Title: [Sekuel] Summer Kiss
(Tinkxx)
– Jinyoung x Daehwi –
an: saya bikin ini sambil dengerin summer kiss-nya clc sama oh! my angel-nya sewoon. nggak ngefek juga sih, kali aja mau dengerin:( recommend lagu dari saya hehe.
– Summer Kiss –
–
"Sudah memberitahu Somi?"
"Sudah!" Teriak Daehwi lantang dari dalam kamar pada Jinyoung yang ada di dapur. Ia masih sibuk mengepak barang-barang pribadinya dalam tas kecil, ia tidak perlu lagi bingung dengan baju-bajunya, karena itu semua sudah diurus Jinyoung.
Daehwi benar-benar senang sekali hari ini. Ia bahkan tidak peduli pada puluhan pesan Somi yang isinya protesan karena diberitahu mendadak tentang liburan dua harinya. Saking kesalnya Somi sampai beranggapan kalau Daehwi cuma mau pamer. Tapi, ya, karena mereka sudah kenal lama, Daehwi jadi tidak begitu mempedulikan ucapan Somi yang mengatakan kalau ia sombong, karena ia tahu Somi cuma bercanda dengan ucapannya.
Setelah selesai mengepak barangnya, ia menyeret koper kecil mereka keluar dari kamar. Ia bertemu Jinyoung yang masih sibuk melepas steker barang-barang elektronik dari stopkontak.
Pandangan Jinyoung beralih ke Daehwi yang sudah siap dan duduk di atas koper. Ia meraih tangan Daehwi dan menariknya berdiri, sedangkan tangan lainnya mengangkat koper. "Kita pergi sekarang?" Tanya Jinyoung.
"Iya, ayo!" Daehwi mengangguk antusias. "Sudah siap semua, hyung?"
"Sudah, Sayang. Ayo, nanti makin siang," ucap Jinyoung sembari menarik pelan tangan Daehwi, ia mengunci pintunya dan berjalan ke arah parkiran.
Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, mereka masuk ke dalam mobil dan memulai perjalanan mereka. Tujuannya tidak seberapa jauh, cuma tiga jam dari apartemen mereka. Daehwi masih bingung mau dibawa kemana, tapi ia diam saja tidak mau menganggu Jinyoung yang masih menyetir mobilnya. Baru setelah dua jam perjalanan, laut mulai terlihat dan Daehwi berdecak kagum melihatnya.
"Kenapa ke pantai, hyung?" Tanya Daehwi sembari membuka jendela mobilnya. Ia tersenyum senang dengan tangan yang dikeluarkan untuk merasakan semilir angin mengenai tangannya.
"Ada hotel bagus di sekitar sini. Kau bilang mau menginap di hotel?"
"Aku mau soalnya aku mau renang," katanya sambil lalu dengan wajah yang tidak menatap Jinyoung sama sekali. Ia sibuk merasakan semilir angin yang mengenai wajahnya. Beda sekali dengan angin yang selalu ia rasakan selama ini. Maklum saja, Daehwi adalah orang yang selalu tinggal di kota besar, ia jarang pergi ke kota-kota kecil atau ke desa.
Karena hal itu juga Jinyoung akhirnya memutuskan untuk membawa Daehwi ke salah satu kota kecil yang beberapa waktu lalu membangun sebuah hotel besar yang bagus.
Setelah sampai di parkiran hotel, Daehwi bergegas keluar dan masuk lebih dulu ke dalam lobby, lalu mendudukkan dirinya di salah satu sofa yang ada disana. Matanya berkilat senang melihat Jinyoung yang masuk setelahnya sambil memberikan koper ke Daehwi dan meninggalkannya untuk memesan kamar mereka ke resepsionis.
Jinyoung memberi gestur pada Daehwi untuk mengikutinya. Ia memutuskan pergi sendiri setelah sebelumnya menolak dengan halus pelayan hotel yang mau mengantarkan mereka ke kamar. Bukan apa-apa, Daehwi pasti akan bertanya aneh-aneh dan ia tidak mau membuat pelayan tadi canggung-walaupun mungkin pelayan itu bisa bersikap profesional, tapi tetap saja Jinyoung tidak mau.
Daehwi menggamit lengannya dan menariknya agar berjalan lebih cepat. Tidak peduli pada Jinyoung yang kepayahan membawa koper. "Kau benar-benar mengajakku menginap di hotel, hyung?"
"Kalau itu keinginanmu, aku bisa apa?" Tanya Jinyoung balik dengan tangan yang masih sempat menepuk pelan puncak kepala Daehwi. Akhirnya mereka berhenti di salah satu kamar dan Jinyoung membuka kuncinya dengan cepat.
Daehwi berlari mengitari kamarnya dengan senang. Entah kenapa ia punya obsesi sendiri dengan hotel, itu cukup aneh tapi ia merasa biasa saja. Dari dulu ia selalu suka kalau Mamanya mengajaknya ke hotel untuk menginap di acara jalan-jalan mereka. Ia juga kemungkinan baik-baik saja kalau cuma berdiam diri di hotel. Alasan ia mau menginap di hotel sebenarnya karena ia penasaran dengan kolam renangnya. Ia merasa kalau ia harus merasakan semua kolam renang yang ada di semua hotel bagus.
Daehwi terkikik ketika mengintip dari balik gorden besar yang ada di kamar mereka, yang langsung menghadap ke kolam renang. "Kolamnya besar, hyung. Aku renang, ya!" Tanyanya dengan mata yang masih terhipnotis pemandangan didepannya. Kolam yang ada dibawahnya terlihat seperti kolam khusus untuk dirinya, ditambah pemandangan laut yang terlihat jelas dari sana.
Jinyoung yang masih menata barang bawaan mereka cuma bisa tersenyum sembari menghela napas. Bukannya membantu tapi Daehwi malah sibuk melihat pemandangan kolam dan alam yang tersaji di depannya. Ia bahkan bisa dengan jelas mendengar keluhan Daehwi ketika dengan susah payah membuka jendela besar itu tapi ternyata tetap tidak bisa.
"Jendelanya memang tidak bisa dibuka, Hwi."
"Padahal aku mau lihat."
Jinyoung memutar bola matanya lelah. "Kau akan jatuh kalau jendela sebesar itu dibuka. Kalau mau lihat, ke bawah sana."
Daehwi mendesah pasrah. Ia mendekati kasur dan berbaring disana. Ia mendekati Jinyoung yang terduduk di tepi kasur dengan tangan yang masih sibuk mengeluarkan barang bawaan mereka dari koper kecil. Daehwi tersenyum dan memeluk tubuh Jinyoung dari samping. "Hyung, masih lama?"
Jinyoung diam saja. Setelah selesai mengeluarkan baju ganti Daehwi, ia menoleh melihat Daehwi yang menyembunyikan wajahnya di paha Jinyoung. Tangannya bergerak pelan untuk mengelus surai itu. "Kenapa?"
"Aku mau renang, kolamnya sepi."
"Ya sudah, ke bawah duluan sana."
"Terus hyung bagaimana?"
"Aku merapikan ini dulu," ucap Jinyoung sembari mendudukkan tubuh Daehwi di kasur. Daehwi tertawa geli ketika tangan Jinyoung menyentuh ketiaknya-yang untung saja kakinya tidak bergerak refleks untuk menendang Jinyoung yang tepat di depannya.
Jinyoung ikut tersenyum geli ketika memperhatikan wajah Daehwi yang mengerut lucu. Inginnya menggoda lebih jauh lagi, tapi ia takut kelepasan, jadi akhirnya ia melepaskan tangannya yang semula ada di bagian samping tubuh Daehwi. Ia menepuk puncak kepala Daehwi pelan dan memberikan celana pendek pada pemuda itu. "Celananya pakai ini, kaosnya pakai yang sekarang kau pakai saja. Jangan kebanyakan ganti baju, kasian Bibi Ha yang mengerjakan laundry."
Daehwi membalasnya dengan anggukan semangat. Setelah menerima celana yang diberi Jinyoung, ia bergegas mengambil sandal dan berlari keluar hotel. Tapi, kemudian ia kembali ke kamar dan berdiri di hadapan Jinyoung untuk mengecup bibir pemuda itu. "Aku tunggu dibawah, hyung."
"Iya, bersenang-senanglah," balas Jinyoung sembari memperhatikan sosok mungilnya yang berlari riang keluar kamar. Ia kembali menata barang-barang yang ada di koper mereka. Memang sudah kebiasaannya sih selalu menyiapkan baju Daehwi kalau mereka mau liburan. Daehwi cuma harus menyiapkan barang-barang kecilnya, ia tidak harus bingung menyiapkan baju-bajunya. Sesayang itulah Jinyoung sampai mau menyiapkan segalanya untuk Daehwi.
Sudah hampir dua jam Jinyoung tertidur, artinya dua jam pula Daehwi berenang. Ia terbatuk saking paniknya ketika mengingat Daehwi. Matanya bergerak kesana kemari karena bingung, langkahnya berhenti di jendela besar yang sedari tadi dimainkan Daehwi, ia melihat ke bawah dan melihat pacarnya itu masih bergerak tidak beraturan di air. Sendirian. Syukurlah. Ia kira Daehwi akan bermain dengan bule asing. Tapi mengingat minggu ini yang bukan hari libur rasanya tidak aneh kalau hotel ini sepi.
Ia pun menghela napas setelah tahu Daehwi baik-baik saja. Dengan terburu-buru ia mengambil handuk dan baju ganti untuk Daehwi. Tidak lupa membawa hairdryer untuk mengeringkan rambut Daehwi.
Ia berjalan santai di koridor hotel dan tersenyum beberapa kali ketika ada pelayan hotel yang tersenyum padanya. Setelah beberapa menit, akhirnya ia sampai juga di kolam renang. Hampir saja ia tidak mau mengakui Daehwi yang saat ini sudah menari di dalam kolam dengan tidak tahu malu.
"Hyung! Ayo masuk, sini!" Teriak Daehwi senang ketika melihat Jinyoung berjalan ke arahnya.
Jinyoung cuma menggeleng pasrah melihat wajah Daehwi sudah pucat karena terlalu lama di dalam air. Tangannya terulur untuk menarik Daehwi, tapi dengan kurang ajarnya Daehwi malah semakin menjauh ke tepi kolam renang yang lain. "Ayo keluar, sudah siang, Hwi. Katanya mau ke pantai?"
Daehwi menggelengkan kepalanya. Ia menunjuk dengan antusias pemandangan yang ada dibalik kaca tepi kolam. "Tapi disini lebih bagus pemandangannya, hyung. Aku bahkan bisa melihat laut dengan jelas disini."
"Iya, memang bagus. Tapi kalau terlalu lama kau akan kedinginan, jarimu akan berkerut."
Daehwi mendekat, ia meraih handuk yang dibawa Jinyoung guna mengusap tangannya yang basah. Ia mendongak menatap Jinyoung yang masih berjongkok di tepi kolam. Ia mengulurkan tangannya, menunjukkam ujung jari-jarinya yang berkerut. "Dari tadi juga sudah berkerut, hyung."
Helaan napas terdengar dari Jinyoung. Ia memaksakan senyum dan mengelus surai Daehwi yang sudah basah. "Ayo, keluar, nanti sakit."
"Hyung dulu yang pergi, aku menyusul," kata Daehwi kukuh. Ia bersedekap dan berdiri di tengah kolam. Jinyoung membiarkannya, ia malah duduk di tepi kolam dengan matanya yang menatap lurus mata Daehwi. Dengan sesekali menyisip minuman milik pemuda itu.
Sedangkan yang ditatap lama-lama merasa malu. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan berjalan mendekati Jinyoung. Matanya menatap takut-takut. "Jinyoung hyung marah?"
Jinyoung menggeleng. Ia mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Daehwi. Jinyoung cuma bisa memutar bola matanya lelah ketika merasakan tangan Daehwi yang benar-benar dingin. "Aku temani mandi, ayo."
"Maksudnya hyung ikut masuk ke kamar mandi?"
"M-maksudku aku tunggu di luar."
Daehwi tertawa keras melihat Jinyoung yang mengipasi wajahnya dengan tangan karena malu wajahnya memerah. Ia membantu Jinyoung membawa baju gantinya sendiri. Setelah sampai di ruang ganti, ia langsung masuk ke salah satu bilik. Jinyoung memilih duduk di kursi depan kaca, dengan tangan yang memegang hairdryer.
"Hyung, dingin sekali!" Teriak Daehwi heboh dari dalam kamar mandi. Ia berulang kali mengeluh karena kedinginan dan Jinyoung cuma mengiyakan sambil kesal. Badan Daehwi itu terlalu kurus sampai kena air begitu saja ia kedinginan-kecuali kalau berenang, ia menahan diri untuk tidak teriak. Ingatkan Jinyoung untuk memberikan Daehwi makan lebih banyak.
"Hyung, kau masih disana? Jangan pergi kemana-mana." Tanyanya ketika Jinyoung tidak terdengar suaranya.
"Aku bahkan tidak bergerak satu senti pun, Hwi." Jinyoung berkata dengan mata yang tetap fokus pada pintu kamar mandi Daehwi. Ia pastikan kalau pemuda itu akan keluar sebentar lagi dan-
"Oke, aku selesai." Daehwi keluar sambil menggigil. Jinyoung tersenyum senang karena tebakannya benar.
"Kemarilah." Jinyoung memberi gestur pada Daehwi yang baru saja keluar dari kamar mandi agar mendekatinya. Ia mendudukkan Daehwi di sebuah kursi kecil yang tadi ia temukan di pojok ruangan, sementara dirinya duduk di kursi yang lebih tinggi.
Dengan reflek Daehwi menjatuhkan kepalanya ke paha Jinyoung dan bersiap-siap untuk memejamkan matanya kalau saja tangan Jinyoung tidak menggelitiki lehernya. "Aku pusing, hyung," katanya sembari mengangkat kepalanya.
"Setelah rambutmu dikeringkan, pasti tidak pusing lagi," ucap Jinyoung yang sedang mengeringkan rambut basah Daehwi. Ia sedikit memijatnya, siapa tahu pusingnya sedikit hilang.
"Kalau masih pusing?"
"Pukul aku, siapa tahu pusingnya hilang."
"Mana ada yang seperti itu?" Erang Daehwi kesal. Rasanya ia mau memukul kepalanya sendiri kalau sudah pusing begini. Tapi, ia cuma bisa merintih pelan ketika kepalanya kembali berdenyut. Ia kembali mengistirahatkan kepalanya di paha Jinyoung dan kali ini Jinyoung diam saja tidak menolak.
Matanya terpejam merasakan pijatan tangan Jinyoung di kepalanya. Ia berulang kali menguap sambil mengusap matanya karena mengantuk. "Ngantuk?"
Daehwi mengiyakan pertanyaan Jinyoung sembari memeluk satu kaki Jinyoung. "Kalau begitu ayo kembali ke kamar. Kau harus tidur," ucapnya seraya mematikan hairdryer dan menyisir rambut Daehwi agar terlihat rapi. Ia bangkit dari duduknya diikuti Daehwi yang mengikuti di belakang.
Jinyoung tertawa sesaat ketika menoleh dan melihat Daehwi yang mengedipkan matanya berulang kali. Ia mendekati Jinyoung dan memeluk pemuda yang lebih tua darinya itu. "Gendong, hyung."
Jinyoung mengelus surai belakang Daehwi dengan sayang. "Jangan manja, banyak orang disini. Pegang lenganku saja, ya," ucapnya yang kemudian melepaskan pelukannya. Perlahan ia menangkup sebelah pipi Daehwi. Ia mengangkat wajah kecil itu dengan pelan dan melihat Daehwi sudah mengerucutkan bibirnya. Secara tiba-tiba Jinyoung mencium bibirnya dan menarik tubuhnya mendekat.
Jinyoung tertawa pelan ketika melepaskan ciumannya. Tangannya kembali merapikan rambut Daehwi dan mencubit gemas pipinya. Dengan bibir yang masih dimanyunkan, Daehwi menggamit lengan Jinyoung dan menariknya keluar dari ruang ganti.
Setelah di kamar, Jinyoung menyuruh Daehwi untuk tidur, sementara dirinya memilih untuk duduk di samping Daehwi sambil membaca novelnya. "Hyung, maaf, kita jadi tidak bisa ke pantai karena aku," lirih Daehwi. Tangannya mengusap matanya karena mengantuk. Ia mengangkat kepalanya untuk tidur di atas paha Jinyoung yang menurutnya cocok dibuat bantal.
"Yang penting itu kesehatanmu. Pantainya tidak akan pergi kemana-mana." Jinyoung berkata dengan tangan yang mengelus pelipis Daehwi pelan. "Selamat tidur."
"Hyung! Ayo ke pantai sekarang!" Pekik Daehwi antusias tanpa menoleh ke arah Jinyoung yang semakin menyembunyikan wajahnya di bantal.
Berulang kali pemuda bermarga Bae itu menggeleng dan bergumam kalau ia tidak akan pergi keluar malam-malam ke pantai. Ia bahkan tidak mengindahkan Daehwi yang sudah marah-marah mengatakan kalau Jinyoung itu penakut. Menurutnya lebih baik dibilang penakut daripada dipaksa keluar malam-malam ke pantai.
Sebenarnya Jinyoung bukannya takut pada malam ataupun gelap, ia cuma takut dengan laut malam. Ia trauma karena noonanya pernah terseret arus laut di malam hari. Walaupun sempat dilarikan di rumah sakit, tapi nyawanya tidak tertolong. Sejak saat itu Jinyoung selalu merasa takut pada laut di malam hari.
Daehwi sendiri sebenarnya sudah tahu akan hal itu, Jinyoung sudah menceritakan segalanya dan ia ingat segalanya juga. Hanya saja kalau Jinyoung tidak bisa melawan ketakutannya, bagaimana nanti kedepannya? Siapa yang tahu kalau nanti Jinyoung akan bertugas menjaga mercusuar, sekalipun jurusannya adalah Manajemen? Tidak akan ada yang tahu.
"Hyung, serius tidak mau?" Tanya Daehwi yang sekarang duduk di tepi kasur dengan tangan yang mengelus surai Jinyoung pelan.
"Aku takut, Hwi."
"Mau sampai kapan?"
Jinyoung terdiam. Perlahan ia mendekati Daehwi dan menyembunyikan wajahnya di perut Daehwi. Tangannya memeluk erat perut kecil pemuda itu.
Daehwi bisa merasakan tangan Jinyoung yang gemetar di punggungnya, kepalan tangannya mengerat di bagian belakang bajunya. "Jangan paksa aku, ya, Hwi."
Kalau sudah begini bagaimana bisa ia menolak permintaan Jinyoung, ia tidak akan bisa memaksanya ke pantai lagi. Niatnya cuma mau membantu menghilangkan trauma Jinyoung pelan-pelan, tapi ia tidak tega kalau sudah melihat Jinyoung gemetar seperti ini.
"Kita makan saja, ya, hyung."
Jinyoung mendongak dengan bibirnya yang pucat pasi karena ketakutan. Perlahan Daehwi mendekatkan wajahnya pada Jinyoung, cuma untuk mengecup pelan bibir Jinyoung. "Jangan takut, hyung, aku disini. Aku tidak akan memaksa lagi."
Setelah berkata begitu, Daehwi memindahkan kepala Jinyoung kembali ke bantalnya. Ia meraih dompetnya dan pergi keluar kamar.
Jinyoung menatap kepergiannya dengan sedih. Gara-gara dirinya Daehwi jadi tidak bisa melihat laut malam seperti yang sebenarnya ia inginkan. Bahkan untuk membeli makan saja Daehwi yang harus membelinya. Pacar macam apa ia ini!
Ia meraih segelas air mineral yang sebelumnya disiapkan oleh Daehwi dan meminumnya. Rasa takutnya benar-benar parah kali ini, bahkan jantungnya tidak berhenti berdegup kencang.
Dengan sabar ia menunggu kedatangan Daehwi. Ia meraih ponselnya sendiri dan membuka aplikasi foto dengan efek lucu. Ia mengangkat ponselnya untuk mendapatkan hasil jepretan yang bagus dengan efek telinga kucing yang menempel pas diatas kepalanya. Saking tidak tahu harus melakukan apa, ia sampai memilih untuk berfoto sendiri.
Setelah hampir setengah jam menunggu, Daehwi akhirnya datang dengan membawa banyak bungkus makanan dan minuman. "Hyung, aku beli snack banyak!"
"Kau bilang mau makan? Kenapa malah beli snack?" Tanya Jinyoung bingung. Ia menarik tangan Daehwi dan mendudukkannya di kursi. Jinyoung meraih bungkusan itu dan mengintip beberapa diantaranya. "Kau beli odeng juga? Kau jalan kemana, Hwi?"
Daehwi diam saja. Ia tetap memakan tteokbokinya dengan lahap sampai akhirnya pintu kamar mereka terdengar ketukan. Dengan segera Jinyoung membuka pintunya dan kaget karena melihat seorang pelayan hotel membawakan dua porsi steak yang masih panas. Ia menoleh pada Daehwi yang cuma tersenyum senang dan berlari menghampirinya.
"Maaf mengganggu, ini makanan yang tadi Anda pesan," ucap pria itu memberikan nampan yang berisi dua porsi steak kepada Daehwi dan dua minuman jeruk kepada Jinyoung. Setelah mengucap pamit, pria itu pergi dari hadapan mereka dan Daehwi masih tetap tersenyum senang melihat pesanannya yang baru saja datang.
"Uang dari mana, Hwi?" Jinyoung bertanya curiga. Minumannya ia sisip sedikit sebelum duduk di sofa yang ada dalam kamar. Ia mengambil alih nampan yang dibawa Daehwi dan meletakkannya di meja. Daehwi bertepuk tangan senang dengan mulut yang kembali penuh tteokboki.
Pemuda kecil itu mendudukkan dirinya di seberang Jinyoung. Ia berkata, "Mama mengirimiku uang cukup banyak minggu lalu karena aku jadi anak baik. Sekalian dengan uang kuliahku, hyung. Terus Dongho hyung juga mengirimiku uang karena dia menyanyangiku."
"Kenapa tidak bilang dulu padaku?"
"Aku lupa," kata Daehwi sambil tertawa menutupi mulutnya. Ia sudah mulai mengiris daging yang ada di piring, mengabaikan Jinyoung yang masih menatapnya curiga.
Bukan apa-apa, tapi Daehwi itu ceroboh, kalau dititipi uang banyak ia pasti akan berlebihan menggunakan uangnya. Pernah suatu kali ketika tabungannya terisi lumayan banyak karena dikirimi Dongho, ia tidak pulang seharian, ternyata ia malah pergi mentraktir semua anak yang ada di organisasinya. Termasuk uang untuk kuliah ia belanjakan juga. Apalagi ketika ada temannya yang mau meminjam uangnya, ia pasti akan memberikannya begitu saja, tanpa tahu alasan sebenarnya. Bilang temannya untuk orangtuanya yang sakit tapi ternyata untuk minum-minum. Dan Daehwi tetap kukuh pada pendiriannya kalau itu benar-benar untuk orangtua temannya.
Kalau sudah begitu rasanya Jinyoung ingin marah tapi tidak bisa karena wajah Daehwi terlihat sangat polos. Astaga, lagipula siapa sih yang tega memarahi Daehwi? Ia terlalu berharga untuk dimarahi.
Akhirnya Jinyoung cuma bisa menghela napas dan mulai memakan daging yang tersaji di depannya. Ia menatap Daehwi dengan senang karena pemuda itu makan lebih banyak dari biasanya. "Lain kali kalau mau traktir, traktir aku saja, ya?"
Daehwi mencibir. "Tadi tanya-tanya aku dapat uang dari mana, sekarang malah minta traktir."
"Kau lebih memilih mentraktir teman organisasimu daripada pacarmu?"
Daehwi memutar bola matanya lelah. Ia mengisi mulutnya dengan potongan terakhir daging dan kentang. "Iya, hyung, iya!" Balasnya yang kemudian mengambil piring Jinyoung dan piringnya yang sudah kosong. Ia berencana mencucinya agar pelayan hotel yang besok membersihkan kamar mereka tidak repot-repot mencuci. Daehwi itu anak baik, kan?
Dan Jinyoung yang sudah hafal kebiasaan Daehwi cuma terkekeh pelan. Ia beranjak dari duduknya untuk membersihkan snack yang tadi dibeli Daehwi. Ia menyimpannya karena tahu kalau Daehwi sering terbangun malam-malam untuk makan snack.
Setelah menyimpan snack milik Daehwi, ia menghampiri pemuda itu yang ada di kamar mandi. Ia melihat pemuda itu sedang sibuk membersihkan tangannya setelah mencuci piring. Jinyoung tersenyum dan langsung memeluknya dari belakang. "Sudah sikat gigi?" Tanyanya tepat di telinga Daehwi yang sudah memerah karena yaampun Daehwi bisa jelas sekali melihat apa yang sedang dilakukan Jinyoung dibelakangnya-dan itu membuatnya malu setengah mati.
Tangan Jinyoung meraih sikat dan pasta gigi milik Daehwi. Ia membuka mulut Daehwi dan menyikat giginya dari belakang dengan mata yang fokus melihat Daehwi lewat kaca. Jelas sekali kalau Daehwi terlihat tegang diperlakukan seperti itu, yang semakin membuat Jinyoung senang menggodanya. "Kenapa kau tegang sekali, Hwi? Aku cuma menyikati gigimu, aku tidak melakukan apapun."
Jinyoung tertawa keras dibelakangnya membuat Daehwi tidak terima. Ketika Jinyoung menjauhkan sikat giginya dari bibir Daehwi, saat itu juga Daehwi menggigit tangan Jinyoung cukup lama. Sedangkan Jinyoung cuma terkekeh pelan merasakan gigitan Daehwi di tangannya, menurutnya itu tidak sakit, tapi tetap saja besok pasti akan terlihat bekasnya. Doanya semoga besok ketika orang melihat tangannya yang ada bekas gigitan tidak berpikir kalau dirinya bermain keras pada Daehwi. Bermain punya definisi luas, jangan berpikir aneh-aneh.
"Hayo, sudah berani menggigitku?" Jinyoung membalikkan tubuh Daehwi setelah membersihkan mulutnya yang masih penuh busa pasta gigi. Ia memperhatikan wajahnya yang mengerucut lucu. "Hyung, sih! Kenapa menyikat gigiku?"
"Biar terlihat manis, Sayang. Maunya kufoto tapi aku tidak bawa ponsel ke kamar mandi," kata Jinyoung sambil menangkup kedua pipi Daehwi. Ia memeluk pemuda itu seraya tangannya mengambil sikat dan pasta giginya sendiri. Daehwi yang menyadari hal itu malah semakin mengeratkan pelukannya. "Awas kalau ada air yang menempel ke bajuku."
"Kalau ada yang menempel?"
"Aku tidak mau bajuku basah, hyung," rengek Daehwi yang sudah menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Jinyoung. Sementara Jinyoung tertawa pelan disela-sela acara menyikat giginya. Daehwi bergerak tidak nyaman ketika Jinyoung memajukan dirinya pada wastafel untuk mencuci mulutnya, yang otomatis membuat punggung Daehwi menabrak tepi wastafel. "Maaf," ucapnya pelan.
Daehwi mengangguk samar. "Hyung, ayo kembali. Aku ngantuk."
Jinyoung yang sudah mengembalikan sikat dan pasta giginya langsung mengangkat paha dalam Daehwi agar melingkar di perutnya. Daehwi terlonjak kaget ketika Jinyoung menyentuhnya, ia mendongak dan wajahnya memerah malu, jadi ia memilih untuk menyembunyikan wajahnya lagi di leher Jinyoung.
"Wajahmu merah sekali," ucap Jinyoung membawa tubuh Daehwi yang ada di gendongannya untuk duduk di tepi kasur. "Senyaman itu, ya, leherku sampai kau tidak mau melepasnya?"
"Hyung..." Erangnya ketika Jinyoung menggelitiki pinggangnya. Ia menegakkan tubuhnya sambil mengerucutkan bibirnya, tangannya menangkup wajah Jinyoung dan mencium bibirnya cukup lama.
"Ceritakan sesuatu, hyung. Aku mau tidur kalau kau bercerita," pinta Daehwi memaksa. Ia melompat-lompat di paha Jinyoung tanpa peduli yang dilompati merasa sakit atau tidak.
"Minggu ini aku libur, aku tidak punya cerita untukmu, Hwi. Kenapa tidak kau saja yang bercerita?"
"Cerita apa? Cerita Somi yang mendekati Samuel tapi selalu diabaikan? Kupikir hyung sudah kuceritakan tentang itu berulang kali, atau Somi yang mau nekat mendekati Dongho hyung? Ah, itu tidak menarik, Dongho hyung pasti langsung menolaknya," kata Daehwi sambil memainkan gambar yang ada di kaos Jinyoung.
Pemuda itu tersenyum ketika mendengar ucapan Daehwi. Cerita tentang Somi dan Samuel sudah sering ia dengar dan Daehwi selalu heboh memberitahunya kalau Somi ada perkembangan pada pendekatannya. Dan tentang Somi yang mendekati Dongho itu pasti hal spontan yang diucapkan Daehwi, karena ia tahu jelas bagaimana tipe ideal Dongho. "Jangan bicara begitu tentang temanmu," ucapnya seraya mendekatkan wajahnya untuk mengecup kening Daehwi cukup lama.
Daehwi kembali terkikik pelan merasakan tangan Jinyoung bergerak di pinggangnya. "Jangan menggerakkan tanganmu di pinggangku, hyung, itu geli!"
"Tapi aku suka, Hwi."
"Terserah, hyung, saja," ucapnya pasrah yang kemudian mengistirahatkan kepalanya di pundak Jinyoung. Di belakang sana Jinyoung bisa merasakan tangan Daehwi bergerak menepuk-nepuk punggungnya.
Tangannya secara otomatis mengelus surai Daehwi yang mengenai wajahnya. Ia berkata lirih, "Kau tahu, Hwi, kupikir kita tidak akan sampai satu tahun. Kupikir setelah kita bertengkar lima bulan lalu kita tidak akan kembali lagi dan berakhir menjadi musuh.
"Tapi nyatanya aku kembali padamu. Dua minggu aku nyaris gila karena tidak mendengar dirimu yang merengek minta dibikinkan susu malam-malam. Tidak mendengar teriakanmu sewaktu bermain PS. Tidak melihatmu yang selalu terbangun di sampingku. Tidak merasakan masakanmu yang ala kadarnya." Jinyoung berkata dengan tangan yang semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh kecil Daehwi. Ia hampir terisak kalau mengingat dirinya yang frustasi karena dua minggu jauh dari Daehwi. Itu kenangan buruk dan ia berjanji tidak akan melakukannya lagi, ia tidak akan pernah jauh dari Daehwi lagi. Itu ketakutan terbesarnya, apalagi ketika ia kembali ke apartemen dan melihat Daehwi pingsan karena memakan makanan kadaluarsa dan itu semua karena dirinya. Rasanya ia ingin terjun saja saat itu.
"Aku hampir gila, Hwi. Aku kembali padamu dengan harapan kita bisa kembali lagi dan membicarakannya baik-baik tapi aku malah menemukanmu pingsan karena makanan kadaluarsa dan itu semua salahku. Kalau saja kau tahu seberapa besar rasa takutku waktu itu..."
"Kau setakut itu, hyung, melihatku pingsan?"
Jinyoung mencium pelipis Daehwi lembut. "Setakut itu. Ketakutan keduaku setelah laut di malam hari."
Daehwi mau tidak mau tersenyum mendengarnya. Ia bisa merasakan seberapa besar perasaan cinta Jinyoung padanya. Ia berterima kasih dalam diam dan secara tidak sadar air matanya keluar.
Jinyoung yang menyadari Daehwi terisak langsung melepaskan pelukannya. Ia menangkup wajah itu dan mengelusnya dengan ibu jarinya. Ia tersenyum dan mencium lembut air mata yang keluar dari mata Daehwi. "Alasanku kembali padamu adalah karena aku sadar kau berbeda, kau yang membuatku berpikir kalau kau adalah orang terakhir dan satu-satunya. Katakanlah aku masih muda, tapi aku berharap kau adalah orang yang nantinya selalu kulihat tiap pagi sewaktu aku membuka mata."
"Mana bunganya?" Tanya Daehwi yang mendekatkan wajahnya ke wajah Jinyoung, menempelkan kening mereka berdua dan berakhir dengan Daehwi yang tersenyum malu dan melepaskannya.
"Kali ini tidak ada bunga. Maafkan aku."
Kedua mata Daehwi mengerjap pelan. Tangannya meraih dagu Jinyoung dan mengusapnya. "Terima kasih, hyung karena sudah mau bersamaku. Dulu aku cuma punya Dongho hyung dan Somi, cuma mereka yang mau mendengarkan aku. Lalu 3 tahun lalu seorang pria rantau yang tidak tahu jalanan Seoul datang padaku, dengan gugupnya ia bertanya padaku. Kau lucu sekali, hyung waktu itu," cerita Daehwi dengan tangan yang masih mengusap pipi Jinyoung.
"Kupikir itu cuma pertemuan biasa dan aku tidak akan bertemu denganmu lagi, tapi ternyata kita malah dipertemukan lagi di perpustakaan kota. Aku tersenyum padamu dan kau membalas senyumku. Kita mengobrol lama sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk minta nomor ponselmu. Hyung tahu? Aku senang sekali waktu itu karena pikirku aku punya teman baru.
"Dua tahun berlalu dan Jinyoung hyung bilang kalau hyung menyukaiku. Aku kaget karena sebelumnya tidak ada orang yang terus terang berkata seperti itu padaku. Aku bahkan merasa sedikit takut dan kalau saja hyung langsung menciumku saat itu juga pasti aku sudah menelepon Dongho hyung." Daehwi melanjutkan ceritanya sambil bergerak kesana kemari di paha Jinyoung. Ia sudah mengusap kedua matanya berulang kali yang menunjukkan kalau dirinya mengantuk.
Jinyoung yang paham langsung mengangkat tubuh Daehwi dan membaringkannya ke kasur, diikuti dirinya yang merengkuh pelan tubuh pemuda itu. "Aku juga harus berterima kasih padamu karena sudah mau menerimaku. Kau itu lucu, Hwi, siapa pria yang tidak akan jatuh karena pesonamu?"
"Dongho hyung tidak," jawabnya melantur dengan mata yang sudah terpejam.
"Hwi, dia hyungmu."
"Tapi dia pria."
"Iya, iya, aku tahu." Jinyoung mengalah karena ini sudah malam dan ia tidak mau ribut dengan Daehwi yang sudah mengantuk. Ia bisa saja diamuk dan ditendang kalau mengganggu Daehwi yang saat ini sudah hampir terlelap.
"Hyung, tidurlah," ucapnya ketika masih merasakan pergerakan Jinyoung di punggungnya.
Jinyoung mendekatkan tubuhnya, menempatkan kepala Daehwi agar nyaman di lengannya. Ia berbisik pelan, "Katakan padaku, Hwi, kau senang bersamaku, kan?"
Daehwi membuka matanya sedikit dan mencium bibir Jinyoung lembut, ia menggigitnya sebelum melepaskannya. "Hyung, aku mau tidur," rengeknya. "Aku tidak akan disini kalau aku tidak senang bersamamu, hyung."
Jinyoung terkekeh, ia kembali memeluk Daehwi, mengelus surainya pelan. Ia menempatkan dagunya di atas kepala Daehwi dan memejamkan matanya. "Tidurlah yang nyenyak."
Ini hari kedua mereka liburan dan masih pagi. Sejak sepuluh menit yang lalu Daehwi sudah menariknya keluar ke pantai. Bahkan matanya belum sepenuhnya terbuka, walaupun ia sudah mandi-yang pastinya dengan paksaan. Berulang kali ia harus menahan malu karena tersandung ketika Daehwi menariknya dan memaksanya berjalan.
Ia terduduk begitu saja di tepi pantai sembari mengumpulkan semua nyawanya. Matanya melihat Daehwi yang sedang berlarian mengejar burung-burung yang bertengger santai di tepi pantai. Rencananya mereka akan pulang hari ini pukul delapan atau sembilan pagi, yang artinya dua jam lagi dari sekarang. Jadi, setelah keluar dari kamar mereka langsung check out, tapi, karena Daehwi sepertinya rencana Jinyoung harus gagal.
Helaan napas terdengar darinya. Ia berjalan pelan menghampiri Daehwi dan menariknya menjauh dari tepi pantai yang terbuka. Jinyoung menarik pemuda itu ke tepi pantai yang dibelakangnya terhalang batu karang besar.
Daehwi bisa merasakan tangan Jinyoung yang terselip di pinggangnya dan menariknya mendekat. Wajahnya menatap sayu wajah Daehwi, membuat yang ditatap ingin berteriak malu tapi tidak bisa. Alhasil hanya wajahnya yang memerah dan ia menundukkan wajahnya. "Hyung... Hentikan... Ayo pulang..."
"Kan aku sudah bilang kalau kita keluar kamar, kita akan langsung pulang. Bukan berlarian ke pantai begini, kan?" Bisik Jinyoung sembari menggigit pelan cuping telinga Daehwi. Sementara Daehwi rasanya sudah seperti jeli. Ia menahan teriakannya dengan melebarkan mulutnya.
"Hyung! Aku teriak loh!" Katanya heboh sembari menahan wajah Jinyoung yang kembali mendekat ke telinganya.
Jinyoung mencibir sikap Daehwi sekarang. Ia menjauhkan tubuhnya dengan tangan yang masih memegang erat pinggang Daehwi. "Kita pulang saja, ya. Kalau kita habiskan lagi satu hari disini nanti kau malah kelelahan. Katanya Senin ada ujian?"
Daehwi mengangguk paham. Ia memeluk Jinyoung sekali lagi dan mencium bibirnya lama. Jinyoung tersenyum di sela-sela ciuman itu sembari merasakan semilir angin laut yang menerpa wajah mereka berdua. Yang demi apapun akan selalu Jinyoung ingat bagaimana rasanya, begitu pula dengan Daehwi.
END
Unchhhh endingnya apa banget, gak jelas huhuㅠㅠ
Iya tau kok sekuelnya gak bagus, ini saya kilat ngetiknya wkwk, besok udah masuk kuliah soalnya hihiw
Saya gak bakalan bisa bikin fanfic sesering kemarin, karena kalau udah kuliah otak saya isinya materi semua, mau fangirlingan aja susah cari waktu dan mager banget hehe, saya lebih pilih tidur:")
Love,
Tinkxx
