Tak Ada Yang Spesial Dariku

.

.

.

.

.

.

.

"Aku akan memasak dulu sayang"

"Baiklah, kalau kau membutuhkanku aku ada diruang komputer Hime"

"Ehmmm, jangan sampai lupa makan malam!"

"Hahaha.. Siap Ibu Negara"

Setelah sedikit menggoda Hinata kulanjutkan dengan menyalakan komputer dan coding. Bagi kalian yang masih asing dengan coding ialah pemrograman dengan bahasa tertentu agar komputer menjalankan apa yang kita minta. Yah memang inilah pekerjaanku. Bila sudah begini aku bisa berjam-jam didepan komputer. Karena pada dasarnya coding tidak dapat dilakukan secara cepat.

"Sayang ayo makan dahulu" kudengar panggilan bersifat ajakan dari Hinata dari dapur mungkin.

"Sebentar lagi Hime" kujawab sekenannya saja, hahaha.

"Selalu saja begitu, apa kau mau menikah dengan komputer?" Akhirnya omelan khas Hinata mulai keluar.

"Ya tidak mungkin.. "

"Hmmm text berbaris itu lagi itu lagi" ucap Hinata saat sudah berada disampingku.

Kuputar kursi kerjaku menghadap Hinata dan dengan jelas ia sudah melotot. "Bagaimana lagi?…."

"Hmmm, Ayo makan dulu.. Etttt sebentar, sini smartphonemu" paksa hinata sambil mengambil smartphoneku dan mulai memeriksanya.

"Tidak ada yang aneh Hime" Balasku pasrah, karena memang tidak ada yang kusembunyikan di Smartphone tersebut.

"Lalu ini siapa di inbox mu yang bernama Ino?"

"Dia teman kerja Hime"

"Cantik dan seksi, rambutnya dicat ya? Cewek nakal!"

"Bukan, memang rambutnya pirang begitu Hime"

"Terserah, pokoknya mulai saat ini account mu semua aku yang pegang" perintah sepihak anggota keluarga Hyuuga ini.

"Lalu bagaimana denganku? Dan itu kebanyakan menyangkut kerja!" belaku, karena bagaimanapun account tersebut memang diperlukan untuk komukiasi kerja

"Kamu membentakku?" Teriak Hinata setelah mendengar sedikit nada tinggi dariku.

"Tidak. Maaf hime, maaf."

"Hiks.. mulai sekarang kamu menggunakan account ku."

"Baiklah."

"Dan soal urusan kerja kamu bisa resign saja, pindah ke tempat ku. Apa kamu masih tetap menolak bekerja ditempatku?"

"Hime sayang, aku tak bisa resign begitu saja. Bagaimana pun Yamato-san banyak membantuku." terangku.

"Hiks.. hiks.. baiklah kalau itu maumu. Ayo kita sekarang makan malam.."

Baiklah aku akan menceritakan mengenai diriku sedikit lebih lanjut. Nama lengkapku Namikaze Naruto. Sebelumnya aku sudah menceritakan mengenai umur dan pekerjaan ku. Aku sudah menjadi yatim-piatu dari mulai usia 5 tahun. Ayah dan ibuku seorang imigran, ibuku meninggal saat aku usia 3 tahun karena sakit paru-paru. Sedangkan ayahku meninggal karena kecelakaan kerja di konstruksi bagunan. Setelah meninggalnya kedua orang tua ku aku dititipkan dipanti asuhan hingga usia 15 tahun. Yah kau tahu kan memang batas di panti asuhan hanya sampai 15 tahun. Kenapa aku dititipkan dipanti asuhan? Ya karena kedua orang tua ku imigran, otomatis aku tak tahu siapa kakek nenekku. Setelah lepas dari panti asuhan aku mulai mencari pekerjaan seadanya yang mau menerima bocah 15 tahun. Dan sampai akhirnya aku bertemu Yamato-san, dialah yang mau menerimaku bekerja ditempatnya, disebuah cafe sebagai waitress. Banyak orang yang bilang kalau aku itu sedikit jenius, padahal kurasa aku biasa saja.

Namun aku merasa aneh bagaimana aku yang biasa saja bisa diterima di Universitas ternama, mungkin omongan orang mengenai aku yang sedikit jenius itu benar. Di Universitas lah aku bertemu Hinata, sejak semester 1 aku memang sudah menyukainya. Namun hal tersebut kusembunyikan karena yahh kau tahu Hinata dari keluarga bangsawan. Aku harus bercermin 'Siapakah kamu' setelah itu aku mulai membuang rasa sukaku terhadap Hinata. Namun hal tak disangka terjadi, diakhir semester dua Hinata menyatakan perasaan kepadaku. Aku yang waktu tersebut bingung dan merasa aneh "Apa yang kau lihat dariku Hinata?". Pertanyaan tersebut sering terlintas hingga sakarang.

Aku lulus dengan sedikit cepat, yahh sekitar 7 semester dan Hinata lebih extreme lagi ia hanya memerlukan 6 semester untuk lulus, padahal normalnya adalah 8 semester. Setelah lulus Hinata meneruskan salah satu usaha keluarganya dan disambi dengan kuliah untuk jenjang lebih tinggi. Disemester 7 lah semua biaya kuliah ku mulai ditanggung oleh Hinata, untuk semester 1-6 aku sendiri yang membayar dengan hasil kerjaku. "Kenapa" kalian pasti bertanya-tanya seperti tersebut. Menurut Hinata semester akhir lebih baik fokus mengerjakan Tugas Akhir dan mengenai keuangan "biar aku saja yang urus". Aku lulus dengan IPK yang lumayan yakni 3.79, banyak perusahaan yang menawarkan pekerjaan kepadaku. Namun akhirnya aku memilih untuk bekerja di Software House milik Yamato-san sebagai balas budi. Yah memang begitulah sedikit kisahku.

Dari sedikit kisahku, akhir dari hubungan ku dengan Hinata-lah yang kukhawatirkan. "Apakah keluarganya mau menerimaku?"

.

.

.

.

.

.

TBC/END?