A Day in the Amusement Park
Part Deux
Writer's rambling: Heh, ampir aja saia telat update gara-gara orang tua nyuruh ke dokter kulit buat yang namanya facial cleaning... brr, I hate those knives! Anyway, part dua dari A Day in the Amusement Park, dengan pairing 6927 request Tsuzuki dari Vongola Indo – alias Itachi4Ever disini, dan juga tuna sandwich. favorit saia...dan beberapa surprise-surprise lainnya... SAA, LET'S GO!! A DAY IN THE AMUSEMENT PARK, PART TWO!! Dan maaf kalau chapter ini terkesan buru-buru, soalnya memang bikinnya buru-buru.
Setelah mengetahui sisi lain dari kedua pengawalnya yang paling beringas, Tsuna pun memutuskan akan mengetes apakah latihan neraka dari Reborn selama 3 tahun lebih yang melibatkan makan bekicot yang dibakar flamethrower--err, nevermind, yang jelas dia harus mengetes apakah latihan dari Reborn ada buahnya...
...dan kini dia berdiri di dalam rumah hantu.
Okay, fine, Tsuna tidak lagi takut hantu. Paling tidak dia tahu sekarang kalau satu-satunya hantu yang pantas ditakuti adalah hantu yang diperankan Reborn saat Halloween tahun lalu. Kali ini, yang perlu ditakutinya adalah...
...guardian of mist yang kini berjalan disebelahnya...
Oke, CUT! CUT! Bagaimana ceritanya kok Mukuro Rokudo bisa menemani ikan tuna kita itu ke rumah hantu!? Untuk mengetahuinya, marilah kita mundur ke beberapa saat sebelumnya...
IIFlashbackII
"Tunggu dulu, Juudaime! Aku tidak setuju dengan keputusanmu kali ini."
Tsuna melihat Gokudera dengan pandangan heran. "Kenapa, Gokudera-kun? Apa ada yang salah?" Gokudera hanya dapat menamparkan tangannya ke dahinya. Sekali ini saja dia berpikir, betapa polosnya bosku tercinta ini...
"Apa ada yang salah? APA ADA YANG SALAH!? TENTU SAJA ADA YANG SALAH DENGAN KEPUTUSANMU MENGAJAK ROKUDO MUKURO MENEMANIMU DALAM RUMAH HANTU!! Kuharap kau ingat betapa sakit jiwanya, g-g-guardian of mistmu itu!" teriak Gokudera dengan histerisnya. Yamamoto hanya dapat tertawa mendengar sesama guardiannya—dan oke, the one he loved, --sementara Hibari menyetujui apa yang dikatakan Gokudera dalam hati.
Tsuna sweat drop. Oke, guardian satu ini agak keterlaluan over-protektifnya. Dia menghela napas. "Kalau begitu, bagaimana kalau kalian membuang undi saja?" Gokudera pun mengeluarkan sekotak korek api yang berisi korek api. YA KOREK API LAH, MASA KOTAK KOREK API ISINYA SATE BABI!? MIKIR LAHH!! -author ditimpuk-
Err, yah. Begitulah.
Gokudera pun mematah-matahkan beberapa korek.
"Kalau begitu, yang mendapat korek paling panjang menemani Juudaime masuk ke rumah hantu." katanya dengan pede, berpikir kalau setidaknya bukan dia yang menemani Juudaimenya yang tercinta, setidaknya jangan nanas edan didepannya itu.
Dan bisa ditebak, Mukuro berhasil menang...dengan sedikit bantuan ilusinya.
"Kufufu, ternyata keberuntunganku masih ada hari ini." kata (bekas)psikopat dari Estraneo itu sementara Tsuna berjalan disebelahnya dengan sangat, sangat kaku. Dalam hatinya, Tsuna berulang-ulang mengatakan, Please don't hurt me, please don't hurt me...
Oh, sungguh parah bos Vongola generasi kesepuluh ini.
Memutuskan kalau mereka telah berjalan cukup lama, tiba-tiba Mukuro duduk di jalur rumah hantu itu. "M, Mukuro?" Tsuna, dengan ketakutan, mendekat ke Mukuro.
Oh, betapa kagetnya dia saat tiba-tiba sebuah nanas yang diikat pita merah mendarat dikepalanya.
"A-a-apa-apaan ini! MUKURO!!"
"Haha. Senang dengan kejutan ini?"
"APA YANG DILAKUKAN NANAS INI DENGAN PITA MERAH YANG...YANG...YANG NORAK INI!!"
Yup, norak banget. Nanas, diikat pita merah, dengan glitter yang menghiasi bagian daun... Mukuro tertawa dengan tawa kufufu trademarknya itu. "Aku hanya bercanda." katanya saat tiba-tiba nanas tadi berubah menjadi sebuah album foto yang kosong, terikat pita halus berwarna ungu. Tsuna melihat Mukuro dengan wajah...yah, priceless.
"Buon Compleanno, Sawada Tsunayoshi."
Sesaat, keduanya hanya bisa saling menatap. "Ah...te...terima kasih...?" kata Tsuna yang akhirnya bisa membuka mulut, dengan wajah memerah. Mukuro hanya bisa tersenyum nakal. "Tenang, yang itu bukan ilusi. Aku mati pun itu tidak akan lenyap."
"Ah, jangan berkata seperti kau memang akan mati! Kau kira kami akan senang kalau kau mati?" Malah aku akan sedih sekali, tahu! Pikir Tsuna dalam hati.
Ilusionist itu hanya dapat mengerjapkan matanya. Nampaknya dia baru saja salah dengar. Tsunayoshi Sawada, yang sempat ingin dibunuhnya, menceramahinya tentang bagaimana ada orang-orang yang masih ingin bersama dia?
"Wao."
Ya, wao. Pikir Mukuro.
Tunggu dulu.
Wa...o?
"Ternyata ini yang kalian lakukan ditengah rumah hantu?"
Tsuna dan Mukuro terlonjak kaget saat tiba-tiba Hibari muncul entah darimana.
Hibari mengerling ke arah buku yang ada di tangan Tsuna.
"Cih. Ternyata aku terlambat satu langkah." katanya dengan sebal sambil melempar sekotak hadiah yang terbungkus rapi ke Tsuna. Tsuna terkikik geli. Hadiah yang ada di tangannya itu...sebenarnya tidak rapi-rapi amat. Tapi setidaknya dia tahu kalau Hibari sendiri yang membungkusnya—mungkin dengan bantuan Dino juga, tapi yang jelas dia tahu kalau Hibari memberi hadiah itu dengan tulus tak terpaksa.
Ukh, malah jadi pelajaran kewarganegaraan.
Keluar dari rumah hantu, tampak banyak sekali kerumunan yang telah menunggu don decimo Vongola dan mist guardiannya keluar. Mirip seperti kejadian di kapal...
Bedanya kali ini Tsuna berada di posisi Gokudera, dan Mukuro ada di posisi Yamamoto.
Dan Hibari ada di posisinya sendiri.
"T-TUNGGU DULU!! MUKURO!! A-APA YANG KAU PIKIR SEDANG KAU LAKUKAN!?"
"Kenapa? Oya, oya...apakah aku tidak boleh menunjukkan rasa terima kasihku kepadamu?"
"Memangnya kau mau berterima kasih untuk apa?"
"Mmm, untuk menjadi dirimu sendiri, mungkin."
Tsuna merasa ingin muntah. Sayangnya, rasanya tidak mungkin dia bisa muntah jika posisinya sedang seperti penari wanita yang tengah dipegang oleh penari pria dalam tarian tango begini? Baru saja dia akan protes, tiba-tiba Mukuro telah...
...silahkan anda bayangkan sendiri kejadian dimana sang nanas akhirnya berhasil menangkap ikan tuna di laut... (halah)
Muka Tsuna memerah dan tiba-tiba bos kesepuluh Vongola itu jatuh tak sadarkan diri.
Hibari, saking shocknya, sampai tidak sadar kalau dia baru saja menghantam Ryohei dengan tangan kosong sampai pingsan. Gokudera menggigit rokoknya sampai putus. Yamamoto melotot sampai matanya sebesar bola baseball yang dipegangnya. Haru dan Kyoko—yang kebetulan lihat—bersama-sama pingsan dan sukses membuat hujan darah, menunjukkan sisi fujoshi mereka yang tersembunyi, Anggota famiglia lain cengok melihat adegan shonen-ai di hadapan mereka. Darah Shamal langsung beku. Bianchi ngelempar tiga loyang poison cooking ke Shamal. Ryohei sebelom pingsan kena tinju EXTREME! Hibari nari balet. (hah?) Dino megap-megap. Enzio sama Leon dansa tiga kali sebelom masuk loyang entah dari mana. Romario epilepsi. Xanxus muntah darah. Naito kejang-kejang. Squalo rambutnya dicat item. Byakuran kencan sama Irie. Lha!?
"ROKUDO MUKURO!! KAMI KOROSU!!" Teriak Hibari dengan emosi setelah sadar.
Dengan lihainya Mukuro menghindari tonfa Hibari seraya menggedong Tsuna. "Oya? Kenapa, Kyoya? Iri...?" katanya sebelum tiba-tiba kabur dengan Tsuna di tangannya.
"T-TUNGGU DULU--"
Baru saja Hibari akan mengejar psikopat Estraneo itu, tiba-tiba sepasang tangan menahannya. Yang membuatnya sebal, tangan-tangan itu SANGAT DIA KENAL.
"Lepaskan aku, bule pedophil."
"Jangan Kyoya, jangan kejar mereka!" kata Dino dengan nada memelas.
"...apakah aku tidak cemas tentang adik seperguruanmu itu?"
"Tapi...tapi...AKU LEBIH CEMAS KALAU KAMU SAMPAI LUKA!!"
Dengan mata lebar, Hibari melotot ke Dino. (Ya lebar lah, masa melotot pake mata sipit? Aneh-aneh aja.)
"Kau...apa ada yang baru saja menghajar kepalamu sampai kau jadi gila?"
Dino menggelengkan kepala. Lalu dengan senyum bodohnya yang membuat Hibari Kyoya—yang ditakuti di seluruh Namimori—ingin lari ke toilet untuk muntah-muntah, dia melihat ke 'anak didiknya' itu.
"Ti amo. Lo amate anche?"
"Apa?"
Ternyata Hibari tidak terlalu memperhatikan Dino.
"I love you. Do you love me too?" ulang Dino dengan senyum bodoh yang masih menghiasi mukanya.
Muka Hibari spontan memerah. Dan teriakan dari sekeliling mereka makin keras saja.
Sementara itu, di bagian lain dari Mafia Land...
"Err...Mukuro?"
"Ya?"
"...tolong beritahu yang lain juga. Tahun depan, jangan ajak aku ke taman lagi di hari ulang tahunku."
--end--
