-AFTER- DATING ONLINE
Warning: OOC, TYPOS, CRACKED- PAIR, etc
Pair : SASUHINA –Slight Naruhina, Narusaku
Rate: T
Genre : Romance, Slice of Life
Disclaimer: Naruto © Belonging Masashi Kishimoto
DON'T LIKE DON'T FLAME
DON'T LIKE DON'T READ
DON'T LIKE DON'T COMMENT
1
Hinata terbangun dengan keadaan punggung yang sakit, lagi-lagi ia tertidur di depan laptopnya. Hinata tengah mengerjakan novel romance terbarunya yang akan terbit akhir tahun ini. gadis berambut indigo itu langsung mergangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
Hinata meringis mengingat hidupnya yang hanya berkutat dengan kata-kata selama hampir enam tahun ini. Bukan karena uang, ia melakukannya sebagai pengalihan dari rasa sakit dan kecewa yang mendera hatinya. Gadis itu berjalan membuka gorden, membiarkan sinar matahari pagi masuk ke dalam kamarnya yang bernuansa ungu.
"Onee-chan !" panggil Hanabi dari halaman sambil melambaikan kedua tangannya.
Hinata tersenyum, dia dapat melihat dengan jelas pemandangan dari lantai dua –tempat kamarnya berada- "Ohayou Hana-chan!" seru Hinata setelah membuka jendela kamarnya. Ibu dan ayahnya tengah berkebun, padahal waktu baru menunjukan pukul enam pagi.
Hinata segera pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya dan menyiapkan sarapan untuk keluarganya.
-After- Dating Online
"Bagaimana menulismu Hime ?" tanya Hiashi saat sesi makan sudah selesai.
"Lancar tou-san, akhir tahun ini novel baruku akan terbit." Senyum tidak lepas dari wajah Hinata.
"Bagaimana dengan kuliah S2 mu ?" kini giliran Hikari yang bertaya.
"Cukup baik." Meskipun menurut Hinata biasa saja, Hinata tidak memiliki teman di kampus. Dia tidak berniat untuk terhubung dengan orang lain selain yang berada pada comfort zone nya. Dia trauma terlalu tehubung dengan seseorang.
"Nee-chan sudah punya pacar baru ?" celetuk Hanabi.
Hinata tiba-tiba tersedak dengan apel yang tengah dikunyahnya, bisa-bisa dia berakhir seperti putri salju yang tertidur karena tersedak buah apel.
"Oh belum." Hiashi menghela napasnya dengan berat. Hinata mengabaikan ayahnya yang terlihat lelah, ia lebih memilih mengisi gelasnya dengan air dan menenggaknya hingga tandas.
"Sebenarnya tou-san dan kaa-san tidak ingin melakukan ini..." ujar Hiashi dengan nada menyesal, Hinata menaikan sebelah alisnya menunggu sang ayah melanjutkan ucapannya. "Akhir pekan nanti teman tou-san akan datang kemari, dia ingin mengenalkan putranya padamu."
"Aku dijodohkan ?!" pekik Hinata, tangannya yang memegang gelas bergetar menahan emosi.
"Tidak Hime, kaa-san dan tou-san hanya ingin kau berkenalan dengannya. Jika kalian cocok kalian bisa melanjutkannya hingga menikah, jika tidak kau bisa menolaknya."
Hiashi mengangguk membenarkan ucapan sang istri, "Tapi tidak ada salahnya jika kau jalani saja sebagai teman, untuk saat ini."
Hinata mendesah pelan, "Aku baru dua puluh empat tahun, tou-san." Keluh Hinata.
"Tahun ini dua puluh lima, nee-chan." Ujar Hanabi dan berhasil dihadiahi tatapan kejam dari Hinata.
"Kau perempuan, Hime." Tukas hikari, "Tidak baik jika kau menikah terlalu tua."
Hinata sadar bahkan sangat sadar dengan hal itu, orang-orang disekitar rumahnya sering menanyakan kapan dia akan menikah. Tapi menikah bukanlah sebuah kata yang menjadi prioritas dalam hidupnya saat ini, bahkan belum pernah terlintas dalam hidupnya selama lima tahun terakhir. Kolega bisnis Hiashi pun sering mengucilkan Hinata saat di pesta, karena Hinata yang tidak memiliki kekasih dan masih perawan.
Dalam kebudayaan Jepang, biasanya seorang gadis melepas keperawanannya saat berusian enam belas tahun –saat masuk SMA-. Jika seorang gadis masih perawan hingga berusia dua puluh tahun, masyarakat memandangnya sebagai gadis kurang pergaulan.
Orang tua Hinata tidak mempermasalahkan keputusan Hinata yang akan memberikan keperawanannya pada suaminya.
"Bagaimana dengan S2 ku kaa-san ?" bulan depan Hinata akan memulai semester ketiganya di jurusan sastra Jepang.
"Tidak ada larangan menikah dalam beasiswamu bukan ?" Hinata hanya menunduk membenarkan ucapan Hiashi, "Hime, tou-san tidak akan memaksamu untuk menikah tahun ini. Tou-san hanya tidak ingin kau terus sendirian seperti ini, tou-san khawatir padamu, Hime."
Hinata mengangkat kepalanya dengan mata berkaca-kaca, hatinya terasa tercabik-cabik saat Hiashi mengungkapkan kekhawatirannya dengan gamblang. "Aku sendirian pun baik-baik saja tou-san..." ujar Hinata dengan lirih.
"Tidak Hime, kau tidak baik-baik saja. Kau kesepian. Kaa-san bisa merasakan itu." Hinata tidak dapat mengelak dari ibunya. Hinata memejamkan kedua matanya, dia harus mencari cara. Ia tahu ayahnya mengatakan tidak akan memaksanya untuk menikah, tapi bagaimana jika anak dari teman ayahnya memaksa ? bagaimana jika itu berpengaruh pada bisnis ayahnya ?
"Tou-san... bagaimana jika sebenarnya aku sudah memiliki kekasih ?" Hinata menghirup udara dengan dalam, seolah-olah dia tengah berada dalam ruangan sempit nan sesak. "Kami bertemu saat aku berkuliah di Denmark, kami berhubungan jarak jauh selama ini."
"Benarkah ?"tanya Hikari dengan antusias –mengabaikan kata bagaimana jika dan kejadian Hinata tersedak- Hinata mengangguk kaku.
"Jika begitu, bagaimana jika kau menyuruhnya kemari ?" tanya Hiashi dengan nada datar.
Mata Hinata membola, "Akan... aku usahakan." Ujar Hinata tergagap lalu mengucapkan terima kasih dan kembali ke kamarnya.
-After- Dating Online
Hinata berguling gelisah kesana kemari di atas tempat tidurnya. Laptopnya masih menyala di sudut lain tempat tidurnya. Hinata merutuki kebodohannya yang memutuskan untuk berbohong agar tidak dijodohkan dengan teman ayahnya –yang entah siapapun itu-.
Ponsel di dekat laptopnya berbunyi, menampilakn pemberitahuan pesan baru pada WhatsApp-nya.
Ino : "Hey Hime, bagaimana kabarmu ? aku sedang berada di distrik 11, apa kau ada waktu ? aku ingin bertemu denganmu."
Hinata tersenyum lalu mendudukan dirinya.
Hinata : "Aku pikir cukup... baik ? bagaimana jika besok di caffe dekat persimpangan jalan ?"
Ino : "Apa ada masalah ?"
Ino : "Yap! Seperti biasa."
Hinata memang sedang butuh teman bicara, sepertinya menceritakan masalahnya pada Ino bukan hal yang buruk.
Hinata : "Aku akan menceritakannya besok."
Ino pun hanya membalasnya dengan gif orang yang sedang mengacungkan jempol.
-After- Dating Online
Sasuke mengetukan jarinya dengan kesal pada meja, jika orang-orang mengatakan programmer adalah orang yang sabar, atau mereka terlatih bersabar. Para programmer tahan mencari satu bug -cacat dalam kode program- selama satu hari penuh tanpa marah dan mengumpat, karena kemarahan dan umpatan tidak akan membuat bug itu muncul sendiri. Kali ini ucapan orang-orang itu tidak berlaku pada Sasuke.
Sejak tadi Sasuke tidak berhenti mengumpat sambil menyalahkan kode-kode pada layar komputernya.
"Damn you!" desah Sasuke sambil melirik Shikamaru yang tengah mendengarkan musik aneh dari speaker kecil. Meja mereka hanya berbatas kaca tebal.
Tenten bangkit dari mejanya, dia sudah kesal mendengar umpatan dari atasannya itu. "Sasuke ! berhenti mengumpat, telingaku sakit mendengar umpatan kekesalanmu! Dan kau..." Tenten menunjuk Shikamaru yang masih anteng menggerakan kepalanya ke depan belakang menikmati musik, "Hentikan musik aneh mu!"
Shikamaru hanya melirik sekilas lalu mengganti speakernya dengan headset gaming yang selalu terpajang manis pada pembatas kaca mejanya.
"Sudah selesai ? kau bisa kembali ke mejamu." Ujar Sasuke dengan datar matanya menatap Tenten, wajah Sasuke tak kalah datar dengan ucapannya.
"Sepertinya aku butuh kopi." Desah Tenten.
"Aku ikut!" Seru Kiba yang berada di samping Shikamaru, "Hei Shino! Ayo ikut!" Kiba menarik paksa Shino keluar dari mejanya dan berjalan mendekati Tenten.
"Kau ingin menitip kopi, Sasuke ?" tawar Shino.
"Tidak," Sasuke men-sleep laptopnya, "Aku ikut ke coffee shop." Tanpa mengulang ucapannya Sasuke mengikuti Tenten yang telah lebih dahulu berjalan menuju lift.
Sasuke langsung menyandarkan tubuhnya pada dinding lift dan sedikit mengacak rambutnya yang sudah berantakan sejak awal.
"Ada yang salah bos ?" tanya Kiba.
"Aku yakin jika hanya karena Neji yang dipindah tugaskan ke luar kota dan deadline yang lebih dekat tidak akan membuatmu sekacau ini." timpal Shino.
Sasuke memejamkan matanya enggan untuk menjawab pertanyaan dari kedua anak buah –sekaligus teman- nya itu. Mereka berempat segera mengambil tempat di dekat bar, Rock Lee –barista di coffee shop- segera menghampiri mereka.
"Kopi seperti biasa, gadis China ?" tanya Lee pada Tenten dan dijawab dengan anggukan. "Arabica seperti biasa ?" tanya Lee pada Kiba dan Shino, Kiba mengacungkan jempolnya sambil merangkul bahu Shino. Lee terdiam saat hendak menanyakan pesanan Sasuke, aura laki-laki berambut hitam itu sama kelamnya dengan malaikat pencabut nyawa. "Dan tuan Uchiha apa yang ingin anda pesan ?" tanya Lee dengan gugup, dia berusaha dengan sopan bertanya pada anak pemilik gedung tempatnya membuka coffee shop.
"Green coffee tanpa gula." Lee mengangguk lalu segera pergi untuk menyiapkan pesanan mereka.
"Kau diet ? kau sudah kurus tidak perlu diet." Ujar Tenten.
"Untuk apa aku diet, memikirkan bawahanku sendiri sudah membuatku kurus." Balas Sasuke.
Sasuke adalah kepala bagian IT di Uchiha Groups perusahaan milik ayahnya. Dia membiarkan kakaknya yang menjadi direktur, dan menolak permintaan ayahnya untuk menjadi CEO dibawah kakaknya. Sasuke tidak suka bisnis, karena menurutnya dia harus berbicara omong kosong dengan klien setiap hari. Sasuke menyukai teknologi dan pemrogram maka dari itu dia menjadi kepala bagian IT.
Meskipun seorang kepala bagian, Sasuke tidak memiliki ruangan khusus. Dia memilih berada dalam satu ruangan yang sama dan meja yang sejajar dengan bawahannya. Sasuke pun tidak ingin dipanggil tuan atau gelar kehormatan lain, dia lebih senang jika bawahannya menganggapnya teman dan memanggil nama belakangnya tanpa embel-embel apapun.
"Silakan." Lee mengantarkan empat gelas kopi pada mereka lalu segera kembali ke belakang, dia masih takut dengan aura Sasuke.
"Kau terlihat lebih kacau saat keluar dari ruangan Direktur." Ujar Kiba.
Sasuke meminum sedikit kopinya, "Aku disuruh menikah oleh kakek dan ayah."
"Ya kau tinggal menikah, Sasuke." Celetuk Kiba
Sasuke langsung mendeath glare Kiba, "Kau pikir menikah itu gampang ?!" tadi Sasuke dipanggil ke ruangan ayahnya untuk membicarakan deadline. Namun, saat hendak kembali ke ruangan IT kakeknya –Uchiha Madara- muncul dan mengajak Sasuke dan ayahnya berbicara.
Madara meminta Sasuke untuk segera menikah dengan alasan Madara ingin menimang cicitnya sebelum kematian semakin mendekatinya. Madara mengatakan jika dia akan menjodohkan Sasuke dengan Sakura –yang minggu lalu baru saja bertunangan dengan Naruto- karena menurut Madara hanya Sakura gadis yang berada di radar Sasuke. Padahal dengan jelas minggu lalu Madara melihat dengan mata kepalanya sendiri Naruto dan Sakura bertukar cincin disebuah ballroom hotel mewah di distrik 10.
"Aku tidak mengatakan itu gampang, menurutku lebih gampang menemukan bug pada program daripada mencari calon istri." Sasuke membenarkan ucapan Kiba, menemukan cacat pada program bisa memakan waktu seharian. Sedangkan mencari calon istri bisa menghabiskan waktu seumur hidup.
"Kau itu tampan, cerdas, dan kaya. Kau tidak akan kesulitan mendapatkan gadis di gedung ini." ujar Tenten tanpa menatap Sasuke. Lagi-lagi Sasuke membenarkan ucapan temannya.
"Mereka mendekatiku karena ingin memamerkanku pada teman-temannya, hati mereka tidka secantik penampilannya," Sasuke kembali menyesap kopinya, "Dan lagi..."
"Kau malas berurusan dengan perempuan." Potong Tenten cepat sambil memutar kursinya menghadap Sasuke, "Lalu aku ini apa, hah ?!"
"Aku sebenarnya malas berurusan denganmu, tapi sayang sekali jika aku tidak berurusan denganmu, aku harus mencari programmer baru dan itu akan membuatku semakin dirong-rong oleh ayahku."
Tenten memutar bola matanya sebal, "Wajar jika kau terus dirong-rong orang tuamu. Kau sudah 28 tahun."
"29 Tahun." Koreksi Shino yang sejak tadi hanya menyimak.
Sasuke mendengus pelan, "Padahal aku baik-baik saja tanpa menikah." Selama ini Sasuke tidak pernah berurusan dengan percintaan dengan lawan jenis, percintaan terbaik Sasuke adalah dengan komputer dan code editor.
"Jika kau baik-baik saja, kau tidak akan memberikan notebook baru sebagai hadiah pernikahanku dengan Neji." Beberapa bulan yang lalu Neji menikah dengan Tenten, mereka mengalami interoffice romance. Sasuke tidak pernah melarang anak buahnya untuk jatuh cinta dengan teman sekantor, asalkan semua deadline beres. Jika orang lain memberikan hadiah pernikahan berupa alat rumah tangga, Sasuke justru memberikan sebuah notebook keluaran terbaru dengan sebuah sticky notes yang bertuliskan.
"Aku tidak akan mengampuni kalian jika setelah cuti bulan madu kalian telat mengumpulkan deadline."
"Bagaimana jika kau mencoba online dating." Celetuk Shino.
"Algoritma bukan untuk menentukan jodoh." Ujar Kiba dan Tenten bersamaan.
Sasuke menggeleng, "Is our generation always in rush ? does everything have to be based off of technology ?" Sasuke menghela napas lalu meminum kopinya hingga tandas, "Ya aku akan mencobanya."
Tenten dan Kiba melongo, "Lalu untuk apa kau menanyakan hal yang tadi hah ?!" ujar Kiba dan Tenten bersamaan.
TBC
