Bared To You
REMAKE story by Sylvia Day
Just REMAKE no Plagiat!
Main Cast : Kaisoo
Do Kyungsoo
Kim Jongin
And other cast
Rate : (M)esum
Warning : Genderswitch, Typo(s), Berantakan.
.
.
.
.
Happy Reading
.
.
.
.
"Kita harusnya pergi ke bar dan merayakannya."
Aku tidak terkejut oleh pernyataan sungguh-sungguh teman seapartemenku. Byun Baekhyun selalu menemukan alasan untuk merayakan sesuatu, tidak perduli sekecil apa dan tidak pentingnya hal itu. Aku selalu menganggap itu bagian dari daya tariknya.
"Aku yakin minum-minum di malam sebelum memulai suatu pekerjaan baru adalah ide yang buruk."
"Ayolah, Kyung." baekhyun duduk di ruang tamu baru kami, ditengah-tengah setengah lusin kotak-kotak pindahan dan memamerkan senyum kemenangannya. Kami telah membongkar barang-barang selama berhari-hari, tapi dia tetap terlihat mengagumkan. Tubuh Langsing, rambut Pirang, baekhyun adalah seorang pria cantik sempurna di setiap hari dalam hidupnya. Aku mungkin membencinya jika dia bukanlah orang yang paling kusayangi di dunia ini.
"Aku tidak bicara tentang suatu bender," dia mendesak.
"Hanya satu atau dua gelas anggur. Kita bisa datang saat happy hour dan masuk pukul delapan."
"Aku tak tahu apakah aku bisa kembali tepat waktu."
Aku mengisyaratkan pada celana yogaku dan baju kaos olahraga ketatku.
"Setelah aku selesai bekerja, aku akan pergi ke gym."
"Jalan cepat, olah raga lebih cepat." Alis Baekhyun yang melengkung sempurna membuatku tertawa. Aku benar-benar berharap wajah jutaan dolarnya muncul di papan iklan dan majalah fashion di seluruh dunia suatu hari nanti. Tidak perduli ekpresinya yang memuakan, bagiku dia adalah seorang yang mempesona.
"Bagaimana kalau besok setelah bekerja?" Aku mengusulkan sebagai pengganti.
"Jika aku bisa berhasil melewati satu hari, itu baru layak dirayakan."
"Sepakat. Aku akan meresmikan dapur baru kita untuk membuat makan malam."
"Uh…" Memasak adalah salah satu kegemaran Baekhyun, tapi bukanlah salah satu dari bakatnya.
"Bagus."
Meniup sehelai rambut yang tidak patuh dari wajahnya, dia menyeringai padaku.
"Kita punya dapur yang hampir semua restoran akan iri. Tak mungkin untuk mengacaukan dua makanan di sana."
Dengan ragu-ragu, aku menuju keluar dengan sebuah lambaian, memilih menghindari sebuah percakapan tentang memasak. Memilih naik elevator untuk turun ke lantai satu, aku tersenyum pada penjaga pintu ketika dia membiarkan aku keluar menuju jalan dengan lambaian.
Saat aku melangkah keluar, aroma dan suara Seoul memelukku dan mengundangku untuk menjelajahinya.
Aku tidaklah pindah ke lain negara dari rumah lamaku di Ilsan, tapi seperti sedunia jauhnya. dua Kota Metropolis Besar - satunya beriklim dingin tak berkesudahan dan kemalasan yang nikmat, yang lain padat dengan kehidupan dan energi hingar-bingar.
aku akan merasakan kesepian yang menyedihkan di apartemen yang sewa sebulannya lebih besar daripada kebanyakan orang lain hasilkan selama satu tahun.
Si penjaga pintu menundukkan kepala bertopinya padaku.
"Selamat sore, Miss Do. Apakah anda memerlukan taksi sore ini?"
"Tidak, terima kasih, Sungha"
Aku menggoyangkan tumit bulat sepatu fitnessku.
"Aku akan jalan kaki saja." Dia tersenyum.
"Sekarang lebih dingin dari siang tadi. Pastinya bisa menyenangkan."
"Aku telah diberitahu aku harus menikmati udara Juni sebelum berubah menjadi panas yang kejam."
"Saran yang sangat baik, Miss Do."
Melangkah keluar dari bawah serambi kaca pintu modern yang entah bagaimana bisa menyatu dengan usia bangunan dan bangunan-bangunan tetangganya, aku menikmati susasana relatif tenang jalanan disekitar rumahku yang memiliki pepohonan yang berjajar sebelum aku mencapai kesibukan dan arus lalu lintas di Seoul. Suatu hari nanti, aku berharap untuk bisa berbaur dengan baik, tapi untuk saat ini aku masih merasa seperti warga Seoul palsu. Aku punya alamat dan pekerjaan, tapi aku masih berhati-hati terhadap kereta bawah tanah dan mengalami kesulitan memanggil taksi. Aku mencoba untuk tidak berjalan di sekitar dengan mata membelalak dan mudah teralihkan perhatiannya, tapi sulit. Ada begitu banyak untuk dilihat dan dialami.
Input sensoriknya menakjubkan - bau knalpot kendaraan bercampur dengan makanan dari gerobak penjual keliling, teriakan pedagang asongan bercampur dengan musik dari penghibur jalanan, rentang menakjubkan dari wajah-wajah dan gaya dan aksen, keajaiban arsitektur cantik ... Dan mobil. Ya Tuhan. Aliran hingar-bingar mobil yang sangat padat dan penuh tidak seperti apa pun yang pernah kulihat di manapun.
Seoul adalah cinta yang baru bagiku. Mataku bercahaya dan itu terlihat jelas. Jadi aku harus benar-benar "bermain dingin" saat aku berjalan ke gedung tempatku akan bekerja. Sejauh pekerjaanku berjalan, setidaknya, aku sudah mendapatkan yang aku inginkan.
Aku ingin memperoleh penghidup didasarkan pada kemampuanku sendiri dan itu berarti posisi tingkat awal.
Aku mendongakkan kepalaku keatas dan memandang deretan bangunan seluruhnya dari bawah sampai ke atas langit. Gedung Crossfire ini mengesankan, puncak menara ramping berkilauan seperti batu safir yang menembus awan. Aku tahu dari wawancaraku sebelumnya bahwa interior di sisi lain yang memiliki pintu bergulir berhias bingkai tembaga juga samasama menakjubkan, dengan dinding dan lantai marmer keemasaan, dan meja keamanan yang dicat aluminium dan pintu putar.
Aku menarik kartu pengenal baruku keluar dari saku bagian dalam celanaku dan mengangkatnya kepada dua orang penjaga berpakaian setelan bisnis hitam di meja. Mereka menghentikanku juga, tak diragukan lagi karena aku berpakaian kurang sopan, tapi kemudian mereka membiarkanku lewat. Setelah aku selesai naik lift ke lantai dua puluh, aku telah memiliki gambaran waktu umum untuk seluruh rute dari pintu ke pintu. Berhasil. Aku sedang berjalan menuju deretan lift ketika seorang wanita langsing berambut coklat cantik dompetnya menyangkut di pintu putar dan terbalik, menumpahkan banyak uang recehan. Koin-koin menghujani marmer dan berguling jauh, dan aku menyaksikan orangorang menghindari kekacauan dan terus berjalan seolah-olah mereka tidak melihatnya. Aku meringis bersimpati dan berjongkok untuk membantu wanita itu mengumpulkan uangnya, seperti yang dilakukan salah satu penjaga.
"Terima Kasih," Katanya, melemparkan senyum terburu-buru yang cepat. Aku tersenyum balik. "Tidak masalah. Aku pernah mengalaminya."
Aku baru saja berjongkok untuk meraih koin yang tergeletak di dekat pintu masuk ketika aku berhadapan dengan sepasang sepatu oxford hitam mewah terbungkus celana panjang hitam. Aku menunggu sebentar untuk orang itu bergerak keluar dari jalanku dan ketika dia tidak bergerak, aku mendongakkan leherku untuk memungkinkan arah tatapanku meningkat.
Setelan tiga potong jas kastom mengena lebih dari satu 'tombol panas'ku, tapi tubuh yang tinggi ramping kuat yang berada di dalamnya yang membuatnya sensasional. Namun, sepanas apapun semua kelelakian yang megah itu, tidak sampai aku mencapai wajah pria itu aku benar-benar menyerah kalah.
Wow. Hanya...wow.
Dia menjatuhkan diri dengan bungkukan yang elegan langsung di depanku. Terpukul dengan semua yang maskulinitas indah didepan mataku, aku hanya bisa menatap. Tertegun.
Kemudian sesuatu bergeser di udara antara kami. Saat ia menatapku, ia berubah ... seolah-olah perisai meluncur menjauh dari matanya, mengungkapkan kekuatan kehendak yang mengisap udara dari paru-paruku. Daya tarik intens yang ia pancarkan semakin bertambah kekuatannya, menjadi suatu tenaga dengan kesan hampir nyata, bergetar dan tak ada henti-hentinya.
Bereaksi murni pada insting, aku bergeser ke belakang. Dan jatuh tergeletak rata di pantatku. Sikuku berdenyut-denyut dari kontak keras dengan lantai marmer, tapi aku hampir tidak merasakan sakit. Aku terlalu sibuk menatap, terpaku oleh orang di depanku. Rambut hitam seperti tinta membingkai wajah yang mempesona. Struktur tulangnya akan membuat pematung menangis dengan sukacita, sementara mulut tergores kuatnya, hidung seperti belati, dan mata biru intens membuatnya tampak menarik. Matanya itu menyipit sedikit, sementara wajahnya diatur supaya terlihat tenang.
Baju kemeja dan jas keduanya hitam, tapi dasinya cocok sempurna dengan iris matanya yang brilian. Matanya cerdas dan menilai, dan menembus kedalam mataku. Detak jantungku bertambah cepat, bibirku terbuka untuk mengakomodasi napas yang jadi lebih cepat. Dia berbau sangat harum. Bukan cologne. Body wash, mungkin. Atau sampo. Apa pun itu, baunya lezat, seperti dia.
Dia mengulurkan tangannya padaku, mengekspos manset onyx dan jam yang tampak sangat mahal. Dengan nafas gemetar, aku meletakkan tanganku dalam tangannya. Denyut nadiku melompat ketika cengkeramannya diperkuat. Sentuhannya terasa berlistrik, mengirim kejutan ke lenganku yang mendirikan rambut di tengkukku. Dia tidak bergerak sejenak, sebuah garis kerutan mengisi jarak antara alis yang terpotong dengan arogan.
"Apakah kau baik-baik saja?" Suaranya berbudaya dan halus, dengan keserakan yang membuat perutku berdenyut. Hal ini membawa pikiranku ke seks. Seks yang Luar Biasa. Aku berpikir sejenak bahwa dia mungkin bisa membuatku orgasme hanya dengan berbicara cukup lama.
Bibirku kering, jadi aku menjilatnya sebelum menjawab. "Aku baik-baik saja."
Dia berdiri dengan keanggunan yang efisien, menarikku berdiri bersamanya. Kami mempertahankan kontak mata karena aku tidak bisa berpaling. Dia lebih muda dari asumsiku pada awalnya. Lebih muda dari tiga puluh dugaanku, tapi matanya jauh lebih berambisi.
Tatapan yang keras, tajam dan cerdas.
Aku merasa tertarik kearahnya, seolah-olah ada tali yang mengikat pinggangku dan dia dengan perlahan-lahan dan tak terelakkan menariknya.
Berkedip keluar dari setengah bingungku, aku melepaskannya. Dia tak hanya indah, dia ... memikat. Ia adalah tipe pria yang membuat wanita ingin merobek kemejanya sampai terbuka dan menonton kancing-kancingnya bertebaran bersama dengan ketahanan dirinya. Aku menatap dirinya dengan baju beradab, sopan, mahalnya dan berpikir tentang persetubuhan yang kasar, primal dan mencakar-seprai.
Dia membungkuk dan mengambil kartu tanda pengenalku yang aku tidak sadari telah aku menjatuhkan, membebaskanku dari tatapan provokatifnya. Otakku tergagap kembali bekerja.
Aku jengkel dengan diriku sendiri karena merasa canggung ketika dia sepenuhnya tenang. Dan kenapa? Karena aku terpesona, sialan.
Dia melirik ke arahku dan posenya —hampir berlutut di depanku —membuat miring keseimbanganku lagi. Dia membalas tatapanku saat dia bangkit.
"Apakah kau yakin kau baik-baik saja? Kau seharusnya duduk selama satu menit." Wajahku panas. Betapa indahnya untuk tampil canggung dan kikuk di depan orang yang paling percaya diri dan anggun yang pernah aku temui.
"Aku hanya kehilangan keseimbangan. Aku baik-baik saja" Berpaling, aku melihat wanita yang telah tertumpah isi dompetnya. Dia mengucapkan terima kasih kepada penjaga yang membantunya, kemudian berbalik mendekatiku, meminta maaf sedalam-dalamnya. Aku menghadap kearahnya dan mengulurkan segenggam koin yang aku kumpulkan, tapi tatapannya tersangkut pada Dewa dalam setelan dan dia segera lupa padaku sama sekali. Setelah beberapa saat, aku hanya mengulurkan tangan dan membuang koin-koin itu ke dalam tas wanita itu. Lalu aku mengambil resiko melirik pria itu lagi, menemukan dia menontonku bahkan saat si rambut coklat menyemburkan banyak ucapan terima kasih. Untuk dia. Bukan untukku, tentu saja, orang yang seharusnya benar-benar membantunya. Aku berbicara padanya. "Boleh aku meminta lencanaku, please?"
Dia menawarkannya kembali kepadaku. Meskipun aku berusaha untuk mengambilnya tanpa menyentuhnya, jari-jarinya menyentuhku, mengirimkan arus kesadaran itu ke seluruh tubuhku sekali lagi.
"Terima kasih," Gerutuku sebelum melewatinya dan mendorong keluar ke jalanan lewat pintu putar. Aku berhenti sejenak di trotoar, meneguk dalam-dalam udara Seoul yang diwarnai dengan sejuta hal yang berbeda, beberapa bagus dan beberapa beracun.
aku melihat bayanganku di jendela gelap tak bernoda dari limo itu. Aku memerah dan mata bulatku terlalu berbinar. Aku pernah melihat apa yang terlihat di wajahku ini sebelumnya di cermin kamar mandi sebelum aku pergi tidur dengan seorang pria. Itu pandangan 'aku-siap-untuk bercinta' ku dan ini sama sekali tidak ada urusannya berada di wajahku sekarang.
Ohgod.…
Lima menit bersama and Dangerous, dan aku dipenuhi dengan energi kegelisahan yang menganggu. Aku masih bisa merasakannya, dorongan yang tak dapat dipahami untuk kembali ke dalam dimana ia berada. Aku bisa membuat argumen bahwa aku belum selesai melakukan urusanku datang ke Crossfire, tapi aku tahu aku akan menyalahkan diriku sendiri nanti. Berapa kali aku membuat bodoh diriku sendiri dalam satu hari?
"Cukup," aku mengomeli diriku sendiri dibawah nafasku. "Bergeraklah."
Klakson berbunyi saat salah satu taksi melesat di depan taksi lain dengan jarak keduanya hanya beberapa inci dan kemudian menginjak rem saat pejalan kaki yang berani melangkah ke perempatan sedetik sebelum lampu berganti. Teriakan terjadi, rentetan makian dan selanjutnya gerakan tangan yang tidak benar-benar menyatakan kemarahan. Dalam beberapa detik semua pihak akan melupakan kejadian itu, yang hanya merupakan salah satu selingan dalam tempo alami kota ini.
Saat aku menyatu ke dalam aliran lalu lintas pejalan kaki dan berangkat menuju gym, senyum menggoda dimulutku. Ah, Seoul, pikirku, merasa mantap lagi. Kau Keren.
.
.
.
Aku telah merencanakan untuk pemanasan di treadmill, kemudian menghabiskan jam dengan beberapa mesin, tapi ketika aku melihat bahwa kelas pemula 'kickboxing' akan di mulai, aku malahan mengikuti massa murid yang menunggu. Pada saat itu berakhir, aku merasa lebih seperti diriku. Otot-ototku bergetar sempurna dengan kelelahan dan aku tahu aku akan tidur nyenyak ketika aku tidur nanti.
"Kau melakukannya dengan sangat baik."
Aku menyeka keringat dari wajahku dengan handuk dan menatap pria muda yang berbicara kepadaku.
"Terima kasih." Mulutku berputar menunjukan sesal. "Cukup jelas ini adalah pertama kalinya buatku, ya?" Dia nyengir dan mengulurkan tangannya. "Kris Wu."
"Do Kyungsoo."
"Kau memiliki keluwesan alami, Kyungsoo. Dengan sedikit latihan kau bisa menjadi seorang jagoan KO. Di sebuah kota seperti Seoul, tahu bela diri sangatlah penting." Dia menunjuk ke sebuah papan tempel yang digantung di dinding. Itu ditutupi kartu nama dan selebaran yang dijepit dengan paku payung. Merobek salah satu bendera dari dasar selembar kertas neon, ia menunjukan itu kepadaku.
"Pernah dengar Krav Maga?"
"Di film Jennifer Lopez."
"Aku mengajar itu, dan aku akan senang untuk mengajarimu. Itu alamat websiteku dan nomor telpon."
Aku mengagumi pendekatannya. langsung, seperti tatapannya, dan senyumnya asli. Aku bertanya-tanya apakah dia bertujuan kearah mencari seorang anggota, tapi ia cukup santai tentang hal itu sehingga aku tidak bisa yakin.
Kris menyilangkan lengannya, yang memamerkan otot bisep yang terlatih. Dia mengenakan kemeja tanpa lengan dan celana pendek hitam yang panjang. Sepatu Conversenya tampak butut namun nyaman dan tato tribal mengintip dari kerahnya.
"Di websiteku ada jadwal jam-jam latihannya. Kau harus datang dan menonton, melihat apakah itu cocok untukmu."
"Aku pasti akan memikirkannya."
"Lakukan itu." Dia mengulurkan tangannya lagi, dan genggamannya solid dan percaya diri.
"Aku berharap untuk bisa melihatmu datang."
.
.
.
Apartemen berbau sedap ketika aku pulang kerumah dan Aliee melantunkan lagu penuh penjiwaan melalui speaker surround-sound tentang mengejar trotoar. Aku memandang ke seberang bidang lantai terbuka menuju dapur dan melihat Cary bergoyang karena music sambil mengaduk sesuatu. Ada botol anggur terbuka di meja dan dua piala, salah satunya adalah setengah penuh dengan anggur merah.
"Hei," seruku saat aku semakin dekat. "Apa yang dimasak? Dan apakah aku punya waktu untuk mandi dulu?"
Ia menuangkan anggur ke dalam piala lain dan meletakannya di meja sarapan untukku, gerakgeriknya trampil dan elegan. Tak seorang pun akan tahu dari melihat dirinya bahwa dia telah menghabiskan masa kecilnya berpindah-pindah antara ibu yang kecanduan obat dan panti asuhan, diikuti oleh fasilitas untuk penahanan anak dan remaja dan rehabilitasi negara.
"Pasta dengan saus daging. Tahan mandinya, makan malam sudah siap. Bersenang-senang hari ini?"
"Begitu aku ke gym, iya." Aku menarik keluar salah satu kursi bar kayu jati dan duduk. Aku menceritakan padanya tentang kelas kickboxing dan Kris Wu. "Mau pergi denganku?"
"Krav Maga?" baekhyun menggeleng. "Itu hardcore. Aku akan mendapatkan memar dan yang akan mengancam pekerjaanku. Tapi aku akan pergi denganmu untuk mengeceknya, untuk berjaga-jaga jika orang ini seorang yang sinting."
Aku melihatnya menumpahkan pasta ke dalam saringan yang menunggu. "Seorang yang sinting, ya?"
Ayahku mengajarkanku untuk membaca orang cukup baik, sehingga aku tahu bahwa 'Dewa dalam Setelan" adalah masalah. Orang-orang biasa menawarkan senyum murahan ketika mereka membantu seseorang, hanya untuk membuat koneksi sesaat yang melancarkan jalan. Lagipula, aku tidak tersenyum padanya juga.
"Baby girl," kata Baekhyun, menarik mangkuk dari lemari, "kau seorang wanita seksi yang menakjubkan. Aku mempertanyakan setiap pria yang tidak punya nyali untuk memintamu langsung untuk berkencan."
Aku mengerutkan hidungku padanya. Dia mengatur mangkuk didepanku. Isinya sedikit mie salad ditutupi saus tomat minim dengan gumpalan daging sapi dan kacang polong. "Kau punya sesuatu di pikiranmu. Apa itu?"
Hmm ... Aku menangkap gagang sendok yang mencuat dari mangkuk dan memutuskan untuk tidak mengomentari makanan. "Aku pikir aku bertemu dengan orang terpanas di planet ini. Mungkin orang terpanas dalam sejarah dunia."
"Oh? Kupikir aku orangnya. Ceritakan lebih banyak." Baekhyun tetap tinggal di sisi lain dari meja, Lebih memilih untuk berdiri dan makan. Aku melihat dia mengambil beberapa gigitan racikannya sendiri sebelum aku merasa cukup berani untuk mencobanya sendiri.
"Tidak banyak yang bisa diceritakan, sungguh. Aku akhirnya tergeletak di pantatku sendiri di lobi Crossfire dan dia memberiku bantuan untuk berdiri."
"Tinggi atau pendek? Pirang atau gelap? Tegap atau Langsing?"
Aku membasahi gigitan keduaku dengan anggur. "Tinggi. Gelap. Langsing dan tegap. Kaya raya, dinilai dari pakaian dan aksesorisnya. Dan dia benar-benar seksi. Kau tahu bagaimana itu beberapa pria panas tidak membuat hormonmu mengila, sementara beberapa orang yang tak menarik memiliki daya tarik seks yang besar. Orang ini memiliki semuanya."
Perutku bergetar seperti ketika si Dark and Dangerous menyentuhku. Dalam pikiranku, aku teringat wajah mempesonanya sejelas kristal. Ini seharusnya ilegal bagi seorang pria untuk menjadi begitu mind-blowing. Aku masih belum pulih dari penggorengan sel-sel otakku.
Baekhyun mengatur sikunya di meja dan bersandar, poni panjangnya menutupi salah satu mata gelap cerahnya. "Jadi apa yang terjadi setelah dia membantumu?" Aku mengangkat bahu.
"Tidak Ada."
"Tidak Ada?"
"Aku pergi."
"Apa? Kau tidak menggodanya?"
Aku menggigit lagi, makanan ini benar-benar tidak buruk. Atau aku hanya kelaparan. "Dia bukan tipe pria yang kau bisa godai, Baekhyun."
"Tak ada pria yang tak bisa kau kau godai. Bahkan orang-orang yang sudah menikah dengan bahagia menikmati sedikit godaan tidak berbahaya sekali-kali."
"Tak ada yang tidak berbahaya tentang orang ini," Kataku datar.
"Ah, salah satu dari mereka." Baekhyun mengangguk bijaksana. "Badboy bisa menyenangkan, jika kau tidak terlalu dekat."
Tentu saja dia akan tahu, pria dan wanita dari segala usia jatuh di bawah kakinya. Namun, entah bagaimana ia berhasil untuk memilih partner yang salah setiap waktu. Dia berkencan dengan penguntit, dan tukang selingkuh, dan kekasih yang mengancam akan bunuh diri karena dia, dan kekasih dengan orang signifikan lain yang tak mereka ceritakan ... sebutkan semua, dia telah mengalami semua itu.
"Aku tak bisa membayangkan bahwa pria ini pernah bersenang-senang," kataku. "Dia terlalu intens. Namun, aku yakin dia akan luar biasa di ranjang dengan segala intensitas yang ada."
"Sekarang kau baru bicara. Lupakan orang nyata. Cukup gunakan wajahnya dalam fantasimu dan membuatnya sempurna di sana."
Memilih untuk mengeluarkan pria itu dari kepalaku sama sekali, Aku mengganti topik. "Kau punya kegiatan besok?"
"Tentu saja."
Baekhyun melontarkan rincian jadwal dirinya, menyebutkan sebuah iklan celana jeans, self-tanner, pakaian dalam, dan cologne.
Aku mendorong segala sesuatu yang lain keluar dari pikiranku dan terfokus pada dirinya dan keberhasilannya yang berkembang. Permintaan untuk Byun Baekhyun meningkat dari hari ke hari, dan ia membangun sebuah reputasi dengan fotografer dan dikenal sebagai orang yang profesional dan cepat. Aku sangat senang untuknya dan sangat bangga. Dia telah berusaha keras dan telah melalui begitu banyak hal.
Tidak sampai setelah makan malam aku baru memperhatikan dua kotak hadiah besar disandarkan di sisi sofa bersekat.
"Apa itu?"
"Itu," kata Baekhyun, bergabunglah di ruang tamu, "ini barang paling utama." Aku tahu dengan seketika itu dari Siwon dan eomma-ku. Uang adalah sesuatu yang ibuku butuhkan agar bahagia dan aku senang bahwa Siwon, suami nomor tiga, tidak hanya bisa mengisi kebutuhan itu untuknya tapi juga semua hal-hal lain dengan baik. Aku sering berharap itu bisa menjadi akhirnya, tapi eomma-ku kesulitan menerima bahwa aku tidak memandang uang dengan cara yang sama dengan dia. "Apa lagi sekarang?"
Dia melemparkan lengannya di bahuku, cukup mudah baginya untuk melakukannya karena dia lebih tinggi dariku. "Jangan tidak bersyukur. Dia mencintai eommamu. Dia suka memanjakan eommamu, dan eomma-mu suka memanjakanmu. Sebanyak apapun ketidaksukaanmu, ia tidak melakukannya untukmu. Dia melakukan itu untuk eomma-mu." Sambil mendesah, aku mengakui maksudnya.
"Apa itu?"
"Pakaian Glamor untuk makan malam di penggalangan dana pusat advokasi pada hari Sabtu. Gaun kejutan untukmu dan tuksedo Brioni untukku, karena membeli hadiah bagiku adalah apa yang dilakukannya untukmu. Kau lebih toleran jika aku berada didekatmu untuk mendengarkanmu, penggerutu."
"Benar sekali. Terima kasih Tuhan dia tahu itu."
"Tentu saja dia tahu. Siwon tak akan menjadi bazillionaire jika ia tak tahu segala hal" Baekhyun menangkap tanganku dan menarik. "Ayolah, lihat saja."
.
.
.
Aku mendorong melewati pintu putar Crossfire menuju lobby 10 menit sebelum pukul 9 hari berikutnya. Ingin membuat kesan terbaik pada hari pertamaku, aku pergi dengan memakai gaun sederhana dipasangkan dengan sepatu bot hitam yang aku pasang sebagai pengganti sepatu jalanku saat lift naik. Rambut Hitamku digulung seperti sanggul indah yang menyerupai angka delapan, kreasi dari Baekhyun. Aku adalah orang kompeten tentang rambut, tapi ia bisa menciptakan gaya yang merupakan suatu adikarya.
.
.
"Hai, Megumi," Aku menyapa resepsionis wanita yang berada dibalik meja berbentuk bulan sabit sambil melangkah masuk. Saat ini aku sudah berada diruangan Waters Field & Leaman kantorku.
"Kyungsoo, Hai. Nickhun belum datang, tapi kau tahu harus kemana kan?"
"Tentu Saja." Aku melambai dan membelokan diri ke koridor disebelah kiri meja resepsionis, berjalan sampai ke ujung, lalu belok kiri lagi dan berakhir di ruang yang sebelumnya ruang terbuka namun sekarang dibagi menjadi bilik-bilik. Salah satu adalah milikku dan aku langsung berjalan kesana.
"Selamat Pagi, Kyungsoo." Aku bangkit berdiri untuk menghadapi bosku.
"Selamat Pagi, Tuan Buck."
"Tolong panggil aku Nickhun. Datanglah ke ruang kantorku."
Aku mengikutinya melintasi jalur lorong, sekali lagi berpikir bahwa bos baruku sangat enak dilihat dengan Putih bersinar, Rambut yang tertata rapih dan senyum yang lumayan manis dengan badan yang menurutku atletis. Dia menunjuk pada salah satu dari dua kursi di depan meja kaca kromnya dan menunggu sampai aku duduk untuk menempati kursi Aeronnya. Dengan latar belakang langit dan gedung pencakar langit, Nickhun tampak sukses dan berkuasa. Dia, pada kenyataannya, hanya seorang manajer junior dan kantornya seukuran lemari dibandingkan dengan yang diduduki oleh direksi dan eksekutif, tapi tak ada yang bisa menyalahkan itu.
Dia bersandar dan tersenyum. "Apakah kau sudah selesai beres-beres di apartemen barumu ?" Aku terkejut dia ingat. Aku telah bertemu dengannya pada wawancara keduaku.
"Sebagian besar sudah," jawabku. "Masih ada beberapa kotak di sana-sini."
"Kau pindah dari Ilsan, kan? Kota yang nyaman, tapi sangat berbeda dari Seoul.
"Jadi ... ini hari pertamamu dan Kau asisten pertamaku, jadi kita harus membiasakan diri sambil jalan. Aku tak terbiasa untuk mendelegasikan pekerjaan, tapi aku yakin aku akan terbiasa dengan cepat."
Aku langsung tenang. "Aku ingin sekali dapat didelegasikan."
"Mempunyai dirimu disini adalah langkah besar bagiku, Kyungsoo. Aku ingin kau bahagia bekerja di sini. Apa kau mau minum kopi?"
"Kopi termasuk salah satu daftar makanan utamaku."
"Ah, seorang asisten yang punya kesamaan denganku." Senyumnya melebar. "Aku tak akan memintamu untuk mengambil kopi bagiku, tapi aku tidak akan keberatan jika kau membantuku mencari tahu bagaimana menggunakan mesin pembuat kopi satu-cangkir baru yang mereka letakkan ke dalam ruang istirahat."
Aku nyengir. "Tidak masalah."
"Betapa menyedihkan bahwa aku tidak memiliki apa pun untukmu?" Dia mengusap bagian belakang lehernya malu-malu. "Bagaiamana jika aku menunjukkan akun yang aku kerjakan dan kita akan mulai dari sana?"
.
.
.
Sisa hari berlalu tak terasa. Nickhun membicarakan dasar-dasar dengan dua orang klien dan mengadakan pertemuan panjang dengan tim kreatif mengerjakan konsep ide untuk sebuah sekolah dagang. Itu adalah proses yang menarik dilihat secara langsung bagaimana berbagai departemen mengambil tongkat dari satu sama lain untuk membawa suatu kampanye dari proposisi sampai membuahkan hasil. Aku bisa tinggal lebih lama hanya untuk mendapatkan nuansa yang lebih baik dari tata letak kantor, tapi telponku berbunyi 10 menit sebelum pukul lima.
"Kantor Nickhun Bruck. Do Kyungsoo disini."
"Bawa pantatmu pulang kerumah, jadi kita bisa pergi keluar untuk acara minum yang kau tunda kemarin."
Ketegasan pura-pura Baekhyun ini membuatku tersenyum. "baiklah, baiklah. Aku pulang." Mematikan komputerku, aku keluar. Ketika aku sampai di lift, aku mengeluarkan ponselku untuk mengirim pesan cepat "dalam perjalanan" untuk Baekhyun. Suara ding mengingatkanku lift mana yang sedang berhenti di lantaiku dan aku pindah untuk berdiri di depannya, sebentar perhatianku kembali untuk menekan tombol kirim. Ketika pintu terbuka, aku melangkah ke depan. Aku mendongak untuk melihat dimana aku akan pergi saat mata biru bertemu dengan mataku. Napasku tertahan.
Sang Dewa Seks adalah satu-satunya orang yang berada dalam lift ini.
.
.
.
.
.
TBC
Annyeong reader-nim^^
Nah udah aku update ya buat chapter satunya, aku mau liat respons kalian lagi nih kalo Reviewnya banyak aku bakal update cepet… Okey?
Ohiya aku disini nempatin baekhyun as a man, bukan cewek ya, gapapakan? Tapi tenang aja, di mata ku, seorang Byun Baekhyun selalu cantik kok. :D
Udah segitu aja dulu ^^
Hanna
KAISOODYO
