Sebelumnya
Mingyu Pov
TING
Dering tanda pesan masuk terdengar dari handphoneku, aku dengan cepat mengalihkan pandanganku. Meraih handphone itu dan membuka pesan. Dari Jihoon hyung. Dengan cepat aku membaca setiap kata setiap pesan yang dikirim Jihoon hyung. Tiba-tiba aku berdiri melihat isi pesan itu Aku hiraukan bunyi kursiku yang membentur dinding atau teriakan terkejut dari mulut besar Soonyoung. Aku menatap kearah rekan setimku yang masih terkejut dengan tindakanku tadi.
"Hasilnya sudah keluar."
The Sign
Main cast : Kim Mingyu dan Jeon Wonwoo
Cast : Seventeen, BTS, EXO and others
Genre : Romance Mystery
Warning : Cerita ini mengandung unsur gay, kekerasan dan sadisme. Jadi kalau kalian tidak sanggup jangan memaksakan diri untuk lanjut y!.
Summary : Angka. Pola. Surat. Tanda teror kematian. Kepolisian berusaha memecahkan misteri ketiganya. Tidak ada bukti yang bisa mempermudah kerja mereka. "mereka" akan hilang pada tanggal yang sama dan ditemukan pada tanggal yang sama. Namun itu belum cukup untuk membuka simpul benang misteri ketiganya.
...
...
...
...Happy Reading's...
Chapter 2
Authors Pov
Mereka membulatkan mata seperti yang dilakukan Mingyu. Seokmin dengan cepat bergerak dari keterkejutannya dia berdiri lalu meraih kunci mobil.
"Mingyu kau ikut aku." Kata Seokmin lalu berlari keluar ruangan diikuti oleh Mingyu. "Kalian lanjut mengecek CCTVnya. Kami akan segera kembali." Lanjutnya lalu meraih gagang pintu dan berlari keluar, Mingyu menutup pintu dan ikut berlari.
Wonwoo, Junhui, Vernon dan Soonyoung menghela napas pelan. Mereka sangat penasaran dengan hasil autopsi. Mereka juga ingin ikut, namun mereka harus terjebak diantara tumpukan flashdisk ini.
"Ayo kita cepat selesaikan. Kita harus mencari bukti yang lain. Setidaknya hanya itu yang bisa kita lakukan saat ini." Ujar Junhui melanjutkan pekerjaannya. "Fighting!" Teriak Soonyoung semangat. Mereka harus cepat mencari bukti, kasus besar seperti ini tidak bisa dibiarkan. Karena mereka tidak tahu, apakah kasus ini akan berhenti atau akan menjadi pembunuhan berantai.
Seokmin and Mingyu Side
Seokmin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Keadaan jalan yang sediki legang membuat mereka tidak harus repot berkendara lama.
"Hyung, tidak bisakah kau cepat sedikit." Ucap Mingyu tidak sabaran.
"Aku tahu kau penasaran, dan aku juga seperti itu. Tapi kita harus menjaga keselamatan juga." Balas Seokmin tanpa menatap wajah Mingyu.
"Yeahhh... Kau benar." Ucap Mingyu membenarkan kata-kata Seokmin.
Tidak ada lagi yang berkomentar. Hening. Hanya bunyi deru mesin mobil. Seokmin menaikan laju kecepatan mobil mereka. Rasa penasaran membuat ia lupa akan keselamatan mereka sendiri. Setelah 15 menit perjalanan mereka sampai dibasement rumah sakit. Dengan cepat mereka melepaskan seatbelt, membuka pintu dan membantingnya kuat. Mereka memasuki lft dan menekan angka 4 tempat dimana Jihoon sedang menunggu.
Ting
Suara dentingan lift berbunyi memecah keheningan diantara keduanya. Mereka berlari keluar menuju ruangan Jihoon. Melewati lorong rumah sakit yang sepi. Hari sudah menunjukan pukul 23.45 malam, wajar saja jika rumah sakit ini sangat sepi, terasa sangat mencekam dari biasanya. Namun mereka mengabaikan itu,mereka tetap berlari di lorong ang sepi itu. Suara langkah lari mereka terdengar sangat jelas, mereka melihat ada beberapa suster yang berjalan keluar ruangan, mungkin baru mengecek beberapa pasiennya. Suster-suster itu menunduk sopan melihat mereka, Mingyu dan Seokmin hanya tersenyum dan menganggukan kepala sedikit, tetap berlari. Setelah 3 menit berlari, akhirnya mereka sampai diruangan Jihoon. Mereka berhenti sebentar sekedar untuk mengatur napas sebelum memutuskan mengetuk pintu, terdengar gumaman 'masuk' dari dalam ruangan. Seokmin membuka pintu berwarna putih polos dengan nama Dr. Jihoon tergantung didepannya.
Didalam ruangan terlihat Jihoon sedang membaca tumpukan kertas, mungkin kertas hasil autopsi korban pembunuhan itu.
"Kalian sudah sampai?." Tanya Jihoon basa basi sambil tersenyum saat melihat Mingyu dan Seokmin berdiri didepan mejanya. Gurat wajah keduanya nampak sangat kelelahan. "Duduklah." Lanjutnya.
"Jadi bagaimana dengan autopsinya hyung?." Mingyu bertanya lebih dulu setelah mereka duduk didepan Jihoon.
"Berjalan lancar. Walaupun harus membutuhkan waktu yang sangat lama." Ucapnya sambil menyerahkan lembaran kertas beserta foto-foto hasil autopsi yang dia lihat sebelumnya. "Hasilnya, sangat mengejutkan. Kalian bisa lihat sendiri. Jika dilihat dari bentuk tubuh korban saat ditemukan, kemungkinan dia dipotong-potong 4 hari yang lalu. Tidak ada tanda-tanda pelecehan sexual ditubuhnya, dikepalanya terdapat pukulan benda tumpul, kemungkinan dia dipukul saat malam dia menghilang. Selain itu di pergelangan tangan dan kakinya terdapat bekas ikatan tali. Dibibirnya terdapat luka bekas gigitan, korban menggigit bibirnya sediri. Awalnya kami berasumsi dia menggigit bibirnya karena pelaku melakukan pelecehan sexual, namun dugaan kami salah. Dibahu korban ada bekas say atan dan jahitan, kalian bisa lihat sendiri sayatan itu berbentuk burung elang dan pelaku menjahitnya kembali dengan bulu-bulu unggas, terlihat seperti burung elang asli. Kami menduga alasan korban menggigit bibirnya adalah saat pelaku menyayat dan menjahit kulit korban. Kami tidak menemukan adanya obat bius yang tertinggal dalam tubuh korban." Jelas Jihoon kepada keduanya. Mingyu dan Seokmin merasa kesal dan marah saat mendengar penjelasan Jihoon. Meskipun tidak ada tanda-tanda pelecehan sexual, tapi tindakan pelaku sangat kejam. Disayat dan dijahit tanpa bius sungguh sangat menyakitkan, apalagi seorang wanita yang merasakannya. "Dan juga..." Jihoon kembali melanjutkan setelah mengamati raut wajah kesal para detektif muda didepannya. "Korban dipotong-potong dalam keadaan hidup. Dilihat dari bentuk potongan yang kasar seperti di paksakan, dan bekas ikatan tangan dan kaki korban yang sangat parah." Wajah Mingyu dan Seokmin semakin marah mendengarnya. "Korban meninggal akibat pendarahan hebat ditubuhnya, jantung korban juga disayat-sayat. Ohhh... aku hampir lupa." Jihoon bergerak membuka laci meja kerjanya, mengeluarkan kantong plastik berukuran kecil, lalu menyerahkannya kepada Seokmin. "Aku harap ini bisa mempermudah kerja kalian nantinya." Ucap Jihoon.
"Dimana kau..."
"Diparu-paru korban." Jihoon memotong ucapan Seokmin dengan cepat.
"Bagaimana ini bisa ada disana.?" Tanya Mingyu sambil memperhatikan bungkusan kecil yang berisi kerta.
"Pelaku menyelipkannya diparu-paru korban. Aku pikir bukan menyembunyikan tapi meletakkannya dengan sengaja." Lanjut Jihoon.
"Apa isinya?" Tanya Seokmin
"Kami belum membukanya, kami ingin kalian yang membukanya pertama kali."
"Baiklah, terima kasih atas bantuan kalian Jihoon-ah." Ucap Seokmin.
"Ini sudah tugas kami hyung. Semoga kalian cepat menuntaskan kasus kali ini. Ini kasus yang sadis, aku tak mau kembali mengatoupsi korban yang seperti ini lagi hyung." Ucap Jihoon seraya berdiri saat melihat Seokmin dan Mingyu yang juga berdiri.
"Serahkan pada kami hyung, kami akan berusaha menangkap pelakunya." Jawab Mingyu.
Mereka berdua berpamitan pada Jihoon lalu keluar ruangan sang Dokter Muda. Mingyu dan Seokmin memutuskan membeli beberapa ramyeon cup untuk tim detektif yang sedang memeriksa CCTV dikantor. Mereka melanjutkan perjalanan ke kantor detektif dengan kecepatan sedang, mereka sangat lelah sekarang. Bahkan Mingyu sudah mulai terlelap dikursi penumpang.
Hari sudah menunjukan pukul 01.55 dini hari. Jalanan sangat sepi, semua warga korea sedang tidur sangat lelap dikamar masing-masing, namun tidak untuk Tim detektif. Mereka masih setia menatap layar laptop masing-masing. Meskipun mata mereka sangat lelah. Kasus sadis seperti ini tidak bisa dibiarkan berlama-lama, sang pelaku bukan hanya pembunuh biasa. Sekali lihat dari bentuk korban saja mereka sudah menebak kalau sang pembunuh adalah psikopat.
"Huft...Aku lelah." Suara pertama keluar dari salah satu detektif muda yang ada diruangan itu. Junhui mulai berdiri dan meregangkan badannya. Duduk menatap layar sangat melelahkan badan dan matanya. Junhui melihat Wonwoo, Vernon, dan Soonyoung yang sudah sangat kelelahan, namun mereka tetap melanjutkan pekerjaan masing-masing. Bahkan Vernon dan Soonyoung hampir menutup mata mereka di depan layar masing-masing. Berbeda dengan Wonwoo yang walaupun nampak lelah namun pandangan tajamnya tak pernah lepas dari layar komputer. Junhui memperhatikan ruangan yang sudah ia tempati beberapa tahun belakangan ini. Matanya berhenti pada kertas-kertas yang ada di atas meja Seokmin. Itu adalah kertas yang diberikan oleh Seungkwan tadi siang, karena penasaran dia mulai berjalan mendekati meja sang wakil ketua. Junhui mulai meraih kertas-kertas tadi dan membacanya. Kertas itu berisi catatan kehidupan sang korban. Junhui terus membaca dan membolak-balikkan kertas itu, hingga...
Bruukkk
Kertas-kertas ditangan Junhui tiba-tiba jatuh, suara kertas terjatuh diruangan yang sangat hening itu membuat ketiga orang yang sedang fokus itu mengalihkan atensinya pada Junhui yang terlihat terkejut dan pucat.
"Hyung, ada apa?" Verno bertanya lebih dulu saat dia menatap Junhui yang seperti melihat hantu. Junhui menelan salivanya dengan pelan.
"T-Tidak. Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedikit... yah kau tau, lelah" Junhui membuka suaranya dengan serak dan sedikit gugup. Dia mengambil kertas yang terjatuh tadi, nampak dari gerakan tangannya sedikit gemetar. Soonyoung dan Wonwoo yang melihat gelagat aneh Junhui hanya diam dan memperhatikan ekspresi takut dari Junhui.
'Ada apa dengan Junhui hyung hari ini? Dia bersikap sangat aneh. Haruskah aku bertanya langsung padanya?' Iner Wonwoo. Mata tajamnya tak pernah lepas dari setiap gerakan yang dilakukan Junhui.
"A-Aku akan keluar mencari udara segar. Kalian beristirahatlah." Ucap Junhui lalu berjalan keluar membuka pintu dan menghilang dibalik pintu.
"Junhui hyung terlihat sangat aneh hari ini." Komentar Wonwoo yang masih menatap pintu yang baru ditutup Junhui.
"Mungkin dia kelelahan atau shock atau semacamnya." Balas Vernon lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Aku tak yakin." Kata Wonwoo lagi lalu menatap kertas yang dipegang Junhui tadi. Wonwoo baru berniat ingin berdiri untuk melihat isi kertas tadi harus terhenti saat pintu kembali terbuka dan menampilkan sosok Seokmin dan Mingyu yang berjalan setengah tertidur.
"Bagaiman Hyung?" tanya Soonyoung saat melihat sosok Seokmin. Seokmin berjalan kearah mejanya begitu juga dengan Mingyu yang kembali terlelap dimejanya.
"Sebaiknya kita istirahat. Besok aku akan menjelaskan hasil autopsinya." Kata Seokmin lalu mulai menyamankan posisinya dikursi. Soonyoung dan Vernon yang melihat gerakan Seokmin mulai mengikuti. Yah.. Lebih baik tidur dikantor dibandingkan harus kembali ke apartemen yang jarak nya lumayan jauh.
Semuanya mulai mengarungi alam mimpi, kecuali satu orang. Yaitu Wonwoo. Dia sama sekali tak bergerak seinchi pun. Alasannya adalah Mingyu. Dia memperhatikan Mingyu yang tertidur pulas dikursi sebelahnya. Mingyu yang terlelap adalah pemandangan yang paling menarik untuk diperhatikan. Napasnya yang teratur, terdengar sangat indah di telinga Wonwoo. Wonwoo Memperbaiki tempat duduknya lalu mulai tertidur dengan suara napas Mingyu yang menjadi lagu penghantar tidurnya.
SKIP TIME
Tepat pukul 07.25 waktu seoul terdengar suara alarm yang memenuhi 1 ruangan khusus detektif muda dan membuat 5 pemuda didalamnya terbangun dengan cepat. Bukan karena lagu alarm yang terputar itu enak didengar namun lagu itu adalah rekaman teriakan dari sang ketua –Seoungcheol- saat sedang marah karena mereka tertidur saat jam kerja. Mereka terbangun dalam keadaan sangat terkejut, bahkan Soonyoung yang Notebane-nya susah untuk dibangunkan nampak berdiri dengan tangan dipelipis bersikap hormat. Dia tersadar dengan tingkahnya saat mendengar gelak tawa dari rekan-rekan kerjanya yang melihat tingkah lucu Soonyoung.
"Hyung!" Teriak Soonyoung merasa malu karena tingkahnya. Bisa-bisanya dia bertingkah memalukan seperti itu. "Kenapa memasang Alarm seperti itu?" Kesal Soonyoung pada Seokmin yang memang memasang nada alarm itu.
"Sengaja. Karena aku tau kalian pasti akan sulit untuk dibangunkan." Jawabnya santai seraya mematikan alarm dari handphone nya.
"Cih dasar." Gerutu Sonnyoung lalu beranjak dari tempat duduknnya menju ke toilet yang terletak didalam ruangan tersebut. Mingyu nampak akan melanjutkan tidurnya, namun teerhenti saat melihat Wonnwoo yang sudah mulai terlelap diatas mejanya.
"Cantik sekali." Gumamnya sangat pelan tanpa mengalihkan sedikitpun dari wajah damai Wonwoo. Mingyu menguulurkan tangannya berniat untuk menyentuh rambut Wonwoo, namun terhenti karena suara dehaman Seokmin dan Vernon. Mingyu mengalihkan pandangannya pada Vernon dan Seokmin. Dapat dia lihat mereka berdua tersenyum jahil menatapnya sambil menaik turunkan alisnya.
"A-apa?" Tanya Mingyu dengan nada gugup dan mulai menarik tangannya menjauhi rambut Wonwoo.
"Kalau kau suka, kenapa tidak kau sampaikan langsung padanya?" Tanya Vernon. Mingyu berdeham mendengar pertanyaan dari Vernon.
"Maksudmu?" Mingyu balik bertanya lalu mengalihkan padangannya dari Vernon. Vernon adalah tipe orang yang sangat pintar membaca mimik wajah lawan bicaranya.
"Kau tau,mungkin lebih baik kau mengutarakan perasaanmu padanya, siapa tau dia juga menyukaimu kan?"
"Saran yang bagus, tapi aku tak akan mendengarkanmu." Jawab Mingyu sambil menatap langit-langit.
"Hey bung, kau tak berat menahan perasaan sebesar itu? Lebih baik kau utarakan sekarang sebelum terlambat." Ucap Vernon lagi.
"Katakan itu pada orang yang hanya diam mematung saat orang yang dia suka datang." Skak match. Vernon terdiam saat mendengar sindiran dari Mingyu. "Lagian aku hanya tidak ingin mengambil resiko besar karena masalah ini." Lanjut Mingyu lalu berdiri dan masuk ke toilet saat Soonyoung keluar dengan rambut yang basah. Tanpa mereka sadari orang yang dianggap tertidur diruangan itu ternyata hanya memejamkan matanya. Wonwoo dengan sangat jelas mendengar setiap pembicaraan mereka.
'Apa maksud dari pembicaraan mereka? Apakah itu artinya Mingyu mempunyai orang yang dia suka?' tanya Wonwoo dalam hati. Pertanyaan-pertanyan terus berputar diotaknya. Hingga tanpa sadar mata yang biasanya menatap tajam itu terlihat sendu.
Cklek
Pintu toilet diruangan itu terbuka, menampilkan sosok Mingyu yang sedang mengeringkan rambutnya. Wonwoo mengangkat kepalanya dan mulai beranjak dari tempat duduknya, berjalan melewati Mingyu yang tersenyum kearahnya. Wonwoo melewati sosok Mingyu tanpa melirik sedikitpun kearah Mingyu. Wonwoo masuk kedalam toilet meninggalkan Mingyu yang nampak terkejut dengan sikapnya. Wonwoo yang biasanya akan tersenyum manis dengan mata tajamnya, kini bersikap dingin padanya. 'apa aku melakukan kesalahan pada Wonwoo hyung?' tanya Mingyu dalam hati. Seokmin,Vernon dan Soonyoung yang sangat tahu betapa manisnya tingkah Wonwoo bila didepan Mingyu juga nampak terkejut dengan tingkah Wonwoo tadi.
"Hey... Kau apakan Wonwoo hyung sampai dia bersikap dingin padamu?" Tanya Soonyoung.
"Aku tidak melakukan apa-apa. Aku bahkan baru keluar dari toilet." Jawab Mingyu yang juga bingung dengan sikap Wonwoo.
15 menit kemudian Wonwoo keluar dari toilet dengan wajah nampak lebih segar, namun tatapan dinginnya tetap terlihat, membuat Vernon yang berniat bertanya kembali membungkam mulutnya. Semua pemuda tampan itu bergiliran memasuki toilet sekedar untuk menyikat gigi dan membersihkan wajah serta membasuh rambut untuk menyegarkan kembali otak yang sedang kusut.
"Hyung, bukankah kau berjanji akan memberitahukan hasil autopsinya pada kami?" Tanya Wonwoo saat sudah selesai mengeringkan rambutnya.
"Baiklah, aku akan menjelaskannya pada kalian. Tapi, sejak semalam aku tidak melihat Junhui Hyung. Kemana dia?" Tanya Seokmin bingung.
"Entahlah. 15 menit sebelum kau pulang dia keluar, katanya mau mencari angin. Tapi sampai sekarang dia tidak kesini." Jawab Soonyoung yang juga bingung karena Junhui tidak pulang sejak semalam.
"Apa mungkin kalian ada masalah dengannya selama kami tinggal?" Tanya Seokmin curiga pada duo usil Soonyoung dan Vernon. Sebenarnya tiga tapi berhubung Mingyu bersamanya semalam jadi pasti ulah mereka berdua mungkin bertiga dengan Wonwoo, karena Wonwoo itu evil kalau sedang mood.
"Enak saja. Kami tidak pernah usil hyung." Jawab Vernon.
"Benarkah? Terakhir kali yang kuingat kalian pernah mengganti facial wash Seungcheol hyung dengan sabun cuci." Kata Seokmin dengan nada mengejek. Membuat wajah Soonyoung, Vernon, Mingyu dan Wonwoo berubah pucat saat teringat kejadian 3 bulan lalu. Saat itu mereka tidur bersama-sama di dalam kantor dan penyakit usil Soonyoung kambuh, jadi mereka berempat yang memang dibangunkan Soonyoung untuk menjalankan niat jahatnya. Mereka mengganti facial wash Seungcheol dengan sabun cuci dan membuat mereka dihukum berpatroli lari selama 3 jam full. Sejak saat itu mereka tidak berani menganggu Seungcheol lagi.
"Hehehehehehe... Tapi itu terakhir kalinya kami seperti itu hyung." Jawab Vernon dengan cengiran gugupnya. "Tapi, kami benar-benar tidak tahu keman Junhui hyung, hyung." Lanjut sang blonde.
"Baiklah baiklah. Mungkin dia lelah." Ucap Seokmin.
"Bagaimana dengan hasil kerja kalian? Sudah mendapatkan petunjuk?" Tanya Seokmin sambil membuka berkas yang diberikan Seungkwan padanya kemaren.
"Belum hyung. Aku rasa pelaku sangat mengetahui titik buta CCTV jadi dia tidak terekam kamera. Kami juga sudah mempersempit waktunya. Kami mencari disekitaran tanggal dan jam korban menghilang sampai korban ditemukan kemaren namun belum ada hasil. Junhui hyung bilang kalau di salah satu CCTV yang diperiksanya nampak korban yang memang berjalan pulang bersama teman-temannya, beberapa setelah dia berpisah dari teman-temannya dia berjalan pulang kearah rumahnya seperti biasa namun saat dia berbelok melewati sebuah toko dia tidak ada di rekaman CCTV selanjutnya, kemungkinan dia diculik disana dan CCTV yang merekamnya dihapus oleh pelaku, karena saat kami melihat dari rekaman CCTV seberang toko tanggal dan waktunya sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Hanya itu yang kami dapatkan." Jelas Wonwoo panjang lebar. Seokmin nampak memperhatikan penjelasan Wonwoo dan melupakan berkas yang dia pegang.
"Well, sepertinya kita berhadapan dengan psikopath yang sangat-sangat jenius dan bersih." Tanggap Seokmin. "Aku akan menelpon Seungcheol hyung dulu." Lanjutnya.
"bagaimana dengan hasil autopsinya?" Tanya Wonwoo
"Nanti saja." Balas Seokmin.
Setelah Seokmin masuk toilet untuk menelpon Seungcheol suasana menjadi sangat hening dan tegang. Tidak ada yang berniat memecahkan keheningan dan ketegangan dalam ruangan ini.
"Ekkhheemmm." Mingyu mencoba mencairkan suasana tegang di sekelilingnya. "Hyu.."
"Aku akan keluar mencari makan. Ada yang mau titip?" Wonwoo memotong ucapan Mingyu. Dia berdiri tanpa melirik sedikitpun pada Mingyu yang berada disampingnya sejak tadi. Semua yang ada diruangan itu menggeleng menjawab pertanyaan Wonwoo kecuali Mingyu yang kecewa saat melihat Wonwoo yang lagi-lagi tidak menganggapnya.
"Baiklah. Aku pergi." Ucap Wonwoo lalu keluar dan membanting pintu dengan keras, membuat semuanya terkejut.
"Aishh!" Mingyu mengacak rambutnya kasar. "Apa salahku? Kenapa Wonwoo hyung bersikap dingin padaku?" Tanya Mingyu frustasi. Vernon dan Soonyoung hanya bisa diam tidak tahu harus bagaimana.
"Mingyu-ya, kau yakin tidak menyinggung perasaan Wonwoo hyung?" Tanya Vernon.
"Kau lihat sendiri apa yang aku lakukan padanya. Bahkan aku belum ada berbicara apa-apa padanya sejak dia bangun." Jawab Mingyu sendu.
"Coba kau ingat-ingat apa yang kau lakukan hingga dia menjadi seperti itu." Kata Soonyoung.
"Aku bangun, menatapnya, bercerita pada kalian, masu.."
"NAH ITU DIA!" Teriak Vernon memotong ucapan Mingyu.
"Apa?" Tanya Mingyu yang tidak memikirkan ucapannya yang terpotong oleh Vernon.
"Mungkin dia cemburu saat kau cerita tentang perasaanmu tadi." Ucap Vernon
"Maksudmu.?" Tanya Mingyu bingung.
"Kau ingat, saat kita bercerita tadi. Kita tidak ada menggunakan namanya, hanya kata DIA. Aku pikir dia tidak tidur saat itu, hanya memejamkan matanya. Dia salah paham pada cerita kita tadi." Jelas Vernon. Mingyu dan Soonyoung terdiam memikirkan kata-kata Vernon.
"Itu artinya..." Ucap Mingyu gantung.
"Dia juga menyukaimu!" Teriak Vernon dan Soonyoung semangat. Sedangkan Mingyu terdiam pada pemikiran gila dia dan teman-temannya.
"hahahahha... Mana mungkin." Mingyu tertawa garing, padahal didalam hatinya sangat berharap pada pikiran tersebut.
Seokmin keluar dan bingung saat melihat Vernon dan Soonyoung yang terlihat menggoda Mingyu. 'Ada apa dengan mereka bertiga?' Tanya Seokmin dalam hati.
"Kemana Wonwoo?" Tanya Seokmin menghentikan tingkah konyol trio usil.
"Keluar, mencari makan." Jawab Mingyu.
"Baiklah. Aku akan memeriksa berkas-berkas dari Seungkwan. Kalian pesankan makanan." Ucap Seokmin lalu mulai fokus membaca setiap kata yang ada diberkas-berkas itu. Mingyu juga sudah memesan makanan yang diminta Seokmin.
10 menit kemudian makanan yang dipesan sudah sampai, Seokmin dan yang lain makan dengan lahap. Meskipun begitu Seokmin tetap mencoba fokus pada pekerjaannya walaupun trio usil sangat ribut saat makan.
20 menit kemudian.
"Aku pula.."
"Apa-apaan ini?!"
= = =TBC= = =
Halloo...
Ken kembali...
Maaf banget Ken baru bisa update... Ken sakit beberapa minggu ini... jadi gk sempat nulis...
Maaf banget yaaa...
Untuk chapter 2 segini dulu... Ken gk tau kapan ken bisa update... tapi ken bakal usahakan untuk update secepatnya... and btw, ken lagi dalam masa UTS selama 2 minggu ini... tapi ken usahakan buat tetap nulis dan update secepatnya...
Sekali lagi maaf ya...
Jangan lupa Voment ya...
Sampai jumpa dichapter selanjutnya...
Bye..byeee...
