RIVAL

2018© Peach Sundae

Rate : M-T (maybe?)

Cast : SehunxJongin, ChanyeolxJongin

'Lagi pula aku tau kok hubungan kalian sejauh mana' Chanyeol


Merasa terganggu dengan keadaan kedua matanya yang masih terasa berat, elusan pelan pada kepalanya membuat Jongin enggan bangun. "EH!" Jongin langsung bangun dan duduk dihadapan Sehun yang tengah tersenyum menjengkelkan di pagi ini, "Yak! Kenapa tidak membangunkanku? Kau mau kita telat?" protes Jongin memukul lengan Sehun.

"Santai, ini masih jam lima pagi."

Jongin menoleh kearah jendela, mengamati cahaya matahari yang lebih terang dari biasanya, tumben sekali subuh seperti ini sudah terasa jam tujuh pagi. "Tidurlah, nanti akan kubangunkan dan kusiapkan air hangat." Perintah Sehun sebelum turun kembali ke bawah namun langkahnya terhenti ketika Jongin menarik tangannya. "Ada apa?"

Jongin hanya terdiam memandang Sehun, masih tidak sadar dengan keadaannya. Selimut yang tersingkap sedikit memperlihatkan paha mulus Jongin, oh untung kaos Sehun mampu menutupi aset Jongin yang bisa saja membangunkan jiwa liar Sehun. Dilain pihak Jongin masih mencoba mengingat kejadian tadi malam dengan setengah nyawanya. "Kenapa aku bisa ada di sini? Lalu―

Jongin yakin lewat tatapannya Sehun mampu menjawab apa yang telah terjadi. "Tenang saja bokongmu tidak sakit bukan? Kita hanya bermain dua ronde sebelum kau tidur terlelap seperti beruang hibernasi lalu aku sudah menghubungi keluargamu kalau kau menginap di rumahku. Kau pasti tidak memberi tahu eomma dan appamu tentang pub itu?"

Mendengarnya Jongin menghela nafas panjang dan kasar tapi tetap saja ia kembali memukul lengan Sehun karena perkataan frontal serta ejekan tadi. "Apa ini ucapan terimakasihmu setelah aku menolongmu?"

"Hehehe" Jongin terkekeh dan segera mengecup pipi Sehun cepat. "Puas?"

Sehun menggeleng dan mengusap bekas kecupan kilat Jongin, "Lalu maksudmu hanya mengenakan jaket itu apa?"

"Aaa... itu," menggaruk kepalanya dan menarik selimut yang hangat Jongin bingung menjelaskan, "itu semua karena mereka." Disusul dengan alis Sehun yang bertautan, "Argh... lebih baik kau tanya mereka sendiri!"

BRUK

Sehun langsung menindih tubuh Jongin, mencengkram kuat kedua tangan tan tersebut hingga bekas kemerahan tercetak jelas nantinya. Lutut kirinya sengaja ia taruh diantara paha Jongin yang terbuka lebar, sedikit lagi akan menyenggol titik kelemahan Jongin. Mata tajamnya menatap tak suka Jongin yang tengah berusaha menahan ketakutannya. "Sepertinya olahraga pagi baik untuk kita," ucapnya berusaha menarik keatas kaos biru kebesaran tersebut setelah ia berhasil menahan kedua tangan Jongin dengan tangan kirinya.

Kaki kanan Jongin berusaha menendang adik kecil Sehun tapi tenaganya langsung menghilang ketika lutut Sehun sengaja mengenai miliknya. "Aahhh... Sehun..." desahnya karena tangan nakal Sehun bermain-main pada tubuhnya kemudian tangan kasar tersebut mengelus miliknya yang masih tertidur. "Ja-jangan... argh... kumohon berhentihhh..."

Demi dewa Neptunus! Jongin tidak mau menahan sakit selama pelajaran dan dicerca pertanyaan dari makhluk-makhluk abstrak itu. "Tenang Jongin, aku hanya bermain dengan adikmu saja untuk kali ini lubangmu aman."

DAMN!

Kapan otak mesum, kotor, dan konslet itu bisa beres dan bersih dari virus porno dari internet?

Perut Jongin mengencang ketika ia akan berhasil mencapai puncak kalau ibu jari Sehun tidak menutup akses keluar. Kedua tangannya meremat sprei kasur hingga kusut, mendesah pendek dan pelan ketika keinginannya tak tercapai. Ia tidak bisa protes, tenggorokannya terasa tercekat dan tubuhnya tidak bisa melawan kehendak Sehun.

"Ini hukumanmu tapi tenang saja bukan hanya kau yang menerimanya tapi juga mereka." Bisik Sehun dan melepas kekuasaannya dari tubuh Jongin. Nafas putus-putus yang terkesan berat mendominasi keheningan di dalam kamar Sehun. Pandangannya memburam ketika ia berusaha menemukan sosok Sehun yang telah menghilang.

"Cukup," monolog Jongin. "Ini yang terakhir!"

.

.

.

Sehun melangkah memasuki kelas dan mendapati tiga makhluk menjengkelkan sudah berada di posisi masing-masing. Wajahnya datar tak seperti biasa ia memulai harinya dan disadari oleh ketiga temannya. "Kalian bisa ikut aku?" ucapnya dingin dengan aura gelap yang mampu menekan mental Jongdae, Niel, dan Taemin. Sepertinya nasib mereka agak melenceng dari jalan yang seharusnya.

Jadi di sinilah mereka, di atap sekolah dengan formasi 1 vs 3, tatapan Sehun memang seperti biasa tapi mimiknya terkesan menahan emosi. Jongdae sih hanya tersenyum kecut walau ia tau itu tidak ada gunanya, Niel dengan menggerakkan kakinya dan terakhir Taemin yang sok sibuk dengan handphonenya. Dengan sekali percobaan benda persegi panjang itu berhasil direbut, otomatis Taemin tidak bisa apa-apa selain menunduk.

"Jadi tadi malam itu kerjaan kalian?" tanya Sehun to the point sebelum mengucapkan statement.

Mereka bertiga hanya saling tatap dan menyenggol satu lengan satu sama lain seperti anak SD yang dihukum berdiri di depan kelas. "Ini ide Taemin," Niel buka suara tanpa menatap Sehun, "Kami hanya membantu merealisasikannya saja."

"Untuk?"

Karena merasa bertanggung jawab Taemin menjelaskan semuanya dan mendapati Sehun mengerutkan dahinya. "Kami hanya ingin membantumu saja hehehe," Taemin memasang senyum kakunya, "tapi sepertinya caraku berhasil juga. Apa yang kalian lakukan semalam?"

PLAK

Niel memukul punggung Taemin keras dan Taemin mengaduh kencang, "Yak! Apa salahnya? Itu juga karena Jongin sendiri!"

UPS~

Taemin keceplosan langsung menutup mulutnya, menatap langit seolah tak terjadi apa-apa.

"Bicara yang benar."

Karena hanya mulut Taemin yang bocor jadi pemuda yang tengah berpacaran dengan pangeran kodok sekolah lah yang menceritakan kebenaran yang sebenarnya. Sehun tidak habis pikir hanya dengan alasan Jongin muncul sebuah ide seperti itu.

Menyuruh Jongin hanya menggunakan jaket.

HANYA MENGGUNAKAN JAKET, MENGGODA CHANYEOL, DAN MEMBUATNYA CEMBURU?!

Sehun hanya tersenyum masam, kembali masuk kelas tanpa menunggu ketiga makhluk tersebut mengikutinya. Toh ia sedang berusaha melupakan kejadian tadi, menyesal mengikuti egonya ya walau ia juga sedikit – sedikit – menyukainya tapi Jongin juga keterlaluan mengikuti permintaan mereka hanya karena ia tidak ikut bergabung kemarin.

Sebuah alasan yang memang masuk akal tapi membuang tenaganya dengan percuma.

Ia menggeser lemas pintu kelas dan mendapati Jongin yang tengah menatapnya penasaran sekaligus bersalah. Sehun tidak peduli dan langsung menidurkan kepalanya menghadap tembok diikuti dengan kumpulan pembuat masalah masuk setelahnya.

"Kalian dari mana?" tanya Jongin dengan nada pelan, berusaha tidak membuat Sehun penasaran.

Mereka hanya terdiam dan duduk di bangku masing-masing, menjadi sosok pendiam adalah pilihan untuk menghindari pertanyaan Jongin walaupun pemuda itu sudah tau. Jongin ikut menidurkaan kepalanya, menatap surai hitam Sehun merasa bersalah. Rasanya aneh sekali setelah melewati kejadian kemarin. Seolah apa yang ia alami hanya delusi namun membawa efek dalam kehidupan nyata.

"Sehun," panggil Jongin namun hasilnya Sehun tidak menanggapinya. Masih setia menatap tembok bercat warna cream. "Sehun~" kali ini dengan nada merajuk.

Argh!

Jongin jadi malu sendiri kalau merajuk seperti ini mana lagi dia sedang berada di sekolah. Jadi tangan kanannya menepuk pipinya yang terasa panas, ia melirik ketiga temannya yang sedang menahan tawa mendengarnya. "Ish! Ini semua gara-gara kalian!" desis Jongin sebal.

"Tapi kau kan juga menginginkannya!" balas Taemin dengan nada bersemangat, membuat Niel tepuk jidat dan Jongdae memilih mengerjakan prnya yang belum selesai. Apa Taemin tidak sadar kalau percakapan mereka berdua didengar oleh Sehun?

Kedua (yang katanya) kembaran itu mulai adu mulut namun berusaha tidak memancing perhatian orang sekelas. Seperti anak perempuan yang sedang adu argumen tentang idol mereka – saling tidak mau mengalah dan keras kepala karena tidak mau dianggap bersalah. Untung saja mereka duduk di barisan belakang, tempat yang cocok untuk tidur, makan atau bermain handphone dan tentu saja tidak menjadi pusat perhatian.

Sehun hanya mendesah panjang, kapan pertengkaran mereka selesai?

Lagi pula itu juga salah mereka sendiri. Argh! Pokoknya setelah kejadian itu membuat Sehun tidak mood untuk melakukan atau merasakan sesuatu. Ia hanya ingin pulang dan tidur sepanjang hari. Terjebak dalam gedung dan ruangan yang bernama sekolah dan kelas ini membuat Sehun memilih untuk tiduran di uks sampai istirahat pertama nanti.

Suara deritan antara kursi dan lantai menghentikan pertengkaran Jongin dan Taemin. Jongin berusaha meraih lengan Sehun namun gagal, pengaruh dari jarak dan juga suara bel pelajaran pertama.

"Oh kau mau kemana Sehun?" tanya guru Park yang hendak ingin menggeser pintu kelas.

Sehun tersenyum lemah "Rasanya saya tidak enak badan, bisakah saya izin untuk istirahat di uks?" izin Sehun yang memang terlihat lesu. Guru Park mengangguk setuju, "Kau tidak anemia bukan?" tanyanya perhatian lalu mengizinkan Sehun untuk ke uks.

Untung saja perempuan itu tidak menyadari arti kata 'lemas' yang Sehun rasakan. Jongin hanya terdiam dan kembali menidurkan kepalanya sambil mengeluarkan buku dari tasnya. Ah... rasa bersalah semakin menumpuk dan membuatnya ikutan tidak mood. Bisa saja sih Jongin menyusulnya namun ia sedang malas menghadapi pertanyaan dari guru Park dan pemikiran aneh yang bisa saja tumbuh di kepala perempuan itu. Lagi pula lebih baik kalau mereka punya waktu masing-masing untuk merenungi apa yang telah terjadi.

"Baik lah saya akan mulai mengabsen..."

.

.

.

Jongin mengindik dari kaca pintu uks, sosok Sehun masih berbaring disana. Perlahan ia membuka pintu yang engselnya mengeluarkan bunyi nyaring, otomatis kedua mata Sehun terbuka dan menoleh kearah pintu. Jongin tersenyum kaku dan berjalan sebiasa mungkin, meletakkan sekotak susu kesukaan Sehun beserta roti edisi terbatas hari ini.

"Pergilah, aku sedang tidak mood untuk meladenimu." Sehun membalik tubuhnya, menarik selimut sengaja untuk menutupi kepalanya. Jongin diam tidak bisa berfikir apa yang harus dilakukannya, tanpa sadar ia melepas sepatunya dan ikut tidur disebelah Sehun namun ia bangun untuk menarik tirai penutup kasur. Tangan kirinya memeluk diri Sehun, memposisikan tubuhnya senyaman mungkin.

"Lepas." Sehun kembali berkata namun tidak ditanggapi oleh Jongin, "Panas Jongin!"

Jongin menggeleng dan semakin mengeratkan pelukannya, meletakkan kepalanya pada punggung tegap Sehun. Sehun tidak peduli dan berusaha untuk tidur kembali tapi suara isakan mengganggu dirinya. Seingatnya hanya dirinya dan Jongin yang ada di uks ini. Petugas uks hari ini tidak masuk dan menjadi kesempatan Sehun untuk bermain game sebelum tidur betulan.

Jadi Sehun berbalik dan mendapati Jongin menangis di sebelahnya. "Ya! Kenapa kau menangis?" tanyanya dan mengusap air mata Jongin, yang di tanya hanya menggeleng dan masih menangis. Sehun menggaruk kepalanya dan menarik tubuh Jongin dalam pelukannya, mengelus surai lembut milik Jongin yang terasa halus di tangannya. "Hah..." Ia mendesah lesu, "Aku tidak marah padamu Jongin hanya saja kejadian kemarin itu―

Kalimatnya sengaja ia gantungkan, sengaja tidak mau menjelaskan apa yang tengah ia pikirkan. "Intinya aku tidak mau menyakitimu dengan adegan seperti itu, ya.. ya kau tau maksudku bukan. Pokoknya apa yang kau lakukan itu salah― termasuk aku dan aku tidak mau hal itu terjadi lagi." Disusul kecupan-kecupan kecil pada surai Jongin.

"Iya aku tau itu, aku minta maaf." Jongin masih terisak dan semakin memeluk erat Sehun.

"Jadi berhentilah menangis atau aku berubah pikiran untuk menikahimu." Jongin melepas pelukannya dan menatap Sehun dengan wajah cemberut, "Dan berhenti cemberut seperti itu, aku serius."

Kemudian sudut bibir Jongin naik ke atas, "Nah aku lebih suka Jongin yang seperti ini."

.

.

.

Alasan Jongin ingin membuat Sehun cemburu, pemuda berkulit pale itu sudah mengetahuinya. Jongin hanya ingin menguji dirinya terlebih status mereka sekarang yang tengah Sehun pikirkan. Sepertinya ia harus meresmikan hubungan mereka tanpa sepengetahuan orang lain kecuali orang tua mereka. Jadi dengan handphone yang tengah di -charger Sehun sedang memikirkan bagaimana langkah selanjutnya.

Kedua jempolnya mulai bergerak mengetik sesuatu untuk Jongin, menghela nafas panjang dan meraih jaket yang tersampir di kursinya. "Kau mau kemana Sehun?" tanya ibunya setelah selesai membersihkan dapur.

"Hem... hanya mencari udara segar?" Sehun terdengar tidak pasti namun buru-buru keluar dan akhirnya menemukan diri Jongin yang tengah berdiri menunggunya. Sehun gugup bukan main, membuat dirinya terdiam cukup lama sebelum Jongin berkata, "Ada perlu apa?" Jongin menunduk menahan rasa malu. Perasaan bersalahnya masih ada dalam benaknya.

"Aku," Sehun meraih dagu Jongin, menatap mata Jongin yang malu-malu membalas tatapan dirinya. "Se-sepertinya kita harus mencari tempat, hehehe." Sehun secara mendadak menarik tangannya kemudian menyembunyikannya dalam kantong jaket.

"Oh ada Sehun. Kenapa tidak kau ajak masuk Jongin?" Ibunya Jongin merusak suasana, menambah kecepatan debaran jantung Sehun hingga keringat sedikit mengalir membasahi pelipisnya.

"Sehun mengajakku ke minimarket sebentar. Ia ingin mentraktirku ramen."

"Jangan lama-lama ya. Sudah malam."

Sehun mencoba tersenyum manis walau wajahnya terasa kaku sekali. "Kau ada waktukan?" Sial Sehun out of topic! "Maksudku... ah sudahlah ikut aku."

Yang disuruh hanya menurut dan mengekori Sehun dari belakang, berjalan seperti di kejar setan karena langkah Sehun begitu cepat. Hingga tanpa sengaja ia menabrak punggung Sehun dan menyadari dirinya sudah berada di taman dekat minimarket. Pikirannya sedari tadi melayang entah kemana, mencoba menebak skenario hidupnya setelah mendapat pesan dari Sehun. Jongin memberanikan diri menatap Sehun yang wajahnya memerah entah kenapa. Jantungnya berdetak kencang dan sialnya bisa ia dengar sendiri.

"Aku," Sehun mengusap tengkuknya. "Aku ingin kita meresmikan hubungan kita." Mantap Sehun sekali nafas. Jongin mulai ikut-ikutan memerah wajahnya, tidak menyangka kalau kata-kata itu akan keluar dari bibir Sehun. "Tapi setidaknya jangan ada yang tahu tentang hubungan kita. Maksudku, aku ingin menjalaninya tanpa masalah, kau tau kan orang macam apa yang setiap hari kita hadapi?"

Jongin mengangguk mengerti, ia juga tidak mau diganggu-ganggu walau mungkin pada akhirnya hubungan mereka bisa terlihat oleh tiga sekawan temannya yang menyebalkan. "Maaf ya kalau aku tidak romantis."

WTF

Sempat-sempatnya Sehun berfikiran seperti itu? Jongin sih sudah senang bukan kepalang kalau Sehun mau meresmikan hubungan mereka jadi ia hanya tersenyum sambil memukul manja lengan Sehun. "Kopi atau coklat?" dahi Jongin mengkerut, "Setidaknya kita bisa menghabiskan waktu sebentar bukan? Merayakan hari jadian kita?"

Jongin tersenyum senang, merangkul lengan Sehun dan bergegas menuju minimarket. Memesan mimuman panas dengan semangkuk ramen menjadi teman mereka berbincang-bincang sebelum pulang kerumah masing-masing dengan perasaan tidak menentu.

.

.

.

Ibunya Sehun menatap heran isi kulkas, seingat beliau, dia hanya menyediakan makanan yang cukup untuk 3 hari tapi kenapa isinya malah bertambah? Padahal Sehun itu paling malas kalau di suruh berbelanja apa lagi di suruh memasak. Anak itu pasti akan menghancurkan salah satu peralatan dapur. Jadi sembari menunggu anaknya yang keluar entah kemana, beliau membuat beberapa masakan untuk beberapa minggu kedepan. Ia khawatir kalau Sehun tidak makan dengan teratur karena ia tinggal selama seminggu lebih. Mengharuskan dirinya pulang dan kembali lagi ke Busan.

"Kau makan dengan teratur kan Sehun?"

Sehun mengangguk pelan setelah melepas sepatunya dan mengagantinya dengan sandal rumah. Duduk menemani ibunya yang sedang menyiapkan beberapa hidangan untuk dirinya. "Jongin kemari dan membuatkan beberapa makan kemarin Minggu." Tuturnya dan mendapati senyum sumringah dari ibunya, membuat kerutan di dahinya. "Kenapa?"

"Seharusnya kau punya pacar Sehun jadi eomma tidak perlu repot-repot mengrusmu. Mendengar Jongin melakukannya eomma kok malah ingin punya menantu seperti Jongin ya?"

"Haish! Eomma, jangan berfikiran macam-macam!" Wow Sehun malu sendiri, pipinya terasa panas sekali.

"Sepertinya eomma harus mampir sebentar." Nah, Sehun jadi was-was. Kalau ibunya bertindak macam-macam pasti akan terjadi sesuatu setelahnya. "Hem... aku sebaiknya memberi mereka―

Suara deritan kaki kursi menggema di dapur, Sehun dengan langkah yang sedikit di hentak-hentakkan menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar. Merebahkan tubuhnya sembari mengambil handphonenya yang sudah terisi penuh baterainya. Menatap lockscreen handphonenya kosong.

From : Jongin

Ya! Eomma-mu membuatku malu, brengsek!

Sehun mengerucutkan bibirnya, baru beberapa menit mereka berpacaran dia sudah mendapatkan nama panggilan sayang 'brengsek'.

To : Jongin

Maksudmu?

Ah, pasti eomma-nya cerita tentang ingin punya menantu seperti Jongin atau menyuruh Jongin menjadi pacaranya. Tak kunjung mendapat balasan dan mendapati eomma-nya berteriak kalau ia akan pergi kembali, Sehun menahan niatnya untuk menelepon Jongin. Turun kebawah dan membantu eomma-nya membawa koper. Menunggu taksi pesanan dan mencium kedua pipi eomma-nya.

.

.

.

Jongin berusaha meraih buku yang menjadi referensi essay-nya namun begitu ujung jemarinya berhasi menyentuh, sebuah tangan yang Jongin kenal membuatnya langsung membalikkan badan. "Hyung?" tanya Jongin melihat Chanyeol tersenyum lebar kepadanya. "Apa hyung butuh buku itu juga?"

"Tidak," Chanyeol menggeleng dan melempar kecil buku terbilang tipis di tangannya, "hanya ada perlu denganmu." Kemudian ia memenjarakan tubuh Jongin dengan lengan panjangnya.

Merasa was-was Jongin menoleh kesekitarnya berharap tidak ada yang melihat. Kalau sampai ada yang melihat terlebih fans Chanyeol bisa-bisa ia tidak bisa pulang hari ini. "Te-terimakasih atas bantuan sunbae waktu itu. Mu-mungkin lain waktu su-sunbae bisa menolong."

"Lho kok sunbae sih? Bukannya tadi kau memanggilku hyung?" Walah, Jongin gugup sampai kakinya bergetar kencang walau tak terlihat. "Kalau masalah bantu membantu, aku selalu siap membantumu. Apalagi yang aku bantu anak manis sepertimu." Tangan kanan Chanyeol mengelus lembut pipi panas Jongin. "Aku sedikit kecewa saat kau tiba-tiba pergi dengan Sehun. Kalian ada hubungan ya?"

Nah untuk kali ini Jongin benar-benar menutup mulutnya. "Tak apa. Tapi kau bisa membantuku bukan?"

Jongin mengangguk pelan, menaruh beberapa buku yang ia pegang pada atas deretan buku di rak. "Membantu apa sunbae?"

Chanyeol tersenyum tipis, menepuk bahu Jongin menyuruhnya untuk merilekskan tubuhnya. "Hanya diam dan jangan memberontak."

Jongin menurut, merasa heran. Apa ada sesuatu yang aneh pada wajahnya karena Chanyeol sangat intens menatap wajahnya. Tadi pai ia tidak lupa memakai cream yang disarankan oleh nuna-nya, atau ada sesuatu di ujung matanya?

"E-eh sunbae!"

"Sssttt... kau mau ada yang mendengar kita." Perlahan wajah Chanyeol maju dan jarak antar wajah mereka perlahan berkurang. Sialnya, Chanyeol menutup kedua matanya sehingga refleks Jongin ikut menutup matanya juga.

"Maaf ya anak ini sudah ada yang punya." Secara kasar kepala Chanyeol terdorong kebelakang. "Kau tidak bisa melihat di jidatnya kalau 'Ini milik Oh Sehun' dan jangan coba-coba menciumnya." Tanpa sopan santun dan sudah merasa jengkel, ia tidak segan-segan memukul bibir sunbaenya dengan buku yang menjadi alat penggagalan aksi mari-mencium-Jongin-oleh-Chanyeol.

Jongin menatap kaget Sehun kemudian menatap Chanyeol bergantian. "Se-Sehun,"

"Apa? Kau tidak suka kalau sunbae-mu ini tidak jadi menciummu?"

Chanyeol yang melihat pertengkaran kecil sepasang kekasih di depannya ini hanya mampu menahan tawanya. "Kenapa, kau juga tidak suka."

"Ya! Berhenti meneriaki orang bodoh."

"Aku ini pihak yang tersakiti tau!"

"Sudahlah, aku hanya bermain-main. Lagi pula aku sudah tau kok hubungan kalian sejauh mana."

.

.

.

TBC


Aku balik lagi dengan waktu yang lama h3h3h3.

Gimana sama chapter ini? Aku rasa feelnya untuk chankai nggak kerasa jadi silahkan hina saya wkwkwk. Dan akhirnya Sehun meresmikan hubungannya dengan Jongin, khan rasanya mantep dari pada nggak ada status sama sekali. Satu rivel sudah pergi alias sudah tau kalau anak beruang sama anak ayam punya something.

Jadi selama beberapa hari aku kepikiran buat pindah lapak, sebenernya udah lama sih buat accnya (untuk keperluan KBM) tapi sampai sekarang belum aku isi sama sekali wkwkwwk. Silahkan mampir bila ada waktu ya ke wattpad saya dengan nama Peach_Sundae, tapi aku tetep update kok di sini mungkin lebih sering update di sini gegara liat cara nulisnya beda sama ffn (malah review ff web)

19/06/2018

Eh nggak tau kalau hari publisnya sama, cuman beda hari sama tahun (oke nggak penting)