TAK! TAK!
Setelah membelah kayu, Naruto meraih dua potongan itu untuk dia lemparkan bergabung dengan kayu-kayu lainnya.
"Naruto-kun!"
Naruto menoleh dan tersenyum ketika melihat Kimiko yang duduk di tatami belakang rumah memberi isyarat untuk Naruto menghentikan kegiatannya dulu.
"Ya, aku akan kesana, Baa-chan!" Naruto tersenyum menanggapi, melambaikan tangannya sebelum dia menancapkan kapak di dahan pohon dan segera berjalan pergi menghampiri tempat Kimiko.
Kimiko (Saat itu masih berusia 34 tahun) dan suaminya (Baca: Akihiko, 36 tahun) dulu adalah seorang pedagang keliling. Dalam perjalanan, mereka berdua dihadang dan dirampok oleh sekumpulan bandit tepat di perbatasan antara Kaze no Kuni - Ta no Kuni. Dalam perlawanan itu, suaminya meninggal dunia, dan dirinya sendiri dijadikan pemuas nafsu oleh sekumpulan bandit tersebut. Tiga minggu terkurung diperkampungan bandit, anak lelakinya (Baca: Satoshi, usia 18 tahun) yang telah mendengar rumor perampokan itu datang dan bermaksud menyelamatkannya. Namun dalam proses, anak lelakinya itu meninggal ketika mencoba menarik perhatian bandit untuk memberinya peluang kabur kedesa tempat kelahiran mereka di Tanigakure.
Mendengar seluruh keluarganya meninggal, Kimiko pernah berpikir untuk mengakhiri hidupnya sendiri, namun urung ketika mengingat pengorbanan kedua lelaki tersayangnya itu. Kimiko tidak ingin membuat mereka kecewa, dan Kimiko sudah pasti tidak ingin meludahi pengorbanan mereka yang menginginkannya untuk tetap hidup.
Alasan Kimiko memandang penuh sayang kearah Naruto karena dia merasakan kemiripan yang sangat identik dengan anak lelakinya itu. Dia memiliki rambut hitam panjang sepunggung (Baca: Diikat ekor kuda), kulit putih serta dengan dua mata yang berwarna biru laut.
Mendengar kisah itu darinya membuat Naruto langsung terenyuh dan seketika memeluknya, memberi kata-kata menenangkan dan sekaligus menawarkan diri untuk menganggapnya sebagai keluarganya sendiri. Kimiko merasa terharu, dia membalas memeluk Naruto dengan mulutnya terus mengucapkan kata sukur dan terimakasih. Kimiko merasa senang, setelah 32 tahun berlalu dari masa perampokan itu, dia kini sudah menemukan keluarganya lagi. Permintaan pertamanya sebagai keluarga adalah untuk Naruto agar memanggilnya sebagai Neneknya sendiri, dia sadar bahwa fisik yang sudah tua renta sepertinya tidak pantas lagi disebut seorang Ibu oleh Naruto yang terlihat jauhhh lebih muda.
Naruto sama sekali tidak masalah dengan semua itu, dia akan menerima keinginan Kimiko. Dia akan memanggilnya Nenek, dia akan menemani hari tuanya sehingga ketika suatu saat dia meninggal, dia tidak akan merasa sendirian.
Meskipun raganya terbatas disini, bukan berarti Naruto hanya diam saja mengabaikan semua informasi yang patut dia cari didunia ini. Dia telah menyebar 25 Chi Bunshin, memerintahkan mereka mengunjungi satu persatu tempat di Gensou no Kuni untuk mencari informasi.
Dari keterangan satu Bunshinnya, dia terbuang ke masa lalu, masa 8 tahun sebelum PDS 4 dimulai. Informasi itu membuatnya sangat syok, bukan hanya dia terjebak didalam tubuh asing, dia juga terjebak dimasa lalu.
Apakah dia akan bisa kembali kemasanya? Entahlah, kemungkinan agar dia bisa kembali tentu saja harus melewati dimensi kosong, dan kemungkinan selamat dari sana untuk kedua kalinya sangatlah kecil.
"Istirahat dulu, aku sudah membuat teh manis dan beberapa kue!" Kimiko menepuk-nepuk tempat kosong didekatnya, meminta Naruto bersantai dengan senyuman yang terpatri indah diwajah keriputnya.
Naruto mengangguk, dia membalas senyumannya dan lekas mendudukan pantatnya tepat disamping Kimiko.
"Terimakasih karena sudah bekerja keras untukku!" Kimiko memulai, kedua matanya menatap potongan Kayu yang sebelumnya Naruto kerjakan. "Biasanya aku selalu membeli Kayu bakar dipasar." Dia memberitahu, mengisyaratkan bahwa keberadaan Naruto disisinya sedikit meringankan bebannya.
Naruto urung menyesap tehnya, dia menoleh dan memandang Kimiko penuh arti.
"Kau wanita yang luarbiasa, Baa-chan! Kau pekerja keras, memiliki dedikasi yang tinggi dan yang terpenting,,," Naruto berhenti untuk memberikan senyumannya kepada Kimiko. ",,,Kau wanita yang sangat baik."
"Terimakasih,,," Naruto mengangkat alisnya menatap Kimiko yang tersenyum dengan blushing sebelum menyesap tehnya. Setelah satu bulan tinggal dengannya, Naruto sedikit tahu bahwa Kimiko adalah orang pemalu dan sedikit canggung ketika dia menerima sebuah pujian dari oranglain. Bila boleh dibandingkan, kepribadiannya itu hampir mirip dengan temannya Hyuga Hinata.
Mengangkat bahu, Naruto juga kembali menikmati waktunya memanjakan lidah dengan teh dan beberapa kue yang tersaji dihadapannya.
Line Break-o
Tanigakure adalah desa sipil yang bisa dikatakan sangat damai, terlihat dengan keramahtamahan para penduduk desa yang saling menyapa ketika tak sengaja bersinggungan dijalan. Penomena seperti ini tidak bisa dijumpai didesa-desa Shinobi besar, para penduduk didesa Shinobi besar tak jarang hanya akrab dengan rekan Shinobi maupun kenalannya saja.
Siang hari Naruto memutuskan keluar rumah untuk berjalan-jalan dipasar. Setiap pasang mata memperhatikannya, dan juga beberapa bisikan penuh kekaguman bisa dia dengar dari setiap gadis yang dilewatinya. Dia mencoba nyaman dengan perhatian tersebut, dia mengakui bahwa porsi visual Madara memang wah, ditambah dengan mata birunya yang cerah itu menjadikannya lebih istimewa lagi.
Naruto tentu harus bisa beradaptasi dengan identitasnya yang baru, terlebih dia akan hidup selamanya dengan identitas gabungannya ini.
Naruto menyusuri pasar bermaksud mendatangi kedai Ramen yang menjadi rutinitas santapannya. Naruto tetap menjadikan Ramen konsumsi favoritnya, meskipun dia hanya mampu menyantap 2-3 mangkuk saja karena tubuh asingnya (Gabungan dari tubuh Naruto-Madara) ini selalu menjerit protes belum terbiasa mengonsumsi Ramen dengan porsi besar.
Naruto bisa menyimpulkan bahwa keengganan ini disebabkan oleh tubuh Madara yang sedikit mendominasi tubuhnya. Kemungkinan yang terjadi, Madara memiliki fisik yang lebih kuat darinya, itulah yang menyebabkan fisiknya mendominasi visual dari identitasnya ini. Selain itu, alasan Uzumaki Naruto bisa mengendarai tubuh Madara mungkin karena Psikis yang dia miliki jauh lebih kuat dari Madara sehingga kedua Psikis ini berperang dan Psikisnya berakhir memenangkannya.
Tidak masalah dia akan hidup dengan tubuh ini selamanya, yang terpenting untuknya adalah bahwa dia tidak kehilangan jiwa Uzumaki Naruto yang sebenarnya.
"Selamat datang, Naruto-san?"
Ketika baru menyibak tirai kedai, Naruto menemukan seorang gadis berambut hitam yang tersenyum menyambutnya.
Gadis itu adalah Juri Takishima, putri dari pemilik kedai Ramen ini. Melihat Juri mengingatkannya pada Ayame, seorang gadis cantik berambut coklat yang juga sama merupakan putri dari pemilik kedai langganannya di Konoha.
"Aku ingin seperti biasanya, Juri-san!" Setelah menduduki kursi kosong didepan counter, Naruto langsung mengutarakan pesanannya.
"Ya,,," Juri langsung kembali kebelakang untuk menyampaikan pesanan Naruto kepada Ayahnya.
Naruto menunggu dengan sabar, tak jarang dia memainkan sumpit ditangannya dan sesekali mengetuk-ngetukannya diatas permukaan meja. Kegiatan konyol memang, tapi hal seperti ini tampaknya menjadi kebiasaannya dulu di Ichiraku ketika sedang menunggu Ramennya disajikan.
Hanya butuh waktu 7 menit untuk Juri kembali dengan pesanannya. Setelah meletakan Ramen pesanan Naruto dan the Ochanya, Juri lekas duduk dikursi tepat didepan Naruto.
"Itadakimasu!" Naruto berucap sebelum dia menyantap Ramen pesanannya.
Juri sesekali tersenyum menatap Naruto yang sedang menyantap Ramennya, memainkan rambut panjangnya seketika dia tersenyum semakin lebar ketika Naruto menangkap basah kegiatannya.
"Jujur, aku sedikit canggung jika diperhatikan seperti itu!"
"Oh, jangan salahkan aku!" Kata Juri mengedipkan sebelah matanya. "Kau terlalu menarik untuk diabaikan, Naruto-san!"
"Apakah itu pujian?" Naruto meraih Ocha dan menyesapnya.
"Semua gadis akan setuju denganku!" Juri menjawab dengan tersenyum sambil meletakan telunjuknya mengusap bibir bawahnya.
Naruto menaikan alis menatap Juri. Dia mengingat kembali pelajaran kedewasaan yang setiap waktu Ero-seninnya kumandangkan disela waktu 3 tahun pelatihannya, dan dia menyadari hal ini, Juri terlihat sedang mencoba mencari jalan untuk menyentuhnya secara intim.
"Katakanlah, Naruto-san,,," Juri berhenti sejenak sebelum melanjutkan. ",,,Setelah dua bulan terakhir ini, bagaimana pendapatmu tentangku?"
"Kau menarik,,," Naruto menatap Juri, pandangannya meneliti Juri dari atas kebawah dan berhenti tepat didadanya. ",,,Aku yakin payudaramu akan sangat cocok digenggaman tanganku." Naruto menyerang, dia tak peduli jika dia disebut sebagai vulgar.
"Kalau begitu, aku berharap kau bisa datang denganku ke Shugaku-sai malam ini!"
"Shugaku-sai?"
"Panen Ginseng kami selalu melimpah, untuk itu setiap tahun Tanigakure akan mengadakan Shugaku-sai untuk mensukurinya!"
'Ah, seperti Kyuubi no Keikoku-sai di Konoha!' Tebak Naruto.
Di Konoha, setiap tahun akan selalu diadakan Keikoku-sai untuk memperingati hari kekalahan Kyuubi dari Yondaime.
"Bagaimana?"
"Tentu, aku bisa datang denganmu Juri-san!"
"Bagus!" Juri tersenyum senang.
Naruto juga tersenyum, dia sangat tertarik untuk menikmati malamnya dengan Juri. Terakhir kali dia melakukannya adalah ketika dia baru saja kembali ke Konoha dari pelatihan 3 tahunnya, dia tak sengaja bertemu dengan teman seakademinya yang bernama Ami di Tengoku no Ba, saling menggoda satu sama lain dan berakhir terbangun diatas ranjang yang sama. (Baca: Ami adalah siswi yang mengolok-olok dahi lebar Sakura. Dulu dia adalah teman masa kecilnya Ino Yamanaka, namun karena Ino sudah merasa jengah dengan kesombongan Ami mereka berpisah)
Naruto melanjutkan kembali menyantap Ramennya, mengabaikan tatapan Juri yang seolah sedang menelanjanginya.
Naruto selesai dengan dua mangkuk Ramennya, sebelum beranjak pergi dia terlebih dahulu menaruh beberapa Ryou dimeja counter sebagai pembayaran.
"Aku berharap kau akan memakai Kimono yang tidak sulit dilepas!" Sebelum keluar dari kedai, Naruto berbalik dan menatap Juri sambil mengedipkan sebelah matanya.
Line Break-o
Pulang dari kedai Ramen, Naruto beralih menuju sisi hutan pinggir desa untuk melatih kembali keterampilan Shinobinya.
Kyuubi yang menjadi dasar kemampuan jitunya sudah lenyap, untuk itu dia ingin secepatnya beradaptasi dengan tubuh Madara yang memiliki segudang keterampilan kelas Dewa sebanding dengan kekuatan Kyuubinya dulu.
Untung saja setiap pengetahuan atau ingatan tentang keterampilan Madara masih tersimpan rapi didalam otaknya, dia hanya harus mengasah kembali agar dia terbiasa dan tidak canggung didalam pertarungannya nanti.
Naruto menciptakan ratusan Kage Bunshin untuk membantunya mengasah teori, sedangkan untuk dirinya sendiri berlatih fisik untuk meningkatkan kembali staminanya sebagai Shinobi.
Lebih dari tiga jam dia berlatih, melihat langit sudah berwarna oranye Naruto memutuskan pulang untuk bersiap-siap menghadapi kencannya dengan Juri.
"Aku pulang!"
"Selamat datang kembali!"
Kimiko tersenyum menyambut kedatangan Naruto, dia berjalan menghampiri dan tangannya langsung mengguncang bahu Naruto.
"Kau tidak pernah cerita jika kau sudah punya pacar,,," Dengan wajah merenggut Kimiko menuntut penjelasan Naruto. ",,,Seharusnya aku tahu dari mulut cucuku sendiri! Tapi kau,,, dasar anak muda!" Kimiko menatap nyalang Naruto yang hanya terdiam menggaruk bagian belakang kepalanya tak mengerti.
"Pacar? Apa maksudmu Baa-chan?"
"Lihatlah sendiri!" Kimiko mendorong punggung Naruto, membimbingnya menuju dapur.
Sampai didapur, Naruto dapat melihat punggung wanita dengan rambut hitam disanggul memanerkan tengkuk putihnya, dia terlihat sedang menata makanan diatas meja makan.
Gerakannya sangat anggun, diimbangi dengan penampilan wanita itu yang sangat cocok memakai Kimono jenis Tsukesage berwarna merah gelap dengan bunga Sakura sebagai hiasannya. Wajahnya yang cantik sedikit dipoles make-up tradisional, dan Kanzashi berupa tusuk konde diatas rambutnya semakin mempertegas keindahannya.
"Juri-san?"
Wanita itu berbalik, dia langsung tersenyum ketika kedua matanya mendapati Naruto yang terbengong-bengong memperhatikannya.
"Selamat datang, Naruto-san!"
"Kenapa kau bisa ada disini?"
PLAK!
Kimiko menepak sedikit keras bahu kiri Naruto yang membuatnya mengaduh, mengabaikannya Kimiko menatap nyalang kearah Naruto.
"Kau tidak sopan, Naruto-kun! Seharusnya kau tidak berkata seperti itu kepada Juri-san! Bukankah dia wanitamu?"
"Wanitaku? Oh, tentu saja!" Naruto mengerti, maksud dari 'wanitamu' adalah teman kencan untuk festival Shugaku-sai itu. "Aku hanya sedikit bingung dengan Juri-san yang ada disini, bukannya festivalnya masih lama?"
"Festival Shugaku-sai memiliki adat bahwa seorang istri harus melayani suaminya dengan baik. Jika mereka masih berpacaran, si wanita diharuskan menjemput si lelaki dari rumahnya, dia harus menunjukan seberapa pantasnya dia mengambil putra mereka sebagai teman kencan." Kata Kimiko berusaha menjelaskan kepada Naruto yang hanya ditanggapi mengap-mengap tak jelas.
'Kenapa harus serumit ini?' Pikir Naruto.
"Dan sekarang, cepatlah mandi! Juri sudah menyiapkan Air panas untukmu!" Kimiko kembali membawa Naruto menuju kamar mandi.
Naruto hanya bisa mengikuti Kimiko tanpa diberi kesempatan menyelanya.
Line Break-o
Persembunyian Uchiha Madara, Sangaku no Hakaba.
Naruto (Chi Bunshin) menatap sebuah gua besar di hadapannya, mencocokan dengan ingatannya dia meneliti kembali untuk memastikan gua itu adalah gua persembunyian Madara Uchiha.
Setelah memastikan kebenarannya, Naruto segera melangkahkan kedua kakinya, melewati fosil hewan raksasa dia langsung memasuki gua. Namun baru setengah jalan dia masuk, sesosok mahluk putih keluar dari dalam tanah menghadang perjalanannya.
"Siapa kau? Aku merasakan Chakra Madara didalam tubuhmu!"
"Zetsu?"
Kedua mata Zetsu sekilas melebar, namun sedetik kemudian kedua mata kuning itu menyipitkan matanya.
"Bagaimana kau tahu? Siapa kau sebenarnya?"
"Kau bisa menyebutku keturunan dari Madara, dan aku disini untuk mengambil semua warisannya, kau tahu kan apa yang kumaksud?!"
"Omong kosong! Madara tidak mungkin memiliki keturunan!"
Zetsu menolak keras, sepengetahuannya Madara tidak pernah berhubungan dengan perempuan, sangat kecil kemungkinannya dia memiliki keturunan yang terlibat dengan darahnya.
"Kau hanya tidak tahu, kau seharusnya menanyakannya sewaktu dia masih hidup!"
Naruto mendesah keras, dia bosan menunggu dan segera melangkahkan kembali kedua kakinya. Seolah mengabaikan keberadaan Zetsu, dia berjalan melewatinya untuk semakin masuk kedalam gua.
Namun beberapa meter dia meninggalkan Zetsu, dia segera melompat tinggi ketika merasakan tanah dibawah kakinya bergetar dan mengeluarkan sebuah Akar pohon yang seakan telah dipersiapkan untuk menusuk tubuhnya.
Masih diudara Naruto sedikit berputar dan melemparkan Kunai berlapis Chakra menembus kepala Zetsu.
TAP!
Naruto mendaratkan kedua kakinya, dia menepuk-nepuk debu di pakaiannya sambil menatap tubuh Zetsu yang terbaring ditanah.
"Tsk, sambutan yang sangat kasar!" Katanya sebelum dia kembali melanjutkan perjalanannya.
Sampai didalam gua, dia bisa melihat ruangan luas yang menyaingi Training Ground 7 di Konoha, dia juga melihat sebuah tunggul pohon besar dengan singgasana Kayu tua teronggok disudut ruangan. Mengabaikan itu, Naruto terus maju menuju sebuah koridor sempit dan berbelok kekiri untuk berhadapan langsung dengan pintu batu dengan sebuah segel diatasnya.
"Kai!" Naruto melepas segel Ram untuk menonaktifkan segel. Setelah segel lenyap, dia membanting Rasengan kepintu batu untuk membuat jalan agar dia bisa masuk kedalam ruangan rahasia tersebut.
"Sialan Madara! Jadi dia yang telah mencuri semua Fuinjutsu Uzumaki?!" Naruto menderu, kedua matanya menatap ratusan perkamen yang tersaji di puluhan rak didalamnya.
Dalam ingatan Madara, setelah kehancuran Uzushio dia mencuri semua Fuinjutsu Uzumaki untuk menghindarkan para Uzumaki tersisa untuk akhirnya mempelajari dan memungkinkan mereka menghalangi rencananya. Naruto harus mengakui bahwa siasatnya berhasil, karena ketika dalam perjalanan 3 tahunnya bersama Jiraiya, dia dan gurunya itu sempat mengunjungi Uzushio dan tidak menemukan apapun kecuali reruntuhan bangunan yang tak berguna.
Tidak menunggu lama, Naruto langsung mengambil semua perkamen yang ada didalam ruangan tersebut. Menyegelnya di sebuah perkamen besar, setelah itu dia melakukan segel perpindahan untuk membuat perkamen besar itu ditransper ke segel penyimpanan Naruto yang asli.
Setelah mengosongkan ruangan itu, Naruto lekas keluar dan kembali berjalan menyusuri lorong untuk sampai disebuah ruangan rahasia lainnya. Melakukan hal yang sama seperti sebelumnya untuk menghancurkan pintu, Naruto kembali memasuki ruangan tersebut.
Kedua matanya menatap takjub ruangan itu. Dia bisa melihat dinding ruangan dipenuhi oleh berbagai senjata seperti kapak, palu berduri, tombak, rantai berduri, pedang, kunai, shuriken, fuma shuriken dan beberapa armor perang berwarna merah. Namun yang membuatnya tertarik adalah sebuah Nodachi yang berdiri berdampingan dengan Gunbai Madara.
Naruto menghampiri Nodachi itu, meraihnya dan melepas sarung untuk melihat bilah tajamnya.
"Izuna." Dia membaca tulisan disamping bilah tajamnya untuk memastikan kembali ingatannya tentang pemilik sebenarnya dari Nodachi tersebut.
Tidak membuang waktu, Naruto kembali menyarungkan Nodachi dan segera melakukan segel perpindahan untuk mentransfer Nodachi tersebut ke Naruto asli.
"Tugasku sudah seles-"
"Siapa kau?!"
Naruto menoleh dan mendapati sebuah pusaran yang beriak membentuk wujud seorang laki-laki bertopeng.
"Oh, hai Obito?" Dia menyapanya sambil tersenyum. "Aku bertanya-tanya tentang ketiadaanmu disini, apa kau masih sibuk mengurusi kelompok kecilmu itu?" Tanya Naruto retoris. "Jangan sibuk bertanya padaku, kau bisa mendapatkan jawabannya dari Zetsu! Dan,,," Naruto berhenti sejenak, dia memiringkan kepalanya sambil tersenyum polos menatap Obito. ",,,Jauhkan bocah ingusan Akatsuki dariku karena aku tidak akan segan membunuh mereka semua, termasuk juga dirimu sendiri!"
PYAAAR!
Selesai dengan itu tubuh Naruto terpecah meninggalkan darah yang berceceran dipermukaan tanah.
Line Break-o
"Naruto-san, ada apa?"
Naruto tersadar, dia menoleh menatap Juri yang sedang membantunya memakaikan Kimono jenis Kinagashi.
"Tidak, aku hanya sedikit melamun!" Naruto menggelengkan kepalanya sambil tersenyum meyakinkan Juri.
Salah-satu Chi Bunshinnya telah menyelesaikan tugas, untuk selanjutnya Naruto tinggal memeriksa kembali apa yang telah Bunshin kirimkan ke segel penyimpanannya.
Juri menganggukan kepalanya dan kembali meneruskan kegiatannya merapihkan bagian Kimono Naruto.
"Tolong angkat tanganmu sedikit!" Naruto menuruti instruksi itu, memberikan sedikit ruang untuk Juri melakukan sentuhan akhir dengan mengikatkan Obinya. "Sudah selesai!" Juri berseru senang sambil tangannya menepuk-nepuk kain Kimono Naruto untuk merapihkannya.
"Terimakasih,,," Katanya sambil menunduk menatap Juri yang lebih pendek darinya.
"Tentu saja, Naruto-san!" Juri menanggapi dengan tersenyum menganggukan kepala.
"Tidak. Panggil aku Naruto-kun, Juri-chan!" Tuntutnya membuat Juri sedikit blushing.
"N- Naruto-kun?"
"Ya, itu lebih baik!" Naruto sedikit menunduk untuk mengecup keningnya. "Pelayananmu sangat baik, kau sudah membuktikan bahwa kau sudah pantas disebut wanitaku!" Katanya menatap kedua mata Juri, semakin menunduk untuk menginginkan mengklaim bibirnya.
"Ehem,,," Mendengar suara deheman Naruto berhenti dan kembali mengangkat kepalanya, dia menoleh dan menemukan Kimiko berdiri diambang pintu. ",,,Sudah hampir jam 7, sebaiknya kalian cepat pergi agar tidak ketinggalan acaranya!"
"Malam ini masih panjang, Baa-chan! Kita tak perlu terburu-bur-"
"Ya, malam ini adalah malam yang sangaaaaat panjang untuk setiap pecinta didesa ini!" Sindirnya, meskipun begitu tatapannya terlihat sendu karena sedikit mengingat kebersamaannya dulu bersama suaminya. "Jika kalian datang terlalu malam, kalian tidak akan bisa menikmati seluruh festival ini, kalian tahu maksudku!"
Juri blushing menyadari maksud dari Kimiko. Sudah jadi pengetahuan umum jika setiap pasangan hanya bisa menikmati festival sampai jam 9 atau 10 malam, dan sisa malamnya setiap pasangan akan habiskan didalam ruangan pribadi mereka sendiri.
"Aaaa, aku mengerti!" Naruto berseru dengan nada sedikit mencicit.
"Kau masih terlalu muda untuk menjadi seorang Ayah, jadi,,," Kimiko menatap penuh arti kearah Naruto. ",,,Kalian tahu apa yang bisa kalian lakukan untuk mencegah itu!" Selesai dengan itu, Kimiko berbalik dan beranjak pergi meninggalkan pasangan muda itu yang masih termanggu ditempatnya.
'Tsk,,,' Naruto mendecih menanggapi pernyataan itu. ',,,Tidak peduli, aku bisa memasang Fuin untuk mencegah sel spermaku aktif!'
"Kita pergi, Juri-chan!" Naruto mengulurkan tangannya yang langsung diterima oleh Juri.
Pasangan itu berjalan berdampingan keluar kamar Naruto, mendapati Kimiko yang terduduk menghadap jendela Naruto langsung melepaskan kaitan tangannya untuk menghampiri tempat Kimiko. Dia sedikit membungkuk didepannya, tersenyum dan mengecup sayang keningnya.
"Aku menyayangimu, Baa-chan!"
Kimiko terenyuh, kedua matanya tergenang dan mencoba bertahan untuk tidak menangis.
"Aku juga menyayangimu!" Kimiko mengelus sayang pipi kanan Naruto dan melepaskan kembali untuk mengembalikannya pada Juri. "Tolong, hargai dia malam ini Juri-chan!"
"Pasti." Juri menerima Naruto kembali ditangannya, dia tersenyum dan menganggukan kepalanya kepada Kimiko.
Kimiko beranjak bangkit dari kursinya untuk mengantar pasangan muda itu kepintu rumahnya. Kimiko menatap punggung pasangan muda yang perlahan menjauh meninggalkan rumah, melambaikan tangannya dengan wajah tersirat ketabahan melepas cucunya yang akan menjajaki jalan kedewasaan.
TO BE CONTINUED
oooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo
Uchiha Naruto: Usia masih sama 17 tahun, visual Madara dengan warna mata yang berbeda (Mata Naruto), rambut potongan sebahu (Karena rambut panjang sepunggung sudah dipotong), keterampilan Ninja tinggal diasah saja (Membiasakan diri dengan keterampilan Madara) dan Sharingan tentu saja milik Uchiha Madara (Untuk Rinnegan belum terbangun).
Naruto ternyata tidak menyadari jika festival Shugaku-sai itu juga merupakan upacara kawin untuk seluruh pecinta di Tanigakure. Well, biarkan dia terkejut ketika akhirnya menyadari itu!
Masa 8 tahun sebelum PDS, kalian bisa menghitung sendiri dan menebak alur yang aku mainkan difanfic ini!
Konfrontasi Naruto-Obito telah dimulai, biarkan aku menyimpan acara utama untuk nanti!
UNTUK GUEST DENGAN NAMA TDA: LU IDIOT YA? KAGAK TAHU MAKNA CATATAN DIBAWAH CERITA? AH, READERPEMULA NIH!
Terimakasih untuk rev, fav dan follnya. Saranku, jangan ragu membuang waktumu untuk meninggalkan jejak dikolom review!inggalkan jejak!
