You've Got Me From Hello
Remake by Santhy Agatha's Novel
with the same title
Hunhan as Maincast
GS(Genderswitch) for uke, Typo(s)
"Ada kesalahan-kesalahan dalam percintaan yang bisa dimaafkan, tetapi pengkhianatan tidak termasuk salah satu di antaranya."
Ponsel Luhan berbunyi sore itu dan dia langsung mengangkatnya ketika mengetahui bahwa yang menelepon adalah mamanya.
"Luhan?" Mamanya langsung berbicara seperti kebiasaannya.
"Mama harus memperingatkanmu."
"Memperingatkan apa mama?" Dahi Luhan mengeryit dan langsung waspada. Mamanya tidak pernah berucap dengan nada seserius ini sebelumnya.
"Kris." Suara sang mama setengah berbisik. "Dia datang kemari pagi ini dan memohon kepada mama untuk memberikan informasi di mana dirimu."
"Mama tidak memberitahukannya kepadanya, kan?!"
Luhan langsung panik. Percuma dia pindah ke lain kota kalau pada akhirnya Kris mengetahui dia ada di mana.
"Tentu saja tidak sayang."
Sang mama menghela napas panjang. "Tetapi sepertinya dia tidak menyerah. Dia bilang pada akhirnya kalau mama tidak mau mengatakan di mana dirimu, dia akan tetap tahu karena dia akan menghubungi kantor penerbitmu."
Luhan mengernyit kesal. Kalau Kris menghubungi kantor penerbitnya, tentu saja Kris akan tahu dimana dia berada.
Dia mendesah kesal, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Luhan hanya tidak menyangka kenapa Kris sekeras kepala ini mengejarnya. Apakah lelaki itu tidak bisa menerima bahwa Luhan tidak bisa memaafkannya?
"Terima kasih sudah memperingatkanku mama. Ada kemungkinan bahwa dia sudah tahu di mana aku berada. Aku menginformasikan kepindahanku dan alamat baruku kepada penerbit. Aku akan bersiap kalau Kris nekat dan mendatangiku."
"Kau tidak apa-apa Luhan?" Suara mamanya tampak cemas di seberang sana, membuat Luhan tersenyum haru.
"Tidak apa-apa, mama. Aku bisa bertahan." Jawabnya mencoba sekuat mungkin meskipun dalam hatinya dia meragu.
Perempuan itu datang lagi malam ini dan memesan segelas anggur untuk teman menulisnya.
Sehun mengernyit. Dari info yang didapatnya dari Albert, Luhan adalah seorang penulis novel romance. Tetapi sepertinya Luhan sedang murung karena beberapa kali perempuan itu hanya menghela napasnya di depan laptopnya, lalu mengawasi layar laptop itu dengan tatapan mata kosong.
Sehun merasa seperti pengintip yang memalukan ketika berdiri di depan kaca balkon atas dan mengamati Luhan seperti ini. Tetapi dia tidak bisa menahan diri.
Sudah beberapa hari ini Luhan selalu datang. Setiap pukul sembila, lalu ia akan menulis sampai dini hari sebelum kemudian pulang ketika terang tanah menyentuh langit. Sehun tidak bisa menahan ketertarikannya untuk mengintip ke bawah, menanti kedatangan Luhan. Dan sejauh ini, perempuan itu tetap datang.
Ada keinginan tertahannya untuk mendekati perempuan itu, tetapi dia menahan diri. Dia takut kalau dia terlalu mengganggu, Luhan akan merasa segan dan kemudian tidak akan datang lagi.
"Perempuan itu datang lagi." Albert yang tiba-tiba sudah ada di ambang pintu ruang kerja Sehun bergumam sambil tersenyum penuh pengertian, mengamati Sehun. "Kau sepertinya sangat tertarik kepadanya."
"Kenapa kau bisa berpikiran begitu?" Sehun mundur dari kaca itu dan melangkah menuju kursi kerjanya.
Albert adalah tangan kanannya, orang kepercayaannya. Lelaki itu dulu adalah pegawai setia ayahnya dan orang yang paling dipercaya oleh ayahnya. Setelah ayah Sehun meninggal dan dia mewarisinya jaringan kerajaan bisnis hotel dan restoran ini, Albertlah yang selalu membantunya, memberinya pendapat dari sisi pengalaman, melengkapi apa yang tidak dimiliki oleh Sehun.
Karena itulah Sehun menghadiahi Albert cafe ini. Tetapi lelaki setengah baya itu menolaknya. Dia hanya ingin tinggal di sebuah apartemen mini di bagian atas cafe dan tetap ingin bekerja menjadi pelayan meskipun Sehun sudah melarangnya.
Tetapi Albert bilang bahwa menjadi pelayan cafe ini bisa membantunya tetap hidup. Dia kesepian dan bercakap-cakap dengan para pelanggan bisa menyembuhkan sepinya. Karena itulah Sehun mengizinkan Albert menjadi pelayan di Garden Cafe ini.
Albert meletakkan kopi panas untuk Sehun dan tersenyum. "Kau menyapanya malam itu. Kau bahkan tidak pernah menyapa pelanggan lain sebelumnya."
Sehun tersenyum kecut. Rupanya dia terlalu mudah terbaca oleh Albert. "Tetapi bukan berarti aku tertarik kepadanya."
"Oh ya?" Albert mengangkat alisnya."Sebelumnya kau tidak pernah menginap di cafe ini."
Seperti halnya Albert, Sehun mempunyai apartemen sendiri di sisi lain di bagian atas cafe ini. Tetapi dia memang jarang memakainya karena dia selalu pulang ke rumahnya, kawasan hijau dan sejuk di perbukitan pinggiran kota, dekat dengan area resor hotelnya.
"Dan aku hitung, sejak kau menyapa perempuan itu, kau selalu datang kemari setiap malam, tanpa absen."
Sehun terkekeh mendengar perkataan Albert. "Aku memang tidak bisa membohongimu ya."
"Aku sudah mengenalmu sejak kecil." Albert tertawa. "Kau tidak pernah bertingkah seperti ini sebelumnya dengan perempuan manapun."
Albert berdehem. "Begitu juga ketika dengan Irene."
Sehun tertegun ketika nama Irene disebut. Wajahnya sedikit memucat. Dia lalu memalingkan muka dengan murung.
"Tetapi pada akhirnya semua akan tetap sama bukan?" Gumamnya sedih. "Seberapa besarpun aku tertarik kepada perempuan itu, aku tidak akan pernah bisa memilikinya."
"Kau bisa memilikinya kalau kau mampu mengambil keputusan tegas."
"Tidak." Sehun mengernyit seolah kesakitan. "Aku memang bukan orang baik. Tetapi aku masih punya hati."
Tuhan tahu dia sudah tidak mencintai Irene, tunangannya. Tetapi dia masih punya hati. Kesalahannya harus dibayar, meskipun perasaannya yang dikorbankan.
"Sehun?"
Suara lembut Irene menggugah Sehun dari lamunannya. Membuat Sehun menoleh dan langsung tersenyum lembut.
"Iya sayang?"
Irene menyelipkan rambut panjangnya yang indah di belakang telinganya dan tersenyum lembut.
"Ada apa? Kau tampak begitu murung."
Sehun mendesah. "Ah..Iya. Mungkin aku sedikit tidak enak badan."
Itu yang sesungguhnya. Dia sungguh merasa tidak enak badan. Dia tidak suka berada di sini, tetapi dia harus. Setiap akhir pekan setelah kesibukan kantornya berakhir, dia harus berada di sini. Menghabiskan waktunya bersama Irene, tunangannya.
Tetapi pikirannya mengembara, ke cafe itu. Tempat perempuan bernama Luhan itu selalu datang dan menulis di sana sampai dini hari. Sehun tidak sabar untuk segera pergi dari sini dan menuju Garden Cafe, mengamati Luhan dari kejauhan.
"Pulanglah." Bisik Irene lembut, penuh pengertian. "Mungkin kau kelelahan dan butuh istirahat."
Irene selalu seperti itu, begitu lembut dan penuh pengertian. Apapun yang dilakukan Sehun dia selalu mengerti. Apalagi yang sebenarnya Sehun cari?
Ditatapnya Irene dengan senyuman lembut. Kemudian dia menarik Irene mendekat dan mengecup keningnya.
"Kau mau kuantar masuk?"
"Tidak Sehun, pulanglah. Aku bisa masuk sendiri." Jawab Irene tanpa kehilangan senyumnya.
Sehun menghela napas, lalu menyentuhkan jemarinya di rambut Irene dengan lembut. "Terimakasih Irene. Sampai ketemu lagi besok ya."
Irene mengangguk. Memundurkan kursi rodanya dan memutarnya memasuki rumah. Sehun menunggu sampai pintu rumah itu tertutup lalu melangkah pergi, tanpa menoleh lagi.
Dalam perjalanannya pulang dari rumah Irene, Sehun merenung.
Dulu semuanya baik-baik saja. Sehun melabuhkan cintanya kepada Irene dan memutuskan untuk melamarnya. Tetapi kemudian dia larut, sibuk dalam pekerjaannya dan lupa untuk memberikan perhatiannya kepada perempuan itu.
Irene yang kehilangan cintanya, akhirnya memutuskan untuk mencari perhatian dari lelaki lain. Dan dia mendapatkannya dari sosok lelaki bernama Jackson, yang ternyata adalah seorang bajingan.
Bajingan itu merenggut kegadisan Irene yang sedang rapuh karena diabaikan oleh Sehun. Lalu kemudian meninggalkannya begitu saja dalam kondisi hamil.
Masa-masa itu sangat menyakitkan bagi Sehun. Ketika Irene datang kepadanya dan mengakui semuanya, tentu saja Sehun marah besar. Mereka sedang berkendara di mobil, di tengah hujan deras ketika Irene mengakui semuanya kepada Sehun.
Sehun yang marah menginjak gas begitu kencang untuk meluapkan emosinya hingga kehilangan kewaspadaannya. Mereka lalu mengalami kecelakaan fatal, kecelakaan yang membuat Irenekeguguran anak hasil hubungannya dengan Jackson, dan tidak bisa berjalan lagi selamanya.
Sehun sendiri hanya mengalami lecet-lecet, dia mendengar kenyataan bahwa Irene akan lumpuh dan merasakan penyesalan yang luar biasa. Dialah penyebab semua in. Irene menjadi lumpuh seumur hidup karena dirinya. Karena dialah mereka mengalami kecelakaan parah itu.
Padahal perselingkuhan Irene kalau ditelaah adalah karena kesalahannya. Sehun terlalu sibuk dengan bisnisnya sehingga melupakan Irene. Bahkan dia hampir tidak punya waktu untuk tunangannya itu, jadi wajar kalau Irene sampai mengais perhatian dari lelaki lain. Lalu Sehun memutuskan bahwa dia harus bertanggungjawab.
Dan pagi itu pula ketika Irene tersadarkan diri dari kecelakaan, menangis ketika mengetahui bahwa dia tidak bisa berjalan lagi, Sehun memeluknya dan mengatakan bahwa dia akan selalu mendampingi Irene selamanya.
Dia memaafkan kekhilafan Irene dan bertekad untuk melangkah ke depan, meninggalkan yang lalu. Sehun mengira itu akan mudah. Toh dia mencintai Irene sebelum kejadian itu. Dipikirnya dia hanya perlu memaafkan dan kemudian menjalani keadaan mereka seperti sebelumnya.
Tetapi kemudian dia merasakan perasaannya mulai terkikis dan musnah setiap menatap perempuan cantik itu. Lalu menyadari kenyataan bahwa Irene telah mengkhianatinya dan membiarkan dirinya disentuh oleh lelaki lain sampai sedemikian jauhnya.
Hari demi hari berlalu, sampai di titik cintanya musnah begitu saja. Dia menjalani harinya dengan Irene hanya karena dia merasa harus melakukannya. Sehun yakin dia bisa melakukannya, toh hatinya sudah mati rasa.
Sampai kemudian dia melihat Luhan, dan terpesona lalu tertarik kepadanya.
Albert memang benar. Sehun tidak pernah tertarik kepada perempuan lain sebelumnya. Begitu kuat, begitu memabukkan, membuatnya tak bisa memikirkan yang lain. Membuatnya ingin mencoba mendekat bahkan meskipun dia sadar bahwa dia tidak bisa memiliki perempuan itu.
Sejenak Sehun ragu. Dia berada di persimpangan jalan. Satu menuju ke arah rumahnya dan yang lain menuju ke arah Garden Cafe. Pada akhirnya Sehun mengarahkan mobilnya ke arah Garden Cafe.
Dia ingin melihat Luhan.
Ketika dia memasuki pintu cafe itu, matanya mencari di sudut yang biasa dan menemukan Luhan. Perempuan itu sedang mengetik seperti biasa ditemani segelas anggur merah yang tinggal tersisa setengahnya.
Sejenak Sehun ragu, tetapi kemudian dia mendekat.
"Aku heran anggur itu tidak membuatmu mengantuk."
Luhan langsung mendongak mendengar sapaannya. Ada tatapan terkejut di sana ketika melihat Sehun berdiri di depannya. Tetapi kemudian dia tersenyum lembut.
"Aku punya penyakit susah tidur akhir-akhir ini. Kata Albert anggur ini bisa membantu. Tetapi sepertinya aku kebal."
Sehun tersenyum. "Kalau kau ingin mengantuk jangan ikuti nasehat Albert, minumlah susu putih."
"Susu putih?" Luhan mengeryit. "Aku tidak suka susu putih. Rasanya terlalu gurih dan menguarkan aroma yang aneh di hidung, membuatku mual."
Kali ini Sehun benar-benar terkekeh geli. "Aku baru kali ini mendengarkan deskripsi yang begitu menarik tentang susu putih." Godanya.
"Apa yang sedang kau tulis?" Tanpa sadar Sehun menarik kursi dan duduk di depan Luhan.
"Roman percintaan."
Pipi Luhan memerah, menyadari bahwa dia ditatap oleh lelaki yang begitu tampan dengan mata cokelat muda dan rambut berantakan yang tampak sangat menggoda. Tetapi kemudian dia mengeraskan hati.
Semakin tampan seorang lelaki berarti semakin berbahaya dirinya. Gumamnya dalam hati.
"Roman percintaan? Dan sepertinya kau sedang kehabisan ide?"
Bagaimana lelaki ini tahu?
Luhan mengangkat bahunya. "Tokoh utama di ceritaku saling membenci dan aku merasakan dorongan kuat untuk membiarkannya seperti itu."
Sehun terkekeh. "Tetapi kau tidak bisa membiarkannya seperti itu?"
"Tidak bisa." Gumam Luhan penuh penyesalan. "Karena ini cerita roman. Dan cerita roman karanganku harus berujung Happy Ending."
"Kenapa?"
"Apanya?"
"Kenapa harus Happy Ending?" Sehun menatap ke arah Luhan dengan tajam, membuat Luhan sedikit salah tingkah.
"Karena di kehidupan nyata kadangkala Happy Ending bukanlah milik kita."
Ingatan Luhan langsung melayang kepada Kris dan dia tersenyum pahit. "Karena itulah setidaknya novelku bisa menjadi pengobat luka hati."
"Kau benar-benar penulis novel yang baik dan memikirkan perasaan pembacanya." Gumam Sehun sambil tersenyum, yang ditanggapi Luhan dengan mengangkat bahunya.
"Aku hanya ingin menyajikan kisah yang indah untuk pembacaku."
"Misi yang luar biasa baik. Dan aku yakin itu bisa membantu semua orang, karena kadang di dunia nyata ini kita tidak selalu berakhir indah."
Sehun bangkit dari duduknya dan menganggukkan kepala sopan. "Silahkan lanjutkan menulis. Maaf atas gangguanku."
Sehun sedang mengenakan dasinya untuk berangkat ke kantor pusatnya di area resort hotelnya ketika pintu apartemen pribadinya di lantai dua cafe itu diketuk.
Dia mengernyitkan keningnya, hari masih pagi. Cafe di bawah memang buka dua puluh empat jam, tetapi yang pasti tidak akan ada yang berani mengetuk pintunya sepagi ini. Bahkan Albert pun tidak akan melakukannya.
Dengan jengkel sekaligus ingin tahu, Sehun membuka pintu ruang kerjanya dan menemukan Sehan berdiri di sana. Saudara kembarnya.
"Kenapa kau kemari pagi sekali?" Sehun mengernyit, menatap adiknya ingin tahu.
Sehun dilahirkan lebih dulu 3 menit sebelum Sehan. Karena itulah dia selalu menganggap dirinya sebagai kakak. Lagipula, secara kepribadian, dia memang lebih dewasa dibandingkan Sehan. Sehan terlalu berpikiran bebas.
Dia bahkan tidak mau memegang perusahaan warisan ayah mereka dan memilih mengejar impiannya menjadi seorang pelukis.
Kadang Sehun merasa iri kepada Sehan karena kemampuannya untuk merasa bebas dan lepas dari tanggung jawab.
Sehun sendiri tidak bisa. Perusahaan ayahnya harus dikendalikan. Dan karena Sehan tidak bisa diandalkan, maka dia mengambil alih seluruh tanggung jawab itu di pundaknya.
Mungkin dia memang ditakdirkan untuk selalu memikul tanggung jawab terhadap orang lain di pundaknya. Pikirnya pahit.
Sementara itu, Sehan tampak tidak peduli. Dia melangkah masuk ke apartemen Sehun dan membanting tubuhnya di sofa.
"Aku sedang menerima proyek melukis untuk desain kantor di dekat resort kita. Pekerjaan itu baru selesai tadi pagi dan aku memutuskan untuk berkunjung ke rumahmu pagi ini sekaligus menumpang tidur. Tetapi kata pelayan sudah berhari-hari kau tidak ada di sana dan tidur di Garden Cafe." Sehan merengut. "Jadi aku terpaksa menyusul kemari."
Sehun meraih jasnya dan melirik adiknya tanpa ekspresi.
"Kau bisa menumpang tidur di kamar." Gumamnya tenang. "Aku harus bekerja."
"Kau tampak tidak sehat." Gumam Sehan ketika mengamatinya. "Dan kurus. Apakah memimpin perusahaan ini membuatmu begitu sibuk sampai lupa mengurus dirimu?"
Mereka berdua memang sudah lama tidak bertemu, hampir enam bulan lebih. Itu karena Sehan memutuskan ke Belanda untuk mengunjungi guru melukisnya di sana.
Adik kembarnya itu baru pulang sebulan yang lalu. Tetapi mereka sama-sama sibuk hingga sekaranglah pertemuan mereka yang pertama setelah enam bulan berlalu. Sehun sendiri mengamati adiknya yang tampak begitu segar dan tanpa beban, lalu mengernyit.
"Salah satu dari kita harus menjalankan perusahaan ini."
"Kau tidak perlu melakukannya, kau tahu itu."
Sehan memundurkan tubuhnya dan menyandarkan dirinya di sofa. "Perusahaan itu bisa saja kau serahkan kepada para tangan kanan ayah. Selama ini bukankah mereka juga yang menjalankannya?"
"Tetapi perusahaan ini tetap butuh seseorang yang mengendalikannya, Sehan."
Sehun bergumam tajam. "Aku bukan orang bebas yang bisa melepaskan tanggung jawab seperti dirmu." Sindirnya.
Sehan malahan tertawa. "Dan kau pun memikul tanggung jawab itu, ciri khas seorang Sehun."
Wajahnya berubah serius. "Sama halnya seperti yang kau lakukan kepada Irene."
"Aku tidak mau membicarakannya." Sehun langsung memalingkan muka, berusaha memutus percakapan.
Mereka pasti akan berakhir dengan adu argumentasi ketika membicarakan Irene.
Sehan adalah salah satu orang yang menentang keras ketika Sehun melanjutkan pertunangannya dengan Irene. Dia tentu saja tahu tentang pengkhianatan Irene dan menganggap Sehun bodoh karena memikul tanggung jawab terhadap Irene.
Padahal kecelakaan yang dialami Irene seharusnya bukanlah kesalahan Sehun.
"Tidakkah kau bertanya-tanya bahwa sebenarnya ada jodohmu di luar sana?" Sehan terus mengejar, tidak peduli akan ekspresi membunuh yang dilemparkan Sehun kepadanya.
"Tidakkah kau ingin tahu bahwa pasangan jiwamu sedang menunggu jauh di sana? Menanti untuk kau temukan? Kalau kau terus terpaku pada Irene yang jelas-jelas tidak kau cintai, kau akan kehilangan kesempatanmu untuk menemukan jodohmu yang sesungguhnya."
"Aku tidak menyangka kau bisa begitu puitis."
Sehun berusaha menghindar dari bahasan tentang Irene. Dia sedang tidak mau memikirkannya.
"Aku seorang seniman. Meskipun aku pelukis, tetap saja aku bisa puitis." Sehan tertawa. "Berbeda dengan dirimu yang begitu kaku."
Wajahnya melembut. "Aku hanya ingin kau berhenti menyiksa dirimu, hyung."
Apakah sejelas itu?
Sehun berusaha memasang wajah datar. "Kalau kau ingin aku sedikit lebih baik, bantulah aku di perusahaan."
"Tidak." Sehan langsung menjawab cepat. "Berkemeja rapi, memakai jas dan dasi bukanlah gayaku. Aku bisa mati bosan kalau bekerja di kantor."
Dengan santai dia melangkah berdiri dan menuju kamar Sehun. "Selamat menikmati harimu." Gumamnya santai lalu menghilang ke dalam kamar.
Luhan sedang melangkah keluar dari pintu putar apartemennya. Ia hendak menuju ke supermarket terdekat untuk membeli bahan makanan sebagai pengisi kulkasnya, ketika langkahnya membeku di trotoar. Mobil warna biru itu dengan plat nomor yang sangat dikenalnya.
Itu mobil Kris...
Dan benar saja, lelaki itu melangkah keluar dari mobilnya dan berdiri tepat di depan Luhan.
"Hai, Luhan." Sapanya seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.
"Apa kabarmu? Aku kemari untuk mengunjungimu, aku merindukanmu." Bisiknya lembut.
Bisikan itu dulu pernah membuat hati Luhan hangat. Tetapi sekarang tidak lagi. Dia menggertakkan giginya dengan marah.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Kris mengangkat bahunya. "Mengunjungimu, tentu saja. Kau pikir apa? Aku harap setelah kau puas dengan tingkah kekanak-kanakanmu kita bisa bercakap-cakap dengan kepala dingin."
Tingkah kekanak-kanakannya, katanya?
Luhan menahan dirinya untuk maju dan menampar Kris. Berani-beraninya lelaki itu muncul di depannya seolah tidak bersalah dan mengganggu ketenangan hidupnya lagi.
"Aku tidak mau bercakap-cakap denganmu. Minggir." Gumam Luhan marah, ketika Kris dengan sengaja menghalangi jalannya di trotoar yang sempit itu.
Tetapi Kris tidak bergeming. Dia malahan semakin sengaja menghalangi Luhan lewat.
"Kita harus bicara Luhan. Ayolah, hentikan sikap kekanak- kanakanmu itu dan berbicaralah dengan dewasa."
"Aku rasa aku sudah mengambil keputusan dewasa dengan mengakhiri pertunangan kita. Menyingkirlah Kris dan biarkan aku lewat."
Luhan berusaha mencari jalan melewati Kris, tetapi karena lelaki itu menghalangi jalannya dia merengut kepada Kris dengan tatapan menghina.
"Ah sudahlah!" Gumamnya marah lalu hendak berbalik dan meninggalkan Kris.
Sayangnya gerakannya kurang cepat. Kris sudah meraih lengannya dan mencekalnya.
"Dengarkan aku dulu Luhan. Kau harus mendengarkan aku!" Seru Kris mulai emosi.
Lelaki itu bahkan tidak peduli akan lirikan orang-orang di sekitar mereka. Luhan malu, sungguh-sungguh malu.
Dengan sekuat tenaga dia berusaha melepaskan cekalan tangan Kris di lengannya, berusaha melepaskan diri dari Kris. Dia jijik, dia benci, dan dia sangat muak kepada laki-laki ini.
Di tengah usahanya melepaskan diri, sebuah mobil berwarna merah menyala menepi ke trotoar di dekat mereka.
Sehun turun dari mobil dan mengernyit. Dari kejauhan dia sudah melihat lelaki itu mencengkeram lengan Luhan dan Luhan yang berusaha melepaskan diri. Pada akhirnya dia tidak bisa menahan diri untuk mendekat.
"Bisakah kau lepaskan perempuan itu? Tampaknya dia tidak mau berurusan denganmu." Gumamnya dingin.
Membuat Luhan dan Kris menoleh bersamaan.
TBC
udah apdet yah. ini aja gue nyempet-nyempetin wifi-an, mumpung gurunya belum masuk kelas XD. masa lalu nya sehun jugak udah kebukak noh. mungkin nantik siang gue apdet ETC sama L&H.
Makasih buat yang nge-foll, nge-fav, dan nge-review.
Big Thanks and Big Hug to :
Angel Deer, deerhanhuniie, hunnaxxx, Selenia Oh, lulu-shi, Arifahohse, LSaber, laabaikands, Seravin509, Skymoebius, almurfa, salma lulu, lzu hn, misslah, Baby Lu, Agassi 20, Yessi94esy, niasw3ty, chenma, chanailu06, Nam NamTae, chocovanila, OhXiSeLu, Asmaul, oh noenoe, Kwon, oohme614, and all Guest.
Last..
Review Juseyo.
Gomawoo... :*:*
