Disclamer: Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime.

Warning: AU, OOC, Shounen-ai, 3 pair di dalamnya (RivaEren, EruMin, ReiBerth) ada hints dengan chara lain demi jalan cerita tapi tetap kembali pada 3 pair utama.

Ket: Italic adalah isi naskah

Dedicated for Aphin123 RivaEren/EruMin Challenge 01


Let's Make a BL Movie


Sekarang adalah hari Jumat pagi yang cerah dan sangat terik, sinar matahari seolah memaksa masuk ke dalam rumah meski ditutupi gorden sekalipun. Sekolah juga sudah libur musim panas dan Eren tidak pergi ke sekolah hari ini. Bukankah itu hal yang bagus bagi Eren?

Tidak.

Apanya yang bagus?

Ia sekarang berada di ruang tengah sambil menggenggam naskah untuk filmnya itu. Tadi ia ingin membacanya di kamar, tapi entah apa yang membawa langkah kakinya untuk keluar dari kamar sambil membawa naskah nista itu keluar kamarnya.

Di meja terlihat piring berisi tiga potong semangka yang dipotong kecil, jus jeruk yang dingin juga cemilan lainnya. Lalu terlihat sosok Eren yang sedang duduk sambil menikmati semangka di tangannya, ia sedang ingin cemilan dingin untuk mengurangi rasa panas yang ia rasakan sekarang.

"Hmm, aku harus menghafal naskah. Tapi aku sama sekali belum membacanya." gumam Eren yang sudah menghabiskan semangka di tangannya dan mengambil semangka lainnya.

Ayahnya pergi ke luar kota untuk tugas dan baru kembali seminggu lagi sedangkan ibunya sedang berada di dapur, entahlah Mikasa pergi kemana karena sedari tadi Eren tidak melihat gadis itu. Ia merasa harus mulai mengerjakan tugasnya yaitu menghafal naskah, setidaknya ia harus membacanya terlebih dahulu.

Ia buka halaman pertamanya dan tertulis namanya beserta keenam pemeran utama lainnya. Ia membacanya dan merasa sedikit aneh karena mereka memerankan diri mereka sendiri, hanya saja ada sedikit perubahan dalam cerita. Namanya juga naskah dan cerita itu biasanya fiktif, tidak mungkin cerita yang sebenarnya bukan?

.

Eren terlambat datang ke sekolah dan buru-buru berlari. Ia masih berada di halaman sekolah dan belum masuk ke gedung kelasnya. Tidak sengaja ia menabrak Rivaille hingga ia hampir jatuh tapi tasnya sudah jatuh dan isinya tumpah berantakan.

Eren: "A-aduh!"

Rivaille: "Kalau jalan pakai matamu, kau taruh dimana matamu itu? Dan bagus sekali, kau baru datang jam segini. Kau hampir terlambat ke kelas."

Eren: "Ma-maaf, Rivaille-senpai. Permisi!" (buru-buru pergi, masukkan barang secepatnya).

Rivaille: (lihat kartu siswa Eren tertinggal, ambil) "Dia melupakan ini. Dasar ceroboh." (senyum tipis).

.

Eren baru selesai membaca bagian awal dan mendadak wajahnya memerah. Entah kenapa ia membaca bagian itu membuatnya merasa malu, padahal itu baru percakapan biasa. Eren malah memeluk naskah itu dan meminum jusnya.

'A-aku lihat bagian lain saja.' batin Eren.

Entah karena nasib sedang ingin mengerjai Eren atau apa, pemuda berambut cokelat ini membuka halaman pertengahan naskah dan melihat tulisan yang seharusnya tidak dilihat oleh matanya yang masih suci. Sepertinya tulisan Hanji benar-benar merenggut kesucian Eren saat ini.

.

Di ruangan OSIS Rivaille dan Eren berduaan saja, pintu terkunci dan tidak ada orang lain yang masuk juga mengganggu kegiatan mereka di dalam. Rivaille memeluk Eren dengan erat dan mencium pipinya lembut.

Rivaille: "Eren, kau manis sekali." (sentuh dan cium telinga Eren).

Eren: "Ri-Rivaille-senpai... aahh... (pejamkan mata).

Rivaille: "Reaksimu manis sekali. Aku ingin melihat sisi dirimu yang seperti ini lebih banyak lagi. (jilat telinga Eren, tangan turun belai leher)

Eren: "Aaah... Se-senpai~." (remas pundak Rivaille)

Rivaille: "Eren, aku mencintaimu. (cium bibir Eren)

Eren: ?! (kaget)

.

"HUWAAA! APA INI?!" teriak Eren histeris seperti seorang wanita dan melemparkan naskah itu ke lantai.

Sepertinya teriakan Eren itu sampai ke telinga Mikasa, buru-buru gadis itu menuruni tangga dan melihat saudara angkatnya yang tampak kesal tapi wajahnya memerah. Ia langsung mendekati Eren dan membelai pipinya sambil menatap matanya.

"Eren, apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?" tanya Mikasa.

"Ba-baik apanya?! I-itu... naskah itu!" ujar Eren masih dengan wajah yang memerah.

Mikasa terdiam dan melirik ke arah naskah yang terjatuh di lantai, ia segera mengambil naskah itu dan terbukalah halaman laknat tadi karena Eren hanya melemparnya langsung ke bawah hingga halaman naskah itu masih terbuka yang tadi. Mata hitam Mikasa membaca baik-baik isi halaman itu dan hampir saja tangannya merobek naskah itu.

"Jangan dirobek, Mikasa! Nanti bagaimana aku menghafalnya?" ujar Eren langsung yang mengambil naskah itu.

" .menghafalnya?" ujar Mikasa perlahan dan melirik Eren dengan tatapan tajam.

Wajah Eren kembali memerah karena mengingat isi naskah yang agak vulgar seperti tadi, ia mengangguk pelan dan Mikasa semakin geram melihatnya. Bahkan gadis itu sekarang meremas naskah di tangannya dengan kuat seperti berharap naskah itu akan hancur dengan sendirinya.

"Mikasa, jangan diremas-remas gitu!" pekik Eren.

Mikasa langsung terdiam dan mengembalikan naskah itu pada Eren, ia menatap wajah Eren baik-baik dan membelai lembut wajahnya. Eren sedikit bingung melihat Mikasa seperti ini, memang gadis yang satu itu sedikit aneh jika menyangkut tentang dirinya.

"Akan kupastikan kau baik-baik saja. Tidak akan kubiarkan orang lain menyentuhmu, apalagi si cebol itu!"

Mikasa pergi meninggalkan Eren dan mengeluarkan ponselnya, langsung saja ia mencari nama kontak di ponselnya dan menghubungi orang itu. Siapa lagi kalau bukan Hanji? Si ketua club biang kerok yang hampir membuat masa depan saudara angkatnya hancur karena naskah nista itu.

Eren membiarkan saja Mikasa pergi dan ia kembali duduk sambil melihat-lihat dimana bagiannya berperan dan hendak memberi tanda disana. Mau tidak mau ia akan menghafalkannya.

'Tapi dialog seperti itu di depan Rivaille-senpai. Uhn...' batin Eren malu.


Setelah tiga hari berlalu untuk penghafalan naskah sekarang adalah hari Senin dan dimulailah waktu untuk syuting. Mereka semua berkumpul di ruangan club terlebih dahulu, semua sudah datang tepat waktu sesuai instruksi Hanji. Hanji hanya tersenyum puas melihatnya.

Tidak, senyumannya sekarang lebih lebar malah.

"Nah, kalian semua sudah datang. Bagaimana para pemain utama? Kalian sudah hafal dialog di dalamnya belum?" tanya Hanji.

"Apa-apaan ini Hanji-senpai?! Aku tidak terima!" jerit Jean histeris.

"Apa lagi, Jean?" Hanji sampai menutup telinganya agar tidak sakit telinga ia mendengar teriakan Jean itu.

"Apa maksud senpai dengan dialog seperti ini, hah? Ini bukan rating aman?!"

Jean langsung memperlihatkan isi naskah itu pada Hanji, menunjukkan halaman laknat lainnya. Hanji hanya tersenyum santai dan menepuk-nepuk kepala Jean seperti menasehati anak kecil.

"Apa salahnya dengan sex scene, Jean?"

"SALAH BESAR, SENPAI! SALAH BESAR!"

Sepertinya semua orang harus memeriksakan diri ke dokter telinga setelah ini, tidak mereka malah harus membawa Jean ke psikiater untuk menenangkan jiwanya yang terguncang karena benda laknat itu. Jean masih bisa berdiri seperti sekarang saja mungkin sudah bagus.

"Bukannya tidak apa, Jean? Ini kan film BL." ujar Christa dengan senyum malaikatnya.

Sepertinya ucapan dan senyuman Christa itu berbanding terbalik, ia bagaikan malaikat tapi berhati iblis. Semuanya terkejut mendengar ucapan Christa apalagi Ymir dan Reiner, seseorang yang mereka puja ternyata memiliki selera yang unik. Ymir memang mengerti kesukaan Christa itu karena ia selalu bersama dengan gadis itu tapi ada yang shock di sana.

"Benar. Setidaknya itu akan menjadi bumbu-bumbu di cerita, itu nilai tambahan film kita. Iya kan, Hanji-senpai?" ujar Petra yang melirik ke arah Hanji dan yang bersangkutan hanya memberinya tanda jempol di jari.

"Memangnya kau dapat dialog yang mana? Aku belum membaca semuanya sih, mungkin karena lupa juga." ujar Eren yang penasaran dan mendekati Jean.

"Kau baca saja ini!" Jean sudah emosi dan memberikan naskah itu kepada Eren.

.

Selama ini Jean hanya bisa mendekati Eren dengan berbagai macam cara, tapi ia tidak diperhatikan. Sebagai gantinya ia mendekati Armin, sengaja untuk memancing emosi Eren. Tapi yang bersangkutan tidak melakukan apa-apa, malah menuduh Jean melakukan hal yang tidak-tidak kepada Armin.

Sekarang hanya ada Jean dan Eren berdua di dalam kelas. Semua sudah pulang dan Jean menahan Eren untuk pulang.

Eren: "Apa Jean? Lepaskan aku!" (tepis tangan Jean).

Jean: "Aku belum selesai bicara denganmu, Eren. Aku itu...menyukaimu. (tahan tangan Eren semakin erat).

Eren: "A-apa?!

Jean: "Apa kau perlu bukti yang jelas?" (tarik Eren dan peluk)

Eren: "Lepas..."

Jean: (diam dan cium bibir Eren).

Eren: (panik).

Tiba-tiba pintu kelas terbuka dan muncullah Rivaille. Betapa kagetnya dia melihat Jean yang mencium Eren, ia tahu Eren tidak akan meminta hal seperti itu.

Rivaille: (mendekati Jean, tarik Jean dari Eren) "Apa yang kau lakukan, bocah sial?"

Jean & Eren: (kaget)

Eren: "Rivaille-senpai..."

Jean: "Aku hanya menyatakan perasaanku padanya. Memangnya salah?"

Rivaille: "Salah karena dia adalah milikku. Kau berani juga ya menyentuhnya seperti itu." (lirik Eren, cium bibir Eren)

Eren: (kaget, terima ciuman)

Jean: "Memangnya Eren sudah mengatakan dengan jelas siapa yang dipilihnya? Aku tidak akan menyerah jika ia belum mengatakan yang sebenarnya." (mendekati Rivaille dan Eren, cium leher Eren)

.

"HUWAAAA!" teriakan Eren lebih fantastis lagi daripada Jean bahkan ia sampai melempar naskah itu ke muka Jean.

"Aduh, kenapa kau melempar ke arahku?" tanya Jean yang menyentuh wajahnya.

"I-itu... Aku ingat pernah membaca scene itu dan aku uhn..."

Wajah Eren sudah sangat memerah dan ia menutupinya karena malu. Mikasa mendekati Jean dan melirik isi naskah itu, matanya langsung berkilat penuh amarah dan hendak merobek naskah itu tapi Jean langsung menahannya. Seaneh apapun scene di dalamnya jika naskahnya rusak ia tidak akan bisa menghafalnya lagi.

"KYAAA~ cinta segitiga RivaErenJean. Uhh! Hanji-senpai, bagus sekali!" ujar Petra dengan wajah yang memerah dan teriakan ala fangirl.

"Tentu saja! Aku bisa merasakan aura itu. Aura Rivaille yang adalah seme posesif ditambah aura Jean yang ingin merebut Eren dari Rivaille sedangkan Eren adalah ultimate uke. Kalian berdua bisa membayangkannya kan?" ujar Hanji.

"Bisa!" Petra dan Christa tampak kompak sekali menjawab.

"Aku merasa ditelanjangi. Tidak, bahkan ini lebih buruk daripada harus lari mengelilingi lapangan sambil telanjang." ujar Jean frustasi.

Hanji langsung saja mendekati Mikasa dan memeluk gadis itu, ia tahu Mikasa sedang menahan amarah karena ia tidak emosi lagi. Saat ia melihat naskah tadi ia hanya refleks ingin merobeknya.

"Mikasa jangan berwajah seperti itu, nanti kamu tidak cantik lho." rayu Hanji.

"Cih. Aku akan menuruti ucapan senpai agar Eren boleh syuting film seperti ini, tapi aku tidak menyangka scene di dalamnya semakin ganas dan rusak." Mikasa mengatakannya sambil mengepalkan tangannya.

"Ini film BL, Mikasa. Menurutmu bumbu apa yang paling diingkan fans? Adegan romantis dan sex kurasa. Hihihihi... Tapi tenang saja, aku akan memberikan janjiku padamu."

Hanji mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan memberikannya kepada Mikasa, wajah Mikasa yang tadi terlihat menyimpan amarah sekarang berubah ceria. Ia tersenyum senang dan menggenggam benda itu sambil menatapnya baik-baik. Benda itu adalah foto Eren yang Hanji ambil diam-diam.

Tiga hari yang lalu saat Mikasa menelpon Hanji, sang ketua malah berjanji untuk memberikan asupan kepada Mikasa setiap hari selama syuting agar tidak mengamuk dan membiarkan Eren tetap syuting film ini.

'Eren, Eren. Eren keren sekali.' batin Mikasa ala fans yang melihat idol pujaannya.

"Ada apa, Mikasa? Kau senyum-senyum seperti itu?" tanya Sasha.

"Ah, bukan apa-apa." Mikasa langsung menyembunyikan foto itu di tasnya. Mungkin ia akan memasukkannya ke dalam foto album miliknya.

"Nah, tidak ada yang berkomentar tentang isi naskah. Kalian semua lihatlah Irvin, Rivaille, Armin, Bertholdt dan Reiner. Mereka tidak mengeluh tentang isi naskah ini." ujar Hanji yang menujuk orang-orang itu.

"Lebih tepatnya mereka pasrah, senpai!" tuduh Jean.

"Hei bocah, jangan samakan aku denganmu," ujar Rivaille dingin. "Kau harus bisa profesional dalam berperan, apapun peranmu itu."

Rivaille berjalan mendekati Eren hingga mereka sudah berada sangat dekat. Eren terkejut melihat Rivaille yang mendekatinya, apalagi ketika tangan Rivaille membelai wajah Eren dan langsung saja menciumnya. Otomatis semua orang di ruangan itukaget melihat Rivaille yang langsung mencium Eren. Tangan Mikasa seperti sudah siap untuk menghajar Rivaille, tapi ia berusaha menahannya.

Rivaille melepaskan ciuman singkat itu dan melihat wajah Eren yang sangat memerah. Ia tersenyum tipis lalu pergi menjauh dari Eren dan duduk di kursinya. Ia melirik ke arah Jean dan menatapnya tajam.

"Itu yang kau sebut profesional." ujar Rivaille.

Jean sampai tidak bisa berkata apa-apa, bahkan belum syuting saja Rivaille sudah mencium Eren. Christa, Hanji dan Petra yang melihat itu hanya terdiam, diam dan tidak lama mereka berteriak kencang.

"KYAAA! MEREKA ITU REAL!"

"BENERAN ADA CINTA SEGITIGA KAYAKNYA, TOLONG AKU GAK KUAT LAGI!"

"KYAAA~ TERLALU INDAH INI! IMAJINASIKU JADI NYATA YA? YA?"

Terdengar teriakan Christa, Petra dan Hanji bergantian. Mereka tampak sangat senang dan semuanya melirik ke arah mereka. Gadis-gadis seperti mereka itu memang mengerikan jika sedang mendapat asupan secara langsung seperti itu.

"Ehem... Kalau begitu kita akan mulai syutingnya." ujar Hanji berusaha tenang, behave Hanji behave.

"Tapi siapa yang menjadi sutradara lalu peralatannya?" tanya Armin.

"Nah, kalian yang menjadi pemain utama ya tugasnya hanya menghafal dialog saja. Aku sudah mengkoordinasikan tugas kepada yang tidak bermain dalam film." ujar Hanji.

"Be-begitu rupanya."

"Kalian juga sudah memakai seragam pula. Jadi kita bisa langsung syuting di depan gerbang sekolah."

"Eh? Kenapa depan gerbang?" tanya Reiner.

"Ingat scene awal, dimulai dari Eren bukan? Nah, kita akan mulai dari sana lalu semua adegan yang ada di gerbang atau luar sekolah. Kalau adegan di kelas beda lagi, kita melakukannya bergantian."

"Baiklah."

"Ayo!"

.

.

.

Sekarang mereka semua berada di halaman sekolah, adegan pertama nanti dimulai dari Eren yang datang terlambat dan terburu-buru masuk ke kelas dan bertemu dengan Rivaille. Hanji langsung saja duduk di kursi dan melihat kameranya. Semua perlengkapan sudah disiapkan dengan baik dan untuk dandanan, dandanan mereka sudah bagus jadi tidak perlu diatur lagi.

Hanji memberikan instruksi lagi kepada semua pemain dan yang tidak bermain menunggu giliran mereka. Yang paling sibuk disini adalah orang-orang yang Hanji tunjuk untuk membantunya di belakang layar.

"Nah, semua siap di posisi. Kamera, rolling, action!" ujar Hanji.

Eren yang berada di depan gerbang yang terbuka langsung buru-buru masuk ke dalamnya sambil berlari dan membawa tasnya. Erd yang bertugas mengambil gambar mengikuti gerakan itu dan berusaha mengambilnya dengan baik.

Eren lari terburu-buru dan Rivaille berjalan perlahan, Eren menabrak Rivaille karena tidak melihatnya dan ia terjatuh begitu juga isi tasnya. Rivaille menatap Eren yang terjatuh itu dan membiarkan juniornya untuk mengatakan dialognya.

"A-aduh!" ujar Eren.

"Kalau jalan pakai matamu, kau taruh dimana matamu itu? Dan bagus sekali, kau baru datang jam segini. Kau hampir terlambat ke kelas." ujar Rivaille dengan tatapan meremehkan, rasanya badan Eren kaku melihat tatapan tajam seperti itu.

"Ma-maaf, Rivaille-senpai. Permisi!" Eren langsung memasukkan barang-barangnya lalu pergi meninggalkan Rivaille.

Rivaille terdiam melihat sosok Eren yang menjauh itu. Ia melihat ada kartu siswa milik Eren yang terjatuh, mungkin tadi Eren lupa memasukkan kartu itu ke dalam tasnya. Rivaille mengambil kartu itu dan tersenyum tipis.

"Dia melupakan ini. Dasar ceroboh."

"CUT!" terdengar suara Hanji dan syuting scene ini sudah selesai. Hanji terlihat senang dengan Rivaille yang bisa membawakan karakternya dengan baik. Ia memang berusaha membuatnya seperti yang asli. "Kalian hebat sekali! Masih ada banyak lagi, tapi kalian bisa istirahat sekarang giliran Reiner dan Bertholdt ya~"

Mendengar nama mereka dipanggil, kedua pemuda itu langsung saja mendekati Hanji. Bahkan dalam cerita mereka digambarkan sebagai sahabat masa kecil seperti aslinya dan sudah menjadi pasangan kekasih. Karena mereka sudah digambarkan berpacaran, mereka mendapat peran yang cukup penting untuk menyatukan dua pasangan sisanya.

"Baik, semuanya siap-siap! Kamera, rolling and action!"

Erd kembali mengambil gambar dimana Reiner dan Bertholdt sedang berjalan bersama. Dalam scene ini mereka memang diperlihatkan sedang berjalan bersama saja dan saling mengobrol. Memang adegan yang terlihat biasa saja.

Awalnya memang biasa, tapi Hanji menyelipkan sesuatu disana.

Tiba-tiba Reiner langsung saja menarik kerah seragam Bertholdt dan menciumnya. Semua tampak terkejut melihatnya, tapi bagi Petra dan Christa mereka hanya tersenyum lebar sedangkan Hanji tampak berusaha menahan diri agar tidak berteriak karena syuting masih berlangsung.

Tidak lama Reiner melepaskan ciuman itu dan wajah Bertholdt memerah. Reiner tersenyum saja melihat wajah sahabatnya itu.

"Ke-kenapa kau melakukan itu, Reiner?" tanya Bertholdt.

"Aku hanya menagih jatah morning kiss untukku. Kau kekasihku, kan." jawab Reiner santai.

Erd memang ahli mengambil gambar sehingga bisa memperoleh semuanya dengan bagus hingga merekam wajah Bertholdt yang benar-benar memerah. Bertholdt hanya menunduk dan tersenyum saja.

"CUT!"

Hanji merasa scene yang mereka bawakan sudah sangat baik, profesional malah. Reiner tanpa ragu-ragu mencium Bertholdt seolah-olah tindakan itu adalah alami. Hanji langsung turun dari kursinya dan mendekati kedua pemuda itu.

"Bravo, kalian hebat sekali," ujar Hanji dengan senyuman lebarnya. "MEREKA TAMPAK REAL SEKALI! YA AMPUN!"

"Aku jadi ngefans dengan Reiner dan Bertholdt." ujar Christa sambil tersenyum.

"Aku ingin melihat Irvin-senpai dan Armin. DEMI APA AKU MAU MELIHAT MEREKA! KYAA!" Petra tampak tidak bisa menahan diri lagi dan berteriak.

Reiner tidak tahu harus berekspresi seperti apa ketika Christa mengatakan ngefans padanya, tapi Christa ngefans dengannya ketika dirinya melakukan scene seperti ini bukan dirinya yang seutuhnya. Harapan Reiner agar Christa menyukainya hampir tidak mungkin terjadi.

Sedangkan wajah Armin memerah ketika Petra meneriaki namanya dan Irvin. Ia melirik ke arah Irvin yang sedang mengobrol dengan Rivaille, pandangan mata mereka bertemu dan Irvin hanya tersenyum saja. Armin tersenyum canggung dan melirik ke arah lain, ia melihat Eren yang menutupi telinganya.

"Kau kenapa Eren?" tanya Armin.

"Ah? Hanji-senpai, Petra-senpai dan Christa berisik karena teriakan mereka. Aku hanya menutupi telinga sambil menghafal naskah." jawab Eren.

"Begitu..."

"Sekarang giliran Irvin dan Armin!" ujar Hanji bersemangat.

Irvin langsung saja bangun dan mendekati Hanji, begitu juga dengan Armin. Mereka berdua mulai bersiap dan Hanji menuju kursinya, ia meminta Erd dan Guther untuk bersiap-siap merekam scene yang ada.

"Action!"

Armin sedang berdiri melihat ke arah taman kecil, bunga-bunga disana tampak cantik. Armin berjongkok dan ia hendak memetik bunga itu. Tiba-tiba ia mendengar langkah kaki seseorang yang mendekat.

"Kau tidak bisa memetik bunga di sini." ujar Irvin.

Armin menoleh dan melihat Irvin yang mendekatinya. Ia langsung saja buru-buru bangun tapi karena kakinya terkena batu disana, Armin hampir jatuh. Irvin langsung saja menahan tubuh Armin dengan menyentuh pinggang pemuda itu. Wajah Armin memerah ketika merasakan tangan Irvin di pinggangnya.

"Kau tidak apa?" tanya Irvin.

"I-iya. A-aku baik-baik saja." jawab Armin sedikit gugup.

"Syukurlah kalau kau baik-baik saja."

Mereka terdiam dan hanya saling berpandangan, wajah Armin memerah dan melirik ke arah lain tapi ia hanya diam saja begitu juga dengan Irvin yang masih memeluk Armin seperti itu. Armin melirik ke arah Irvin dan kembali melihat ke arah lain.

"Irvin-senpai... A-anu tangannya..." gumam Armin malu.

"Ah? Maafkan aku." ujar Irvin yang akhirnya membantu Armin untuk bangun meski akhirnya Armin malah memeluk Irvin.

"Ah!"

Armin terkejut merasakan dirinya berada dalam pelukan Irvin, buru-buru ia bangun dan menatap wajah sang seniornya lalu membungkuk.

"Aku tidak akan memetik bunga ini lagi. Permisi Irvin-senpai."

Armin langusung berlari meninggalkan Irvin begitu saja, Erd sekarang merekam wajah Irvin yang tampak tersenyum melihat tindakan Armin lalu Gunther juga bertugas merekam Armin yang berlari itu.

"Cut! Ok, kerja yang bagus untuk kalian semua. Kita akan istirahat dulu."

Akhirnya Hanji memutuskan untuk menghentikan syuting karena dirasa sudah cukup scene yang direkam dan ia rasa semua juga butuh istirahat. Apalagi cuaca di luar juga semakin terik membuat mereka kepanasan.

"Sebaiknya kita kembali lagi ke dalam." ujar Hanji yang langsung ke ruangan club dan diikuti oleh yang lain.

Tidak lama mereka masuk ke dalam dan hawa dingin sudah menyambut mereka karena AC dinyalakan sejak tadi, rasanya sangat sejuk bahkan Eren dan Jean sampai saling menatap tajam hanya demi mendapatkan hawa dingin dekat AC.

"Hei hei, apa-apaan kalian itu? Itu bukan AC milik kalian ya, kami semua juga kepanasan tahu." gumam Ymir melihat Jean dan Eren.

"Ayo Eren duduk disini saja." ujar Mikasa yang menunjuk kursi di sebelahnya.

"Baiklah." Eren memutuskan untuk duduk, Jean masih saja berdiri di dekat AC.

Hanji melihat semua teman-temannya yang sedang beristirahat, entah ada yang mengobrol, sekedar menidurkan wajah di meja atau lainnya. Ia tersenyum saja dan berdehem agar teman-temannya memperhatikan dirinya.

"Kalian semua, kerja bagus hari ini. Aku suka sekali dengan akting kalian lalu dan para pemainn belakang layarnya juga, kerja kalian dalam merekam lalu memberikan pencahayaan dan lainnya. Tanpa kalian juga kita tidak bisa merekam scene tadi." ujar Hanji serius.

Semua tersenyum mendengar ucapan Hanji yang sedikit menunjukkan wibawanya sebagai ketua club, ternyata Hanji bisa juga berwajah seperti itu. Semuanya terdiam dan kembali lagi dengan kegiatan mereka masing-masing.

"Ah, Hanji-senpai nanti kita syuting lagi atau besok?" tanya Sasha.

Hanji melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul empat sore. Sepertinya sudah waktunya untuk menyudahi syuting hari ini, masih ada hari berikutnya. Hanji sampai melingkari hari dimulainya festival dan memberi tanda di kalender sebagai pengingat. Tapi Hanji terdiam dan memikirkan sesuatu, memang ada scene saat sore dan malam hari. Ia langsung saja memukul meja dan bangun.

"KITA AKAN MELANJUTKANNYA!"

"EH?!"

Yang lain tampak tidak terima dengan keputusan Hanji kecuali dengan Petra dan Christa yang bersemangat, mereka berpikir untuk mengakhiri syuting hari ini. Tapi Hanji menginginkan syuting berlanjut.

"Hei, kalian jangan bermalas-malasan. Kita kena deadline bukan?" ujar Hanji.

"Kalau film biasa sih aku mau saja syuting sampai malam. Tapi Hanji-senpai ini film BL." ujar Jean depresi.

"Terus? Semua film sama saja."

Sepertinya Jean kalah beradu kata-kata dengan Hanji. Tapi memang apapun filmnya mereka harus profesional menjalankannya demi kualitas film yang bagus. Sasha yang memakan kentangnya hanya tersenyum-senyum saja.

"Aku juga tidak ada kegiatan di liburan ini, sebaiknya kita selesaikan lebih cepat film ini." ujar Sasha.

"Tuh kan~ nanti kita akan syuting lagi. Kurasa cuaca di luar juga cocok."

Eren terdiam saja mendengar ucapan Hanji, ia tidak terlalu peduli jika mereka akan syuting lagi atau tidak tapi yang membuatnya bingung adalah ketika ia harus melakukan scene mesra dengan Rivaille. Ia bahkan malu untuk membayangkan hal itu, membaca naskah seperti itu saja malu.

Ia menyentuh bibirnya dengan jarinya, tadi pagi Rivaille mencium bibirnya dan memikirkan hal itu membuat wajahnya kembali memerah. Entah kenapa ia tidak bisa menghilangkan sensasi ciuman itu, padahal itu hanya contoh.

Katakan saja seperti itu.

Eren melirik ke arah Rivaille yang sedang membaca naskah, tidak sengaja pandangan mata mereka bertemu dan wajah Eren mendadak memerah. Ia langsung saja mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia melihat naskah miliknya dan menutup wajahnya dengan naskah itu.

Rivaille hanya mendengus pelan melihat tingkah Eren. Mikasa melirik Eren yang memegang naskahnya itu, tapi ia bingung dengan tingkah Eren yang memegang naskah secara terbalik. Apa Eren sedang bercanda atau apa?

"Eren, naskahmu terbalik." ujar Mikasa.

"Eh?!" Eren langsung membalikkan lagi naskahnya dan ia melihat sekilas Rivaille tersenyum. Ia merasa malu dan ingin loncat saja dari jendela.

"Nah, nanti kita syuting lagi~" ujar Hanji senang.


Sekarang sudah jam lima sore dan semuanya keluar ruangan. Mereka hendak mencari tempat yang bagus untuk memulai syuting. Hanji melihat ke arah taman belakang dan merasa cuaca sangat bagus disana, kau akan bisa melihat matahari terbenam dengan jelas disini.

"Hei, kita syuting disini saja." ujar Hanji.

"Untuk scene apa ya?" tanya Sasha yang mendekat dan membawa beberapa peralatan.

"Sceneku dan Eren ya?" ujar Rivaille melirik Hanji.

"Ping pong. Benar sekali, Rivaille. Sekarang giliran kalian lagi. Kau ingat scene ini?"

"Iya."

Hanji tersenyum dan ia ingin melihat teman-teman yang sedang menyiapkan peralatan. Semua yang tidak berperan dalam film ini memang menyiapkan peralatan dan selalu sibuk di awal syuting seperti ini. Seperti Ymir yang kembali mengecek kondisi kamera, Erd dan Gunther yang nanti akan mengambil gambar juga dibantu oleh Connie dan Auruo. Sasha yang mengurusi pencahayaan dibantu oleh Mikasa sedangkan Petra dan Christa mengurus beberapa hal sisanya terutama untuk kostum dan tata rias nanti.

Setelah semua peralatan siap, syuting pun bisa dimulai. Hanji langsung melirik ke arah dua pemeran yang akan syuting terlebih dahulu, ia berdehem melihat Rivaille dan Eren yang sedang membaca naskah.

"Kita semua sudah siap. Ayo, kalian juga." ujar Hanji.

"Iya." ujar keduanya yang mulai bersiap-siap di posisinya.

"Action!"

Scene ini dibuka dengan fokus kepada sebuah pohon besar di halaman belakang, kebetulan sekali angin juga sedang berhembus dengan sepoi-sepoi menambah kesan sejuk dan menenangkan. Di bawah pohon itu ada Eren yang sedang memejamkan mata dan saat ini ia akan bermonolog, Gunther mengambil gambar Eren saat ini.

"Aku tidak mengerti dengan Rivaille-senpai. Kenapa dia selalu saja mencari masalah denganku? Memangnya aku salah apa," ujar Eren. "Apa karena aku ini terlihat enak untuk menjadi korban bully khususnya begitu?"

Disini diceritakan Eren mengeluh tentang Rivaille yang selalu saja mencari gara-gara dengannya. Memang Hanji melakukan syuting ini dengan scene secara acak dan disesuaikan dengan kondisi alam juga agar bisa efisien dalam mengambil gambar.

Lalu kamera merekam Rivaille yang berjalan mendekat ke arah pohon, tentu saja mendengar keluhan Eren tadi. Rivaille terdiam dan sepertinya Eren belum menyadari keberadaannya, ia membiarkan Eren terus mengoceh tentang dirinya sampai akhirnya ia rasa harus dihentikan.

"Sepertinya kau senang sekali membicarakan tentangku."

Eren terkejut mendengar suara itu, ia langsung saja bangun dan melihat sosok Rivaille yang berdiri di belakang pohon dengan wajah datarnya. Rasanya ia malu sekali karena pembicaraannya didengar oleh Rivaille.

"Ah, itu... Ehehehe..." Eren hanya bisa tertawa canggung.

"Kalau ingin mengatakan kejelekan orang lain, katakan langsung di hadapannya." ujar Rivaille.

"Ti-tidak kok Rivaille-senpai. Maafkan aku."

Rivaille tersenyum tipis melihat tingkah Eren itu, lucu juga melihat anak itu panik dalam keadaan seperti ini. Eren masih saja menunduk karena tidak berani melihat wajah Rivaille tapi ia terkejut ketika merasa ada tangan hangat yang menyentuh kepalanya.

"Eh?" Eren bingung melihatnya.

"Kenapa? Kau tidak usah mengatakan hal buruk lagi, kalau mau bilang harusnya bertatapan langsung seperti ini."

Rivaille sedikit menarik rambut Eren agar pemuda itu menatap ke arahnya, mata mereka saling bertemu. Tapi tangan Rivaille malah menarik rambut Eren dan membuat pemuda itu kesakitan.

"A-aduh se-senpai?! Sa-sakit..."

"Apa? Aku tidak mendengarmu. Seharusnya kau bayangkan rasa sakit jika orang lain membicarakan kejelekanmu itu."

Akhirnya Rivaille melepaskan tangannya dari rambut Eren, Eren bernapas lega melihatnya. Rivaille mengacak-acak rambut Eren dan meninggalkan pemuda itu sendirian. Eren cemberut saja melihat Rivaille seperti itu, tapi ia menyentuh dadanya dan kembali bermonolog.

"Kenapa saat ia menyentuh rambutku, hatiku berdebar kencang?" gumam Eren dengan wajah yang memerah.

"Cut!" teriak Hanji.

Akhirnya Erd dan Gunther berhenti mengambil gambar dan Hanji tersenyum puas melihat Eren, apalagi Eren membawakan karakternya dengan alami. Ia langsung saja mendekati Eren dan menepuk pundaknya.

"Kau hebat sekali, Eren. Aktingmu terkesan alami." ujar Hanji.

"Eh? Ah, terima kasih." gumam Eren pelan dengan wajah yang masih memerah.

"Scene tadi cukup manis. Rivaille-senpai itu Do-S ya?" ujar Christa sambil melirik Rivaille dan menatap Petra.

"Kyaaa! Tadi wajah Eren dan Rivaille-senpai dekat kan? Aduh~ mereka cocok sekali, real seperti Reiner dan Bertholdt!" Petra tampak senang dan heboh sendiri.

"Hei hei, jangan memulainya tanpa aku." tahu-tahu Hanji mendekati mereka.

Mereka bertiga mulai mengobrol tentang betapa indahnya scene tadi dan Eren merasa semakin malu, apalagi saat pandangan matanya bertemu dengan Rivaille.

Jantungnya berdetak lebih kencang.

Kali ini sungguhan. Tidak. Bahkan sedari tadi jantungnya sudah berdetak kencang sejak syuting. Ia berusaha menutupi dengan aktingnya dan entah kenapa debaran jantungnya seperti ini.

'Aku tidak mengerti dengan perasaanku sendiri.' batin Eren yang melirik Rivaille.

Apakah Eren mulai merasakan perasaan khusus kepada Rivaille? Sejak awal ia memang merasa Rivaille adalah orang yang keren tapi tidak pernah ia memikirkan hal seperti sekarang.

'Rivaille-senpai...'

To be Continued

A/N: Hai semuanya, disini Yami-chan...^^

Terima kasih banyak kepada kalian semua yang sudah memberi review, maaf tidak bisa balas satu-satu tapi aku sangat berterima kasih dengan dukungan juga kritik yang diberikan. Juga kepada silent reader yang membaca fic ini, aku senang sekali.

Aku akan mengikutsertakan fic ini dalam challenge yang diadakan Aphin yaitu "Aphin123 RivaEren/EruMin Challenge 01". Mengingat tidak akan membuat banyak chapter untuk fic ini.

Sampai jumpa di chapter berikutnya... ^^