Chapter 2: Kemampuan Unik

('=_=)/\(~_~')


"Lucy sayang," panggil Laila dari dapur.

Lucy sedang menikmati sarapan ketika ibunya memanggil. "Iya, Ma?"

"Sebaiknya kau jangan melewati jalan besar di ujung gang. Satu jam yang lalu di sana terjadi kecelakaan. ."

"Bagaimana Mama bisa tahu?" Gadis itu menyelesaikan sarapan dan membereskan alat makannya. Ia menghampiri sang Ibu.

"Roh ini yang memberitahu Mama," tunjuk Laila pada dinding kosong. "Ah, sepertinya dia sudah pergi. Wajahnya sedih sekali, Mama tidak tega.." Laila mengusap wajah cantiknya. Pakaiannya yang serba hitam selalu membuatnya seperti sedang berkabung.

"Jangan ikut campur urusan roh lagi, Ma. Papa bisa khawatir," ujar Lucy memperingati. Ibunya selalu merasa simpati dengan para roh membuat Ayahnya―Jude Heartfilia, sangat khawatir jika suatu saat ada roh yang memanfaatkan Laila.

"Baiklah, Mama tidak akan ikut campur," Laila tersenyum bijak. "Sebaiknya kau berangkat, sayang."

"Oh benar juga! Aku berangkat," pamit Lucy mengecup pipi Laila dan menyambar tas sekolahnya.

"Hati-hati! Semoga harimu menyenangkan, sayang."


Hari kedua untuk si gadis blonde berkepang dua yang menjalani masa sekolahnya. Ia baru saja keluar dari pintu depan rumah antik milik keluarga Heartfilia― orang-orang menganggap rumah Lucy adalah sarang penyihir― ketika ada sebuah suara menyapanya.

"Yo, gadis aneh!"

Anak kecil laki-laki itu melambaikan tangannya ceria. Siapa lagi kalau bukan si kecil bertubuh astral yang dari kemarin menempeli punggung Lucy.

"Kau lagi," keluh Lucy.

Lucy berjalan cepat membawa langkah kakinya menuju Fairy Tail High School. Ia berusaha mengabaikan si hantu kecil. Sedangkan si hantu semakin gencar mengekori Lucy, terus-menerus mengusik si gadis yang menurutnya lucu.

"Gadis aneh, jangan mengabaikanku!"

". . ." Lucy tidak menanggapi ocehan si hantu.

"Ayolah gadis aneh. Kau tidak perlu bersikap seperti itu padaku," bujuk si hantu kecil yang berusaha menyusul seseorang depannya. Namun sepasang kaki Lucy terus berjalan cepat, tidak ingin disusul si hantu kecil.

"Aku heran. Kenapa kau masih bersih keras pergi ke sekolah menyebalkan itu? Sekolah yang tidak memiliki perasaan! Lihat saja cara teman-teman sekelasmu itu memperlakukanmu kemarin, mereka tidak tahu yang namanya arti sosialisasi,"

"Hmm, bocah kecil sepertimu, tahu apa tentang makna sosialisasi yang sebenarnya?," tanpa sadar Lucy menanggapi. Segera ia menutup mulutnya dengan sebelah tangan.

Si hantu kecil menyeringai karena berhasil membuat Lucy bicara. "Hey! Jangan memanggilku bocah kecil! Namaku Zeref! Z-e-r-ef!"

"Kau sendiri juga memanggilku gadis aneh. Namaku Lucy!" bisik Lucy geram.

"Gadis aneh lebih cocok untukmu,"

"Kau ini hantu bocah yang tidak sopan. Jangan mengejek orang yang lebih tua darimu," nasehat Lucy.

Sepertinya gadis pirang itu menyerah untuk mengabaikan si hantu. Untung saja gang yang sedang mereka lalui terbilang sepi, kalau tidak, mungkin orang akan salah paham melihat Lucy berbicara sendiri.

"Kau itu yang masih kecil!"

Lucy menatap si hantu―Zeref, dengan pandangan tidak terima. "Apa?"

"Jika saja aku masih hidup, aku adalah kakak kelasmu, tahu!" ujarZeref dengan percaya diri.

"Huh. Aku tidak percaya." Lucy meninggalkan Zeref dan menuju ujung gang.

Zeref masih mengomeli Lucy hingga mencapai ujung gang. Keduanya terdiam ketika menatap jalan besar. Di samping kanan sebuah lampu lalu lintas terdapat sebuah kerumunan orang-orang. Beberapa petugas kepolisian tampak sibuk ke sana –kemari. Sebagian kendaraan yang lalu-lalang tampak di alihkan pada jalur lain.

Sebaiknya kau jangan melewati jalan besar di ujung gang. Satu jam yang lalu di sana terjadi kecelakaan.

Ucapan sang Ibunda terngiang kembali. Lucy menatap kesal Zeref. "Gara-gara kau, aku lupa menghindari jalan ini."

"HAH?"

"Kau jangan menggangguku terus.." Lucy mendengar suara sirine ambulance datang. Ia sadar seorang mayat akan di bawa ke ambulance dan ia tidak ingin melihat mayat itu. "Sebaiknya aku bergegas."

Ketika hendak berbelok ke arah kanan, Lucy terpaku. Di depannya berdiri seorang pria berwajah pucat yang tubuhnya bermandikan darah. Pria itu tampak sedih saat menatap tempat kecelakaan yang terjadi di seberang jalan. Kebetulan Lucy dan pria itu berada jauh dari kerumunan orang-orang yang menyaksikan kecelakaan.

"Bisca.. Asuka.. Maafkan aku.."

Lucy samar-samar mendengar arwah tersebut menggumamkan sesuatu di sertai menangis. Aura sedih yang memilukan pada arwah itu mengundang sedikit simpati Lucy. Lucy menduga pria tersebut adalah arwah dari salah satu korban yang meninggal. Secara perlahan ia segaja melangkah untuk mendekati sang pria arwah.

"Apa yang akan kau lakukan, Gadis aneh?" Zeref bertanya penasaran. Pasalnya ia tahu bahwa Lucy tidak pernah mau untuk ikut campur urusan para arwah, tapi sekarang gadis pirang aneh itu malah mendekati arwah pria yang tampak sedih di depan mereka. "Hei, jangan mengabaikanku!"

"Diam kau, bocah!" bentak Lucy cukup keras.

Zeref menjadi terdiam karena Lucy terlihat serius sekarang. Karena tidak ingin ikut campur, Zeref memilih untuk meninggalkan Lucy. "Jangan terlalu terlibat dengannya, Gadis aneh," bisik Zeref memperingati. Perlahan, pemilik tubuh mungil itu menghilang dari sisi Lucy.

Lucy termenung mendengar peringatan Zeref. Hantu bocah itu baru saja memperingatinya, seperti yang ia lakukan pada ibunya tadi pagi. Tapi. . .

"Ah?! Kau siapa?" Pria itu menyadarinya kalau si gadis blonde berkepang dua itu sedang menatap lurus dirinya yang hanyalah sesosok jiwa. "Apa kau bisa melihatku?"

"I-Iya, aku melihatmu. Mungkin. ." Jawaban Lucy terdengar gugup saat mengakhiri kalimatnya, bukan karena sosok arwah pria itu hantu, melainkan Lucy bingung harus berkata apa. "A-aku… Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan, tapi. ." Iris karamelnya menatap simpati kepada arwah pria di depannya.

"Aa, aku mengerti. . ." Pria itu membuang pandangannya. "Kau memang bisa melihatku, tapi kau juga hanya manusia biasa yang tidak dapat membuatku kembali hidup."

Dia benar. Karena itu Lucy hanya terdiam sambil membuang tatapan simpatinya dari pria itu. Seandainya aku bisa membuat seseorang kembali hidup.

Sangat menyedihkan ketika kau tidak tahu keistimewaan dari melihat hantu. Setelah kau melihatnya, lalu apa? Kebanyakan arwah yang telah meninggal selalu terlihat sedih dan menyesal. Hanya melihat kesedihan mereka tanpa dapat membantu mereka adalah beban tersendiri bagi Lucy.

"ALZAAAACK! TIDAAAK!"

"Papaaaaaa!"

Suara-suara tangisan histeris itu telah menggugah insting Lucy. Mau tidak mau, ia pun mengalihkan iris karamelnya― melihat ke arah mobil ambulance yang terparkir di sekitar tempat peristiwa. Disana terdapat seorang wanita dan anak kecil yang menangis histeris secara bersamaan. Wanita itu tampak tidak rela ketika beberapa petugas akan membawa pergi raga milik sang korban yang ditantu oleh empat orang team medis untuk memasuki mobil berlogo P3K itu. Netra Lucy mencoba lebih terfokus untuk memperhatikan apa hubungan korban dengan wanita dan anak kecil itu.

"Mereka berdua adalah Istri dan anakku,"

"Ah?!" Lucy sedikit terkejut mendengar ucapan pasrah itu. Ia kembali memalingkan wajahnya kepada sang arwah. Iris karamelnya yang terlindungi kacamata tua itu kini tergambar rasa simpati.

"Hari ini adalah ulang tahun putriku…" sang arwah mencoba tersenyum saat sedang terlarut dalam kesedihannya. "Kami akan memberikannya kejutan, tapi aku lupa membeli kado. Karena pulang dengan terburu-buru, aku malah di tabrak truk.. Aku memberinya kado terburuk sepanjang hidupnya." Arwah tersebut menatap gadis cilik yang berada dalam pelukan ibunya. "Maafkan Papa, Asuka . . "


Peristiwa kecelakaan memang dapat terjadi sewaktu-waktu. Takdir yang menyangkut hidup dan mati seseorang tidak dapat kita perkirakan. Seseorang dapat mati hari ini, detik ini, besok, atau sewaktu-waktu dengan tiba-tiba. Apabila manusia dapat mengetahui waktu kematian mereka, mungkin mereka akan memanfaatkan waktu hidup mereka dengan sebaik-baiknya. Dan kemudian tidak akan ada lagi arwah yang menyesali hidup mereka.

Pada kasus kacelakaan hari ini cukup membuat Lucy menangis seharian. Mungkin di sebut beruntung bagi salah satu korban yang selamat. Tapi bagaimana dengan si korban yang sudah mati? Manusia normal yang menyaksikan peristiwa kecelakaan tidak akan pernah tahu bagaimana perasaaan seseorang ketika berwujud roh sedang melihat raganya sendiri hancur sebelum tujuannya tercapai. Beban penyesalan inilah yang membuat Lucy sangat tidak menyukai kemampuan uniknya.

Aku tidak dapat membantu…


DING DONG

Bel istirahat yang berbunyi menyadarkan Lucy dari lamunan. Lucy masih tertunduk lesu, kepalanya ia sandarkan pada meja. Tidak satupun dari mata pelajaran yang di sampaikan oleh August-sensei dapat mencapai indra pendengarannya. Gadis itu masih memikirkan kejadian kecelakaan pagi ini. Benaknya selalu terbayang wajah Alzack sang arwah yang menyiratkan penuh penyesalan, dan suara tangis pilu dari keluarganya. . . Lucy merasa putus asa.

Lucy menghela napas berat. Kini beban di dadanya terasa sangat menyesakkan. Tadi pagi Lucy hampir saja terlambat menuju sekolah. Kalau saja tidak memikirkan Ibunya, mungkin Lucy akan membolos dan pulang ke rumah. Kemudian dengan langkah yang sangat pelan, Lucy menuju kelasnya di iringi aura tidak menyenangkan yang lebih pekat dari biasanya. Lucy bahkan tidak lagi memikirkan tatapan dan bisik-bisik aneh yang selalu orang-orang lakukan. Gadis itu langsung menuju kursinya dan menunduk sepanjang pelajaran.

Lucy masih melamun. Iris karamelnya menatap bekal makanannya dengan tidak berselera. Ia hanya mengaduk-aduk makanannya dengan sumpit, membuat tatanan bento yang semula cantik menjadi berantakan. Gadis itu tidak sadar, aura suramnya membut teman-teman sekelasnya menjaga jarak sejauh mungkin dari tempat duduk Lucy.

"KYAAAAAAAAAAAAAA!"

"Eh?! Siapa itu?"

"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

Suara teriakan histeris seorang gadis seketika mengejutkan semua siswa-siswi kelas 2-B, termasuk Lucy. Gadis blonde itu menatap salah satu teman sekelasnya yang bergegas pergi mencari tahu asal suara teriakan. Pada teriakan kedua, satu-persatu dari mereka keluar ruangan secepat mungkin sampai akhirnya ruang kelas 2-B terasa kosong. Meninggalkan Lucy yang tetap duduk di bangku paling belakang.

Sungguh, itu bukan urusanku. Tapi. . .

"Lucy, apa yang terjadi?!"

Zeref tiba-tiba muncul dan hampir membuat Lucy melompat karena kaget. Hantu anak kecil itu melayang-layang di depan Lucy dengan raut wajah penasaran. Tunggu, dari mana saja hantu ingusan ini? Bahkan Lucy tidak sadar kapan dia pergi. .

"Gadis aneh, apa yang terjadi? Tadi aku mendengar teriakan dan kemudian banyak orang berkumpul di depan toilet perempuan"

Lucy mendengus. "Kau tidak perlu mengagetkanku. Mungkin ada seseorang yang terpeleset dan terjatuh di dalam toilet. Dan. . ." ucapan Lucy tiba-tiba terhenti ketika di dalam kepalanya teringat sesuatu. "Tunggu dulu! Tadi kau bilang 'Toilet perempuan'?"

Zeref mengangguk. "Kau tidak mendengarkanku ya, Gadis Aneh? KauOi kau mau kemana?!"

Lucy tidak menanggapi teriakan Zeref. Ia segera membawa kedua kakinya keluar dari ruang kelas 2-B dan berbelok ke arah kanan. Lucy melangkah secara tergesa-gesa menelusuri lorong koridor yang terhubung dengan deretan ruangan-ruangan kelas 2 lainnya. Ia menuju toilet perempuan yang berada ujung koridor ini. Toilet laki-laki berada di ujung koridor di arah yang berlawanan.

Benar saja, di depan pintu toilet perempuan terdapat cukup banyak siswa-siswi yang sedang berkerumun. Lucy berusaha mendekat untuk melihat keadaan. Lucy melihat pintu masuk toilet tampak tertutup dari dalam. Seorang guru terlihat menggedor pintu toilet, berusaha berkomunikasi dengan seseorang yang berada di dalam. Tapi kemudian semua orang bertambah panik ketika suara teriakan histeris seorang gadis kembali terdengar. Suara nyaring itu terdengar sekali, lalu hening. Bertambahnya suasana tegang, membuat setiap orang berspekulasi mengenai kejadian di dalam sana.

"Pssst.. pintunya tidak bisa di buka. Bahkan tidak bisa di dobrak."

"Se-seram.."

"A-apa benar di dalam sana ada seseorang?"

"Hey! Kau!" salah satu siswi menegur keras setelah menyadari keberadaan Lucy.

Lucy yang terkejut sedikit menunduk. Teguran seseorang tadi telah menyita sebagian perhatian orang-orang. Beberapa dari mereka mulai berbisik-bisik dan mengumpat keberadaan si gadis blonde berkepang dua itu.

"Kenapa si penyihir ini ada disini?"

"Iya, benar. Si penyihir pembawa sial…"

"Mungkin ini salah satu perbuatannya," tuduh salah satu siswi.

"Hei!" ucap siswi yang tadi pertama kali menegur Lucy. "Bukankah kau itu seorang penyihir?! Cepatlah! Lakukan sesuatu seperti sebuah ritual atau… apalah yang penting pintu ini bisa terbuka!"

Mereka yang masih berkerumun mulai menyadari keberadaan Lucy. Dengan perlahan, mereka mulai menyingkir. Kerumunan orang itu terlihat seperti membuka celah untuk memberi jalan, tapi sebenarnya mereka sengaja menjauhi keberadaan Lucy. Tentu saja, mau tidak mau, terpaksa Lucy pun menyeret kedua kakinya hingga ke depan pintu toilet wanita yang masih dalam keadaan tertutup rapat tanpa sebab itu. Guru yang sebelumnya menggedor pintu juga telah bergeser ke samping, memberikan ruang untuk Lucy.

"Tunggu apa lagi?! Ayo cepat buka pintunya!"

"Iya, benar! Cepat buka pintunya!"

Mendengar ocehan-ocehan bentuk protes mereka, Lucy pun menurut. Tangan kanannya mulai meraih benda logam yang biasa disebut sebagai tuas untuk membuka pintu. Benar saja, setelah Lucy memutar tuasnya ternyata sama sekali tidak bereaksi. Ya, pintunya benar-benar tidak bisa dibuka. , Lucy menghela napas pendek sambil melepaskan genggaman tangan kanannya pada tuas pintu. Ia menutup kedua matanya. Wajah gadis itu kini tampak tenang

"Coba lihat! Dia benar-benar sedang melakukan ritual. . ." bisik satu dari mereka yang memperhatikan aksi gadis blonde berkepang dua itu.

"Hanako.. Ini aku, Lucy. Copatlah buka pintunya…" Lucy berbicara dalam hati, berusaha berkomunikasi dengan pelaku penyekapan di dalam.

Tidak ada jawaban. Lucy kembali memanggil nama Hanako dalam hati. Pada panggilan ke tiga, ada sebuah suara yang bergema dalam kepala pirang gadis itu.

"Lucy! Kau. . datang. . ? Hanako. . kesepian karena tidak ada. . . seorang pun yang mau bermain dengan. . Hanako. ."

Lucy kembali mengambil napas. Hanako si hantu toilet memang sedikit menyusahkan. Hanako akan mengerjai dan bermain-main dengan manusia ketika hantu itu merasa kesepian. Untuk membujuknya saja akan sedikit susah.

" Aku bosan. . Lucy!" suara rengekan gadis kecil kembali bergema dalam kepala Lucy.

"Buka pintunya, Hanako.."

"Tidak! Hanako baru saja mendapatkan teman."

"Hanako. Aku bilang buka pintunya!"

"Tidak mau!"

"Aku bilang, buka!"

"Huh. Keras kepala." Terdapat jeda sebelum terdengar suara tawa Hanako. "Baiklah. Aku akan buka pintunya, tapi hanya kau yang boleh masuk! Mengerti?"

"Ya, cepatlah."

Tidak lama setelah Lucy melakukan interaksi batin tersebut, tiba-tiba saja tuas pintu berputar. Lalu pintu itu mulai menggeser dengan sendirinya hingga terbuka lebar.

Sontak kejadian tidak wajar seperti tadi telah membuat mereka tercengang begitu saja― menganggap kejadian nyata barusan benar-benar terlihat seperti sebuah trik sulap. Beberapa pasang mata milik mereka sedang mencoba menelusuri setiap sudut ruangan di dalam toilet, namun yang ada mereka hanya melihat kegelapan. Tidak ada seorang pun dibalik pintu itu. Bahkan seorang gadis yang sebelumnya sempat berteriak masih tidak ditemukan dan entah dimana keberadaannya sekarang.

"Hei, Gadis penyihir. Trik apa yang baru saja kau lakukan, huh?! Tolong jelaskan! Jangan membuat kami terus-menerus merasa ketakutan seperti ini!" seperti biasa, salah satu dari mereka mengutarakan rasa tidak sukanya.

Lucy tidak menanggapi. Gadis blonde berkepang dua itu melangkahkan kakinya ke dalam toilet. Segera setelah Lucy masuk, pintu toilet itu kembali tertutup dengan keras. Meninggalkan tatapan ngeri orang-orang yang masih di sana.


BRAK

Lucy melompat terkejut ketika pintu toilet di belakangnya tertutup dengan keras. Dengan gugup, Lucy menyeret kedua kakinya secara perlahan menelusuri sekitar bilik toilet― yang entah kenapa memiliki efek seram karena memiliki hawa dingin dan gelap. Lampu yang terpasang pada langit-langit sempat berkedip menyala, namun hanya sebentar dan kembali padam. Lucy tidak gentar begitu saja, ia masih mempertahankan pergerakan langkahnya yang terasa pelan itu hingga akhirnya berhenti tepat di depan salah satu cermin yang memantulkan cahaya terang dari lubang ventilasi udara.

Lucy melirik ke arah cermin di samping kanannya. Di cermin tersebut, terpantul sebuah bayangan putih yang melesat cepat di belakangnya. Lucy berpaling mengikuti perginya bayangan putih tadi. "Hanako, sudah cukup. . ."

Tidak jawaban.

Lucy memalingkan wajahnya berkali-kali. Lucy merasa harus waspada karena Hanako adalah hantu yang sangat jahil. Tujuan awal si gadis blonde berkepang dua ini memang sedang mencari keberadaan salah satu siswi yang sebelumnya sempat berteriak histeris. Iris karamel yang tertutup kacamata tua itu secara tidak sengaja melihat salah satu pintu bilik toilet paling ujung dekat dinding tiba-tiba terbuka lebar. Sepasang kaki milik seorang gadis menjulur keluar dari balik pintu bilik toilet yang terbuka itu.

Itu dia!

Tanpa membuang waktu, Lucy menghampiri sepasang kaki tersebut. Namun pada saat Lucy akan menengok ke dalam bilik―"KYAAA!" Lucy terkejut ketika Hanako tiba-tiba muncul di depan wajahnya. Wajah pucat Hanako yang tersenyum menyeramkan itu begitu dekat dengan wajah Lucy.

Lucy terpeleset jatuh ketika akan melangkah mundur. Gadis itu mengaduh merasakan nyeri ketika pantatnya bersinggungan dengan permukaan lantai. "Berhenti bertingkah, Hanako!" geram Lucy.

Hanako tertawa melihat Lucy kesakitan. " Lucy. . . Ayo bermain. . . dengan Hanako. . ." rengeknya. Hantu gadis kecil itu melayang untuk lebih mendekat kepada Lucy.

Tanpa membalas perkataan Hanako, Lucy kembali berdiri. Ia berjalan menghindari si hantu kecil itu lalu menghampiri sepasang kaki di depannya. Di dalam bilik toilet tersebut terdapat seorang gadis yang sedang pingsan. Dahi Lucy berkerut menatap seluruh tubuh gadis itu terlilit oleh tisu toilet.

"Lihatlah Lucy. . . gadis berambut merah itu. . . seperti Mummy. . . hihihi. . ." bisik Hanako di belakang Lucy.

"Apa yang sudah kau lakukan padanya?!" Lucy berpaling ke belakang. Iris karamelnya berkilat marah.

"Hanako tidak melakukan apapun! Hanako hanya ingin. . . bermain dengannya. Tapi gadis itu terus berteriak. . . lalu pingsan. . ." Hantu kecil itu tampak memelas.

"Kenapa kau menggulungnya dengan tissu?! Hanako, kau keterlaluan!" Lucy berusaha melepaskan tissue yang melilit tubuh gadis― yang ternyata si gadis merah teman sekelas Lucy.

"Hanako menggunakan. . . tissue agar dia tidak kedinginan. Badannya lemas . . karena dia melihat Hanako."

"Melihatmu? Apa maksudmu?" penjelasan Hanako sedikit mengganggu Lucy.

"Gadis merah itu juga bisa. . . melihat Hanako, seperti Lucy. . ."


TBC


A/N:

Aquaflew: Yoooshaa ini diaa! Ini diaaa! Semangat ya Serly-san, semoga peminat fic kita bertambah . Dan~ saya tidak menikah dengan Serly-san lho ya, siapa hayo yang bilang samawa kemarin?wkwk

Sedikit curhat, kami masih baru dalam kolaborasi, jadi mohon maaf apabila fic ini masih aneh. Silahkan bertanya atau berpendapat tentang fic kami. Terima kasih banyak :D

Serly Scarlet: Aku tidak tahu harus berkata apa, dan entah kenapa aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Ahahaha… *Plak!

Seperti sebelumnya, masih banyak kendala yang terjadi di antara kita. Mulai dari kesibukan aku bekerja, Aqua-san juga sedang menjalani kuliahnya dan bahkan sampai pingsan hingga di angkut oleh tandu karena jatuh sakit. #Sotoybanget!

Ya, intinya. Kita masih berusaha menyempatkan diri untuk menyatukan pikiran kita agar tetap menjalani hobby karya tulis, coret-coret tembok dsb.

Ok, itu saja sih dariku.

Terima kasih sudah membaca, Minna… :D


[Balasan Review: yang login silahkan cek PM]

ALVARO: Yup, Hanako adalah hantu gadis kecil penunggu toilet perempuan (biasanya toilet anak SD). Terima kasih sudah singgah dan menyempatkan diri mereview, kami sangat menghargainya! Terima kasih untuk semangatnya Alvaro-san.. :D

Ayuka onyx Koyuki: Yoroshiku! Terima kasih karena sudah menyempatkan diri untuk review, kami sangat menghargainya! Pair akan tetap di rahasiakan sampai chapter-chapter berikutnya. Di tunggu saja ya! Terima kasih untuk semangatnya Ayuka-san.. :D


RnR, please!