Psycho-Pass milik IG Productions
Kougami melempar handuk ke arah Ginoza. Yang dilempari menarik handuk itu dari kepalanya sambil menatap kesal pada Kougami. Tubuhnya terlalu lelah dan sakit untuk melawan Kougami lagi.
"Mandilah! Di lemari itu ada pakaian-pakaian lamaku, bisa kau kenakan. Setelah itu, turunlah ke bawah untuk sarapan," perintah Kougami tegas. Seperti seorang ayah sedang menyuruh anaknya bersiap ke sekolah.
"Aku tidak terbiasa sarapan," jawab Ginoza ketus.
"Jangan membantahku! Hari ini aku akan membawamu ke berbagai tempat, jadi sebaiknya kau berpakaian yang rapi."
"Ke mana?"
"Dengar, Ginoza. Yang ingin kulihat hanyalah kau berhenti mengandalkan bagian bawah tubuhmu untuk menghidupi dirimu. Jangan banyak bertanya. Aku hanya sedang membantumu."
"Selain demi uang, aku bekerja karena aku menikmatinya. Lagipula aku tidak mengerti, mengapa kau bersikeras menolongku."
Cukup. Kougami tidak akan melayani ulah Ginoza lagi. Saatnya mengancam.
"Kau diam atau kusekap lagi seperti semalam? Terserah padamu."
Ginoza berdecak. Ia berbalik menuju ke kamar mandi, tidak mau diikat lagi rupanya. Tapi sebelum ia menutup pintu, Kougami mendadak menyusulnya masuk ke dalam sambil tersenyum lebar. Ginoza bergidik karena pengalamannya mengajarkan bahwa dua orang pria di kamar mandi yang sama biasanya berakhir dengan sesuatu yang 'menarik'.
"Kau tidak bermaksud melihatku mandi, 'kan?" tanya Ginoza.
"Heh, otakku bisa kram melihat laki-laki bugil. Sebelum kau mandi, aku ingin melakukan sesuatu terhadapmu," tukas Kougami jengkel.
"Melakukan apa?" sergah Ginoza curiga. Ia tahu Kougami tidak akan melecehkannya atau semacamnya, tapi menyusul Ginoza ke kamar mandi pasti ada alasannya.
Kougami menunjukkan sebuah pencukur listrik, lalu menunjuk rambut Ginoza.
"Aku tidak akan membawamu ke luar dengan rambut seperti perempuan itu."
Refleks Ginoza menyentuh rambutnya yang panjang melewati bahu. Ia tidak rela memotong rambut yang ia pelihara demi pekerjaan. Beberapa orang kliennya, terutama wanita, suka membelainya saat ia memuaskan mereka. Sedangkan sebagian klien lagi, biasanya pria, suka menjambak rambut itu saat melakukan penetrasi. Menyakitkan sih, tapi Ginoza sudah memahami risikonya. Lagipula, ia tidak akan mati hanya karena dijambak.
Tapi pria bernama Kougami ini tidak bisa dibantah. Ia menyuruh Ginoza duduk di sebuah bangku. Lalu sambil bersenandung, ia memangkas rambut di atas tengkuk pemuda yang ia pungut di taman itu. 'Korban'-nya, Ginoza hanya pasrah dan menutup wajahnya dengan tangan. Habis sudah 'karir'-nya.
Kougami sudah menyelesaikan sarapannya saat Ginoza turun ke dapur. Ia tersenyum melihat penampilan Ginoza dengan rambut yang lebih pendek dan pakaian yang rapi. Kemeja dan setelan jas lamanya ternyata muat di tubuh Ginoza.
"Hanya ini pakaian yang kutemukan," ujar Ginoza, sedikit jengah ditatap oleh Kougami.
"Justru kau memang perlu berpenampilan seperti itu. Sekarang kau terlihat seperti seorang pekerja biasa."
Ginoza tertegun, seperti sedang mengingat sesuatu.
"Kau bilang akan menahanku di sini. Tapi sekarang kau malah mengajakku pergi," kata Ginoza. Ia duduk di depan Kougami dengan sikap hati-hati. Jas membuatnya tidak nyaman bergerak.
Kougami menatap prihatin pada PSK kambuhan itu. Ginoza pasti sudah terlalu lama hidup di penjara dan jalanan hingga tidak memahami etiket berpakaian. Kougami mendengus pelan, kemudian berdiri dan membantu Ginoza melepaskan jasnya.
"Kau bisa mengenakannya lagi setelah makan," kata Kougami, menyampirkan jas di kursi dekat Ginoza. "Aku janji, setelah kita keluar bersama hari ini, kau akan memahami mengapa aku harus menolongmu."
"Tidak bisakah kau mengatakannya saja?"
Kalau kukatakan sekarang, kau akan kabur karena takut dan marah, kata Kougami dalam hati.
Ginoza tampaknya menunggu jawaban. Tapi karena Kougami hanya menyuruhnya makan, ia mengalah. Jangan sampai Kougami kesal dan mengancamnya lagi. Gino tidak ingin disekap lagi. Kantor Kepolisian Distrik Hachiouji, pagi hari.
Akane mencicipi sedikit kopinya. Masih panas rupanya, hingga bibir dan lidahnya terasa terbakar. Akane sampai mengernyit dibuatnya.
Shisui yang duduk di depannya tersenyum geli. Ia menyodorkan file yang sudah dibacanya terlebih dahulu.
"Ginoza Nobuchika, dua puluh tujuh tahun. Semasa sekolah dia adalah peraih nilai tertinggi dan mendapatkan berbagai beasiswa, tipikal anak bermasa depan cerah. Tapi saat ayahnya, Masaoka Tomomi, dihukum karena membunuh mitra kerjanya di kepolisian lima belas tahun yang lalu, hidup Ginoza terkena imbasnya. Beasiswanya dicabut dan keluarganya diusir dari rumah mereka karena tidak mampu membayar tagihan-tagihan mereka. Ibunya, Ginoza Sae, meninggal dunia karena kanker dua tahun kemudian. Ginoza akhirnya tinggal dengan neneknya, Ginoza Akiho dan kelihatannya hidup cukup normal, hingga saat ia pertama kali ditahan karena mencuri uang kas di toko hewan peliharaan tempatnya bekerja sambilan pada usia lima belas tahun. Rupanya Akiho juga kesulitan membayar biaya hidup mereka sehingga Ginoza berusaha membantu dengan cara yang salah," urai Shisui, lalu meminum kopinya sendiri.
"Tapi penahanan itu juga membuatnya belajar bahwa ada cara yang lebih mudah untuk mendapatkan uang. Dia ditempatkan di sel yang sama dengan seorang remaja tujuh belas tahun yang ditahan karena prostitusi, yang memicunya untuk menjual diri. Selama setahun, dia bolak-balik ditahan karena kedapatan menjajakan diri. Saat neneknya mulai sakit-sakitan, Ginoza meningkatkan kualitas kejahatannya dengan membius orang-orang yang memakai jasanya lalu merampok harta mereka dan dipenjarakan selama tiga tahun untuk itu. Setelah dibebaskan, dia kembali terlibat dalam bisnis lamanya, tapi tidak pernah sampai dituntut ke pengadilan," sambung Akane, lalu memandang foto Ginoza dalam berkas tersebut. Seperti inikah pria yang membuat Kou terobsesi?
"Saat usianya menginjak dua puluh satu tahun, dia kembali dihukum karena kejahatan yang sangat serius, prostitusi dan pornografi anak. Ginoza tertangkap tangan sedang menawarkan seorang remaja lima belas tahun bernama Kagari Shusei pada polisi yang menyamar menjadi calon klien. Di tangannya ditemukan rekaman dia dan Kagari sedang berhubungan badan. Ginoza mengaku bekerja sendirian, tapi dia dicurigai hanya melindungi pelaku yang lebih besar lagi. Dia dibebaskan tiga hari yang lalu, tapi kita bisa memburunya jika dia tidak melapor pada petugas pembebasan bersyarat siang ini," imbuh Shisui.
"Pagi-pagi sekali Kou menghubungiku. Dia sudah menemukan Ginoza dan memberinya kamar. Kalau dia setuju untuk membantu kita, Kou akan membawanya ke mari. Ginoza pernah menjadi peliharaan Tougane, maka dia pasti tahu cara paling cepat untuk menarik perhatian Tougane," sahut Akane pelan.
Shisui tertawa kecil mendengar kata-kata Akane.
"Ada apa?" tanya Akane heran.
"Kata 'peliharaan' itu. Terdengar sinis. Seperti bukan dirimu saja."
Akane tersentak. Ia meletakkan berkas Ginoza di mejanya, lalu tersenyum getir.
"Kau benar. Aku memang sinis jika menyangkut pria itu. Aku dan Kou tidak pernah bertemu dengannya sebelumnya, tapi rasanya dia sudah merebut Kou dariku tanpa perlu melakukan apa-apa."
Shisui tampak salah tingkah. Mungkin merasa telah salah bicara. Ia berdiri sambil membawa cangkir kopinya sendiri.
"A-aku mau menambah kopiku dulu, Tsunemori."
Akane tidak menjawab. Ia membiarkan Shisui meninggalkan ruang Unit Anti Kejahatan Khusus tanpa mau mengetahui apakah detektif yunior itu benar-benar menambah kopinya atau hanya menghindari suasana tidak menyenangkan yang dipicunya. Mejanya dan meja Akane berhadapan, sangat mungkin jika Shisui merasa sedikit bersalah telah memancing emosi rekan kerjanya.
Akane mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang unit yang dipimpin oleh Kougami itu. Dia sendirian lagi di situ. Sugo, Kunizuka dan Karanomori belum menampakkan diri, tapi Akane tidak peduli. Memang ini yang ia inginkan, menyendiri sebelum Kougami benar-benar membawa Ginoza, pria yang diam-diam memercikkan sedikit api dendam di hati Akane, memasuki ruangan ini.
Akane menatap papan lebar yang terletak di dekat pintu masuk menuju ruang kerja Kougami. Papan itu ditempeli dengan berbagai foto oleh Kunizuka disertai keterangannya. Ada foto Ginoza, Kagari, beberapa orang lain yang berhubungan dengan kasus ini dan Tougane Sakuya, buruan utama unit ini.
Tahun lalu, unit ini gagal menangkap Tougane saat ia diduga terlibat dalam kasus penganiayaan terhadap Kagari, salah seorang anak buah Tougane. Kougami dan kawan-kawan gagal membuktikan keterkaitan antara Tougane dengan pelaku penganiayaan yang juga merupakan anak buah Tougane. Padahal Kougami berharap, kasus ini bisa membawa mereka pada kasus yang lebih besar yang diduga melibatkan Tougane : perdagangan manusia.
Di mata Kougami dan timnya, Tougane bukan sekadar wajah dari Tougane Foundation, kelompok yang mendanai penelitian mengenai berbagai jenis kanker. Tougane punya sisi kelam yang belum bisa dibuktikan di hadapan hukum dan masyarakat, yakni bisnis perdagangan dan perbudakan manusia yang telah ada sebelum ia mewarisi kepemimpinan di Tougane Foundation. Tougane diduga adalah dalang dari ekspolitasi anak di bawah umur dalam berbagai bentuk : penculikan, penjualan, prostitusi hingga pornografi. Konon Ginoza dan Kagari adalah korban-korbannya, yang kemudian menjelma sebagai kaki tangannya yang setia. Bungkamnya Ginoza atas keterlibatan Tougane saat tertangkap enam tahun silam adalah bukti betapa kuatnya pengaruh Tougane atas kehidupan mereka. Ginoza memilih dihukum sendirian daripada mengaitkan Tougane dengan kasus yang melibatkannya.
Namun, dengan dibebaskannya Ginoza, Kougami seperti menemukan gairah baru untuk meneruskan perjuangannya menangkap Tougane. Ia sangat yakin bahwa Ginoza dapat membantunya menumpas kejahatan Tougane. Kougami merasa ia bisa membujuk Ginoza untuk melakukannya, tapi berpura-pura lupa bahwa tindakannya telah menyakiti Akane.
Akane mengepalkan tangan geram saat menatap foto wajah Tougane yang tersenyum samar. Namun saat matanya berpindah tempat ke foto Ginoza, tangan yang terkepal itu membuka dan nyaris meremas foto Ginoza jika ia tidak mendengar sapaan Karanomori.
"Akane, selamat pagi..." Karanomori tercengang melihat tingkah Akane.
"Selamat pagi," balas Akane kikuk. Ia kembali ke mejanya tanpa berbicara sepatah katapun.
Karanomori ikut duduk di balik meja kerjanya. Ia menatap Akane, lalu menatap foto yang menjadi masalah.
"Kau dalam masalah besar, Kou," gumam Karanomori sebelum menyulut api rokoknya.
Ginoza sudah lama tidak merasakan hangatnya matahari pagi yang menerpa wajahya. Jika sedang tidak berada di tahanan karena tertangkap tangan sedang bertransaksi dengan calon klien, ia biasanya masih tidur pagi-pagi begini. Pekerjaannya yang lebih banyak dilakukan pada malam hari memang membuatnya terbiasa bangun siang.
Tapi bukan kehangatan matahari yang tengah Ginoza pikirkan saat ini. Juga bukan tempat tujuan Kougami yang membawanya dengan mobilnya. Ginoza memikirkan apa yang Kougami katakan padanya sebelum mereka berangkat.
Kougami menunggu hingga Ginoza menghabiskan sarapannya sebelum mengatakan sesuatu yang terdengar sangat, sangat serius. Ia mengajukan sebuah tawaran yang mengandung bahaya besar, tapi hasil yang diberikan sepadan. Menurut Kougami, Ginoza dipilih untuk mendapatkan tawaran itu karena ia memang yang paling sesuai untuk tawaran itu. Meski berbahaya, Kougami berusaha meyakinkannya bahwa hanya Ginoza yang dapat melakukannya. Ginoza pun tidak bisa memikirkan bahwa ada orang lain yang dapat melakukannya selain dirinya. Apalagi setelah Kougami memperlihatkan foto-foto Kagari yang hampir mati setelah dianiaya oleh anak buah Tougane.
"Pikirkanlah tawaran itu. Jika kita berhasil melaluinya, kau bisa melanjutkan hidupmu dengan tenang. Anggap saja ini pertukaran yang adil. Kau berkorban terlebih dahulu sebelum menerima hasilnya," kata Kougami lagi, sesaat sebelum mereka berangkat.
Uraian Kougami membuat Ginoza merenung lebih dalam. Sejujurnya, ia tergoda menerimanya. Masalah bahaya, Ginoza sudah terbiasa dengan itu. Dua kali dijatuhi hukuman penjara membuatnya sedikit percaya diri agar dapat bertahan hidup. Ginoza sudah tahu cara kerjanya dengan sangat baik. Meskipun masih ada hal yang mengganggunya...
Sambil menyetir, sesekali Kougami melirik Ginoza. Ia tampak agak khawatir. Dengan hati-hati ia melanjutkan kata-katanya.
"Tapi, agar kau tahu, kau menerima atau tidak tawaran itu, aku akan tetap membantumu agar tidak kembali lagi ke dunia lamamu. Aku tidak begitu yakin apakah caraku ini benar, tapi kurasa pendidikan adalah jalan yang paling sesuai untukmu dalam memulai hidup yang baru. Aku sudah mengatur agar kau bisa memulai sekolah malam secepatnya. Selesaikan SMA-mu yang kau tinggalkan saat berusia enam belas tahun."
"Kau mengaturku?" sergah Ginoza ketus. Lamunannya buyar karena seseorang menyuruhnya melanjutkan sekolah.
"Tidak usah berlagak, Gino. Kau memang tidak bisa mengambil lagi apa yang sudah direnggut darimu. Tapi kau bisa mendapatkan gantinya dengan mengusahakannya sekali lagi. Aku di sini untuk memastikan kau melakukannya demi dirimu dan demi ayahmu."
Kata terakhir yang diucapkan oleh Kougami membuat Ginoza terkejut. Kougami tampaknya melihat hal ini sebagai jalan untuk menekan Ginoza.
"Ya, aku mengenal ayahmu. Bahkan saat ini aku sedang membawamu untuk menemuinya," jelas Kougami pelan.
"Tunggu dulu! Kau jangan seenaknya..." protes Ginoza.
"Terlambat, Gino," potong Kougami, "kita telah tiba. Jika kita bergegas, pulang dari tempat ini, aku akan mengantarmu melapor pada petugas pembebasan bersyarat, lalu ke kantorku. Itu jika kau setuju membantu kami."
Ginoza menatap ke depan. Mereka ternyata telah tiba di luar kompleks Penjara Adachi, tempat Masaoka dihukum selama hampir lima belas tahun ini.
"Kau..." geram Ginoza, mencengkeram kerah Kougami. Ia tidak sudi dipaksa menemui ayahnya, pria yang telah menyebabkan kehancuran keluarganya.
"Beliau sangat ingin bertemu denganmu. Jika segalanya lancar, dalam waktu enam bulan ke depan, ayahmu akan dibebaskan dan bisa berkumpul lagi denganmu. Aku ingin pada saat itu tiba, kau sudah kembali menjadi putranya yang dulu," ujar Kougami tenang.
"Kau tidak bisa memaksaku!"
"Bisa. Aku tinggal mengatakan pada pengawasmu bahwa kau sudah melanggar aturan pembebasan bersyaratmu dengan melayani turis Korea itu. Menurutmu, apa yang akan terjadi, Gino?"
Berhasil. Ginoza melepaskan Kougami. Ia tidak sudi dipenjarakan lagi.
"Tapi aku tidak akan membantumu menangkap Tougane," kata Ginoza kesal dan terdengar seperti merajuk. Ia keluar dari dalam mobil dan membanting keras pintunya. Kemudian berjalan menuju gerbang penjara tanpa menunggu Kougami.
"Kita lihat saja nanti," balas Kougami sambil tersenyum penuh arti. "Aku yakin kau akan menurutiku."
TO BE CONTINUED
