Few years later...
Drrrrtt..
"Yeoboseyo.." Aku mengangkat telpon dengan nyawa yang belum terkumpul. Demi apa, ini masih jam enam pagi. Siapa yang berani mengganggu ketenanganku?
"Baekhyun! Bangunlah! Ke kantor dalam 30 menit!" Oh, Kyungsoo ternyata.
"Neeee? Tapi ada apaa?" Secepat kilat aku turun dari ranjangku dan menyisir rambut singaku.
"Aku tidak bisa datang. Kau harus menggantikanku. Aku harus menyiapkan pernikahanku, kau tau kan."
"Dasar mata tahu bulat! Oke, aku segera kesana."
Aku bekerja sebagai Make Up Artist untuk cover model dari majalah kami. Sebenarnya aku hanya assistant Kyungsoo saja. Aku lebih sering menyiapkan peralatan make up daripada merias.
Sampailah aku di depan ruang tunggu model. Pegal tanganku membawa peralatan make up seorang diri.
Tok.. Tok..
"Annyeong. Aku yang akan meriasmu."
"Kau terlambat lima menit."
"Maafkan aku." Dengan segera aku menata peralatan di meja rias yang disediakan. Aku gugup. Ini pertama kalinya aku merias sejak satu bulan yang lalu. Tidak kupedulikan model yang duduk tak acuh memegang ponselnya sedari tadi.
"Kau.. Baekhyun ?" Aku segera menoleh. Dia...
"Kita berbicara setelah pekerjaanmu dan aku selesai, okay? Sekarang lakukanlah pekerjaanmu."
Dia benar-benar Chanyeol? Lelaki yang membuat suram masa SMA ku. Lelaki penipu.
"Hhh.. Aku sungguh tidak percaya."
Chanyeol berada di sekitarku lagi. Dia memasukki hidupku lagi.
Ku hirup aroma kopi yang berada didepanku. Menatap sekeliling caffe lobby kantorku. Hanya beberapa kali saja aku kesini, itupun hanya untuk menemani Kyungsoo. Tidak pernah aku berada disini sendirian. Mungkin hari ini pengecualian, karena aku menunggu Chanyeol.
Aku menunggunya? Ya, aku menunggu Chanyeol selesai dengan pekerjaannya.
"Menungguku?" Dia datang. Aku hanya memberikan senyum tipis setipis mungkin kepadanya dan mempersilahkan Chanyeol untuk duduk.
"Jadi, bagaimana kabarmu?"
"Aku sedikit tidak baik."
"Kenapa? Karena aku?"
"Ya, sedikit. Sisanya karena seseorang mengganggu tidurku. Bagaimana denganmu?"
"Aku baik."
"Bagaimana hubunganmu dengan Luhan?" Chanyeol terkejut sedikit. Tapi kemudian ia tersenyum dan menunduk.
"Ia menolak pernyataan cintaku saat hari kelulusannya."
Jadi ternyata begitu?
"Maaf, karena aku tidak ada saat itu. Aku pergi ke Seoul untuk mempersiapkan diri mengikuti tes di universitas."
"Tidak apa."
Jadi, bagaimana hatiku harus bereaksi sekarang? Aku tidak yakin masih memiliki perasaan walau secuil. Aku meyakinkan diri bahwa aku hanya terkejut bertemu dengannya kembali.
"Bisa kita bertemu kembali lain waktu?"
Akhir-akhir ini aku menjadi lebih sibuk dari hari biasanya. Dan penghasilanku juga lebih dari biasanya, haha. Itu karena Kyungsoo melimpahkan pekerjaannya padaku untuk sementara hingga pernikahannya tiba. Kyungsoo juga berkata, bahwa aku yang akan meriasnya nanti dan memberiku bonus. Betapa bahagianya aku.
Tapi, aku tidak yakin akan bahagia jika kami masih bertemu. Aku dan Chanyeol. Katakanlah aku takut. Aku takut jika dia kembali datang hanya untuk memanfaatkanku lagi. Dan aku takut perasaan itu kembali datang.
Sejak pertemuan kami di kantorku, Chanyeol sering mengajakku bertemu mungkin seminggu sekali atau beberapa minggu sekali. Sejauh ini aku baik-baik saja, dia tidak menunjukkan sikap menipunya. Setidaknya belum. Haruskah aku percaya padanya?
Sikapnya masih sama seperti dulu. Suka menghibur, perhatian, dan sikap humorisnya bertambah. Walau kadang terdengar garing. Tapi, sekarang Chanyeol jahil.
Aku selalu memukul perutnya jika ia menggodaku dengan menyebalkan. Dan ia akan berkata, "Aduh perutku sakit sekali." dengan nada yg serius didukung dengan ekspresi kesakitan. Lalu aku akan memegang perutnya dan berkata, "Apa benar-benar sakit?" Kemudian dia tertawa dengan sangat keras. Dan aku memukul perutnya kembali.
Chanyeol selalu melakukan itu hingga aku hapal dengan perilakunya. Jadi, ketika aku memukulnya dan ia mengaduh kesakitan aku tidak memegang perutnya lagi dengan berkata, "Apa benar-benar sakit?"
Tapi, suatu ketika Chanyeol tertawa sehabis menggodaku dan aku belum sempat memukulnya, ia sudah mengaduh kesakitan. Awalnya aku diam tak menghiraukan. Tapi, Chanyeol tetap memegangi perutnya.
"Apa kau tidak apa-apa?" Chanyeol hanya tersenyum tipis.
"Kita pulang saja ya? Aku ingin BAB." Kemudian tersenyum lebar.
"Kau jorok."
-TBC-
Uwaaa seneng ada yang review ceritaku walau dikit. Semoga kalian suka yaa sama Deceiver.
Ada yg tanya "ini boyxboy?" dan jawabannya adalah ini genderswitch. Bisa diliat si scene pas baek nantangin cy tanding basket.
Untuk kedepannya, semoga lebih banyak yg review dan banyak yg menantikan Deceiver. Ini cuma fic pendek pertama yang aku posting.
Thankyou guys. Keep supporting Chan with Baek.
