A/N : Makasih yang udah ripiw :3 Upan terhura, huhuhu ~ Gomen ne, lama banget dari satu chap. ke chap. lainnya ~ Hope you Enjoy, minna!

Warning : I will pour my wild imagination on my story.

EYD parah, AU, Sho-ai, Yaoi, BL, SasuNaru, Typo(s), Non-Canon.

Rated : T

Genre : Humor / Romance / Friendship / General

: Disclaimer :

NARUTO by Masashi Kishimoto

Okay! Yes I'm jealeous! by Upan no Kitsune

Arigatoo (-/\-)


Warning : This is the remake (adaptation) of novel HEY! YOU! I read the works of Pelangi Tri Saki –senpai which I edited in such a maner and her character I replace it with anime character NARUTO belongs to Masashi kishimoto-sensei. Hope you enjoy what I have proposed in this ficton. Arigatoo (-/\-)


"Ohayoo, minnaaa !" Suara naruto menggelegar seantero kelas "Ohayoo, naru-chan/naru" Jawab seisi kelas. Kenapa mereka begitu antusias terhadap nauruto? Hey, bayangkan saja oleh kalian. Naruto telah di nobatkan oleh para fujoshi dan juga seluruh seme di KHS sebagai uke terimut, termanis, terperpek lah pokoknya. Bagaimana dengan para uke lain? Tentu saja mereka tidak mempersalahkan itu karena mereka semua satu kubu atau persatuan dengan naruto, dan mereka memang mengakui tanggapan dari para seme, fujoshi, pedopil, de-el-el bahwa naruto memanglah bisa di katakkan sempurna untuk ukuran uke.

"Naru! Hari ini kau duduk denganku ya?" ucap pemuda bersurai coklat jabrik dengan tato segitaga terbalik di kedua pipinya. Inuzuka Kiba.

"Eh? Baiklah, kurasa si teme itu tidak mempersalahkan nya" acuh Naruto dan mendudukan dirinya di sebelah sahabat pecinta anjingnya itu.

"Hey! Kita disuruh ke lapang untuk lihat peserta MOS dan membantu OSIS" teriak Lee dari pintu kelas.

Semua murid kelas XI-E langsung berhamburan keluar melihat adik-adik kelas mereka yang akan menjadi peserta ospek tahun ini. Mendengar kata ospek Naruto kembali mengingat masa dimana waktu pertamakali mereka mengikuti ospek untuk masuk KHS.

Bayangkan saja dulu mereka di suruh untuk membuat lagu, puisi, surat, atau pernyataan cinta yang lainnya untuk para kakak-kakak OSIS sebgai ujian atau cobaan ospek yang di berikan. Pada saat itu Naruto membawakan lagu Mine milik Petra Sihombing. Ia memilih Shizune sebagai kakak OSIS yang menjadi sasaran tantangan ospeknya. Karena hal itu, satu sekolah menjadi heboh dan menggoda shizune selama masa ospek berlangsung.

"Baiklah adik-adik sekalian! Selamat datang di Konoha High School. Mulai hari ini kalian akan diuji apakah kalian pantas menjadi murid di KHS atau tidak. Masa Orientasi Siswa ini akan berlangsung selama satu minggu ke depan!" Teriak neji selaku ketua OSIS di KHS.

Sekarang semua sudah berada di lapangan. Semua acara di lakukan dengan mulus tanpa hambatan. Mulai dari upacara bendera yang di lakukan oleh para anggota PASKIBRA. Demo eskul dan organisasi. Sampai penyerahan jabatan ketua OSIS dan wakil. Menurut hasil vote yang ada sudah di pastikan bahwa sasuke resmi menjadi ketua OSIS dan shikamaru sebagai wakilnya. Acara hari itu di akhiri oleh pidato kepala sekolah, Tsunade Senju.

Sekarang waktunya istirahat. Semua murid KHS langsung mengerubungi kantin bak seorang dhuafa yang rebutan sembako. Terdengar juga suara jeritan-jeritan nurani yang meracau di dalam kantin..

"Jii-san aku ingin roti."

"Ayame-nii ramen ku mana? Cacing di perutku bisa memakan usus dan lambungku nanti."

"Hey! Jangan injak kaki ku!"

"Baa-chan cilok 5 yen."

"Yo dipilih-dipilih-dipilih 10 tiga 10 tiga 10 tiga."

"jangan dorong-dorong dong!"

"Ittai!"

"Was awas was awas aku mau lewat."

"Lihat! Berita terbaru, Herp masuk jurusan sastra seni di S3 lho!"

"Astaga, jangan makan seperti itu baka!"

Dan teriakan serta racauan lainnya. Berbeda dengan duo sahabat ini. Mereka asik memakan makanan yang sudah di pesan sejak awal yakini, ramen dengan orange juice dan beef yakiniku di temani milkshake strawberry yang membuat rasa panas hari ini sedikit berkurang.

"Gila, gak nyangka shikamaru yang segitu malesnya bisa jadi wakil ketua OSIS." ringis pemuda berambut coklat dengan tato segitiga di kedua pelipisnya. Naruto tak menyahuti teman sekaligus sahabat sejak smpnya itu. Sesekali ia menyeruput orange juicenya. Namun, matanya sibuk mengamati seorang lelaki yang saat itu memasuki kantin dengan sejuta pesonanya. Kening lelaki di hadapan naru berkerut heran. Kepalanya pun menoleh, mengikuti arah pandang Naruto. Setelah tahu apa yang telah menyedot perhatian di pirang, pemuda itu menghela napas jengah sembari menggeleng pasrah.

"Astaga, Nar.. Naruto? Kau tuh ya kalo udah negliat Sasuke kayak orang yang haus darah tau!"

Naruto memutar matanya, "Kiba denger ya. Sudah ku bilang aku di suruh mengawasinya. Aku di suruh melakukan itu oleh fugaku dan mikoto ba-chan okey?"

"Di suruh atau memang kau yang dengan suka rela menawarkan diri. Aku tidak peduli, yang jelas kalau aku sedang komen atau ngomong dengar gitu lho" cibir kiba.

"Woy, gak usah sok nasihatin deh. Disana juga ada Shikamaru, jadi gak usah dramatisir" malas adu berbicara dengan sahabatnya itu Naruto lebih memilih menghabiskan makanannya.

Perlu kalian tahu, sebenarnya naruto sudah memiliki persaan pada Sasuke sejak mereka duduk di bangku kelas VII dulu. Tapi tentu kiba sebagai sahabat karibnya mengetahuin akan hal itu. Dia juga sedikit kesal bila di tanya apakah Naruto suka pada Sasuke dan Naruto selalu menjawab, "H-hey, aku dan dia hanya sahabat sejak kecil". Walau sangat tertera jelas pada ekspresi wajahnya yang memerah dan gugup bahwa ia menyukai sasuke.

"He, Teme! Shika! Sebelah aku dan Kiba masih kosongggg!" teriak naruto.

"Naruto! Apa yang kau lakukan baka!" Kiba panik.

"Hn." oke sebenernya Upan males kalu Sasuke cuma jawab kek gini .-.*amaterasu*

"Ck, mendokusai." ini juga sama aja! -,- *kagemane*. Shikamaru maen ngambil dan minum milkshake kiba "H-hey apa yang kau lakukan?!" Kiba murka dan langsung menerjang Shika lalu di kuliti, di cincang, di bulat-bulat, di celupi dalam telur, di masukin ke tepung roti, di goreng, lalu di kunyah, di telan, di muntahkan lagi, di masukan dalam blender, di tuang ke gelas, di minum, terakhir di semburkan.

\(-.-)/\(-.-)/\(-.-)/

"Nar..narutooo-kunnnnnn.." panggil seorang laki-laki bermata bulat dan berambut mangkok dari arah pintu kantin.

Naruto dan Kiba sama-sama menoleh ke asal suara dan mendapati lee terengah-engah mengghapiri mereka.

"Ada apa sih Lee? Kau mengganggu waktu istirahatku." Naruto malas.

Lee langsung menjawab dengan semangat masa muda yang ia miliki "Naruto-kun kau di suruh ke halaman belakang sekolah olehh kakak kelas." Lee tampak begitu serius layaknya menyampaikan amanat Negara. Kiba dan Naruto saling pandang. Naruto hanya mengangkat bahu, tanda ia juga tak menegerti.

"Kakak kelas siapa?" tanya kiba.

"Ya kakak kelas kita lah" jawab Lee polos.

Kiba memutar bola matanya sebelum menghujam ucup dengan tatapan tajam. "Maksud ku namanya siapa, Lee tamvann.." tutur kiba gemas. Lee yang baru pertama kali di puji tamvan oleh seseorang malah senyam-senyum gaje dan berbinar, mengabaikan tatapan sengit nan mematikan yang di berikan Shikamaru yang sudah seperti ingin mengeluarkan laser bak supratman. Kiba bergidig ngeri.

"Istigfar, Lee.." emang kiba orang islam? *bletak*

"Jadi siapa yang memanggil ku, Lee?" Naruto mengulangi pertanyaan kiba, membuat Lee akhirnya bisa kembali berkonsentrasi.

"Eh? Ehm, itu.. aku tak tau, Naruto-kun. Aku tak sempat bertanya siapakah nama kakak kelas yang telah memanggil dikau" jawab Lee takut-takut.

Naruto bangkit dari duduknya. Dan langsung beranjak ingin pergi. Kiba ikut bangun.

"Mau apa kau?" Tanya naruto heran.

"Tentu saja meminta uang untuk membayar makanan mu, Naru sayangggg" Kiba mengetuk-ngetuk unung telapak muka, eh, kaki nya. Naruto nyengir kuda, mengangkat telunjuknya dan mengarahkannya pada Sasuke. Mengerti maksud naruto, ia langsung berbalik menatap Sasuke. Merasa di tatap Sasuke menoleh.

"Apa?" Jawabnya dengan muka bingung berlapis stoic dengan krim semangka di tengahnya. Kiba melirik naruto yang ada di belakangnya yang semakin menjauh. Sasuke loading…

Satu detik..

Dua detik..

Tiga detik..

Empat de..

"Wanyeng syalan kau semvak fir'aun.." Teriak sasuke se-OOC mungkin.

\(-.-)/\(-.-)/\(-.-)/

Di halaman belakang sekolah,

Naruto mendapati 3 orang kakak kelas perempuan dengan seragam berantakan ala cewek gaol di sinetron sedang menunggunnya. Sebelah alis naruto terangkat melihat penampilan cewek-cewek itu. Gimana sih? Gimana mau jadi contoh kalau baju ke sekolah aja gak becus? Protes naruto, dalam hati tentu.

"Permisi, senpai. Para senpai memanggil saya?" tanya Naruto sopan.

Salah seorang yang berpakaian paling seksi melangkah mendekati Naruto hingga jarak antara mereka tak lebih dari sepuluh senti. Sayangnya, tubuh Naruto yang lebih tinggi di banding ketiganya membuat cewek itu harus mendongkak. Posisi itu jelas kurang cocok untuk seseorang yang berniat mem-bully adik kelasnya.

But show must go on, right?

"Jadi ini yang namanya Uzumaki Naruto, eh? Cih tampang begitu aja sok. Woy ngaca! Gak pantes tau!" seru cewek itu sewot dengan tatapan meremehkan.

Sekali lagi Naruto menaikan alisnya, memandang datar kakak kelasnya itu. Sama sekali tak ada ketakuan tersirat di wajah Naruto. Ia tak merasa terintimidasi sedikit pun. "Maaf, tapi ada apa apa ya senpai memanggil saya kemari?" tanya naruto bingung.

"Jauhin Uchiha Sasuke atau besok kau tak kan bisa melihat cerahnya matahari pagi" ancam sang senior. Satu hal lagi, meski hampi 97 persen adalah seorang gay dan fujoshi tapi tidak memungkin kan kalau tidak ada yang membenci hal itu kan? Bahkan sebenarnya ada kalangan khusus di sekolah (3 persennya itu) sebagai heaters.

Tapi, mereka tidak melancarkan aksinya di depan public karena kalau sampai ketahuan mereka bisa babakbelur sampai di keluarkan sekolah. Karena, kepala sekolah sekaligus pemilik sekolah adalah baa-chan dari si pirang dan pemilik Uzusen Corp.

"Eh? Apa yang dimaksud dengan senpai, saya tidak mengerti." jawab naruto jujur.

"Jangan pura-pura bego deh." ujar senior beraambut coklat pendek.

"Iya, kita tau kok. Dari sejak masuk tuh kalian deket banget, pokoknya mulai sekarang lu jauhin dia atau abis kau dengan kita bertiga." ucap senior yang di kuncir empat.

"Senior-san yakin? Aku sabuk hitam taekwondo loh." Naruto sebenarnya tidak suka memamerkan kehebatannya seperti ini. Tapi, kalau situasinya seperti ini maka mau tidak mau dia harus member peringatan sebelum ada kobra, eh, korban.

"Te-terus kenpa emangnyakalau kau bisa taekwondo. Ada masalah apa?" tanya senior yang seksi, walau semua seniornya memang seksi sih tapi ini yang paling seksi.

"Apa tidak apa-apa jika teradi sesuatu pada senpai?" lang naruto dengan muka datar sedatar silet! *plakk*

"Apa maksud ekspresimu itu?! Kau merendahkan kami ya?" jutek senior berambut pendek. Naruto tetap setia dengan ekspresinya yang sedatar si- *di bekep*. Semua senior itu saling pandang dan mengangguk seolah biacara dalam bahasa isyarat yang tidak di ketahui, Naruto mengangkat kembali alis kuningnya. Setelah hening cukup lama, dua kakak kelas berdiri di kedua sisi tubuh Naruto dan mulai menyerang bagian sensitive tubuhnya hingga ia mendesah dengan sangat erotis dan menggai-, ralat salah dialog, hingga ia tertawa terpingkal-pingkal.

"Aduh! Hahaha… am.. hahaha..pun, sen.. senpai.. haha.. ampun" Naruto tertawa sambil menggeliat mencoba meloloskan diri dari serangan kedua senior.

Si senior seksi tertawa puas setelah akhirnya mengetahui kelemahan Naruto, meski awalnya hanya tebakan asal-asalan mereka. Namun ternyata naru sampai tersungkur karena kegelian sementara kedua senior yang menyerangnya belum menunjukan tanda-tanda akan berhenti.

"Mengaku kalah kan kau, Uzumaki? Hanya di kelitikin seperti ini saja sampai segitunya. Jangan sok bisa taekwondo kalau begini saja K.O.," cibir senior seksi yang berdiri di depan tubuh naru.

"Menyerahlah! Dan jauhkan saskey untuk selamanya!" perintah gadis itu. Naruto masih tertawa dan berusaha melepaskan diri. "Hahaha... oke, hahaha aku akan nyerah, senpai. Tapi aku… nggak bisa jauh… hahaha.. dari Sasu Teme."

"Wah ini anak keras kepala juga rupanya."

Senior seksi itu membungkuk, memperhatikan tiap detail tubuh naru. Matanya menyipit saat melihat sesuatu yang melekat di kakai naru. Levih tevatnya, vada sevatu yang divakai (re: ngapa jadi 'V' author peak) Naruto. Sepatu itu memang sepatu Converse biasa, namun ada yang tak biasa pada ukiran di sepatu itu. Cewek itu memperhatikan lebih seksama dan amarahnya seketika meledak saat menyadari apa yang terukir di sana. Sang senior langsung dengan kasar merampas sepatu naru yang bertuliskan nama 'U. Sasuke' dan tampa ampun melemparkannya ke atap sekolah.

"Senpai! Berani sekali kalian!" Teriak Naruto berang. Ia sudah berhenti terawa dan kini wajahnya memerah karena marah. Sepatu itu adalah kado dari Sasuke waktu ia lulus dengan nilai sempurna dulu. Barang sederhana itu adalah harta karun Naruto yang ia jaga sepenuh hati. Ketiga senior itu kini berdiri tegap –sudah selesai menggelitik Naruto- dan tertawa remeh padanya. Naruto memandang sedih ke atap sekolah. Lalu dengan geram ia beralih menatap ketiga seniornya itu.

"Kalian keterlaluan." ujarnya dengan nada datar yang tajam dan menusuk.

Tawa ketiganya itu justru semakin keras melihat ekspresi Naruto. Mereka bersedeka, menatap Naruto dengan berani.

"Itu untuk kelancangan kau karena sudah berani menentang perintah kami." jawab si kuncir empat.

Naru mendengus marah. Dadanya naik-turun dengan cepat, namun itu tak membuat para senior di hadapannya menyadari kesalahan mereka. Naruto mengedarkan pandang dan mendapati ada tangga kayu di dekat mereka. Tanpa piker panjang atau pun repot-repot pamit apalagi sungkeman, ia mengambil tangga itu dan menyandarkannya di tempat si senior melemparkan sepatunya tadi. Tanpa ragu dan takut ia menaiki tangga itu dan langsung menemukan sepatunya disana.

Naru tersenyum senang. Kelegaan membanjiri hatinya seolah telah menemukan toilet ketika kebelet bok*r. Namun kesenangan itu tidak berlangsung lama. Ketika berbalik, ia mendapati tangganya telah hilang. Ia melongok (?) ke bawah terlihat senior-seniornya sudah membaringkan tangga di lantai. Mereka tertawa-tawa tanpa belas kasihan sedikitpun. Sudah ia coba untuk meminta mengembalikan tangganya tapi yang ada mendapat jawaban, "Disitu aja berjemur nyampe kering". Na'as sekali.

"Yah.. setidaknya sepatu ini tak sampai hilang." ujarnya pelan sambil tersenyum lembut.

Sudah satu jam Naruto duduk di sana terbakar langsung oleh sinar matahari langsung bertengger di tengah langit siang yang angat panas. Sasuke merasa bingung mengapa Naruto belum juga kembali ke kelas, bahkan ia sudah melewatkan setengah pelajaran biologi. Sasuke minta izin ke toilet pada kurenai-sensei untuk melihat keadaan Naruto.

"Dobe. Sedang apa kau disana." teriak sasuke dengan suara baritone beratnya yang membuat cewek klepek-klepek.

"Teme!" jerit Naruto sambil tersenyum penuh kelegaan ketika melongokan kepalanya ke bawah.

"Aku tanya kau sedang apa di situ, baka. Bukan nya kembali ke kelas kau malah asik berjemur di situ." ujar Sasuke datar namun terdengar nada khawatir di dalamnya.

"Ini semua kerjaan penggemar mu." jawab naruto kesal.

"Untuk apa kau naik ke sana, dobe. Dan naik apa kau kesana?"

"Mengambil sepatuku yang tadi di lempar ke atas ini. Naik tangga lah yakali terbang"

Sasuke menghelan nafas frustasi, "Mana tangganya?"

"Mana ku tau, di bawa oleh cewek-cewek itu tadi kali."

"Ya sudah tunggu. Akan ku carikan tangganya dulu."

"Gak usah, kelamaan! Udah jadi ikan asin kalo lebih lama lagi! Aku loncat aja!"

Sasuke langsung melotot mendengar yang di katakana pemuda pirang itu, "Hey dobe aho baka! Apa kau sudah gila?! Kaki kau patah kalau loncat dari sana!"

Tak menggubris omelan itu, Naruto tetap nekat melompat, memaksa Sasuke menangkapnya. Pemuda itu memejamkan mata, bersiap mendarat dan mendapat rasa sakit yang tidak bisa terbanyang oleh dirinya sendiri. Saat masih kecil dulu, Naruto pernah jatuh dari pohon dan rasa sakitnya seolah masih bisa ia rasakan hingga saat ini. Sejak itu pula Naruto enggan naik apapun yang bisa membuatnya jatuh. Kalau harus naik pesawat pun, ia harus minum antimo dulu biar teler.

Naru menunggu-nunggu saat ia akan mersakan sakit itu. Tapi hal itu tak kunjung datang.

"Mau sampai kapan kau akan menutup matamu itu, dobe." Suara sasuke terdengar begitu cool.

TBC

.

.

.

A/N : Yatta.. selesai juga chapter ini, btw gomen ne kalau banyak kesalahan, typo, huruf kebalik, dsb. Upan ngetik ini 2 jam tanpa di edit dan baca ulang, jadi sekali lagi gomen ne, minna.. chapter selanjut nya akan lebih seru rapi dan geregatan di banding ini. Jadi ikuti terus cerita nya kalau ingin tahu ending nya XD :V.

\

\

\

\

\

MIND TO RIVIEW OR FLAME ?