Aduh... Kelamaan ngeupdate nih... gapada jamuran kan?
Yasudah, tanpa banyak bacot,
itadakimasu! (?)
Happy reading readers! Enjoy! :D
Desclaimer:
Number One Bleach fans, Tite Kubo
Warning:
Bloody, aneh, gaje, garing
The Other Me
Hari sudah semakin sore. Ternyata aku tertidur diatas tempat tidur Ichigo.
"Aku pulaaang!" terdengar sebuah suara gadis kecil dari lantai 1, sukses membangunkanku. Sepertinya itu Yuzu. Tapi ada 2 langkah kaki. Mungkin bersama Karin?
Tok… Tok… Seseorang mengetuk pintu kamar Ichigo.
Krieeet
"Ah, Nona Kuchiki! Kakak belum pulang?" tanya Yuzu dari balik pintu.
"Iya… Katanya dia mau mengerjakan tugas di rumah Mizuiro…"
"Aaah… Sayang sekali… Aku kira akan bisa mengerjakan PR dengan Kakak… Apa boleh buat. Maaf mengganggumu, Nona Kuchiki!" kata Yuzu kecewa. Menutup kembali pintu kamar Ichigo, dan pergi.
Aku bangkit dari tempat tidur Ichigo dan memungut ponselku.
"Masih nyala… Tahan banting juga benda ini…" gumamku sambil mulai menekan-nekan tuts-tuts di ponselku.
Truuut
Truuut
Truuut
Truuut
Truuut
'Disini Ichigo! Silahkan tinggalkan pesan setelah nada berikut!'
Biiiip
Tuut..
"Payah… Tidak diangkat…" aku memutuskan sambungannya. Dan melempar ponselku keatas tempat tidur Ichigo. Aku turun ke lantai 1. Menjelajahi rumah tersebut. Sampai aku tiba di dapur.
"Eh, Nona Kuchiki? Ada apa?" tanya Yuzu ramah sambil menyiapkan makan malam.
"Ah, tidak… Aku hanya ingin pinjam baju untuk ganti…" jawabku dengan senyum―akting, tentunya.
"Pakai saja bajuku yang ada di kamar mandi… Itu disiapkan Kak Ichigo untukmu. Lalu cepat kesini… Kita akan makan malam!" sahut Karin sambil memakan sebuah es batangan.
"Oh, begitu… Terima kasih…" aku meninggalkan dapur, namun, aku merasakan sesuatu mengawasiku untuk beberapa saat. Aku berbalik dan sempat mendapati Karin sedang menatapku dengan tajam. Kekuatan roh Karin mungkin memang tidak sebesar Ichigo. Tapi kekuatanya tidak lemah juga! Karena firasatnya sangat tajam. Aku bergegas ke kamar mandi karena tidak suka dengan tatapan yang Karin berikan. Dan saat dalam perjalanan menuju kamar mandi…
"Ukh…" aku memegangi kepalaku. Rasanya sedikit pusing. Tapi aku tidak peduli karena kupikir itu sakit kepala biasa.
===*===
Selesai mandi, aku berjalan menuju kamar Ichigo―tenang saja, aku sudah pakai baju.
Krieeeet
"Oh, kau rupanya…" seru seseorang berambut seperti duren yang berwarna oranye.
"Ichigo? Kapan kau datang?" tanyaku yang masih berdiri didepan pintu.
"Baru beberapa menit yang lalu, kok! Oh, iya… Tadi si Nenek Sihir memintaku menyerahkan ini…" katanya sambil menyerahkan lembaran kertas yang sudah tersusun rapi.
"Catatan selama kau tidak masuk." timpal Ichigo sambil membuka seragamnya. Tentu, dia memakai kaos, kok! Jadi, tidak masalah.
"KAKAAAAAK! Kalau sudah mandi, cepat kesini!" teriakan Yuzu terdengar sampai lantai 2.
"Iya! Labih baik kau duluan kebawah. Aku mau mandi dulu." Ichigo berjalan menuju kamar mandi. Aku hanya tersenyum kecil.
baik sekali dia hari ini
batinku.
Saat aku hendak menyentuh knop pintu, aku merasakan untuk kesekian kalinya, aura yang bergejolak.
DEG!
Meronta-ronta! Seperti akan menyeruak dari dalam tubuhku.
"Lagi?!" aku memegangi kepalaku yang mulai terasa pusing. Tubuhku tidak bisa dikendalikan. Tanganku bergerak menuju saku celanaku dan mengambil 'Chappy', konpaku buatan yang biasa mengambil alih tubuhku jika aku berubah menjadi shinigami. Aku tidak bisa mengendalikan tanganku yang tengah memasukan bulatan yang berbentuk seperti permen itu kedalam mulutku. Terlambat sudah. 'permen' itu sudah masuk, menyusuri kerongkonganku. Dan semua menjadi gelap.
-
-
-
-
Tubuhku terasa sangat ringan. Terus berjalan di tengah jalanan kecil yang sepi. Jubah shinigamiku melambai pelan tertiup angin malam. Aku tidak bisa mengendalikan tubuhku! Tubuhku bergerak seakan dia punya pikiran sendiri.
"Aku… akan dibawa kemana?" gumamku pada diri sendiri. Aku terus berjalan menyusuri jalanan kecil itu. Sampai aku bertemu dengan Izuru Kira yang sedang mengawasi anak buahnya melakukan 'konsou'.
"Eh, lho? Kuchiki? Kapan kau keluar dari rumah sakit?" sapanya ramah. Aku ingin meminta tolong, tapi mulutku terkunci. Aku tidak bisa melakukan apapun yang kuinginkan. Aku merasa seperti onggokan gas yang terjebak dalam robot yang dikendalikan orang lain.
"Hei!" seruku tiba-tiba.
"Ya?" Kira membalas dengan wajah innocent.
"Mau mencoba bagaimana rasanya mati?" Aku meyeringai, tidak memedulikan bagian hatiku yang memberontak tak ingin. Kira terbelalak.
"Ha? Ca… Candaanmu itu tidak lucu Kuchiki!" seru Kira.
"Ini, bukan candaan, lho!" timpalku sambil tersenyum sinis.
Tak kuat. Aku tak kuat menahan 'bagian lain' dari diriku yang kini sedang tersenyum sinis pada Kira.
"A… Ada apa denganmu, Kuchiki? Hei!" Kira memegang kedua bahuku dan mengguncang-guncangkan tubuhku. Aku menatapnya dengan tatapan meremehkan.
JRAAASH
"Kuchiki… Kuchiki… Berisik tahu!" aku menebaskan pedang ke arah Kira hingga lehernya terputus.
a-apa yang kulakukan?
Aku menyeringai lebar pada shinigami berambut kuning di depanku yang telah berlumuran darah.
Sebenarnya.. ada apa dengan diriku..?
Kira yang tidak menduga akan seranganku yang tiba-tiba tadi tidak bisa berkutik. Kedua matanya membelalak lebar tatkala ia merasakan napasnya terputus. Terhenti.
Beberapa muridnya melihatku dan terdiam. Sampai salah seorang dari mereka berteriak,
"KYAAAAAAAAAA!" mereka mulai membuat kegaduhan. Aku merasa kesal mendengar dan melihat mereka ketakutan seperti itu.
"Menyebalkan! Seperti orang bodoh saja!" aku memutar bola mata tak suka. Memegang erat pedang putihku yang berlumuran darah.
"Mae… Sode no… Shirayuki!"
Dan dalam hitungan detik, tempat itu menjadi sunyi. Dengan tumpukan mayat shinigami dan cipratan darah segar yang berceceran di segala penjuru.
'diriku yang lain' itu lalu melompat, meninggalkan tempat itu menuju kesalah satu atap tertinggi disekitar situ. Melihat sekeliling sampai menemukan tempat yang lebih tinggi lagi hingga aku menemukan tempat tertinggi di kota Karakura. Aku memejamkan mata. Mempertajam telingaku.
"KYAAAAAAA! WAKIL KETUA KIRAAAAAAAAA!" aku mendengar jeritan seorang perempuan.
"Ahahahahaha! Indah sekali suaranya!" 'diriku' itu tertawa keras mendengar teriakan itu.
Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Seakan tubuhku ini mempunyai pikiran sendiri, yang tentunya sangat berlawanan dengan pikiranku. Dan aku tak bisa mengendalikannya. Hanya bisa berusaha untuk memberontak, walau kutahu kalau hal itu pasti sia-sia.
Dan ia bergerak lagi. Diriku yang lain itu membawaku menuju sumber dari teriakan tersebut. Yaitu sebuah jalan kecil nan sempit.
-
-
-
-
Tempat aku membunuh Kira.
===*===
Kreeet…
Ichigo membuka pintu kamarnya dan mendapati tubuhku terkapar dibawah dengan mengenakan piyama. Matanya terbelalak. Dengan segera ia menghampiriku.
"Rukia! Ada apa?! Jawab aku!"
"Ichigooooo!" tiba-tiba aku melompat dan memeluk Ichigo.
"Ah? Eh? Cha… Chappy, ya?!"
"Iya! Masa kau lupa?"
"Be… Berarti… Dimana Rukia?!"
"Ukh! Mana aku tahu! Dia tiba-tiba pergi meninggalkan aku tanpa bicara sedikit pun… Lalu aku merasa pusing dan pingsan sampai kau datang barusan…" Chappy menggembungkan kedua pipinya.
"Rukia… Dasar bodoh!"
"Ah! Ichigoooo!" Ichigo pergi meninggalkan Chappy sendiri di kamarnya.
===*===
Aku masih terjebak dalam tubuh ini. Lelah untuk memberontak―karena kutahu kalau memberontak itu tak berguna―tubuh ini tidak bisa kulawan. Maka aku hanya pasrah ketika diriku yang lain ini berjalan, membawaku kembali.
Saat aku tiba, rupanya wakil ketua divisi 4, Isane Kotetsu-lah yang telah menemukan mayat-mayat itu. Dia segera memanggil bala bantuan menggunakan kupu-kupu neraka.
"Ke… Ketua Unohana! Disini Isane! Aku… Menemukan wakil ketua Kira dalam keadaan terpenggal dengan beberapa bawahanya! Mohon segera kirimkan bala bantuan!" dia bergetar… Panik! Dan itu terlihat sangat menyenangkan untukku. Aku pun mengahampirinya. Dan dia pun menegurku.
"Ah! Kuchiki!" serunya. Relung hatiku ingin menyuruhnya lari. Diriku yang asli ingin agar dia selamat. Namun tetap nihil. Aku hanya bisa melihat apa yang telah 'diriku yang lain' ini perbuat tanpa melakukan apa-apa.
"Kuchiki! Apakah kau melihat orang mencurigakan disekitar sini?" tanyanya padaku.
"………" aku terdiam. Sampai ia melambaikan tanganya didepan wajahku.
"Kuchiki… Apa… kau baik-baik saja?" tegurnya.
"Ng… Iya…" Jawabku singkat.
"Jadi, apa kau melihat orang mencurigakan disekitar sini?" tanyanya lagi sambil sedikit membungkuk, karena tubuhnya yang tinggi dan tubuhku yang mini.
"Tidak, Aku tidak melihat orang mencurigakan." aku meyakinkanya dengan senyum sinis.
"Karena…" aku menghentikan perkataanku sejenak. Membuat Isane heran.
"Akulah yang membunuh Kira!"
Perkataanku sukses membuat Isane kaget. Keringat dingin bercucuran dari wajahnya yang putih.
"Hahaha… Bercanda!" aku tertawa. Isane merasa lebih lega. Sampai kutarik rambutnya yang dikuncir kecil itu.
"Ah! Sakit Kuchiki!" dia merintih kesakitan. Aku menarik rambutnya sampai tubuhnya yang tinggi itu membungkuk. Membuat wajahnya berada tepat didepan wajahku. Aku memberinya senyum sinis.
"Aku bercanda mengatakan 'aku bercanda'!" bisikku.
"Ku… Kuchiki?! Jadi benar kau yang…" Isane sangat kaget ketika mendengar perkataanku tadi.
"Hmph… Matamu indah, ya?" aku tersenyum sinis sambil melihat kearah mata kanannya.
"Pasti bagus untuk dijadikan koleksiku…" aku mengacungkan pedangku yang berlumuran darah tepat didepan mata kananya. Wajah Isane kini pucat dan mengeluarkan keringat dingin lagi.
"Kuchiki! Hentikan! Ini tidak lucu!" serunya sambil meronta. Tapi kalau dia meronta hebat, pedangku bisa menusuk matanya. Jadi dia hanya meronta kecil.
"Memang tidak lucu. Hanya saja ini sangat menyenangkan buatku. Itu saja." aku terus memamerkan senyum sinisku. Kemudian aku mengayunkan tanganku dengan perlahan kearah mata Isane. Bukan aku. 'diriku yang lain'. Sebenarnya aku tidak berani melihatnya, melihat kelakuan 'dia' yang sangat kejam. Karena aku merasakan diriku mengayunkan pedang kemata Isane…
-
-
-
-
Hingga matanya tercongkel. Dan darahnya menghiasi wajahku.
===*===
"Hahahahahahaha! Ini Sungguh menyenangkan! Ayo lakukan lagi!" tawaku memecah keheningan. Aku berteriak senang ditengah tumpukan mayat para shinigami yang aku bunuh sambil mengankat tanganku kearah langit malam yang tidak ditaburi bintang sedikit pun. Hanya bermandikan sinar bulan.
"Tapi… Aku hanya bisa membunuh dua orang wakil ketua dan shinigami-shinigami kelas teri…" kataku pada diri sendiri sambil duduk diatas tumpukan mayat shinigami yang kubunuh.
"Ah! Aku tahu apa yang labih menyenangkan!" Seruku sambil kembali berdiri.
"Bagaimana kalau kubunuh juga para kaptenya? Oh oh! Apalagi kalu kubunuh si tua Yamamoto itu! Pasti lebih menyenangkan dan menantang! Lagi pula, kalaupun tak kubunuh sekarang, nanti juga dia mati sendiri!" gumamku. Aku sudah 100% tidak bisa mengendalikan tubuhku, pikiranku, juga perkataanku. Yang bisa kulakukan hanya berharap pada dewa agar mengampuniku, dan melihat semua yang telah kulakukan.
"Hihihi… kalau bisa kubunuh semua shinigami yang ada!" seruku. Kemudian aku mendengar langkah kaki dari kejauhan. Rupanya itu ketua divisi 4, Unohana Retsu, dan ajudanya, Hanatarou Yamada. Aku berdiri didepan tumpukan mayat yang berlumuran darah dengan wajah yang terkena darah Isane. Pemandangan itu langsung membuat Unohana menilaiku sebagai pelaku dari semua kejadian yang ia lihat.
"Kuchiki! Apa kau yang…" sebelum Unohana menyelesaikan kalimatnya, aku sudah menimpalnya.
"Ya! Memang kenapa?" jawabku dengan datar dan berwajah dingin. Aku tidak bisa menyangkal perkataan kalau akulah yang membunuh mereka semua. Karen itu fakta.
"Begitu…" Unohana memasang tampang seriusnya dan itu membutaku sebal. Hanatarou pun hanya memasang ekspresi ketakutan yang membuat wajahnya lebih terlihat lebih bodoh.
"Bisa tolong jelaskan apa yang terjadi? Kuchiki dan…" Unohana belum menyelesaikan kalimatnya. Aku sempat bingung dengan apa yang hendak ia katakan.
"Hhhh… Baik… Ke… ketua…" terdengar sebuah suara yang terengah-engah dari belakangku. Rupanya itu Isane!
"Kau belum mati rupanya?" tanyaku dingin.
"Hhhh… Mana… mung…kin… aku… hhhh… bisa… ma…ti… h…anya… karena hal seperti ini…? Hhhh… hhhh…" jawabya terengah-engah.
"Cih… ternyata kau kuat…" 'aku' mendecih kesal.
"Baiklah Isane… Ceritakan apa yang terjadi?" Unohana mendekati Isane dan mulai mengobati Isane.
"Baik… hhh… Kapten…… sss… sebelum… i…tu… te…rima kasih… a…tas… pengoba…tanya… hhhh…" Isane sedikit tersenyum dibalik wajahnya yang berlumuran darah.
"Jadi…" Isane memulai cerita.
"Saat… aku sedang… hhh… pa…troli… hhh… hhh… aku… mencium… bau darah… yang menyengat… hhh… lalu aku… melihat… hhh… wa…kil ketua… Kira… sudahhh… tewas… ke…mudian… hhh… Kuchi…ki… datang… dan menga… hhh… kui… per…buatanya… La… lalu dia… mencongkel… ma… mataku… hhhh…" lanjutnya sambil terengah-engah.
"Hmm… begitu… Kau juga sudah kehilangan banyak darah… Ada lagi yang lain?" Unohana terus mencoba menghentikan pendarahan di mata kanan Isane. Tiba-tiba ekspresi di muka Isane berubah.
"A… Aura…nya! Te…kanan rohhhh… yang besar… Itu… bu…kan… tekanan… rohh… Kuchiki! Hhhh ta…pi…"
CRAAAAAASH
Belum sempat Isane menyelesaikan kalimatnya, aku menancapkan pedangku tepat di bagian dada kirinya.
"… Kena sasaran ya?" 'aku' menyeringai sinis. Unohana terbelalak. Ia tidak menyangka orang yang seharusnya ia bantu malah mati dihadapanya.
BLUGH!
Tubuh Isane yang mulai mendingin terjatuh ketanah. Unohana sempat merasa kaget. Tapi dia tetap berusaha tenang.
"Kuchiki, kamu benar-benar keterlaluan… Apa aku harus menarik zanpakutou…" Unohana kembali terbelalak melihat gerakanku yang sangat cepat. Aku pun tidak menyangka kalau aku bisa menjadi secepat ini.
"Ka… Kapten!" Hanatarou berteriak panik. Sebelum Unohana menyelesaikan kalimatnya, 'aku' sudah berada dibelakangnya.
-
-
-
-
Sambil meletakkan pedangku diatas bahunya.
-
-
-
-
"Bergeraklah sedikit agar pedangku bisa membelah lehermu"
===*===
To Be Continued
Wiw... selesai juga... (-_-")
Saya tidak mau banyak omong karena frustasi flashdisk ilang...
Untung data fic uda di back up... Hiks :'(
Replying Corner
-Nanakizawa l'Noche:
Arigatou :)
-Kuroi Kira:
Ga login? Ckckckck...
Arigatou! (^_^)
Sama kaya lu? Tunggu.. Gw cari pistol gw dulu...
DESPERADO BLASTER!
*tewas
:)
-dilabcd:
Apabanget bahasa lu?! hahaha
Ketinggian! Gw ga ngerti! XD
Makasih yaa :D
-aldeel:
Iya.. Makasih :)
