JINGGA
(chapter 2)
Chapter sebelumnya...
'BRUUUG!"
aku terjatuh dan badanku menimpah badan Yeol, badanku tepat berada di atas badannya dan wajah kami saling bertemu dalam jarak yang sangat dekat.
.
.
.
JINGGA (Chapters 2)
.
.
.
Wajah kami sangat dekat saat ini, bisa ku perkirakan jaraknya hanya 5 cm antara wajahku dan wajah Yeol, mata kami saling bertatapan dan hingga kurasakan nafas Yeol yang hangat menyentuh mulutku. Namun tak lama kemudian aku tersadar dari lamunan yang tersirat di pikiranku, kuangkat badanku dan segera aku berdiri lalu kutenepuk-tepuk seragamku untuk menghilangkan debu yang menempel.
"maaf" hanya itu yang aku lontarkan padanya, sungguh aku tak bisa berfikir harus mengatakan apa padanya. Suasana seketika menjadi canggung dengan dinginnya angin yang berhembus menambah kecanggungan ini.
"angkat aku" Yeol mengulurkan tangannya ke arahku, dan akupun dengan bersedia menarik tangannya hingga ia beranjak dari posisi duduknya.
'TIIIN' terdengar suara klakson mobil tepat berada di depan gerbang, segera aku berlari kecil menghampiri mobil yang sudah kukenali itu, akhirnya setelah sekian lama menunggu melawan dinginnya malam papah pun pulang. Ia turun dari mobil dan menghampiriku yang berada tepat di samping kiri mobil ia menatap kearahku dengan rasa khawatir.
"maaf sayang papah pulang terlambat, jalanan sangat padat malam ini. Apa kau tidak apa-apa? Dengan siapa kamu disini?" ujarnya cemas
"tak apa pah, tak ada yang perlu papah kuatirkan" kuberikan senyuman termanisku kepadanya agar dia merasa bahwa aku baik-baik saja, aku membalikkan badanku berjalan menuju Yeol yang sedari tadi terdiam mematung, aku menarik tangan Yeol mengajaknya menemui papahku. Kulihat papah memberikan senyuman hangat kepada Yeol tanda ia sangat berterima kasih kepadanya karna telah menemani putri kecilnya ini. Kini tangan Yeol dan tangan papah mulai berjabat tangan saling memberikan senyum sapa tanda perkenalan. Memang Yeol dan papah baru bertemu sekarang karna aku tak pernah mengajak Yeol bermain di rumahku, karna aku tahu mamah tak suka bila ada pria yang main ke rumah untuk menemui putri-putrinya.
"namamu siapa nak?" tanya papah membuka pertanyaan
"saya Park Chanyeol teman sekelasnya Luhan pak" jawabnya sopan, kini mereka saling berbicara mengenal satu sama lain dengan di iringi candaan-candaan kecil yang keluar dari mulut keduanya. Kulihat papah sangat membuka dirinya saat berbicara dengan Yeol, dan Yeol pun sebaliknya menerima ucapan-ucapan papah yang diajukan kepadanya dengan senang hati, mungkin dengan papah mengenal Yeol sekarang papah memiliki teman unutuk berbincang-bincang, mengingat keluargaku tak memiliki seorang anak laki-laki karna aku dan kakakku adalah seorang perempuan. Suasana sudah semakin gelap Yeol meminta izin untuk pamit pulang, dengan berat hati papah mengizinkan Yeol pulang, kulihat raut wajah papah yang menunjukan bahwa ia tak merelakan kepergian Yeol. Yeol kini beranjak pergi meninggalkanku dan papah, berjalan dengan mantap menembus kegelapan malam.
"dia pria yang baik Lu" papah menyenggol bahuku dengan sengaja
"dia siapa? Chanyeol?"
"iya" jawabnya sembari melemparkan senyuman menggoda kepadaku, lalu dia masuk kedalam mobil untuk memasukkan mobilnya ke dalam bagasi yang terletak di samping rumah, aku yakin papah berpendapat baik tentang Yeol karna papah belum mengenal sosok Park Chanyeol jika papah lebih mengenalnya mungkin papah akan berfikir ribuan kali untuk menyebut dia 'pria yang baik'. Aku masuk kedalam kamar dengan menyeret tas ku di lantai sungguh hari yang melelahkan, ku jatuhkan badanku di atas tempat tidur badanku terasa lengket seperti meminta untuk di bersihkan oleh cairan yang segar. Dengan malas ku angkat badanku menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Han, kamu sudah makan?" terdengar suara papah dari luar kamar
"belum pah" jawabku yang tengah merapihkan rambutku yang basah karna baru selesai di bilas
"kebetulan papah bawa makanan, ayo kita makan bersama" mendengar tawaran dari papah aku langsung menuju ruang makan karna sungguh aku sangat lapar. Kulihat papah sedang menyiapkan makanan di atas meja seorang diri, mengatur tata letak piring-piring dengan rapih, tercium aroma masakan yang baru saja di hangatkan semakin menggugah seleraku.
"mamah kemana pah" tanyaku sembari melihat kesekitar
"mamah masih di rumah sakit, sedang menemani kakakmu"
"kakak sudah melahirkan?"
"belum, baru pembukaan 3"
kakakku bernaman Xi Byun Bee umurnya hanya berbeda 5 tahun lebih tua dariku, kini ia tengah mengandung anak dari seorang pria berengsek, lelaki brengsek yang membuatnya hamil ia sama sekali tidak mau bertanggung jawab atas apa yang telah dia perbuat, ia pergi entah kemana meninggalkan luka yang berbekas pada kakakku. Memang kesalahan juga terletak padanya, dulu hampir setiap hari dia selalu datang ke club malam bersama teman-temannya, hampir setiap hari dia selalu pulang di atas jam 1 malam. Hingga suatu ketika dia tidak pulang ke rumah selama 3 hari, kami mencarinya kemana-mana namun dia tak bisa di temukan, nomor telfonnya pun tidak dapat di hubungi dan juga teman-temannya tidak ada yang mengetahui keberadaannya, dan pada hari ke empat dia pulang ke rumah dengan tampilan yang sangat mengejutkan. Bajunya penuh dengan sobekan, terdapat luka dan memar-memar biru di tubuhnya, wajahnya yang suram menandakan masalah besar terjadi padanya.
Mamah langsung memeluk kakakku saat itu, ia tak dapat berhenti menangis saat melihat keadaan kakakku seperti itu, papah hanya bisa diam mematung memandangi putrinya dalam keadaan yang menyedihkan dan aku sendiri sangat terpukul melihatnya, seperti ada benda tajam yang menyayat hati ini, aku berjanji bila suatu saat nanti jika aku bertemu dengan orang yang sudah membuat kakakku seperti ini tak akan aku biarkan, akan langsung aku seret ke dalam jeruji besi dan aku kan meminta penghukuman seadil-adilnya. Kakaku tak bercerita banyak tentang hal itu, dia sangat tertutup jika ada yang bertanya tentang kejadian itu, ia hanya bilang bahwa dia telah di perkosa oleh lelaki yang tidak ia kenal, pria itu membawanya ke tempat terpencil menyiksa dan membuangnya begitu saja di pinggir jalan. Benar kata pepatah bahwa nasi sudah menjadi bubur, kejadian yang membawa malapetaka itu tidak bisa di ulang kembali dan dia harus menanggung semua resikonya, saat itu adalah saat-saat terpuruk untuknya ia seperti layaknya orang yang memiliki pikiran kosong ia hanya mengurung dirinya di kamar tak membiarkan satu orangpun masuk ke dalam kamarnya, terdengar suaran jerit dan tangis yang bersautan setiap malam, menandakan bahwa betapa prustasinya dia saat itu.
Tak tega melihat anaknya prustasi setiap hari, papah membawanya ke psikiater untuk memeriksakan jiwanya, beruntungnya kakak tidak mengalami gangguan jiwa ia hanya mengalami tekanan batin yang sangat mendalam, dokter memberi tahu kepada papah untuk selalu menjaganya dan juga bayi yang ada di dalam perutnya, mendengar bahwa kakak sedang mengandung papah tak bisa berbuat apa-apa ia pasrah dengan kejadian yang di alami putrinya. Papah tak mengizinkan kakak untuk menggugurkan kandungannya, papah telah bertekad akan membesarkan cucunya dengan baik dan mamah pun menyetujuinya. Dan sekarang usia kandungan kak Byun sudah mencapai 9 bulan, sebentar lagi kak Byun melahirkan dan aku akan segera memiliki seorang keponakan.
'tik tok tik tok' terdengar bunyi jarum jam yang berbutar memecahkan sunyi di dalam kamarku, kumatikan lampu dan menarik selimbut bersiap untuk tidur dan menantikan hari esok yang akan datang.
Bulan sudah berganti dengan matahari pagi yang menyinari bumi, bunga-bunga sudah mulai bangun dari tidurnya mulai memekarkan kelopak yang menutup dirinya bersiap untuk menyambut hari yang baru, hewan-hewan sudah memulai aktifitasnya dan kini aku sedang menyelusuri lorong kelas yang masih sepi, sengaja aku berangkat lebih awal agar aku tak bertemu dengan Yeol di taman. Namun sampai bel pelajaran pertama di mulai Yeol tak kunjung datang, kursi yang biasa iya gunakan kini tak berpenghuni. Jam istirahat pun tiba perutku mengeluarkan suara gaduh pertanda perut ini harus segera di isi mengingat tadi pagi aku tak sempat untuk sarapan, segera kulangkahkan kakiku menuju kantin sekolah untuk membeli beberapa cemilan kesukaanku chip chees dan Bubble Tea rasa taro adalah cemilan utamaku, aku tak bisa berpaling dari 2 jenis makanan dan minuman ini, setelah mendapatkan cemilan yang aku inginkan segera aku kembali kekalas karna kantin sudah mulai sesak sekarang, ketika aku sedang berjalan melewati lapangan basket kulihat ada suatu benda hitam yang jatuh di sana, karna rasa penasaran yang menggoda diriku aku menghampiri benda tersebut dan aku mendapati 1 buah tas dan tas itu sangat aku kenali, tak lama kemudian terlihatlah dari atas pagar satu kaki yang berusaha melewati pagar dengan susah payah dan akhirnya orang itu bisa meloloskan semua anggota tubuhnya dengan selamat.
"astaga!" ucapnya terkejut karna melihatku yang sedang memergokinya, dia langsung membungkam mulutku dengan tangan besarnya dan menyeretku menuju kelas, kini aku terlihat seperti seseorang yang sedang di culik oleh bandit tampan, semua mata tertuju pada kami seakan akan aku benar-benar di culik, namun semua tatapan itu di balas senyuman manisnya yang membuat para wanita menjadi seperti cacing kepanasan. Bungkaman tangannya baru di lepaskan setelah kita sampai di dalam kelas dengan muka tak bersalah dia meninggalkanku di depan kelas dan ia menuju bangkunya dengan tenang.
Tak terima di perlakukan seperti itu, aku mendatangi bangkunya dan 'PLAK!' aku berhasil mendaratkan telapak tanganku di kepalanya dengan keras
"aw!" reflek dia langsung mengelus kepalanya kasar, menatapku dengan tatapan seperti akan memakanku "apa-apaan kau!" ucapnya bangkit dari duduk dan karna dia sangat tinggi seperti tiang listrik kini aku harus mengangkat wajahku agar aku bisa memandang wajahnya
"kau yang apa-apaan, dengan kasar membungkam dan menyeretku!"
"iya iya aku minta maaf, berbicara lah dengan lembut kepalaku pusing jika harus mendengar suara lengkingmu"
"baik lah, segini sudah pelan?" kuturankan nada suaraku
"belum"
"segini?"
"ya! Jangan berbisik aku tak mendengar suara mu!"
'PLAK!' straigh! Aku berhasil memukul kepalanya sekali lagi, walau aku harus berjinjit agar tanganku sampai di kepalanya
"sakit bodoh!"
"lupakan! Dari mana saja kau? Ini sudah memasuki jam pelajaran ke 3 dan kau baru masuk"
"hei! Pelankan suaramu, nanti jika ada guru yang mendengar aku bisa di hukum"
"biarkan anak nakal sepertimu di hukum! Cepat beri tahu!"
"kenapa kau harus tahu? Apa kau menghawatirkanku?"
"apa?! Tidak! Aish! Lupakan, hidup semaumu" aku membalikkan badanku dan pergi meninggalkan Yeol dan menuju mejaku.
Hari semakin sore dan tidak terasa jam pelajaran pun usai 'drrt drrrt drrt' aku merasakan ada getaran di tasku, ku ambil tas jingga ku dan ku buka retsletingnya, benar saja handphoneku memiliki 1 panggilan masuk.
"hallo pah?"
"apa?!"
"baik aku akan segera kesana" setelah menerima panggilan dari papah aku segera bergegas meninggalkan kelas, namun di depan kelas tubuh tinggi Yeol menghalangiku untuk keluar.
"minggir! Aku buru-buru!"
"mau kemana kau?"
"bukan urusanmu!"
"aku ikut"
"aish! Terserah!" kini aku dan Yeol berlari secepat mungkin menuju halte bus yang berada di depan sekolah, nasib baik bus datang tidak lama, kami berlari kecil menaiki bus itu.
"sebenarnya kau mau kemana dengan wajah yang panik seperti itu?"
"kakakku akan melahirkan malam ini dan aku di minta papah untuk menjaganya bersama mamah karna papah sedang ada urusan kantor"
"apa? Kau punya seorang kakak perempuan?"
"iya"
"kenapa kau tidak pernah memberi tahu jika kau punya kakak perempuan?"
"kau tidak pernah bertanya"
"apa suaminya berada di sana(RS) juga?"
"suami? Dia tidak mempunyai seorang suami"
"hah?! Bagaimana dia bisa hamil jika dia tidak memiliki seorang suami?"
"dia di perkosa oleh seorang brengsek"
"ceritakan padaku"
"tidak"
"ayolah kumohon"
"kau ini! Baiklah baiklah"
Akupun terpaksa menceritakan kronologis cerita menyedihkan kakakku kepadanya, kulihat Yeol sangat tertarik mendengar cerita kakakku ini, dia mendengarkan dengan baik setiap kata yang ku ucapkan dengan wajah seperti orang yang sedang menganalisis kejadian itu, matanya seakan-akan merasakan apa yang di rasakan oleh kakakku sepintas kulihat matanya mulai berkaca-kaca seakan akan air mata yang berada di matanya meminta untuk di keluarkan namun dia segera mengangkat wajahnya agar air matanya tertahan di sana. Tidak terasa bus yang di naiki oleh kami akhirnya sampai di tempat yang kami tuju 'RS Xiaulu' kami menggerakkan kaki secepat mungkin agar segera sampai di ruangan ka Byun.
'tok tok tok'
ku ketuk pintu kamarnya terdengar suara sendu mamah menyaut dari dalam kamar, kubuka perlahan pintu itu agar suara pintu yang terbuka tidak mengganggu pasien yang ada di dalam, mamah kini sedang menggenggam tangan ka Byun erat meneteskan satu per satu air asin yang keluar dari matanya, entah apa yang di rasakan mamah sekarang namun ku lihat raut wajahnya menunjukan betapa khawatirnya dia melihat keadaan ka Byun yang sedang menahan rasa sakit yang sangat amat sakit, aku bisa melihat kesakitan itu di raut wajah ka Byun sekujur tubuhnya kini di basahi oleh air keringat, tangan kirinya menggenggam erat tiang besi yang berada di samping tempat tidur kakinya meliuk-liuk berusaha menahan rasa sakit, gigi atasnya menggigit bibir bawahnya begitu kencang, matanya terpejam dengan sangat kuat, wajahnya memerah dan suhu tubuhnya menjadi sangat panas. Mamah memberikan elusan halus di kepalanya seperti ingin mengatakan 'yang kuat anakku, kamu pasti bisa menjalani ini'.
Aku menengok kesebelah kiri pandanganku tertuju pada Yeol entah mengapa dia hanya terdiam dan menundukan kepala. Waktu berlalu begitu cepat sampai waktu menunjukan pukul 18:06 , seorang dokter dengan pakaian lengkap operasinya datang bersama 4 orang suster yang siap membantunya pertanda ka Byun akan segera melahirkan, ku kecup dengan hangat kening ka Byun "ka, aku yakin kaka bisa" dia hanya memberikan senyuman kecil di wajahnya namun senyuman itu kembali hilang, kini yang terdapat di wajah ka Byun hanyalah rasa sakit, tanpa di perintah aku menarik tangan Yeol yang sedari tadi hanya terdiam di sudut ruangan memandangi kakakku yang sedang bertarung dengan maut, tangannya sangat dingin dan bibirnya sangat pucat di tambah keringat yang terus bercucuran di wajahnya, kusandarkan pundakku di kursi tunggu.
"Yeol kau sakit?" ucapku memegang kening Yeol yang basah dengan keringat
"apakah melahirkan semengerikan itu?" dia menoleh ke arahku dengan tatapan penuh dengan beban
"hmm, sepertinya begitu"
"put itu sangat mengerikan!"
"tentu saja"
dia kembali menundukan kepala, mulai mengatur nafas dengan tenang dan kini suhu tubuhnya mulai normal kembali, dia mulai menyenderkan pundaknya di sandaran kursi memanjakan pundaknya sejenak.
"jika aku mempunyai istri kelak, akan aku temani dia saat akan melahirkan nanti aku berjanji tidak akan meninggalkannya walau sedetik"
aku hanya tersenyum kecil mendengar perkataan yang terucap dari mulutnya, memang saat akan melahirkan adalah saat dimana nyawa seorang ibu akan di pertaruhkan demi melahirkan janin yang ada di dalam kandungannya, pilihannya hanya ada dua 'anak dan ibu selamat' atau 'ada nyawa yang harus di korbankan'
"kakakmu..." dia kembali menatapku
"apa?"
"sangat tangguh"
"tentu saja, dia adalah kakakku"
"pria yang bisa mendapatkannya it's a lucky guy"
"yap it's right"
"bolehkah..."
"hmm?"
"bolehkah kau memberi kesempatan kepadaku untuk mendapatkan kakakmu?"
"apa?! Tidak! Aku tidak akan memberikan kakakku kepada pria brandal sepertimu!"
"pria brandal yang kau sebut ini kelak akan menjadi pria yang sukses"
"buktikan!"
"pasti akan aku buktikan, tapi jika aku sukses kelak bolehkah kakakmu menjadi milikku?"
"kenapa kau menginginkan kakakku? Dia jauh lebih tua umurnya di bandingkan dengan mu"
"apakah umur akan menghalangi cinta seseorang?"
"ya! Kau baru bertemu dengan kakakku hari ini dan kau bilang kau mencintai kakakku? Cinta seperti apa itu?"
"entahlah, kurasa kakakmu adalah tulang rusukku yang hilang"
'AARRRGGGHHH!' suara rintihan terdengar sangat jelas keular dari kamar ka Byun, aku yakin dia pasti sangat kesakitan, kami hanya bisa saling berpandangan tangan Yeol menyeret kepalaku agar berada tepat di pundaknya, hati ini sangat berdebar menanti kelahiran anaknnya ka Byun, bibir ini tak bisa berhenti mengucap keselamatan untuk ka Byun agar dia bisa melahirkan dengan selamat.
"kakakmu kuat, dia pasti bisa menghadapi masa ini, bertahanlah ini tidak akan lama" ucap Yeol menenangkan ku, detik berganti menjadi menit, menit pun berganti menjadi jam hingga saat yang di nantikan oleh ka Byun menjadi kenyataan, terdengar suara tangisan bayi yang keluar dari kamar ka Byun aku segera bangkit dari dudukku menuju jendela pintu untuk mengintip keadaan di dalam namun sial kaca ini sangat gelap sehingga aku tak bisa melihat situasi di dalam ruangan itu, ku gigit kuku jempolku melangkahkan kakikku kesana dan ke sini hingga pintu kamar ka Byun di buka.
"bagaimana dok keadaan kakak saya?"
"kakak anda cukup kuat, dia berhasil melahikan seorang anak laki-laki yang tampan dengan normal, tunggulah dulu 30 menit kakak anda masih memerlukan istirahat"
"baiklah dok terimakasih"
Seorang anak laki-laki yang di lahirkan oleh ka Byun, ini adalah anugrah yang di berikan Tuhan kepadanya, aku yakin kelak anak ka Byun akan menjadi anak yang sangat hebat yang bisa menjaga ibunya dengan baik, kini kami bertiga (mamah, aku dan Yeol) menunggu dengan tenang, berbincang hangat mengenai kelahiran anak ka Byun, membicarakan tentang nama yang pantas di pakai untuk anaknya ka Byun, Yeol dan mamah tidak banyak bicara aku tahu mamah masih trauma dengan kejadian ka Byun namun sepertinya Yeol tidak keberatan dengan sikap mamah yang seperti itu, Yeol terus menanggapi ucapan-ucapan mamah dengan baik, memberikan lelucon-lelucon lucu untuk mencairkan suasana, sampai lambat laun mamah mulai membuka dan menerima Yeol sedikit demi sedikit, ini adalah pertama kalinya untuk mamah menerima seorang pria yang baru dia kenal.
30 menit sudah berlalu kini ka Byun sudah boleh di jenguk, Yeol mengikuti kita dari belakang, ku lihat ka Byun masih ditemani rasa sakit setelah melahirkan, raut wajahnya menunjukan kelelahan karna dia sudah mengeluarkan tenaga yang amat sangat besar.
"apakah aku boleh melanjutkan tidurku?" tanyanya keapada mamah
"tentu sayang, istirahatlah. Kau pasti lelah"
ka Byun mulai memejamkan matanya, akhirnya dia kini bisa merasakan nikmatnya beristirahat setelah perjuangan yang ia lakukan selama 2 jam tadi, tak lama kemudian suara ketukan pelan terdengar dari luar, aku melangkahkan kakiku menuju pintu dan membukakan pintu untuk seseorang yang ada di balik pintu tersebut.
"papah"
"hai sayang" dia mengecup keningku hangat, merangkul pundakku dan berjalan ke arah ka Byun dengan semangat.
"dia sedang tidur?" tanya papah
"iya, biarkan dia istirahat" jawab mamah dengan nada yang di turunkan, papah menengokkan kepalanya ke arah kiri dan dia mendapati Yeol yang ada di sana
"kau ada di sini nak?" tanya papah dengan nada yang hangat menyambut Yeol yang ada di sini
"iya om" Yeol memberikan senyuman hangat kepada papah di sambut dengan jabatan tangan yang papah ulurkan kepadanya, dengan sigap Yeol menyambut tangan papah dengan lembut.
"apakau lapar?" tanya papah
"sedikit" jawabnya
"ayolah om tahu kamu lapar, ayo kita makan" kami berempat pergi meninggalkan kamar ka Byun dan mencari makanan di sekitar rumah sakit, kulihat papah sangat senang saat Yeol ada di sini, rasa senangnya itu sangat terlihat di raut wajah papah. Mamah pun sama dengan papah kini mamah mulai bisa menerima Yeol di sini, dengan lahap kami memakan makanan yang telah tersaji di meja makan, candaan-candaan kecil keluar dari papah dan Yeol kini kami sedang tertawa bersama.
"apakah nama untuk cucuku sudah ada?" tanya papah
"belum pah, nanti kita diskusikan dengan Byun setelah pulang dari RS"
"akhirnya aku memiliki cucu laki-laki" ucap papah bangga, mungkin dia sudah melupakan kejadian yang mengerikan yang menimpa ka Byun satu tahun yang lalu, syukurlah masa-masa sulit ka Byun sudah di lalui dengan baik, terus berjuang lah ka di sini kami akan selalu mendukungmu, Fighting!
.
.
.
.
Bersambung
