.

Sang saniwa beberapa hari ini memang memperhatikan Sayo yang mulai membuka diri, mulai bercakap-cakap dengan sang uchigatana Samonji saat keduanya tengah bertugas di kebun. Tak seperti para tantou Awataguchi yang langsung akrab, Sayo dan Souza awalnya masih canggung.

"Saya tak terlalu tahu bagaimana kehidupannya dulu." Ucap Souza, berkata memecahkan keheningan, lalu tersenyum lembut. "Tapi rasanya menyenangkan, memiliki saudara."

Sang saniwa melirik ke pangkuan Souza, dan tersenyum kecil. "Begitu? Bagus deh."


.

Beberapa hari kemudian, sang saniwa menghilang selama 2 hari sebelum kembali ke citadel.

Saat ini, Ima, Akita, Sayo, dan Gokotai tengah asyik menggambar dengan pensil warna dan krayon yang ia bawa dari rumahnya. Ia hanya bisa kembali ke masa depan sebulan sekali -entahlah, itu peraturannya.

Itu pun ia hanya berjumpa sebentar dengan orang-orang di rumah, dan mengambil beberapa barang pribadi.

Para tantou rasanya senang sekali ketika ia membawa peralatan mewarnai itu, mereka langsung menggambar berbagai macam hal di atas kertas setelah sang saniwa menunjukkan cara pemakaiannya yang sama seperti kuas dan tinta -hanya lebih berwarna-warni dan sama-sama tidak untuk di konsumsi. Mungkin kapan-kapan ia harus membawa puzzle raksasa miliknya kesini.

Ima no Tsurugi katanya ingin kendama dan temari, ia janji akan membelikan jika mereka ada kesempatan pergi ke kota lagi.

Filosofi terbarunya; membuat mainan buatan tangan sama sulitnya seperti membuat troops emas.

"Aruji-sama, Aruji-sama! Coba lihat ini!"

Ima dan Gokotai menghampirinya, keduanya memperlihatkan hasil karya mereka. Sang saniwa mengibaskan tangan di udara dan menghilangkan hologram-hologram yang sedang dikerjakannya.

Tangan sang saniwa mengambil kedua kertas yang disodorkan kepadanya, diperhatikannya gambar milik Gokotai dulu. 5 harimau kecil. "Wah, gambar Gokotai bagus ya."

Pujian sang saniwa membuat Gokotai tersenyum gembira.

"Lalu gambar Ima-chan, ini kamu dan….?"

"Itu Iwatooshi!" Sahut Ima dengan gembira.

Iwatooshi? Rasanya nama itu termasuk dalam salah satu data pedang yang bisa didapatkan…Ah, ya. Sang naginata tunggal dalam data.

"Dulu aku dan Iwatooshi pernah bersama waktu Benkei dan Yoshitsune-sama…."

"I..Ima-chan, jangan nangis dong…" Karena sang saniwa paling bingung dengan cara menenangkan anak kecil yang menangis. "Nanti kalau stok tamahagane sudah 12000-"

"Terlalu lama, Aruji-sama."

"Ampun, Ima-chan."

Sang saniwa terselamatkan ketika Akita dan Sayo mendatangi mereka dan juga hendak memperlihatkan hasil karya mereka dengan penuh semangat.

"Aku menggambar pohon-pohon di taman!" Kata Akita, disambut dengan tangan sang saniwa yang mengacak pelan rambutnya. "Ada Yagen, Atsu, dan Midare juga!"

Sayo mengulurkan gambarnya dengan wajah berbinar-binar. Ada gambar Sayo dan Souza di atas kertas itu.

"Gambar kalian semua bagus-bagus ya." Puji sang saniwa sungguh-sungguh karena keahlian artistiknya berada di bawah 0 derajat Celcius.

"Iya, Aruji-sama, tapi kapan Iwatooshi bisa datang?"

Diungkit lagi.

###

Pada suatu ketika sang saniwa pergi ke bangunan penempaan pedang.

"Kau ingin mencoba membuat dengan apa kali ini?" Tanya Yamanbagiri Kunihiro yang mengikutinya.

Sang saniwa berdiri tegap, tangannya memegangi sebuah kipas lipat biru yang terlipat rapi yang berkali-kali dibuka dan ditutupnya. Matanya penuh determinasi, sama seperti sang pandai besi kecil yang dengan sabar selalu menunggu instruksinya.

Ima no Tsurugi sekalinya menginginkan sesuatu tak akan menyerah. Sudah beberapa hari ini sang saniwa ditagih terus tentang janjinya yang akan berusaha mendapatkan sang naginata itu. Maka setelah semedi 7 hari 7 malam, barulah sang saniwa memberanikan diri pergi ke ujung lain citadel-nya dan kini berhadapan dengan sang pandai besi.

Akhirnya setelah keheningan mencekam dan pandangan menusuk Yamanbagiri Kunihiro, sang saniwa berkata, tegas dan mantap;

"All 999."

Si pandai besi kecil masih diam, dengan senyumannya yang saat ini di mata Yamanbagiri Kunihiro tampak seperti siap melahap mentah-mentah ekspektasi tinggi perempuan di hadapannya.

Yamanbagiri Kunihiro sendiri rasanya ingin tinggal bertapa di gunung saja seperti saudaranya yang belum didapatkan oleh sang saniwa ini.

"Oi."

"Pakai ema Fuji."

"Oi, saniwa."

"Ema Fuji kataku."

"Terakhir kali kau melakukan ini dia memberikanmu Yasusada lagi, kau ingat?"

"Tapi kan aku tidak membangkitkan Yasusada nomor 2." Cukup satu saja masing-masing pedang di citadelnya, mana kuat dirinya mendengar raungan 'ora orA ORA!' setiap uchigatana tersebut berlatih dengan Kashuu di bangunan dojo.

"Itu bukan resep untuk mencari naginata."

"Aku tahu, tapi hari ini aku merasa cukup beruntung."

"Dan sekarang kau bergantung pada instingmu."

"Yaah, mau bagaimana lagi, bahkan teknologi hebat dari masa depan harus bertekuk lutut pada sistem RNG."

"….Kau serius ya."

"Yap."

"Coba pikirkan lagi."

"Ini keputusan final, Yamanbagiri Kunihiro ."

Yamanbagiri Kunihiro menghela napas dan semakin menurunkan kain yang menutupi kepalanya.

"Terserahmu sajalah."

Sang saniwa memberikan isyarat dan sang pandai besi kecil segera melakukan pekerjaannya.

Ketika pandai besi itu selesai melemparkan tamahagane, sang saniwa langsung memeriksa hologram, tangan bergetar penuh antisipasi.

Angka yang tertera menunjukkan 03:20:00.

Yamanbagiri Kunihiro yang memperhatikan hologram dari balik bahu sang saniwa sampai harus mengguncangnya beberapa kali sampai ia yakin kalau sang saniwa tidak pingsan di tempat.

"TETSUDAI, MANA TETSUDAI!" Pekik sang saniwa, menahan diri untuk tidak berlari keliling ruangan.

"Tenanglah sedikit!" Uchigatana Kunihiro itu meraih sebuah kayu berukir terdekat dan memberikannya pada si pandai besi.

Sebagai pedang yang dari awal mendampingi sang saniwa, Yamanbagiri Kunihiro tetap merasa heran bagaimana situasi membangkitkan roh para pedang ini bisa dilakukan.

...Asalkan yang muncul bukan pedang itu.

Meski sang saniwa sudah menenangkannya berkali-kali kalau data pedang itu belum bisa didapatkan karena suatu hal, sehingga tak akan muncul dalam waktu yang lama…

Uchigatana itu menggelengkan kepalanya. Membatin pada dirinya sendiri agar tidak memikirkan hal itu lagi.

Sang pandai besi kecil menyerahkan sebuah bilah pedang pada sang saniwa, yang meraihnya dengan hati-hati.

Mustahil! 03:20:00 itu...

Sang saniwa menahan napas, merapalkan sesuatu yang sudah ia sering ucapkan untuk proses pembangkitan pedang ini.

Bilah pedang tersebut melebur ke udara, menjadi kelopak bunga berjatuhan, entah itu hologram atau kelopak bunga asli, ia tak pernah ambil pusing, sudah berkali-kali prosesnya seperti ini. Tapi tetap saja rasa antisipasi setiap menebak siapa kira-kira yang berhasil dibangkitkan kali ini…

Sebuah sosok tinggi berambut panjang, dengan aura ketenangan yang luar biasa, pakaian yang tampak familiar di mata sang saniwa. Hologram menampakkan empat buah kelopak sakura dibawah logo tachi. Sebuah suara menyadarkan sang saniwa.

"Kousetsu Samonji adalah nama saya…."

Sang saniwa melotot dan mundur teratur.

"SOUZAAAAA-SAAAN! SAYOOOOOOO!"

Belum selesai pedang baru itu berkata-kata, sang saniwa sudah cabut keluar ruangan.

Kousetsu menoleh tanpa ekspresi ke arah Yamanbagiri Kunihiro.

Uchigatana Kunihiro itu hanya mengangkat bahu.

Tapi yang ia tahu pasti, Ima no Tsurugi harus disogok dengan waktu bermain yang lebih lama agar tak menempel di punggung sang saniwa seperti koala selama 24 jam.

.


AN : Di chapter sebelumnya banyak yang kurang di edit formatnya, saya mohon maaf

Ternyata ffn dari dulu spasi-enter nggak bisa leluasa ya, akhirnya pakai tanda pagar sama titik aja deh

Dan terima kasih banyak untuk yang sudah review, fav, dan follow!