Maafkan saya karena tidak bisa menyelesaikan ini sesuai rencana awal.. Malah ngaret sampai Halloween tahun ini... =w="

Yak, yang pasti ini harus dikasih ending (ya iyalah) dan semoga dapat menghibur readers sekalian.. :D

Selamat membaca! ^^

Disclaimer : Axis Powers Hetalia punya Himaruya Hidekaz! Orang ter-awesome sedunia!

Warnings : Masih amatir. ==" Mungkin ada beberapa kesalahan dan typo.. Hint pairings Sho-Ai dan Straight~


Autumn, Ghosts, and Perfect Hunting

Cerita sebelumnya : Ide kurang kerjaan Prussia membuat para nations sekarang berada di tengah-tengah TPU Jeruk Purut, dalam rangka uji nyali! Kelompok sudah dibagikan,dan mereka siap menjalani ini.. Atau mungkin tidak.

"Mari kita mulai jurit malam alias uji nyali ini!" seru Indonesia menandakan acara segera dimulai.

"Lay, Brun, Sing," kata pemuda berkulit langsat ini memanggil adik-adiknya. "Segera ke pos kalian masing-masing, seperti yang kita rencanakan tadi," lanjutnya, dan segera dipatuhi oleh adik-adiknya yang entah kenapa saling senyum-senyum sendiri.

"Dan kau- ya kau tulip maniak sapi dan Australia! Temani aku di pos terakhir!" seru Indonesia dengan mata hitam nya yang berbinar karena semangat sambil menunjuk mereka berdua.

"Curaang!" "Kenapa mereka berdua gak ikut?!" "Ndo, jangan pilih kasih dong!" "Iih Nesia mendua~"

Seruan-seruan protes dan satu seruan tidak nyambung yang tak perlu kita perhatikan berbondong-bondong menyerbu telinga Indonesia, membuatnya makin pusing.

Dengan melipat lengan di depan dada, Indonesia menghela napas dan berkata, "Oke. Pertama, aku tidak pilih kasih. Dan France, apa maksudmu mendua?" ujarnya menatap France tajam.

"Lalu, mereka berdua ini, terutama si Nethere, sudah sangat amat sering sekali kuajak berkeliling sini, teman-temanku saja sudah hapal dengan mereka."

... Tunggu, maksudnya 'sudah hapal dengan mereka'?

Para nations terdiam dan tanpa sadar memelototi Netherlands dan Australia saat zamrud khatulistiwa mengatakan itu semua. Sambil tersenyum pula!

Kedua negara yang bersangkutan juga hanya bisa diam dan merinding saat mengingat kembali pengalaman buruk mereka itu.

Netherlands apalagi, dia paling tidak bisa menolak permintaan –dan paksaan dari mantan jajahan tercintanya itu. Karena itu diajak memutar TPU pun dia pasrah saja, tidak seperti Australia yang harus diseret-seret dulu.

"Sudah ini kita kapan mulainya?! Ayo cepat! Aku yang awesome ini sudah tidak sabar untuk menunjukan kegagahan dan keberanianku ini!" seru Prussia dengan segenap kenarsisannya.

Indonesia tersenyum dengan menyeramkan pada Prussia.

"Hmm.. Kalau kau ngaku-ngaku berani, coba saja, bisakah kau tidak pingsan sampai pos terakhir? Dan sudah kubilang jangan nantang. Tapi dengan sikapmu yang menantang itu, kemungkinan besar kau yang akan bisa melihat langsung penampakan sang pastur tanpa kepala..."

Tepat setelah Indonesia mengatakan itu, arah angin tiba-tiba berubah bertiup mengarah pada mereka, membuat mereka semakin kedinginan dan bulan purnama di langit hilang tertutup awan.

"... Kalau cuaca sudah begini sepertinya mereka telah datang.." ujar Indonesia dengan misterius, tak ada yang mengerti kecuali Netherlands.

Dan dengan senyuman ramah yang muncul tiba-tiba, ia berkata, "Baiklah, tanpa tunggu lebih lama lagi, mari kita mulai uji nyali ini! Dimulai dari kelompok pertama, America, England, dan France, seperti yang kukatakan sebelumnya, kalian harus ikuti jalur berpatokan pada lilin-lilin yang sudah kami pasang, dan kalian hanya boleh bawa satu senter. Ada 3 pos perhentian yang dijaga adik-adikku dan aku, Netherlands, serta Australia berjaga di pos terakhir, jadi total 4 pos.

"Dan kelompok berikutnya harus tunggu 1 menit, baru boleh jalan, begitu juga dengan kelompok-kelompok berikutnya. Mengerti?"

Semua peserta mengangguk menjawab pertanyaan Indonesia.

"Oke. Silahkan mulai jalan, kelompok pertama. Nethere, Aussie, ayo."

Dan dengan ini, uji nyali di TPU Jeruk Purut resmi dimulai.


Bulan purnama muncul kembali di langit, menerangi malam yang hangat, tipikal negara tropis seperti Indonesia.

3 orang pria- tepatnya personifikasi negara- berambut blond berjalan di tengah-tengah batu-batu nisan TPU Jeruk Purut.

Bukannya takut, mereka malah membuat kehebohan sendiri,

"Kalian berdua tenang saja! Ada HERO di sini akan melindungi kalian! AHAHAHAHA!"

"Tidak usah teriak-teriak, you git!" seru England sebal karena America lagi-lagi berteriak tepat di telinganya.

"Haah~ Kalian berdua ini sama sekali tidak punya selera romantika~ Nikmatilah bulan purnama yang indah di atas sana itu~~" kata France mendayu-dayu.

"... Dasar menjijikan. Lagipula, siapa yang bisa menikmati bulan purnama di tengah-tengah kuburan seperti ini?!" protes England.

"Aku bisa."

Kaget, tiga pria tersebut menoleh ke arah suara.

Rupanya seorang wanita muda, cantik sekali, mengenakan baju seperti zaman kolonial Belanda dulu.

"Bulannya.. Indah sekali, bukan?" tanya wanita itu tersenyum.

Naluri para pria, langsung bersikap ramah saat melihat wanita cantik.

"Haaai, apa yang seorang wanita muda lakukan malam-malam begini di kuburan?" tanya America ceria.

"Aku ingin pulang setelah berziarah ke makam teman ayahku. Mereka bersahabat dekat sekali. Sebelum ayahku berpulang pun, ia berpesan padaku untuk terus mengunjungi makam temannya itu."

"Oh, anda benar-benar seorang lady yang baik hati," kata England dengan pesona ala 'British Gentleman' nya itu.

"Kecantikan anda tidak hanya di luar, Mademoiselle, tetapi juga hati anda," kata France mencium punggung tangan wanita itu. Di luar dugaan France, tangan yang ia cium itu terasa dingin sekali.

'Ah, mungkin karena angin malam yang dingin,' pikirnya.

"Terima kasih," balasnya tersenyum. "Aku harus pulang sekarang."

"Sungguh menyenangkan bertemu pria-pria yang tahu sopan santun seperti kalian-kalian ini."

Secara tak terduga ia tiba-tiba menghilang.

Lenyap begitu saja dari mereka, tanpa bekas.

Awalnya mereka hanya terdiam beberapa saat, sampai England yang berbicara.

"Lagi-lagi.. Aku bertemu yang bukan manusia," katanya datar. Ia memang sudah terbiasa.

Tapi lain halnya dengan France dan America.

"GYAAAAAAAAAAAAAA!"


"Wow, teriakan siapa itu?" tanya Hungary pada Austria dan Prussia yang ada di kanan dan kirinya.

"Tidak awesome sekali. Kedengarannya seperti suara France dan America dari depan sana," jawab Prussia.

"Mungkin mereka bertemu sesuatu," kata Austria tenang.

"Sesuatu katamu? Ahaha tidak mungkin ada! Sudah kubilang, Indonesia ini mungkin indah, tapi tidak menyeramkan!" kata Prussia.

BLAAAR!

Tepat setelah Prussia mengatakan itu, petir menyambar dan terdengar suara guntur. Suaranya dari kejauhan, tapi terdengar sangat keras.

Awan kembali menutupi bulan purnama, angin kencang bertiup menggerakan pepohonan yang ada di sekitar kuburan tersebut.

Prussia, Hungary, dan Austria tiba-tiba merasa dingin.

"He-hei, Prussia, kau ingat tadi kata Indonesia kan? Jangan nantang!" kata Hungary agak khawatir.

"I-itu kebetulan saja, hahaha," kata Prussia mencoba menyembunyikan keterkejutannya.

Austria tiba-tiba berhenti berjalan. Prussia dan Hungary yang berjalan di belakangnya jadi menabraknya dan hampir jatuh.

"Woi, mata empat! Jangan sembarangan berhenti begitu! Gak awesome amat. Kenapa?" tanya Prussia agak sebal.

"... Aku tidak salah lihat kan?"

"Eh? Apa maksud-"

Kemudian Hungary yang menyadarinya. Bayangan seseorang mendekat ke arah mereka. Bayangan itu diikuti oleh seekor anjing yang berjalan dengan pelan.

Lama-kelamaan mereka dapat melihat rupa bayangan itu.

"Pa- Pa- Pa-," Hungary tergagap.

"PASTUR TANPA KEPALAAAAA!"

Dengan panik ketiga personifikasi negara itu berlari. Berlari terus tanpa peduli lagi arah mereka ke mana.

"Hah, haah, syukurlah kita dapat lepas darinya," kata Prussia terengah-engah.

"Kalian baik-baik saja kan-"

Betapa terkejutnya Prussia saat melihat bahwa ia sendirian.

"Hei! Hungary, Austria! Tidak lucu, cepat keluar! Gak awesome tau! Kalian aku kira aku akan takut?!" seru Prussia yang sebenarnya sudah mulai merasa takut.

Tidak ada jawaban.

"Huh, ya sudah kalau begitu. Orang awesome memang harus sendirian! Cih, senternya dipegang si mata empat itu, lagi!"

Prussia memutuskan untuk mencari jalan sendiri, di tengah-tengah batu-batu nisan yang seakan ingin mengepungnya.

Sementara itu...

"Huuf, baiklah sekarang kita sudah aman," kata Hungary pada Austria yang ada di sebelahnya.

"Ya.. Eh, di mana Prussia?" tanya Austria.

"Lho? Perasaan sampai tadi dia masih bersama kita," balas Hungary bingung.

"Mungkin dia mencari jalan pintas," kata Austria.

"Austria? Hungary? Akhirnya kalian datang, mana Prussia?"

Rupanya mereka sudah sampai di Pos 1 tempat Brunei menjaga.

"Brunei, tadi kami bertemu.. Eeeh, sesuatu, lalu kami lari. Dan tiba-tiba Prussia sudah hilang," jelas Hungary.

"... Jangan-jangan Prussia mengatakan sesuatu? Maksudku, apakah dia 'nantang'?" tanya Brunei. Wajahnya mulai pucat.

"I-Iya.. Tadi dia mengatakan sesuatu tentang Indonesia itu indah, tapi tidak seram sama sekali," kata Hungary.

"Ini gawat.. Ya sudah, kalian lanjutkan saja dulu uji nyali ini, dan kalau kalian sudah tiba di tempat kak Indonesia, katakan padanya apa yang terjadi," kata Brunei.

"Baiklah.." kata Austria. Merekapun melanjutkan uji nyali itu.


"Aduuuh, gelap sekali di sini. Untung kita punya senter yang super terang ini," kata Belgium.

"Tak apa-apa, Oyabun ini akan melindungi kita semua!" seru Spain ceria.

"Apanya yang melindungi, bastardo! Dari tadi bukannya kau yang memeluk lenganku?! Cepat lepaskan!" tukas Romano sebal.

"Eeh? Tapi dingin, mi tomate~ Badanmu hangat~" kata Spain mendayu-dayu. Heran, apa dia ketularan France ya?

"Kau ini menjijikan," kata Romano singkat. Entah kenapa reaksinya agak mirip dengan reaksi England.. Mungkinkah ini reaksi standar para tsundere?

"Hmm? Ah, ada orang di sana! Mungkin peziarah," kata Belgium.

"Halooo? Halo? Apakah anda bisa mendengar kami?" tanya Belgium mengencangkan suaranya dan melambaikan tangan.

Bayangan orang yang dilihatnya itu berhenti sejenak. Kemudian mendekat pada mereka.

Makin dekat, makin dekat..

"Lho, lho, lho? Kenapa dia seperti bukan berjalan ya?" tanya Spain.

"Apa maksudmu tomato bastardo?" tanya Romano.

"Sepertinya dia.. Melompat-lompat..."

"Eh? Jangan-jangan.."

Kemudian terlihatlah jelas pada mereka.

"Po- Po- Po-," kini Belgium yang tergagap.

"PO' OCOOONG!"

"HUWAAAAAA!" Spain dan Romano berteriak sekencang mungkin, sebelum akhirnya bersama-sama menarik Belgium dan spontan berlari tak kalah kencangnya dengan teriakan mereka(?).

"Oh, Belgium, Spain, dan Romano, baiklah silahkan jawab ini dulu-"

Brunei tak sempat menanyakan apa-apa pada mereka, sebab mereka bertiga berlari saja melewati Pos 1.

"HEI! Jawab ini dulu! Ini diperlukan untuk melewati pos-pos berikutnya!"

"Kami langsung ke pos terakhir saja! Ampun, Indonesia tolooooonggggg!"

Dan Brunei hanya bisa ternganga melihat 'trio tomat' yang super panik itu.

Di kejauhan ia dapat melihat mereka menerobos Pos 2 tempat Singapore sedang mengurus Hungary dan Austria, serta Pos 3 tempat Malaysia mengurus England, America, dan France. Bahkan kedengaran suara mereka berteriak-teriak saat sampai di Pos Terakhir tempat Indonesia, Netherlands, dan Australia.

Brunei yang bermata tajam dapat melihat kakaknya itu kebingungan menghadapi tiga orang yang luar biasa heboh biarlah.

Sekarang Brunei dapat melihat Germany, Italy, dan.. Siapa itu? Itu lho, yang memegang beruang putih?

Sepertinya mereka aman dan damai-damai saja, melihat Italy yang masih ceria memeluk lengan Germany.

Atau mungkin makhluk-makhluk itu takut melihat ekspresi Germany yang entah kenapa sekarang sangat menyeramkan..

"Baiklah, kalian kelompok.. Empat kan? Silahkan jawab ini dulu," kata Brunei memberikan sebuah kertas.

"Ve~ Brunei, tadi aku mendengar suara kakakku, apakah mereka baik-baik saja?" tanya Italy.

"Yaah.. Sepertinya kau boleh mengatakan mereka baik-baik saja.."


"Pokoknya aku yang akan melindungi Japan!"

"Tidak bisa Turkey, aku yang pasti akan melindungi Japan.."

"Hah! Tukang tidur sepertimu? Yang akan terjadi adalah Japan melindungimu saat kau jatuh tertidur di antara segerombolan kucing!"

"Apa katamu?!"

"Sudah sudah, Greece-san, Turkey-san, lebih baik kalau kita semua saling melindungi, bukan?" kata Japan yang berusaha menenangkan dua sejoli- ups, dua rival yang memperebutkannya ini.

Sepertinya perdebatan mereka tidak akan pernah berhenti...

TUK!

"Aduh!" Japan mengelus kepalanya, dan melihat apa yang menimpuknya tadi.

"Batu kerikil?"

Masih bingung dengan temuannya, Japan mendengar seruan-seruan kesal dari Turkey dan Greece.

"Adaaw! Sakit tau! Jangan pukul aku, dasar tukang tidur!"

"Siapa yang memukul? Dari tadi aku diam sa- Aw! Kenapa kau memukulku, Turkey?!"

Japan memungut batu-batu kerikil yang rupanya telah mengenai kepala teman-temannya itu.

Ia melihat ke atas pohon. Seketika itu juga ia terdiam, matanya terbelalak, dan cepat-cepat berbisik pada teman-temannya,

"Greece-san, Turkey-san.. Jangan lihat ke belakang. Mari kita cepat pergi dari sini."

"Eh?"

"Kenapa, Japan?"

Tanpa sadar mereka malah melihat apa yang Japan lihat. Itu di atas pohon...

Kuntilanak laki-laki!

"UWAAAAAAAAAAAA!"


"Uwaaaaa, tempat ini gelap juga, da-ze! Tidak awesome nih kalau sampai tersesat!"

Itu tadi South Korea yang berbicara. Di sampingnya ada Taiwan dan China.

"Benar juga.. Seandainya Hong Kong ada di sini... Ngomong-ngomong itu tadi teriakan siapa ya? Arahnya dari depan," kata Taiwan bingung.

"Tidak tahu, aru. Pasti dari grup Japan. Tapi, South Korea, kenapa kau jadi ketularan Prussia, aru?" tanya China.

"Ketularan apa?"

"Itu.. Tadi, kau bilang 'awesome'," kata China agak sweatdropped.

"Oooh, itu sih Prussia saja yang meniruku! Awesome itu datangnya dari Korea, da-ze!"

'Dasar anak ini...' ujar Taiwan dan China berbarengan.

Mereka sampai di Pos 1 tempat Brunei berjaga.

Brunei kelihatan.. Eh, menyedihkan? Dan berantakan.

"Sudah kedua kalinya malam ini..." gumam Brunei, setengah curcol.

"Dasar mereka itu. Greece dan Turkey tadi menerobos Pos ku sambil menarik-narik Japan. Tuh, kalian dengarkan teriakan mereka di tempat kak Indonesia sana, bercampur dengan teriakan Spain, Belgium, dan Romano..."

Trio Asia Timur itu agak sulit menahan tawa, sebab wajah Brunei yang biasanya kelihatan rapi bersih malam itu kelihatan berantakan sekali.

"Hmm.. Yang sabar ya, Brunei. Malam ini masih panjang," kata Taiwan.

Ya, memang masih panjang malam yang akan mereka jalani itu, ada-ada saja pasti yang akan terjadi..


"NORGE! Jangan tinggalkan aku sendirian! Di sini gelap sekali! Banyak pohon dan batu nisan pula!" teriak Denmark.

"Jangan dekat-dekat, anko uzai! Lagipula, dari tadi aku ada di sebelahmu," tukas Norway agak kesal, namun tetap bermuka datar(?).

Hong Kong hanya diam, namun sebenarnya dalam hati ia ingin tertawa melihat dua orang itu.

Yah, Hong Kong selalu menjaga gengsi nya sebagai orang yang diam, tenang, dan cool selayaknya gentleman seperti yang diajarkan England padanya.

Perhatiannya tiba-tiba teralih pada sesuatu. Ada yang bergerak di balik semak-semak sana!

"Hong Kong? Kenapa kau terdiam begitu?" tanya Norway.

"Sepertinya.. Aku melihat seperti bayangan anak kecil dari sana," ujar Hong Kong mencoba untuk tetap tenang. Wajahnya agak pucat, sebenarnya.

"A-anak kecil?" Denmark kelihatan tidak tenang.

Bertiga mereka mendekati arah semak-semak itu. Tap, tap, tap, bunyi langkah mereka terdengar di tengah angin malam yang bertiup agak kecil.

"Ha-halo?" panggil Denmark. Tak ada suara.

Tiba-tiba...

"Apa yang sedang kalian lakukan di sini?"

"KYAAAAAA!"

Saat mereka bertiga menoleh, ternyata ada seorang bocah di situ.

'Heran, apa tidak dingin ya baginya untuk hanya mengenakan celana mini seperti itu?' pikir Hong Kong .

'Tadi yang teriak "KYAAA" itu Denmark kan?' pikir Norway hampir tertawa seandainya situasi tidak terlalu mencekam.

Sementara Denmark merasa aneh, sepertinya Indonesia pernah memberitahunya sesuatu tentang ini. Entah apa-

"Kalau kalian tidak ada kerjaan, minta uang dong!" kata anak kecil itu.

"Hah?"

"Minta uang, kau tidak mengerti? Aku minta uangmu!"

'Tidak sopan sekali anak kecil ini,' pikir Hong Kong.

Norway memutuskan untuk memberikan uang kecil saja padanya. Daripada mereka diganggu anak kecil berisik ini terus.. Hei, tiba-tiba Norway teringat pada si anak kecil adik England itu. Kira-kira sama tidak sopannya dengan anak kecil ini-

"Yaaah, cuma segini? Dasar mas-mas bokek!"

"Apa katamu?!" seru Denmark tersinggung.

Tapi anak kecil itu sudah kabur meninggalkan mereka.

"Heh! Malah kabur, coba kita lihat, itu anak siapa sih?!" tukas Denmark pergi ke arah anak kecil itu kabur.

Mereka bertiga melihat anak kecil itu masuk ke dalam sebuah keramat, rumah makam Betawi yang tadi sudah dijelaskan Indonesia itu.

'Tunggu.. Ini, jangan-jangan..'

"Denmark, tunggu!" seru Norway. Wajahnya memucat, ia baru ingat apa yang diceritakan Indonesia tadi.

Namun Denmark sudah jauh di depan mereka, terpaksa ia dan Hong Kong berlari mengikuti Denmark menuju rumah makam itu.

Dilihatnya Denmark memeriksa ke dalam.

"... Lho? Anak tadi.. Mana ya?"

Denmark kebingungan sekarang. Jelas-jelas tadi ia melihat anak kecil itu lari ke sini.

"Denmark.. Sebenarnya aku baru ingat apa yang diceritakan Indonesia di jalan tadi," kata Norway.

Hong Kong menatapnya, "Apa katanya?"

"Yang tadi itu, pasti yang biasa dia sebut : Tuyul."

SIIIIIINGG

"..."

"..."

"..."

"KYYAAAAAAAAAAAAAA!"


"Wah, itu pasti suara Denmark dari depan! Sudah dua kali dia berteriak," kata Finland.

"Mungkin mereka bertemu sesuatu di depan," jawab Iceland kalem.

" A'ku 'kan 'lindungi kalian," kata Sweden dengan sangat menyeramkan.

"I-iya, terima kasih Su-san..." kata Finland merinding.

"Hmm?" Finland memandang ke depan.

"Sepertinya grup Denmark masih di Pos 1 tempat Brunei, kenapa Denmark terlihat terburu-buru begitu ya?"

Sementara itu di Pos 1...

"BRUNEI! Tolong biarkan kami lewat, cepatlah! Kami ingin langsung ke tempat Indonesia saja!" teriak Denmark.

"Tidak bisa! Sudah dua kali aku diterobos malam ini, dan itu cukup! Pokoknya kalian harus bisa menjawab tantangan ini sampai benar!" perintah Brunei tegas.

"Brunei~ Pliissss, di sini banyak hantu nya! Toleransi kali ini saja, yaa?" ujar Denmark memohon.

"Sudahlah, Norway dan Hong Kong saja diam begitu, bukannya harusnya kau yang melindungi mereka? Badanmu kan paling besar dibandingkan mereka berdua , Denmark," jawab Brunei sweatdropped.

"Justru hantu-hantu itu pasti akan menargetkan yang paling besar dulu!" seru Denmark ngeles.

"Tuh kan, grup Sweden saja sudah sampai di sini. Lebih baik kau selesaikan tantangan ini agar kalian tidak menghabiskan waktu di sini saja," kata Brunei.

"Tapi-"

"Cepat jawab pertanyaanya sebelum kesabaranku hilang," kata Brunei. Aura hitam yang dikeluarkannya cukup menyeramkan, walau tidak semenyeramkan kakak tertuanya, Indonesia...

'Woow,' pikir Finland.

'Mirip sekali dengan saudaranya,' pikir Iceland.

'Jangan pernah cari gara-gara dengan negara-negara Asia Tenggara,' catat Norway dalam hati.

Dengan terpaksa Denmark menyelesaikan tantangan Pos itu sambil sesekali melihat ke belakang untuk memastikan apakah mereka sudah aman atau tidak.


"Russia~ Gelap sekali di sini, menyeramkan!" kata Ukraine hampir menangis.

"Tapi, cuacanya agak hangat dibandingkan dengan negeri kita, da?" kata Russia memasang senyumnya yang selalu ada itu.

"Kakak.. Ayo kita menikah.. Menikah.. Menikah..." kata Belarus memeluk lengan Russia.

"Lepaskan aku! Tolong!" giliran Russia yang merasa ingin menangis.

Tiba-tiba saja, di depan mereka muncul seorang wanita cantik.

Ukraine bersembunyi di belakang Russia, sementara Belarus hanya memperhatikan wanita itu.

"Selamat malam," kata wanita itu.

Tiga bersaudara itu tidak menjawab. Wanita itu memandangi Russia.

"Kau kelihatan kuat dan gagah," kata wanita itu tersenyum. Senyum yang agak misterius.

"Mau ikut bersamaku?"

"Apa? Ke mana?" tanya Russia masih tersenyum.

"Pokoknya ikutlah," ajak wanita itu.

Seakan terhipnotis, kaki Russia melangkah sendirinya. Baru satu langkah, tiba-tiba Belarus maju menghadangnya, dan menatap wanita itu dengan tajam.

"Tidak boleh," kata Belarus tegas.

"Kau tidak boleh membawa kakakku ke manapun! Atau.."

Belarus mengeluarkan pisaunya dan mengayunkannya pada wanita itu.

"Kau ingin aku memakai ini?" ancam Belarus. Russia dan Ukraine takut-takut memandanginya.

Wanita itu terdiam. Lalu tersenyum lagi.

"Yah," mulainya, "Aku kalah. Silahkan lanjutkan perjalanan kalian. Baru kali ini aku melihat tekad melindungi yang begitu luar biasa."

Seperti kemunculannya, bagaikan asap ia menghilang begitu saja.

Suasana hening sejenak. Lalu Russia yang berbicara.

"Tadi itu kau sangat..."

"Ya kak?" tanya Belarus dengan tatapan penuh harap.

'Sangat hebat? Sangat pemberani?'

".. Sangat mengerikan."


"Oke! Semuanya sudah berkumpul di sini ya!" panggil Indonesia.

"Yaaa.." jawab teman-temannya agak lemas setelah mengalami kejadian yang sangat beragam.

"Malam ini aku berterima kasih pada adik-adikku yang telah membantuku menjalankan uji nyali ini. Terutama Brunei, yang Pos nya telah diterobos dua kali dengan garangnya," kata Indonesia menoleh pada adiknya itu.

Brunei tersenyum lemas. Singapore dan Malaysia menyengir usil.

Tadi mereka menghindar saja saat Pos-Pos mereka diterobos, tidak seperti Brunei yang 'merelakan' tubuhnya ditabrak-tabrak, yang hasilnya dapat mereka lihat sekarang, Brunei hampir tak ada bedanya dengan mas-mas penjual mi di sekolah. Rambutnya acak-acakan, bajunya hampir robek di sana-sini, celananya terancam bahaya melorot.. Hanya saja Brunei lebih tampan.

"Nah sekarang, aku ingin bertanya pada Austria dan Hungary.."

Ekspresi Indonesia berubah serius.

"Kalian bilang tadi Prussia hilang?"

Mereka berdua mengangguk. Hungary menceritakan kembali pengalaman mereka.

"Hmm.. Ini gawat," gumam Indonesia.

"Baiklah. Sekarang, lebih baik kita semua mencarinya. Jangan berpencar, nanti malah kalian lagi yang tersesat. Lagipula, kalau kita terus bersama, akan lebih mudah bagi kita untuk mencarinya-

"AAAAAAAAAAAARRRGH!"

Semua tersentak mendengarnya. Itu suara Prussia!

-To Be Continued-


OMAKE

Indonesia : "Lagipula, kalau kita terus bersama, akan lebih mudah bagi kita untuk mencarinya-"

Prussia (di kejauhan) : "AAAAAAAAAAAARRRGH!"

Spain : "AAAAAAAAAAAA!"

Indonesia : "Kenapa kau ikut berteriak, Spain?" *kesal*

Spain : "Ah maaf. Jus tomatku tumpah, hehehe."

Semuanya : "-_-"


Sudah setahun, baru saya update.. Hmm, benar-benar deh saya ini. *shot* Yah, saya nantikan review dan saran anda semua, karena itulah yang menyemangati saya.. :D Tapi jangan flame yang kasar ya.. :)

Sekian, dan sampai jumpa di chapter berikutnya!