The Heirs PureBlood

Chapter 2

Disclaimer J.K. Rowling

Author Kazamuchi

AU

Setelah menyelesaikan makanannya Hermione segera meninggalkan great hall yang mulai di penuhi oleh para murid yang ingin mengisi perut mereka. Ia segera menuju ke hutan terlarang. Sebelum ke great hall, ia membawa tas manik-maniknya yang berisi beberapa buku dan sekotak bubuk coklat,kopi, beserta beberapa makanan ringan dan permen. Ia berencana akan kembali lagi kedanau yang ia lihat tadi pagi.

"Sepertinya ini akan mengasyikan." Hermione berseru girang di pikirannya.

"Akhirnya sampai. Hmm, baiknya aku mulai dari mana ya?" Hermione bermonolog sendiri.

Ia lalu mendekati rerimbunan pohon yang berada di dekat danau, lalu ia mengubah pepohonan itu menjadi sebuah rumah pohon yang lumayan besar. Hermione melangkah masuk kedalam rumah pohon buatannya itu, dan mulai menyihir lagi untuk mengisi ruangan kosong di dalam rumah itu. Setelah satu jam berkutat dengan rumah pohonnya itu, akhirnya rumah pohon itu selesai dengan berbagai macam perabotan yang sama seperti perabot rumah biasa, walaupun semua benda itu adalah sihiran tapi sangat mirip dengan perabot rumah biasa.

"Ah, akhirnya.. selesai!" Hermione berseru senang karena rumah pohonnya telah selesai. Ia berjalan menuju kebelakang. Disana, terdapat sebuah lemari dengan banyak rak. Ia kemudian mengeluarkan barang bawaannya dari tas manik-manik yang ia bawa tadi dan menyusunnya di rak-rak lemari itu. Setelah selesai menyusun, ia kembali ke depan.

"Lelah sekali rasanya." Hermione membaringkan tubuhnya di kasur empuk king size yang juga hasil dari sihir transfigusainya yang sangat sukses.

Akhirnya Hermione tertidur di kamar rumah pohon itu. Ketika Hermione bangun, di luar hari sudah gelap.

"Shit, aku ketiduran." Hermione langsung bangun dari tidurnya, lalu bergegas keluar untuk pulang ke Hogwarts.

.

.

.

Saat makan malam di Great Hall.

Harry tengah menoleh ke pintu aula untuk mencari orang yang sekarang harusnya sudah disini. "Gin, apa kau tidak melihat Hermione?"

Ginny memandang kekasihnya yang sedang mengunyah daging asap "Aku tidak melihat Hermione seharian ini. Kecuali tadi pagi."

"Memhang Hemihone kemana?" Ron bertanya kepada keduanya dengan wajah tanpa dosa.

Ginny melihat Ron dengan pandangan yang benar-benar kesal. "Telan dulu bodoh. Kau itu sangat menjijikan" Ginny memukul kepala Ron dengan keras.

"Sakit Ginny Weasley!" Ron mendelik marah kepada adiknya.

Harry hanya menggelengkan kepalanya kepada dua saudara itu. Ia kembali memikirkan Hermione. Tadi ia sudah mencari Hermione keperpustakaan, tapi Hermione tidak ada disana. Ia juga bertanya kepada Malfoy, tapi ia juga tidak melihat Hermione. Ia sangat mencemaskan sahabatnya yang sudah di anggap sebagai adik perempauannya itu.

Sementara itu, di meja Slytherin, Draco sedang makan di temani dengan Theo dan Blaise.

Blaise menoleh ke meja Gryfindor, lalu kembali menyuap makanannya "Oy mate, si Granger tidak ada di meja Gryfindor. Kemana dia?" Blaise menatap Draco dengan pandangan bertanya.

Draco menoleh kearah sahabatnya itu, "Aku tidak tahu. Tadi dia juga tidak ke asrama seharian ini."

"Hm.. Jadi dimana ia sekarang?. Ini sudah malam. Apa ia di asrama Singa?" Blaise kembali bertanya kepada Draco.

"Ck, aku tidak tahu Blaise. Aku bukan baby sitternya yang selalu tahu dimana ia berada. Jadi jangan Tanya lagi." Draco memandang Blaise kesal. Blaise tidak lagi bertanya tentang Hermione yang tidak ada di aula. Sedangkan Draco, ia kembali memakan makanannya.

.

.

.

Hermione akhirnya sampai di gerbang masuk Hogwarts. Ia mengendap masuk kedalam kastil. Sekarang sudah jam Sembilan malam. Dua jam lagi ia ada patroli dengan prefect Ravenclaw. Hermione sampai pada menara teratas Hogwarts. Koridor saat ini sudah sepi. Hanya ada beberapa anak yang di jumpai di koridor. Hermione masuk ke asrama dengan berjalan perlahan. Saat akan melewati sofa merah kesayngannya, tiba-tiba ada yang menarik tangannya. Tangan itu membuatnya terduduk di sofa itu. Hermione menahan nafasnya, dan menoleh kesamping dengan perlahan. Draco menatap tajam Hermione yang duduk disampingnya. Ia menarik tangan Hermione lagi. Dan membuat gadis itu semakin dekat dengan tubuhnya.

"Baru pulang Granger?" desis Draco tepat di wajah Hermione.

Hermione menahan nafasnya, "Ng.. Y-ya".

Draco semakin mendekatkan wajahnya, "Darimana saja,hmm"

Jantung Hermione berdegup dengan menggila "Ng, Malf-foy, b-bisa kah kau j-jauhkan w-wajahmu?". Mendadak Hermione menjadi gagap. Ia berusaha menjauhkan Draco darinya.

"Kau darimana berang-berang?" Draco menjauhkan wajahnya dari Hermione.

"Cih, apa pedulimu musang."

"Aku tidak peduli dengan mu bodoh. Yang aku pedulikan itu tugas mu yang kau tinggalkan tadi" Draco memasang wajah kesalnya

Hermione menjadi terdiam. Tugas apa yang ia lewatkan tadi?.

"Rapat dengan perfek berang-berang"

"Oh, itu. Maaf Malfoy, aku lupa." Hermione mesang wajah innocent nya.

"Makan apa kau semalam?. Tumben sekali kau lupa dengan tugas mu sendiri. Biasanya kau yang paling cerewet dengan itu. Potter dan duo Weasel tadi mencari mu." Draco memandang Hermione dengan tangan bersedekap.

"Mereka mencariku?. Lalu kau bilang apa?"

"Kubilang tidak tahu." Jawab Draco acuh.

Hermione berdiri, lalu menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi dan berpakaian, ia pergi ke pantry untuk membuat beberapa makanan. Karena ia tadi melewatkan makan malam di graet hall. Hermione makan dengan tenang. Setelah selesai makan, ia mengerjakan tugas miliknya, lalu membaca buku.

.

.

.

"Hermione kau semalam kemana sih?. Kemarin Harry khawatir sekali dengan mu tahu" Ginny bertanya dengan wajah kesal.

Sedangkan orang yang ditanya hanya makan dengan santai, "Oh itu, aku ketiduran di dekat danau hitam." Hermione berbohong

"Apa yang kau lakukan disana?"

"Hanya menjernihkan pikiran saja." Hermione tersenyum dengan wajah polosnya.

"Kenapa harus disana?."

"Karena disana tidak ada orang yang akan mengganggu ku." Jawabnya lagi masih tersenyum dengan wajah polos

"Terserah mu sajalah." Ginny mengalah berdebat dengan Hermione.

"Liburan musim panas ini apa kau akan pulang?" Hermione bertanya kepada Harry.

"Ya, mungkin aku akan tinggal di Grimmauld Place untuk beberapa hari. Sisanya aku akan di Burrow. Bagaimana dengan mu?"

"Aku akan pulang kerumah orang tua ku. Katanya, ada sesuatu yang penting yang akan mereka katakan."

"Soal apa Mione?" Ginny ikut bergabung dalam pembicaraan.

Hermione memandang Ginny sambil mengunyah daging asapnya. "Entahlah, Aku juga tidak tahu. Tapi mereka bilang, ini adalah sesuatu yang penting."

Ginny dan Harry hanya mengedikkan bahu mereka. Mereka makan dengan tenang, selanjutnya hanya ada obrolan sekitar Quidditch. Sedangkan Hermione hanya diam menikmati makanannya.

.

.

.

Hermione sangat sibuk mengatur anak-anak yang akan pulang liburan musim panas. Saat Hermione sedang sibuk, partnernya malah tidur di kompartemen ketua murid. Setelah semua murid sudah masuk ke kereta, Hermione kembali ke kompartemen ketua murid.

"Sungguh ketua murid yang sangat bertanggung jawab, eh Malfoy?" sindir Hermione

"Cih, Tentu saja." Draco membusungkan dadanya.

Hermione yang melihatnya, hanya menahan emosi agar tidak meledak-ledak. Selama perjalanan, kompartemen mereka di hiasi dengan berbagai macam umpatan dan beberapa kutukan ringan. Ini merupakan hal yang sudah biasa bagi mereka. Kereta tiba di stasiun King Kross pada sore hari. Hermione kembali sibuk dengan tugas ketua muridnya. Setelah selesai dengan tugasnya, Hermione segera menuju kerumahnya. Ia tidak di jemput kali ini, hal ini sudah di beritahukan sebelumnya oleh Mom dan Dad nya.

Hermione sampai dirumah. Tapi rumah sangat sepi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan didalamnya. Hermione memilih menghiraukan hal tersebut. Mungkin mereka masih sibuk dengan pasiennya, pikir Hermione. Hermione masuk kekamarnya. Ia kemudian meletakkan koper dan sangkar Crookshanks di samping lemari hiasnya. Hermione memutuskan untuk mandi. Mungkin sedikit berendam akan membantu mencerahkan pikirannya.

Hermione PoV

Aku sangat lelah hari ini. Mengatur anak kelas satu yang masih kekanakan sangat melelahkan. Belum lagi mempunyai partner seperti Ferret Albino itu. Aargh, memikirkannya membuat emosi meningkat ke ubun-ubun. Tumben sekali mom dan dad belum pulang. Kira-kira apa yang akan di katakana mereka?. Saat aku sedang asyik berendam, tiba-tiba ada suara mobil didepan, tak lama pintu depan terbuka. Mungkin mom dan dad sudah pulang.

End PoV

Hermione keluar dari bathtub. Ia lalu berpakaian, setelah ia mengeringkan rambutnya dengan sihir, Hermione turun kebawah untuk menyapa mom dan dad nya.

"Hai dad mom" sapa Hermione

"Oh, Hai Mione. Maaf tadi kami tidak bisa menjemput mu. Hari ini banyak sekali pasien. Lalu kami pergi kerumah nenek mu, karena tadi ada sedikit acara keluarga." Monica menjelaskan kepada Hermione.

"Tak apa Mom" Hermione tersenyum kepada mereka

"Kau pasti lelah dear, bagaimana kalau kita langsung makan saja." Wendall berkata sambil mengangkat kantung plastik yang berisi makanan

"Oh Dad, kau tau saja bahwa aku memang lapar, aku belum makan apa-apa selain sarapan saat di Great Hall tadi. Sebaiknya kalian mandi atau berganti pakaian, aku akan menyiapkan ini sambil menunggu kalian."

"Baiklah Dear." Monica mengelus kepala Hermione, lalu ia dan Wendall pergi kekamar mereka.

Tak lama, Monica dan Wendall keluar lagi dari kamar, kemudian mereka duduk di meja makan yang telah terisi dengan makanan.

"Aah, aku lapar sekali." Hermione mengambil sendok dengan semangat.

"Makanlah dear" Wendall berkata sambil tersenyum.

Mereka makan sambil berbincang tentang berabgai hal, mulai dari sekolah Hermione, pasien yang ketakutan, sampai tetangga sebelah yang sangat aneh. Hermione sangat nyaman dengan suasana ini. Setelah selesai makan, mereka duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi.

"Ngg, dad mom…" Hermione menggantungkan kalimatnya.

"Ya, ada apa dear," Monica memandang Hermione sambil tersenyum.

"Kemarin di surat, kalian menyampaikan ada sesuatu yang akan kalian sampaikan. Apa itu?" Hermione sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.

Monica menatap Wendall dengan pandangan penuh arti, Wendall lalu mengambil tangan istrinya dan menggenggamnya.

"Baiklah, mungkin sudah saatnya kau tahu dear, kami sudah menyimpan rahasia ini sangat lama." Wendall mulai berbicara

"Rahasia apa" Hermione memandang mereka dengan pandangan bertanya.

"Ini tentang dirimu yang sebenarnya."

Hermione masih tidak mengerti akan kemana arah pembicaraan ini.

Wendall terus bercerita sambil memegang tangan istrinya, "Sebenarnya, kami adalah penyihir, sama seperti mu dear. Tapi aku bukanlah pureblood, Monica lah yang Pureblood."

Hermione terhenyak mendengar sebuah rahasia yang di ungkapkan oleh Dad nya itu.

"Sebaiknya, kita mrmbicarakan ini di tempat lain." Monica mengajak keduanya untuk berdiri.

Hermione dan Wendall beranjak dari ruang keluarga menuju ke lantai dua. Monica berhenti tepat di depan sebuah dinding yang tak jauh dari kamar Hermione. Wendall mengeluarkan sebuah tongkat sihir yang sudah lama sekali tidak ia sentuh. Ia lalu mengetukkan tongkatnya kedinding membentuk sebuah pola. Dinding yang semula datar itu lalu berubah menjadi sebuah pintu yang menghubungkan ke ruangan lain. Monica membuka pintu tersebut. Didalam sangat gelap. Wendall kembali melambaikan tongkatnya, ruangan itu berubah menjadi terang. Wendall dan Hermione mengikuti Monica yang kini berjalan menuju sofa yang ada di ruangan tersebut. Mereka lalu duduk disana.

Wendall kembali meneruskan cerita masa lalunya bersama Monica. "Monica dan Aku pertama kali bertemu di sekolah sihir di Madrid, Spanyol. Waktu itu, kami berada di angkatan yang sama. Kami mulai berpacaran pada awal tahun keenam. hubungan kami berjalan lancar. Tanpa ada halangan yang berarti. Tetapi, keaadaan ini tidak berlangsung lama. Tak lama setelah kelulusan kami, keluarga Monica mengetahui hubungan kami. Mereka menentang hubungan kami. Kau tahu Mione, adat disana sama dengan disini, yaitu, para pureblood menganggap diri mereka adalah yang terbaik. Jadi keluarga Monica melarang Ia berhubungan dengan ku yang hanya seorang Muggleborn. Mereka lalu menjodohkan Monica dengan salah seorang teman Monica yang juga seorang Pureblood. Orang itu adalah William. William adalah seorang keturunan bangsawan pureblood yang tinggal di London, Inggris. Karena mengetahui bahwa Monica tidak suka dengan perjodohan ini, ia lalu menolak perjodohan ini. Lagi pula, ia juga sudah mempunyai kekasih yang juga pureblood. Yaitu, Anna Laurence. Keluarga mereka menyetujui hubungan mereka,. Karena mereka sederajat. Sedangkan kami, masih ditentang oleh keluarga besar Monica. Kami memutuskan untuk pergi dari Spanyol. Monica di hapus dari pohon kelurga Harper, karena ia lebih memilihku ketimbang dengan keluarganya. Di saat kami tengah kebingungan memikirkan dimana kami akan tinggal, Willi dan Anna datang membantu. Ia menyuruh kami untuk tinggal di salah satu rumah milik keluarga Laurence yang tidak terpakai. Kami tinggal disana sekitar satu tahun. Setelah satu tahun tinggal disana, aku dan Monica memutuskan untuk meninggalkan dunia sihir. Willi dan Anna melarang kami melakukan itu. Tetapi, tekad kami sudah bulat. Kami pindah kerumah orang tuaku di London Muggle. Tak lama kemudian, dunia sihir di landa kekacauan. Voldemort membunuh keluarga Potter. Keluarga Granger juga terkena imbasnya. Voldemort ingin menjadikan mereka sebagai pengasup dana bagi para death eaters. Tetapi mereka menolak tawaran itu, Voldemort berang karena mereka menolak, ia lalu memerintahkan death eaters untuk membunuh keluarga Granger. Nenek dan Kakek mu di ungsikan ke Prancis, sedangkan ayah dan ibumu masih tetap tinggal di Inggris. Tetapi, sebelum meninggal, mereka datang kesini untuk menyerahkan seorang anak kecil cantik yang baru berumur dua tahun kepada kami. Mereka berpesan untuk merawat anak itu. Dan kini, anak itu telah menjelma menjadi seorang gadis yang cantik dan luar biasa pintar. Anak kecil itu adalah kau Mione." Wendall mengakhiri cerita panjangnya.

Hermione terpaku dengan cerita dad nya barusan. Ia seakan tak percaya dengan kenyataan yang kini menimpanya. Ia hanya bisa terdiam.

"Kini sekarang kau tau mengapa nama keluarga kita berbeda dear" Monica berbicara menyadarkan Hermione dari kebingungannnya.

"Tapi, walaupun kau bukan anak kandung kami, kami tetap menyayangi mu dengan sepenuh hati dear." Wendall Wilkins memeluk Hermione untuk menenangkannya.

Monica lalu berdiri menuju ke sudut ruangan. Ia kembali dengan sebuah kotak di tangannya. "Ini adalah yang di berikan oleh kedua orang tua mu Mione." ia menyerahkan kotak itu kepada Hermione

Hermione membuka kotak itu, lalu mengambil sebuah foto sihir yang melihatkan dua orang dewasa dan satu anak kecil yang sedang tertawa dengan latar belakang sebuah bangunan megah nan indah. "Oh, Great. Sekarang, hidupku sangat mirip dengan Harry." Hermione bergumam dalam hati.

Lalu dikotak itu terdapat lagi album yang berisikan foto keluarganya, sebuah buku tentang keluarga Granger, dua buah kunci yang berbeda, kaset video, kotak beludru berwarna emas, surat kepemilikan G Corp, dan surat wasiat yang menyatakan Hermione adalah pemilik sah G Corp dan Granger Manor . Hermione membuka kotak beludru yang ternyata isinya adalah sebuah cincin. Cincin itu sangat indah dengan ukiran-ukiran rumit yang membuatnya tambah cantik. Diatasnya terdapat batu Saphirre yang membuat cincin itu menjadi Elegan. Benar-benar indah. Dibagian dalam cincin tersebut, terdapat ukiran nama nya.

Hermione mengernyit bingung melihat namanya terukir dicincin tersebut. "Kenapa ada namaku disini?"

"Cincin itu merupakan warisan turun temurun klan Granger. Nama pemiliknya akan terukir dengan sendirinya di cincin itu." Monica menjelaskannya kepada Hermione.

Hermione memasangkan cincin Saphirre itu di jari manisnya. Dan hasilnya, sangat pas di jarinya.

"Cantik sekali Dear." Kata Wendall

"Iya Dad." Hermione tersenyum senang melihat cincin yang melingkar indah di jarinya.

Hermione kembali membongkar isi dari kotak tersebut dan mengambil sebuah kaset video.

"Ini apa?"

Wendall menepuk pelan pundak Hermione "Kau tak akan tau sebelum meemutarnya dear."

Wendall dan Monica meninggalkan Hermione sendiri di ruangan tersebut. Tak lama setelah Monica dan Wendall keluar, Hermione juga meninggalkan ruangan tersebut dengan membawa kotak peninggalan orang tuanya. Hermione masuk kekamarnya dan ia langsung memutar kaset video itu. Video yang berdurasi sekitar satu jam itu, ternyata adalah video ayah dan ibunya. Di video itu, mereka terlihat sangat bahagia. Mereka juga mengatakan untuk berhati-hati. Hermione menangis setelah video itu berakhir. Ia tak menyangka bahwa kehidupannya akan sama seperti Harry.

"Jadi aku sekarang menjadi anak yang bertahan hidup juga huh?" Dengusnya

Hermione menghilangkan sisa air matanya. Ia lalu keluar menemui mom dan dad nya. Saat sudah di ruang keluarga, Hermione terkejut melihat siapa orang yang baru datang.

Ia mendekati kedua orang itu "Hai Buddy. Sejak kapan kalian datang hm?" Hermione menyapa kepada kedua orang tersebut.

To Be Continue

Juni 2016