"Kau pasti bercanda."
"Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?"
"Kau bahkan terlalu pendek untuk dapat terlihat."
"Sudah kubilang jaga bicaramu sialan."
"Oh, ternyata kau bisa juga bicara kasar."
"Kau budakku dalam setahun ini Mikasa, kuharap kau tidak melupakannya."
"Kau benar-benar akan mati di acara kelulusanmu nanti."
"Jadi ini sikap pecundang yang tidak mau menerima kekalahannya?"
"Tch…"
Scar
-Chapter 2-
Author's note: Typo(s), AU, harsh word, Rated T+
Suara ocehan guru yang sedang mengajar didepan kelas itu terdengar seperti suara klakson di jalanan. Mikasa yang duduk di barisan depan terpaksa menatap papan tulis dengan pikiran kosong, sepertinya beberapa sel di otaknya mati gara-gara Levi.
Pagi sekali setibanya ia di sekolah, Levi sudah menunggunya di depan gerbang sambil bersidekap. Benar-benar pemandangan yang menjengkelkan di pagi hari baginya. Terlebih lagi seniornya itu langsung menculiknya ke belakang gedung sekolah. Mimpi buruk yang menjadi kenyataanpun datang di depan mata Mikasa saat itu juga.
"Aku tidak melihat Jaeger dan temanmu yang lain," tanya Levi, "yang pirang dan berwajah manis itu."
"Aku tidak pernah berangkat bersama Eren dan Armin sejak aku pindah waktu SMP," kata Mikasa, "dan Armin itu laki-laki tulen." Mikasa memandangi Levi dari atas sampai bawah, "ia setidaknya lebih tinggi darimu."
Sensor telinga Levi yang menangkap maksud dari perkataan Mikasa barusan, baru saja menyalakan mode rage pada sistem mood Levi. Ia membanting tubuh Mikasa agak kasar, menyandarkan gadis itu ke dinding gedung sambil menatap matanya.
"Kau tahu, aku tidak pernah suka dengan sikapmu itu, Mikasa." Baru lima menit, baru lima menit mereka bertatapan di depan gerbang hingga Mikasa berhasil membuat Levi naik pitam. Lagi.
"Asal kau tahu senpai, aku tidak pernah peduli dengan penilaianmu."
Oh, Mikasa melakukannya lagi.
"Berikan ponselmu." Levi menengadahkan tangannya, ia sudah lelah menanggapi tingkah juniornya tersebut.
"Apa!?" seru Mikasa.
"Sudah berikan saja bocah." Lelaki yang sudah habis kesabarannya itu merogoh kantung blazer Mikasa, gadis itu meronta dengan sia-sia karena Levi sudah menemukan benda kotak berwarna merah dari kantongnya.
"Apa yang mau kau lakukan?" Mikasa melihat Levi mulai mengotak-atik barang elektronik yang menyimpan banyak data privasinya itu. Tentu saja ia ingin merebut benda miliknya tersebut, tapi ia jadi teringat kesepakatan mereka.
Mikasa mendecih.
Suara dering ponsel tiba-tiba berbunyi dan Mikasa tahu itu bukan miliknya. Levi dengan santai mengambil barang yang sama dari kantung celananya dan mematikannya.
Oh, sekarang Mikasa tahu apa yang dilakukan Levi barusan. Ia baru saja memasukkan nomor yang akan memberi virus mematikan pada ponsel miliknya. Sepertinya ia harus membuang ponsel barunya itu ke sungai atau menguburnya agar tidak membawa sial.
"Selalu jawab pesan dan telpon dariku." Levi melempar ponsel Mikasa yang ditangkap baik oleh pemiliknya.
Benar saja, ia melihat satu nama baru di kontak teleponnya. Dan pemberian namanya benar-benar membuatnya mual, 'Tuan Muda'
"Kau gila."
"Oh, dan bawakan bekal untukku setiap hari," kata Levi, "aku tidak suka makanan berminyak jadi sebaiknya kau membuatkan untukku yang sehat."
"Ap-apa? Hei! tung—"
"Jika aku menyuruhmu melakukan sesuatu jangan membantah." Mata Levi tidak lepas dari sepasang mata Mikasa yang sekarang dipenuhi kerutan-kerutan amarah.
"Huh?!—"
"Jangan ganti nomor telponmu, jika kau menggantinya aku akan tahu."
Oh lihat, ada sebuah buku melayang ke arah kepala Levi.
"Dan—" Levi menangkap buku biologi yang barusan dilempar Mikasa.
"Aku akan menjemputmu setiap hari ke sekolah, jadi beritahu aku alamatmu."
"Sinting!"
.
.
Hanji Zoe, umur 18 tahun. Sekarang sedang menyaksikan pemandangan bersejarah yang mungkin tidak akan pernah terulang dalam kurun waktu sangat lama. Perempuan berkacamata itu sampai-sampai mengeluarkan ceracauan tak jelas, bangkunya terasa seperti bangku siksaan yang ada di penjara. Ia termenung kaku melihat pemandangan ganjil yang tersaji di depan mata—kacamata lebih tepatnya—nya.
"Levi."
Hanji menahan nafas saat Levi menoleh, "Apa?" jawab Levi.
"Kau sadar kalau kau barusan tertawa kan?" Manik mata Hanji tersembunyi dibalik kilau kacamatanya, gadis ini sedang serius, sangat serius.
"Apa maksudmu Hanji?" Levi menaikkan sudut bibirnya dan tersenyum—catat, ia tersenyum lebar—lalu menepuk pundak Hanji pelan, "bukannya tertawa itu sehat? Kau sendiri kan yang memberitahuku setiap hari?"
Banjir.
Tubuh Hanji di banjiri keringat dingin sebesar biji jagung, mulutnya hampir berbusa.
"Levi.. apa.. kau benar-benar Levi?"
.
.
"Armin, apa perempuan di depan kita ini benar-benar Mikasa?"
Armin menggeleng.
"Aku tidak yakin Eren."
Eren mengibas-ngibaskan sumpitnya di depan wajah Mikasa. Sahabatnya itu telah menatap kosong ke luar jendela sejak bel istirahat berbunyi, ia bahkan belum menyentuh bekalnya sama sekali. Tapi hasilnya nihil, seakan-akan nyawa Mikasa tidak ada disini sekarang.
"Eren, apakah ini karena kejadian kemarin?" Armin memasukkan telur gulung ke mulutnya, ia sudah kelaparan menunggu Mikasa membuka bekalnya, sedangkan Eren sudah menghabiskan tiga perempat isi bekalnya.
"Huh? Memangnya kemarin ada apa?"
"Iih kau itu," gerutu Armin. Ia masih mengunyah, Eren bersabar menunggu temannya itu menelan makanannya, "kemarin dengan Levi senpai! Ia kan dikalahkan dengannya."
Mulut Eren membentuk huruf O besar, "Ahh, aku mengerti," gumam Eren, "ia tidak pernah dikalahkan siapapun sebelum bertemu Levi.. pasti karena itu dia frustasi!"
"Tolong berhenti menyebutkan nama kontet itu di depanku, sialan."
Tubuh Armin dan Eren mengejang. Oh, mereka akhirnya sadar Mikasa sudah tidak termenung lagi. Terlebih lagi ia baru saja mengucapakan kata sialan. Mikasa jarang sekali menggunakan kata kasar di depan mereka berdua kecuali ia sedang marah, benar-benar marah.
Gadis itu membuka kotak bekalnya dan mulai memakan isinya. Eren dan Armin diam membeku memperhatikan sahabatnya tersebut. Cuaca di luar cerah, cerah sekali. Tapi di meja mereka sekarang sedang berlangsung badai topan yang besar.
"Mi-mikasa, sebenarnya apa yang terjadi antara kau dan Le—ah, senior berambut hitam bertubuh pendek dan menyeramkan—kemarin?" Eren akhirnya membuka mulut.
"Ia melemparku ke neraka." Mikasa mengunyah sosisnya yang terakhir.
"Huh?!" seru Armin dan Eren.
Gadis tersebut menutup kotak bekalnya yang kosong dan berdiri, "aku menjadi budaknya selama setahun ini."
"Kau serius?"
Hening.
Ketiganya sama-sama membungkam selain Armin yang diam-diam memikirkan apa yang dimaksud menjadi 'budak' seorang Levi senpai. Pikirannya mulai melayang kemana-mana, untungnya di pecahkan oleh suara ponsel.
Mikasa merogoh kantung blazernya dan melihat layar ponsel dengan jengkel.
"Apa?" sahut Mikasa pada suara di seberang telponnya.
Kini Eren dan Armin saling bertatapan. Mereka tahu betul Mikasa jarang menggunakan ponselnya saat di sekolah, apalagi ia menjawab telpon dengan nada kasar.
"Sekarang?!" seru Mikasa pada ponselnya, "dasar gila.."
Mikasa menendang bangku yang barusan ia duduki, membuat Eren dan Armin terloncat. Samar-samar, mereka sepertinya tahu siapa orang yang barusan menelpon Mikasa. Gadis itu langsung berlari keluar kelas setelah mengucapkan seuntaian kata yang kasar—bahkan beberapa ada yang belum pernah di tulis dalam kamus Armin—entah pada siapa.
.
.
"Kau terlambat." Levi melepas headset yang menyumbat telinganya.
"Tapi kau bilang lima menit! Aku berlari kurang dari lima menit!" seru Mikasa, peluh keluar dari dahinya. Padahal dalam pelajaran olahraga, Mikasa tidak pernah berkeringat seperti sekarang.
Levi menunjukkan Timer di ponselnya, angka '05.03' tertera pada penunjuk waktunya,"hampir, tapi tetap terlambat."
Mata Mikasa terbuka lebar melihat seonggok angka yang sudah mengalahkan kecepatannya berlari dari kelasnya menuju kantin kemudian menuju kelas Levi itu. Kalau saja membunuh bukan dosa, Mikasa pasti sudah menghujamkan seratus pasak ke tubuh kontet Levi berkali-kali. Sayangnya, ia hanya bisa melakukannya dalam pikirannya saja.
Tapi perintahnya memang benar-benar konyol, Levi menyuruhnya membelikan air mineral di kantin kemudian mengantarkannya ke kelas Levi yang ada di lantai tiga. Apalagi gedung kelas satu dan kelas tiga berbeda. Dapat terbayang secepat apa Mikasa berlari naik-turun tangga hanya untuk memenuhi permintaan majikan barunya tersebut?
Mengapa tidak mengabaikannya saja?
Oh, Mikasa sangat benci jika ia harus mengalah pada Levi. Ia akan tunjukkan bahwa ia sanggup menjadi budaknya dan membuat Levi sedikit demi sedikit muak karenanya. Gadis itu tidak lagi memperdulikan ocehan senior-senior di sekelilingnya.
Pikirannya terlalu sibuk mengumpulkan berbagai nama binatang. Untuk apa? Sepertinya sudah dapat ditebak bukan?
"Karena kau terlambat," kata Levi, "kau harus ikut denganku pulang sekolah nanti."
"kau tidak mengatakannya tadi!" seru Mikasa.
Levi membuka air mineral yang dibelikan Mikasa dan meminumnya, "lain kali, beli yang sudah dingin bocah."
"Err.. Levi sebenarnya apa yang dilakukan Mikasa disini?" Hanji yang daritadi diam saja memperhatikan perang batin antara dua Ackerman di depannya akhirnya mengeluarkan isi pikirannya.
Sudut bibir Levi tertarik, "ia hanya membawakan minum untukku," ujar Levi sambil menatap Mikasa—yang menatapnya juga seperti anjing ganas—lalu memangku dagunya dengan punggung tangannya, "ya kan, Mikasa?"
Geraman Mikasa hampir dapat didengar seluruh kelas, "iya," sahut Mikasa, "Levi senpai."
Kacamata Hanji berembun karena nafsnya yang memburu, ia tahu sikap aneh Levi seharian ini pasti ada sangkut pautnya dengan gadis kelas satu ini. Menarik, Hanji yakin tahun terakhirnya di sekolah ini akan sangat menarik.
Lelaki bersurai hitam itu menyuruh Mikasa kembali ke kelas ketika mendengar bel masuk berdering. Hanji kembali duduk di tempatnya, ia melihat sekilas ke arah Levi di tengah berisiknya kelas yang sibuk kembali ke bangku mereka masing-masing.
Levi tertawa sendiri.
Lagi.
.
.
Dari : Bajingan
Pergi ke gerbang belakang, aku menunggumu disana. Kau harus sampai disini sebelum tiga menit atau kuberi hukuman lagi. Dan jangan coba-coba untuk kabur.
Mikasa memelototi layar ponselnya seperti melihat bangkai tikus. Sedangkan Armin dan Eren memperhatikan gadis itu seperti kucing, mereka mulai waspada sejak kejadian istirahat tadi. Mereka tahu betul mood Mikasa sedang berawan.
"Mikasa? Ada apa?" tanya Eren pelan.
"Kurcaci jelek," batin Mikasa.
"Tidak apa-apa Eren, a-aku duluan!" seru Mikasa lalu segera melaju meninggalkan kelas. Eren dan Armin yang sudah dapat menerka apa yang terjadi hanya bisa menaikkan pundak.
"Kalau aku jadi budak Levi senpai," kata Eren, "aku pasti sudah mati sekarang." Armin menyahutnya dengan mengangguk pelan.
"Kali ini tiga menit itu tidak akan mengalahkanku!" seru Mikasa sambil berlari menuruni tangga, ia terus mempercepat laju ketika keluar dari gedung dan membelok menuju gerbang belakang. Tapi setibanya disana, ia sama sekali tidak melihat ada sosok lelaki setinggi 160 senti di dekat gerbang.
"Oi budak."
Mikasa menoleh mencari asal suara—paling menyebalkan sedunia—tersebut hingga ia melihat Levi berdiri di dekat sebuah motor yang berada di parkiran sekolah.
Gadis itu menghampiri Levi dengan langkah malas, ia dapat melihat senyum menyebalkan tidak lepas dari wajah Levi. Mikasa benar-benar yakin lelaki itu memang sudah gila, ia pasti jadi gila karena tinggi badannya, batin Mikasa.
"Pakai ini." Levi melemparkan sebuah Helm pada Mikasa, gadis itu menangkapnya dan memperhatikan bayangannya pada kaca helm tersebut. Helm itu terlihat masih baru.
"Aku tidak terlambat kan?"
Levi yang sudah menyalakan mesin motornya itu memandangi Mikasa, "jika kau telat dengan tenggat waktu selama itu, kau bahkan tidak pantas untuk jadi budakku kau tahu," kata Levi, "aku hanya tidak mau lama menunggu."
"Dasar licik," gumam Mikasa, gadis itu menendang ban belakang motor Levi.
"Kau tendang lagi seperti itu aku akan mengikatmu dengan tali dan memaksamu berlari mengejar motor ini," ujar Levi, "sekarang cepat naik."
"Uh.. apa kau harus menyiksaku dengan membuatku harus duduk di atas kendaraan sialmu ini?"
"Naik saja budak sialan."
Mikasa menempati sisa jok yang tersedia di belakang Levi dengan enggan. Siapa sangka dua orang yang paling bermusuhan di sekolah tersebut akan menaiki motor berdua. Tapi sayangnya, seisi sekolah terlalu takut untuk ikut campur urusan Ackerman yang sebenarnya jadi berita hangat itu. Lebih baik, jauh lebih baik menghindari dua bom atom yang siap meledak itu.
Mikasa memakai Helmnya ketika melihat Levi juga melakukannya. Tapi satu hal yang tidak akan Mikasa lakukan, yaitu berpegangan—memeluk—lelaki kontet yang ada di hadapannya. Tidak, tidak, tidak akan pernah terjadi. Mikasa lebih memilih terjatuh dari motor daripada harus menyentuh dan merangkul pinggang Levi.
"Kau mau membawaku kemana?" Gadis itu berpegangan pada pegangan yang ada di belakang jok.
Yang ditanya tidak menjawab, lelaki itu malah menutup kaca helmnya, ia mulai memacu gas dan menjalankan motornya keluar dari sekolah. Gadis di belakangnya hanya bisa menggerutu di balik helm. Ia berharap seniornya itu cukup waras untuk tidak membawanya ke gunung dan membuangnya ke sana.
Levi sengaja memacu motornya dengan kecepatan yang tinggi, sesekali ia melirik ke spion untuk melihat keadaan budak barunya tersebut. Well, dibandingkan menjadi seorang budak sepertinya Levi lebih mengaggap Mikasa seperti mainan.
Mainan baru yang sangat menarik.
.
.
"Sudah kubilang," kata Levi, "jika kau terus menatapku seperti itu bisa-bisa kau jatuh cinta padaku,"
Mikasa mendecih, ia ingat sekali itu perkataannya beberapa hari lalu.
"Yang benar saja," katanya, "kenapa kita ada disini?"
Levi mengangkat cangkir kopi hitamnya kemudian menyeruput sedikit demi sedikit isinya, ia mengalungkan lengan kirinya di sandaran kursinya.
"Tidak ada maksud apa-apa." Levi menaruh kembali cangkirnya di atas meja lalu membalas tatapan gadis yang duduk di seberangnya.
Mikasa mengepalkan kedua tangannya di bawah meja, rasa ingin meninju wajah di depannya sekarang sudah hampir meledak.
Beberapa menit yang lalu Levi tiba-tiba saja memarkirkan motornya di sebuah Café, ia memaksa—menyeret—Mikasa masuk ke dalamnya kemudian memesan kopi hitam beserta Cheese Cake. Ternyata Mikasa benar tentang seniornya itu, dia benar-benar gila.
Gadis itu berdiri dari tempatnya, "aku pulang sekarang."
"Kita sudah sepakat, ingat?"
Mikasa menggigit bibir bawahnya, ini baru hari pertama ia menjadi 'budak' Levi, tapi Mikasa merasa seperti berada di neraka selama seribu tahun.
"Cepat duduk kembali," kata Levi.
"Apa kau sudah memeriksakan kepalamu itu ke rumah sakit?" Mikasa menyandarkan tubuhnya pada kursi, "aku yakin ada beberapa sel sarafmu yang putus."
"Kau tidak menyentuh Cheese cake nya?" Levi dengan santainya mengganti topik, "harus kau habisi jika mau pergi dari si—Akh!"
Oh Mikasa akhirnya meledak, ujung sepatunya barusan menendang tulang kering Levi dengan keras. Sangat keras karena mampu membuat seorang Levi Ackerman berteriak.
"Oi chibi, sebenarnya apa yang kau mau dariku—Yaa!" seru Mikasa, dia merasakan balasan tendangannya barusan, Levi menginjak sepatunya.
"Lancang sekali budak ini," ujar Levi sebelum Mikasa menginjak sepatunya yang lain hingga membuat meja makan mereka bergoncang. Perang babak kedua pun pecah diantara dua Ackerman tersebut.
Beberapa orang di Café melirik sepasang anak sekolahan tersebut dengan bingung, Mikasa dan Levi saling melontarkan ejekan dan menginjak kaki lawannya di bawah meja. Pemandangan yang sebenarnya cukup aneh. Beberapa dari mereka malah tertawa dan menganggap dua orang itu pasangan kekasih yang lucu.
Beruntung Mikasa dan Levi tidak mendengar isi hati mereka, kalau tidak kasihan sekali pemilik Café tersebut nantinya.
Levi yang sudah habis kesabaran menarik syal Mikasa agar wajah gadis itu mendekat dan memaksanya menghentikan perang konyol yang mereka lakukan.
Lelaki tersebut sudah mulai terbiasa menatap juniornya itu dalam jarak dekat, apalagi tatapan Mikasa, oh.. itu seperti hal wajib yang harus dilakukan gadis itu setiap melihat Levi. Satu set tatapan penuh kebencian dan geraman.
Sempurna.
"Dengarkan aku Mikasa," kata Levi dengan penekanan tiap katanya, ia masih memiliki ujung syal Mikasa di tangannya. Gadis tersebut melayangkan serangan sepatunya yang terakhir, tapi Levi mengabaikannya.
"Aku ingin tahu dari mana kau mendapatkan margamu itu," ujar Levi.
Mikasa berhenti, raut wajahnya kembali mendatar. Ia menjauhkan tubuhnya perlahan dan menepis tangan Levi.
"Kudapat dari pihak ayah, kenapa?" jawab Mikasa ketus.
"Lalu ayahmu itu berasal dari keluarga apa?"
"Kenapa aku harus memberi tahumu?" keluh Mikasa.
"Karena marga Ackerman yang kumiliki adalah keturunan garis besar keluargaku," ujar Levi, ia kembali meminum kopi dari cangkirnya.
"Dan?" ujar Mikasa, "bukankah kita sudah menyatakan kalau kesamaan marga kita ini hanya kebetulan?"
Levi meletakkan cangkirnya lagi, "memang," sahutnya, "tapi aku merasakan ada yang aneh karena Ackerman bukanlah marga pasaran seperti kebanyakan marga, teman pirangmu itu benar."
"Makanya aku ingin tahu darimana ayahmu mendapatkan marga tersebut," lanjut Levi.
Kepala Mikasa mulai mendingin, ia mulai mengingat-ingat beberapa pecahan memori yang ia miliki akan ayahnya. Gadis itu melirik ke atas meja sambil menimbang-nimbang sesuatu. Tangan kanannya menggapai garpu kue yang daritadi tidak diladeni olehnya itu, ia memasukkan satu suapan Cheese cake ke mulutnya.
"Aku tidak tahu," kata Mikasa sambil mengunyah pelan, "ayahku sudah meninggal ketika aku masih bayi."
"Kau tidak pernah bertemu kakek atau nenekmu?"
"Pernah," ujar Mikasa, "tapi hanya dari pihak ibu."
Levi bergeming, ia memperhatikan Mikasa mulai memakan kue pesanannya itu dengan lahap. Tapi penjelasan Mikasa sama sekali tidak memberikannya informasi berguna.
Nama Ackerman yang diberikan pada Levi sudah diturunkan dari garis keturunan keluarga besarnya, yang Levi yakin betul Ackerman merupakan marga yang tidak terlalu populer di kalangan orang-orang. Keluarga besar yang dimilikinya tidaklah terlalu besar.
"Jika kau berpikir kalau kita satu keluarga," kata Mikasa, "kau salah."
Levi menaikkan alisnya.
"Karena tidak mungkin aku mempunyai saudara sependekmu." Mikasa memakan suapan kuenya yang terakhir.
"Tch.." Tentu saja, apa yang diharapkan Levi dari gadis yang hobinya adalah mengejeknya ini.
"Aku sudah menghabiskannya." Mikasa berdiri dari tempatnya dan menarik ranselnya, "selamat sore, senpai."
"Tunggu."
"Apa lagi?" sahut Mikasa ketus, ia sudah mau meninggalkan Levi.
"Siapa bilang kau akan pulang sendiri?"
Mikasa butuh sebuah cottonbuds untuk membersihkan telinganya sekarang, ia merasa mendengar sebuah kalimat yang ganjil.
"Aku akan mengantarmu." Levi bangkit dari tempatnya dan berjalan mendahului Mikasa menuju pintu depan.
.
.
"Kakak! Kakak!" seru Mikasa kecil, "ini namanya apa?"
Seorang lelaki menghampiri Mikasa dan menepuk pelan kepalanya, "itu belalang, salah satu jenis serangga juga." Lelaki itu berjongkok untuk menyamai tingginya dengan Mikasa.
Mikasa menatap binar pada serangga hijau yang ia temukan di antara semak-semak di belakang rumahnya tersebut.
"Jadi dia saudaranya kupu-kupu ya kak?" ujar Mikasa menatap lelaki di sebelahnya, "kupu-kupu kan serangga juga!"
Lelaki tersebut tertawa mendengarkan adiknya itu, "iya! Sama seperti kakak dan Mikasa," ujarnya, "Mikasa kupu-kupunya, kakak belalangnya." Ia tertawa lepas sambil mengusap kepala Mikasa.
"Lalu ibu apa?"
"Hmm.. ah! Ibu adalah kunang-kunang!"
"Kalau ayah?"
Seketika raut wajah lelaki tersebut berubah, ia sedikit menundukkan kepalanya.
"Kakak?" tanya Mikasa, "ada apa? Mikasa salah bicara ya?"
Lelaki tersebut menatap dan tersenyum pada Mikasa, "tidak," sahutnya,"ada sesuatu masuk ke mataku tadi."
"Eh? Benarkah?!" seru Mikasa, ia meraih wajah kakaknya tersebut dan meniup-niup matanya pelan, "pergilah sakit, pergilah jauh-jauh," ujar Mikasa sambil meniup mata kakaknya itu.
Lelaki itu langsung memeluk tubuh mungil Mikasa dengan gemas, "kau memang adikku yang tersayang."
Mata mikasa terbelalak.
Tangannya menggapai benda kotak yang dari tadi mengeluarkan suara berisik di samping tempat tidurnya itu. Ia menarik benda berdetik tersebut dan membaca arah jarum jamnya.
05.30
Mikasa bangkit dari tempat tidurnya meraih tombol lampu, begitu benda bulat tersebut menyala matanya otomatis menutup karena menerima cahaya berlebihan. Gadis itu duduk di tepi ranjangnya sambil memperhatikan kalender yang ia taruh di dekat meja belajarnya.
Ada satu tanda X besar dengan spidol merah di salah satu kotak harinya.
"Hebat," batin Mikasa, "ini baru hari kedua." Mikasa berjalan pelan menuju kamar mandi.
Setelah melakukan aktivitas rutinnya di pagi hari seperti membersihkan badan, mencuci rambut, menggosok gigi, dan memakai seragam, Mikasa langsung menghambur ke dapur untuk menyiapkan bekal.
"Chibi sialan itu," gerutu Mikasa sambil menggoreng telur dadarnya, "bahkan aku belum pernah membuatkan Eren bekal."
Suara khas dapur dan aroma wangi dari masakan buatan Mikasa menguar ke seluruh rumah.
"Mikasa?"
Yang memiliki nama segera menoleh ke belakang dan tersenyum, "ah maaf," kata Mikasa, "apa aku membangunkan ibu?"
"Aku ingin melemparkan diriku ke jurang saja," ujar wanita yang berjalan menuruni tangga itu, "mana ada ibu yang bangun lebih telat dari anaknya."
"Ibu kan bekerja untuk kita berdua sampai larut," kata Mikasa sambil kembali fokus pada kegiatan memasaknya, "sudah semestinya ibu istirahat yang cukup."
Wanita yang terlihat sudah berumur itu menghampiri Mikasa dan melihat pekerjaannya.
"Aku terlalu sibuk bekerja sampai tidak menyadari kau sudah sebesar ini," kata ibu Mikasa.
"Andai saja ayah dan kakak masih ada disini," gumam Mikasa.
Ibu Mikasa mengelus punggung anaknya tersebut, "mereka pasti senang melihatmu dari sana."
Mikasa tersenyum.
"Untuk apa membuat dua bekal?" tanya ibu Mikasa yang melihat dua kotak bekal di atas meja.
Senyum Mikasa luntur.
"Uh.. itu untuk.." Mikasa memotong telur gulungnya dengan keras menyembunyikan kekesalannya dari ibu tersayangnya itu.
"Ah!" seru wanita tua itu, "jangan bilang putriku ini akhirnya punya kekasih!"
Ada Godzilla mengamuk di kepala Mikasa, ibunya memang selalu terlalu cepat menyimpulkan.
"Ibu.." rengek Mikasa sambil menaruh masakannya di dua kotak bekalnya.
"Siapa dia? Siapa dia?" tanya wanita itu, "apa Eren? Kau selalu menyukainya kan?"
"Ibu! Dia bukan kekasihku!" Mikasa menaruh panci bekas memasaknya di wastafel kemudian memasukkan beberapa lauk lain yang sudah ia buat sebelumnya di kotak bekal tersebut.
"Lalu siapa dia?" Ibu Mikasa memangku wajahnya sambil duduk di meja makan memperhatikan anak semata wayangnya itu menggerutu diam-diam.
"Dia.. err.. dia—"
Ponsel Mikasa yang ditaruh di meja makan berbunyi dan langsung mencuri perhatian pemiliknya, ia langsung menyambar dan melihat deretan huruf yang tertera disana. Beruntung ibunya tidak sempat melihatnya.
"Sial.." gumam Mikasa.
Dari: Bajingan.
Aku didepan, cepat bawa kakimu kesini dan sebaiknya kau tidak melupakan bekalku.
"Ada apa Mikasa?"
Mikasa menutup kotak bekalnya cepat-cepat dan menaruhnya di tas, "aku harus berangkat sekarang bu."
Gadis tersebut bergegas memakai sepatunya di dekat pintu depan, samar-samar dapat ia lihat figur 160 senti itu duduk santai di atas motornya di depan halaman rumahnya melalui jendela yang ada di sebelah pintu. Oh.. pagi yang sempurna sekali bukan? Mikasa sangat mengharapkan hujan turun sekarang juga.
"Siapa itu?" tanya ibu Mikasa yang mengekorinya dari dapur.
Sempurna sekali.
"Supir," sahut Mikasa jengkel.
"Huh?"
"Sampai jumpa ibu."
Mikasa mengecup pipi ibunya itu dan bergegas keluar rumah dan berlari ke halaman.
Sang majikan—yang sepertinya menggarap menjadi supir pribadi Mikasa juga—nya itu menatap Mikasa sekilas dan melempar helm yang sama seperti yang ia kenakan sebelumnya. Setelah mengantar Mikasa kemarin, Levi sudah mengetahui bagaimana jalan menuju rumah Mikasa. Padahal Mikasa sudah memberikan alamat pengecoh pada Levi saat ia memintanya kemarin, ia seharusnya tahu seniornya ini tidak bodoh.
"Cepat jalan!" Mikasa langsung meloncat ke atas motor Levi.
"Oi bocah." Levi menyalakan motornya, "terburu-buru sekali, kau sedang sembelit?"
"Aku tidak mau ibuku melihatku diboncengi preman cebol sepertimu," jawab Mikasa ketus.
Levi mendecih, "Kau memang minta untuk kuseret dengan motor ini huh?."
Mikasa dapat melihat pintu rumahnya terbuka dan kepala ibunya menyembul disana. Oh, dia tahu ibunya telah melihat Levi walau lelaki itu sudah mengenakan helm. Sudah dapat ia bayangkan pertanyaan dan godaan beruntun yang akan dihujani ibunya nanti malam.
"Hati-hati dijalan Mikasa!" seru ibunya dengan nada ceria.
Bagaimana tidak. Selama ini ia tidak pernah melihat anak gadis satu-satunya itu menggandeng kekasih. Apalagi anaknya itu sangat jago berkelahi, lelaki manapun pasti akan takut padanya. Yang ia tahu Mikasa hanya bermain dengan Eren dan Armin saja. Tapi sekarang ia tersenyum menahan tawa melihat anak gadisnya itu dijemput seorang laki-laki ke sekolahnya.
Sayangnya hubungan kedua manusia itu bukan saling cinta, tapi saling benci. Yah.. setidaknya Mikasa memang membenci seniornya itu dari lubuk hati yang terdalam, manis sekali bukan?
Batin Mikasa menjerit seakan-akan tahu apa yang dipikirkan ibunya. Sedangkan Levi tidak peduli dengan semua drama pagi antara ibu dan anak tersebut.
"Apa yang harus kuperbuat agar kau tidak akan pernah menjemputku di depan rumahku lagi," ujar Mikasa tajam setelah Levi menjalankan motornya.
Levi tersenyum kecil di balik helmnya, ia tetap fokus melihat ke arah jalan.
"Satu ciuman sudah cukup bagiku."
"Kau memang sudah tidak waras."
.
.
To Be Continued
.
.
HAI SEMUA /elus layar/
Selamat menunaikan Ibadah puasa yaa bagi yang menjalankan! /iya saya telat ngucapin/mau gimana lagi/getok light. Semoga di bulan puasa ini makin berkah, makin banyak ide buat bikin fic juga _(:'3 dan para readers menikmati hari-hari liburan kalian dnegan penuh berkah /sebar ta'jil/sebar asupan rivamika/yeaa
Terima kasih masih setia membaca fic ini ^^. Dan terima kasih juga atas review, fav, dan follow kalian semua!.
Aku akan usahakan update setiap minggu/atau mungkin lebih cepat/atau ebih lambat :'D *tergantung mood* /boboan
Nantikan drama dua Ackerman konyol ini di chapter depan ya! :))
