Awan di atas sana berwarna kelabu, dan Minseok yakin tak lama dari sekarang, awan kelabu itu akan menumpahkan jutaan tetes air yang dinamakan Hujan.

"Sebentar lagi akan Hujan.."

Minseok sedikit melirik Luhan yang menyetir di sebelahnya, sebelum kembali fokus pada pemandangan luar kaca Mobil Luhan.

"Hujan di awal musim semi, itu terdengar menganggu.."

Diam-diam Minseok membenarkan apa yang di ucapkan Luhan. Minseok suka hujan, tapi tidak di awal musim Semi.

"Min.."

Tubuh Minseok sedikit mengejang, tapi tak lama. Minseok hanya terkejut. Ya, itu refleks yang ia berikan karena ia belum terbiasa.

"Nde" Minseok menjawab pelan, matanya kini tak lagi menatap jendela di sampingnya, tapi menatap dashboard mobil di depannya.

"Entah kenapa aku merasa canggung.." Ucap Luhan dan setelahnya ia terkekeh seperti baru saja melihat badut yang terjatuh dari sepedahnya. Dulu Luhan memang aneh, tapi Minseok tak tau jika sifat Luhan yang satu ini masih bertahan sampai saat ini.

"Akupun begitu.." Minseok lagi-lagi menjawab pelan, matanya kini manatap tak fokus. Mereka sedang terjebak lampu merah, dan Minseok tak bodoh untuk menyadari jika Luhan kini tengah menatap kearahnya.

"Min.."

Entah kenapa tapi untuk saat ini Minseok ingin menghacurkan lampu lalu lintas yang masih berwarna merah itu.

"Hm.."

"Kau tau, aku selalu berharap agar bisa kembali bertemu dengamu juga yang lain. Tapi kau taukan, mereka tak mungkin membiarkan hal itu terjadi" Jeda beberapa saat, "Dan aku sungguh bahagia karena akhirnya itu bisa terjadi, seperti saat ini. Aku akhirnya bisa bertemu denganmu.." Lanjut Luhan dan langsung menstarter mobilnya saat lampu yang beberapa saat lalu berwarna merah telah berganti menjadi warna Hijau.

Dan tanpa sepengetahuan Luhan, Minseok mengepalkan tangannya. Pandangan mata Minseok pun kini terlihat kosong.

KatakHijau Present

:: After 6 Years ::

T

()

Typo's

"..Speak.."

"/..China Speak../"

'..Mind..'

.

.

.

Enjoy

:: :: ::

Rumah di depan Minseok terlihat begitu sederhana, dengan cat putih yang mendominasi semakin mempercantik tampilan rumah dengan halaman depan yang luas di penuhi aneka ragam bunga.

"Selamat datang di rumahku.."

Luhan merentangkan kedua tangannya, membuat Minseok yang melihatnya tak sadar menampilkan senyuman geli.

"Min kau tersenyum.."

Dan ucapan Luhan itu berhasil membuat Minseok langsung menggigit bibir bawahnya.

"Eyyy.." Luhan menatap Minseok dengan pandangan mengoda, dan Minseok sungguh tak menyukai padangan itu. Ya Minseok tak suka, karena dengan itu Minseok seperti melihat seseorang yang diam-diam Minseok rindukan selama enam tahun ini.

"Hentikan Lu.."

Dan akhirnya Minseok lebih memilih memutarkan badannya, berjalan kearah pintu belakang mobil Luhan untuk membawa koper besar berwarna hitam miliknya.

"Perlu ku bantu?"

"Tidak" Jawab Minseok cepat tapi menyesal di akhir. Rumah Luhan memang tak memiliki lantai atas, tapi tidak dengan tiga tangga kecil yang ada sebelum memasuki teras depan.

"Min kau yakin?" Tanya Luhan yang sekarang berdiri tak jauh dari pintu masuk.

"Nde, bukakan saja pintunya untukku.." Ucap Minseok yang sebenarnya bohong belaka. Yang benar saja, kenapa kopernya bisa seberat ini? Minseok sungguh tak mengerti, sebenarnya apa saja yang di masukan Manajer Hyung kedalam kopernya?

Minseok tersenyum, ya memang sedikit berlebihan. Sebuah senyuman karena berhasil mengangkat sebuah koper? sungguh menggelikan.

Minseok berbalik, mendorong koper hitamnya kearah Luhan yang masih berdiri di ambang pintu dengan mata yang terus mengikuti setiap gerakkan yang di buat Minseok.

"Wae?" Tanya Minseok, tapi Luhan hanya mengedikkan bahunya, sedikit menyingkirkan tubuhnya untuk memberi jalan pada Minseok agar biasa masuk.

"Daddd!"

Dan senyuman Minseok seketika Hilang, langkahnya terhenti, matanya kini menatap dua sosok yang berada di hadapannya dengan pandangan... hampa.

{.. Jarak itu tak lagi sama,

Bahkan terlalu jauh.

Kau dengan duniamu

Dan aku dengan duniaku.

Bagai dua magnet yang bertolak belakang.

Kita tak akan bisa bersatu ..}

.

.

:: After 6 Years ::

"Hei Baby..." Luhan memeluk dengan gemas bocak kecil berumur 4 tahun itu. Mencium pipi gembilnya yang langsung membuat bocah itu tersenyum dengan lebar.

"/Zhikyu menunggu Daddy?/"

Bocah bernama Zhikyu itu mengangguk dengan semangat, membuat rambut berwarna sama dengan Luhan itu mengerak dengan lucu.

"/Zhikyu tidak nakalkan?/"

"/Tidak Dad, Malah tadi Kyu membantu Laoshi (Guru)/" Ucap Zhikyu dengan di sertai cengiran bangga.

"/Zhikyu Daddy ternyata anak yang pintar../" Ucap Luhan dan membawa Zhikyu dalam gendongannya.

"/Ayo berikan salam../" Ucap Luhan sambil melangkah mendekati Minseok yang masih berdiri mematung di tempatnya.

"/Daddy.. kenapa Gege itu mirip dengan../"

"/Iya sayang, kali ini Daddy bawakan yang asli/"

Zhikyu yang berada di gendongan Luhan memberontak ingin di turunkan, "/Kenapa?/" Luhan mengerutkan dahinya, pertanda tak mengerti.

"/Kyu ingin memeluk Min-ge../" Ucap Zhikyu pelan dan setalahnya ia langsung menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Luhan, Mungkin malu, karena saat ini Minseok tengah menatap kearahnya.

"Min.."

Minseok tak langsung menjawab, butuh beberapa detik untuk Minseok menrespon panggilan Luhan.

"Nde, waeyo?" Ucap Minseok dengan sebuah senyuman yang sangat tipis terlukis di wajahnya, tangan kanannya kini bergerak untuk mengelus surai Zhikyu yang masih menyerukkan wajahnya di leher Luhan.

"Perkenalkan ini Xi Zhikyu, Anakku.."

Minseok hanya mengangguk, tangannya masih mengelus rambut Zhikyu.

"Dia sedang malu, makanya di seperti ini.." Luhan terkekeh di akhir kalimatnya, sedangkan Minseok hanya tersenyum, tangannya sudah tidak lagi mengelus rambut Zhikyu.

"Min, dia penggemar beratmu, tadi dia ingin memelukmu, tapi dia malu.."

Minseok lagi-lagi menampilkan sebuah senyumannya, kedua tangannya kini ia rentangkan di depan Luhan, membuat Luhan yang melihatnya mengangguk mengerti dan membisikkan sesuatu di telinga Zhikyu hingga akhirnya bocah berumur 4 tahun itu dengan malu-malu berpindah gendongan dari Luhan pada Minseok.

"/Min-ge, Kyu menyukaimu../" Ucap Zhikyu ketika telah berada di gendongan Minseok. Sedangkan Minseok yang tak mengerti apa yang di ucapkan Zhikyu hanya mengerjap, membuat Luhan yang melihatnya tersenyum geli.

"Min, Kyu mengatakan jika dia menyukaimu.." Terjemah Luhan yang langsung membuat Minseok memeluk Zhikyu yang berada di gendongannya.

:: After 6 Years ::

.

.

.

Puk... puk... puk...

Minseok menepuk pelan punggung kecil Zhikyu yang terlihat lelap dalam tidurnya. Jam dinding bergambar katak yang berada di kamar Zhikyu telah menunjukkan pukul 09 lebih 20, terhitung sudah lebih dari tiga puluh menit Zhikyu tertidur dan Minseok masih berada di kamar bocah itu. Mata berbentuk almond itu sendari tadi terus terpokus pada sebuah poster besar bergambar dirinya yang tertempel di tembok kamar di dekat meja kecil tempat Zhikyu belajar, dimana poster itu mengambarkan Minseok yang tengah tersenyum kearah kamera dengan latar belakang sebuah panggung konser.

'Zhikyu itu penggemar berat mu Min-ah, dia bahkan hapal dimana Part-part yang kau nyanyikan..'

'Benarkah?'

'Nde, bahkan setiap pagi sebelum berangkat kesekolahnya ia pasti akan berdiri di depan postermu. Mengucapkan selamat tinggal, dan selalu meminta postermu untuk mendoakannya agar mengalami hari yang menyenangkan...'

Puk...

Minseok menghentikan kegiatan tangannya, tak lagi menepuk punggung kecil itu tapi kini bergerak untuk mengelus surai hitam lembut itu dengan perlahan.

Jujur Minseok sebenarnya tak bisa berdekatan dengan anak kecil, bukan karena ia membenci anak kecil, melainkan karena Minseok menyadari betul jika ia tak bisa membuat anak kecil menyukainya karena sikap pendiamnya yang tak menarik.

Tapi bocah ini..

Bocah yang belum genap sehari Minseok mengenalnya tapi entah kenapa Minseok merasakan perasaan aneh yang membuatnya ingin melindungi bocah ini.

'Hahaha sepertinya ini bawaan lahirnya, Kau tau Min-ah, saat Zhikyu masih dalam kandungan, Yifey selalu mengidam segala sesuatu berkaitan denganmu...'

Belaian lembut yang di berikan Minseok pada Zhikyu tiba-tiba terhenti saat ucapan Luhan saat makan malam tadi kembali tergiang di telinganya. Tangan yang tadi membelai Zhikyu kini mengepal.

"Wang Yifey kau sungguh beruntung.." Ucap Minseok pelan, mata almondnya masih menatap Zhikyu. "Kau beruntung karena memiliki semua hal yang aku impikan.."

Dan dengan itu Minseok dengan perlahan berjalan meninggalkan kamar Zhikyu.

.

.

.

:: TBC ::

Maafkan saya yang abal ini, Keyboard laptop rusak, gak tau harus nulis kaya gimana... pake keyboard on screen? Kalian tau betapa repotnya itu? T,T

Dan bersyukur karena ini keyboard sedang waras(?) saya langsung ngebut nulis, dan hanya bisa sampe 5 page karena si ilham keburu kabur hehe.. maafkan jika ini ff bener-bener pendek, dari pada nih ff kaya ff-ff lain yang ketelantarin, mending ini di updet meskipun cuman 1k, yang penting apdet...

Dan terima kasih atas reviewnya, ayo lagi-lagi! Itu yang buat saya kembali semangat karena FYI saya sedang kena WB huhuhu...

Gak mau banyak cingcong lagi, terima kasih buat kalian yang udah meninggalkan jejak di chp 1 (kecup satu-satu)

| Xi OceanDeer | XM | Sfsclouds | Genieaaa | Firda xmin | KYUngie | Feyy | HamsterXiumin | Onyx Sky | Guest | Milkbubble | Rebeccakiney81 | M7 | Pooarie3 | Oppamiracle | CiElAnGel | Lee Minji Elf | LuHanBin | Elfishminxiu | Ega s White | Baby Crong | Kim Hyun Soo | Frostlightx | Little Drak Wolf 99 | Fujoshixiuhan | SureaLive | Dn | Ve Amalia | XiuMochiTa | Deerbaozi | saya Orchestra |

Sorry kalau typo yeth hehe Love you...

.

.

.

Mind To Review Again?