"Psstt, dia itu ceweknya si Naruto kan?"
"Mana? Ah! Iya betul, kok mau sih sama cowok brandalan kayak gitu?"
"Heh, gitu-gitu Naruto-kun itu keceh tau! Dia kalo udah beramtem waah keren banget deeh!"
"Iya juga sih, harus aku akui Naruto itu lumayan cakep. Tepi tetep aja berandalan."
"Iya betul, eh tapi aku gak habis pikir deh sama fans-girl nya si pirang itu, kok makin hari makin nambah yak pengikutnya."
"WHAT?! FANS-GIRL?!"
"BAKA! Kalo bicara itu jangan teriak-teriak Matsuri!"
"Ehehe gomen Karin."
Hinata tidak menghiraukan bisik-bisk nista dua orang cewek yang ada di wastafel kamar mandi sekolah. Yup, Hinata dengan jelas bisa mendengar seluruh percakapan antara Karin dan Matsuri mengenai hubungannya dengan Naruto.
Salahkan Naruto yang seenak jidatnya memproklamasikan bahwa dirinya adalah kekasih dari seorang Kyuubi no kitsune yang terkenal dengan ke-garangannya serta ke-berandalannya seantero Konoha High School. Ah, sepertinya Naruto tidak seterkenal itu. Buktinya Hinata baru tahu kalau Naruto itu adalah si Kyuubi no kitsune –yang memang Hinata pernah mendengarnya namun belum pernah lihat.
Namun Hinata merasa kalau Naruto itu merupakan sosok yang… Haahh entahlah Hinata sendiri susah mendeskripsikannya. Yang jelas, kata hatinya mengatakan bahwa Naruto itu merupakan sosok yang cukup baik.
Dan saat itulah Hinata keluar dari salah satu kamar mandi –yang sempat ia kunjungi- dan Hinata dengan jelas bisa melihat kedua cewek itu –Karin dan Matsuri sedikit menjauhinya. Setelah mencuci tangan dan membenahi pakaiannya, Hinata melesat pergi meninggalkan Karin dan Matsuri –yang entah kenapa terus memperhatikan Hinata.
"Hinata-chan!" Hinata yang baru saja keluar dari toilet langsung di sambut teriakan sahabat pingkinya –Sakura.
"Ada apa Sakura-chan?"
"Hinata… Gawat itu... Kyuu –ah Naruto maksudnya…"
"Sakura-chan tenang dulu, sebenarnya ada apa? Lebih baik kita bicarakan ini di tempat lain saja ya?" Hinata mencoba menenangkan Sakura yang sepertinya sangat panik. Dan mencoba membawa sahabatnya ini ketempat lain karna teriakan Sakura tadi sudah membuat pusat perhatian orang-orang menuju mereka. Di tambah lagi sepertinya Sakura ingin memberi tahu perihal Naruto, siapa yang tidak akan tertarik mendengar berita tentang si preman sekolah it –Tunggu dulu…
"NARUTO SEDANG BERKELAHI DENGAN KIBA DI TAMAN BELAKANG KARNA LEE MENENTANG HABIS-HABISAN HUBUNGANMU DENGAN NARUTO!"
God! Teriakan Sakura sukses membuat Hinata melakukan olah raga dadakan –berlari menuju taman belakang- yang diyakininya sang pacar sedang berkelahi.
Hinata terus berlari menuju taman belakang sekolahnya, tak di hiraukannya tatapan bingung dari beberapa siswi dan siswa yang ia lewati. Ia tidak peduli. Yang ada di pikrannya saat ini hanya Naruto dan Lee –yang merupakan sahabatnya juga.
Hinata melompati dua tangga terakhir dan langsung berbelok ke kanan, dimana disana merupakan pintu keluar sekolah yang langsung menghubungkannya dengan taman belakang sekolah.
Ia bisa melihat hampir seluruh teman sekelasnya dan beberapa murid lainnya sudah memenuhi taman tersebut. Dengan susah payah Hinata melewati kerumunan itu. Dan saat ia bisa melihat dengan jelas yang menjadi pusat perhatiaan seluruh teman-temannya kini, Hinata dengan berani melangkah maju dan langsung menghentikan gerakan Naruto yang sudah siap akan memukul Lee.
"Hentikan Naruto-kun!"
Hening, teriakan Hinata mampu membuat suasana yang tadinya heboh dan tegang kini menjadi hening. Bahkan seorang Kyuubi no kitsune pun berhenti.
"Maaf semuanya sudah membuat kekacauan ini, saya mohon kalian bisa kembali kekelas masing-masing sekarang!" Dan himbauan Hinata pun mampu membuat seluruh murid yang tadinya asik menonton langsung kembali ke kelas masing-masing.
Setelah semuanya kembali, Hinata langsung menatap horror (baca:galak) kepada sang pacar dan juga sang sahabat. Dengan melipat kedua tangan di depan dada serta tatapan garang yang Hinata punya, Hinata menarik nafas lalu…
"BISA JELASKAN KENAPA KALIAN BERKELAHI LAYAKNYA ANAK KECIL HAH?!"
Dan Lee berani bersumpah di hadapan Jashin bahwa ini kali pertamanya ia melihat seorang Hinata berteriak galak bak iblis dengan dua tanduk serta ekor yang lancip bersiap menusuknya kapanpun ia mau.
"A ampun Hinata-chan… Kami janji tidak akan berkelahi lagi…" Ujar Naruto dan Lee berbarengan sambil berlutut memohon ampun.
Dan kali ini Kiba dan Gaara yang berani bersumpah, bahwasannya baru pertama kalinya mereka malihat sang kakak sedang berlutut memohon ampun kepada seorang wanita –ehem ulangi, berlutut memohon ampun kepada WANITA. WANITA. WANITA. WANI –Plaak.
"Bagus anak baik." Dan sekarang Hinata sudah bertransformasi lagi menjadi Hinata yang baik hati.
Harus mereka akui bahwasannya seorang perempuan bisa jadi lebih menyeramkan di bandingkan laki-laki.
. . .
Ke esokan harinya Hinata kembali mendengar bisikian-bisikan para murid yang membicarakan dirinya serta kejadian kemarin yang sempat menggemparkan sekolah. Andai saja Hinata terlambat datang saat itu, pastinya urusannya akan sangat panjang. Karna setelah Hianata berteriak serta memarahi sang pacar dengan sahabatnya itu, guru-guru langsung pada datang ke taman belakang dan langsung menanyakan apa yang terjadi di sini.
Dan untungnya guru-guru itu bisa langusung pergi begitu mereka mendengar Hinata bicara.
"Maaf sensei kami disini hanya sedang berlatih drama yang akan di lakukan untuk kejutan ulang tahun adikku minggu besok." Sambil tersenyum –menyeringai tepatnya.
Dan kini Naruto dan kawan-kawan harus menambah catatan bahwa Hinata merupakan sesosok perempuan yang berbahaya. Dalam arti kata lain tentunya.
"Hinata-chan!" Entah ini sudah yang keberapa kalinya Hinata mendengar Sakura berteriak memanggilnya.
"Ada apa Sakura-chan?"
"Kau baik-baik saja kan? Tidak ada yang terlukakan?" Sakura langsung membenjiri Hinata dengan pertanyaan yang sudah Hinata dengar sejak kemarin.
"Aku bai-baik saja kok. Jangan khawatir." Dan Hianata terus menjawab pertanyaan Sakura dengan jawaban yang sama seperti kemarin.
"Tapi, aku masih tidak percaya kalau Lee dan Naruto itu mau melakukan drama yang apa itu namanya?" Bisik Sakua kepada Hinata.
"Sudahlah Sakura-chan, itu hanya kebohongan belaka." Hianata balas berbisik.
"Na.. Nani?" Sakura cengo begitu mendengar Hinata berbohong.
"Hehehe, kaget ya."
Sakura berkedip dua kali, "Ini pasti karna si Naruto itu! Pasti kau dipaksa olehnya untuk berbohongkan?!" Sakura yang masih tidak percaya kalau Hianata berbohong malah menuduh sang Kyuubi sebagai pelakunya.
"Siapa yang kau bilang si Naruto itu heh?"
Tubuh Sakura menegang begitu ia mendengar suara baritone Naruto.
"Hehehe, bu bukan begitu kok maksudnya…" Sakura bingung harus bilang apa, maka ia menatap Hinata dan memberikan sinyal-sinyal SOS.
Hinata yang baru menyadari adanya Naruto di belakangnya hanya bisa terkejut.
"Beraninya kau menuduh Hinata-chan ku! Hiyaaaaaaa!"
"Kyaaaaa lariiiiiii!"
"NARUTO-KUN BAHAYA!"
Entah sejak kapan Naruto sudah ada di di depan meja guru sambil mengangkat meja tersebut bersiap untuk melamparnya. Dan untugnya teriakan Hinata –yang laig-lagi bagi yang mendengarnya harus bersupah pada Jashin bahwa ini pertama kalinya mereka mendengar Hinata seorang yang lemah lembut berteriak garang seperti tadi.
Dan tentunya teriakan Hinata tadi –yang mampu membuat Naruto flashback dengan kejadian kemarin langsung berhenti di tempat.
"He hebat."
"Iya, sang Kyuubi bisa di hentikan oleh seorang Hinata."
Pujian-pujian pun bergema di kelas Hinata. Karna sesungguhnya ini baru pertama kalinya sang Kyuubi no kitsune bisa di hentikan –yang sebelumnya tidak bisa di hentikan oleh siapapun bahkan oleh guru kiler sekalipun.
"Hehe gomen hime." Naruto hanya bisa terkekeh canggung begitu melihat tatapan iblis Hinata yang sebentar lagi –pasti- akan keluar. Dan langsung menaruh meja tersebut di tempatnya.
"Wah miring."
"Haahh tidak apa-apa. Yang penting tidak hancur."
"Benar tidak apa-apa nih?"
"Iya."
KRIIIIINNNNGGG
Dan mimik legapun langsung terbit di wajah siswa siswi yang ada di dalam kelas Hinata, tatkala kini bel masuk sudah bordering.
"Ah bel, kalau begitu aku masuk dulu ya Hinata-chan. Nanti aku tunggu di atap seperti biasa. Jaaa." Naruto langsung melesat pergi begitu bel berbunyi.
Bilangnya sih mau masuk kelas, tapi sepertinya kakinya berkata lain. Dan akhirnya pelajaran hari itu pun di mulai, dengan absennya sang Kyuubi beserta anak buahnya.
. . .
Hembusan angin sepoi itu lagi-lagi membuat rambut Hinata berterbangan. Hinata yang kini sedang berhadap-hadapan dengan Naruto hanya bisa menatapnya bingung. Karna sejak tadi Naruto hanya diam sambil menatapnya juga.
"Naruto-kun." Hinata memanggil Naruto.
"Ya?" Naruto menjawab.
"Kenapa kau hanya menatapku?" Kali ini Hinata mencoba bertanya.
"Karna kau sangat indah dan sayang jika tidak di lihat. Lagi pula anggap saja ini sebagai gantinya karna aku tidak bisa melihatmu gara-gara jam sekolah yang menyabalkan itu."
Jawaban Naruto mampu membuat Hinata tersipu malu.
Dan lagi-lagi Naruto harus menatap horror kepada anak buahnya –yang lagi-lagi ber-blushing ria.
Hening. Tak ada yang bicara setelahnya. Hingga Naruto memecahkan keheningan.
"Hinata-chan."
"Ya?"
"Apa kau tidak apa-apa?" Naruto bertanya dengan nada pelan.
"Apa maksudmu?" Hinata tidak tahu kenapa Naruto mendadak mengeluarkan roman-roman galau.
"Begini, kau tahu kalau aku hanya seorang preman berandalan. Entah kenapa aku berfikir bahwa aku hanya akan membuatmu susah dengan kehadiranku hime." Naruto mulai ragu lagi.
Hinata menghela napas begitu mendengar keraguan Naruto.
"Apa kau mau berjanji dengan ku Naruto-kun?"
"Janji?"
"Ya, berjanjilah padaku bahwa kau hanya akan bertarung di saat kau harus bertarung."
"…"
"Karna Naruto yang seperti itulah yang aku suka."
Dan perkataan terakhir Hianat amampu membuat Naruto berjanji.
TBC
Yuuuuppp CAP 2 UPDATE!
Entah kenapa Hinata disini seperti punya dua keprinadian =,=
Yuuup! TERIMAKASIH ku ucapkan pada kalian yang mau membaca serta meng-review ceritaku *nunduku2*
Maafkan aku jika fic yang ini kurang memuaskan dan lama banget updatenya =,=
Yoosshh! Untuk kalian yang udah review :
Algojo : Arigatou udah mau baca ni fic gaje, dan aku sudah coba untuk menjelaskan bahwa disini Hinata menerima Naruto karna ia bisa membaca perasaan Naruto. Dan yang Hinata rasakan pada Naruto saat itu adalah kejujuran serta tekat dan itu lah yang membuat Hinata menerima Naruto.
Lathifah Amethyts-chan : Makasih sarannya. Uum, tapi kalo menurutku sih yang seperti itu lebih rapih, yaah walau harus aku akui jadi agak berantakan. Hehe, tapi aku berusaha untuk mengikuti saranmu kok
Asuna No Riisuka: Fav aja kok gpp.
Moyahime : Hanya bisa bilang arigatou
kirei- neko: Maaf tidak bisa memenuhi keinginanmu untuk update kilat =,= karna banyak sekali kendala hehe. Tapi semoga kau suka dengan cap 2 ini
Uzumaki Scout 36 : Untuk adek ku yg satu ini cepet sembuh yak biar bisa update bareng-bareng.
Diane Ungu, nataka-san dan LavenderSun : Arigaou udah mau baca fic ku dan review, semoga kalian menikmati cap 2 ini.
