Sekilas tentang kantor-
.
"BlazzingRims Police Office" sudah berdiri sekitar 11 tahun dibawah asuhan seorang jendral muda bernama Jendral Blaze.
Selama ini, Kantor polisi BlazzingRims memiliki semboyan, "Berani karena benar, takut karena salah". Semboyan ini bertujuan untuk mengimajinasikan seluruh polisi yang ada, agar memahami setiap masyarakat yang mereka ayomi. Supaya tak terjadi sebuah kesalahpahaman yang berujung kemautan. Teringat, kadang ada polisi yang suka mengambil keputusan langsung tanpa mau bermusyawarah lagi. Akibatnya, bentrok antar warga dan polisi pun berlangsung dengan sia-sia saja. Jendral Blaze tidak ingin kejadian itu menimpa pada anak buahnya.
Suatu hari, pintu ruangan Jendral Blaze terbuka lebar dan seseorang masuk. Paras orang itu mirip sekali dengannya. Iris dan pakaian saja yang dapat dibedakan. Nama orang itu adalah Jendral Ais. Pemilik kantor polisi di Freeziesrims. Pria itu tersenyum menemui sahabat lamanya, begitu juga dengan Blaze. Ais memulai pembicaraan,
"Ada apa menelfon, sahabatku? Ingin meminta bantuan?"
Blaze tertawa renyah, "Tentu Jendral Ais, aku memanggilmu kesini karena aku butuh dua personal dari kantormu untuk membuat tim detektif khusus di BlazzingRims. Kudengar, kau memiliki anak buah yang hebat-hebat. Dari hasil adopsimu?"
Ais berdecak meremehkan. Dia mengganguk dan akhirnya kembali fokus pada tatapan dari Blaze,
"Aku memiliki dua anak buah yang sepertinya kembar. Namun tak jelas siapa orang tuanya. Yah, kau tau kan? Mereka begitu mirip. Sampai-sampai aku harus membedakan pakaiannya. Irisnya memang berbeda, tapi tetap saja aku sering bingung ketika ingin memanggil mereka." Blaze tertawa. Ia juga pernah mengadopsi seorang anak yang ia selamatkan dari gubuk yang terbakar dan nyaris mati disitu.
"Hmm… siapa mereka?"
"Halilintar si dingin, Taufan si ceria. Mereka berdua sangat lucu. Tapi aku sedikit tidak tahan dengan keributan yang mereka buat setiap pagi. Aku bisa membatalkan sholatku hingga lima kali malahan."
Blaze mengganguk sambil tertawa begitu juga dengan Ais, "Kalau kau mau, kupanggil mereka sekarang. Lihat saja langsung sifatnya mereka…"
"Yah.. ide bagus.."
Setelah memanggil kedua polisi itu, akhirnya mereka datang. Blaze awalnya terkejut mendapati wajah mereka yang begitu mirip. Namun, ia teringat lagi wajah mereka itu juga mirip seperti adik angkatnya yang dikenal 'berjiwa pemimpin' di BlazzingRims.
Blaze berkenalan dengan Halilintar dan Taufan. Ia memberitahu maksud mengapa mereka dipindahkan kesini dan hal lain sebagainya. Blaze juga sudah memanggil adik angkatnya yang katanya sedang memimpin latihan fisik di ruang olahraga.
Pintu diketuk, dan berderit terbuka. Nampak seorang pemuda berumur sekitar 17 tahun melangkah tegap dan hormat kepada atasannya. Blaze dan Ais. Blaze serta Ais juga ikut membalasi hormat pemuda tersebut. Hingga iris emas pemuda itu bertemu dengan dua pasang mata orang yang sedang duduk di kursi tamu. Mereka bertiga saling membelalak penuh ketidak percayaan. Halilintar dan Taufan segera berdiri, mencoba mendekati wajah pemuda beriris emas itu. Mereka sungguh tak percaya wajah mereka yang begitu kembar. Ais dan Blaze berpandangan saling melempar senyum, lalu memandangi mereka yang sedang berkenalan ria.
Akhirnya, terbentuklah sebuah lembaga detektif khusus di Blazzingrims. Yang di anggotai oleh,
Gempa, pemimpin kelompok detektif Blazzingrims. Detektif spesialis ilmu bumi. Halilintar, ahli simbol dan kimia. Serta Taufan, ahli fisika dan komputer. Mereka begitu hebat menyelesaikan berbagai macam kasus kriminal atau hal lainnya. Mereka juga tenar di kalangan para publik akan wajah 'ganteng' mereka. Mereka juga sering dijuluki 'polisi ganteng' atau 'Trio Coller'. Memang tidak disalahkan jika ada julukan seperti itu. Fansgirl pun jangan ditanyakan lagi. Kewajiban mereka sebagai seorang polisi juga sudah tersebar luas diinternet. Bahkan seluruh dunia. Blaze hanya bisa menggeleng ketika melihat berita maupun acara tv yang dibintangi oleh anak buahnya sendiri.
Namun dalam hati Gempa, Gempa masih bertekad ingin bertemu dengan adik-adiknya. Mungkin dengan cara tenar dipublik dan menjadi seorang detektif adalah pilihan yang tepat agar dia cepat bertemu dengan adik-adiknya…
Yeah, semoga saja…
.
.
"TAUUFFFAAANNNNNN!"
Pria yang sedang meringkuk manis di bawah selimut tebalnya, dengan cepat membuka kedua matanya yang tadi tertutup akibat suara jeritan maut yang sukses membuatnya kaget setengah mati.
"GYAAA… AMPUUNN… MAAF HALLLIII! AAA! SAKIIITTTT!"
Pria itu bangun dan terduduk dari posisi tidurnya sembari mengusap-usap telinga bagian kanan. Masih dengan wajah malas-malasan dan bingung, ia mencoba menatap pintu kamarnya yang langsung berhubungan dengan ruang keluarga. Wajah tampannya terlihat bosan menunggu apakah akan ada teriakan menggenaskan seperti itu lagi.
Dua detik.. tiga detik..
Tidak ada. Sepi. Berarti mereka sudah kembali akur. Pria itu kembali ambruk di kasurnya. Menikmati guling dan bantalnya yang empuk. Bergumam sedikit sambil tersenyum tipis karena telah kembali mendapatkan ketenangannya. Namun sebelumnya, pria tampan itu berpikir sederhana dalam benaknya,
Jam berapakah sekarang?
Langsung saja Gempa bergulingan dari kasurnya dan berakhir terjatuh dari atas tempat tidurnya. –salahkan-dia-yang-bergulingan- "Ukhh… aku sampai lupa jika ada cara yang lebih elit daripada bergulingan seperti tadi." Ringis Gempa terus mengusapi bokongnya yang sakit karena menghantam lantai duluan.
Kedua kakinya ia masukkan ke dalam sandal rumah berwarna putih bertekstur lembut. Berjalan dengan gontai dengan kepala yang masih sedikit berdenyut, ia mencoba meraih gangang pintu kamarnya. Tangannya belum menarik gangang itu kebawah. Ia masih terbengong dibalik pintu itu dengan tatapannya yang kosong.
Aku kenapa tadi… sepertinya aku mengingat sesuatu.. batin Gempa dalam hati. Ia menggeleng cepat berusaha mengusir pikiran-pikiran yang memenuhi otaknya hingga membuatnya pusing. Palingan kebanyakan mikirin klien…
Kriiett..
Iris keemasan itu langsung membelalak. Mengagumi ruang keluarganya yang tak berantakan seperti hari-hari sebelumnya ketika mendengar teriakan-teriakan seperti menit yang lalu. Namun, wajahnya mendadak gelisah. Gempa tidak terbiasa jika melihat ruangannya sebersih ataupun serapih ini setelah teriakkan-teriakkan memuakkan itu. Mata Gempa berputar, mencoba mencari seseorang dari sudut pandang yang ia bisa jangkau.
"Halilintar?! Taufan?! Kalian dimana?!" Seru Gempa. Tak ada jawaban. Melainkan suaranya yang hanya meggema antar dinding ruangannya yang kedap suara. Jadi, berteriak sekeras apapun, tak ada orang yang akan bisa mendengar.
Gempa digelut rasa panik. Ia mulai kembali berpikir yang macam-macam. Mereka kenapa? Otaknya tak bisa berpikir benar. Ia sudah dilanda rasa panik yang luar biasa.
Ketika melangkahkan kakinya kedapur, nafasnya seketika tercekat. Ia mendapati dua sosok orang didapurnya. Yang satu nampak mencekik orang itu sambil terus menguncangkannya, sementara yang dicekik hanya memegangi pergelangan tangan orang yang mencekiknya itu.
Gempa langsung menghembuskan nafasnya panjang. Ia lega sekali setelah mendapati kedua adiknya sedang akur- eer… sedang bertengkar di dapur. Gempa mengelus-elus dadanya. Ia merasa segala beban pikirannya kini telah lepas dan tubuhnya terasa lebih ringan. Pria bermata emas itu mendekati mereka berdua masih dengan wajah yang menunjukkan kelegaan.
Merasa ada seseorang yang mendekat, Halilintar menoleh karah kanan dan mendapati kakaknya yang berjalan mendekati mereka. Taufan yang sedari-tadi berusaha melepaskan cekikan maut Halilintar, juga ikut menoleh kearah tatap Halilintar karena sadar tidak diberi tatapan tajamnya.
"Ya Allah… Kalian bertengkar lagi? Ughh.. ayolah… kalian ini sudah 20 tahun! Masih saja bertengkar kayak anak bocah. Dewasa sedikit kenapa sih?"
Halilintar melepaskan cengkramannya dari leher Taufan. Taufan langsung mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Membuat Gempa sedikit bergidik. Betapa menyeramkan jika dicekik oleh orang yang sangat temperamen. Halilintar mendekati Gempa yang tingginya tak jauh berbeda. Bahkan kalau bisa dilihat tingginya, Halilintar secenti lebih tinggi dibanding Gempa.
"Kakak sudah sehat? Tadi kakak kenapa? Sakitnya kambuh lagi?"
Gempa menatap bingung Halilintar. Membalasi tatapan pria beriris merah delima yang kini memandangnya datar. "Masih sakit kak?"
"Sakit? Apa maksudmu Hali? Aku tak pernah sakit sebelumnya.." Jawab Gempa sepolos mungkin.
Taufan menepuk jidatnya pelan bersamaan dengan Halilintar yang menggeleng-geleng tak percaya. Gempa yang masih belum sadar akan kejadian yang menimpanya, ia pun mencoba tuk kembali mengingat-ngingat apa yang telah terjadi padanya.
"Jangan dipaksakan kak. Nanti kakak pingsan lagi."
Teguran dingin dari Taufan membuat Gempa membuka matanya, ia mendapati Taufan sedang menatapnya serius. Tangannya dia lipat didepan dada, pinggulnya bersender pada wastafel yang memang tingginya sepinggang Taufan. Sementara Halilintar kembali fokus pada masakannya.
Gempa masih bingung apa yang membuat mereka bersikap secuek ini. Tapi karena merasa tidak mampu mengigat lagi dengan kepalanya yang memang 'pusing', Gempa pun memutuskan untuk melupakan hal-hal negatif nya.
Taufan melepas celemek biru cyan yang melekat pada tubuhnya. Meletakkannya di gantungan baju belakang pintu dapur, dan berjalan menuju lemari pendingin yang berdiri dekat dengan jendela. Gempa masih berdiam ditempatnya. Matanya mengikuti setiap gerak-gerik kedua adiknya. Merasa bosan, dia pun membalikkan badan menuju ruang keluarga.
"Hal, makannya di ruang kumpul ya.. sekali-kali makan sambil nonton tv… bosen aku nonton kalian berantem terus…" Halilintar menjawab perintah dari Gempa dalam diam, sementara Taufan nampak meneguk air putih dingin yang dikemas dalam botol plastik berwarna biru cerah. "Ahhh…. Segarr…."
Tok. Tok. Tok.
Ketukan di pintu depan membuat aktifitas para polisi kembar itu terhenti sebentar. Sesudah itu, teriakan dari Taufan kembali mencairkan suasana di dapur mungil tersebut.
"AKU YANG BUKA PINTUNYA~" polisi kekanak-kanakkan itu segera ngacir kepintu depan. Gempa yang awalnya bingung dengan sikap mendadak Taufan yang langsung ceria, akhirnya ikut mengekor dari belakang. Sementara Halilintar, dia menggertakan gigi sambil memegang sendok sayurnya kuat-kuat.
Taufan membuka pintunya yang terketuk. Senyuman lebar dan cerah senantiasa terpampang pada wajah polisi tampan itu ketika hendak bertemu dengan seseorang. Yang membuat orang bisa ikut-ikutan tersenyum tanpa sadar. Begitulah cara Taufan memikat seseorang. Saat dia membuka pintu ruangannya, berdiri disana seorang laki-laki yang menggunakan pakaian santai. Hanya berbalut kaos putih sedikit 'kotor' dan celana jeans biru yang elegan. Orang itu sedang membawa sebuah kerdus piza ditangannya.
"Waaahh~ Gopal! kau yang mengantar piza ku? Terima kasih…" Taufan menerima kardus yang disodorkan pria yang dipanggil 'Gopal' itu. Sementara Gopal tertawa mendengar suara Taufan yang lucu. "Hehehe… sama-sama Serda Taufan!" serunya sambil berpose hormat pada serda itu.
Taufan tersenyum simul sembari tangan kanannya merongoh kantung celana. Baru sadar, dia tidak membawa dompetnya sekarang. Ketika berbalik hendak mengambil dompet, Taufan sudah menemukan Gempa yang menyodorkan uang seratus lima puluh ribu ke Gopal. "Nah, Gopal. Terima kasih sudah diantarkan. Dan… ini untukmu. Lumayan buat makan siang kan?" Gempa tersenyum gentle dan memberi uang lima puluh ribuan lagi kepada Gopal. Bermaksud untuk memberinya tambahan.
Gopal menerima uang itu dengan tangan terbuka. Dia tertawa-tawa sambil melipat uang itu dan memasukkan kekantung celananya. "Terima kasih banyak Inspektur! Jadi merepotkan…"
Gempa ikut tertawa, "Tidak. Tidak repot kok. Oh iya, mobil saya sudah dicuci belum? Kalau belum kan, saya ingin mencucinya. Gak enak kalau anda terus yang mencuci keempat-empat mobil saya…" Gempa bersender pada pintu ruangan. Gopal tertawa kecil berusaha tak menyindir Ipda dihadapannya.
"Tidak, saya tak keberatan untuk mencuci seluruh kendaraan anda, Inspektur. Bahkan saya senang sekali bisa merawat seluruh kendaraan di BlazzingRims. Sekarang pun saya sedang berniat ingin mencuci mobil anda."
Gempa memang memiliki empat mobil dalam parkiran kantornya. Kedua dari keempat mobil itu dia berikan untuk Halilintar dan Taufan, sementara yang keduanya untuk keperluan pribadi maupun keadaan genting. Seperti melacak daerah-daerah rawan balapan liar atau tempat-tempat yang biasa dibuat 'hiburan malam'. Selain mobil, Gempa juga memiliki dua unit motor polisi pemberian Jendral Blaze. Teringat lagi masa lalunya ketika baru diberikan kedua motor keren itu. Beratnya sekitar 25 kilogram. Dan diberikan ketika ia naik pangkat menjadi Inspektur Polisi dua. Yah, berarti usia motor itu masih muda sekali.
"Kalau itu memang benar, saya tak memaksa. Tapi lakukanlah dengan ikhlas. Saya sudah menawarkan diri untuk mencuci sendiri mobil saya. Jadi, kerjakan pekerjaan anda dengan semangat. Oke?" Gempa memposisikan tangannya menjadi pose hormat. Gopal pun mengikuti pose ipda itu.
"Siap laksanakan! Kalau begitu saya pamit ingin kembali ketempat kerja.."
Gempa mengganguk dan memandangi punggung pria berdarah India yang semakin menjauh. Akhirnya Gempa dan Taufan kembali masuk kedalam ruangan. Gempa mendorong pintu agar tertutup.
"Gyahaha~ terima kasih ya kak! Nanti Taufan ganti!" Seru Taufan senang. Gempa tersenyum mengiyakan.
"YEEEYYY~! KITA MAKAN PI-"
DUAK!
"Aduuhhh!"
Taufan terjungkang kebelakang akibat sebuah sendok sayur yang menubruk dahinya. Kerdus piza itu terlempar ke udara dan untungnya, Gempa menangkap kardus yang berisi makan siang mereka itu dengan tatapan polosnya. Ia menoleh kearah dapur, iris emasnya menangkap Halilintar yang masih berbalut celemek merah, sedang mendekat dengan langkah yang menyeramkan.
"Kau benar-benar memesan piza Taufannn!" Erang Halilintar marah. Taufan bergeming dan terus memegangi dahinya yang sakit berkat lemparan maut Halilintar. "Aduduh… kejam kau Hali…"
Halilintar mengambil kembali sendoknya yang berada disebelah Taufan. Ia memandang sinis Taufan, "Biarkan saja! Bisa tidak sih menghargai pekerjaan orang?!" Halilintar mengambil ancang-ancang itu memukul Taufan dengan sendok itu. Namun, Gempa yang 'tidak tau' apa penyebab mereka bertengkar hanya menahan tangan Hali yang berotot itu. Tatapannya seolah untuk tidak bermain tangan sebagai pelampiasan kekesalan. Halilintar yang mengerti kontak mata dari Gempa, akhirnya menurunkan tangannya.
"Biarlah Hali… setidaknya kita makan piza dulu hari ini. Masakanmu akan kita makan nanti sore. Bagaimana? Lagipula kita juga jarang sekali makan piza. Sekali-kali lah… bolehkan?" Gempa tersenyum pada adiknya yang membuat Serda temperamen itu membulatkan matanya walau tak begitu terlihat.
Aku pernah melihat senyuman ini…
Taufan langsung memeluk Gempa dari bawah sambil menangis sejadi-jadinya, "Hwaaa… Kak Gempaa~! Terima kasih lagi sudah menolongku dari malaikat maut tak berperasaan ituuu… huwaaa…"
Gempa tertawa cekikikan. Tangan kirinya mengusap lembut surai hitam mengkilat milik Taufan. "Hehehe… dia kan masih punya perasaan, Taufan… kalau tidak, pasti dia tidak akan memasakkan kita makanan selama ini.." Taufan terdiam menikmati setiap usapan lembut kakaknya. Taufan merasa usapan ini bukanlah usapan pertama kalinya, dia pernah merasakan usapan ini sebelumnya..
"Aku akan keluar. Tapi, setelah adikku bahagia.."
Tak ingin larut dalam kesunyian, Gempa yang merasa diperhatikan oleh kedua adinya mulai bergerak gelisah. Ia berusaha mencairkan suasana tegang di ruangannya.
"Hali? Taufan? Ya sudah ayo makan, nanti keburu dingin pizanya… gak enak kalau dah dingin. Hali, siapkan piring ya… jangan lupa pisau khusus pizanya."
Tersadar dari lamunan, Halilintar langsung berjalan menuju dapur sambil membawa sendoknya. Diikuti Taufan yang langsung berteriak kegirangan pergi ke dapur mendahului Halilintar,
"MAKAN PIZAAA~"
Gempa menghembuskan nafasnya panjang memandangi Taufan yang sifatnya kadang suka berubah-ubah. Tapi toh, Gempa tetap menyayangi mereka apa adanya.
Gempa membawa kardus itu keruang keluarganya. Meletakkan kardus itu diatas meja tamu, duduk disofa yang berhadapan dengan tv LEDnya, dan mencari remot untuk menyalakan tv.
Gempa mencari saluran berita untuk memastikan kota yang diayominya masih dalam suasana tenang dan damai. Tapi yang dia temukan bukanlah FireBlazt City, melainkan WaterFrizt Town. Dimana ada seorang wanita berpakaian polisi lengkap, sedang diwawancarai oleh reporter disampingnya. Dilatar belakangi polisi-polisi lain yang nampak sedang berlalu-lalang. PolWan itu terlihat santai memberi penjelasan keadaan kotanya sekarang. Pakaiannya yang tertutup, baret polisi khas FreeziesRims bertengger cantik dikepalanya, memiliki surai hitam panjang sebahu, dan berpangkat Inspektur Polisi satu, atau Iptu.
Mengerutkan keningnya, Gempa menyaksikan reportase berita. Tegasnya ucapan PolWan itu, tetap tak bisa menutupi kemanisan wajahnya.
Apadia sudah punya pacar atau suami? Pikirnya melantur.
Gempa memang tidak menggubris soal asmara dalam hidupnya. Baginya, urusan jodoh itu sudah ada ditangan Tuhan. Ketika jodoh itu dipertemukan denganya, maka dari situlah ia akan mulai menjalin hubungan asmaranya. Namun sekarang, tentu dia juga membutuhkan seorang wanita untuk memenuhi hidupnya. Tapi siapa? Ia tak mungkin mencari 'sosok' pendamping diantara fansgirlnya. Itu tidak adil.. jadi dia terpaksa harus membiarkan dirinya tetap bujangan agar tak membuat keributan antar fansnya.
Halilintar dan Taufan datang membawa alat-alat yang diminta oleh kakaknya. Halilintar membawa tiga piring, dan Taufan membawa pisaunya. Sejenak, Gempa mendapati benjolan merah kecil dikening Taufan, benjolan itu menggugat hasratnya untuk bertanya, "Kenapa bisa ada benjolan di dahimu? Apa masih sakit?"
Taufan duduk disamping kakak tertuanya, diikuti tatapan dari Gempa. Taufan langsung meraba-raba dahinya yang memerah tersebut. Seketika, senyumannya melebar seperti kuda ditawari kawin.
"Aahaha~ ini kan tadi habis kena pukul sendok sayur kesayangan Halilin~ tak apa kok kak~ kakak khawatir ma Taufan yahh~?" Ucap Taufan menggoda yang langsung diberi 'tatapan maut' Halilintar.
"Ya iyalah kakak khawatir. Masa kakak gak khawatir sama adik sendiri? kamu ini ada-ada saja.." Gempa menjelaskannya secara terang-terangan yang membuat Taufan manyun sedikit. Tak merubah parasnya yang memang dari dulu tampan. Halilintar berdehem penuh kemenangan. Sekarang gantian, Taufan yang menatap tajam Halilintar. Tapi ia nampak tak peduli akan tatapan aneh milik Taufan.
Entah apa yang mereka lakukan, tapi mereka nampak memperebutkan kakak tertua mereka yang wajahnya.. egh… samar-samar, ekhem-uke-ekhem.
Gempa yang kebingungan, mengabaikan mereka dan segera mengambil pisau serta sendok dan menarik kerdus piza yang sedikit besar. Dia pun membuka kerdus itu dan terpampang sebuah piza berukuran sedangdengan beberapa daging panggang yang dipotong kecil-kecil dan keju leleh sebagai alasnya. Tanpa basa-basi, Gempa memberikan sepotong untuk Halilintar, sepotong untuk dirinya, dan,
"Aku dua potong ya kak!" Taufan segera menghentikan gerak tangan Gempa yang sudah mengangkat sepotong piza berukuran sedang untuknya. Mendengus pelan, Gempa pun meletakkan piza itu keatas piring adik kecilnya dan kembali memotong piza untuk adiknya yang rakus.
"Allahumma bariklana fimaa razaqtana wa qinna azaban naar.. amin.." Setelah membaca do'a bersama, mereka pun segera menyatap makan siang masing-masing.
Mereka pun makan dalam diam. Tidak sepenuhnya diam, karena tv yang menyala membuat ruangan VIP itu sedikit ramai. Sesekali mereka mengobrol ringan mengenai kasus, atau kepribadian para cowok-cowok dewasa.
"Ah iya… aku lupa buat kopi. Aku mau kedapur dulu.." Gempa beranjak dari posisi duduknya. Namun, tangan Halilintar menghalanginya untuk pergi.
"Biar aku saja yang buat, kopi dingin kan?" Gempa yang ditawari kopi dingin kesukaannya hanya bisa mengganguk sambil tersenyum penuh arti pada Serda itu. "He eh!"
Halilintar pun berjalan menuju dapur untuk membuatkan kopi dingin kesukaan Gempa. Karena memang dari dulu Halilintar tau, Gempa tak bisa membuat kopi sesuai seleranya sendiri.
Gempa kembali duduk disebelah Taufan dan memangku piring berisi piza yang tinggal sepotong. Taufan nampak asyik menyaksikan berita yang sedang diliput dalam channel itu. Berita itu meliput sebuah bencana alam disalah satu negara,
"Gempa bumi menguncang Negara Turkey. Membuat 1.200 meninggal dunia, dan 50 orang luka-luka. Tim SAR pun sedang mencari korban lain di daerah-daerah bangunan Turkey yang rubuh akibat gempa bumi berkekuatan 7,7 Skala Ritcher…"
Taufan menyeringai, ia menarik garpu keluar dari mulutnya, "Kak, habis guncang Negara Turki? Hebat banget sampai 7,7 Skala Ritcher! Tanggung jawab tuh atas korbannya.."
Gempa berdehem dilanjutkan dengan tertawa keras bersamaan dengan Taufan, "Iya nih, habis ngahancurin negara itu.. greget banget ngelihat orang-orang yang berbuat maksiat disana. Gyahahaha! Males banget tanggung jawab, biarkan saja mereka begitu. Xixixii…" ucap Gempa disela-sela tawanya. Taufan tertawa semakin keras, "Tak berprikemanusiaan nihh!"
Tak lama Halilintar datang membawa segelas kopi dingin dalam tangannya dan memberinya pada Gempa sambil duduk disebelah kiri Ipda itu. Gempa menerima kopi dinginya dan mulai meneguknya pelan-pelan. Berita pun tak terasa berganti,
"Beralih keberita selanjutnya, Sebuah Millenium Café digrebek masyarakat karena diduga meracuni salah satu pelanggan disana. Namun, berkali-kali para pegawai di kafe itu menolak secara tegas kepada masyarakat bahwa mereka tak punya rencana membunuh sama sekali… cara korban meninggal pun masih dinyatakan misteri…"
Halilintar, Gempa, dan Taufan, menghentikan semua gerakan mereka. Iris Gempa meliriki kedua anak buahnya melewati ekor mata, memberi isyarat untuk menghitung,
"Satu…" Yang berawal dari Halilintar, "Dua…" Dengan Taufan sebagai lanjutan. Serta Gempa mengangkat kepalanya santai, "Ti… ga.."
KRIIINGG…. KRRIIINGGG… DRRRTTT… DRRRRTTT..
Suara dering telfon maupun getaran, dan pesan masuk dari faksimile meriuhkan suasana disana. Ketiga detektif itu berdiam ditempat, sebelum Sang Ketua memberi aba-aba.
Gempa berdiri dengan komando darinya, "Halilintar, kau jawab semua telfon dan surat kabar itu, Taufan, kau siapkan peralatan-peralatan, sementara aku.."
Tok. Tok. Tok. Ketukan dipintu membaut hening sesaat. Sampai Gempa melanjutkan komandonya, "Aku akan membuka pintu ini. Cepat laksanakan!"
"SIAP LAKSANAKAN!" Seru kedua Serda itu segera pergi ketempat yang dituju. Gempa berjalan cepat kearah pintu luar dan membukanya. Ada seseorang yang mengenakan pakaian polisi khas sini. Image wajahnya bila dilihat mirip Serda Tanah yang datang beberapa jam lalu. Ah, iya.. inikan Sertu Petir.
Gempa memberikan hormat sambutan kepada Sertu itu. Sertu Petir juga ikut membalasi hormatnya yang bergerak cepat. "Maaf Inspektur Gempa. Tapi, anda mendapat panggilan dari Jendral Blaze. Beliau meminta Inspektur untuk segera datang keruanganya. Sekarang juga." Ipda itu menepuk jidatnya bahwa dia lupa ada panggilan dari Sang Jendral. Dia melirik jam dinging di ruangannya.
Pukul 12.15… dia telat 15 menit rupanya.
"Baiklah. Saya akan segera kesana. Terima kasih infonya, Sertu Petir!" Gempa segera memberi hormat cepat dan langsung berlari kearah Barat menuju ruangan Jendral. Sementara Sertu itu berjalan kearah berlawanan dengan Gempa.
Gempa mengetuk pintu Jendral yang tak lain adalah kakak angkatnya sendiri. masih dengan ragu-ragu -karena dia yang hanya mengenakan pakaian santai- ia pun masuk keruangan itu setelah mendapat izin dari jendral itu sendiri.
Gempa melangkah kakinya sedikit linglung karena jarang bertemu dengan jendralnya belakangan ini. Gempa pun memberi hormat kepada Blaze dan bersikap 'istirahat ditempat' didepan meja kerja Blaze yang terlihat sedikit berantakan karena dipenuhi banyak kertas. Blaze tersenyum kepada Gempa. Baret polisinya ia angkat sedikit agar menunjukkan wajahnya yang semapai. Blaze berdiri dari kursinya berusaha membereskan mejanya yang berantakan.
"Sudah dengar berita tadi, Ipda Gempa?" Tanya Blaze menginterogasi. Membuat Gempa sedikit kaget, namun dengan cepat Gempa menjawabnya tanpa rasa gugup sama sekali.
"Sudah, Jendral. Menurut berita yang kami dapat, Millenium Café yang berada di alun-alun FireBlazt City, telah meracuni salah satu pelanggan disana. Cara meninggalnya korban juga dinyatakan misteri karena belum diketauhi apa penyebab korban bisa meninggal ditempat,"
Blaze mengganguk. Mengagumi kelebihan Gempa dalam merincikan kasus. Blaze pun memberikan sebuah map merah kepada Gempa.
"Nah, ini ada beberapa peralatan baru. Dan ini, beberapa pengetahuan yang mungkin dapat membantu kalian memecahkan kasus ini." Gempa menerima map itu sopan dan langsung hormat pamit ingin kembali keruanganya. Namun, ketika Gempa berbalik dan hendak keluar, Blaze menghentikannya,
"Hey, adikku.. bukankah menggunakan seragam polisi khas BlazzingRims terlihat mencolok serta ribet untuk digunakan Para Detektif yang handal?" Gempa menoleh, menatap bingung kakaknya, "Maaf.. maksud kakak?"
Gempa mendapati seulas senyuman penuh misteri dari kakaknya itu. Sembari tertawa pelan, Jendral muda itu menunjuk sesuatu menggunakan ibu jarinya. Gempa mencoba mencari arah tunjuk Blaze dan dia melihat tiga buah seragam polisi yang terlihat 'santai' namun tetap menunjukkan bahwa seragam itu ialah seragam polisi BalazzingRims, tergantung dengan rapihnya didekat jendela. Gempa kembali menatap cepat kakaknya dengan wajahnya berseri, sementara Blaze tersenyum miring ke adiknya,
"Bagaimana kalau merubah penampilan agar terlihat lebih spesifik?"
Gempa menunduk sedikit, mencoba mencerna kata-kata kakaknya itu,
Detik itu juga, Polisi Ganteng itu pun menyeringai seketika,
.
To be Contiued…
.
Gempa : Yaah… chap 2 selesai akhirnya… maafkan karena bukan Vachii yang menyambut kalian di updatenya chap 2 ini karena beliau sedang disibukkan oleh sekolahnya. Kali ini, kami "Trio Coller" yang akan menyambut kalian semua!
Taufan : Hai Para Readers HPoB~! Mana fans-fans ku?
Halilintar : Kau kepedean Fan… Hai kalian semua.
Gempa : Woii Hali, bisa tidak seceria Taufan? Setidaknya para fansmu tidak akan lari karena melihat sikap kamu yang dinginnya seperti es batu…
Halilintar : Biar. Toh, jika mereka tidak suka denganku itu lebih baik…
Gempa : Akhh.. terserah kamu lah. Baiklah para readers HPoB! Kami mengucapkan banyak sekali terima kasih karena sudah ingin memberi dukungan, kritik, serta saran. Harapan Author Vachii hanyalah, bisa membuat para readers senang dan terhibur dengan ceritanya..
Taufan : Kami juga mengadakan rubrik berjudul 'The Case Solver'! bagi kalian yang merasa seorang detektif jenius, maka bantulah kami dalam memecahkan teka-teki maupun kasus kami yang rumit! Tolong ya!
Halilintar : Kalian bisa melihat teka-tekinya di bagian bawah cerita ini. Setiap 2 minggu akan diadakan rolling teka-teki. Jika kalian berhasil atau benar menjawab teka-teki itu, kalian akan diberi bonus untuk MENGREQUEST cerita APAPUN kepada authornya. Silahkan tulis jawaban kalian di kotak review HPoB… rubrik ini dimulai dari chapter depan.
Trio Coller : Iyap! Segitu saja yang ingin kami sampaikan, semoga kalian terhibur dan semakin penasaran dengan pemecahan kasus-kasusnya… TERIMA KASIH!
Gempa : Kritik dan Saran, serta dukungan, akan membuat fic ini akan terus berlanjut. So,
MIND TO REVIEW?
A/N : Eehh… bentarann…..Gommeennn~ Fang tak diberitahu apa perannya disini karena memang belum ada sisipan bagian untuknya. Tapi Vachii bilang 'Akan terungkap di chap depan' bukan 'Akan terungkap di chap 2' jadinya masih misteri yaaa~ Bhaayy~ /kabur /dikejar readers
