('-')
('-')
('-')
Remake story by Astrid Zeng
Chanbaek version
Rate : T
SLEEPAHOLIC JATUH CINTA
('-')
('-')
('-')
Happy Reading !
previous Chapter….
Chanyeol sengaja memperbesar suaranya untuk mencoba mendesak Luhan dan memancing Baekhyun agar semakin marah dengan perkataanya. "Luhan kau masih mendengarku? Dua minggu lagi. Dan aku harap pada saat itu kau bisa turut meyakinkan kedua orangtua kita untuk mempercepat rencana pernikahan kita . Aku serius, Luhan!" Chanyeol menaikkan alisnya dengan gaya menantang pada Baekhyun yg terlihat semakin marah.
Akhirnya Chanyeol tersenyum penuh kemenangan saat Luhan menjawab dan menyetujuinya dengan pasrah. Sekarang tinggal meyakinkan sang adik, Chanyeol tersenyum senang.
"Nanti aku akan menghubungimu lagi. Aku akan sampaikan salam mu pada Baekhyun." Chanyeol mengembalikan gagang telpon pada tempatnya tanpa menunggu balasan dari Luhan.
('-')
('-')
('-')
Baekhyun memandang marah pada Chanyeol. Tadinya ia menyangka seseorang bernama Chanyeol itu tidak berpenampilan seperti laki-laki yg kini duduk di kursi singgasananya sembari melontarkan senyum penuh kemenangan padanya.
Baekhyun sudah terlanjur membayangkan calon kakak iparnya adalah laki-laki pendek dengan perut besar, wajah bundar, dan memiliki jari-jari yg gendut.
Ia harus mengakui secara fisik bahwa penampilan Chanyeol sangat sebanding dengan kakaknya. Tinggi, putih, dan sangat tampan. Tapi sekarang bukan saatnya mengagumi kelebihan Chanyeol. Meski dalam posisi duduk, hal ini dapat membuat Baekhyun merasa tidak nyaman.
Baekhyun bisa merasakan Chanyeol tengah menatapnya penuh aura licik.
Baekhyun tidak merasa takut sedikitpun. Untuk melindungi Luhan, Baekhyun tidak gentar menghadapi siapapun. Baekhyun sudah terbiasa melindungi kakaknya apalagi menyangkut urusan fisik.
Semenjak kecil, Baekhyun sudah sangat tomboy. Perbedaan yg sangat mencolok antara dirinya dan Luhan membuat tidak sedikit teman-temannya mengolok-olok dirinya.
Baekhyun masih ingat saat ia kelas 4 dan Luhan kelas 6, ia berdiri menantang anak laki-laki bertubuh dua kali lebih besar daripada tubuhnya yg memaksa Luhan untuk menyerahkan bekal makanan yg dibawanya.
Baekhyun sangat marah pada Luhan karna menuruti perintah anak laki-laki itu tanpa mengucapkan sepatah kata untuk membela diri atau menolak.
Baekhyun masih ingat dengan jelas bagaimana ia menyerang anak laki-laki itu tanpa berfikir panjang. Luhan mencoba melerai mereka, sampai akhirnya Baekhyun berhasil merontokkan satu gigi depan anak laki-laki itu dan Baekhyun hanya mendapatkan luka di dahi dan memar di beberapa bagian tubuhnyaa.
Luhan menghabiskan hari itu dengan memarahi Baekhyun dan Taehyung, anak laki-laki gendut itu, sambil membersihkan luka-luka mereka.
Baekhyun memandang tidak percaya saat Taehyung malah menangis sejadi-jadinya ketika Luhan mengomel dan memarahi mereka berdua layaknya seorang ibu kepada anak-anaknya.
Kejadian itu membuat Baekhyun semakin memahami sifat Luhan. Luhan bisa saja membantah dan melawan Taehyung tetapi ia tidak melakukannya. Luhan sengaja memberi bekal makanan nya karena tahu Taehyung anak piatu.
Semenjak hari itu, Luhan bahkan rutin membuatkan bekal tidak hanya untuk Baekhyun tapi juga untuk Taehyung. Mereka bertiga berteman baik sampai sekarang.
Baekhyun menyadari betapa lembut dan besar perhatian yang diberikan Luhan kepada orang lain, hingga saat mendengar perkataan Chanyeol yg sengaja menekan Luhan, membuat Baekhyun memandang rendah Chanyeol.
Baekhyun yakin laki-laki angkuh yang tersenyum menantang dihadapannya ini tidak akan pernah bisa membuat kakaknya hidup bahagia.
Luhan hanya akan menghabiskan seumur hidupnya untuk melayani Chanyeol. Dan Chanyeol hanya akan memperlakukan Luhan sama seperti para asisten pribadinya.
Seumur hidup Baekhyun mengenal Luhan, ia yakin Luhan belum pernah jatuh cinta, apalagi terhadap Chanyeol. Baekhyun tidak pernah melihat Luhan melambung bahagia saat membicarakan Chanyeol. Perjodohan ini harus dihentikan, tekad Baekhyun.
"Kalian tidak saling mencintai. Kalian bukan pasangan yang sedang dimabuk asmara. Aku tahu itu, aku sangat mengenal kakakku," serang Baekhyun
"Kau benar." Baekhyun terbelalak mendengar jawaban yang dilontarkan Chanyeol dengan santai.
"Kalau begitu kenapa kau memaksanya untuk cepat-cepat menikah denganmu?" Baekhyun menaikkan nada suaranya, sementara Chanyeol tersenyum santai sambil menyandarkan punggung.
"Karna kami memang ditakdirkan untuk bersama."
"Ditakdirkan untuk bersama? Bagaimana kau bisa mengetahui itu? Kau berfikir bahwa dirimu Tuhan? Kalian tidak saling mencintai dan kau telah mengakuinya." Baekhyun sudah tidak mampu lagi menahan emosinya. Perkataan yg dilontarkannya sepertinya bisa terdengar sampai ke lorong dan Baekhyun yakin salah satu kaca disana bisa saja retak.
"Aku mengakui saat ini kami tidak saling mencintai. Tapi aku yakin suatu saat nanti kami bisa. Aku dan Luhan masih dalam tahap pengenalan," ucap Chanyeol sambil mengetuk-ngetukkan bolpoin pada meja.
"Lalu mengapa kau menekannya? Lakukan saja tahap pengenalan kalian selama yg kalian bisa sampai akhirnya benar-benar jatuh cinta dan yakin untuk menikah," Baekhyun setengah berteriak untuk kedua kalinya.
"Menekan?" Alis Chanyeol terangkat.
"Menekan, memaksa. Jangan menyangkal, Chanyeol! Aku mendengar semua perkataanmu pada Luhan tadi. Kau menekannya untuk mempercepat pernikahan kalian! Kalian bahkan baru saling mengenal. Jangan katakan alasan basi! 'Ditakdirkan untuk bersama, alasan apa itu?"
Baekhyun melangkah perlahan ke meja Chanyeol, mencoba membuat lelaki itu merasa tidak nyaman. Tapi Chanyeol hanya mendongak sedikit dan Baekhyun tidak dapat menilai dengan jelas arti ekspresi wajahnya.
Meski tetap memasang senyum santai, Baekhyun bisa merasakan dinginnya tatapan Chanyeol. Seperti sedang berhadapan dengan pembunuh berdarah dingin yang tidak mempunyai belas kasihan di dalam hatinya.
"Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu, Baekhyun. Luhan benar-benar sosok wanita paling sempurna untukku. Begitu juga aku baginya. Aku hanya membuatnya sadar akan hal itu. Lagi pula, aku bukan orang yg suka buang-buang waktu."
Chanyeol duduk menyilang kaki. Satu tangannya masih memegangin bolpoin dan tangan yg lain beralih menyentuh dagunya. Seluruh gerakannya sama sekali tidak menunjukkan emosi. Sangat tenang, terkendali, dan santai. Seakan Baekhyun orang gila yg marah-marah tidak jelas dihadapannya.
Baekhyun memandang Chanyeol penuh amarah dan berusaha membuat suaranya terdengar serendah mungkin.
"Kau membuatnya terdengar seperti urusan bisnis, Chnayeol. Jangan anggap kau bisa mempermainkan kakakku! Luhan memang perempuan sempurna dan tidak sebanding dengan dirimu." Baekhyun menggebrak kedua telapak tangannya di meja.
Ia merasakan perubahan dalam raut wajah Chanyeol saat lelaki itu mengatakan kalimat terakhir.
"Aku tidak sebanding untuknya?" senyum Chanyeol menghilang. Baekhyun merasa apa yg diucapkannya telah membuat Chanyeol tersinggung.
"Aku sudah banyak mengenal laki-laki seperti dirimu. Kakakku sangat cantik, banyak lelaki yg mengejarnya meski ia tidak menyadari. Kau hanya salah satu dari laki-laki itu. Laki-laki yg hanya ingin menjadikan Luhan sebagai barang pajangan untuk dipamerkan." Baekhyun berusaha untuk tetap mempertahankan suaranya.
"Camkan perkataanku ini kedalam otakmu, Chanyeol! Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Langkahi dulu mayatku sebelum kau mempermainkan kakakku!
"Seperti katamu tadi. Sebagai asisten pribadimu, aku harus membuntutimu kemanapun kau berada. Ingat itu, Chanyeol!" Baekhyun menunjuk kedua matanya dengan sangat meyakinkan.
"Mataku akan selalu mengawasimu!" setelah itu, Baekhyun berbalik dan berjalan ke luar ruangan menuju meja kerjanya.
.
.
.
Baekhyun yg masih terkejut dengan kabar perjodohan Luhan dan Chanyeol tidak habis pikir bagaimana kakaknya sampai mau menerima rencana ini. Selama ini Luhan tidak pernah menyembunyikan apa pun darinya, tapi kali ini Luhan menyembunyikan kabar itu sampai Baekhyun pulang liburan dari China. Dan yg semakin membuat Baekhyun marah adalah Luhan yg memaksanya untuk bekerja sementara sebagai asisten pribadi Chanyeol.
Tadinya Baekhyun berniat menolak mati-matian. Tapi perubahan Luhan akhir-akhir ini membuat Baekhyun penasaran. Apakah benar akhirnya Luhan jatuh cinta? Selama ini Baekhyun tidak pernah melihat mata kakaknya berbinar-binar, senyum Luhan yg muncul saat ponselnya berdering, atau tekad Luhan untuk masuk ke dalam taman labirin yg paling ditakutinya.
Apakah Luhan memang menyukai Chanyeol? Baekhyun ingin melihat dengan kedua matanya sendiri seperti apa laki-laki sempurna yg sudah dibicarakan orangtuanya dan Luhan ini.
Tapi setelah kejadian tadi, Baekhyun yakin Luhan tidak sedang jatuh cinta pada Chanyeol. Selama ini Luhan bahkan tidak sekalipun membanggakan Chanyeol pada dirinya. Kakaknya malah paling malas jika mulai membicarakan Chanyeol. Baekhyun yakin keputusan yg diambil Luhan sudah salah besar. Kakaknya harus segera disadarkan akan kesalahannya. Baekhyun melirik sekali lagi keruangan Chanyeol.
Chanyeol bangkit dari kursi singgasananya lalu menghilang ke bagian dalam ruangannya. Baekhyun tidak tau ruangan apa yg ada disana karena belum sempat melihat-lihat sampai ke bagian dalam ruangan kantor Chanyeol. Tanpa sadar Baekhyun menjulurkan lehernya agar bisa melihat kemana Chanyeol menghilang.
Mata Baekhyun bertubrukan dengan pandangan Chanyeol saat laki-laki itu melangkah keluar. Chanyeol tersenyum geli melihat ekspresi terkejut Baekhyun saat tertangkap basah sedang mencari tahu apa yg ia lakukan. Baekhyun cepat-cepat berbalik dan berpura-pura mengutak-atik sesuatu dikomputernya.
"Sedang mengawasi rupanya?" Chanyeol memasukkan kedua tangan nya ke dalam saku celana.
"Kan sudah kubilang aku akan mengawasimu selama bekerja disni." Jawab Baekhyun santai tanpa melepaskan pandangannya dari layar komputer.
"Oke, Baekhyun. Kau bisa mengawasiku semaumu." Chanyeol masih berdiri dan mengamati Baekhyun lekat-lekat.
"Chanyeol, jika kau tidak berniat memberiku pekerjaan sebaiknya kembalilah keruanganmu. Apa kau tidak melihat aku sedang sibuk?" Baekhyun kesal sambil mengetik beberapa kata.
Chanyeol tertawa. "Aku atasanmu, Baekhyun. Asisten tidak mengusir atasan mereka. Dan chatting selama jam kerja tidak dipebolehkan dikantor ini."
Baekhyun mendongak dari layar komputernya dengan terkejut. Bagaimana Chanyeol bisa tau ia sedang chatting dengan ketiga sahabatnya? Baekhyun berbalik dan melihat kearah belakang. Ia mengumpat pelan saat bayangan layar komputernya terpantul pada salah satu kaca di belakangnya.
Melihat semua tingkah laku Baekhyun, Chanyeol tertawa makin hebat. Baekhyun melotot marah.
"Saya tidak akan mengulanginya lagi, . sekarang apa yg anda inginkan? Makan siang? Tadi Jongin sudah memberitahu saya untuk menyiapkan makan siang anda. Anda ingin makan apa?" Baekhyun membuat perkataannya terdengar sangat halus dan memasang senyum yang sengaja dibuat-buat.
"Cepat sekali dirimu berubah, Baekhyun," Chanyeol tergelak untuk kedua kalinya, "Aku sudah terbiasa dengan panggilan tidak formal. Beberapa orang kepercayaanku di kantor memang aku perbolehkan memanggil namaku. Dan sebentar lagi kita juga akan menjadi keluarga. Kau tidak perlu seformal itu, panggil saja Aku Chanyeol, sama seperti saat kau marah padaku tadi."
Baekhyun dan Chanyeol saling bertukar pandang tapi dengan arti yg berbeda. Baekhyun menatap dengan marah dan Chanyeol menatap sambil tersenyum. Hampir saja Baekhyun muntah ketika bayangan Chanyeol sebagai cinta pertama Luhan terlintas di dalam benaknya. Yang benar saja! Tidak mungkin Luhan bisa sampai jatuh cinta pada model manusia selicik ular ini.
"Siapkan makan siang apa saja. Aku tidak memilih-milih soal makanan." Baekhyun mengerjap saat kata-kata Chanyeol menyadarkannya. "Tolong panggil Kris dan Jongin kemari. Katakana pada mereka untuk makan siang bersamaku sambil membahas produk baru kita untuk Briar-Rose Feather Mattress.
"Berarti aku harus menyiapkan makan siang untuk kalian bertiga?" Tanpa sadar Baekhyun menggoyang rambut lurusnya pelan dengan tatapan bertanya.
"Empat, termasuk dirimu."
"Aku? Apa tidak ada istirahat makan siang untukku?" Tanya Baekhyun sengit.
"Siapa bilang tidak ada? Bukankah aku sudah bilang, siapkan makan siang untuk kita berempat." Chanyeol melangkah kea rah pintu ruangannya. Baekhyun memandangnya tidak percaya. Bagaimana mungkin tidak ada jam istirahat makan siang untuknya? Bahkan dihari pertama bekerja?
Baekhyun meremas salah satu bolpoin dengan kesal sambil berkomat-kamit mengutuki Chanyeol. Tepat saat Baekhyun akan menghunuskan ujung bolpoin nya ke pria itu, Chanyeol berbalik, tampaknya ada yg lupa ia katakana.
Chanyeol menaikkan salah satu alisnya lalu tersenyum geli, "Kau sedang membayangkan akan menusukku dengan bolpoin itu, Baekhyun?"
"Iya," jawab Baekhyun jujur. Baekhyun menurunkan tangannya dan menatap Chanyeol menantang. "Ada apa? Apa ada yg terlupa?"
Chanyeol melangkah kembali ketempat ia berdiri tadi. "Aku tidak akan pernah menganggap kakakmu sebagai salah satu barang pajangan. Aku tidak akan pernah mempermainkannya."
Baekhyun menatap wajah Chanyeol yg sekarang menunduk dan menatapnya dengan serius. Baekhyun tertegun sejenak memikirkan perkataan Chanyeol.
"Aku akan membuktikan padamu bahwa aku tepat untuk Luhan," lanjut Chanyeol sebelum beranjak pergi. Ia memperhatikan Chanyeol yg merenggut remote untuk menyalakan salah satu layar televisi besar yg terpasang pada dinding kaca di depan mejanya.
Baekhyun mendesah lalu mengangkat gagang telepon yg ada disebelahnya. Setelah menunggu beberapa saat, Baekhyun mendengar suara yg menjawab dari seberang.
"Halo? Apakah melayani pesan antar?" sapa Baekhyun
"Iya," jawab seseorang laki-laki dengan suara lembutnya, "Ingin memesan apa?"
"Kalau begitu tolong kirim otak sapi, sate, jjajangmyeon, kimbab, bulgogi, yangmyeon(sajian ayam goring khas korea), galbi (daging sapi panggang), jjampong, samgyetang, dan jangan lupa kimchi juga… hm… apa lagi ya? Sepertinya cukup segitu. Tolong kirim secepatnya ke gedung perkantoran Briar-Rose! Tahu kan? Yang tinggi dan besar itu. Yg bersebelahan dengan gedung Briar-Rose Hotel and Service Residence,"
"Iya saya tahu," lelaki itu masih menjawab dengan lembut. "Untuk berapa porsi?"
"Ini makan siang untuk emapt orang. Mmm…. Biasanya laki-laki makan banyak kan? Aku juga sudah lapar setengah mati. Kalau lagi lapar begini biasanya aku bisa menghabiskan 2 porsi jjajangmyeon. Aku juga bisa menghabiskan ayam dengan porsi double," kata Baekhyun seperti berbicara pada diri sendiri.
"Jadi anda ingin pesan untuk berapa porsi?" Tanya laki-laki itu mulai tidak sabar.
"Mmm… kalau tiap orang makan dua porsi berarti kirim saja semuanya dalam delapan porsi."
.
.
.
.
"Apa-apaan ini Baekhyun? Apa kau ingin mengadakan pesta?" Tanya Chanyeol saat memasuki ruang rapat pribadi yang bersebelahan dengan ruang kerjanya. Chanyeol terlihat panik memandang deretan makanan yg sedang ditata office boy diatas meja panjang yg biasa digunakan untuk rapat.
Baekhyun tersenyum pada ketiga laki-laki yang sedang memandangi semua makanan. Baekhyun memperhatikan Jongin yg tersenyum geli saat melihatnya. Seorang laki-laki yg bertubuh sama besarnya dengan Chanyeol menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum simpul.
Mereka bertiga mempunya postur tubuh yg hampir sama. Yg membedakan hanya warna kulit. Chanyeol mempunyai warna kulit paling putih, Jongin memiliki warna kulit kecoklatan seperti cukup sering menghabiskan waktu dengan berjemur, sedangkan laki-laki bernama Kris ini, memiliki warna kulit yg juga putih dan senyum yg mematikan.
"Jadi ini calon adik iparmu, Chanyeol?" Kris maju mendekati Baekhyun sambil menyodorkan tangannya. "Kenalkan, Kris. Mantan asisten Chanyeol, sekarang menjabat kepala Distribution Group."
Baekhyun menerima sodoran tangan Kris, melihat cara Kris dan Jongin bersikap atau memanggil Chanyeol. Baekhyun melihat hubungan mereka tidak hanya sebatas atasan dan bawahan. Mereka terlihat sangat akrab satu sama lain. Baekhyun melirik sekilas pada Jongin yg menepuk pelan punggung Chanyeol serasa mencoba menenangkan. Pemandangan itu mau tidak mau membuat Baekhyun berpikir apakah ia sudah melakukan kesalahan. Apakah Chanyeol tidak menyukai makanan yg dipesannya? Bukan salahnya kalau Chanyeol tidak menyukai menu makan siang ini. Bukankah Chanyeol sendiri yg mengatakan ia tidak akan memilih-milih untuk urusan makanan?
"Sepertinya kau lupa mengatakan bahwa makan siang kali ini adalah acara penyambutanmu. Kupikir ini hanya makan siang biasa. Aku bahkan sudah menyiapkan semua dokumen tentang perkembangan produk baru Briar-Rose Feather Mattress," Kris belum melepaskan tangan Baekhyun dari genggamannya, tangan yg lain membolak-balikkan map tebal.
"Ini memang bukan acara penyambutanku. Ini hanya makan siang biasa," jawab Baekhyun sambil menatap Jongin, Chanyeol, dan Kris dengan salah tingkah.
"Bukan?" Kris mengerutkan alisnya lalu menatap Chanyeol.
"Bukan, Kris. Tadinya aku memanggil kalian untuk mendiskusikan masalah produk baru itu sambil makan siang. Tapi rupanya asisten baruku ini salah mengira jumlah orang yg ikut rapat." Chanyeol menatap kesal pada Baekhyun. "Aku hanya memintamu untuk menyediakan makan siang untuk empat orang bukan sepuluh orang. Aku tidak memintamu untuk memindahkan restoran itu ke ruang rapatku, Baek."
"Aku tidak memesan untuk sepuluh orang. Aku memesan untuk delapan orang," sanggah Baekhyun spontan.
Kris dan Jongin tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat yg terlontar dari mulut Baekhyun. Baekhyun memandang bingung pada Jongin dan Kris yg menertawakannya. Kris tetap tidak melepaskan genggaman tangannya pada tangan Baekhyun.
"A-aku belum sarapan tadi pagi, jadi aku pasti bisa menghabiskan jatah untuk 2 orang. Lalu aku pikir kalian bertiga pasti juga makan banyak. Jadi aku pesankan untuk delapan orang." Baekhyun mencoba menjelaskan, menatap bergantian antara Jongin, dan Kris sambil mencoba menarik tangannya dari genggaman Kris. Chanyeol hanya memandang dingin.
"Sudah. Sebaiknya kita duduk dan makan siang bersama. Kau ingin aku memanggil Siwon, Donghae, dan Leeteuk untuk bergabung dengan kita, Chan? Kita bisa mendiskusikan produk baru itu nanti setelah makan siang." Jongin menepuk punggung Chanyeol dengan map yg dipegangnya lalu meletakkan map tersebut di sela-sela piring. Chanyeol menggeleng perlahan sebelum menjawab cepat.
"Kedua orangtuaku sedang menghabiskan liburan tahun baru bersama Siwon dan keluarganya. Dan Donghae , saat ini pasti ia asyik dengan salah satu pacarnya. Lagipula aku tidak mau menunda pembicaraan tentang peluncuran produk baru ini. Sebaiknya kita mulai saja. Kalau makanan ini masih tersisa, nanti para office boy bisa ikut menikmatinya.
Jongin mengangguk setuju sambil menarik salah satu kursi lalu mendudukinya. Satu tangannya sudah terangkat untuk mengambil sumpit saat Chanyeol kembali buka suara.
"Kris, apakah sekarang kau sudah bisa melepaskan tangan asistenku? Atau kau ingin aku mengikat tanganmu dan tangannya menjadi satu?"
"Ha ha ha. Calon adik iparmu sangat cantik, Chan. Bagaimana bisa aku melepaskan tanganku? Kakakmu juga pasti sama cantiknya seperti dirimu Baek. Kalau tidak, Chanyeol tidak akan sengotot itu untuk melepaskan status bujangannya." Ujar Kris sambil melepaskan genggaman tangan Baekhyun lalu ikut menarik kursi yg ada di dekatnya dan menunjuk kursi itu. Mengerti akan maksud Kris, Baekhyun langsung menjatuhkan tubuhnya di kursi yg ditunjuk Kris.
"Jauh lebih cantik…" Chanyeol mendesah sambil mulai memindahkan makanan ke piringnya.
Semua mata menatap Chanyeol dengan terkejut, untuk pertama kalinya Baekhyun mendengar Chanyeol memuji Luhan dengan tulus. Meski Baekhyun masih merasa Chanyeol mengucapkannya bukan dengan rasa bangga atau seperti orang yg sedang jatuh cinta. Chanyeol mengutarakannya lebih dengan nada menyesal.
Chanyeol mendongak, menatap tiga pasang mata yg memperhatikannya. Seakan tersadar atas apa yg sudah terlontar dari mulutnya, hanya dalam waktu sepersekian detik Chanyeol melontarkan senyum agak berlebihan.
"Luhan adalah perempuan paling sempurna yg pernah aku temui. Ia tau bagaimana berpenampilan dan bersikap. Anggun, pengertian, dan sangat cantik tentunya. Bukannya Luhan tidak punya kekurangan, tapi aku bisa melihat kami berdua bisa menjadi pasangan yg sempurna. Kami bisa saling melengkapi." kata Chanyeol sebelum meletakkan otak sapi di piringnya. Kris dan Jongin memperhatikan piring Chanyeol.
"Chan, kau tidak akan memakan itu kan?" tukas Jongin cepat. Chanyeol menunduk untuk melihat apa yg barusan ia letakkan dipiringnya.
"A-apa ini…?" Chanyeol menggoyang-goyangkan salah satu sisi otak dengan sendok makannya.
"Itu otak sapi, enak kok" sela Baekhyun cepat.
Kris tertawa sampai terbatuk-batuk. Baekhyun memperhatikan Chanyeol yg tiba-tiba menatap dingin padanya. Dengan sigap, Jongin menyingkirkan piring Chanyeol dan menggantinya dengan piringnya sendiri.
"Chanyeol tidak bisa memakan jeroan," Kris menjelaskan sambil masih tertawa. "Dia terbiasa tinggal di luar negeri dan tidak biasa makan makanan seperti itu,"
"Tapi ini bukan salahku. Aku tadi sudah menanyakan apa yg kau inginkan, kau sendiri yg bilang tidak memilih-milih urusan makanan," Baekhyun menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya sambil mengangkat dagunya dengan sikap menantang pada Chanyeol yg duduk dihadapannya.
Kris masih tertawa dengan tatapannya yg tidak lepas dari Baekhyun. Tanpa diberitahu pun Baekhyun bisa mengetahui bakat alami Kris sebagai playboy. Jongin berdehem untuk mengalihkan tatapan dingin Chanyeol dari Baekhyun.
"Aku tidak menyalahkanmu Baek. Sebaiknya kita mulai makan sambil membicarakan produk baru ini," Chanyeol menunduk untuk mengalihkan pandangan nya.
Baekhyun masih memperhatikan saat Chanyeol menyambar sate yg ada di hadapannya. Tepat saat mulut Chanyeol terbuka siap menggigit sate itu, Baekhyun teringat sesuatu.
"Chanyeol!" pekik Baekhyun tiba-tiba. Chanyeol menutup mulutnya terkejut. Jongin menghentikan ayunan sumpit yg hampir mencapai mulutnya. Kris tersenyum geli padanya.
"I-itu…. Aku baru ingat. Sate itu juga bukan daging sapi, itu lidah sapi. Apa lidah termasuk organ yg tidak bisa kau makan?" Baekhyun meringis menatap wajah Chanyeol yg merah padam.
.
.
.
.
.
Lalu Chanyeol meletakkan sate itu kembali ke piring dan bertanya apa ada yg benar-benar bisa dimakan. "Calon suamimu benar-benar mimpi buruk Lu. Aku tidak mengerti apa yg kau lihat dari dirinya." Baekhyun mendesah dengan gagang telepon yg menempel di telinganya.
Sekali-sekali Baekhyun melirik kearah ruangn Chanyeol, memastikan pria itu tidak memperhatikannya. Chanyeol terlihat sedang serius membaca beberapa berkas laporan yg tadi diberikan Kris tentang perkembangan salah satu anak perusahaannya yg memproduksi kasur pegas dan kasur bulu.
"Kau terlalu berlebihan Bee. Chanyeol tidak mungkin marah padamu kanya karna masalah makan siang itu," sahut Luhan sabar. Baekhyun memutar bola matanya dengan kesal.
"Dia tidak secara langsung memarahiku Lu, dia menghukum setelahnya. Apa kau tau jam berapa aku pulang kantor kemarin? Jam dua belas! Pulang tengah malam dihari pertama kerja." Baekhyun mendengus kesal, dan kembali melirik ruangan Chanyeol, tampak Chanyeol masih tetap dalam posisi yg sama. Baekhyun lalu menjepit gagang telepon dengan bahunya dan mulai membalas sapaan sahabat-sahabatnya lewat layanan Chatting.
"Chanyeol menyuruhmu pulang tengah malam?" suara Luhan terdengar sedikit meninggi. Luhan terlalu menyayangi Baekhyun, dia tidak akan membiarkan Chanyeol menindas satu-satunya adik yg ia punya. Baekhyun hanya akan sedikit membuat kakaknya marah pada Chanyeol. Baekhyun meringis saat memikirkan akal liciknya.
"Iya, ia bahkan menyuruhku pulang sendirian, jalan kaki! Belum lagi hari ini Chanyeol juga memintaku datang lebih pagi," cerita Baekhyun semakin bersemangat.
"Pulang jalan kaki? Sendirian? Ditengah kota Seoul? Apa maksudnya? Nanti aku akan bicara pada Chanyeol. Lalu bagaimana tempat tinggalmu? Chanyeol bilang kau tinggal di apartemen milik perusahaannya. Apakah itu apartemen Briar-Rose yg ada di belakang gedung perkantorannya?"
Baekhyun berpikir cepat, Chanyeol tentu saja menceritakan segalanya pada Luhan. Tidak mungkin sekarang Baekhyun menjelek-jelekkan kondisi apartemen Briar-Rose. Semua orang di Negara ini sudah tau seberapa mewah gedung apartemen itu. Baekhyun mendesah sambil berusaha memikirkan apa yg bisa ia katakana. Ia tidak berniat berbohong, hanya berniat melewatkan beberapa kata dalam kalimatnya.
"Ya! Tapi Chanyeol memberiku ruangan yg paling kecil. Benar-benar kecil Lu. ruangan tipe studio yg ukurannya tidak lebih besar daripada kamarku. Itupun tidak termasuk lemari dinding kita. Bayangkan Lu, betapa kecilnya ruangan itu! Begitu masuk langsung bertemu tempat tidur. Dua langkah ke kanan ada kamar mandi dan dua langkah kekiri ada dapur." Baekhyun sengaja tidak menceritakan tentang tempat tidurnya yg merupakan salah satu produksi Briar-Rose Feather Mattress yg paling empuk karena ini bisa merusak rencananya. Tapi sebenarnya ruangan yg ditempatinya juga tidak sekecil itu.
"Sekecil itu? Padahal sewaktu melihat foto-foto iklan gedung itu di internet kelihatannya cukup besar," sahut Luhan tidak percaya.
Baekhyun menghentikan jari-jarinya yg tengah mengetik lalu memindahkan posisi gagang telepon nya. Baekhyun merasa Luhan sedang berusaha mencerna semua ucapannya. Semoga saja usaha memanas-manasi Luhan ini berhasil, tekad Baekhyun.
"Sangat kecil Lu, foto-foto itu menipu. Sempit dan pengap, sama sekali bukan apartemen kelas atas." Baekhyun menegakkan punggungnya dan mengalihkan pandangannya dari layar komputer.
"Oh… begitu ya. Sebaiknya kau bersabar Bee, lagipula kegiatanmu hanya tidur, apa gunanya ruangan yg besar? Atau kau berniat mencari tempat tinggal lain? Kau bisa mencari di daerah dekat kantor atau bisa menumpang tinggal dirumah saudara sepupu kita. Pasti ia akan senang menerima mu tinggal bersamanya. Kalian bisa wisata kuliner setiap hari."
Baekhyun memainkan bolpoin ditangan kirinya sambil memikirkan usul Luhan. Shindong, adik laki-laki Appa, pasti senang menerimanya. Apalagi mereka tinggal di kawasan Gangnam, banyak tempat makan yg bisa didatanginya bersama Kyungsoo, sepupunya.
Luhan sangat terobsesi dengan semua berbau dongeng, Kyungsoo mendapat julukan si gendut Snow White karena dulu Kyungsoo suka makan dan bertubuh subur, namun parasnya cantik dan berkulit putih bersih.
"Kyungsoo sudah tidak gendut Lu, apa kau masih terobsesi dengan Dongeng Lu? sebaiknya Chanyeol tidak mendengarnya, bisa-bisa dia membatalkan perjodohan ini," Baekhyun terkikik geli.
"Mendengar tentang apa Baek?" suara Chanyeol menggelegar mengejutkan Baekhyun. Gagang telepon dalam genggamannya sontak jatuh. Di depannya Chanyeol menatapnya sambil berkacak pinggang.
"Kau sudah menjatuhkan banyak barang dalam dua hari ini Baekhyun," Chanyeol memperingatkan.
"Kau yg membuatku menjatuhkannya, kau mengagetkanku. Kemarin dan barusan, sejak kapan kau berdiri di-disana?" Baekhyun bangkit dari duduknya lalu menunduk untuk mengangkat gagang telepon yg terjatuh. Suara penuh Tanya terdengar pelan dari balik gagang telepon.
"Sejak kau mengatakan pada Luhan bahwa aku membiarkanmu tinggal diruangan kecil, sempit, dan pengap," jawab Chanyeol dingin.
Mulut Baekhyun membentuk huruf O, tangan Chanyeol dengan cepat menekan salah satu tombol telepon dan suara Luhan terdengar jelas ke seluruh penjuru ruangan. Perubahan raut wajah Chanyeol dari dingin menjadi cerah saat menyapa Luhan membuat Baekhyun berdecak kesal. Bermuka dua untuk mendapatkan hati Luhan, rutuk Baekhyun dalam hati.
"Chanyeol? Apa yang terjadi? Aku mendengar bunyi benda jatuh." Luhan terdengar bingung dan khawatir. "Mana Baekhyun?"
"Adikmu yg tersayang ada disini. Dia menjatuhkan gagang telepon karena kaget melihatku yg muncul tiba-tiba. Sekarang aku mengaktifkan speakerphone, dia mendengarkanmu juga." Chanyeol melirik Baekhyun dingin.
"Ooh begitu, aku kira ada apa." Luhan mendesah lega.
"Apa yg sedang kalian bicarakan Lu? apa sesuatu yg tidak boleh ku dengar?" Chanyeol tersenyum sambil meletakkan pinggulnya ditepi meja kerja Baekhyun.
"Bukan hal penting Chan. Oh iya, tadi Baekhyun cerita, kemarin kau menyuruhnya lembur sampai tengah malam dan harus pulang berjalan kaki sendirian. Apa betul Chan?" suara Luhan terdengar tenang saat menunggu jawaban Chanyeol.
Baekhyun menahan nafas, Chanyeol berbalik menatap Baekhyun sambil tersenyum licik. Satu alisnya terangkat, Baekhyun bergidik ngeri melihat reaksi Chanyeol. Pria itu terlihat seperti siap menusuknya dengan seribu jarum kecil.
"Baekhyun bilang begitu?" Chanyeol tidak melepaskan tatapannya dari Baekhyun.
"Iya, kau mengerti kan Chan bahwa betawa rawannya perempuan berjalan kaki sendirian tengah malam begitu." Baekhyun meringis mendengar nada khawatir Luhan. Seandainya Luhan tau yang sebenarnya.
"Aku mengerti. Tapi apakah aku tetap harus menemani Baekhyun pulang ke kamarnya setiap hari jika gedung perkantoranku mempunyai lorong yg menghubungkan langsung dengan apartemen Baekhyun? Aku takut Baekhyun harus pulang lebih malam lagi jika kau tetap merasa itu perlu. Karena aku bahkan tidak sempat pulang." Chanyeol menjelaskan dengan santai sambil menggoyang-goyangkan salah satu kakinya.
Baekhyun berpikir betapa kuat meja kaca ini, meja kacanya sama sekali tidak retak menahan beban tubuh Chanyeol. Dalam hati, Baekhyun berharap adanya keajaiban yg membuat meja kerjanya pecah dan menjatuhkan Chanyeol. Dan semoga salah satu pecahan kaca menusuk pantat monster ini, pinta baekhyun diam-diam.
"Menghubungkan langsung? Maksudmu? Gedung perkantoran mu gandengan dengan gedung apartemen yg sekarang ditempati Baekhyun?"
"Bukan apartemen. Tepatnya Baekhyun menempati Briar-Rose service Resident. Dan ya! Gedung perkantoran ini, hotel, dan service resident, ketiganya ini berhubungan. Kau tidak membayangkan Baekhyun berjalan di pinggir jalan sendirian ditengah malam buta kan? Tiap lorong yg menghubungkan tiap gedung hanya bisa dilalui orang-orang tertentu, keamanannya terjamin 24 jam. Tetapi jika kau masih merasa itu belum cukup. Aku bisa…"
"Tidak Chan. Kau sudah melakukan banyak hal, sepertinya Baekhyun lupa mengatakan kebaikan-kebaikan yg sudah kau lakukan padanya." Luhan memotong penjelasan Chanyeol dengan nada menyesal.
"Bee, seharusnya kau mengucapkan terimakasih pada Chanyeol, apa kau masih mendengar ku?" tekanan suara Luhan berubah kesal saat memanggil Baekhyun.
Baekhyun memutar bola matanya dengan kesal. "Ya, masih Lu. aku memang berniat mengucapkan terimakasih pada calon kakak iparku yg baik ini, tapi belum sempat karena ia selalu membuatku sibuk." Chanyeol mendengus pelan dan menatap penuh cibiran pada Baekhyun.
Baekhyun membalas dengan memberikan tatapan 'lihat saja nanti' .
"Aku bahkan tidak sempat sarapan karena Chanyeol menyuruhku sampai dikantor jam enam pagi. Padahal aku baru pulang tepat tengah malam kemarin." Baekhyun kembali mengulang pengaduannya pada Luhan seolah-olah meminta pembelaan.
"Bee, kau masih sempat beristirahat, Chanyeol bahkan tidak sempat pulang semalam. Pasti Chanyeol lebih lelah jika dibandingkan denganmu Bee," jawab Luhan dengan suara tenang. Mendengar jawaban Luhan, Chanyeol menarik napas panjang dan tersenyum lebar pada Baekhyun, tanda kemenangan. Baekhyun menatap kesal Chanyeol dan ke arah telepon.
"Lu, Chanyeol berbohong. Dia tidak mungkin tinggal dikantor sepanjang malam. Kau tidak melihatnya sekarang, saat ini Chanyeol sudah sangat rapi dan…. Oh! Kau tidak melihat kemejanya selicin lapangan ice skating." Baekhyun mencoba menjelaskan, tanpa sadar tubunya sudah menunduk untuk mendekatkan mulutnya pada pesawat telepon.
Chanyeol nyengir sambil bergaya seperti membersihkan debu dibahunya. "Aku mempunyai kamar mandi dan lemari pakaian diruanganku. Kau tidak tahu Baek?" potong Chanyeol riang.
Baekhyun menatap Chanyeol tidak percaya. "Masuk dan lihatlah!" tantang Chanyeol saat melihat raut wajah gadis itu.
"Oh… sudahlah. Kalian berdua ini! Kenapa aku merasa kalian seperti kucing dan anjing? Chanyeol, tolong jangan terlalu kasar pada Baekhyun! Dan Baekhyun, kenapa kau tidak bisa berhenti bicara keburukan Chanyeol? Kalian harusnya akur." Luhan terdengar seperti ibu-ibu yang berusaha mendamaikan kedua anaknya. Baekhyun melirik tajam pada Chanyeol yg masih tersenyum penuh kemenangan padanya.
"Kalau tidak ada lagi yg ingin dibicarakan, sudah dulu ya. Aku ada janji dengan seseorang." Lanjut Luhan dengan kesal.
"Aku akan menghubungimu nanti malah Lu, seperti biasa." Tanpa basa-basi, Chanyeol memutuskan sambungan telepon dengan Luhan. Membuat Baekhyun semakin kesal padanya.
Chanyeol bahkan tidak memberinya kesempatan mengucapkan sesuatu pada kakaknya. Chanyeol meloncat dan berdiri dihadapan Baekhyun, lalu mendekap kedua tangannya di dada. Kemeja yg ia kenakan semakin terlihat, tidak terlalu ketat juga tidak terlalu longgar.
"Kau tidak memberiku kesempatan berbicara dengan Luhan." Protes Baekhyun pelan. Kedua matanya masih menatap bahu bidang Chanyeol. Seakan tersihir untuk tidak melepaskan pandangannya dari sana.
"Kau bisa menghubunginya kapan pun kau mau. Seingatku aku juga sudah melarangmu untuk chatting selama jam kantor." Chanyeol melirik kearah layar komputer Baekhyun. Dengan cepat Baekhyun menghalangi pandangan Chanyeol dengan tubuhnya.
"Sepertinya kau termasuk gadis keras kepala. Sudahlah…. Aku tidak bisa berkomentar apa-apa lagi. Sebaiknya kau siapkan ruang rapat dan panggil semua direksi, aku sudah siap sekarang." Chanyeol mengusap lehernya dengan tidak sabar.
Baru kali ini Baekhyun melihat bayangan samar dibawah mata Chanyeol. Mungkin Chanyeol memang tidak meninggalkan kantor semalam, pikir Baekhyun.
"Untuk apa?" Tanya Baekhyun spontan. Chanyeol terbelalak tidak percaya.
"Jangan bilang kau tidak hafal jadwalku hari ini Baekhyun! Oh…. Tuhan! Asisten macam apa kau ini! Panggil Jongin! Minta ia mengajarimu! Cepat! Jangan kacaukan rapat kali ini!" bentar Chanyeol marah.
Baekhyun terkejut untuk kedua kalinya, baru kali ini Baekhyun melihat amarah Chanyeol meledak. Setelah membentaknya, Chanyeol menghilang kedalam ruangannya. Baekhyun melihat Chanyeol mengambil beberapa berkas diatas meja kerjanya dengan kasar. Chanyeol berbalik cepat dan langsung menatap tajam kearah Baekhyun yg masih mematung. Tatapan Chanyeol membuat Baekhyun panik dan tanpa sengaja kembali menyenggol alat tulis dimejanya. Tidak sempat menghiraukan suara berkelontang, Baekhyun mengambil gagang telepon dan mulai menghubungi Jongin.
.
.
.
.
~TBC~
.
.
.
Sebenarnya Chapter ini sudah selesai dari kemarin dan hanya tinggal di post. Tapi saya agak kecewa karna sepertinya tidak ada yg berminat membaca remake story ini, untuk selanjutnya saya belum berfikir untuk melanjutkan/berhenti sampai di chapter ini.
~~Terimakasih~~
