Chapter 2 is update
Huaaaa maaf lama
Ekhem...
Terimakasih buat yang review
Tori-chan...
Reviewer pertama.. Aam..
Tengkyuuuu sangat
Lyli chan
Tengkyuuuu
dan Astrea chan...
Tengkyuuuuuu
Saya berusaha agar tak banyak typo disini...
langsung aja yaa
Disclaimer: Masashi khisimoto
Warning: gaje, OOC, OC(disesuaikan dengan charakter ortunya, demi memudahkan deskrifsi reader) dan banyak warning-warning lainnya.
Chapter 2
Tersenyumlah Untuk Kami!
Seorang anak kecil tengah duduk di bangku taman sekolahnya.
"Aya! Aya coba kamu lihat ini!" anak kecil berambut pink yang dikenal Aya bernama Megumi berlari kecil menujunya yang tengah duduk menunggu jemputan.
Aya memperhatikan sesuatu yang tengah digenggam Megumi. Sebuah boneka beruang kecil berwarna putih sebesar genggaman tangan orang tua di pegang erat oleh Megumi yang sekarang duduk di sisi Aya.
Megumi lalu menunjukan bonekanya dengan muka yang berseri-seri.
Mata Aya berbinar, begitupun Megumi
"Wah...! lucu ya?" Aya menatap kagum boneka itu. Megum dengan semangat mengangguk.
Keduanya terus memandangi boneka itu dengan kagum.
"Ayah kamu yang kasih." kata Megumi masih menatap boneka kebanggaannya. Tanpa sepengetahuan Megumi mata Aya membulat karena terkejut
"Ayah kamu baik ya? Kamu tahu gak, ayah kamu hampir setiap minggu ngasih aku mainan seperti ini. Sampai –sampai di kamarku penuuuuh sekali dengan mainan yang sangat cantiiiik semua. Pasti kamu senang punya ayah seperti Om Naruto ya?" Megumi berbicara dengan semangat
Kemudian menatap aya dan tersenyum. Aya membalas senyuman Megumi miris.
"Hmmm...! pasti ayah mu jug ngasih mainan yang lebih besarrr dari ini kan?"
Aya menunduk. Seatus persen dugaan Megumi salah besar, tapi apa yang bisa Aya katakan. Kenyataan? Mana mungkin Aya bilang bahwa Ayahnya tak pernah memberi mainan jenis apapun selama ia hidup. Maka dengan ragu Aya akan mulai berbohong
"Tentu saja. Dirumahku ada banyaaaak sekali mainan besar seperti itu." Kata aya semangat palsu
' Tapi Kaa-san yang ngasih.' Batinnya
"Senangnya punya ayah seperti om Naruto."
Aya mengangguk
"I-iya aku juga rasa begitu."
Tak lama kemudian Naruto datang
"Eh...itu ayah kamu kan?"
Seorang pria dengan rambut pirang melambai dari kejauhan dan berjalan menuju Megumi dan Aya.
"Hei selamat siang anak-anak!" kata Naruto seraya mencium kening Megumi dan kemudian mengusap kepala Aya. Aya menanti sebuah kecupan, tapi tak kunjung datang. Aya menunduk dengan kekecewaan yang sangat besar dan pertanyaan yang sering muncul di benaknya " apakah ayah tidak menyayangi ku?'
Naruto duduk ditengah-tengah Aya dan Megumi
"Ibumu belum jemput, Megumi?"
"Iya nih. Mamah pasti lupa lagi" kata Megumi sengaja memapangkan wajah cemberutnya.
"hahahah... kamu lucu sekali, Megumi. Persis seperti ibumu."
Naruto berhenti tertawa lalu tersenyum hangat kepada Megumi
"Bagaimana kalau om saja yang antar kamu pulang? Mau kan?" tawar Naruto. Megumi tersenyum
"boleh. Dengan Aya kan?"
Naruto menatap aya yang dari tadi ia belakangi.
Aya menunduk
"Tidak, Aya kan di jemput sama mamahnya. Yakan? Aya dijemput sama mamah kan?"
Tanya Naruto.
"Iiya Megumi, aku dijemput Kaa-san." Aya mengangkat kepalanya saat menjawab.
Naruto tersenyum pada Megumi. Lalu berkata
" Ya kan?"
"Oke deh.. Ayo om, aku ingin cepat-cepat memarahi ibu"
Aya hanya bisa menatap Megumi yang di gendong ayahnya.
'Okaa. Kenapa Ayah lebih sayang Megumi?' batinnya lagi
Beberapa saat kemudian, Hinata datang. Kakinya mendayuh sepeda yang berukuran sedang itu. Dengan segera Aya menghapus air matanya.
"Okaa..!"
"Sudah lama nunggu ya?" Hinata tersenyum lalu mencium anaknya yang langsung menghambur kepelukan Hianta.
"Enggak...boleh aya minta ice cream strawberri kaa?"
"Iya, tapi nanti . Aya kan abru smbuh. Aya lupa ya kata Dokter Tsunade?"
"jangan makan yang dingin-dingin" kata Aya menirukan cara bicara DokterTsunde.
Hinata tersenyum
Aya terdiam
'Kaa-san, Aya janji gak bakalan bikin Kaa-san nangis lagi' Aya berkata dalam hatinya.
"Kaa.. kaa-san cantik deh kalo tersenyum" sontak pipi Hinata merona
"Apalagi klo muka Kaa-san merah kaya gitu. Lucu. Hehe" goda aya
'Aku tahu ada yang kamu sembunyikan dari Kaa-san, tapi apa? Kenaa tidak bicara terus terang saja.. .Aya" hinata menatap sedih Aya dan bertanya sendiri dalam batinnya.
"Okaa, kenapa Kaa diam saja? Ayo pulang!" Aya menarik ujung baju Hinata. Lauhinata menaikan aya ke sepedanya
"Mmm Jadi bagaimana disekolah?" hinata mulai bicara seraya mendayuh sepedanya.
"Sama saja. Ame Nara masih suka tidur dalam kelas, nica lee masih mengobarkan semangat masa mudanya, kalao Hyuuga Temaru masih suka diam. Kaya Om Neji." Katanya
"Lalu?" Hinata menntut keanjutan cerita Aya.
" Gak ada lalu, Kaa. Kan Aya pulang"
'Aya. Apa yang kamu sembunyikan?'
'.
.
.
Pintu kamar terbuka, menampilkan wajah Naruto yang lelah. Ia berjalan menuju lemari baju, dan mengambil piyamanya disana. Hinata yang belum tertidur, menghampiri Naruto dan membantunya memakaikan piyama.
"Naruto kun? Ada masalah apa?"
Naruto menghentikan tangan Hinata yang tengah mengancingkan kancing piyama Naruto dengan cara menggenggamnya lalu melepasnya dengan lembut.
"aku cape" kata Naruto
Hinata mengikuti Naruto yang berjalan menuju ranjang. Tanpa diperntah Hinata memijit kaki naruto. Naruto langsung menarik tubuh Hinata kesisinya
"sudahlah Sakura, Aku Capek"
Hinata sontak berhenti. Naruto salah menyebut namanya. Dan tidak menyadarinya. Sakit menusuk hati Hinata.
.
.
.
"Kaa-san kenapa pindah? Ayah belum pulang ya?" Aya menatap bingung ibunya.
Hinata hanya tersenyum, tangannya mengusap kepala Aya.
"Kaa-san pengen bobo disini?, kalo gitu aya di sofa aja" aya bangun dari tidurnya. Tapi Hinat langsung mendorong tubuh Aya, sehingga aya kembali rebah.
"Kaa-san Cuma sebentar ko, Kaa-san susah bobo."
Aya mengangguk mengerti.
"Baiklah, Aya bobo duluan ya kaa. Selamat tidur."
Hinata mengangguk
Aya terus saja gelisah. Dan tidak bisa tidur. Sementara itu, Hinata yang tadinya duduk disisi Aya kini mulai rnaik ke ranjang Aya dan ikut tertidur.
"Arrrgh...susah tidurrr!" Aya frustai hinata tersenyum geli menatap Aya.
"Aya temenin kaa saja dulu ya?"
Hinata mengangguk setuju.
.
.
.
Naruto's POV
Aku sudah mencoba mencintainya, Sakura. Tapi aku tak bisa. Aku sangat menyayangimu. Dan tak mudah bagiku melupakan cintaku padamu.
Apalagi sekarang aku melihat tanda-tanda kau juga mencintaiku. Mana mungkin aku melepas kesempatan itu.
Aku rela melepas Hinata dan Aya demi kamu. Dan jika kau menyuruhku untuk melakukannya. Aku pasti melakukannya.
Aku mencintaimu dari dulu sampai sekarang.
End Naruto's POV
Naruto melihat kebelakangnya dan tidak ada Hinata disana. Naruto bangkit dan mulai melangkahkan kakinya menuju kamar Aya.
Dan benarlah perkiraan Naruto. Dari celah pintu yang terbuka, Naruto dapat melihat Hinata yang sedang memeluk Aya.
Perasaan sakit menyertai hatinya, saat ia mendengar isakan kecil dari dalam sana. Naruto berfikir, Hinata sedang menangis dalam diam.
Naruro tetap diam di depan pintu sampai isakan tak terdengar lagi. Lalu ia pergi
To be continue
Yaaah gaje lagi, gaje lagi...
Oh ya terimakasih bagi yang sudah berkenan baca fic ini.
Aam janji chapter depan adalah the last.
Be nice with your review.
Aam^^.
