Hyung
Jeon Wonwoo
Jeon Jungkook
.
.
.
Wonwoo terbangun dari mimpi indahnya, bersiap menghadapi kehidupan nyatanya, kehidupan dimana ia merasa dalam kegelapan,dimana seharusnya hari ini ia dapat sarapan pagi bersama Eomma Appa nya. Wonwoo masih belum bisa meninggalkan kenyataan pahit itu, ia masih dalam pusaran kelamnya.
Wonwoo melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, berharap hari ini berjalan seperti biasanya, dimana hari-harinya sekolah menjadi tempat persembuniyannya, tempatnya yang biasa ia jadikan alasan menjauh dari adiknya, saat junior highschool dulu, Jungkook tidak mendaftarkan dirinya di sekolahan yang sama dengan kakaknya, mungkin nilai Jungkook tidak mencukupi untuknya mengikuti jejak kakaknya, dan hal itu menjadi kelegaan untuk Jeon Wonwoo, dirinya bisa jauh sejenak dari adiknya, melupakan sejenak kisah kelamnya, hingga ia belajar keras agar masuk Pledis Highschool yang menjadi sekolah favoritnya , sekolah unggulan yang berharap Jungkook tak bisa mengikutinya, namun kini berbeda, tak hanya satu atap di rumah, mereka di pertemukan kembali di atap sekolahan yang sama.
Sejujurnya, jika Wonwoo melihat jauh kedalam lubuk hati kecilnya, ia sangat bangga, adiknya bisa masuk sekolah favoritnya, sekolah unggulan, Ahjumma ternyata tak bohong tentang nilai kelulusan Jungkook yang nyaris sempurna. Namun kebenciannya menyelimuti hampir seluruh permukaan hatinya, sekolahnya tak bisa ia jadikan persembunyiannya dari Jungkook, satu tahun, ya satu tahun, setelah itu Wonwoo akan lulus, tak lagi bertemu Jungkook di sekolah, ia akan menjadi workaholic , berangkat pagi pulang malam, hingga tak bisa bertemu Jungkook, ya semoga! Pikir Wonwoo.
Wonwoo menikmati sarapannya begitu khidmat, lapar dari semalam belum makan, dahinya mengernyit menyadari adiknya belum turun untuk makan, ah masa bodo pikir Wonwoo. Wonwoo menyendokkan makanan terakhir ke mulutnya, bersiap berangkat, sudah hampir siang, adiknya belum turun, haruskah ia bertanya ke Ahjumma, atau biarkan saja? Perang betin terjadi pada diri Wonwoo.
Memilih meninggalkan meja makannya, rasanya tak perlu bertanya tentang Jungkook pada Ahjumma.
"Tuan siap berangkat?" Ahn Ahjushi mengahmpiri Wonwoo yang baru keluar dari rumahnya, Wonwoo hanya mengangguk pelan.
Suasana di dalam mobil begitu tenang hingga Ahn Ahjushi mencoba memecah keheningan.
"Tuan Muda Jungkook tadi berangkat sangat pagi. Bahkan memilih naik bis tanpa di antar supir." Atensi Wonwoo yang awalnya fokus ke luar jendela kini berubah menatap supirnya, kaget, baru kali ini Jungkook seperti itu. Tak ada jawaban dari Wonwoo, lebih memilih menatap kembali kaca jendela yang menampakkan banyak anak sekolah sedang berangkat sekolah.
"Wonie Hyung, aku boleh pinjam kaos kakimu yang bergambar Doraemon Hyung?" tanpa mengetuk pintu, Jungkook kecil langsung masuk menghampiri kakaknya yang sedang menyisir rambut.
"Tidak boleh, kaos kaki Pokemonku belum kau kembalikan Kookie." Wonwoo yang berusia 9 tahun meletakkan disisirnya lalu mencari kaos kaki yang hendak ia pakai, mengacuhkan Jungkook yang kini sedang mengerucutkan bibirnya.
"Akan Kookie kembalikkan nanti, kan masih di cuci Ahjumma. Ayolah Wonie Hyung~" Jungkook menggoyang-goyangkan lengan kakaknya.
"Baiklah-baiklah, rambutmu sangat berantakkan, sini Hyung sisirin." Tanpa pikir panjang Jungkook langsung duduk di tepi ranjang milik Hyung-nya, Wonwoo berjalan mengambil sisir yang tadi ia pakai, tangannya kini menyisir halus rambut adik kesayangannya.
"Kookie nanti istirahat boleh ke kelas Hyung lagi?" Tanya Jungkook sambil bermain kecil dasi yang terpasang di leher kakaknya.
"Tentu boleh, kita akan makan bekal bersama, jangan lupa membawa botol minummu, jangan seperti kemarin Kookie. Nah sudah." Wonwoo mengelus lembut surai hitam adiknya.
"Tenang Hyung, hari ini aku tak akan lupa, aku ambil kaos kakinya ya Hyung."
"Emm" Wonwoo menganggukkan kepalanya. Tertawa kecil melihat adiknya berlarian setelah mengambil kaos kaki Doraemonnya.
"Oke bekalnya sudah masuk k etas, sekarang kalian berangkat, sini cium Eomma" Jungkook dan Wonwoo berbarengan mencium pipi Eommanya.
"Kita berangkat Eomma." Setelah mencium Eomma-nya mereka berlarian sambil melambaikan tangan ke Eommanya, berlari menghampiri Appa-nya yang hari siap mengantar mereka ke sekolah, tidak setiap hari Appa-nya bisa mengantar mereka. Makanya hari ini mereka sangat senang.
"Hyung Kookie depan yah." Jungkook hendak membuka pintu mobil depan namun tangan kecil kakaknya mencegatnya.
"Waktu itu kau sudah di depan Kookie-ah, sekarang giliran Hyung."
"Yah Hyung, gamau, Kookie mau di depan." Appa-nya hanya geleng-geleng melihat pertengkaran kecil jagoannya.
"Tidak, Hyung yang di depan." Mata Jungkook mulai berkaca-kaca. Wonwoo tak tega melihatnya, tapi ia ingin duduk di depan, dekat Appanya. Akhirnya Wonwoo menghembuskan nafasnya pelan.
"Bagaimana kalau kita duduk di depan bersama Kookie-ah?"
"Ne Hyung." Jungkook bersorak riang lalu memeluk Hyung-nya, seulas senyum muncul di wajah Wonwoo melihat reaksi menggemaskan adiknya.
"Ayo anak-anak, nanti terlambat."
.
.
.
"Tuan." Mobil telah berhenti sekita dua menit yang lalu namun tak ada tanda-tanda Wonwoo hendak turun.
"Tuan, ini sudah sampai." Ahn Ahjushi masih mencoba memanggil Wonwoo yang masih terdiam menatap jendela mobil.
"Tuan, ini sudah sampai, Tuan Wonwoo." Suara Ahn Ahjushi agak meninggi dan menggoyangkan pelan tubuh Wonwoo. Wonwoo tersentak dari lamunannya lalu menatap Ahn Ahjushi, ekspresinya bingung.
"Sudah sampai Tuan." Ulang Ahn Ahjushi kesekian kalinya.
"A-ah ne." Wonwoo cepat-cepat membuka pintu mobilnya, entah apa yang membuatnya mengingat masa lalunya hingga ia tak sadar jika mobilnya sudah sampai di gerbang sekolahnya.
"Jungkook, are you okay?" Mingyu menghampiri Jungkook yang sedari tadi menenggelamkan wajahnya di kedua tangannya. Temannya ini memang suka mellow, tapi tak setiap hari Jungkook seperti ini, dia hanya akan murung satu atau dua jam, lalu akan kembali ceria. Tapi sekarang berbeda, Jungkook murung sedari pertama kali menginjakkan kaki di sekolah baru nya hingga hari ini, Mingyu mendadak khawatir.
"Hilangkan aksen Inggris menggelikanmu Kim." Ucap Jungkook yang masih menyembunyikan wajahnya.
"Hey Kook, ayolah kita bukan baru berteman, setidaknya ceritakan sesuatu padaku." Rayu Mingyu sambil menepuk halus pundak Jungkook.
"Kau ingin aku cerita dongeng apa?" Jawab Jungkook ketus masih tak ingin menunjukkan wajahnya.
"Ayolah Kook, jangan seperti ini."
"Seperti apa?" suara Jungkook terdengar parau sekarang, ia mengangkat wajahnya, sontak membuat Mingyu gelagapan.
"Kook, kau tak apa? Matamu ya ampun, kau habis menangis semalaman? Katakan wanita mana yang mengahncurkan hatimu? Akan ku buat perhitungan untuknya." Mingyu mengepalkan tangannya, matanya melotot tajam, rasanya gatal ingin menghajar siapa yang membuat sahabat tercintanya menangis. Ayolah, Jungkook ini terkenal kuat, lihat saja badannya.
"Diamlah Kim, hentikan ocehan tak bermutumu." Jengah Jungkook mendengar kalimat tarmutu Mingyu.
"Ini hari pertama pembelajaran, kuatlah Jeon." Kata Mingyu dengan halus.
Bel istirahat berbunyi, Soekmin bersorak gembira hingga terus mencubit lengan Minghao. Lama liburan membuatnya lelah mengikuti pembelajaran pertamanya di highschool.
"Aw, sakit Soekmin."
"Hehe ayo kantin, Gyu, Kook, ayo kantin."
Jungkook masih diam di tempat duduknya, sebenarnya ia lapar, dari semalam belum makan, tadi ia melewatkan sarapan paginya demi berangkat pagi. Terlalu sakit rasanya jika saat ini harus bertemu Hyung-nya. Mingyu yang melihat tak ada pergerakan pda Jungkook berinisiatif menarik lengannya. Tak ingin sahabatnya mati kealparan di jam istirahat.
"Kajja Jeon. Kita makan." Dengan lemas Jungkook mengikuti ketiga sahabatnya. Kantin berada di lantai dua, sepanjang jalan Mingyu Minghao dan Soekmin terus berceloteh tentang sekolahnya masing-masing sewaktu juniorhighschoool sementara Jungkook terdiam dan terus menundukkan kepalanya.
"Oh, Hoshi Hyung." Teriak Soekmin sambil melambaikan tangannya tinggi. Membuat Jungkook juga penasaran dengan siapa yang di panggil temannya, saat mengangkat wajahnya matanya langsung bertemu dengan Hyung-nya yang juga sedang melihat ke arahnya. Ah Jungkook ingin menangis rasanya.
"Hey Kuda, uang sakumu ga ketinggalan kan?" Soonyoung menghampiri Soekmin diikuti Jihoon, namun Wonwoo masih bergeming di tempat dengan tangan memegang nampan isi makanannya.
"Hahaha, kali ini tidak Hyung."
"Kau sudah ambil makan? Ayo kita duduk bersama, di dekat jendela sana." Jihoon melirik ke belakang melihat Wonwoo masih berdiri di temoat yang sama seperti tadi, wajahnya tertunduk. Jihoon kembali menghadapkan wajahnya ke depan, menatap sosok yang menurutnya familiar, raut wajahnya terlihat sedih. Wajah yang taka sing bagi Lee Jihoon.
"Baik Hyung." Soekmin dan teman-temannya mengambil makan lalu menghampiri kakak kelasnya. Wonwoo sudah bergabung dengan Jihoon dan Soonyoung, mencicipi sedikit makanannya.
"Hyung aku duduk ya."
"O, kau dengan siapa saja?" Tanya Soonyoung. Wonwoo yang melihat ada tambahan orang di meja makannya sontak mengangkat wajahnya dan melihat adiknya masih bediri dengan nampan di tangannya. Tak menatapnya, Jungkook menundukkan kepalanya.
"Aku kenyang, Jihoon kau kembalikkan nampanku ya, aku ingin ke toilet." Tanpa ba-bi-bu, Wonwoo langsung melesat pergi.
"Yak Jeon , makananmu belum kau makan." Teriak Jihoon, namun Wonwoo masih terus berjalan cepat.
Adik kelas mereka hanya terpaku diam menatap kakak kelasnya yang tiba-tiba pergi. Soekmin menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Eum apa karena kita?" Tanya Mingyu canggung.
"Ani, kalian makan saja. Dia mungkin sedang sakit perut, dari tadi ia terus memegang perutnya." Ucap Jihoon lancar. Tak ingin membuat adik kelasnya canggung.
"Benarkah sunbaenim?" Tanya Jungkook cepat. Seluruh atensi memandang Jungkook, terselip nada aneh, seperti khawatir menurut Jihoon.
"O, em, siapa namamu? Duduklah dari tadi kau berdiri terus."
"Oh iya, kenalkan Sunbae, ini Jungkook, yang hitam Mingyu, yang kurus Minghao." Ucap Soekmin yang langsung mendapat jitakan dari Mingyu.
Jungkook? Tak asing. Jihoon mengerutkan kening. Aaaa, ternyata benar. Ini Jungkook kecilnya. Jungkook yang selalu mengikuti Wonwoo saat sekolah dasar dulu. Jungkook yang sangat periang. Adik kecil sahabatnya.
"Sunbae, yang tadi siapa namanya?" cicit Mingyu.
"Yak, kau bertanya nama Wonwoo tapi kau tidak menanyaiku yang jelas-jelas di depanmu." Soonyoung melotot mendengar pertanyaan Mingyu.
"Hehe maaf Sunbaenim. Kalau begitu siapa nama sunbae?"
"Aku Soonyoung dan ini Jihoon."
"Kau juga bisa memanggilnya Hoshi Hyung." Jelas Soekmin.
"Hoshi Hyung?" Tanya Minghao ragu.
"Ahahaha, itu nama panggungku, tak perlu panggil aku seperti itu di sekolah. Panggil saja Soonyoung Hyung."
"Hyung?" Tanya Mingyu dan berbarengan, memperjelas kalimat Soonyoung.
"Iya benar Hyung saja."
Jihoon sedari tadi terus memperhatikan Jungkook yang tak menyentuh makanannya, masih terus menunduk menatap makanannya. Tak ada yang bisa Jihoon lakukan, ia hanya terus mengamati Jungkook hingga mereka selesai makan.
.
.
.
Jihoon menahan Wonwoo yang hendak pulang. Ada pertanyaan yang sudah tak dapat ia tunda lagi untuk ia utarakan pada sahabatnya.
"Kau pulanglah dulu Kwon, aku ada urusan dengan Wonwoo."
"Aku ikut yah." Soonyoung mengedip-kedipkan matanya.
"Enyah kau Kwon. Aku ada urusan." Ucap Jihoon final. Soonyoung hanya menghembuskan nafasnya kasar.
"Baiklah hati-hati baby." Soonyoung mengusak surai lembut kekasinya.
"Kau juga." Ucap Jihoon pelan. Kini dia memfokuskan kembali kepada Wonwoo yang menatapnya datar, seperti biasanya.
"Ada apa Ji?" Wonwoo membuka suaranya yang sedari tadi diam.
"Dia , adikmu kan?" Ucap Jihoon tanpa basa-basi. Wonwoo melototkan matanya setelah mendengar pertanyaan Jihoon. Jihoon mengingat adiknya? Sudah lima tahun mereka tak bertemu, tumbuh kembang Jungkook yang pesat tak membuat Jihoon lupa akan sosok adiknya. Wonwoo langsung menundukkan kepalanya mengangguk lirih mengiyakan pertanyaan Jihoon.
"Lalu kenapa kau kau bilang tak mengenalnya saat Soonyoung bertanya tentang Jungkook waktu itu?" Wonwoo kembali mengangkat wajahnya, kini matanya memancarkan kesedihan saat matanya menatap Jihoon, sahabat terbaiknya. Matanya memanas.
"Entahlah aku hanya, hanya tak ingin." Lirih Wonwoo.
"Tak ingin apa Jeon? Dia adikmu. Kau menyakitinya jika tak menganggapnya adik di depan sahabat-sahabatmu." Suara Jihoon meninggi. Beruntung di kelas hanya ada mereka berdua.
"Menganggapnya adik? Sementara dia penyebab orang tuaku meninggal?" suara Wonwoo tak kalah tinggi. Jihoon terpaku dengan suara Wonwoo, ia tahu, penyebab orang tua Wonwoo meninggal, Wonwoo pernah menceritakannya.
"Mereka tak hanya orang tuamu Wonwoo. Orang tua Jungkook juga. Tak hanya kau yang kehilangan, Jungkook juga. Apalagi dia masih kecil." Ucap Jihoon melembut, mencoba menyentuh tangan Wonwoo.
"Sudahlah Jihoon, jangan bahas dia lagi di depanku. Bersikaplah kau tak tau kalau dia adikku. Kumohon." Ujar Wonwoo memelas, membalas genggaman tangan Jihoon.
"Entahlah Jeon, aku tak bisa berbuat apapun, ini keputusan dan urusanmu. Aku akan selalu mendengarkan ceritamu. Ceritakan apapun, aku selalu menjadi pendengar yang baik untukmu." Jihoon tersenyum lembut yang dib alas anggukan oleh Wonwoo.
"Jja, ayo kita pulang." Jihoon menarik pelan tangan Wonwoo.
.
.
.
Jungkook berdiri di depan gerbang sekolahnya, sudah tigapuluh menit ia berdiri. Setelah mendengar bel pulang berbunyi, ia langsung melesat keluar menuju gerbang, menunggu Hyung-nya, seperti dulu, Jungkook menunggu Hyung-nya keluar kelas lalu pulang sekolah bersama bergandeng tangan menunggu supirnya dating. Bedanya, saat ini Jungkook menunggu Wonwoo bukan di depan kelas, melainkan di depan gerbang, bukan untuk pulang bersama dan bergandeng tangan tetapi sekedar untuk melihat kondisi Hyung-nya yang kata teman mungilnya Hyung-nya sakit perut. Jungkook ingin memastikan Hyung-nya baik-baik saja. Seharusnya Wonwoo sudah keluar tapi hingga saat ini Wonwoo belum Nampak. Kaki Jungkook sudah melemas, hingga sekarang belum ada makanan yang masuk ke perutnya, hanya segelas air putih tadi yang membasahi tenggorokannya.
Tak lama kemudian Wonwoo lewat bersama temannya, Jungkook yang melihat Wonwoo berjalan tegak dan bisa mengobrol dengan temannya lancer membuat senyum di wajah Jungkook merekah. Syukurlah Hyungnya baik-baik saja. Jungkook memilih segera pergi menuju halte, setidaknya perasaan mengganjalnya tentang kondisi Hyung-nya kini terobati. Dalam hati Jungkook berharap Hyungnya terus sehat dan, tersenyum.
.
.
.
Esoknya Wonwoo lebih dulu sampai di meja makan untuk sarapan, saat hendak menyuapkan makanannya tiba-tiba suara mengagetkannya.
"Pagi Hyung." Sapa Jungkook riang dan langsung duduk di mejanya, tau Hyung-nya tak akan membalas sapaanya. Wonwoo hanya melirik lalu kembali menyuapkan makanannya. Suasana meja makan sangat amat tenang, hembusan nafas saja tak terdengar. Jungkook memakan makanannya dengan lahap.
"Aku berangkat Hyung." Jungkook berdiri lalu berlari kecil memanggil supirnya. Wonwoo mengernyit, sedang ceriakah Jungkook? Sepertinya kemaren ia melihat Jungkook terus menunduk. Tanpa terlalu memikirkannya , Wonwoo segera berdiri dan menyambar tasnya.
Setelah masuk mobil, Jungkook terus terdiam, tangannya bergerak menyusuri kaca mobil. Menuliskan kata Hyung yang hanya dapat dibaca olehnya. Bibirnya tertekuk, mencoba bersikap ceria di depan kakaknya sangat sangat sulit. Ingin Jungkook menangis di pundak kakaknya, menyalurkan rasa rindunya selama ini. Anggaplah itu impian Jungkook saat ini.
Sudah hampir sebulan Jungkook sekolah di Pledis Highschool. Hyung-nya masih diam jika berpapasan dengannya. Jungkook sering mengalah pergi jika Soekmin dan teman-temannya bergabung dengan Soonyoung. Daripada kakaknya yang harus pergi, Jungkook lebih memilih mengorbankan dirinya, mencari alasan untuk pergi, menyendiri. Hingga ia menemukan atap sekolah yang sepertinya tak ada yang pernah datang. Seperti saat ini, setelah berasalan ingin membeli minum, Jungkook langsung menuju atap, meniup lantai yang berdebu lalu mendudukan dirinya. Memasang headset yang selalu setia menemaninya, memutar lagu kesukaannya, bernyanyi dengan suara lembutnya. Sebelumnya Jungkook tak pernah bernyanyi di depan siapapun , terkecuali waktu pelajaran menyanyi di depan kelas, itu saja waktu kelas 3 sekolah dasar dan suaranya masih kacau. Kini ia menyadari, suaranya layak untuk bernyanyi. Namun tak pernah ia menyanyi di depan orang, Jungkook masih malu. Mungkin suatu saat ia akan bernyanyi di depan Hyung-nya, bernyanyi untuk Hyung-nya.
"Em, kau menganggu tidurku bocah." Suara serak khas orang bangun terdengar dari belakang Jungkook, sontak Jungkook memutar tubuhnya mencari sosok yang barusan mengatakan sesuatu. Pikirnya hanya Jungkook sendirian di tempat ini, ternyata ada orang di pojokan sana.
"Ma-maaf, aku tak sengaja." Jungkook tergagap saat orang itu menatapnya.
"Taka apa sebenarnya, aku sudah terlalu lama tidur." Siswa itu berusaha berdiri dan menghampiri Jungkook. Entah kenapa Jungkook gelagapan, mungkin karena ia telah bernyanyi di depan orang, tepatnya orang tidur.
"Aa-ku,maaf, mengganggumu." Ucap Jungkook lirih.
"Suaramu merdu, siapa namamu?" suaranya terdengar berat. Jantung Jungkook tiba-tiba berdetak tak karuan, entah karena apa? Karena pujiannya kah? Atau karena ia menanyai nama Jungkook?
"Jungk-kook, Jeon Jungkook." Jungkook tergagap dan membuat lelaki di sampingnya terkekeh gemas.
"Kau siswa baru oh?"
"Ne" Jawab Jungkook lirih menundukkan kepalanya.
"Aku Kim Taehyung. Siswa kelas tiga kalau kau ingin tahu." Ucap Taehyung sambil mengadahkan wajahnya menatap langit biru di atasnya.
"N-ne? A, mian, sunbaenim, a-aku menganggumu. Maafkan aku." Jungkook hendak berdiri dan membungkukkan badannya, dia malu besar di depan kakak kelasnya. Namun tangan besar menahannya pergi, Jungkook melirik tangan kanannya yang kini di genggam sunbae di hadapannya.
"Hei mau kemana? Duduklah, kau tak menggangguku." Tanpa sadar Jungkook langsung menurut, kembali duduk di samping Taehyung.
"Kenapa kau bisa menemukan tempat ini siswa baru?" Taehyung kini mencoba memandang sosok di sampingnya. Imut menggemaskan pikir Taehyung.
"Aku hanya berjalan lalu menemukan tempat ini sunbae." Jawab Jungkook polos dan mendapat kekehan dari Tehyung.
"Hanya itu?" Jungkook menjawab dengan anggukan.
"Aku selalu dating kesini jika sedang banyak pikiran. Apa kau juga?" Taehyung kembali menghadapkan wajahnya kedepan, melihat gedung-gedung tinggi menjulang. Jungkook terdiam lalu dengan ragu menganggukkan kepalanya.
"Tempat ini memang yang paling nyaman untuk membuang waktu. Lagu apa yang kau dengarkan tadi?" Taehyung mencoba mencairkan suasana, tak ingin membuat adik kelasnya canggung.
"Ah ini, lagu-lagu kesukaanku, tadi aku mendengarkan milik bangtan." Jungkook mulai nyaman saat ini hingga ia bisa menjawab lancar pertanyaan sunbaenya.
"Suaru sangat bagus dan lembut. Apa kau penyanyi?" Tanya Taehyung sambil tersenyum dan sukses membuat semburat merah di pipi Jungkook, Taehyung yang melihat itu makin gemas ia akan sosok adik kelasnya ini. Jungkook hanya menggelengkan wajahnya sambil menutupi rona merahnya.
"Aa, suaramu sudah seperti penyanyi saja. Maukah suatu saat nanti kau menyanyi untukku?" Kata Taehyung spontan, Taehyung merutuki kalimatnya barusan, apa-apaan ini Tae, wajah Taehyungpun memerah. Tak jauh berbeda dengan Jungkook, setelah mendengar ucapan sunbaenya ia hanya melotok terkaget, wajahnya kembali memerah, padahal baru beberapa detik yang lalu ia mencoba menetralkan wajahnya. Namun gelengan dari Jungkook membuat Taehyung mengernyitkan dahi. Ada raut kecewa terpancar dari wajahnya.
"Aku tidak bisa janji sunbae. Mungkin suatu saat aku akan menyanyi untukku tapi setelah aku bisa menyanyi untuk Hyungku." Jawab Jungkook lembut sambil tersenyum. Yang mau tak mau membuat senyum kembali hadir di wajah Taehyung.
"Tentu aku akan menunggu itu."
.
.
.
Wonwoo menendang kerikil-kerikil di perjalanan pulangnya, rasanya malas untuk berjalan, dari kecil sampai saat ini Wonwoo masih mengharapkan pintu ajaibnya Doraemon agar ia tak perlu berjalan menuju rumahnya. Sebenarnya bisa saja ia meminta jemput, tapi semenjak kematian orang tuanya, ia akan pulang kerumah jalan kaki atau naik bis.
Mingyu yang hendak pergi ke took buku untuk membeli komik edisi terbaru kesukaannya melihat sesosok yang ia kenal, senyum di wajahnya menunjukkan ekspresi terkagum. Wonwoo Hyung yang selama ini sukses menjadi manusia yang membuat seorang Kim Mingyu memancarkan aura memuja untuk pertama kalinya.
"Wonwoo Hyung." Teriak Mingyu dari jarak hampir 7 meter, mengabaikan tatapan orang yang mungkin terganggu akan teriakannya. Yang di panggilpun menoleh membuat Mingyu berlari untuk menghampirinya.
"Sendirian Hyung?" Tanya Mingyu saat sudah sampai di samping Wonwooo.
"Kau lihat sendiri kan Mingyu?" Wonwoo memutar tubuhnya kembali berjalan mengabaikan Mingyu.
"Hehe, basa basi Hyung. Rumahmu dekat ya Hyung?" Mingyu mencoba menyamakan langkah dengan Wonwoo.
"Banyak Tanya kau Kim." Jawab Wonwoo acuh.
"Dih jutek amat." Lirih Mingyu yang sebenarnya di dengar Wonwoo, namun Wonwoo mengabaikannya.
"Cuacanya cerah ya Hyung, enaknya kaya gini makan eskrim" apalagi sama pacar lanjut Mingyu dalam hati.
"Hm." Hanya gumaman yang di berikan Wonwoo.
"Hyung mau eskrim? Aku traktir deh." Rayu Mingyu.
"Gak." Jawab Wonwoo telak, Mingyu hanya menelan ludahnya mendengar jawaban pujaan hatinya.
"Ayolah Hyung, aku tau suasana hatimu sedang amburadul." Mingyu masih berjuang.
Wonwoo hanya diam tak menanggapi.
"Sebrang ana ada eskrim Hyung. Aku mencicipinya waktu itu dengan Jungkook. Dan rasanya sangat-sangat enak." Sontak mendengar nama adiknya , Wonwoo menatap lekatt Mingyu. Wonwoo terdiam, entah apa yang dipikirkannya.
"Hyung mau? Aku serius akan mentraktirmu?" Mingyu menaikturunkan alisya. Wonwoo masih terdiam dan terus menatap Mingyu.
"Diam berarti iya. Kajja" Mingyu tanpa malu menarik lengan Wonwoo membawanya menuju kedai eskrim, Wonwoopun tak memberontak, entah apa yang membuatnya menurut. Mungkin tak ada salahnya mencicipi eskrim yang sudah pernah Mingyu dan adiknya coba.
"Hyung eskrim rasa apa?" Tanya Jungkook sambil terus mengayunkan kakinya, mereka sedang berada di tamain bermain dekat kompleks rumahnya.
"Hyung cokelat, Hyung tebak pasti Kookie rasa Oreo." Jawab Wonwoo sambil terus memakan eskrimnya.
"Kok Hyung tau sih?" Wonwoo tertawa ternyata tebakannya benar. Jelas ia tau, itu rasa favorit adiknya.
"Besok kita beli lagi ya Hyung."
"Jangan Kookie, kita tak boleh terlalu sering memakan eskrim, nanti sakit perut." Kini Wonwoo menatap adiknya yang begitu imut dengan lelehan eskrim di tangan dan wajahnya.
"Benarkah?" Mata Jungkook membulat lucu. Wonwoo terkekeh lalu mengangkat tangannya membersihkan bibir, pipi dan hidung Jungkook. Sungguh belepotan adiknya ini.
"Kemarikan tangan Kookie, bersihkan eskrimmu yang meleleh ke kaos Hyung." Perintah Wonwoo setelah membersihkan wajah Jungkook. Jungkook-pun langsung mengelap tangannya yang kotor karena lelehan eskrim ke kaos Wonwoo, sementara Wonwoo terus mengelus lembut rambut Jungkook dan sesekali memakan lagi eskrimnya. Sambil terus menghabiskan eskrimnya mereka berceloteh ria entah tentang apapun.
"Hyung mau rasa apa?" Tanya Mingyu.
"Cokelat" Jawab Wonwoo singkat.
"Baiklah, satu cokelat satu rasa bubblegum." Mingyu mengedarkan pandangan mencari tempat duduk.
"Hyung ayo duduk sana dekat kaca." Setelah duduk, Mingyu di buat bingung, entah apa yang harus ia bahas, jadi dia hanya terus mengedarkan pandangannya saja, saat melhat keluar kaca, Mingyu melihat Jungkook yang berjalan sendirian, seketika senyumnya terpampang, siapa tau dengan adanya Jungkook tak membuat suasananya canggung.
"Hyung, ada Jungkook sedang jalan pulang." Wonwoo-pun langsung menoleh melihat ke luar kaca.
"Aku panggil ya Hyung. Siapa tau Jungkook rindu eskrim." Mingyu hendak berdiri namun tangannya di cekal.
"Jangan, biarkan saja." Ucap Wonwoo lirih. Mingyu kembali mendudukkan dirinya di depan Wonwoo. Sempat heran namun tiba-tiba senyum merekah mampir di wajahnya. Rasanya bibirnya hampir sobek, mungkin Wonwoo Hyung ingin berduaan dengannya, wah kesempatan Mingyu terbuka lebar bung. Mingyu menganggukkan kepalanya dan terus tersenyum hingga pesanan mereka dating, senyum itu tak luntur.
Berbeda dengan Wonwoo, dirinya hanya terdiam menatap eskrimnya. Enak memang, tapi tetap enak eskrim masa kecilnya dulu.
tbc
terimakasih sudah mau membaca, maaf ceritanya terlalu biasa.
terimakasih review-reviewnya,terimakasih terimakasih
kalo ada yang mau koreksi, kritik saran, sangat saya terima
ada yang mau di lanjut? atau sudahi saja? :) :D
