NARUTO FANFICTION

Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Warning : Typo and OOC

Pairing: NaruHina

goGatsu no kaze present

-LETS PLAY TOGETHER, DAD-

"Hide and Seek"


Hari Minggu yang cerah di kota Konoha. Naruto masih berkutat dengan laptopnya, sedangkan Hoshi sedang bermain dengan robot-robot mainannya. Hinata yang saat itu ingin menyiapkan makan malam menghampiri mereka. Ia melihat Hoshi di ruang tamu sendirian tanpa ditemani Naruto. Ia lalu ke ruang kerja suaminya itu. Benar saja, ia masih sibuk dengan pekerjaannya.

Hinata berdeham sedikit, Naruto tak bereaksi. Ia masih asyik dengan laptopnya. Lalu Hinata sedikit mendekat ke pria yang ia nikahi lebih dari empat tahun lalu itu. Ia berdeham sekali lagi, namun reaksi Naruto masih sama. Wanita itu gemas sendiri, "Naruto!" panggilnya.

Kali ini usahanya berhasil. Naruto menengok ke arahnya. Namun hanya sebentar, lalu kembali lagi ke laptopnya. Hinata yang merasa kesal lalu menutup layar laptop Naruto. Pria blonde itu kaget dengan perlakuan istrinya. Hinata yang biasanya lemah lembut padanya kenapa seperti ini?

"Ada apa, Hinata?" tanya Naruto. Hinata justru menatapnya tajam. Naruto berpikir pasti ia telah melakukan kesalahan hingga istrinya menjadi seseram ini. "Ka-kau kenapa, Hi-Hinata?"

"Kenapa kau masih kerja di hari libur, anata?" Hinata memberi penekanan pada kata terakhirnya. Naruto menelan ludahnya, takut. Istrinya sedang berada dalam mode devil saat ini.

"Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan sekarang, Hinata. Besok akan di-" Hinata langsung menarik tangan Naruto, membawanya ke ruang tamu.

"Kau tak lihat?" Hinata menunjuk Hoshi, "Hoshi bermain sendirian. Bukankah kemarin kau berjanji padaku untuk menemaninya bermain?" ia terus mengomeli Naruto. Hinata memang akan mengeluarkan aura hitamnya kalau sudah menyangkut dengan Hoshi.

Naruto benar-benar lupa dengan janjinya dengan Hinata kemarin, "Baiklah, baiklah. Aku akan mengajaknya main."

Wajah seram Hinata kini berganti dengan wajah malaikatnya. Ia tersenyum manis sekali, "Bagus kalau begitu. Aku mau buat makan malam dulu. Bermainlah dengannya."

Naruto memang paling lemah dengan senyuman Hinata. Langsung saja diciumnya pipi Hinata singkat. Hinata yang diperlakukan seperti itu wajahnya sontak memerah. Ia menepuk bahu Naruto pelan dan meninggalkan Naruto di ruang tamu agar bisa menemani anaknya, Hoshi.

"Hoshi, mau temani ayah?" Hoshi yang dari tadi sibuk dengan robot-robot mainannya langsung menoleh ke Naruto.

"Tou-chan mau kemana?"

"Ayah mau ke taman dekat rumah kita. Kita main disana, bagaimana? Kau mau?"

Hoshi mengangguk semangat, "Hoshi mau!" ia lalu melompat-lompat kegirangan. Naruto yang melihatnya tersenyum senang.


-LETS PLAY TOGETHER, DAD-


Naruto menggandeng tangan mungil Hoshi agar ia tak berlari kemana-mana. Ia belajar dari pengalamannya ketika mengajak Hoshi ke taman. Berkali-kali ia harus meminta maaf dengan pengendara sepeda karena Hoshi hampir tertabrak yang disebabkan oleh ulah anak itu sendiri. Ketika ia ditanya kenapa pergi kejalur sepeda, Hoshi dengan polosnya berkata, "Aku mengejar kupu-kupu." Padahal kupu-kupu di taman itu sangat banyak dan tak hanya di jalur sepeda saja. Namun entah mengapa Hoshi senang sekali mengejar kupu-kupu yang berada di jalur sepeda. Mungkin ada tantangan tersendiri buatnya.

Mereka kini telah sampai di taman. Karena hari sudah sore sudah tak banyak orang yang ada disana, "Hoshi, kau mau main apa?" tanya Naruto.

Hoshi lalu berpikir permainan apa yang ingin ia mainkan, "Main lompat tali!" jawabnya riang.

"Hoshi, kita tak membawa tali. Bagaimana kalau kita main petak umpet saja?" tawar Naruto.

Hoshi langsung menunjukkan wajah bingung yang menurut Naruto sangatlah menggemaskan, "Petak umpet? Apa itu?"

"Petak umpet itu sejenis permainan yang dimainkan dua orang atau lebih. Kita janken, lalu yang kalah menjadi setannya."

"Setan? Mengerikan sekali,"Hoshi lalu memasang tampang takut.

"Ini tidak mengerikan, Hoshi. Tapi menyenangkan. Yang menang bersembunyi ketika setan mulai berhitung. Setelah hitungan selesai, setan langsung mencari orang yang bersembunyi," jelas Naruto. Hoshi hanya mengangguk-angguk, entah ia mengerti atau bingung. "Baiklah, kita tidak perlu janken. Ayah yang pertama jadi setannya. Hoshi harus bersembunyi ketika ayah berhitung," Hoshi kembali menganggukkan kepalanya.

Naruto lalu mulai menutup matanya dan menghitung sampai dua puluh. Sedangkan Hoshi sibuk berlari kesana kemari mencari tempat persembunyiannya. Anak itu lalu melihat semak-semak yang menurutnya bisa menyembunyikannya dari pencarian ayahnya. Dengan cepat akhirnya Hoshi bersembunyi di semak-semak itu.

"...Sembilan belas, dua puluh. Siap tidak siap, Hoshi akan ayah tangkap," Naruto lalu membuka matanya. Matanya berkeliling mencari tempat Hoshi bersembunyi. Ia lalu sedikit berpikir tempat dimana biasanya anak kecil akan menyembunyikan tubuhnya. Ia lalu menemukan jawabannya. Biasanya anak-anak akan bersembunyi di tempat yang bisa ia jangkau.

Naruto lalu mulai berkeliling taman itu. Ia mulai menyusuri mulai dari seluncuran hingga tong sampah. Tak jauh dari sana adalah semak-semak tempat Hoshi bersembunyi, namun Naruto belum sempat memeriksanya. Hoshi bisa melihat ayahnya yang sedang berkeliling mencarinya dari celah semak-semak. Ia terkikik pelan sambil menutup mulutnya. Ia berpikir kalau ia berhasil bersembunyi dari ayahnya.

Hoshi tak menyadari kalau bagian bawah tubuhnya telah dikerumuni semut merah. Semut itu adalah jenis semut yang suka mengigit. Ia lalu merasakan gigitan kecil yang membuatnya terkejut. Ketika ia lihat, kakinya sudah terdapat banyak semut merah. Sontak saja ia berdiri untuk mengusir semut itu dari kakinya. Naruto yang mendengar suara ribut itu langsung menolehkan kepalanya ke sumber suara. Ia melihat kalau disana Hoshi sedang melompat-lompat sambil mengibas-ngibaskan tangannya.

Naruto langsung saja melangkahkan kakinya ke tempat Hoshi berdiri, "Hoshi, kau ketemu!" ia lalu menggendong anak itu dan membebaskannya dari kepungan semut merah yang mengigitinya.

"Hoshi, kalah," ucapnya kecewa, "Kalau begitu sekarang tou-chan yang bersembunyi. Hoshi akan jadi setannya," anak kecil berambut blonde itu langsung menutup matanya dengan kedua tangannya dan berhitung, "Satu, delapan, lima, dua, sembilan..." terdengar suara hitungan Hoshi yang kacau. Maklum ia anak umur empat tahun yang belum lancar berhitung.

Naruto langsung melihat kesekelilingnya. Ia mencari-cari tempat dimana ia bisa bersembunyi. Ingatannya langsung melayang ke masa lalu ketika ia bermain petak umpet dengan teman-temannya. Rasanya sudah lama sekali ia tak melakukan permainan ini. Lalu ia melihat sebuah pohon besar yang sepertinya bisa dijadikan tempat bersembunyi.

Ia ingin menjajal kembali kemampuan memanjatnya yang terkenal sangat handal. Ia lalu mengambil ancang-ancang untuk naik ke atas pohon. Sekilas ia melirik Hoshi yang masih menutup matanya. Dengan sekejap, Naruto berhasil naik ke atas pohon. Walaupun ingin memasuki musim dingin, pohon yang dinaiki Naruto masih memiliki daun yang bisa menutupi tubuhnya agar tak ketahuan Hoshi.

"...Sebelas, tujuh belas, empat belas, dua puluh! Tou-chan sudah sembunyi belum? Kalau sudah Hoshi cari, ya?" anak itu langsung berlari mencari Naruto di sekeliling taman.

Naruto melihat kalau Hoshi kesulitan mencarinya. Ia yang berada di atas pohon bisa dengan leluasa memperhatikan gerak-gerik Hoshi. Anak blonde itu mencari Naruto di semak-semak, di bawah bangku taman, di balik papan peringatan 'dilarang menginjak rumput', sampai di dalam tong sampah. "Tou-chan, kau dimana?!" teriak Hoshi. Naruto tertawa tertahan melihat anaknya yang kesulitan mencarinya. Sudah hampir setengah jam, namun Hoshi nampak belum menyerah mencari Naruto. Padahal hari sudah mulai senja.

Tiba-tiba muncullah kupu-kupu berwarna kuning yang menarik perhatian Hoshi. Ia yang memang gemar mengejar kupu-kupu langsung mengikuti arah terbang binatang tersebut. Di sisi lain, Naruto mengira Hoshi pergi mencarinya ke bagian taman yang lain. Jadi ia diam saja dan tak keluar dari persembunyiannya.

Hoshi masih asyik dengan kupu-kupu incarannya. Ternyata kupu-kupu itu terbang ke arah luar taman. Ia tak peduli dan terus mengejar kupu-kupu tersebut. Tiba-tiba lewatlah seseorang yang merupakan tetangga dekat Naruto. Ia melihat kalau Hoshi sedang sendirian di jalan tersebut, ia tak tahu kalau Hoshi sedang mengejar kupu-kupu.

"Hoshi, kenapa ada disini? Sudah hampir malam. Apa ibumu tak mencarimu?"

Hoshi langsung menanggapi pertanyaan orang itu, "Ayame-obaachan, aku sedang mengejar kupu-kupu," jawabnya polos.

Ayame tersenyum, ia lalu menggandeng Hoshi, "Ayo pulang, nanti ibumu khawatir," dengan muka yang berseri-seri Hoshi menganggukkan kepalanya. Ia pergi tanpa merasa kalau ia telah melupakan sesuatu.


-LETS PLAY TOGETHER, DAD-


"Arigatou, Ayame-san. Kau bertemu dengan Hoshi dimana?" Hinata menggendong anaknya yang baru saja diantar pulang oleh Ayame.

"Tidak jauh dari rumahmu, kok. Katanya tadi dia sedang mengejar kupu-kupu," Ayame mengelus pipi Hoshi yang ada di gendongan Hinata.

"Kupu-kupu?" Hinata menatap Hoshi, "Apa dia sendirian?" lanjutnya.

"Iya, dia sendirian. Hinata-san, sudah hampir malam. Aku pulang dulu. Jaa ne," Ayame pergi meninggalkan Hinata yang saat ini sedang menatap Hoshi bingung.

"Hoshi, kenapa kau sendirian? Dimana tou-chan?" Hinata mendudukkan anaknya di atas sofa ruang tamu.

Hoshi nampak berpikir sejenak, "Aku tak tahu," jawabnya dengan muka polos. Ia lalu berlari ke kamarnya. Hinata yang mendengar jawaban anaknya langsung terkejut. Padahal tadi suaminya berjanji akan bermain dengan Hoshi. Wanita berambut indigo itu berpikir kalau Naruto pasti pergi ke suatu tempat dan mengingkari janjinya.

Sementara itu di taman, Naruto masih berada di atas pohon tempat ia bersembunyi, "Hoshi, kau mencari ayah dimana? Kenapa lama sekali munculnya?" sudah kesekian kalinya ia menepuk-nepuk tubuhnya yang saat ini digigiti nyamuk. Ditambah lagi bulan ini adalah pergantian musim dari musim gugur ke musim dingin. Sudah sangat dipastikan kalau angin yang berhembus dinginnya menusuk luar biasa. Naruto yang menggunakan pakaian tipis tentu saja mengigil kedinginan.

Di waktu yang sama namun tempat yang berbeda, Hinata yang tanduk amarahnya sudah mulai bercabang menunggu Naruto di ruang tamu. Ia akan mengomeli Naruto yang meninggalkan Hoshi sendirian di luar rumah. Ia tak tahu kalau saat ini Naruto sedang melawan dinginnya malam akibat Hoshi yang meninggalkannya karena lupa kalau mereka sedang bermain petak umpet di taman. Kasihan sekali nasibmu, Naruto. Sudah jatuh tertimpa tangga!


-LETS PLAY TOGETHER, DAD-


Still To Be Continue or Not?


Holla minna-san! Apa kabarnya? Hehe

Gimana cerita Kaze yang satu ini

Cerita ini terinspirasi dari pengalaman Kaze waktu main petak umpet

Kaze belum berhasil ngembangin ide dari reader Kaze, UzuHyuuga Ucha D'SappLaven dan hanazonorin444

Gomen belum ada inspirasi pengembangan cerita dari ide kalian

Buat reader yang lain, Kaze masih nampung aspirasi kalian buat ide cerita Kaze

Semangatin Kaze terus ya buat bikin FanFic NaruHina yang lainnya

Adios!