Halo ! Saya balik lagi !

jujur... sebenarnya cerita ini seharusnya sudah selesai... tetapi karena muncul ide lain tentang Decieve Actor, aku jadi geregetan untuk membuatnya ! lupakan tentang ucapanku, yang penting... kuharap kau menikmati cerita ini !


Dimalam itu… aku merasakan hal yang berbeda… malam yang terasa sangat menekan. Seorang gadis yang berlari, dan seorang laki-laki remaja yang mempermainkan semua orang. Kisah mereka di awali dari malam itu.

Takane POV

[ aku sendirian… ] sangat takut dan kesepian. Di pojok ruangan yang sangat familiar. Aku belum sempat membaca sampai habis buku yang kubaca, belum meng-save game yang baru saja kumenangkan. Tubuhku gemetar ketakutan. Suara sirine dan teriakan histeris terdengar dari berbagai arah.

'kumohon… hentikan sudah…' pekik gadis itu di dalam hatinya. Ia menggunakan Headphone miliknya demi meredakan ketakutannya. Dengan jaket yang tidak ia ingat bahwa ia memakainya. Suara itu pun kembali bergemuruh.

[ maaf harus mengatakan hal ini… dunia ini akan segera berakhir…] ucap pak presiden sambil terisak. Tidak salah lagi… ini adalah… KIAMAT, kan ?

[ kau dengar aku ? ] suara itu… sangat familiar. Dan sangat kuketahui.

[ tak perlu banyak bertanya, ikuti saja ucapanku. Atau kau tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, bukan ? ] jelasnya. Kemudian aku berdiri dan berlari dari ruangan itu. berharap bahwa pelarian ini bukanlah akhir dari umat manusia nantinya.

'suara ini… tidak lain adalah suaraku sendiri…'


Kano POV

"sungguh menyenangkan sekali…" ucap ku. mata kucing miliknya melihat dengan cermat. Seringainya pun selalu tersungging di bibirnya. Ia tengah berjalan di sebuah kota malam dengan suasana hati yang sangat senang.

"Hai !" sapa seseorang. pria bertubuh lebih tinggi satu centimeter itu berjalan mendekati ku.

"Wah ! lama tak bertemu !" sahutnya. Aku dan dia berbincang cukup lama di tengah malam itu. pada saat itu sedang ada bulan sabit yang indah dengan beberapa burung berterbangan.

"sepertinya hari ini banyak burung bermigrasi ya, haha !" ujar pria itu. aku berseringai setelah itu.

"yah… mungkin sebentar lagi musim dingin…" ucapku. Aku tidak pernah mengeluarkan lelucon biasanya, tetapi yah biarkan saja toh sebenarnya sebentar lagi adalah musim panas.

"sudah dulu ya, Kano. Aku mau ada acara. Bye !" ucapnya kemudian meninggalkanku.

"Bye !" jawabku balik. Berseringai dan menertawakan pria itu. sungguh pria yang bodoh. Terhasut dengan mudahnya kedalam lelucon yang hanya menjadi khayalannya saja. Setelah kembali berseringai dan tertawa kecil, aku berjalan pergi menuju ke suatu tempat yang sebenarnya… tidak ada.


Takane POV

Aku terus berlari dan berlari. Melewati beberapa orang dan kadang aku menabrak mereka. Mereka tengah kabur dari KIAMAT ini. Banyak burung berterbangan menjauh dan menyelamatkan diri. Bulan sabit yang sangat indah itu bersinar menerangi jalan.

[ tinggal 20 detik lagi ] ujarnya. Aku takut. Bahkan sempat bergetar. Mataku perih, sakit, dan bahkan hingga air mata hangat itu mengalir. Sungguh, aku sudah muak dengan semua ini. Cepatlah berakhir dengan indah.

Banyak orang-orang berkerumun dan ada juga yang sedang panic. Apakah… jika aku selamat… umat manusia tidak akan berakhir sampai di sini ?


Kano POV

Entah perasaan apa yang sedang kualami malam ini. Aku sangat senang bahkan nyaris menangis. Rambu lalu lintas malam bersinar dengan indah. Diantara kerumunan orang yang sedang berjalan seorang [ Monster ] tengah berjalan di antara mereka. Menipu mereka dengan topeng yang dibuatnya.

Bukankah sangat menyenangkan bila kita mempunyai percakapan yang luar biasa ? aku sangat menginginkan percakapan tentang hal itu.

Tetapi percakapan apa yang harus ku buat ? apakah tentang seorang gadis polos, atau tentang laki-laki baik dan ramah ? Terserah saja toh aku tidak peduli.

Ah, aku sangat ingin menguasai dunia ini… sepertinya menyenangkan. Kemudian aku berjalan menuju sebuah gang dan sebuah tembok yang menandakan bahwa jalan itu buntu. Dan kemudian aku mengeluarkan semprotan yang berisikan cat dan menuliskan sesuatu disana.

"Ah… lebih baik aku kembali berjalan…" ucapku dan kemudian meninggalkan tempat itu.


Takane POV

Di tengah banyak orang. Banyak sesuatu yang terjadi. Seorang pria yang terluka, gadis yang berteriak, dan bayi yang menangis. Dan disaat itu seorang pendeta melewati mereka semua. Di saat yang bersamaan aku berlari kearah yang berlawanan.

[ 12 menit tersisa ] ia kembali berucap. Sangat… aku sangat takut…aku mencoba untuk melarikan diri dan menyelamatkan diri dari kejadian ini. Aku tahu aku hanya bisa mengikuti ucapannya saja sekarang. Atau sesuatu yang lebih buruk akan terjadi…


Kano POV

Masih berjalan dan berjalan. Dengan santainya berseringai kepada orang-orang yang telah terhasut oleh kata-kataku. Sungguh mengenaskan…

Kemudian sesuatu terlintas di benakku. Sesosok diriku yang lainnya tengah berdiri menatapku tajam dan ketus.

"itu semua hanya kebohongan bukan…" ujarnya.

"tidak… itu semua adalah kebenaran." Balasku seraya tersenyum senang. Tetapi terlihat dari tatapannya saja aku tahu bahwa itu artinya adalah [ Tidak ].

Ternyata menjadi seorang gadis manis dan seorang laki-laki baik dan ramah hanyalah membuat hatiku terasa berat. Aku emnatap sang rembulan di antara tumpukan barang rongsokan. Ya, benar. Ini adalah tempat terindah untuk melihat bulan sabit yang kini sedang menyinari dirinya. Sepertinya ini adalah akhir dari perbincangan yang luar biasa hari ini.


Takane POV

Nafasku hampir habis dan kini sebuah gunung setinggi langit berada di depanku. Dan ketika aku sampai diatas sana, aku kemudian mencoba men-stabilkan diriku. Tetapi sepertinya semua itu bukanlah sesuatu yang tepat disaat ini.

"Mengagumkan." Ia berkata. Mataku terbelalak dengan sangat terkejutnya. Kemudian ia menggenggam sebuah bola hitam yang kini ia lempar ke sebuah kota yang berada tepat dibelakangku. Kota itu pun hancur seketika.


Normal POV

Kano tersenyum dan melempar topeng yang ia biasa pakai untuk menipu semua orang. Ia tersenyum dan kemudian membungkuk.

[ Hei hari ini sangat menyenangkan. Bagaimana kalau kita mempunyai percakapan luarbiasa lainnya nantin ? ]

Takane bergemetar dan matanya pun membuyar. Pandangannya kacau akibat sebuah gas dan keterkejutan miliknya. Ia bisa mendengar kata-kata terakhir yang di ucapkan gadis penolong hidupnya itu.

[ Maaf ]


"Halo, Minna !" sahut Ene.

"dasar Virus sialan… kau mau membuatku tuli, hah ?" tanya Shintaro kesal.

"aku tidak peduli kok…" jelas Ene. Tanpa disadari, Kano yang sedari tadi berada di ruangan Mekakushidan itu menatap gadis Cyber itu. gadis itu tidak pernah tertipu oleh topeng miliknya. Ia selalu melihat jati diri Kano yang sebenarnya.

'perasaan ini lagi…' pekik Kano dalam hatinya. Ia meremas perasaan itu dan mencoba kembali menjadi dirinya yang biasa sebisa yang ia bisa. Dan kemudian, Ene yang menyadari bahwa ia di perhatikan pun menoleh kesumbernya, Kano. Ia mengingat perbincangan mereka beberapa waktu yang lalu.

"sejak kejadian 'kiamat' itu… kupikir semuanya sudah terlewatkan…. Aku bingung harus merasa bersyukur atau malah kecewa." Jelas Ene kemudian menatap Kano penuh makna.

"kau mau menceritakannya ?" tanya Kano.

"euhm… mungkin tidak untuk sekarang !" jawabnya riang.

Ene mengernyit. Ia tidak ingin keadaan menjadi kembali memburuk. Kemudian ia menyuruh Shintaro untuk memberikan ponselnya kepada Kano.

"kau kenapa, huh ? ada masalah ?" Tanya Ene yang kini sudah berada di dekat Kano tetapi masih di genggaman Shintaro.

"hah, huh ? tidak kok, Ene-chan !" jawab Kano terbata. Ia tahu bahwa ia tidak bisa berbohong kepada Ene.

Ene kembali mengernyit. Ia tahu bahwa Kano tidak sedang 'baik-baik saja.' Tetapi jika semua pertanyaan yang akan dilontarkannya ia acuhkan, mungkin ia bisa saja meringankan masalah Kano.

"terserah kau saja deh… kau tahu tidak ? sebenarnya aku tahu kau dalam kondisi tidak sedang 'baik-baik saja' tetapi… aku ingin kau bersemangat seperti biasanya." Jelas Ene. Kano terbelalak. Ia merasakan senang dan Haru. Mungkin ia tidak bisa menipu gadis Cyber itu, tetapi setidaknya ia bisa membuatnya senang itu sudah cukup.

"yah… jika itu maumu… akan kulakukan." Jelas Kano.

"bagus kalau begitu !" ujar Ene.

"jujur, sebenarnya aku tidak mengerti apa yang sebenarnya kalian bicarakan…" ujar Shintaro. Kemudian Ene dan Shintaro melirik geli Shintaro.

"master…"

"Shintaro-kun…"

"Kau tidak perlu mengetahuinya…" jawab Ene dan Kano serempak.

"Ho-Hoi !" ucap Shintaro dan keadaan kembali menjadi Normal.

- OWARI...|


yah... ini memang sangat pendek... tetapi aku yakin kalian pasti menyukainya, Deshou ?

aku sangat senang kalau kalian menyukai cerita yang-umm..- pendek ini...

YAK ! Satu kata lagi dari saya ! Review Please, and You can get another Wonderful Story ! ^^

Arigatou Gozaimasu...