chapter 2 come on, maaf bila tidak memuaskan kkkk

happy reading guys :^^


BAB II. Hidupku ini…

9 tahun later…

Busan , 1 juli 2002. 3 p.m

"dan juara olimpiade matematika tahun ini, ialah… CHOI SUNGMIN. Kepada sungmin- shii silakan naik ke atas panggung untuk penyerahan mendali emas".

Perempuan yang memakai baju merah bercahaya khas anak SD dengan senyum mengembang disetiap langkahnya itu, perlahan-lahan menaiki anak tangga yang terasa ringan menurutnya. Betapa bahagianya ia, untuk pertama kalianya memenangkan penghargaan tingkat kota yogjakarta yang indah mengalahkan semua anak sebayanya dalam bidang akademik.

"silakan bila ada yang perlu disampaikan?" ucap mederator menyilahkan anak berbaju merah itu menyampaikan kesannya.

"pertama-tama saya ucapkan terimakasih kepada nenek dan kakek yang telah mendukung dan melatihku untuk tampil di lomba ini dengan soal yang menurutku gampang. Kepada sepupuku maaf ya karena dalam lomba kali ini aku berhasil lagi dan lagi mengalahkanmu. Salahmu sendiri yang telah berulang kali mengatakan aku, BODOH. Maaf ya aku bukan orang seperti itu!". Tegasnya memberikan tekanan pada setiap kata terucap. Tertawa riang untuk sesaat kemudian mimik wajahnya berubah menjadi suram.

"ah ya, terutama kepada Appa serta eomaku yang jauh disana, aku sangat merindukan kalian. Semoga kalian akan mendengar ini! halmoeni, bukankah kau bilang acara ini ada di televisi? Kenapa tidak ada 1 kamera pun yang ada didepanku?"ucapnya mempoutkan bibir merah itu, melihat kearah neneknya yang menunduk malu

Seketika orang-orang yang yang berada disana tertawa melihat kelakuan polos nan lucu dari bocah yang kesepian dan merindukan orang tua yang tak tau ia hidup dengan baik atau tidak. Namun itulah hidupnya .

Hidupku ini….

Gadis berbaju merah SD itu bernama choi sungmin , atau sering dipanggil miniie. Cicit dari Park Young Woon dan Park Jung soo . Yang lahir pada tanggal 29 mei 1993 dan kini ia menginjak usia 9 tahun dengan segala prestasi yang ia capai.

Tidak sulit baginya untuk memenangkan penghargaan tadi, diusia 9 tahun ia telah menyelasaikan studi SD nya dan siap melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Jika kalian bertanya kenapa bisa begitu? Tentu saja, salahkan pada otak kiri dan otak kanannya yang berfungsi secara baik –cerdas-

"ah, halmoeni kau bilang acara itu di tayang kan di televisi jadi aku sangat bersemangat mengikutinya, nyatanya? pembual besar" eluh sungmin pada nenek-nya tersebut

"maaf sayang, halmoeni hanya ingin kau giat belajar. Manfaatkan otak cerdasmu itu. OK?! " Jelas jung soo

"kekeke… arraseo. halmoeni, apa kali ini kau begitu bangga padaku?" ucap gadis munyil itu.

"of course, kenapa tidak humm?" ucap lembut sang halmoeni mencubit cicitnya ini.

"ish halmoeni aku hanya bertanya jangan mencubit begitu."marah sang cicit

"kau ini lucu sekali. Sayang aku harus meninggalkanmu bersama orang tuamu." Sesal sang nenek

"ish halmoeni seperti mau kemana saja."

"kau sih suka marah-marah gak jelas."

"hehe… mianhe halmoeni."

"ne, gwechana. Ingat kau harus mau jika ibumu mengajakmu pulang, arra?."

"aku ingin terus bersama halmoeni!" manjanya memeluk tubuh tua renta itu.

"haha…. Kau ini manja sekali bu dokter."

"yak! Halmoeni, aku itu lawyer bukan dokter!"

"tapi kau seperti dokter memakai piyama putih kebesaran itu!"

"bukan dokter tapi kuntilanak ne!"canda sungjin – sepupu sungmin -

"yak sungjin! gila dasar!"

"sungjiiin sudah haraboeji bilang, cepat tidur!"tegur young woon

"aish… kalian tetap saja membela dia!" geruta pemuda tampan itu.
keluarga kecil itu pun berpelukan bersama, didalamnya terdapat 2 anak kecil yang sedang merangkak menuju dewasa dan 2 orang tua renta paruh baya.

Hidupku itu… bahagia bersama mereka.

Cheonamdong , korea selatan.

3 july 2002, 8 a.m

"hiks…noona…hiks…"

Bocah laki-laki itu menangis tersedu-sedu, meminta pertolongan pada yang terpanggil dari gangguan sekumpulan angsa yang melintas dihadapannya.

"hush…hush … KAU! Sudah noona bilang kalau main jangan jauh-jauh. Kalau beginikan kau menyusahkan noona juga! Lagian kau ini pria apa sih , takut sekali pada angsa! LEMAH !"geram sang noona – jang rin woo -

"aku kan phobia angsa noona!" bela min woo dengan murung

"apa lagi? Alasan? Aku muak mendengarnya!"
"hiks…. Eomaa….. noona marah padaku… EOMMAAA….."

Bocah yang menangis nista itu pun lari terbirit-birit mencari ibunya, sedangkan perempuan yang usianya belum genap 14 tahun itu tersenyum penuh arti.

"CHO KYUHYUN ! SIALAN KAU ! aku bisa dipukuli eoma kalau begini! Yak tunggu aku! Bocah GILA" gerutu sang noona mengejar adik yang selalu ia banggakan seumur hidupnya.

Hidupku ini…. Bergantung padanya!


Dilangit yang sama, belahan bumi berbeda ~

Gangnam, Seoul-Korea Selatan.

05 july 2002, 1 a.m

"hiks ….hiks…."

Tangisan dimalam yang dingin selalu terjadi setiap malamnya dirumah besar ini. Bukan karena mereka punya bayi yang menangis setiap saat di tengah malam, tapi ibu rumah tangga dari keluarga inilah yang menangis sehabis bangun dari mimpi buruknya. 9 tahun berlalu dan selalu diiringi hal seperti saat ini.

"lagi aboeji?" tanya pemuda tampan dengan halus.

"cepat tidur kembali!" dingin pria dewasa itu.

"aku ingin disini saja menemani eoma ya aboeji!" kembali suara yang belum berat itu berucap.

"siwon-shi !" geram sang ayah.

"baiklah , appa!"

Remaja 16 tahun itu melangkah pergi kekamarnya. Seolah terbiasa melihat hal seperti ini setiap harinya. Mendengar ibunya menangis, bangun dan melihatnya, dan diakhiri oleh bentakkan dari sang ayah. Tak pernah bosan, itulah dia. Choi siwon –

Hidupku ini… untuk menenangkanmu eoma..

Eomaa, mianhae

Maafkan aku tlah membiarkannya pergi.

Membuatmu tersiksa begitu sedih dan menderita.

Aku tak tau kehilangannya membuatmu berbeda.

Salahku, tak kuasa dan tak berdaya

Melihat sesosok yang kau mimpi dan harapkan

Hilang begitu saja ditelan takdir

-Choi Siwon-


keke aku gak tau kalian suka atau engga dengan pikiran bodohku ini, keke

so yang mau bertanya , review aja ne ^^

ah... aku sangat mencintai kaliaaaan semuaaaa ^^