Sasuke menatap Sakura yang sedang duduk di bangku taman sekolah. Mata hitam kelamnya menatap punggung Sakura yang sedang membelakangi dirinya. Kemudian ia berjalan mendekati perempuan itu, ia baru saja tiba ketika melihat gadis itu duduk sendirian disana.

Tanpa seizin orang disampingnya, Sasuke duduk dengan angkuhnya. Tidak peduli orang disamping dirinya sedang menatapnya dengan takut.

Sasuke tahu, Sakura sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Sesuatu yang tidak bisa diketahui oleh sembarang orang. Sasuke ingin tahu, apalagi menyangkut gadis ini. Sasuke benar-benar harus tahu.

Dari ekor matanya, Sasuke tahu kalau Sakura sedang gelisah. Ia menatap dalam iris viridian itu, dan kemudian lelaki itu menghela nafas pendek.

Dari sorot matanya saja, Sasuke tahu kalau Sakura sama sekali tidak punya perasaan yang sama dengannya.

"Hei." Sapa Sasuke pelan, tidak bermaksud mengagetkan gadis bersurai merah muda itu.

Namun nyatanya, Sakura malah terlonjak dan segera menjaga jarak dari Sasuke, membuat rambut pantat ayam ini sedikit heran. Ia menoleh, kini kepalanya sepenuhnya berhadapan dengan wajah Sakura yang sedikit merona serta ada beberapa bulih keringat di pelipisnya, tapi Sasuke tahu kok, itu bukan kegugupan dalam hal yang abstrak, melainkan Sasuke merasa kalau Sakura itu… takut padanya?

"Kenapa kemarin langsung pulang, hn?" Tanya Sasuke dingin, "Apa kau tidak tahu cara berterima kasih kemarin?"

Sasuke melihat, bahu Sakura sedikit bergetar. Perempuan itu segera menundukkan wajahnya dan memeluk buku catatannya. Membuat Sasuke jadi sedikit bersalah. Dia kan hanya ingin menegur gadis itu, kenapa sekarang dia yang jahat sih?

Perlahan, Sasuke melihat bibir mungil itu mulai bergerak. "A-Ano.. Arigatou'ne Uchiha-san…" Sakura memainkan tangannya gugup, "… Atas yang kemarin.." lanjutnya lirih.

Sasuke kembali menatap gedung belakang sekolah dihadapannya, tidak peduli lagi dengan Sakura yang masih gugup jika berada di dekatnya. "Hn, si bajingan itu memang perlu dihajar. Aku juga masih punya dendam padanya," Sasuke menyeringai tipis, "Dia itu brengsek."

"A-Aku tahu kok," Sakura menghela nafasnya pelan, kemudian menutup matanya perlahan, lalu di bukanya lagi. "Kalau U-Uchiha-san tidak ada.." lengan gadis itu pun bergetar, "Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan sekarang…"

"Kau kok jadi cengeng begitu sih?" jawab Sasuke dingin, "Itu memang wajar, kekuatanmu kan tidak sebanding dengan dia."

Deg.

Kekuatanmu kan tidak sebanding dengan dia.

A-Apa ini?

"Hentikan! Kaa-san! Tou-san! TOLONG AKUU!"

"Hahaha! Kau milikku, gadis kecil!"

"KYAAA!"

Pria… lebih kuat dibandingkan wanita…

Jika wanita melawan seorang pria, maka dengan mudahnya sang pria itu akan mengalahkan sang wanita.

Seperti malam itu.

Sakura menegakkan tubuhnya, matanya yang besar perlahan mulai mengecil, keringat mulai membasahi sekujur tubuhnya. Ia kemudian bangkit berdiri, namun ketika ia berjalan satu langkah, kedua lututnya tidak bisa menanggung beban tubuhnya sehingga ia pun terjatuh. Membuat Sasuke yang awalnya tidak menyadari pergerakannya segera menangkap tubuh mungil gadis itu.

"O-Oi! Sakura! Kau kenapa!?" tanyanya panik. Sasuke mengernyitkan alis ketika melihat wajah Sakura yang begitu pucat dibanding biasanya. Ia menepuk-nepuk pipi chubby-nya, membuat Sakura sedikit membuka matanya. Menampakkan iris hijau yang kosong. Iris emerald yang kini hampa.

Sasuke yang melihat itu hanya bisa terdiam.

Ada apa…

Ada apa dengan Sakura?

~oOo~

Hari itu Pein sedang tidak ada pemotretan. Dan sejak pagi dia tampak sibuk merapikan apartemennya yang sudah mirip kapal pecah yang di telah dipecahkan lagi.

Well, meskipun Pein seorang lelaki, tapi dia harus bertanggung jawab dengan rumah miliknya sendiri kan? Ya jadi wajar saja.

Setelah selesai merapikan ruang tamu dan ruang makan, Pein lalu membawa penyedot debu dan masuk ke kamar Sasuke. Begitu melihat keadaan kamar bernuansa biru tersebut, Pein hanya bisa menatapnya dalam keheningan. Kemudian ia berjalan memunguti pakaian Sasuke yang sudah berpencar ke seluruh sudut kamar.

"Lebih buruk," gumamnya singkat.

Tiba-tiba mata Pein tertumbuk pada selembar foto yang menyembul di bawah bantal. Ia mengambil foto itu dan memperhatikan wajah seorang gadis yang terpampang di sana. Wajahnya hanya menunjukkan kedataran sampai wajahnya sedikit tersentak ketika mengingat ia sempat melihat Sasuke mencium foto itu tadi malam.

Pein menimang foto itu sebentar. Ia menghela nafas pendek, lalu tersenyum miris, "Jadi perempuan ini yang kau maksud hm, Sasuke?" ia meletakkan foto itu di meja, "Kau sama sekali tidak tahu bagaimana kejinya hati seorang gadis." Lanjutnya sembari merapikan meja belajar milik adik sepupunya itu.

Setelah selesai, Pein menatap foto itu sekali lagi. Ia mengakui bahwa gadis yang ada di foto itu memang sangat cantik, bahkan tak kalah cantik dengan model-model yang sering difotonya.

Mata gadis itu sangat indah, bagaikan batu emerald asli yang langka, tapi tampak redup dan melankolis. Alisnya tebal, hidungnya yang pas dengan bentuk wajahnya, serta kulit putih natural tanpa cacat sedikitpun. Memang Sasuke hebat jika memilih seorang perempuan dari luar.

Dari luar, bukan dari dalam.

Tapi secantik apapun perempuan itu, Pein benar-benar tidak rela bila adik sepupu satu-satunya yang ia miliki jatuh cinta pada seorang gadis. Ia tidak rela jika Sasuke mengalami nasib seperti dirinya. Memendam sakit hati selama bertahun-tahun karena dikhianati oleh perempuan yang dicintainya.

.

.

.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Afraid © Luscania Effect

Rated T

Genre : Romance, Friendship, Family, Hurt/Comfort

Warn : OOC, bagaikan sinetron, Typo(s), AU, etc.

Pein Rikudou x Sakura Haruno

[ Pein berwujud Yahiko ]

Chapter II : Pertemuan

Don't like? Thanks and click Back Button

ENJOY!

.

.

.

.

.

Sakura menatap seorang wanita muda yang duduk di hadapannya. Wanita itu sangat cantik, usianya sekitar dua puluh lima tahun. Penampilannya penuh wibawa, dan cara berpakaiannya pun terlihat anggun.

"Konnichiwa," Wanita itu tersenyum, "Namaku Konan, Psikiater yang menggantikan Kabuto-san untuk sementara." Ia mengulurkan tangannya, memperkenalkan dirinya pada Sakura.

Sakura menyambut uluran tangannya, "Sa-Sakura Haruno.. Yoroshiku." Jawabnya pelan. Ia tampak ragu dengan wanita yang kini sedang ada di hadapannya. "A-Ano… kalau boleh tahu, Kabuto-san apa sedang keluar?" Sakura merapatkan kedua tangannya yang bertautan dan menundukkan wajahnya. Ia merasa belum terbiasa jika bukan dokter berambut putih itu yang sedang melakukan pemeriksaan terhadapnya.

Konan mengulum senyum, seakan gemas dengan tingkah lucu Sakura. "Ke Kanada. Beliau sedang menempuh S3 disana," jawab Konan. Sakura tampak ragu sesaat, jujur saja, ia belum tahu reputasi dokter wanita di depannya ini.

Seakan melihat keraguan disana, Konan tersenyum tipis, "Tenang, tidak usah khawatir, meski aku terkesan belum berpengalaman dan masih muda, aku sudah mempelajari semua rekord-mu selama empat tahun ini." Konan membetulkan posisi duduknya, "Kau juga jangan terlalu formal padaku, anggap saja kita ini teman ya. Kau bisa memanggilku apa saja," jawabnya senang.

Mendengar tuturan Konan, Sakura mengangguk samar, "Ba-Baiklah, senang berkenalan dengan Anda, Konan-neesan." Jawab Sakura, mulai sekarang atau beberapa bulan kedepan, mungkin Sakura harus berurusan dengan perempuan cantik ini. Makannya ia harus bisa mengakrabkan diri, pikirnya. "Kalau Konan-neesan tahu saya…" Sakura tampak sedikit gugup, "Apa Konan-neesan.. tahu semuanya?"

Konan tersenyum, "Aku disini untuk membantumu, Sakura-chan. Tentu saja aku harus tahu semuanya."

Sakura hanya mengangguk samar.

"Kudengar dari Kizashi-san, frekuensi mimpimu bertambah belakangan ini?" Tanya Konan lembut, "Bisa kamu ceritakan padaku, Sakura-chan?"

"Mimpinya sama saja…" Sakura terdiam sesaat, "Kejadian itu…" Sakura meneguk salivanya, "Malah belakangan ini kalau saya di sentuh pria.. itu malah membuat saya jijik—"

Konan mendengarkan penuturan pasiennya dengan seksama serta sekali-kali menganggukkan kepalanya.

~oOo~

Pein meletakkan foto Sakura di meja makan, Sasuke yang ada di depannya hanya bisa mengernyit tidak suka kala Pein sudah duduk di depannya. Mereka berdua sama-sama melempar tatapan tajam, seakan berbicara lewat telepati.

"Apa ini, Sasuke?"

"Itu foto."

Pein menunjuk foto itu, bertepat dengan letak gambar Sakura, "Siapa dia?" Tanya lelaki itu. Sasuke sadar, kini Pein sedang kesal padanya.

Sasuke memberhentikan meminum jus tomatnya, kemudian dengan santai ia menjawab, "Sakura Haruno." Jawab Sasuke padat, singkat, dan tidak jelas.

Pein tersenyum tipis, senyum meremehkan. "Seorang gadis, heh?" seringai Pein mulai muncul perlahan, "Jadi ini yang membuatmu mencium foto itu tadi malam seperti orang gila? Seorang gadis?"

Sasuke berdesis tajam, matanya menyorot ketidak sukaan, "Apa pedulimu?"

"Kau mencintainya huh?"

Sasuke tidak menjawab, segeralah lelaki itu merampas foto tersebut dan melangkah ke dapur, meletakkan gelas kotornya disana, kemudian ia berbalik arah menuju kamarnya yang ada di ujung apartemen. Tidak peduli dengan Pein yang masih menatap intens dirinya.

"Kau tidak mengerti tentang cinta, Sasuke."

Deg.

"Apa maksudmu, Pein?" Tanya Sasuke, ia berbalik dan bersandar di pintu depan kamar. "Aku tidak sepertimu yang selalu berpikiran kalau perempuan adalah virus berbahaya!" Nada Sasuke kini sedikit meninggi, kesal terhadap kakak sepupunya itu yang selalu menganggap dirinya masih kecil.

Pein hanya menatapnya datar, ia merasa santai seakan teriakan Sasuke bukan apa-apanya, "Kau itu polos Sasuke, jangan dipancing oleh perempuan itu." Pein menghela nafas pendek, "Lebih baik kau belajar dan fokus ke sekolahmu. Masa depanmu lebih penting dibanding seorang gadis."

"Tapi seorang gadis juga bagian dari masa depan!" teriak Sasuke lagi, tidak mau kalah. "Kau tidak berhak mengaturku, ini kehidupanku, aku yang menentukannya, bukan kau!" Sasuke mengepalkan tangannya erat, "Aku berbeda denganmu Pein! Sangat berbeda!"

"Tidak ada yang tahu kalau kita berbeda," jawab Pein kalem, tenang ia menatap Sasuke yang kini sudah dilanda kemarahan berapi-api. "Jalan takdir terkadang ada yang sama, dan aku tidak mau kalau kau sama sepertiku." Pein masih menatap dalam onyx Sasuke yang kini terlonjak akibat tatapannya yang begitu menusuk. "Aku tidak mau adikku terluka."

Dua orang itu terdiam, Sasuke yang merasa tersudut kini hanya menatap sang kakak yang sudah berjalan menuju kamar pribadinya. Ia masih terdiam di ruangan kecil tersebut sampai suara tutupan pintu pun terdengar.

~oOo~

Keesokan harinya, Pein menunggu Sakura di gerbang sekolah. Ia tahu hari ini Sasuke sedang ada latihan basket hingga sore, jadi Sasuke benar-benar tidak akan tahu kalau dia menemui perempuan itu. Namun ia sedikit risih kala lelaki itu mendengar pekikan kecil dari beberapa wanita yang sedang melewatinya. Berulang kali Pein mencocokkan wajah gadis-gadis yang keluar dari sana dengan ingatan bagaimana dengan rupa dari Sakura.

Dari foto? Huh, Sasuke sudah mengabadikannya. Jadi tidak ada alasan jika Pein tidak menemukannya.

Tak lama ia melihat gadis berambut merah muda berjalan seorang diri. Mata Pein menyusuri dari atas hingga bawah, mencocokkannya dengan memorinya tentang fisik perempuan itu sekali lagi. Dan setelah ia yakin kalau ia tidak salah orang, ia pun berjalan dengan santai menuju gadis itu. Disentuhnya bahu Sakura yang sedang berjalan membelakanginya, namun tidak disangka-sangka kalau Sakura langsung terlonjak, ia segera memutar tubuhnya dan berjalan mundur beberapa langkah.

Pein hanya menatap perempuan di depannya. Ia hanya menatap malas mata Sakura yang kini tampak shock. Oh ayolah, apa muka Pein sangat menyeramkan sehingga ia kaget seperti itu?

Sakura hanya bisa menatap Pein dari ekor matanya, tangan kanannya sedang menyentuh dan mengelus bahunya yang disentuh oleh Pein tadi. Sakura menatapnya takut-takut, "A-Ada apa ya?"

"Kau Sakura Haruno?" Tanya Pein sarkastik. Ia memasukkan kedua tangannya di saku, iris ungu pudarnya hanya menatap intens Sakura yang begitu gugup.

"Y-Ya, Ada apa?" Sakura mencoba bersifat normal, ia memperbaiki tas selempangnya yang sedikit mengendur di bahu mungilnya. Sakura memandang penuh tanya pada pemuda bertubuh atletis dan wajah tampan yang sedang berdiri di hadapannya, ditambah lagi rambut oranye-nya yang mencolok, apalagi matanya yang berwarna ungu pucat itu. Sakura merasa tidak pernah bertemu apalagi mengenal pemuda itu, tapi dari mana lelaki dingin bin stoic ini bisa mengetahui namanya?

"Pein Rikudou," Pein memperkenalkan dirinya secara singkat, "Aku ingin bicara denganmu."

Sakura menatap Pein polos, emeraldnya mengerjap-ngerjap, "Untuk apa?"

"Kau akan tahu nanti," Ia berjalan melewati Sakura, "Ayo ikut aku."

Sakura mengernyitkan alis. Siapa dia? Kenapa seakan-akan dia mengenal sosok Sakura begitu baik? "Tidak disini saja?"

"Disini tidak aman," Pein memberhentikan langkahnya, kemudian berjalan lagi. "Nanti ada seseorang yang melihat kita."

Sakura hanya menatap punggung Pein yang berjalan menjauh darinya. Ia sedikit takut kalau ia berjalan dengan orang asing sendirian. Tapi firasatnya mengatakan kalau Pein bukan sosok laki-laki sembarangan, akhirnya Sakura berjalan mengikuti arah Pein menjauhi sekolah. Meskipun Sakura masih menjaga jarak dengannya.

~oOo~

Kizashi dan Mebuki duduk berhadapan dengan Konan. Siang itu mereka memang mengadakan pertemuan untuk membicarakan hasil terapi terakhir Sakura.

"Jadi kejadiannya sudah empat tahun yang lalu," Konan menghela nafas, "Saat Anda sedang membangun rumah dan salah satu anak buah Kizashi-san mendatangi Sakura yang sedang tertidur malam itu—" Konan menatap Kizashi lirih, "Lalu memperkosanya?"

Kizashi menganggukkan kepalanya, sementara Mebuki hanya menunduk, meresapi kesalahannya pada masa lalu mengerikan itu. Kizashi hanya bisa menggenggam tangan Mebuki erat, mencoba menenangkan istrinya.

Mebuki menggigit bibir bawahnya, "Seandainya saja kami tidak meninggalkannya sendirian…" Mebuki menatap Konan lemas, seakan meminta pertolongan. "Pasti dia tidak akan seperti ini…"

Konan mencoba tersenyum, "Gomen'ne, saya turut prihatin dengan peristiwa yang dialami Sakura-chan," kata Konan pelan, "Tapi saya senang Anda bisa berbicara dengan saya tentang hal ini. Saya akan mencoba meringankan beban Sakura-chan di terapi selanjutnya."

Kizashi tersenyum lirih, seakan senang dengan persetujuan Konan, ia terdiam sesaat kala Konan melanjutkan bicaranya, "Kudengar.. Suigetsu baru saja bebas?"

Pria berumur empat puluhan itu mengangguk samar, "Itulah yang menjadi pikiran kami belakangan ini, Konan-san. Menurutmu, apa kami harus memberitahukan hal ini pada Sakura?"

"Untuk apa memberitahukan hal itu kalau akan memperparah keadaannya? Lelaki itu sudah bebas atau belum, tidak akan banyak pengaruhnya bagi Sakura-chan." Jawab Konan serius.

"Konan-san benar, Kiza-kun." Mebuki menghapus air matanya yang sempat keluar, "Belum tahu saja dia sudah bermimpi buruk setiap malam, apalagi dia sampai tahu.."

"Sekarang yang paling penting adalah memulihkan kepercayaan dirinya terhadap laki-laki sehingga kehidupan Sakura-chan bisa kembali normal," kata Konan sembari melipat kedua tangannya, "Apa Sakura-chan punya teman laki-laki?"

Kizashi menggelengkan kepalanya, "Tidak. Dia bahkan tidak punya teman sejak kejadian itu. Kakashi-sensei sebagai wali kelasnya berkata kalau Sakura lebih suka sendirian dan menutup dirinya."

Konan menghela nafas, wajahnya terlihat muram. "Saya rasa kondisinya sebagai anak tunggal yang biasa bermain sendiri di rumah juga berpengaruh. Kusarankan agar Kizashi-san dan Mebuki-san mendorongnya untuk mengajak siapapun main kerumah, supaya rasa sosialisasinya bisa timbul."

~oOo~

Pein berjalan ke sebuah café yang ada di bawah gedung apartemen tempat ia dan Sasuke tinggal, diikuti oleh Sakura yang berjalan dibelakangnya.

Sakura Haruno duduk dihadapan Pein sambil memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Sejak tadi ia merasa tidak nyaman berada di dekat orang yang baru saja ia kenal beberapa menit yang lalu. Hatinya juga dipenuhi pertanyaan mengapa Pein mengajaknya ke tempat itu, dan apa yang ingin dibicarakan Pein dengannya?

Café itu tampak sepi, mereka mengambil posisi meja paling pojok dekat kaca kedap suara. Membuat keheningan makin mengental di sekitar mereka sampai seorang pelayan datang menghampiri meja mereka sambil membawa daftar menu.

Sakura mengerjapkan kedua matanya sambil memperhatikan buku menu tersebut, kadang ia berpikir kapan terakhir ia berjalan-jalan diluar sejak peristiwa itu. Ia menatap Pein yang masih menatapnya dengan malas, menunggu persetujuan darinya.

"Umm.. Aku lemon tea saja." Kata Sakura pelan, sedangkan pelayan tersebut mencatat pesanannya.

"Kopi," lanjut Pein singkat.

Keheningan masih terjadi pada saat pelayan tersebut meninggalkan mereka. Pein menatap jalan raya yang berada di sampingnya. Ia merasa menikmati kesendiriannya sehingga menganggap Sakura itu tidak ada.

Sakura yang masih memainkan tali tas-nya memandangnya dengan bingung, kalau orang ini mau bicara dengannya kenapa sekarang tidak mulai bicaranya?

"Ri—"

"Pein." Potong Pein, mata ungu pudarnya menatap tajam Sakura.

"Uhm, Pein-san," kata Sakura gugup, "Apa yang ingin kau bicarakan denganku?"

Mata Pein mendelik kearah Sakura, "Menurutmu?"

Sakura mengangkat sebelah alisnya, tidak mengerti apa maksud perkataan lelaki ini, "Aku tidak tahu."

"Baiklah," Pein menyandarkan punggungnya kearah kursi café, "Jauhi adikku,"

Sakura terlonjak kaget ketika suara berat itu terdengar di gendang telinganya. Matanya menangkap sebersit rasa tidak suka disana, mata ungu pudar Pein memancarkan—kebencian?

"Adik? Kau punya adik?" emerald-nya menyipit, "Siapa?"

"Uchiha," Pein menatap langsung ke Sakura, "Uchiha Sasuke."

"Uchiha-san?"

Tidak ada lagi yang berbicara, mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing. Sakura terlalu bingung dengan perkataan Pein. Menjauhi Uchiha itu? memang dia ada salah apa?

"Kenapa… Kenapa kau menyuruhku? Aku sama sekali tidak dekat dengannya."

Pein mendengus meremehkan, "Tidak dekat? Hmph, jangan bercanda."

Sakura mengernyitkan alis, tidak suka dengan pendapat Pein yang seolah mengejeknya. "Apa sebenarnya maumu?"

"Mauku?" jawab Pein sarkastik. "Jauhi adikku."

Brak!

"Aku sama sekali tidak dekat dengannya!" Sakura menatap tajam kearah Pein yang masih santai di kursinya, "Aku bahkan tidak mengenalnya!"

"Tapi kalian sekelas, bukan? Tidak mungkin kalau kalian tidak saling kenal." Pein menatap Sakura yang kini berdiri, "Kau suka padanya kan? Jadi lebih baik jauhi adikku daripada aku harus turun tangan." Iris ungu itu melihat kemarahan di mata Sakura.

"APA!?" teriak Sakura menggelegar, membuat pelayan yang ingin mengantar minuman mereka berhenti beberapa meter dari tempat duduk mereka, "Apa aku tidak salah dengar hah?" Sakura menunjuk dirinya sendiri, "Aku suka pada Uchiha itu? Tidak! Pein-san, kau salah paham!"

Pein mendengus kesal, matanya masih beradu dengan mata Sakura yang kini menampakkan kemarahan yang berapi-api. Lelaki berambut oranye itu menatap Sakura dari atas sampai ke bawah, "Kau… munafik."

Sakura terdiam sesaat.

Apa tadi dia tidak salah dengar?

Siapa sebenarnya yang munafik disini?

"Banyak para gadis yang jatuh hati pada adikku, tapi kenapa dari sekian banyak perempuan…" Pein tersenyum tipis, "Kenapa dia harus jatuh cinta pada perempuan munafik seperti kau?"

~oOo~

Suigetsu berjalan dengan lunglai sambil memegangi kepalanya. Batinnya tersiksa dengan keterpurukan hidup yang sedang dihadapinya. Setelah bebas ia langsung mengunjungi rumah orang tuanya, namun orang tuanya menolak kehadirannya, bahkan kekasihnya juga menolaknya. Di kepalanya kembali terdengar suara Tou-san, Kaa-san, dan kekasihnya yang menolak mentah-mentah dirinya.

"Aku benci padamu!" teriak mantan kekasihnya, "Aku tidak mau punya suami bajingan seperti kau dan sudah di penjara! Kau sudah kelewatan, Suigetsu!"

"Usaha keluarga kita hancur gara-gara kelakuanmu!" teriak Tou-sannya. "Sejak kau masuk penjara, orang-orang di pasar tidak ada yang mau beli daging dengan kita lagi! Dasar bajingan!"

"Mulai sekarang Kaa-san tidak menganggap kamu anak lagi. Carilah jalan hidupmu sendiri! Jangan pernah kembali lagi ke sini!"

Suigetsu mengepalkan tangannya kuat-kuat.

"Semua gara-gara cewek sialan itu!" teriaknya geram, giginya saling beradu, membuat suara tidak indah dari mulutnya.

Suigetsu berjalan dengan tidak fokus, ia hanya mengikuti kemana pun kakinya melangkah. Ia juga tidak memperhatikan sekelilingnya, pria berambut putih itu pun tidak melihat dua orang yang sedang berjalan sambil menggotong kaca di depan café, tempat Pein dan Sakura ada di dalamnya. Ia lalu menabrak kedua orang itu dan kaca itu jatuh di lantai dan menimbulkan suara berisik.

PRANG!

~oOo~

BRAK!

Oke, mungkin meja itu akan hancur kalau kau pukul sekali lagi, Sakura.

"Kau pikir aku apa!?" sergahnya. "Maaf sekali lagi, aku bahkan tidak pernah terjerat oleh pesona Uchiha itu! Kau jangan bicara sembarangan!"

"Tapi memang kau kan yang menggodanya?" suara berat Pein menimpal, "Dia bahkan tidak seperti dulu, seorang Uchiha Sasuke yang pendiam dan dingin, kini jadi menjadi sosok yang agak lembut jika dengan wanita. Terutama kau." Matanya menatap dingin Sakura, "Dia bahkan jadi sering melawanku."

"Apa kaitannya denganku!?" teriak Sakura, "Berubahnya Uchiha itu tidak ada sangkut-pautnya denganku! Aku bukan seorang perempuan tidak tahu diri yang kerjanya hanya menggoda para lelaki! Kau pikir aku jalang hah!?"

"Aku tidak berpikir seperti itu," Jawab Pein kalem, "Tapi kau adalah dampak besar bagi adikku, jadi… menjauhlah dari dia."

PRANG!

Belum lagi Sakura membalas argument Pein yang menusuk menyakitkan itu, Sakura dan Pein mendengar suara berisik dari luar. Sakura menoleh keluar ingin melihat apa yang terjadi, namun matanya langsung membelalak ketika melihat wajah Suigetsu di luar sana. Wajah putih Sakura menjadi berubah pucat, tubuhnya gemetar ketakutan. Dan sesaat kemudian ia hilang kesadaran dan terjatuh.

Pein yang melihat itu mengernyitkan alis ketika melihat Sakura terjatuh dan pingsan. Tadi dia berteriak-teriak, kenapa sekarang pakai acara pingsan segala?

Pein melihat tubuh Sakura yang terjatuh di lantai selama beberapa detik, kemudian ia berdiri dan segera membawa Sakura ala bridal style, keluar dari café tersebut, menghiraukan suara bising yang sempat membuat dirinya dan Sakura memberhentikan perdebatan mereka. Pein berjalan dengan wajah dingin dan menuju apartemennya, tidak peduli dengan tatapan heran pada orang di sekelilingnya.

"Perempuan memang merepotkan."

~oOo~

Pein meletakkan tubuh Sakura diatas sofa. Setelah itu ia menutup pintu apartemennya.

Ia menatap datar tubuh Sakura yang terbaring lemah di sofa, membuatnya menghela nafas panjang. Kemudian ia membuka jaketnya dan segera menjauh ke dapur, mengambil air es dan kain, untuk menyadarkan Sakura yang tampak pingsan. Well, mungkin dengan mengompresnya Sakura cepat sadar bukan? Semakin dia cepat sadar, semakin cepat dia pergi. Itu yang dipikirkan oleh pemuda berambut oranye ini.

Pada saat beberapa detik Pein ke dapur, Sakura kembali memperoleh kesadarannya. Perlahan-lahan matanya terbuka, menampakkan sinar hijau muda yang sedikit redup. Sakura menatap sekelilingnya dengan pandangan bingung. Ia berdiri dan berjalan pelan dekat pintu dapur.

Tapi Pein keluar dari dapur yang matanya masih fokus ke baskom air dingin serta kain lap yang ada di dalamnya. Membuat mereka saling tabrak, namun Pein tidak terjatuh lengkap dengan baskom di kedua tangannya, namun nasib sayang malah berpihak ke Sakura yang terpental jatuh ke lantai.

Brukh.

Bukannya menolong, Pein malah masih terdiam di tempatnya, menatap Sakura dengan datar. "Kau sudah sadar?"

'Kalau aku belum sadar, tidak mungkin aku berjalan seperti ini bodoh!' jerit Sakura dalam hati.

Sakura tidak menjawab. Ia buru-buru bangkit kembali. Tapi karena tidak hati-hati, perempuan bersurai merah muda itu terjatuh dengan indah ke lantai—dengan posisi bokong menyentuh lantai duluan.

Brukh.

Pein hanya bisa menghela nafas pendek ketika mendengar suara pekikan dari gadis di hadapannya. Ia menaruh baskom itu di meja dan menatap Sakura yang masih terduduk di lantai, ia bersandar di pintu dapur, menatap dingin perempuan di depannya ini ; yang masih meringis kesakitan sambil mengelus bokongnya.

"Jangan bertingkah bodoh." Komentar Pein singkat. Tidak ada minat bantu sama sekali.

Sakura segera berdiri dan mengambil tas sekolahnya yang tergeletak di sofa, tidak menegur Pein yang masih ada di tempatnya.

Saat Sakura sudah bersiap pulang, Pein menatapnya dengan pandangan penasaran. Ya, penasaran. Kenapa tiba-tiba perempuan ini pingsan?

"Hei… Haruno." Gumam Pein, menatap dingin Sakura yang sudah bersiap pulang, "Kenapa tadi pingsan?"

Tubuh Sakura tiba-tiba membeku, Ia kembali teringat pada Suigetsu yang dilihatnya, dengan lemas ia terduduk di sofa. Wajahnya tampak ketakutan. Tubuhnya kembali menggigil seperti orang kedinginan, nafasnya pun memburu.

Pein menatapnya tanpa reaksi, Pein tahu kalau ada yang aneh dengan Sakura, dari bahunya yang terlihat bergetar hebat. Pein tahu ada yang tidak beres disini. "Hei, Haruno…"

Sakura masih tidak bergeming, gadis itu meringkuk ketakutan dengan tubuh menggigil diatas sofa. Ia kembali terbayang pada malam mengerikan itu, malam yang membuatnya seperti ini, malam yang membuatnya berubah total dari dirinya yang dulu. Malam jahanam itu kembali. Malam dimana Suigetsu—memperkosanya dengan keji.

Entah di apartemen Pein kali ini panas atau tidak, tapi pemilik rumah yakin kalau dia sudah menyalakan AC disini. Tapi kenapa perempuan ini mengeluarkan keringat?

Baik baik, lebih baik kau periksa keadaannya, Pein.

Pein pun menghela nafas pasrah, ia berjalan dengan malas menuju sofa tempat Sakura meringkuk. Ia sampai di depan sofa, menatap Sakura yang kini menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya.

Pein berdecak pelan, "Kau kenapa Haruno? Tidak ada setan disini," kata Pein. Tidak ada reaksi dari Sakura, ia pun berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan sofa, Pein menatap Sakura yang masih bergetar takut, seakan-akan Pein adalah monster.

Monster? Demi Tuhan.

Sakura masih diam ditempatnya, bahkan Pein yakin kalau Sakura tidak menyadari keberadaannya. Dengan pelan ia mencoba untuk menyentuh lengan mungil gadis itu, "Oi,"

Baru tersentuh sedikit saja, Sakura langsung tersentak dan menjauhkan tangannya dengan jijik. Ketika sadar Pein sedang ada dihadapannya, ia segera beranjak berdiri dan mundur beberapa langkah, menatap Pein dengan pandangan ngeri dan waspada.

Pein yang menyadarinya kembali berdiri dan menatap Sakura datar, "Kau aneh." Kata Pein dingin.

Tanpa berpikir panjang, Sakura segera berlari menuju pintu masuk. Namun saat tangannya menyentuh kenop pintu, Sakura dikagetkan pintu yang terbuka dengan cepat, iris hijaunya membulat sempurna kala melihat 'satu lagi laki-laki' yang ada di sekitarnya.

Uchiha Sasuke, terkejut ketika melihat Sakura sekarang ada dihadapannya. Ia menatap bingung Sakura yang masih mendongakkan wajahnya, menatap Sasuke dengan ketakutan, "Sakura?"

Mereka bertatapan sesaat, namun mereka tidak berkata apa-apa. Sakura segera berlari keluar dari sana. Melewati Sasuke yang tepat di depannya tadi.

Blam.

"Pein,"

Sasuke masih terdiam di lantai ia berpijak, tidak menatap sang kakak sepupu yang masih ada di depan sofa. Pein menghela nafas pendek, Sasuke sepertinya ingin mengintrogasinya kali ini.

"Kenapa Sakura ada disini?"

"Aku mengajaknya kesini."

"Untuk apa?" Tanpa sadar, Sasuke sudah mengepalkan tangannya sampai kuku-kuku jarinya memutih. Ia masih teringat jelas ketika melihat wajah Sakura yang sangat berbeda, hampir sama dengan kejadian tadi pagi di taman sekolah. Hanya saja, ini lebih parah. "Apa yang kau lakukan pada Sakura?"

Pein melipat kedua tangannya di dada, "Hanya berbicara sebentar." Kata Pein, "Aku tidak melakukan apapun."

"Lalu kenapa wajahnya pucat begitu hah?" Nada Sasuke mulai tidak terkendali, "Kau jangan berbuat macam-macam padanya…" geram Sasuke tertahan, mencoba menghilangkan luapan emosi yang muncul di benaknya.

"Sasuke, aku tidak melakukan apapun." Pein mulai berjalan menuju kamar, tubuhnya terasa letih. "Dia saja yang berlebihan."

"Apa maksudmu berlebihan?" Tanya Sasuke sarkastik. "Kau jangan menghinanya, Pein."

"Aku tidak menghinanya," Pein membuka pintu kamar, "Aku tidak tahu. Tapi… Dia aneh."

Blam.

Kini di sore itu, Sasuke kembali sendirian di ruang tamu apartemen. Ditinggal oleh sang kakak sepupu tanpa alasan yang jelas. Giginya bergelemetuk keras.

Harus tahu.

Sasuke harus tahu apa yang terjadi disini.

"Sakura…"

Sedangkan di dalam kamar, tempat abadi milik Pein, sang pemilik kamar sedang terduduk di kasurnya. Pein hanya menatap layar handphone-nya yang kini menampilkan account jejaring sosial-nya. Namun ia sama sekali tidak fokus, pikirannya melayang pada satu orang yang baru meninggalkan rumahnya beberapa saat yang lalu.

"…"

To Be Continued ~

.

.

.

.

Author curcol :

Holaaaa, chap 2 update niih! Hehe, SASUKE OOC! SAKURA OOC! PEIN KAGAK! Hahahhaha :v iya sih. saya berpikir kaya gitu.

Tapi bagi Sakura, mungkin ada bertanya-tanya kenapa Sakura gagap? Ya, itu adalah akibat dari trauma. Apalagi seseorang yang baru kamu kenal sudah tahu rahasia besarmu, pasti nggak enak kan? Jadi saya berpikir kaya gitu. Hehe, kalo merasa terganggu, maaf yaa ~ :3

Nah disini pada tau kan kenapa Sakura jadi takut sama cowok? Ya gara-gara Suigetsu sih. nyentuh2 Saku padahal udh punya cewek, #lirikKarin

Nah, disini PeinSaku sudah ada kan? Meskipun kaga ada rasa romansa-nya sama sekali, tapi kan mereka udh saling kenal. Jadi tinggal enak deh bwt chap depan, hihihihi. X3


Special Thanks To :

tohko ohmiya, Nickyy09, Zoccshan, angodess, Kiki RyuEun Teuk, Bunny, natsukiamon, Kokoro dozo, Loverz, Guest, Monkey D. Portgas, Uzumaki Ojan, Kaos Kaki, IchiHime love, Sweety Nime


Terima kasih banyak atas yg mereview kemaren! Saya sangat terharu ketika reviewers suka sama cerita saya. Bahkan ada yg udh tau pokok permasalahannya disini! ^^

Terima kasih sudah membaca! Mind to RnR again? Or Concrit? Manis, pedes, asem, pahit terseraaah~! :'D