Faith.

Chapter Two

Cast: EXO, Luhan, Sehun, Chan-Baek (cameo)

Rate: M, m/m

Genre: BL, Romance, Comfort

Category: EXO, Yaoi, Continues

Length: 6shoots

000

Seminggu lagi. Kira-kira secepat itulah hitungan hari sebelum kelulusan Luhan. Dan sejak tempo hari ketika Luhan lolos tes di universitas Seoul menjadi topik pembicarannya dengan Sehun, keduanya masih belum saling sapa. Mereka sama-sama membayangkan banyak hal; mereka terlalu kebingungan.

Sehun meremas lembaran kertas buku tulisnya. Terlalu geram pada sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak tahu pastinya. Yang bahkan ia tidak tahu darimana datangnya. "Aku hanya tidak ingin ditinggalkan. Iya, hanya itu."

Tapi kepalanya terus menggeleng seperti orang mabuk. Apa yang salah? Apa yang tidak beres diantaranya dengan Luhan?

...

Sambil mendekap bantal, Luhan terdiam. Tenggorokannya seperti tercekat, sakit dan berat. Matanya perih.

Ia menahan tangis. "Kenapa kau marah?" Suaranya pelan, menggosok mata yang tadi hampir tergenang air. Dalam benaknya hanya terus mengulang saat Baekhyun mengumumkan kalau ia dan Sehun, sepupunya, sedang berpacaran.

Oh, ya, jangan heran kenapa hal itu tidak bisa lenyap dari pikiran Luhan: ia menyukai Sehun.

Kebersamaan mereka selama bertahun-tahun telah membuat Luhan amat nyaman, kemudian ia sadar kalau itu adalah sebuah perasaan yang berbeda. Tapi Luhan terlalu ngeri untuk membayangkan resiko jika ia tetap menyukai Sehun. Hei, ya, Sehun bukan seorang laki-laki yang menyukai sahabat laki-lakinya. Sehun adalah siswa normal dengan tipe wanita ideal yang tinggi.

"Uh..." Luhan benar-benar menangis. Menangisi kepayahan dan ketidakmampuannya menerima kenyataan: disaat ia berpikir kalau pemuda idamannya adalah normal, ternyata malah berhubungan dengan sepupunya sendiri, yang juga seorang laki-laki.

Terlalu menohok.

"... Aku harus pergi."

000

Drap, drap,drap―

Langkahnya lebar-lebar meski ia tahu tengah berlari. Nafasnya memburu meski ia tahu belum akan mati. Dan matanya menerawang sambil mengamati jalan seolah besok ia akan jadi buta.

Itu Sehun, berlarian ditengah malam hingga keringat dan nafas membuatnya seakan diracun. Ia menuju rumah Luhan setelah semalaman berpikir keras mengenai keputusan Luhan dan perpisahan yang bagaimanapun akan tetap terjadi.

Meski tidak rela, apalagi yang bisa ia lakukan? Sehun tidak mungkin mampu melarang Luhan untuk pergi, tapi setidaknya, ia tahu bagaimana membuat Luhan untuk berpikir ulang mengenai keputusannya.

Diujung mata, sudah nampak rumah sederhana yang dulu menjadi markas geng bocah desa nakal yang berlagak tua. Masa kecil yang konyol, namun tak terlupakan. Disisi kanan rumah itu ada balkon, dimana kamar Luhan terletak.

Tungkai-tungkai Sehun berhenti tepat dibawah pagar, lalu kepalanya mendongak hendak menyerukan nama Luhan ketika tiba-tiba si tertuju membuka pintu balkon, berjalan ke pagar dan menunduk mendapati sosok familiar dibawah sana.

Sehun melihat wajah sembab itu. "Luhan, aku," Suaranya terasa berat untuk melantang.

Luhan melihat wajah sedih itu. "... Hun," Ia menggenggam besi pagar, menangis. Kehadiran Sehun bagai menyayat dadanya namun ia tetap merindukan sosok pendiam itu.

"Luhan!" Mata Sehun membelalak dan tubuhnya refleks berlari untuk menadah lengan; menangkap Luhan yang melompat dari balkon.

Hup.

Sehun berhasil, meski hampir tersunjam, Luhan terjun ke lengan itu dan langsung ia dekap erat-erat. "Kalau kau mau mati, jangan didepanku," Suara yang serak. "Karena pasti akan kugagalkan."

"Aku tahu kau pasti menangkapku, aku tahu," Luhan terisak, memeluk bahu Sehun erat dengan dua lengannya yang lemas. "Kau menyayangiku, aku tahu,"

Lalu apa yang bisa Sehun lakukan setelah mendengar itu? Selain meraih wajah Luhan dan menciumnya, apalagi?

Menciumnya.

Luhan melotot, terbayang wajah Baekhyun. Bibir yang menyentuhnya ini bukan miliknya; ini tidak boleh. "Lepaskan," Maka ia mendorong Sehun, agak kasar dan itu membuat Sehun mengerut alis kecewa.

"Maaf, aku-"

"Aku tidak mau mengecewakan Baekhyun. Kau tahu 'kan dia juga temanku? Jangan sakiti dia!"

Sekarang alis Sehun menukik. "Apanya yang jangan sakiti?"

"Kalau kau menciumku, kau akan menyakitinya." Luhan menyeka bibir sendiri yang sesaat lalu menerima pendaratan Sehun.

Tapi, Sehun benar-benar tidak paham kenapa Luhan bicara seperti itu? Kenapa dia bisa menyakiti Baekhyun? "Luhan,"

"Pulanglah. Maaf aku hanya merindukan temanku." Sambil mengusap ujung matanya, Luhan menepuk-nepuk bahu Sehun dan berusaha bergurau. Tapi ia sendiri tahu kalau Sehun bukan orang yang mudah dialihkan fokusnya. Jadi, Luhan menangis lagi. "Aku tahu kau dan Baekhyun pacaran, tidak usah tutupi lagi dariku. Tapi kenapa kau tidak memberitahu? Aku bukan temanmu lagi ya?"

"Baekhyun?" Sepertinya harus ada seseorang yang memukul kepala Sehun agar otaknya bisa berjalan dengan baik. Kenapa dia harus lupa pada sesuatu yang sedang dikalutkan Luhan?

"Didepan rumahnya waktu itu, dia yang bilang sendiri, kau pacarnya!" Baik, Luhan penuh niatan untuk menjambak rambut Sehun. Untung saja tidak ia lakukan.

Sehun berusaha mengingat lebih jauh dan bingo. "Tidak, kau salah," Dua telapak tangannya bergoyang menyalahi pikiran Luhan. "Aku dan Baekhyun hanya sepupu, kau juga tahu itu, Lu."

Aduh, Luhan benar-benar ingin menjambak rambut orang itu. "Tapi Baekhyun bilang kalau kau pacarnya! Kau mau bilang kalau dia bohong?"

"Sst," Buru-buru Sehun membungkam mulut Luhan dengan telapak tangan. Ini tengah malam dan Luhan terus menjerit-jerit. "Biar kujelaskan padamu, oke? Dengar," Dipegangnya dua bahu Luhan, kemudian menatap sungguh-sungguh. "Aku dan Baekhyun hanya dua orang sepupu yang tinggal berseberangan. Lalu datang seseorang yang membuat Baekhyun takut, namanya Chanyeol. Chanyeol menyukai Baekhyun dan itu mengganggu ketenteramannya, dia bersiasat untuk menipu Chanyeol agar orang itu tidak mengganggu Baekhyun lagi. Jadi, saat Chanyeol datang, Baekhyun menggunakan kehadiranku untuk meyakinkan bahwa ia benar-benar sudah memiliki seseorang, dia hanya ingin mengusir Chanyeol. Tadaah, rencananya berhasil dan kami memang tidak pernah menjalani hubungan apapun selain saudara sepupu yang lahir berbeda tiga bulan. Bahkan jika aku harus menyukai laki-laki, bukan dia orangnya."

Penjelasan panjang lebar sampai Luhan berpikir kalau ini rekor seorang Sehun mau bersusah payah bicara lebih dari satu kalimat.

"Kau sudah mengerti?" Tanya Sehun, masih menatap Luhan lamat-lamat.

"Bagaimana aku bisa percaya?"

"Aku tahu kau selalu percaya padaku. Kau percaya Oh Sehun sampai mati." Tatapan itu berangsur makin serius, penuh makna dan perasaan, membuat Luhan terpaku. "Kalau aku harus menyukai laki-laki, orang itu pasti kamu."

Kamu.

Luhan.

"Aku?"

Sehun berusaha tersenyum. Mitos atau apapun, entah siapa yang waktu itu melalui gundukan bersama dengannya, Sehun sudah tidak perduli. Yang ia tahu, ia hanya ingin mengejar cintanya yang nyata; mengejar Luhan.

"Ya. Dan aku memang sudah lama jatuh cinta padamu."

Hening. Hanya terdengar suara jangkrik dan belaian angin yang menyentuh pucuk-pucuk pohon disekitar.

"Maaf, ini menjijikan ya? Lupakan saja, aku cuma menyampaikan perasaan sebelum kamu pergi," Kepala Sehun tertunduk, tiba-tiba wajahnya getir. Masih tidak setuju jika Luhan benar-benar akan meninggalkannya. "Aku hanya berpikir kalau pernyataan ini mungkin bisa membuatmu tidak meninggalkanku..."

Dan Luhan memeluknya.

"Sehun," Lagi, suaranya sumbang. "Sehun, aku menyukaimu." Sekarang, Luhan menangis lagi.

Oh?

000

Hari H, kelulusan Luhan.

Matahari hampir terbenam dan upacara kelulusan sudah terlaksana dengan baik. Luhan mendapat predikat Siswa Terbaik dengan prestasi bertahan selama tiga tahun SMA-nya. Anak mas di desa.

"Sehun?"

Luhan membuka pintu kamar Sehun dan mengintip kedalam. Ia melihat si empunya kamar tengah duduk meringkuk diatas tempat tidur. Diam. Sendirian.

Pelan-pelan Luhan masuk dan ikut duduk di tepi kasur, memandangi temannya. "Sehun?"

"Aku mendengarmu sejak tadi."

Luhan tertawa, sekarang ia bergeser tepat kesamping Sehun. "Hei, aku mencintaimu." Yup, kabar baik. Sehun dan Luhan adalah teman yang sedang pacaran. Maksudnya, mereka pacaran. Ya begitu.

Tapi Sehun masih tidak mau bicara, bahkan ia tidak menoleh. Antara sedang merajuk atau memang marah, tidak ada yang paham.

"Ada kabar buruk yang baik. Mau tahu?" Tanya Luhan.

"Bicara saja."

Kemudian Luhan menyandarkan kepalanya pada lengan Sehun. "Aku tidak pergi."

Seperti hal yang memang biasa, keheningan menyelimuti kamar Sehun setelah ucapan Luhan barusan masuk ke pendengaran. Bahwa Luhan tidak pergi.

Tapi, Sehun masih diam.

"Miskin emosi," Gurau Luhan, lalu mencium lengan yang jadi sandaran kepalanya. "Aku menemukan alasan untuk tidak pergi ke Seoul. Aku bisa bertani."

"Itu alasanmu?"

"Bukan, itu solusinya. Alasanku jauh lebih baik,"

Sehun kali ini menoleh. "Apa?"

Dan Luhan juga menoleh, memandang Sehun dengan sendu. Oh, ia memang mencintai Sehun. "Kamu alasannya."

"..."

"Karena kamu disini, aku tidak akan kemana-mana. Karena aku memilikimu, aku tidak akan meninggalkanmu."

Tidak satu huruf pun bisa menggambarkan perasaan Sehun saat ini hingga ia hanya bisa tetap membisu.

Aku mencintaimu.

"Sehun, kau tahu mitos desa kita?"

"Ada banyak."

"Yup," Luhan tertawa. "Ada satu yang ingin kubuktikan, bersamamu."

...

Sehun dan Luhan berlari kedalam hutan. Terus berlari sebelum hari menjadi lebih gelap dan menggagalkan rencananya. Ia ingin membuktikan sesuatu, berhubungan dengan salah satu diantara sekian jumlah dongeng desa.

Ibuku bilang, kalau masuk kedalam hutan dan berlari bersama kekasih tanpa belok sedikitpun dan tanpa halangan,

"Pelan-pelan, Lu!"

"Aku terlalu semangat!"

Berarti, pasangan itu berusia panjang; hubungannya dan usianya.

Mereka terus berlari. Sejauh ini, bahkan tak ada pohon yang menghalangi laju keduanya. Sambil tetap melangkah, tangan mereka bergenggaman.

Tapi entah kenapa Sehun merasa tidak enak. Ia bukan orang yang jarang masuk hutan; sejak kecil ia suka berburu kumbang dan katak, agaknya ia hafal keadaan-keadaan didalamnya.

Dan jalanan berumput tempat mereka saat ini berpijak, Sehun merasa tidak asing. Ia tahu jalur ini. Ini menuju...

'Sialan, aku lupa.' Ia mengumpat dalam hati, perasaannya makin tidak keruan. Tapi ia sendiri masih bingung, ada apa diujung jalan ini? Apa yang membuatnya gelisah?

Luhan melepas genggamannya dari Sehun. "Kejar aku!"

Sesuai jeritan itu, Sehun mengejar Luhan. Sambil berlari kepalanya menoleh kanan-kiri, mencoba mengenali hutan.

Rumput, batang pohon, rumput, semak, rumput, bangunan gudang kayu keluarga Go, rumput, ... tunggu dulu.

Gudang kayu keluarga Go?

Sehun melihat penebang kayu didekat gudang, menyorot kaget ketika ia lewat bersama Luhan dengan berlari-lari. Si penebang kayu itu berseru dan mengejar.

'Aku ingat, gawat!' Sehun kembali fokus kedepan, mencoba meraih kaus yang dikenakan Luhan dan menariknya mundur sebelum semua terlambat.

"Sehun-ah, hei, hati-hati!" Penebang kayu itu terus memekik.

"Luhan!"

Luhan tetap berlari maju kedepan. Semua seakan menjadi gerak lambat ketika kelopak matanya perlahan terbuka makin lebar karena kaki yang tak lagi dapat memijak.

Gudang kayu Go adalah patokan isyarat bahwa diujung jalur hutan itu, ada jurang.

Jurang.

Dan Luhan sama sekali tidak mengetahuinya.

Seperti ketika Luhan menjatuhkan diri dari balkon, lagi, Sehun berhasil menangkap dan memeluknya. Namun kali ini jelas berbeda karena mereka berdua terlanjur kehilangan tempat melangkah.

Byurrr―

Untunglah dibawah jurang itu ada aliran sungai yang tidak deras. Mereka berdua tercebur kesana.

"Ya Tuhan!" Si penebang kayu langsung berlari ke desa, ia harus meminta pertolongan.

...

Luhan membuka matanya yang buram, kepalanya sakit. Perlahan ia bangkit dan mendapati sebongkah batu didekat kepalanya. Syukurlah kepalanya hanya sedikit terbentur dan tidak pecah. Meski mungkin benjol serta membuatnya merasa amat pening.

Ia mengusap kepala dan melihat jemarinya berdarah. Oh, tidak, kepalanya bocor?

Tapi parahnya, kemudian air disekeliling Luhan berubah warna darah. Dengan pandangan buram, Luhan mencari asal darah itu.

Sesuatu mengalir dari sebuah batu besar. Cair. Pekat.

Darah. Dan diatasnya, satu tubuh lain terkapar.

"... Se..."

Itu Sehun.

Tapi kemudian, semua menjadi gelap dan berat.

To be continued.