1. 1. MBAK YUYU

Tzuyu atau yang biasa dipanggil Mbak Yuyu baru aja pulang dari kampus, capek, laper, pusing, panas, pengennya cepet ganti baju yang lebih nyaman, minum air es, makan, terus tidur, eh malah dipanggil BuRT.

"Yu, Yu, Mbak Yu mampir dulu sini," panggil Bu RT yang rumahnya emang sebrangan sama kontrakan Mbak Yuyu.

"Ada apa, Bu RT?" Walaupun malas tapi si cantik tetap berusaha bersikap sopan.

"Ini tadi ada titipan undangan, orangnya nyariin kamu pas kamu ke kampus tadi." Bu RT mengeluarkan sepucuk undangan berwarna hitam-silver dari saku apornnya.

"Oh, makasih, Bu." Yuyu menerimanya tanpa membaca, nanti ajalah di dalam rumah. "Saya masuk dulu ya," pamitnya.

Baru saja Yuyu selesai berganti pakaian yang lebih nyaman dan menyalakan televisi, niatnya sih mau makan siang dengan ayam goreng yang dibelinya di kampus tadi sambil nonton sinetron siang hari, eh nafsu makannya hilang setelah membaca nama yang tertera pada undangan dari Bu RT tadi.

Yugyeom dan Youngjae.

Lemas langsung Mbak Yuyu, ingin lenyap dari muka bumi saja rasanya. Mantan waktu SMP udah mau nikah aja, mana nikahnya sama selingkuhan dia waktu itu lagi.

Galau.

Sebel.

Malu.

Dianya belum punya pasangan sih, kan jadi gimana, masa mau kondangan sendirian di kawinan mantan? Ngenes amat.

Sambil makan Tzuyu liat-liat kontak di hapenya, siapa tau nemu orang yang udah dia lupa, buat diajak kondangan. Harus cowok, harus! Kalau perempuan mah sama saja. Lebih penting lagi, cowok itu harus masih single, biar nggak malu-maluin.

Di kontaknya nggak ada, semua perempuan atau udah taken, palingan ada duda, tapi ya masa duda?

Tidak ada, Yuyu beralih ke Facebook, siapa tau ada teman lamanya.

"Ah, iya, aku lupa, duh udah hampir jamnya!" Ia menepuk keningnya, baru teringat kalau udah reservasi buat facial di skincare, mana agak jauh lagi.

Cepat-cepat ia habiskan ayam gorengnya dan kembali berganti pakaian. Sambil bersiap-siap ia berdoa semoga dapat tumpangan biar nggak terlambat, kan sebel kalo udah buru-buru sampai sana terlambat terus harus reschedule, diundur ke jam berikutnya.

Mbak Yuyu lari-lari, inilah susahnya kalau nggak bawa kendaraan sendiri.

Dia sudah ada di depan gang, nunggu angkutan lewat ketika sosok tampan yang pernah hinggap di hatinya – tapi ternyata udah punya pacar – terlihat dari kejauhan. Lee Kikwang, seniornya dulu, sekarang dia sudah bekerja di sebuah bank depan kampus.

Sosok itu tak pernah gagal mempesona seorang Tzuyu yang dipuja-puja kecantikannya. Satu-satunya orang yang berhasil merebut hatinya setelah patah hati dari Yugyeom.

Rambutnya yang hitam, hidung mancungnya, bibir seksinya, Tzuyu terdiam memandangi pujaan hatinya. Rasanya sudah cukup lama ia melupakan manusia itu, tapi begitu bertemu, hatinya luluh lagi.

Orang itu berjalan kaki, ke arahnya, sambil memandang ke jalan raya.

Sebenarnya sudah ada dua angkutan yang bisa membawanya ke skincare lewat, tapi dibiarkannya, ia masih ingin melihat Kikwang. Masa bodoh dengan facial.

Lee Kikwang semakin mendekat, mereka bertemu pandang dan bibir seksinya menyunggingkan sebuah senyuman manis yang membuat Tzuyu meleleh bagai es krim. Dan orang itupun berlalu. Yah...

Tzuyu masih memandangi punggungnya yang semakin menjauh, sambil celingak-celinguk cari angkutan kali ini.

Ia segera menghentikan angkutan pertama yang akan lewat dan naik, duduk di belakang bersama seorang laki-laki tampan berrambut coklat yang pernah ia temui sebelumnya, di dalam angkutan kota juga, tapi tak pernah berkenalan dan tak pernah memperhatikan juga dimana dia naik dan turun. Cukup tampan, bahunya lebar, tubuhnya kekar, dan tinggi.

Baru jalan beberapa puluh meter angkutan yang ditumpanginya kembali berhenti.

Oh no!

Kikwang yang menghentikannya, dan ia naik, kemudian duduk tepat di hadapan Tzuyu, bersebelahan dengan laki-laki tampan tadi.

"Hei, Seph!" Kikwang menyapa lebih dahulu.

"Oh, jadi namanya ...Seph," batin Tzuyu.

Jadi sebenarnya yang dia suka Kikwang atau Seph ini sih?

Ah, dua-duanya mungkin.

"Hai, Kwang!" Si Seph membalas sambil mengangkat tangannya, memberi high five.

Oh, mereka berteman? Ya, setidaknya saling kenal.

Tzuyu hanya menyimak, menjadi pendengar setia, sambil mencari informasi.

"Kemana?" tanya Si Seph Aseph.

"Ini mau ke nasabah, tapi ini ditunggu atasan di warung makan padang," jawab Kikwang. "Kamu?"

"Ke rumah pacar."

"Oo... Sudah punya pacar...," sesal Tzuyu dalam hati.

"Masih sama si itu?" Kikwang juga tahu pacarnya ternyata.

"Masih dong. Situ gimana?"

"Bubar dari dulu," jawab Kikwang lemas dan sedetik kemudian ia berubah bersemangat, "Seongwoo cantik juga ya?"

Seph yang mendengarnya melotot. "Ha? Seongwoo?"

"Lupakan, lupakan." Kikwang memalingkan wajahnya, malu. Memang ada apa dengan Seongwoo? Apa salahnya mengatakan Seongwoo cantik. Siapa ya si Seongwoo itu? Kenapa Seph sampai kaget gitu ya?

Yuyu jadi penasaran sendiri sama si Seongwoo itu.

Kepo, tapi dia udah sampai di tujuannya, jadi mau nggak mau dia turun. Tanpa menyapa dua orang lainnya yang masih tertinggal di dalam angkot. Masa iya nggak kenal nyapa, dikira genit nanti. Padahal pengen.