Author : Randomly Speechless

Rating : M

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warnings : AU, a bit of OOC, shonen-ai, cross dressing, Yaoi (?)

Pairing : Pairing utama SasuNaru

Summary : Naruto merasakan firasat buruk saat akan memenuhi permintaan Sakura, ternyata sumber dari firasat buruk itu adalah Sasuke si murid pindahan, bagaimana Naruto menghadapi hari-harinya setelah bertemu dengan Sasuke? Check it out~

Tell Me Your Wish !

(AN : ceritanya pakai Naruto PoV ya)

Chapter 2

(Merinding bulu kuduk)

Langsung kuhentakkan tanganku agar terlepas dari tangan makhluk bernama Sasuke ini. "Apa yang mau kau lakukan padaku, Teme!". Sasuke menatapku santai sambil tetap mempertahankan 'Smirk' nya.

"Asal kau tahu ya, aku ini seorang pria, PE-RI-A", lanjutku menegaskan kejantananku. Walau saat ini penampilanku super kawaii, tapi tetap saja aku adalah seorang pria tulen.

"Tenang saja, Dobe. Ku tak sebodoh kamu sampai tak bisa membedakan yang mana laki-laki dan perempuan.", jawabnya dengan nada yang sedikit arogan.

Aku menatap Sakura untuk meminta penjelasan. Kulihat dia masih memasang senyum 'malaikatnya', "Sedikit temperamental memang, tapi dia lulus kriteria yang kamu cari kan Sasuke-Kun?", Tanya Sakura pada Sasuke.

'Kriteria apa lagi…', pikirku masih dalam kebingungan.

"Benar, Sakura. Dia memang sesuai gambaran yang ku cari", jawab Sasuke itu.

"Rambut pirang, mata biru, kulit sedikit tan, cukup tinggi dengan postur yang tidak gemuk ataupun kurus. Fufufu", Sakura menambahkan seakan iya tahu apa yang sedang kupikirkan.

"He?", hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutku untuk mengekspresikan kebingunganku.

"Selamat Naruto, sebentar lagi kamu akan jadi terkenal loh~", Sakura meremas bahuku dari belakang. Mendengar penjelasan(?) Sakura, aku masi tetap belum mengerti.

Aku berusaha mempertanyakan lagi pada Sakura, "Ano.. Sakura-chan. Aku masih belum paham, apa maksudmu aku sesuai dengan kriteria nya? Btw, aku bukan homo, jadi kalau yang kalian maksud dengan kriteria adalah tipe wanita idaman. I will pass! Aku itu pria tulen!", ku beranikan untuk memberikan pendapatku pada Sakura.

"Hahahaha, tenang saja Naruto. Sasuke-kun tidak mungkin suka padamu. Memangnya kau tidak kenal siapa Sasuke-kun itu Naruto?", jawab Sakura.

"He?", hanya kata itu lagi yang bisa keluar dari mulutku.

"Sepertinya aku tak pernah melihatnya di sekolah, kalau dia murid pindahan, tak mungkin aku mengenalnya, Sakura-chan…", jawabku jujur.

Bugh!

Tinju Sakura untuk kedua kalinya hari ini mendarat di kepalaku, "Baka-Naru, memangnya kau tak suka nonton tv kah? Sasuke-kun itu sering muncul di iklan tv! Iklan koka kola, Pokari Swet, Mijon, bahkan ramen kesukaanmu yang merk Sama2Sayang juga pernah dia iklanin! Dia juga sempet jadi duta shampoo Pentin.", Sakura menjelaskan kepadaku.

'Iklan ramen….', setelah mendengar kata ramen, otomatis otakku mengingat iklan ramen merk sama2sayang. Munculah sosok pria yang sedang makan ramen itu dengan muka arogan dan rambut pantat ayam. Walaupun rasa ramen itu sangat pedas, namun ekspresi pria yang memakan ramen itu tak pernah berubah dan tetap dingin. Seakan rasa pedas ramen itu bisa iya hilangkan hanya dengan tatapan matanya.

"AAAAAHH ! KAU PRIA MENYEBALKAN DI IKLAN SAMA2SAYANG ITU! PANTAS RASANYA AKU PERNAH MELIHAT RAMBUT PANTAT AYAM MU ITU!", aku langsung berteriak setelah berhasil sadar kalau wujud pria di iklan dan sosok makhluk bernama Sasuke ini memiliki kecocokan yang haqiqi.

"Hn. Berisik, dasar Dobe.", Sasuke menghela napas sambil memegang kuping nya pertanda ia terganggu dengan teriakanku.

"Kalau kau tahu aku siapa, ini akan lebih mudah.", ia meneruskan.

"He?", lagi-lagi hanya kata ini yang bisa keluar dari mulutku.

" Aku sudah menentukan kalau kau akan ikut bermain dalam film perdanaku yang akan tayang tahun depan.", Sasuke menjelaskan dengan nada paling absolute dan arogan seakan tak ada yang bisa menentang hal yang sudah ia tetapkan itu.

"HEEEEEE?", ini berbeda dengan he-he-he yang sebelumnya, karena ini mengekspresikan keheranan sekaligus kekagetanku.

"Apa maksudmu, Teme. Aku main film? Jadi artis?", aku merasa kurang jelas mendengar kata-kata Sasuke tadi.

Sasuke hanya diam, giliran Sakura yang menjawab pertanyaanku, "Iya Naruto. Sasuke-kun lagi mencari lawan main untuk film perdana dia. Kebetulan kriterianya sesuai sama kamu. Sebenernya sih yang dia cari itu perempuan. Tapi anak laki-laki juga gapapa katanya, karena bisa diubah dengan bantuan make-up dan wig." , jelas Sakura dengan nada ceria.

"Sasuke-kun bilang akan mengikutsertakan aku dalam film dia juga kalau berhasil menemukan orang sesuai kriteria yang dia cari. Dan kebetulan banget kita itu teman sejak kecil Naruto~ Aku yakin kamu akan mengiyakan permintaanku kan. Kamu ga akan menolak jadi lawan main Sasuke-kun kan?", Sakura memperlihatkan mata hijau nya yang besar dengan tatapan sendu nya.

'Oh men, not again..', aku hanya bisa berteriak dalam hati.

"Tapi aku kan ga bisa akting Sakura-chan..", aku berusaha mencari alasan.

"Tenang saja, akting itu mudah kalau kau mau berusaha, Dobe.", Sasuke memotong ku.

'Teme!', teriaku dalam hati.

"Aku kan sibuk sekolah…"

"Itu bisa diurus kalau kau sudah tanda tangan kontrak kerjanya, Dobe", Sasuke kembali menjawab.

'TEME!', aku kembali berteriak dalam hati.

"Tapi bagaimana dengan kehidupanku nanti setelah bermain di filmnya, aku bisa dicap sebagai banci seumur hidupku Sakura-chan!", aku berusaha membuat Sakura mengasihaniku.

"Namamu bisa disamarkan, Dobe. Lagipula melihat penampilanmu saat ini, sepertinya kau tidak perlu khawatir.", dia kembali memotongku sambil sedikit memperlihatkan senyum mesumnya kembali.

"TEME, AKU TIDAK BERTANYA PADAMU!", tanpa sadar akupun berteriak.

Sakura menutup kedua matanya dengan telapak tangan. "Benar kata Sasuke-kun, Naruto. Tapi kalau kau tetap tidak mau yasudah. Aku gak mungkin maksa kamu kan. Hiks", rengeknya.

'Oh men, I will regret this', aku dan ketidaktegaanku.

"NOOO, jangan nangis Sakura-chan, iya, iya , IYA, aku setuju dengan dia, apapun permintaan dia akan ku kabulkan demi kamu Sakura-chan…", aku berusaha menghentikan tangisan Sakura.

"Apapun?", terdengar Sasuke mengomentari kata-kata penenangku tadi.

Glek…

Sakura tetap menutup matanya. "hiks, janji Naruto?"/

Glek…

Aku tak mungkin mengubah kata-kataku sekarang. Pria sejati tak mungkin mundur dari kata yang pernah ia ucap!

"Iya, Sakura-chan, aku janji", jawabku tak berdaya.

Kulihat seringai Sasuke bertambah lebar. Kemudian diikuti Sakura yang membuka tangan nya, terlihat kembali senyuman iblis pada wajah cantiknya.

"Te-He, Baguslah Naruto! Mulai sekarang kau harus akrab dengan Sasuke-kun ya! Jangan lupakan janjimu!", Suara Sakura yang ceria sedikit menenangkan hatiku walaupun hati dan ampelaku masi tetap berteriak tapi apa daya… semua demi Sakura, teman masa kecilku yang sudah seperti saudara kesayanganku.

"Hn. Baguslah kalau kau sudah setuju, Hari ini sepulang sekolah ikut aku. Akan kujelaskan detailnya di jalan.", dengan nada sedikit memerintah Sasuke mengingatkanku.

"Aku ikut juga Sasuke-kun?", Tanya Sakura.

"Tidak, Sakura. Hanya aku dan si Dobe.", jawabnya singkat dengan nada yang tak bisa dibantah.

"Pfft. Baiklah, tapi kau harus ingat Sasuke Uchiha. Naruto itu temanku yang berharga, kalau besok aku mendengar ada masalah saat bersamamu darinya….".

Brak!

Meja sebelah Sakura terlihat sedikit retak. Tak ada yang melihat saat Sakura meluncurkan tinjunya kepada meja tak berdosa itu.

"Kau mengertikan Sa-Su-Ke-Kun~", Sakura kembali menggunakan nada pada kata-katanya.

Ekspresi Sasuke terlihat sama, namun pandangannya terarah pada retakan baru di meja itu.

"Sakura-chan ailopyuuuuuuu…", ucapku manja sambil memeluk Sakura. Aku sangat terharu dengan ucapannya. Kukira Sakura sudah menjualku dan tak peduli lagi padaku, tapi ternyata dia masij tetap sama, hiks.

"Yayaya Naruto. Kamu tepati janjimu ya, Bertahanlah!", Sakura hanya menghela napas sambil memperlihatkan senyum tulusnya kepadaku.

"Pfft , tanpa peringatanmu juga aku tak mungkin membuat masalah dengan objek yang sudah lama kucari ini Sakura Haruno.", nada suara Sasuke memperlihatkan dia tak terlalu peduli dengan kata-kata Sakura.

"Sampai jumpa pulang sekolah nanti, Dobe. Jangan lupa setelah bell pulang kau harus langsung ke sini.", perintahnya sambil menatap kepadaku.

"TEMEEEEEEEEEEE, jangan memerintahkanku seenaknya. Aku mengiyakan permintaanmu kan karena Sakura-chan!", protesku.

"Hn.".

-Bersambung-

AN :

Chapter 2 selesai~

Sebenernya ceritanya agak dadakan sih tapi yaudahlah ya,

Maaf kalo banyak ketypoan dan ketidakbakuan dan kegajelasan.

Sampai chapter selanjutnyaaah~ *kalo masih ada yang mau baca*