…
Sehari sebelum kejadian itu semua masih baik-baik saja bahkan cenderung membosankan bagi Aomine Daiki. Ia masih menjalani home schooling-nya bersama Satsuki di pagi hari, masih melakukan latihan fisik di sore hari dan masih melakukan kegiatan makan malam bersama keluarga besar di malam harinya. Nah, semua berubah disitu.
"Daiki, setelah selesai makan datanglah ke ruangan kerja ayah. Ayah ingin bicara"
Daiki mengangguk dengan wajah bosannya.
"Baik ayah"
[Aomine Ryuga, 50 tahun, ayah dari Daiki, Raja Toou]
Setelah selesai makan, Daiki masuk ke ruangan ayahnya disana ibu dan ayahnya sudah menunggu.
[Aomine Shizuna, 45 tahun, ibu Daiki dan istri Ryuga, permaisuri]
"Ada apa tou-sama?"
"Begini Daiki, ayah ingin istirahat"
Daiki menaikkan sebelah alisnya.
"Daiki, ayah sudah tua dan kau juga sudah dewasa. Ayah ingin pergi liburan dan menghabiskan waktu dengan ibumu"
"Oh"
"Jadi ayah akan segera menyerahkan tahta ini kepadamu, sayangnya ada satu syarat yang belum kau penuhi. Yaitu kau harus menikah dulu"
"A-apa? Tou-sama aku masih 19 tahun"
"Iya, Ayah tahu. Tapi sejak zaman dahulu 'sudah menikah' adalah salah satu syarat seseorang untuk menjadi raja"
"Bagaimana kalau aku tidak mau? Ayah pasti tidak punya pilihan lain juga kan. Atau apa ayah akan menyerahkan tahta ini pada Satsuki"
"Tidak, itu tidak bisa. Dan jika kau bersikeras menolak ayah masih punya calon lain"
"Kalau bukan aku, dan bukan Satsuki maka... Tou-sama! Itu tidak boleh! Anda tahu sendiri kalau Hanamiya itu licik!"
"Kalau begitu kuberi waktu 3 bulan kau harus sudah menikah!"
"Tou-sama! ini tidak masuk akal untuk menikah semuda itu di zaman seperti ini! God... ayah ini bukan abad 16!"
"Hmm Daiki benar ayah, ia masih terlalu muda untuk menikah" Ibu Daiki mencoba untuk menenangkan kedua pria yang sudah mulai saling teriak itu.
"Begitukah? Hmmm baiklah kalau begitu kuturunkan syaratnya menjadi 'memiliki kekasih'. Ok Daiki kuberi waktu 3 bulan dan kalau kau masih belum punya pacar tahta ini akan kuserahkan pada Makoto"
Ibunya memberi Daiki sebuah senyuman kode bagi anaknya untuk mau menyetujui keputusan sang ayah.
"Baik Tou-sama. Aku permisi"
…
Malam harinya Aomine Daiki sama sekali tidak bisa tidur dengan tenang, tentu mudah baginya untuk memilih seseorang menjadi kekasihnya. Tapi kalau sudah dikenalkan ke orang tua hubungan itu pasti akan berlanjut ke pernikahan. Malam itu Daiki memikirkan semua kandidat yang mungkin memenuhi standarnya dan hanya ada satu orang. Masalahnya apa orang ini bersedia? karena prince-daiki-sama tidak siap untuk ditolak. Masalah yang lebih besar adalah bagaimana ia akan menyatakan cinta? Bukankah seharusnya ia yang mendapat pernyataan cinta? Kenapa sekarang sebaliknya?
Akhirnya Daiki mengajak orang yang dimaksud untuk bertemu di lapangan basket pribadinya esok hari. Pangeran muda ini begitu semangat ia bahkan sudah ada di lapangan sejak jam 9 pagi padahal mereka sepakat untuk one-on-one jam 2 siang. Karena kelewat awal dan semangat(yang menurut Hana-san terlihat memuakkan) sepupunya Hanamiya justru datang dan menantang Daiki untuk one-on-one.
Hanamiya mengalahkannya, dengan segala foul yang Aomine yakini akan meinggalkan memar di dada kanannya namun semua rasa sakitnya terlupakan begitu ia mengenali pria bersurai merah-hitam memasuki area lapangan. Daiki segera meminta Satsuki untuk menjauh dan membiarkannya berduaan dengan Kagami Taiga.
Ya, satu-satunya orang yang ingin Daiki jadikan pasangan adalah Kagami Taiga. Mereka sudah saling mengenal sejak kecil karena keluarga mereka selalu menjaga hubungan baik. Dulu Daiki tidak menyukai Taiga dan kakaknya ia menganggap mereka itu bodoh dan sombong.
Saat Aomine berusia 10 tahun, ia bersikeras untuk menjadi pemain basket professional. Kekeras kepalaannya ini sudah memicu kemarahan ayahnya hingga hubungan mereka sedikit renggang. Setelah itu Aomine sering bermain basket dengan Hanamiya Makoto namun sepupunya itu selalu berbuat curang, membuat Aomine kesal hingga berujung pada perkelahian dan entah bagaimana semua selalu berakhir dengan dihukumnya Aomine karena dituduh memulai perkelahian.
Saat Aomine menyerah dan bosan dengan basket disitulah Taiga datang dengan mata bulat, tubuh pendek gempal dan alis bodohnya mengatakan "Meskipun bukan pemain profesional aku berjanji untuk membuatmu tidak pernah bosan dengan basketball". Dan tentu Taiga menepati janjinya hingga sekarang.
…
"Berpura-puralah menjadi kekasihku"
Aomine benar-benar ingin mengubur dirinya sendiri sekarang, setelah semalaman berfikir untuk menyatakan cinta tapi justru hal seperti ini yang keluar dari mulutnya. Aomine berfikir secara singkat, jika Kagami menolaknya Aomine masih bisa membujuknya tanpa merendahkan harga dirinya sendiri. Tapi disisi lain ia sama sekali tidak memikirkan konsekuensi lain yaitu seperti apa Daiki dimata Taiga setelah ini.
'Damn it padahal aku benar-benar menyukaimu'
"Ha? Kenapa?"
"Ayolah Taiga kau kan temanku. Begini ayahku akan segera menyerahkan tahta tapi kalau aku tidak memiliki pacar dalam 3 bulan tahta itu akan diserahkan kepada Hanamiya, kau tahu dia kan? Itu artinya kerajaanku dalam bahaya"
Kagami ingat betul waktu kecil dulu Hanamiya sering menakutinya dengan anjing pittbull milik ibunya hingga Taiga digigit bokongnya dan trauma pada anjing.
"Oh, aku mengerti"
"Jadi bagaimana?"
"Aku sih bisa membantumu tapi tolong rahasiakan ini dari Tatsuya-nii"
"Baiklah, sankyu na Taiga"
"Un, jadi apa yang harus kulakukan"
"Untuk sekarang cukup dengan mengakui bahwa kau adalah kekasihku kalau ada orang bertanya padamu dan bersedia untuk kuakui sebagai kekasih"
"Ok"
.
.
