Memorinya berjalan mengikuti arah angin. Saat sepoi merintik, haluannya bersama kelembutan. Begitu hembusannya mengencang, dayung-dayung yang menopang langkahnya bahkan nyaris patah. Hm, itu yang dia rasakan.

Sepertinya hidup tak seindah matahari brengsek di musim semi.

Kehangatan dan kelembutan itu menyakitkan.

Terlebih, sejak semuanya telah menjadi sebuah lagu lama.


Mokuji

.

COMFORT

.

Min Yoongi | Park Jimin

.

"Aku mengerti bahwa dunia tak akan mau membuatku tidak baik-baik saja. Berikut membuatku memahami, mengapa kelembutanmu ada di dalam ceritaku." – Park Jimin

.

BGM: Sammy Simorangkir Kau Harus Bahagia


Seoul, Januari 2017.


Suatu hari di kamar berantakan seorang Min Yoongi.

Jimin yang datang dengan membawa sebungkus kebahagiaan. Sederhana sekali, bahkan nyaris picisan. Tapi ia begitu percaya diri. Semalam, 31 Desember 2016, pukul sebelas lebih lima puluh delapan menit, Yoonginya mendarat di Gimpo. Dan Jimin ingin menghadiahkan salam tahun barunya pagi ini.

"Selamat tahun baru..."

Jimin membuka mata lebar-lebar saat menyerahkan cokelat itu pada telapak tangan Yoongi.

Diterima? Dengan senang hati. Yoongi tersenyum. Meski tidak ada respon lain yang diberikannya; cukup sebatas anggukan dan, lalu duduk meranjang.

"Thanks."

Yah, ada ucapan terima kasih singkat, sih. Si pemilik kamar lalu berkutat dengan buku-buku yang tercecer di ranjang. Memancing Jimin untuk mericuh.

"Cuma begini?" Jimin mengendik.

"Hm?"

"Itu mahal, loh." Jimin akhirnya duduk juga. "Cokelat dari perkebunan terbaik di Meksiko."

Haha.

"Iya, aku tahu, bungkusnya dipenuhi tulisan Bahasa Spanyol."

"Tidak ada hadiah untukku?"

"Tidak ada."

"Oh, masih pelit juga rupanya."

"Enak saja."

"Kau tidak terima?"

"Menurutmu?"

"Lalu mana hadiah untukku, dasar–"

Chu~

"Sebentar, aku akan ke bawah, mungkin popcorn kita sudah matang."

Ah, baiklah. Salahkan kulit Jimin yang seperti bunglon. Kecupan-pipi abal-abal dari Tuan Min saja sudah membuat warna rautnya mendadak merah jambu secara anarkis.


Yang namanya Park Jimin dan Min Yoongi adalah sebuah keteraturan yang terpaut. Kabel-kabel paralelnya mengikat kuat. Tidak pernah terpisahkan dari jeda apapun.

Yoongi yang terbahak adalah Jimin yang melucu.

Jimin yang tersenyum adalah Yoongi yang bertingkah dingin namun menghangatkan.

Begitulah. Arus cerita mereka berputar-putar bersama sebuah aksen bagus.

Sampai ada yang menyadari bahwa dunia salah satu di antara mereka terlalu egois. Adalah Park Jimin, yang mengayunkan angannya pada sebidang suasana menggemaskan namun menyimpan duri perak menyedihkan. Ceritanya berlarut; memorinya menutupi kebisingan-kebisingan lain, suara-suara yang tak diinginkan. Sebenarnya apa salah dia. Jimin tulus mengenai perasaannya. Jimin sungguh-sungguh mengenai keinginannya. Sumpah mati, hanya Yoongi yang Jimin mau, dan Jimin yakin dia bisa menuliskan novel terindah yang berisi tentang semaraknya hubungan mereka.

Jimin menginginkan Yoongi. Dalam keadaan utuh. Mencintainya. Yoongi yang mencintai Jimin. Meski dalam keadaan–paling–tidak masuk akal sekalipun.

Suatu hari, di perpustakaan fakultas.

"Kak,"

Itu suara Jimin yang melengking. Membaringkan kepalanya di meja, menohok Yoongi dengan tatapan yang dia susun sedemikian rupa.

"Kak..."

Ulangi lagi.

"Kak?"

Masih kurang.

"Yak! Min Yoongi!"

Dua mahasiswi yang duduk tak jauh dari mereka menoleh; ah maaf, kalian terganggu, ya. Jimin menunduk malu dengan mengeluarkan isyarat tangan meminta maaf.

"Haha. Kan, mereka mendengus karena kau berisik." Sial, begini keadannya, Yoongi malah tertawa.

"Jahat..." Bibir Jimin mengerucut. "Hobimu tidak pernah berubah, selalu begini!"

"Ssh, iya, iya, maaf."

Yoongi mengusap punggung kepala Jimin.

Seperti bayi. Dia baru tenang jika Yoongi mengeluarkan kelembutan.

"Tumben menyusulku. Tidak ada kegiatan di sekertariat?" Yoongi menutup bukunya.

"Hari ini aku kabur."

"Hm? Ada apa?"

"Bagaimana ya, karena aku merindukan seseorang yang sudah tiga hari ini sibuk belajar."

"Ooh, temanmu?"

"Ya."

"Sahabatmu? Kau tidak pernah cerita. Siapa namanya?

"Min Yoongi."

Hening.

Hening episode lima puluh empat.

"A, ah, aku lapar..." Diam-diam saja kalau kalian melihat Yoongi yang salah tingkah sambil merapikan tas. "Dengar-dengar kedai pizza yang baru dibuka di Garosu mengadakan diskon untuk mahasiswa. Hmm, baunya bahkan sudah sampai sini."

Yoongi berdiri, menggaet tangan Jimin.

Tidak ada lagi Yoongi dan Jimin di perpustakaan.

Hanya ada ceceran jejak manis mereka yang nantinya akan membuat orang-orang tersenyum kelu.


Sesekali, Jimin ingin mencintai Yoongi secara serakah, dimana hanya dirinya serta segurat Min Yoongi yang boleh membuat dunia berwarna.

Itu berkat perlakuan memabukkan yang selalu Jimin terima dari Tuan Min.

Perkenalan mereka awalnya bukan merupakan sebuah fanfiksi dengan berpuluh episode beserta ribuan kalimatnya yang membingungkan. Dua hari. Cukup dua hari mereka mampu meracik sebuah suasana hangat. Dalam dua hari, mereka mampu dekat. Dan berlanjut sampai detik ini.

Saat mereka duduk di sebuah bangku, menepi dari keramaian.

Yah, beginilah, suasana theme park di malam minggu.

"Kau tidak bosan dengan es krim cokelat?"

Ujar Yoongi–bersama es krim vanila tersayang–ketika melihat Jimin begitu menikmati kudapannya. Asal kalian tahu, bagi Yoongi, Jimin yang menjilat jambul es krim, adalah sebuah keimutan paling hakiki. Agaknya bercanda, ya. Tidak, dia serius, kok.

"Hei," Jimin menuntaskan jilatan terakhir. "Tidak ada ceritanya Park Jimin bosan dengan cokelat."

"Hhh, iya, iya, aku tahu. Tapi kalau setiap makan sesuatu lalu kau selalu meninggalkan sisa di ujung bibir seperti ini–"

Gulp.

"–aku yang bakal bosan."

Oi. Min Yoongi. Tolong jangan melakukan hal itu lagi. Apa kabar jantung Jimin di seberang sana?

Mengecup ujung bibir Jimin untuk menghilangkan lumeran es krim, adalah keindahan yang sangat tidak menyehatkan.

"O, oh, m, maaf kalau begitu," Dan Jimin terpaksa menyembunyikan senyumnya yang tinggal meledak.


Lalu, berani menahan sampai kapan? Bisa menahan sampai kapan?

Toh Jimin tidak kuat lagi. Semua kelembutan Yoongi untuknya sudah kelewat batas. Egonya membuncah. Serta cerita yang sudah berjalan selama beberapa masa dalam buku harian ingatannya, sudah berhasil membeku menjadi sebuah memori manis. Lantas bagaimana, mempertahankan diri sebagai sahabat-si-pemuja-rahasia, atau benar-benar mengungkapkannya bersama seutas keberanian?

Lagipula dia tak bohong.

Jimin tidak bohong perihal ia memang menginginkan Min Yoongi.

Pada suatu malam, bintang merah melintas di kaki langit. Entahlah. Legenda mengatakan, bahwa itu bukanlah pertanda baik. Meski ekornya meninggalkan bercak indah di horizon malam.

Kamar Jimin memang selalu berhias dengan kerapian; serta ketenangan, suara instrumen dari ponselnya turut mendukung susasana teduh.

Dan ada Yoongi yang duduk disana, di atas karpet, menuliskan banyak hal untuk Jiminnya.

"...apabila antigen masih bisa bertahan atau dalam keadaan survival, maka respon imun spesifik akan terinduksi dan akan melakukan proses pemusnahan antigen yang ada."

"Wow, terima kasih." Jimin meletakkan bolpoin, tiba-tiba mengangkat semua tangannya. "Ngghhh, leganya. Aku hampir tidak percaya kalau tugas ini benar-benar bisa diselesaikan."

"Panggil aku kalau kau butuh yang begini. Aku sudah hafal dengan kebiasaan Dosen Choi." Yoongi tersenyum, menjabat tangan Jimin. "Semoga sukses, bung."

Jimin mengangguk.

"Ah, aku jadi ingin tidur,"

"Tidak, tidak boleh kopi lagi. Malam ini harus kau tahan untuk tidak tidur larut malam."

"Iya, aku tahu, makanya aku ingin tidur."

Grep.

Siapa sangka Yoongi membaringkan kepala Jimin di atas kakinya.

"Aey, aku seperti bapak-bapak menidurkan balitanya." Yoongi terkekeh. Tangannya, seperti biasa, menyugar rambut Jimin.

Apa, apakah ini, apakah ini yang membuat Jimin merasa dipermainkan?

"Kak, kau terlalu baik."

Apakah ini yang memaksa Jimin untuk tidak ingin takluk dalam buaian keadaan?

Dia merenung setelah hening membiarkan pernyataannya tak berbalas. Tersenyum dengan mata yang murung.

"Maaf," Imbuhnya kembali. Jimin memejamkan matanya sesaat, sebelum kembali menatap sesuatu, "Aku selalu idiot dalam memilih perkataan."

"Apa aku sebaik itu?" Bisik Yoongi–serak.

Ia meninggalkan seikat senyuman pada Jimin. Tanpa permisi. Membuat Jimin semakin ingin menangis.

Mungkin serpihan bintang merah itu jatuh ke dalam tubuh Jimin, hingga membuatnya terbuai dalam sebuah imaji berantakan.

"Serius, apa kau benar-benar hanya sahabatku?" Gulungan suara lirih milik Jimin yang membuat Yoongi menegun.

"Uhm? Ya?"

"Yang kutahu, sahabat tidak berlaku seperti ini," Jimin sempat tergelak, lalu berkedip, menengadah, "Teman, bukanlah orang yang hampir setiap hari membuatku merasa semakin ingin mencintainya secara mutlak."

"Ha, haha, apa maksudmu–"

"Min Yoongi, itu membuatku menyukaimu."

Gerimis yang mendadak turun di luar sana menyimbahi keadaan dengan perasaan resah; membasahi sekelilingnya secara seksama, menelisik hingga ke sisi-sisi terdalam, bahkan pada titik buta.

"J, Jimin...?"

"Bisakah kau menerimaku, tidak sebagai teman, setelah malam ini?"

Jimin beranjak.

Jangan salahkan siapa-siapa saat pipi halus itu perlahan basah. Ia menekankan sebuah intonasi perilaku yang–agaknya pantas dianggap–gila.

Mendiamkan Yoongi yang membisu.

"Aku mencintaimu."

Sudah. Sudah habis kesabarannya. Jimin tidak mampu lagi. Matanya berteriak; jangan, jangan lakukan lagi, jangan beri kelembutan lagi. Ada hati yang tak kuasa karena sebuah status yang mengambang dalam ombang-ambing kenikmatan tak menentu. Jimin ingin memungkasinya. Ia dekap leher Yoongi, perlahan mencium alisnya, hidungnya, ranum bibirnya, lebih, lebih dari frasa kelembutan yang terdefinisi. Jimin dapat melihat pantulan senyumannya dalam raut wajah Min Yoongi. Senyuman seseorang yang otaknya telah terbakar dan luluh menjadi abu.

"Jimin, hentikan,"

Suara itu tak ingin ia dengar, demi apapun.

"Park Jimin..."

Tidak, dimohon, untuk kali ini saja.

"Park Jimin maaf aku tidak bisa melakukan ini."

Mengapa?

Kenapa gairah itu terhenti? Kemana larinya? Jimin mematung dalam nafasnya yang tak beraturan. Ia lihat. Ia lihat betul wajah Yoongi disana. Wajah itu, muram. Membuat dada Jimin berdenyut sakit, merangkak perlahan, menuju perih. Setelah perkataan Min Yoongi yang mendorongnya untuk mundur membentur dinding ketidakpercayaan.

"Apakah kebaikanku sudah terlalu lama melukaimu? Sampai kau jadi begini?" Suara Yoongi begitu dalam. Matanya mengocehkan perkataan heran, dalam seruas substansi. "Jimin, jika kebaikanku membuatmu menderita, aku akan menghentikannya."

Kiasan yang depresif memilukan.

"M, Min Yoongi..."

"Jimin, kumohon. Kita tidak bisa seperti ini. Kita pernah berjanji, kita adalah teman sampai akhir, kan...?"

"Bisakah kita mengkhianatinya?"

"Aku tidak ingin mati membawa sebuah pengkhianatan, Jimin. Kumohon, jangan seperti ini."

Jimin tersandung kenyataan. Ia ingin berdiri, namun suasana justru mendekapnya dalam ruang menyakitkan. Mengapa seperti ini. Tuhan, tidak adakah akhir indah bagi ketulusan Park Jimin?

Jangan libatkan Tuhan dalam masalah ini.

"Kenapa...? Lalu kenapa selama ini kau memperlakukanku dengan segala kebaikan?" Jimin ingin memukul keadaan, atas nama air matanya.

"Jimin, kau temanku, sahabatku, apakah keliru saat Min Yoongi membuatmu merasa nyaman dalam setiap suasana? Tetaplah menjadi teman kecilku yang manis, Park Jimin..."

Yoongi memeluknya. Memeluk Jimin yang masih memandang tak percaya. Saat pelukannya lepas, ia memejam, menyentuhkan dahinya pada dahi Jimin. Mengusap sebidang rambut halus.

"Terima kasih sudah mencintaiku," Bisikan itu melebur diiringi pernyataan Yoongi selanjutnya. Bahwa, "Aku juga mencintaimu, sebagai teman dan sahabat terbaik yang pernah diciptakan dalam ruang hidupku."

Diakhiri dengan keheningan. Jimin meraup kehangatan yang diukir oleh Min Yoongi secara rupawan di dalam hatinya. Ada kata baiklah yang terujar, sebagai implementasi dari rasa menerimanya.

Jimin terus menatap sepasang mata itu, berikut hatinya mengucapkan terima kasih dan maaf secara bersamaan, dalam rentang waktu yang berulang-ulang.


Di pelosok jauh sana, ada yang kusebut rumah.

Rumah tempatku pulang dan kembali.

Kembali untuk membuang cinta bertepuk sebelah tangan secara terlalu indah ini.


Seoul, Mei 2017.


Tidak apa-apa.

Memutuskan untuk mengentaskan diri dari jebakan masa lalu, hei, itu positif, kan? Jimin bersyukur semestanya masih berkenan untuk melantunkan lagu-lagu indah yang menyemangati hidupnya. Tidak perlu menyesal, meski pernah gila dalam suatu arah memabukkan.

Ujung bibir mungilnya terangkat naik.

Cuaca tahu, bagaimana kedudukan Min Yoongi masih berada sebagai matahari terindahnya. Sejak semua itu berlaku, Jimin beruntung, keadaannya kembali. Janjinya di masa lalu tidak akan dan tidak pernah terkhianati. Yoongi masih menjadi sahabatnya. Mereka masih bisa tertawa bersama, terbahak hina mati-matian, bahkan menangis sampai fajar seusai menonton serial drama.

"Peformamu masih bagus rupanya, hhh, atau aku saja yang semakin tua?"

Ini di lapangan basket universitas. Yoongi yang melempar bolanya dan ditangkap tepat oleh kedua tangan Jimin. Yang lalu duduk, tampaknya lelah sekali, keringatnya berjatuhan.

"Ya, kau yang menua. Dasar lapuk." Jimin terbahak saat mengetahui Yoongi hendak melemparnya dengan botol minum. "Bercanda."

"Omong-omong, bagaimana ujianmu?"

"Sukses. Meski nyaris tewas. Untung saja aku mengingat semuanya saat detik-detik terakhir."

"Belajarlah lagi. Kau selalu salah fokus karena game."

"Take a mirror, sir."

Yah, mengapa dering ponsel harus mengganggu tawa Yoongi yang renyah.

"Siapa?" Jimin menyeka dahi saat Yoongi sibuk dengan ponselnya.

"Biasa," Dan Yoongi lalu terlihat berberes. "Anak cerewet ini lagi. Huh, sudah kubilang untuk menungguku, dia malah memaksa pulang sendiri. Dia bodoh soal jalur bus, dan sekarang dia turun di tempat yang salah. Dasar."

Jimin menahan tawa. Ia sudah biasa dengan perangai baru Yoongi yang seperti ini.

"Jangan marahi Hoseok lagi. Kasihan dia, nanti semakin kurus."

"Iya, iyaa..."

Dan Yoongi menjewer hidung Jimin.

"Baiklah, aku duluan. Sampai jumpa besok!"

Ya, Jimin membalasnya dengan senyum dan lambaian tangan.

Mata itu, melihat punggung Min Yoongi yang menjauh, bersama lari kecilnya. Memahami bahwa Yoongi begitu peduli dengan manusia idamannya.

Jung Hoseok.

Apa yang menjadi masalah?

Hei, semua ini masih indah.

Bahkan lebih indah.

Tolong camkan.

"Aku mengerti bahwa dunia tak akan mau membuatku tidak baik-baik saja. Berikut membuatku memahami, mengapa kelembutanmu ada di dalam ceritaku."

Bisik Jimin, dalam langkah pelan yang dipulas temaram senja.

.

.

.

END

.

.

.


A/N: Salam. Berjumpa kembali disini. Kembali membawa fiction atas nama tagar #btsffnwpfriendzoneweek. Friendzone. Zona teman. Perih namun mengandung unsur-unsur kebahagiaan. Ya, yang penting jangan terlalu mudah patah hati. Oh, ya, kalau seminggu ini kalian menemukan fiction lain dengan tagar yang sama, kalian baca, yo. Bagus-bagus, kok. Ehm, bahkan lebih bagus daripada yang disini. Hehe. Hehe. He– ah sudah. Hukumnya: Wajib meninggalkan jejak di kolom review. Bercanda (pasang emoticon senyum).

Omong-omong, selamat untuk BTS yang sukses membawa pulang predikat Top Social Artist dari BbMA.

Bersambung...