Title : Hutang Kencan
Cast : Kang Daniel X Ong Seongwoo & Kwon Hyunbin X Hwang Minhyun
warning!
disarankan untuk membaca dulu cerita sebelah judulnya 'Memelihara Ong Sengwoo' biar paham
enjoy~
Jika Daniel dan Seongwoo menghabiskan hari minggunya dengan study date. Maka Minhyun masih harus bekerja di cafe, setiap weekeend ia selalu mengambil shift pagi dan berakhir setelah jam makan siang. Kemarin malam Hyunbin mengajak Minhyun untuk makan siang bersama karna lelaki super model itu mendapat jatah libur sampai hari selasa, jadi ia ingin hari hari liburnya dihabiskan bersama Minhyun. Minhyun sih iya iya saja asal Hyunbin mau mengerti untuk tidak mengganggu jadwal kerja dan proses pengerjaan tugas akhirnya.
"Kak Minhyun, ponselmu berbunyi" seru Hyungseob –teman kerja Minhyun- dari arah ruang ganti. Ponselnya sedang di charge tadi, jadi ia meninggalkannya tegeletak di meja ruang ganti. Deretan nomor tak dikenal terpampang di layar, Minhyun tau siapa itu.
"Halo" sapanya, "Ibu?" tanya Minhyun tidak yakin.
"Minhyun, ibu sedang berkunjung ke kota. Ibu merindukanmu" jawab seseorang yang ternyata memang ibunya.
"Benarkah ibu ada di kota? Aku ingin bertemu denganmu bu" nada antusias tidak bisa Minhyun sembunyikan, memang siapa yang tidak bahagia bisa bertemu lagi dengan sosok paling dirindukan sepanjang tujuh tahun belakangan.
"Bagaimana dengan makan siang bersama? Ibu sekarang sedang ada di pusat perbelanjaan RST, tadi ibu lihat ada rumah makan menjual pasta didekat sini. Kau masih suka pasta kan?" sang ibu menawarkan. Minhyun hampir meneteskan air mata saat sang ibu masih mengingat bahwa pasta adalah makanan favoritnya.
"Tentu saja aku masih menyukainya bu, aku akan sampai disana saat makan siang. Sampai jumpa" Lelaki manis itu mengakhiri panggilan begitu saja, takut tangisnya pecah.
Minhyun jadi tidak sabar untuk segera bertemu, meskipun hanya tinggal menunggu satu jam sebelum jam makan siang. Oh iya, ia harus membatalkan makan siangnya bersama Hyunbin dan menggantinya dengan makan malam bersama. Tidak perlu dibujuk, Hyunbin pasti mengiyakan segala permintaan kak Minhyunnya.
Begitu shiftnya berakhir Minhyun segera melepas apron dan mengganti pakaian. Kakinya bergoyang tidak sabar saat menunggu bus datang ke halte. Bahkan sepanjang perjalan ia tidak bisa berhenti mengulas senyum lembut, pikirannya sudah penuh dengan hal hal menyenangkan yang ia rencanakan saat bertemu sang ibu nanti, termasuk membujuk beliau untuk kembali bersama keluarganya. Keluarga yang ia tinggalkan tanpa alasan tujuh tahun silam.
Minhyun memeluknya erat. Erat sekali sampai wanita paruh baya itu kesulitan bernafas. Tujuh tahun lalu tubuh Minhyun tidak sebesar dan setinggi ini. Putra kesayangannya telah tumbuh jadi lelaki dewasa yang tampan. Minhyun tidak bisa membendung lagi tangis bahagianya, dan ia membiarkan saja air mata menggenangi pipi putihnya. Sang ibu juga begitu, beliau juga menangis namun ia tetap mengatakan untuk jangan menangis seraya menghapus air mata anak lelakinya.
Baru saja Minhyun akan menyuapkan spaghetti carbonara kesukannya, tapi garpu di tangan kanannya tiba tiba merosot ke lantai saat irisnya menangkap pemandangan kurang menyenangkan. Jadi, barusan sepasang ayah dan anak perempuan datang menghampiri meja mereka, dan dengan santainya si lelaki –ayah- mengecup pipi ibunya, ditambah anak perempuan berusia sekitar lima tahun itu ikut ikutan memanggil ibunya dengan sebutan 'ibu', lantas memaksa untuk duduk dipangkuan sang ibu.
Ibu?
Minhyun bertanya tanya dalam hati. Ia cukup bisa membaca situasi dihadapannya sekarang. Minhyun menarik kesimpulan bahwa anak perempuan itu adalah anaknya yang lain bersama dengan lelaki asing didepannya ini. Jadi ini rahasia besar yang selama ini Minhyun tidak tau selama tujuh tahun. Ini alasan kenapa ibu meninggalkan rumah tujuh tahun lalu? Demi bisa menikah lagi dengan lelaki brengsek disamping beliau? Apa ayahnya tau? Apa kakaknya tau? Apa rasa rindu Minhyun selama ini sia sia saja? Apa wanita ini masih pantas dipanggil ibu setelah meninggalkan keluarganya demi lelaki lain?
"Minhyun, perkenalkan ini—" sang ibu menelan ludah sebentar saat mendapati ekspresi anak lelakinya berubah keruh perlahan, "ini ayah tirimu" sambung sang ibu ragu, namun tetap mengucapkannya.
Kedua tangan Minhyun refleks menggebrak meja, menyalurkan rasa emosi setelah mengetahui fakta baru bahwa ibunya adalah seorang penghianat besar. Tanpa bicara apapun Minhyun pergi meninggalkan keluarga kecil itu, keluarga baru ibunya. Ibu yang selama ini ia rindukan, dan ia cari cari keberadaannya.
Rasanya Minhyun ingin melampiaskan segala amarahnya, ingat Minhyun tidak pernah semarah ini sejak ia dilahirkan. Ada perasaan dimana ia ingin memukul sesuatu hingga tangannya berdarah atau melempar benda apapun ke segala arah. Tapi Minhyun tidak sanggup melakukannya, ia masih ada di keramaian sekarang. Akhirnya Minhyun memilih untuk pergi ke toilet dan menangis meraung raung disana. Padahal ia sudah berharap bahwa ibunya akan kembali ke rumah setelah pertemuan ini, namun fakta mengejutkan justru datang lebih dulu sebelum berhasil membawa ibunya kembali.
Ia butuh seseorang untuk bersandar serta mendengarkan keluh kesahnya. Minhyun tidak sanggup jika harus menyimpan ini sendirian. Ia merogoh ponsel di kantong celana, berniat menelpon Seongwoo, tapi—
"Halo kak Minhyun, mau aku jemput sekarang?" yang tertangkap di telinga Minhyun justru suara bariton Hyunbin, lantas ia melihat layar diponselnya dan nama Kwon Hyunbin tercetak disana. Pasti Minhyun tadi salah menekan gara gara nama Hyunbin dan Seongwoo saling berderet di log history ponselnya.
"Hyun—Hyunbin" suara Minhyun tersendat karna nafasnya masih belum beraturan.
"Halo kak, kau baik baik saja?" tersirat rasa khawatir di pertanyaan Hyubin mendengar suara kak Minhyunnya.
"Tidak—" Minhyun mengusap air mata sebentar, "Bisakah kau— jemput aku di pusat perbelanjaan RST sekarang?" pinta Minhyun.
"Baiklah aku segera kesana" Hyubin sebenarnya bingung, bahkan ia masih menduga duga apa kira kira yang barusan terjadi disana sampai Minhyun minta tolong padanya untuk dijemput, padahal biasanya Minhyun tidak pernah mau.
"Aku tunggu di lobby" kata Minhyun lagi sebelum mengakhiri panggilan.
...
Minhyun sudah duduk manis di jok depan mobil Hyunbin, masih dengan air mata menetes meskipun tidak bersuara. Lelaki super model yang sedang berkonsentrasi mengendara itu diam saja, tapi ekor matanya tetap mencur curi pandang pada lelaki disebelahnya. Tangan kiri Hyunbin meraih beberapa lembar tissue di dashboard dan meletakkan di pangkuan Minhyun, seakan mengisyaratkan untuk menghapus buliran air mata di pipinya.
Hyunbin itu bukan type orang yang akan berkata 'jangan menangis' saat mendapati seseorang menangis, ia lebih senang membiarkan seseorang menangis sampai puas agar semua emosinya keluar. Jadi ia tetap mendiamkan Minhyun tanpa mau bertanya apa penyebab tangisannya, meskipun ia penasaran tapi menunggu Minhyun tenang adalah keputusan terbaik. Dia tidak mau salah tangkap cerita gara gara Minhyun menangis sambil berbicara.
Lampu traffic light berwarna merah memaksa mobil yang mereka tumpangi berhenti. Kepala Hyunbin menoleh sempurna menghadap Minhyun, lelaki manis itu menunduk seraya meremas remas tissue bekas air matanya. Kemudian tangan besar Hyunbin terjulur mengusap lembut belakang Minhyun, bermaksud memberi ketenangan, namun kepala lelaki manis itu justru menunduk semakin dalam, seolah berusaha menyembunyikan tangisan dari siapapun.
Sesampainya di parkiran basement Hyunbin membuka pintu mobil dengan gerakan cepat, kemudian berlari ke sisi satunya untuk membukakan pintu Minhyun. Setelah sang pujaan hati keluar, Hyunbin membuka pintu jok belakang, mengambil topi dan masker yang selalu ia bawa kemana mana lantas memakaikan dua benda itu pada Minhyun. Ia hanya tidak ingin wajah berantakan Minhyun dilihat oleh tetangga tetangga apartemennya.
Hyunbin mempersilahkan tamunya untuk duduk di sofa ruang tengah, sementara ia berlalu menuju dapur. Setelah itu kembali dengan sepiring puding coklat, dan segelas susu coklat dingin, karna susu coklat hangat tidak cocok disajikan untuk cuaca lumayan panas hari ini. Ia beranjak lagi, mengambil sekotak tisu disamping televisi kemudian meletakkan dimeja depan Minhyun, baru pantatnya mengambil posisi samping Minhyun.
"Masih belum puas juga?" tanya Hyunbin lembut, ia mengangkat wajah menunduk Minhyun dengan telunjuk dan jempolnya.
Hati Hyunbin rasanya teriris melihat wajah berantakan kakak keesayangannya. Ujung ujung rambutnya lepek karna keringat, hidungnya kembang kempis menyesuaikan ingus yang sewaktu waktu mengalir dengan sendirinya, bibrinya jadi lebih merah gara gara digigit untuk meredam tangisan, bukan hanya bibir kedua pipi putihnya juga merona merah, dan terakhir matanya. Mata bening favorit Hyunbin itu kini sembab, karna tidak berhenti mengeluarkan air mata sejak tadi. Kedua tangan Hyunbin menangkup wajah Minhyun, mengusap air mata itu dengan jempolnya.
Meskipun baru mengenal Minhyun selama beberapa bulan, Hyunbin tau jika Hwang Minhyun adalah sosok yang kuat, sosok yang tegar, dan selalu tersenyum seberat apapun masalahnya. Tapi kenapa pertahanan Minhyun sekarang tiba tiba runtuh begini? Tentu ini bukan masalah mudah. Minhyun jelas sudah mencapai limit hingga ia menangis tanpa henti seperti saat ini. Pergi kemana kak Minhyunnya yang selalu tersenyum saat melihat wajahnya? Ia ingin kedatangannya disambut dengan wajah bahagia, bukan wajah penuh air mata begini.
"Kakak ingin marah?" Hyunbin menatap tepat di mata berair Minhyun, dan lelaki manis itu mengagguk sebagai jawaban.
"Pukul aku sampai amarahmu reda" perintah Hyunbin seraya melepaskan kedua tangannya yang sedari tadi menangkup pipi Minhyun, ia bahkan sudah memposisikan tubuh agar Minhyun bisa melayangkan pukulan sesukanya. Namun Minhyun justru menatap Hyunbin ragu. Kepala Hyunbin mengangguk sesaat, seakan mengatakan 'ayo pukul aku'.
'bugh', satu pukulan mendarat di lengan kekar Hyunbin. "Pukul aku lebih kuat kak" tantang Hyunbin. Sekali lagi Minhyun mengarahkan kepalan tangannya ke perut berotot lelaki didepannya. Tidak, Hyunbin sama sekali tidak merasa kesakitan, pukulan Minhyun lemah seperti masih punya belas kasihan padanya.
"Gunakan seluruh emosimu kak, pukul aku lebih kuat" titah Hyunbin lagi. Minhyun menurut, terbukti dengan erangan dari mulutnya saat melayangkan pukulan didada kanannya. Hyunbin akhirnya memekik juga, ini baru pukulan sesungguhnya.
"Hyun—Hyunbin—bolehkah aku memelukmu sebentar saja?" Minhyun memohon. Dengan mata berkaca kaca dan wajah memerah seperti itu mana mungkin Hyunbin tega? Tentu ia dengan senang hati merentangkan tangan lebar lebar menunggu tubuh Minhyun masuk dalam dekapannya.
Sebenarnya Hyunbin ingin sekali memeluk Minhyun sejak tadi, ingin menenggelamkan tubuh rapuh Minhyun dalam dekapannya. Tapi Hyunbin masih ingat cerita Seongwoo mengenai image Minhyun sebagai anak baik baik, tidak tersentuh dan tidak tegapai dalam artian Minhyun tidak mudah terpengaruh seburuk apapun lingkungannya. Jadi Hyunbin juga berusaha menghormati dan menjaga image Minhyun tersebut. Meskipun Hyunbin suka menonton video porno, tapi ia sama sekali tidak ada niatan untuk merusak Minhyun. Sejauh ini mereka hanya pernah bergandengan tangan, tidak ada pelukan, ciuman apa lagi tidur bersama. Beda dengan Daniel dan Seongwoo.
Minhyun menubrukkan wajah sembabnya di bahu kokoh Hyunbin, bergerak gerak sebentar mencari posisi nyaman, lantas melingkarkan lengan di sekeliling tubuh Hyunbin. Rasanya jelas saja nyaman. Dan wangi, wangi parfum bercampur pheromone alami Hyunbin seakan mampu merilekskan pikirannya yang tegang. Jika saja Minhyun tau pelukan Hyunbin akan senyaman ini, mungkin sudah dari dulu ia minta dipeluk. Belum lagi salah satu tangan Hyunbin mengusap lembut bagian belakang kepalanya, dan yang lain menepuk nepuk pelan punggungnya.
"Kak, aku ada disini untuk tempatmu bebagi" kalimat tersurat Hyunbin membuat Minhyun mendongak, menatap ke arahnya. Bibir Minhyun sedikit terbuka, tatapan polos dari mata sembabnya membuat Hyunbin hampir saja memajukan kepala untuk mencium kakak kesayangannya ini. Beruntung Hyunbin masih dikuasai oleh kesadaran, jadi ia membuang muka menghindari wajah Minhyun, "Maksudku kau bisa bercerita kenapa kau jadi seperti ini, aku akan menyimpan rahasiamu rapat rapat" lanjut Hyunbin setengah salah tingkah.
"Janji?" jari kelingkin Minhyun terulur didepan Hyunbin, mengajak pinky promise. Hyunbin tersenyum kecil, baru tau Minhyun ternyata punya sisi menggemaskan. Ah, Hyunbin kan jadi semakin cinta.
"Iya, aku janji" kelingking Hyunbin balas mengait.
Minhhyun mulai bercerita dari awal, sejak ibunya meninggalkan rumah tujuh tahun lalu hingga pertemuan mendadaknya tadi. Tau begitu Minhyun pasti lebih memilih untuk makan siang bersama Hyunbin dari pada bersama ibu tapi sang ibu malah mengajak keluarga barunya. Minhyun tentu saja sakit hati, pencarian dan penantiannya tidak berbuah manis. Hyunbin cukup mengerti, meskipun ia sempat tidak menyangka jika sosok setegar Minhyun ternyata punya masalah semenyedihkan ini. Padahal sebenarnya permasalahan inilah yang membuat Minhyun semakin kuat.
Lelaki manis dipelukan Hyunbin mengeluh haus di tengah tengah cerita, maka Hyunbin mencondongkan tubuhnya untuk meraih susu coklat dingin yang sudah ia sediakan di meja. Gara gara Minhyun masih tidak mau melepaskan pelukan di tubuh Hyunbin, maka tubuhnya juga ikut terdorong maju saat Hyunbin mencondongkan tubuh. Lantas Hyunbin mengarahkan sedotan didepan bibir Minhyun.
"Terima kasih" ucap Minhyun serak, tapi ia tersenyum karna tubuhnya mengikuti kemana tubuh Hyunbin mengarah.
Cerita Minhyun tidak sampai disitu saja, ia juga bercerita mengenai keluh kesahnya selama sang ibu menerornya dengan nomor berbeda beda tiap menelpon, keberadaannya jadi sulit dilacak. Sembari Minhyun bercerita panjang lebar. Hyunbin berinisiatif mengambil sepiring puding yang dari tadi hanya mereka diamkan di atas meja, jadi tubuh keduanya condong ke depan lagi. Minhyun tertawa kecil, apa lagi saat Hyunbin memaksa untuk menyuapinya. Sesaat Minhyun merasa bersyukur bisa mengenal Hyunbin. Ah, ia harus mentraktir Seongwoo dan Daniel atas jasa tidak sengaja mereka.
Hyunbin bersedia melakukan apa saja untuknya, menemani saat kesepian, memberikannya semangat, memperhatikan dirinya lebih dari siapapun, bersedia sebagai pelampiasan amarahnya barusan, menjadi tempat bersandar yang nyaman saat ia dilanda kesedihan dan sekarang setelah Minhyun agak tenang lalu mulai kelelahan, Hyunbin lagi lagi tidak keberatan saat ia memenjamkan mata dipelukannya. Tangan kanan Hyunbin masih setia melingkar dibahu lelaki manis itu membawa kedalam dekapan hangatnya, dan tangan kirinya sudah ia tautkan dengan salah satu tangan Minhyun. Tidak peduli lengannya akan mati rasa setelah ini.
TBC
Mello's Note :
kalian jangan pindah kapal ya, tar saya ga ada temennya :') makasih buat yang uda baca, follow, favorite sama review, semoga hidup kalian seneng terus. amin. chap depan nunggu yang review banyak baru update yha~
Balesan Review :
Re-Panda68 : lho ngga kok, dari awal akun ini brojol nama akunnya tetep ini ehe
gglorrsp : kemaren nyeritain hyunbin yang dateng ke cafenya minhyun, ada di ff memelihara ong seongwoo lupa tapi cahp berapa ehe
bebek kuning : wkwk iya lah, ong gitu~
Jinrissi : wah ternyata ada yang mau baca berulang ulang, aku terharu :') chap ini minhyunbin dulu ya, chap depan baru fokus ongniel ehe
maiolibel : nah iya, dia kayak bisa ngendaliin daniel gitu jadinya ehe. ini uda aku anuin nih minhyunbinnya ehe
tong : dari pada belajar di gangguin kan, yodah dibikin tidur aja wkwk
ongnyel : jalan pikirannya ong kan emang rada anu ehe
soonyounghearteu : aku kan yang gemesin, makasih :3 wkwk
