Fanfic sederhana karya Yola-ShikaIno
Pairing : Shikamaru N x Ino Y (from Naruto)
DISCLAIMER : NARUTO © MASASHI KISHIMOTO
#CSIFBirthdayPartyFict – 3 February (Light's Birthday)
Hastag lucu dari (a) SHIKAINO_FC #HappyBolaDay
Special thanks for all SHIKAINO SHIPPER—Guardian, my lovely family C-SIF, and para pembaca yang bersedia meluangkan waktu untuk mampir dan membaca fict Yola. Terima kasih juga untuk pembaca yang bersedia memberikan review untuk Yola. Arigatou ^o^
[WARNING INSIDE! TYPO(s), OOC, and friends!]
.
.
_Review Zone_
nufze: Ino milih Shikamaru gak ya? Silahkan di baca di chapter ini *pasang muka sok misterius* :D Keturunan? Masih jauh sepertinya Nara Junior-nya /heh :v qwerty: Wah... baguslah, dikira fict ini bakal bikin pembaca bingung(?) :D Oh iya, ini update-annya ;) Guest: LongLive ShikaIno! Ini kelanjutannya ya? Semoga gak bosen baca fict Pair ShikaIno ;) '-')b TitaniaGirl: Duh... sebenernya gara-gara itu juga sih :) *malu2 rusa* mega: Yang ngambil fotonya? Siapa yaa? Temukan jawabannya di chapter ini haha :D Thanks mau mencantumkan fic ini d list fav-nya mega :D Sanrock: Ini sudah apdet :D Tenang, yola usaha-in fict ini gak ngegantung *harap2 cemas*
.
.
Happy Reading!
.
.
.
Selesai sarapan saatnya Aishi melanjutkan cerita yang sempat terhenti tadi untuk Yora. Yora duduk di atas kursi yang berada di meja makan. Sebelum melanjutkan bercerita, Aishi membereskan perlengkapan yang baru saja digunakan oleh keluarganya untuk sarapan. Dengan sabar Yora menunggu Kaasan-nya selesai beres-beres ditemani oleh boneka teddy bear kesayangannya.
"Udah beres 'kan? Yora penasaran nih! Ayo Kaasan lanjutin!" pinta Yora ketika melihat Aishi mengeringkan tangannya dengan lap yang berada di meja makan.
"Ayo kita ke halaman belakang!" ajak Aishi.
Yora menggeleng sebelum menjawab Kaasan -nya. "Tidak. Di sini saja. Ayo! Ayo!" kata Yora sudah tidak sabar.
"Hm…" kata Aishi mulai melanjutkan ceritanya.
.
.
.
Keesokan paginya, Ino menyadari dirinya sudah berada di atas kasurnya. Purple dress yang kemarin dipakainya pun masih melekat ditubuhnya. Hanya saja, ada sesuatu yang membuatnya khawatir. Sosok pangeran Nara kini sedang tertidur pulas disampingnya, satu ranjang. Ino segera melihat pakaian yang dikenakan Shikamaru. Jas yang dikenakan Shikamaru masih sama, begitu pula dan celana panjang yang dipakai Shikamaru saat pesta ulang tahun Yamanaka Ino kemarin.
"Hoam…" kata Shikamaru mengagetkan Ino yang memang sejak tadi memperhatikan Shikamaru.
Shikamaru tidak langsung bangun dan duduk, melainkan menatap mata Ino, mata aquamarine yang selalu mengingatkannya dengan warna biru yang Shikamaru sukai. Biru yang merupakan cat kamar Shikamaru, tempat yang paling sering Shikamaru gunakan. Tempat yang selalu mengingatkan Shikamaru dengan jam tidurnya dan memberikan kenyamanan. Nyaman. Begitulah perasaan yang selalu ada di dalam diri Shikamaru setiap kali melihat mata indah milik gadis keturunan Raja Yamanaka ini.
"Mengapa melihatku?" tanya Shikamaru dengan polosnya dan jangan lupa ekspresi baru bangun tidur ala seorang Nara muda.
"MENGAPA KAU TIDUR DI RANJANGKU?" teriak Ino nyaris memecahkan gendang telinga Shikamaru. Untungnya Shikamaru sudah siap dengan telunjuk yang menutup jalan masuknya suara Ino ke gendang telinganya.
"Mendokusai!" kata Shikamaru pelan. Sepelan apapun Shikamaru berbicara selalu saja bisa didengar oleh Ino, termasuk sekarang ini. Melihat ekspresi ibunya yang sedang marah terlukis diwajah Ino membuat Shikamaru menatap Ino dengan tatapan maafkan-aku-ibu.
"Aku tidak melakukan apa-apa. Salah sendiri kau tertidur di balkon kamarmu dengan posisi kepala berada di atas pundakku. Aku tidak mau mati kedinginan sehingga aku membawamu masuk ke dalam kamarmu ini, Putri." Jelas Shikamaru.
Shikamaru memang senang memanggil Ino dengan sebutan Putri atau Tuan Putri. Walaupun Shikamaru memanggil Ino seperti itu untuk menurunkan tingkat amarah Ino. Tapi, bagi Shikamaru panggilan Putri atau Tuan Putri memang pantas untuk Ino, sangat pantas. Wajah Ino yang cantik yang dimiliki Ino menjadi point yang menyebabkan Shikamaru memanggil Ino dengan sebutan Putri. Setidaknya Shikamaru adalah lelaki normal yang menyukai wajah cantik Ino ditambah lagi badan Ino yang menurutnya pas. Ya walaupun terkadang Shikamaru berubah menjadi cerewet setiap kali mendengar Ino melakukan diet ketat untuk menjaga bentuk tubuhnya.
Sementara Ino sangat senang bila dipanggil dengan sebutan kerajaan itu, terutama sebutan kerajaan itu digunakan Shikamaru untuk memanggil Ino. Bukannya Ino sombong, tapi Ino senang bisa membuat Shikamaru memanggilnya Putri Ino. Sahabat merah mudanya di Kerajaan Sannin—Sakura bahkan tidak pernah dipanggil Putri Sakura oleh Shikamaru.
"Lalu, mengapa tidak langsung kembali ke kamarku setelah membawaku ke atas ranjang? Kesempatan?" tanya Ino terus menyerang Shikamaru dengan berbagai pertanyaan.
"Aku tidak mau keluar dari kamarmu dengan posisi kau sudah tertidur, dikiranya aku melakukan sesuatu padamu." Jelas Shikamaru lagi.
"Oh." Jawab Ino sesingkat-singkatnya.
Tiba-tiba Shikamaru merenggut guling berwarna putih yang berada di sebelah kirinya dan memeluknya sambil menutup mata onyx-nya lagi.
"Tuh kan… kamu malah memeluk gulingku! Kembalikan! Ambil gulingmu sendiri!" perintah Ino.
"Dibanding memeluk tubuhmu, troublesome!" jawab Shikamaru dengan santainya. Ucapan santai dari Shikamaru membuat pipi Ino semakin memanas dan membuat kedua pipi putih bersih Ino merona.
"Dasar mesum!" ucap Ino sambil mencubit lengan Shikamaru.
"Setidaknya badanmu lebih cocok dijadikan guling untukku peluk, dibanding dijadikan kasur untuk ditiduri." kata Shikamaru dengan santainya.
"JANGAN MESUM DI KAMARKU!" kata Ino berteriak.
Shikamaru lalu menyingkirkan guling putih milik Ino dan bangkit berdiri menuju pintu keluar dari kamar Ino. Shikamaru memegang gagang pintu yang pintunya terbuat dari kayu itu. Sebelum keluar dari kamar Ino, Shikamaru berbalik untuk berbicara kepada putri yang menyukai warna ungu ini.
"Aku tidak suka kau jadi kasur karena sudah ada Chouji yang menjadi kasurnya. Jangan berpikiran aneh-aneh!" kata Shikamaru sambil melangkahkan kakinya keluar dari kamar Ino.
Ino membuka mulutnya tidak terlalu lebar setelah mendengar kata-kata Shikamaru tadi. "Lihat! Siapa yang mesum tadi, Yamanaka Ino!" kata Ino pada dirinya sendiri.
"Tuan Putri, jangan lupa pilih pendampingmu sebelum jam 12 siang!" kata Shikamaru sedikit berteriak sambil menuruni anak tangga untuk menuju lantai dua.
Satu sampai dua menit Ino tidak mengerti maksud Shikamaru tadi. "APA? SIAL! AKU LUPA!" teriak Ino nyaris memecahkan jendela kamarnya serta cermin di meja riasnya. Ino bergegas masuk ke kamar mandi dan mempersiapkan dirinya menyambut hari ini. Hari yang paling menyebalkan untuk Ino dan takdir Tuan Putrinya.
.
.
.
Jam 12 siang di ruang keluarga kerajaan.
Ino duduk di antara Raja Inoichi dan Permaisuri Misae yang merupakan orang tua kandung dari Yamanaka Ino. Yellow dress selutut yang melekat pada tubuh Ino kini terlihat sedikit berantakan. Pasalnya Ino kini dilanda kebingungan, bingung antara memilih Shikamaru atau Chouji. Dia belum memikirkan baik-baik keputusannya, mau bagaimanapun juga Shikamaru dan Chouji adalah sahabatnya juga. Dari pintu ruang keluarga kerajaan, muncul dua pemuda dengan seragam kerajaan. Tak lupa dengan mahkota pangeran yang berada di kepala dua pemuda itu.
Salah satu pemuda bertubuh tambun dengan pakaian kerajaan yang didominasi oleh warna merah itu masuk ke ruang keluarga kerajaan dengan kripik kentang favourite-nya. Terdapat ukiran huruf A yang terbuat dari perak dengan sulur-sulur perak yang menjadi hiasan mahkota itu. Pangeran bertubuh tambun itu berasal dari perwakilan Akimichi—Pangeran Akimichi Chouji, begitulah lengkapnya. Chouji duduk di antara kedua orang tuanya sambil memakan kripik kentang favourite-nya.
Sementara yang satunya sudah jelas seorang Nara Shikamaru. Shikamaru duduk di antara kedua orang tuanya juga. Dengan mahkota yang terbuat dari perak bertuliskan N membuat Shikamaru terlihat lebih gagah dibanding sebelumnya. Karena, mau bagaimana pun Shikamaru menyadari bahwa dirinya adalah seorang Pangeran yang akan menjadi Raja di kemudian hari. Dengan mahkota kerajaan yang digunakan Shikamaru, itu pertanda bahwa Shikamaru punya tanggung jawab untuk menjalankan tugasnya sebagai pangeran. Termasuk hadir dalam acara keluarga Yamanaka, Nara, dan Akimichi. Shikamaru lebih memilih tidur di ranjangnya atau di atas atap kerajaan dibanding hadir dalam pertemuan seperti ini, tapi mengingat ini adalah tanggung jawabnya, Shikamaru mengurungkan niatnya untuk bersantai-santai dengan alam mimpinya.
"Semuanya sudah berkumpul, sekarang saatnya—" Ino memotong pembicaraan Raja Inoichi yang akan memulai pertemuannya dengan keluarga Nara dan Akimichi.
"Tousan, jujur aku belum tahu siapa yang akan aku pilih. Beri aku kesempatan beberapa minggu untuk menentukan pilihanku." Pinta Ino kepada Raja Inoichi.
Raja Inoichi tersenyum pada Ino dan mengacak rambut pirang putrinya yang merupakan keturunan darinya. "Tousan tidak akan menanyakan padamu hal-hal seperti itu lagi. Tenang saja." Kata Raja Inoichi menenangkan putrinya yang sejak duduk di sampingnya sudah terlihat tegang.
'Tidak akan membahasnya? Apa berarti aku dibebaskan dari takdirku untuk memilih Shikamaru atau Chouji? Akhirnya list kebosananku berkurang! Yee!' seru Ino dalam hatinya.
"Ino-chan, kami sepakat kalau pemalas muda ini yang akan menjadi pendamping hidupmu." Kata Permaisuri Yoshino—Ibunda dari Nara Shikamaru.
Shikamaru dan Ino sama-sama menunjukkan ekspresi shock mereka. Sementara Chouji sepertinya sudah tahu apa yang akan dibicarakan dalam pertemuan ini. Raja Inoichi dan Raja Shikaku pun tersenyum bahagia karena keluarga Yamanaka dan Nara dapat dipertemukan dalam ikatan suci pernikahan kedua anak mereka.
"Kenapa Shikamaru?" tanya Ino kepada Raja Inoichi dan juga sahabat Tousannya itu—Raja Shikaku.
"Lihat ini!" kata Permaisuri Misae—Ibunda dari Yamanaka Ino. Permaisuri Misae memberikan Ino beberapa foto Shikamaru dan Ino ketika di balkon kamar Ino tadi malam. Foto-foto itu juga memperlihatkan Ino yang sedang tertidur di samping Shikamaru. Sementara Permaisuri Yoshino memberikan rekaman video Shikamaru dan Ino kepada putra tunggalnya.
"Kalian cocok bukan? Foto dan video itu diambil oleh Iruka tanpa kalian sadari." Kata Raja Choza sambil tersenyum. "Lagipula aku tidak yakin Ino-chan akan memilih Chouji. Chouji benar-benar bukan tipemu 'kan?" sambung Raja Choza kepada Ino.
"Baiklah. Pernikahan akan dilaksanakan minggu depan. Bersiap-siaplah!" kata Raja Inoichi memperingatkan putrinya dan calon menantunya.
"Masalah pernikahan biar kami yang mengurus, kalian tinggal terima jadi. Anggap saja seperti ucapan terima kasih kepada kalian karena telah membuat kami bahagia." Kata Permaisuri Misae disambung dengan mencium kening Ino dengan lembut.
Semua orang tua dari Pangeran dan juga Putri meninggalkan ruang keluarga kerajaan. Kini ruangan yang penuhi oleh beberapa foto pendahulu mereka, hanya berisi tiga orang anak raja. Chouji masih sibuk dengan kripik kentang favourite-nya tanpa mempedulikan Shikamaru dan Ino yang kini hanya terdiam membisu. Tak ada yang berniat membuka percakapan antar anak raja ini, apalagi Ino yang biasanya lebih cerewet dibanding Shikamaru dan Chouji. Beberapa pelayan kerajaan masuk ke ruang keluarga kerajaan untuk membersihkan ruangan yang baru saja dipakai.
"Pangeran Shikamaru, Pangeran Chouji, dan Tuan Putri Ino apa ruangan ini masih digunakan? Kalau tidak kami ingin membersihkan ruangan ini." Kata seorang pelayan berambut pirang panjang berantakan dengan kacamata bulat—Shiho.
"Tidak kres kres kres bereskan saja kres kres ayo pergi!" ajak Chouji kepada Shikamaru dan Ino. Serpihan-serpihan sisa keripik kentang Chouji masih berjatuhan di mana-mana membuat para pelayan harus mengikuti Chouji sampai pintu keluar karena, meninggalkan jejak-jejak berupa kripik kentang.
Chouji, Shikamaru, dan Ino pergi meninggalkan ruang keluarga kerajaan. Chouji berjalan di antara Shikamaru dan Ino. Mereka bertiga melewati lorong-lorong kerajaan yang cukup panjang. Lorong yang dihiasi dengan karpet merah serta beberapa pernak-pernik perang yang menghiasi kerajaan Nokacho ini terlihat sepi. Hanya seorang pelayan yang hendak masuk ke ruang keluarga kerajaan, mungkin akan membantu rekan-rekannya.
"Mendokusai!" ucap Shikamaru sambil melepaskan mahkota pangerannya dan menyuruh pelayan yang lewat sendirian itu untuk menyimpannya. "Aku ingin tidur!" sambung Shikamaru lagi dan sukses mendapatkan deathglare dari Ino.
"Masih sempat-sempatnya mau tidur!" kata Ino.
"Kalau memang takdir menyatakan kita untuk menikah jalani saja. Jangan membuat dirimu repot, Putri!" kata Shikamaru santai. "Tak perlu khawatir aku akan selalu menjagamu." Kata Shikamaru meninggalkan Ino dan Chouji untuk pergi ke kamarnya. Kata-kata Shikamaru barusan membuat Ino merona lagi karena ulahnya. Entah karena Shikamaru terlalu polos mengucapkan kata-kata itu, atau mungkin karena Shikamaru memang sengaja melakukannya.
.
.
.
"Aku pulang! Selamat pagi Kaasan! Yora-chan!" kata seseorang yang baru masuk ke ruang makan dengan membawa tas-tas besar. Aishi menyambut kedatangan tamu yang baru saja datang.
"Arada-neechan!" kata Yora sambil memeluk tamu yang bernama Arada itu. "Kaasan, ceritanya lanjut nanti ya? Yora mau main sama Arada-neechan dulu. Oke?" pinta Yora kepada Aishi. Aishi tersenyum melihat kedekatan putri bungsunya dengan anak sulungnya itu.
'Yora-chan, kau membuat cerita ini semakin menarik untuk kembali diceritakan. Sayangnya kau menunda bagian paling bersejarah dalam kehidupan Putri Ino dan Pangeran Shikamaru. Itu menurutku,' kata Aishi dalam hatinya.
.
.
TBC
.
.
Oke… maaf bila chapter dua belum bisa memuaskan pembaca. Mungkin karena kelemahan-kelemahan yang tidak bisa Yola sebutkan satu persatu saking banyaknya *menunduk malu* Gi mana sama chapter 2-nya? Kurang gereget? Atau gi mana? Silahkan tinggalkan jejak berupa review dari para readers^^
Terima kasih buat readers yang bersedia membaca karya Yola / Siapapun itu entah silent reader ataupun bukan. Arigatou Gozaimasu! X"3
By the way, maaf yoo di chapter dua gak nyinggung-nyinggung soal langit dulu nih. Mungkin di chapter depan akan disinggung kembali. Yola pamit~~!
Keep Hyper and Love SHIKAINO {}
Love you C-SIF :*
